cover
Contact Name
-
Contact Email
didin@untag-sby.ac.id
Phone
+6281249846916
Journal Mail Official
jurnaltanda@gmail.com
Editorial Address
Nginden Intan Timur XV No. 11 Surabaya
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
TANDA: Jurnal Kajian Budaya, Bahasa dan Sastra
ISSN : -     EISSN : 27970477     DOI : -
TANDA: Jurnal Kajian Budaya, Bahasa dan Sastra ber e-ISSN 2797-0477 ini adalah jurnal open access, peer-review dua bulanan dalam satu tahun yang diterbitkan oleh Aksiologi Surabaya. TANDA: Jurnal Kajian Budaya, Bahasa dan Sastra ini mendorong artikel asli tentang berbagai isu dalam Studi Bahasa dan Sastra, tidak terbatas pada filsafat, sastra, linguistik, antropologi, sejarah, studi budaya, seni, dan ilmu informasi yang berfokus pada studi dan penelitian budaya Indonesia. TANDA: Jurnal Kajian Budaya, Bahasa dan Sastra menerima publikasi komposisi seimbang dari artikel penelitian teoritis atau empiris berkualitas tinggi, studi komparatif, studi kasus, makalah review, makalah eksplorasi, dan resensi buku. Semua manuskrip yang diterima akan dipublikasikan secara online.
Articles 96 Documents
BUDAYA DAN SENI KREATIF TARI KECAK DI BALI Adinda Putri Dewi, Rahelia; Aulia Septya Kusuma Wardani, Lintang
TANDA Vol 3 No 03 (2023): KEBUDAYAAN
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/tanda.v3i03.1869

Abstract

Kecak Dance is a traditional art form originating from Bali, Indonesia, which combines dance and theater aspects. The art was introduced in the 1930s by Wayan Limbak and German artist Walter Spies, who were inspired by the Sanghyang ceremony which has spiritual significance in Balinese society. The Kecak Dance depicts the epic story of Ramayana, especially about the fight between Rama and Ravana to save Goddess Sinta, which symbolizes the eternal war between good and evil.
TRANSFORMASI NILAI-NILAI KEBUDAYAAN DALAM ERA DIGITAL: ANALISIS PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP BUDAYA MASYARAKAT INDONESIA Febriyanti Rusli, Patricia; Mega
TANDA Vol 3 No 04 (2023): KEBUDAYAAN
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/tanda.v3i04.1883

Abstract

This study aims to analyze the influence of social media on the cultural identity of modern society. In today's rapidly developing world, human life cannot be separated from technological advances. The presence of technology has affected society and the environment over time. Currently, most people are very dependent on technology, even technology can be a basic need for everyone. Starting from parents to children who use technology in all aspects of their lives. Technology allows people to do their jobs more efficiently and quickly. The influence of rapidly developing technology also affects one of them, socio-cultural change. Socio-cultural change in Indonesia is an integral part of the dynamics of society that continues to develop. Every day we can experience how various aspects of our lives change, from our daily habits to our mindsets. Socio-cultural change is a process in which the structure, patterns, and values ​​of a society change over time. This can include changes in customs, traditions, norms, and patterns of social interaction in a society. Socio-cultural change is a complex phenomenon that is influenced by various internal and external factors. Understanding this process allows us to better understand how our society continues to adapt and develop, and how we can participate in the process of positive change.
PERUBAHAN POLA PIKIR GENERASI MUDA TERHADAP BUDAYA TRADISIONAL INDONESIA DALAM PERSPEKTIF GLOBAL Aurora Citra Ayu, Niken; Sinta Bela, Laudia
TANDA Vol 3 No 03 (2023): KEBUDAYAAN
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/tanda.v3i03.1884

Abstract

Kemajuan teknologi membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat modern, termasuk dalam cara berinteraksi dan memahami budaya. Bagi generasi Z, teknologi menawarkan kemudahan akses informasi dan komunikasi, namun juga menimbulkan dampak negatif berupa penurunan minat terhadap nilai-nilai budaya dan sosial. Gaya hidup individualistik dan dominasi budaya asing melalui media sosial mengakibatkan generasi muda semakin jauh dari akar budaya lokal. Artikel ini membahas fenomena tersebut dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, serta menyoroti pentingnya pelestarian budaya di tengah arus globalisasi. Dengan mengacu pada pandangan Koentjaraningrat dan Hamelink, artikel ini menekankan pentingnya pendidikan budaya melalui culture experience dan culture knowledge sebagai strategi untuk memperkuat identitas nasional. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa pelestarian budaya memerlukan kolaborasi antara keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan agar generasi muda tetap memiliki keterikatan emosional dan intelektual terhadap budaya bangsanya.
Tradisi Tabu Manten Mauritio, Valentino Andhro
TANDA Vol 3 No 04 (2023): KEBUDAYAAN
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi Tebu Manten merupakan salah satu bentuk keariafan lokal yang berkembang di masyarakat, khususnya di daerah yang memiliki indutrsi gula. Pabrik Gula memiliki tradisi unik saat pertama kali melakukan giling tebu. Tradisi tersebut digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas akan dilaksanakannya penggilingan gula setiap tahun sekali. Tebu Manten dalam bahasa Indonesia berarti 'Pengantin Tebu' sehingga Tebu Manten adalah tanaman tebu yang dinikahkan layakanya sepasang pengantin pada umumnya. Tebu laki-laki atau orang Jawa menyebutnya tebu lanang dan tebu perempuan atau biasa disebut tebu wadon kedua tebu tersebut kemudian dinikahkan dan dilakukan upacara tradisi Tebu Manten. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur. Tujuan penelitian untuk mengetahui proses ritual tradisi Tebu Manten dan mankna umbarampe sesajen
LARANGAN BESERTA TRADISI MALAM 1 SURO DI SURAKARTA Ayuputri, Riskha Nadia
TANDA Vol 3 No 04 (2023): KEBUDAYAAN
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/tanda.v3i04.1900

