cover
Contact Name
Rifki Sakinah Nompo
Contact Email
sentanijurnal@gmail.com
Phone
+6282399677431
Journal Mail Official
sentanijurnal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Youmakhe Jalan Masuk Pasar Baru Sentani Depan Lap. Futsal Kabupaten Jayapura
Location
Kab. jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Sentani Nursing Journal
ISSN : 2615286X     EISSN : 27985075     DOI : https://doi.org/10.52646/snj
Core Subject : Health,
Sentani Nursing Journal merupakan publikasi ilmiah berupa hasil-hasil peneitian dalam bidang ilmu keperawatan dan ilmu kesehatan
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2018): Agustus" : 8 Documents clear
HUBUNGAN ANTARA RESPON KEHILANGAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA LANSIA DI PANTI BINA LANJUT USIA JAYAPURA Syahafiah Tanarubun; Suriyani Suriyani; Risna Ampulembang
Sentani Nursing Journal Vol. 1 No. 2 (2018): Agustus
Publisher : Jayapura Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52646/snj.v1i2.8

Abstract

Kehilangan adalah kejadian secara universal yang sifatnya unik bagi setiap individu yang mengalami suatu pengalaman dalam kehidupannya, sedangkan tingkat kecemasan merupakan manifestasi dari respon kehilangan yang dirasakan atau dialami secara emosional oleh seseorang dengan objek ancaman yang tidak begitu jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan respon kehilangan dengan tingkat kecemasan pada lansia. Desain penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 27-28 Juni 2016 di Panti Bina Lanjut Usia Jayapura. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan total sampling sebanyak 43 lansia. Pengambilan data menggunakan kuesioner dan analisa data menggunakan uji korelasi Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon kehilangan pada lansia di Panti yang menerima 42 lansia (100%), dimana mayoritas mengalami kecemasan normal 38 lansia (90,5%) dan yang mengalami kecemasan ringan 4 lansia (9,5%). Lansia yang merespon kehilangan dengan kategori tidak menerima kehilangannya ada 1 lansia (100%), dimana lansia ini mengalami kecemasan ringan. Hasil penelitian ini menunjukan Adanya hubungan yang kuat antara respon kehilangan dengan tingkat kecemasan pada lansia di Panti Bina Lanjut Usia (p=0,004).Diharapkan bagi lansia dapat menghadapi respon kehilangan secara adaptif.
HUBUNGAN HOSPITALISASI DENGAN KECEMASAN ANAK USIA SEKOLAH (6-12 TAHUN) DI RUANG KANAK - KANAK RSUD ABEPURA Endang M. Embiril; Muh Rhomandoni; Rustina Rustina; Rifki S Nompo
Sentani Nursing Journal Vol. 1 No. 2 (2018): Agustus
Publisher : Jayapura Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52646/snj.v1i2.67

Abstract

Latar belakang: Hospitalisasi merupakan suatu proses yang mengharuskan anakdirawat di rumah sakit (RS), mendapatkan perawatan dan pengobatan dan merupakan suatu pengalaman bagi anak yang dapat menyebabkan kecemasan. Metode penelitian: deskriptif kuantitatifdengan pendekatan cross sectional yang dilaksanakan pada bulan Mei – Agustus 2018. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien anak usia 6-12 tahun yang dirawat inap di Ruang Kanak - Kanak dengan jumlah sampel sebanyak 52 orang. Pengambilan data kecemasan menggunakan Skala RCMAS. Hasil penelitian: Hasil penelitian diperoleh bahwa anak yang mengalami hospitalisasi di Ruang Kanak – Kanak terbanyak pada kelompok umur 6 – 9 tahun, yaitu sebanyak 28 orang (53,8%), berjenis kelamin laki – laki sebanyak 30 orang (47,7%), berpendidi di jenjang pendidikan SD sebanyak 38 orang (73,1%) dan sebagiain besar tidak pernah hospitalisasi sebanyak 36 orang (69,2%) dan Lama hospitalisasi anak usia < 3 hari atau kateori baru sebanyak 26 orang (50%) sedangkan responden yang lama hospitalisasi < 3 hari dalam kategori baru sebanyak 26 orang (50%). Kecemasan anak usia sekolah (6-12 Tahun) di Ruang Kanak – Kanak RSUD Abepura terbanyak tidak mengalami cemas sebanyak 27 orang (51,9%) dan anak yang mengalami cemas sebanyak 25 orang (48,1%). Kesimpulan: Ada hubungan hospitalisasi dengan kecemasan anak usia sekolah (6-12 tahun) di Ruang Kanak - kanak RSUD Abepura (p-value = 0,026). Saran: memfasilitasi tempat bermain anak sehingga dampak stressor hospitalisasi, perawat dapat meningkatkan komunikasi theraupetik pada anak dan orang tua memberikan dukungan dengan cara selalu mendampingi anak dan memberikan semangat untuk sembuh
GAMBARAN PERAN KELUARGA DALAM MERAWAT PASIEN GANGGUAN JIWA SKIZOFRENIA YANG MENGALAMI KEKAMBUHANDI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT JIWA DAERAH ABEPURA Haslinda Manda; Rifki Sakinah Nompo; Muh. Rhomandoni
Sentani Nursing Journal Vol. 1 No. 2 (2018): Agustus
Publisher : Jayapura Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52646/snj.v1i2.71

