cover
Contact Name
Nur Sahid
Contact Email
pengabdianseni@isi.ac.id
Phone
+6289649387947
Journal Mail Official
pengabdianseni@isi.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Gedung Concert Hall ISI Yogyakarta Jalan Parangtritis KM. 6,5 Yogyakarta 55188 email: pengabdianseni@isi.ac.id HP/WA +62 818-270-415 atau +62 896-4938-7947
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pengabdian Seni
ISSN : -     EISSN : 27744787     DOI : https://doi.org/10.24821/jps.v2i1
Jurnal Pengabdian Seni merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Dipublikasikan kali pertama pada tahun 2020, Jurnal Pengabdian Seni adalah jurnal hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan artikel yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya baik secara online maupun cetak. Jurnal Pengabdian Seni memiliki versi online dan cetak dengan jadwal publikasi dua kali setiap tahunnya yakni Mei dan November. Aim dan Scope jurnal ini adalah bidang Seni dan budaya.
Articles 96 Documents
Penyuluhan di Sanggar Musik Liturgi & Sora Swarga, Pucangsawit, Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah Ezra Deardo Purba; Abiel Imanta Ginting; Billy Arthaban Iasimeresa Sibero
Jurnal Pengabdian Seni Vol 7, No 1 (2026): MEI 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v7i1.19649

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan musikal peserta dari anggota Sanggar Musik Liturgi dan Sora Swarga Pucangsawit, Surakarta. Secara khusus, kegiatan ini menitikberatkan pada penguasaan prinsip-prinsip dasar musik liturgi, meliputi struktur lagu, dinamika, tempo, serta keseimbangan vokal dan instrumental. Program dilaksanakan melalui penyuluhan musik liturgi yang kontekstual dengan metode ceramah, diskusi, tanya jawab, dan eksplorasi musikal dalam 12 kali pertemuan tatap muka. Materi yang diberikan meliputi musik liturgi, teori musik dasar, solfegio dan intonasi, aransemen musik gereja, manajemen tim musik, serta simulasi dan evaluasi praktik liturgi musikal. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap fungsi musik liturgi, peningkatan kemampuan teknis musikal dan stabilitas intonasi, keterampilan interaksi musikal, serta kemampuan dalam mengelola tim musik gereja. Peserta juga mampu menyusun aransemen lagu gerejawi yang lebih kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan ibadah. Program ini direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan dengan durasi yang lebih fleksibel guna mendukung pembinaan musik liturgi di lingkungan sanggar.  This community service program aims to enhance participants’ understanding and musical skills among members of the Liturgical Music Studio and Sora Swarga Pucangsawit, Surakarta. Specifically, the program emphasizes the mastery of fundamental principles of liturgical music, including song structure, dynamics, tempo, and the balance between vocal and instrumental elements. The program was implemented through context-based liturgical music training, including lectures, discussions, question-and-answer sessions, and musical exploration across 12 face-to-face meetings. The materials covered included liturgical music, basic music theory, solfeggio and intonation, church music arrangement, music team management, as well as simulation and evaluation of liturgical music practices. The results of the program indicate improvements in participants’ understanding of the function of liturgical music, enhancement of technical musical skills and intonation stability, development of musical interaction skills, and improved ability to manage church music teams. Participants were also able to compose more contextual church music arrangements that align with the needs of worship services. This program is recommended for continuous implementation, with a more flexible duration, to support the development of liturgical music within the studio environment.
Pelatihan Musik Tradisional Lampung pada Kelompok Musikal SMA N 1 Kotabumi Erizal Barnawi; Hasyimkan Hasyimkan; Sony Afandi; Rama Alqurian Abdurahman; Bahari Kurniawan
Jurnal Pengabdian Seni Vol 7, No 1 (2026): MEI 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v7i1.17361