Abstract

Bulan 1 suro adalah bulan pertama dalam penanggalan jawa ,yang juga bertepatan dengan bulan muharam dalam kalender hijriah. Bulan ini dianggap sebagai bulan yang sakral dan penuh dengan makna spiritualnya dalam sebuah tradisi jawa ,banyak masyarakat jawa memanfaatkan bulan ini dengan untuk melakukan refleksi,doa bahkan ritual yang tentunya untuk mendekatkan diri dengan kepada sang pencipta atau membersihkan diri auara negatif ,tradisi ini biasanya diikuti dengan sikap dan pikiran yang tenang dan penghormatan yang mendalam terhadap nilai nilai luhur yang dipercayai oleh masyarakat dan dianggap bulan suro ini dengan suci dan penuh energi ,keberadaan bulan suro menunjukkan bagaimana masyarakat jawa menghargai hubungan antara tradisi leluhur agama dan spiritualitas dalam membentuk identitas budaya yang unik dan penuh dengan makna ,banyak larangan larangan serta tradisi yang terkandung dalam bulan 1 suro ini .
KEBUDAYAAN PINGIT TUJUH HARI SEBELUM PERNIKAHAN DALAM ADAT JAWA Ananda, Fidya Vicha
TANDA Vol 3 No 05 (2023): KEBUDAYAAN
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/tanda.v3i05.1908

Abstract

Penelitian ini mengenal budaya pingit yang diturunkan oleh para leluhur. Penelitian ini  merupakan penelitian dengan menggunakan metode analisis data dan studi Pustaka. Proses pengumpulan data berupa analisis jurnal,artikel, dan perpustakaan digital. Tahap penyajian data berupa teks agar mudah dipahami oleh pembaca. Penelitian ini di latarbelakangi oleh masyarakat suku Jawa yang wajib melakukan tradisi pingit, dimana mempelai pria dan wanita tidak boleh bertemu sampai waktu yang telah ditentukan sekitar 1-2 minggu. Penelitian ini bertujuan agar calon mempelai dapat merawat diri dan dihindarkan dari mara bahaya yang dapat menggangu keselamatan kedua mempelai. Tradisi pingitan dalam sudut pandang hukum islam dalam QS. Al-Ahzaab 33:33. Perintah langsung dari Allah SWT “dengan adanya wanita harus berdiam diri dalam rumah dan menjaga kesuciannya” sehingga adat ini dalam islam sah. Dari hasil penelitian ini adalah adanya tradisi yang wajib dilakukan dan dipercayai oleh Masyarakat suku Jawa sebelum melakukan pernikahan.
MAKNA DAN ASAL USUL TRADISI TEDAK SITEN DI MASYARAKAT JAWA Febrianti Tantiono, Patricia
TANDA Vol 3 No 05 (2023): KEBUDAYAAN
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/tanda.v3i05.1913

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisi tradisi tedak siten serta maakna yang terkandung dalam tradisi tedak siten ini yang sampai saat ini  masih dipercayai masyarakat terutama masyarakat jawa. Masyarakat masih mempercayai akan tradisi ini karena mereka yakin bahwa tradisi ini memiliki makna dan nilai-nilai filososi untuk kehidupan anaknya kelak yang akan ia jalani. Tedak siten dilakukan melalui beberapa proses atau serangkaian ritual mulai dari memandikan kaki anaknya hingga sampai pemotongan tumpeng dan membagikan ke tamu undangan, dari rangkaian ritual tersebut memiliki makna dan nilai-nilai filosofi tersendiri untuk kehidupan anaknya. Tradisi tedak siten ini memiliki tujuan dan juga fungsi secara simbolik terhadap tradisi jawa ini dan perlengkapan yang dipakai dalam upacara ini juga terdapat maknanya. Penelitian ini menggunakan metode literature, dengan mengumpulkan berbagai macam sumber referensi yang relavan mengenai tradisi tedak siten ini, penelitian selain untuk  mempelajari tentang kebudayaan jawa, bisa juga mempelajari tentang nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam tradisi jawa ini yang sudah ada sejak zaman dahulu. Asal-usul  dari tradisi tedak siten ini dimulai dari pengaruh Hindu-Budha lalu berkembang hingga saat ini, pada zaman dahulu tradisi tedak siten ini memiliki tujuan agar agar mendapatkan keberkahan dan melindungi anaknya dari hal-hal buruk, serta mendoakan anaknya, menjadi seseorang yang kuat dan sehat serta mendoakan untuk masa depan yang akan ia jalani kelak. Di era modern ini masih banyak masyarakat yang mempercayai akan tradisi ini, karena masyarakat yakin bahwa tradisi ini merupakan hal yang positif untuk kehidupan anaknya. Agar tradisi tedak siten ini tidak hilang karena perkembangan zaman yang semakin berkembang, kita sebagai generasi muda harus melestarikan tradisi tedak siten ini yang sudah dilakukan oleh leluhur. Diharapkan agar penelitian ini dapat memberikan wawasan tentang makna dari tradisi tedak siten yang dilakukan oleh masyarakat Jawa.
TARI SEBLANG BANYUWANGI SEBAGAI RITUAL MISTIS WUJUD SYUKUR Aulya Nur Syahfitri, Qhaida
TANDA Vol 3 No 05 (2023): KEBUDAYAAN
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/tanda.v3i05.1927