Abstract

Latar Belakang: Skizofrenia merupakan penyakit mental yang serius. Penyakit ini disebabkan oleh gangguan konsentrasi neurotransmiter otak, perubahan reseptor sel-sel otak, dan kelainan otak struktural. Pasien akan memiliki pemikiran, perasaan, emosi, ucapan, dan perilaku yang tidak normal, yang memengaruhi kehidupan, pekerjaan, kegiatan sosial, dan kemampuan untuk mengurus diri mereka sehari-hari sehingga mereka membutuhkan keluarga dalam membantu proses pemulihan selama berada di rumah. Peran keluarga merupakan pendukung penting dalam proses pemulihan pasien skizofrenia terutama untuk mencegah terjadinya kekambuhan. Sikap keluarga yang tidak menerima pasien skizofrenia atau bersikap bermusuhan dengan pasien akan membuat kekambuhan terjadi. Tujuan: mengidentifikasi gambaran peran keluarga dalam merawat pasien gangguan jiwa skizofrenia yang mengalami kekambuhan di Rumah Sakit Jiwa Abepura. Metode Penelitian: menggunakan deskriptif kuantitatif, dengan jumlah sampel 30 responden, serta analisa data menggunakan prosentase. Hasil: dari 30 responden yang diteliti 15 keluarga (50.0%) berperan dalam merawat kekambuhan pasien skizofrenia dan 15 keluarga (50.0%) tidak berperan dalam merawat kekambuhan pasien skizofrenia. Kesimpulan: penelitian menunjukkan hasil seimbang antara keluarga yang berperan dalam merawat kekambuhan pasien skizofrenia, hal ini mungkin terjadi karena kurangnya informasi atau pengetahuan mengenai perawatan pasien skizofrenia di rumah, dan stigma yang masih melekat pada masyarakat seperti: dikucilkan, tidak dapat berproduktifitas, tidak berguna, menakutkan, dan lain sebagainya. Kata Kunci: Peran Keluarga, Skizofrenia, Kekambuhan
GAMBARAN KONSEP DIRI REMAJA DI KELAS XI IPA 1 SMA NEGERI 1 SENTANI KABUPATEN JAYAPURA Jusmadini Baaka; Rifki Sakinah Nompo; Arvia Arvia
Sentani Nursing Journal Vol. 1 No. 2 (2018): Agustus
Publisher : Jayapura Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52646/snj.v1i2.72

Abstract

Latar Belakang: Konsep diri individu tidaklah bawaan dari lahir tetapi timbul akibat adanya pengalaman, persepsi dan hasil belajar yang dialami oleh setiap individu. Konsep diri seseorang terbentuk dari proses belajar. Konsep diri pada remaja merupakan keadaan dimana remaja mampu menilai dirinya secara fisik, psikis, sosial, emosional, aspirasi, dan prestasi. Keperawatan jiwa konsep diri terdiri dari lima komponen; citra tubuh/ gambaran diri, harga diri, indentitas diri, peran, dan ideal diri. Remaja yang memiliki konsep diri positif cenderung menampilkan tingkah laku sosial yang positif, sedangkan remaja yang konsep diri kurang memandang dirinya negatif sehingga akan timbulnya konsep diri negatif. Dalam mengembangkan potensi diri, individu perlu memahami dirinya sendiri, dan mengetahui kelebihan dan kelemahan yang dimilikinya serta cara memahami dan mengetahui diri sendiri. Tujuan: Untuk mengetahui konsep diri remaja di kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Sentani Kabupaten Jayapura. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan persentase, dilakukan pada bulan Januari sampai Februari 2021. Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 33 siswa/I, dengan kuesioner konsep diri yang terdiri dari 43 pernyataan positif dan negatif. Hasil: Konsep diri remaja dengan kriteria positif 31 orang (93.9%) dan konsep diri dengan kriteria negatif 2 orang (6.1%). Kesimpulan: Konsep diri bukanlah aspek yang dibawa sejak lahir, tetapi merupakan aspek yang dibentuk melalui interaksi individu dalam berbagai lingkungan, baik itu lingkungan keluarga maupun lingkungan lain yang lebih luas. Pada dasarnya konsep diri seseorang terbentuk dari lingkungan pertama yang paling dekat dengan individu, yaitu lingkungan keluarga, tetapi lama-kelamaan konsep diri individu akan berkembang melalui hubungan dengan lingkungan yang lebih luas, seperti teman sebaya. Kata Kunci: Konsep Diri, Remaja, SMA
HUBUNGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT PADA BALITA: (Di RW03 Desa Candimulyo Jombang Abdul Hamid; Imam Fatoni; Inayatur Rosyidah
Sentani Nursing Journal Vol. 1 No. 2 (2018): Agustus
Publisher : Jayapura Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52646/snj.v1i2.73

Abstract

Pendahuluan Infeksi saluran pernafasan akut masih menjadi masalah kesehatan dunia,Penyakit infeksi saluran pernafasan akut gampang tertular pada balita yang dimana dalam lingkunganya belum memenuhi criteria berperilaku hidup bersih dan sehat, Hal ini menjadi permasalahan yang seringkali di jumpai pada masyarakat sekitar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian infeksi saluran pernafasan akut pada balita. Metode penelitian ini yaitu analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. populasi dalam penelitian adalah Semua Ibu yang memiliki balita Di RW03 Desa Candimulyo Jombang, sejumlah 96 Ibu Balita dengan tehnik proposional random sampling. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu perilaku hidup bersih dan sehat dan variabel dependen yaitu infeksi saluran pernafasan akut. Dengan instrument penelitian menggunakan kuesioner. Pengolahan data menggunakan Editing, Scoring, Tabulatin. Tehnik analisa data menggunakan uji rank spearman. Hasil penelitian menunjukan bahwa 61 responden ber PHBS sedang sejumlah 61 orang (79,2%), 16 responden berPHBS baik (20,8%) dan 50 responden (64,9%) pernah mengalami penyakit ISPA, 27 (35,1%) responden tidak pernah mengalami ISPA. Hasil uji rank spearman di dapatkan nilai p<0,05yaitu p=0,001 sehingga H1 diterima. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian infeksi saluran pernafasan akut pada balita. Kata kunci: ISPA, PHBS, Balita
GAMBARAN PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG KEDARURATAN PSIKIATRI DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH ABEPURA Mariam M S Bano; Muhamad Rhomandoni; Sudarsono Sudarsono
Sentani Nursing Journal Vol. 1 No. 2 (2018): Agustus
Publisher : Jayapura Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52646/snj.v1i2.74

Abstract

Latar Belakang: Penyakit kejiwaan yang berhubungan dengan masalah kedarurtan psikiatri adalah depresi, bipolar, skizofrenia dan psikosis lainnya, demensia. Kedaruratan psikiatri adalah gangguan pikiran, perasaan, atau perilaku yang membutuhkan intervensi terapeutik segera. Masalah yang dapat terjadi akibat kondisi kedaruratan psikiatri yaitu perilaku kekerasan, bunuh diri, delirium dan sindrom neuroleptik maligna. Saat ini di dunia terdapat lebih dari 264 juta orang terkena depresi, 45 juta orang terkena bipolar, 20 juta orang terkena skizofrenia dan psikosis lainya, 50 juta orang terkena demensia.Tujuan penelitian: Dapat mengetahui gambaran pengetahuan perawat tentang kedaruratan psikiatri di Rumah Sakit Jiwa Daerah Abepura. Metode penelitian: Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, populasi adalah seluruh perawat di Rumah Sakit Jiwa Daerah Abepura yaitu 135 perawat dan tekinik pengambilan sampel menggunakan rumus solvin sehingga jumlah sampel adalah 101 perawat. Instrument yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan perawat tentang kedaruratan psikiatri yang telah di uji validitas dan reliabilitas dengan hasil uji kuesioner telah valid dan reliabel. Hasil: Karakteristik responden mayoritas umur kurang dari (<) 40 tahun (89.1 %), jenis kelamin perempuan (72.3 %), lama kerja kurang dari (<) 5 tahun (61.4 %), pendidikan D III keperawatan (71.3 %). Dari 101 perawat 38 perawat memiliki kategori pengetahuan baik (37.6 %), 45 perawat memiliki kategori pengetahuan cukup (37.6%) dan 18 perawat memiliki kategori pengetahuan kurang (17.8 %). Kesimpulan: Mayoritas perawat di Rumah Sakit Jiwa Daerah Abepura memiliki pengetahuan cukup (37.6%) tentang kedaruratan psikiatri. Kata kunci: Kedaruratan psikiatri, Pengetahuan, Perawat
PENGETAHUAN ORANG TUA TENTANG PEMBERIAN OBAT ORAL CAIR PADA ANAK DI RUANG KANAK - KANAK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH JAYAPURA Roy M. Wangguway; Nurhidayah Amir; Dewi Suhardi
Sentani Nursing Journal Vol. 1 No. 2 (2018): Agustus
Publisher : Jayapura Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52646/snj.v1i2.75