Abstract

Banyuwangi, located in the province of East Java, is known not only for its natural beauty, but also as a home to the Osing tribe who have a rich and mystical culture. One of the most famous traditions is the Seblang Dance ritual, which is carried out by the Osing people in two villages in Glagah District, Banyuwangi Regency. This ritual aims to maintain the cleanliness of the village and as a form of warding off disaster, so that the village remains peaceful and protected from disaster. The uniqueness of the Seblang Dance lies in the condition of the dancers who are often in a trance or possessed by spirits, which is considered part of the process of summoning ancestral spirits to provide blessings and protection for the village. In this ritual, in addition to dancing, various series of activities are also carried out such as pilgrimage to ancestral graves, slametan, ider bumi, and a parade around the village. Every step in this ritual has a deep spiritual meaning. The Seblang Dance is also regulated by special provisions, starting from the selection of dancers who must meet certain age requirements, the use of typical accessories, to the time of implementation which is usually carried out in the month of Hajj or a week after Eid al-Adha. All of these processions not only show the community's gratitude to God and ancestors, but also reflect their efforts to maintain harmony between the spiritual and worldly worlds.
ANALISIS PUISI BERJUDUL “CINTA RAHASIA” KARYA ACHLUDDIN IBNU ROCHIM Hayuning Jagatnira Bentang Pakerti, Andia
TANDA Vol 2 No 05 (2022): BUDAYA
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/tanda.v2i05.2051

Abstract

Puisi "Cinta Rahasia” karya Achluddin merepresentasikan potret cinta rahasia yang terjebak dalam kungkungan norma sosial, kesenjangan kelas, dan batasan moral. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap makna mendalam puisi melalui pendekatan struktural dan struktur, dengan menelaah struct diksi, simbolisme, imaji, serta konflik batin tokoh lirik. Hasil analisis menunjukkan bahwa puisi ini tidak hanya menyuarakan kerinduan yang terbungkam, tetapi juga menjadi kritik terhadap stratifikasi sosial yang membatasi ruang gerak afeksi. Melalui penggunaan gaya bahasa melankolis dan struct-simbol sosial seperti “pesta”, “lingkar petinggi”, dan “sosialita”, Achluddin berhasil menggambarkan cinta yang indah namun menyiksa, serta eksistensi perasaan yang harus tersembunyi demi menjaga tabu sosial. Kesimpulannya, puisi ini merupakan ekspresi puitik dari realitas emosional yang kompleks, yang relevan dalam membaca hubungan personal dalam masyarakat berlapis.
ANALISIS PUISI BERJUDUL “DUNIA TERTAWA” KARYA ACHLUDDIN IBNU ROCHIM Jingga Langit Persada Timur, Andia
TANDA Vol 2 No 06 (2022): BUDAYA
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/tanda.v2i06.2052

Abstract

Artikel ini membahas puisi "Dunia Tertawa" karya Achluddin Ibnu Rochim dengan tujuan untuk mengungkap struktur, simbolisme, dan makna afektif yang terkandung dalam teks. Puisi ini menampilkan relasi cinta yang harmonis, saling melengkapi, dan menyatu secara emosional maupun eksistensial. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif, analisis dilakukan dengan menggabungkan teori strukturalisme A. Teeuw, semiotika Roland Barthes, serta psikologi cinta dari Erich Fromm. Hasil analisis menunjukkan bahwa puisi ini menyampaikan pesan tentang cinta yang total dan utuh, diekspresikan melalui metafora alam dan citraan musikal yang sarat makna. Simbol-simbol seperti “bangau”, “desir”, dan “rakit” membentuk lanskap puitik yang tidak hanya menggambarkan kebersamaan, tetapi juga mengafirmasi cinta sebagai kekuatan universal yang mampu menciptakan tawa dan kebahagiaan semesta. Penelitian ini menegaskan bahwa puisi dapat menjadi medium reflektif yang kuat dalam mengungkap kedalaman emosi dan nilai-nilai kemanusiaan melalui bahasa yang padat makna.

Page 9 of 10 | Total Record : 96