Abstract

Latar Belakang: Peran orang tua pada anak yang sakit dengan menjaga kesehatan membutuhkan pengetahuan dalam pemberian obat. Pemberian obat yang salah meliputi waktu dan cara pemberian mengakibatkan kelebihan atau kekurangan dosis obat yang berdampak pada kesembuhan serta gangguan kesehatan lainnya. Tujuan penelitian: Diketahui pengetahuan orang tua tentang pemberian obat oral cair pada anak di Ruang Kanak - Kanak Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura. Metode penelitian: Deskriptif kuantitatif di Ruang Anak–Anak RSUD Jayapura denganpopulasi pada orang tua pasien anak yang dilaksanakan pada bulan Agustus - Oktober 2019. Data diperoleh menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan chi square. Hasil penelitian: Pengetahuan orang tua tentang pemberian obat oral cair pada anak di Ruang Kanak – Kanak RSUD Jayapura dalam kategori pengetahuan baik sebanyak 21 orang (53,8%), pengetahuan cukup sebanyak 13 orang (33,3%) dan pengetahuan kurang sebanyak 5 orang (12,8%). Simpulan: Dapat disimpulkan bahwa pengetauan orang tua tentang pemberian obat oral cair tertinggi yaitu pengetahuan baik. Kata kunci : Pengetahuan, Obat Oral Cair, Orang Tua
GAMBARAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II SEBELUM DAN SESUDAH TERAPI BEKAM (Studi Di Dusun Dawu Desa Dawu Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi) Riris Ayu Novita Sari; Lilis Majidah; Hindyah Ike Suhariati
Sentani Nursing Journal Vol. 1 No. 2 (2018): Agustus
Publisher : Jayapura Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan Diabetes melitus (DM) dapat menyerang semua organ tubuh, penyakit ini sering disebut dengan the great iminator. Diabetes melitus tipe II mengalami regulasi gula darah acak yang tidak stabil yang dapat menimbulkan berbagai keluhan. Tujuan penelitian untuk mengetahui kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe II sebelum dan sesudah terapi bekam di Dusun Dawu Desa Dawu Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi. Metode Rancangan penelitian ini deskriptif observasional. Variabel penelitian ini adalah kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe II sebelum dan sesudah terapi bekam. Populasi seluruh responden diabetes melitus sebanyak 40 responden. Sampel pasien diabetes melitus tipe II sebanyak 12 responden. Teknik sampling dengan metode purposive sampling. Instrumen penelitian ini berupa lembar observasi. Hasil penelitian Terapi bekam terhadap perubahan nilai kadar gula darah acak sesudah pemberian terapi bekam selama 1 kali terapi pada responden diabetes melitus tipe II, hampir seluruh responden turun sebanyak 9 responden (75%). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada perubahan kadar gula darah acak pada diabetes melitus tipe II sebelum dan sesudah terapi bekam di Dusun Dawu Desa Dawu Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi. Saran Bagi responden diabetes mellitus tipe II dapat menfaatkan terapi bekam sebagai terapi alternatif yang dapat digunakan untuk mengontrol kadar gula darah agar tetap stabil. Kata Kunci: Gula Darah, Diabetes Melitus Tipe II, Terapi Bekam

Page 1 of 1 | Total Record : 8