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya pelestarian budaya dan peningkatan keterampilan bermusik siswa melalui pelatihan musik tradisional Lampung. Fokus utama tulisan ini adalah menganalisis proses transformasi kemampuan teknis siswa dalam memainkan instrumen tradisi serta efektivitas metode pendampingan yang diterapkan. Subjek kegiatan terdiri dari 20 siswa kelompok musikal SMA N 1 Kotabumi yang sebelumnya hanya terpapar alat musik modern. Metode yang digunakan meliputi demonstrasi, drill, serta pendampingan berbasis media digital (WhatsApp, Zoom, dan YouTube). Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur perkembangan signifikan peserta. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan keterampilan yang nyata, yaitu peserta mampu memainkan instrumen gamolan, serdapan, peting, dan tunggal, serta melantunkan sastra lisan khas Lampung Pepadun dengan baik. Keberhasilan ini tidak hanya menghasilkan pemain musik tradisi yang berkualitas di lingkungan sekolah, tetapi juga meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap identitas budaya lokal. Peran mitra dalam menyediakan sarana latihan dan dukungan administratif menjadi faktor pendukung utama keberhasilan program ini. Dokumentasi hasil akhir telah dipublikasikan melalui kanal YouTube sebagai bentuk pertanggungjawaban karya dan media pembelajaran berkelanjutan.This paper aims to describe cultural preservation efforts and the enhancement of students' musical skills through traditional Lampung music training. The primary focus is to analyze the transformation of students' technical abilities in playing traditional instruments and the effectiveness of the mentoring methods applied. The subjects were 20 students from the SMA N 1 Kotabumi musical group, who had previously been exposed only to modern musical instruments. The methods employed included demonstrations, drills, and digital-based mentoring via WhatsApp, Zoom, and YouTube. Evaluations were conducted through pre-tests and post-tests to measure significant progress among participants. The training results indicated substantial improvement in skills; participants successfully mastered the Gamolan, Serdapan, and Peting Tunggal instruments, as well as the recitation of Lampung Pepadun oral literature. This success not only produced skilled and high-quality traditional musicians within the school environment but also fostered a deeper appreciation among the younger generation for local cultural identity. The role of partners in providing practice facilities and administrative support was a key factor in the program's success. Final documentation has been published on YouTube as a form of accountability and as a sustainable learning medium.
Peningkatan Kapasitas Desain Grafis Digital pada Kelompok Seni Media Disabilitas Yogyakarta Muhamad Ilham; Andri Nur Patrio; Tanto Harthoko Tanto Harthoko; Ghalif Putra Sadewa; Veronica Suryaning V; Afina Khusnul Khotimah
Jurnal Pengabdian Seni Vol 7, No 1 (2026): MEI 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v7i1.19492

Abstract

Artikel pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas desain grafis digital pada Kelompok Seni Media Disabilitas sebagai bagian dari upaya pemberdayaan seni yang inklusif dan berkelanjutan di ruang digital. Program pengabdian dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif yang menempatkan penyandang disabilitas sebagai subjek aktif dalam proses kreatif, dengan tahapan asesmen kebutuhan, pelatihan desain grafis digital, praktik langsung, pendampingan intensif, serta evaluasi hasil karya. Pelatihan difokuskan pada pemanfaatan perangkat lunak Canva yang mudah diakses, adaptif, dan ramah bagi penyandang disabilitas, baik untuk kerja kelompok maupun pengembangan karya secara mandiri, serta telah terintegrasi dengan fitur kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung eksplorasi ide visual. Pascapelaksanaan pengabdian, peserta secara konsisten melanjutkan aktivitas desain grafis melalui produksi konten visual untuk kebutuhan komunitas dan media sosial. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada keterampilan teknis dasar penyuntingan desain grafis, pemahaman prinsip komposisi, tipografi, dan warna, serta kemampuan menyusun desain yang lebih terstruktur dan komunikatif dibandingkan kondisi awal. Kegiatan ini juga berdampak pada peningkatan kepercayaan diri, partisipasi aktif, dan kemandirian kreatif peserta dalam memanfaatkan media digital sebagai ruang ekspresi seni. Rekomendasi dari kegiatan ini adalah perlunya penguatan program lanjutan melalui pendampingan berkelanjutan, pengembangan materi desain grafis tingkat menengah, serta integrasi teknologi digital dan AI secara lebih optimal untuk memperluas peluang produksi karya dan keberdayaan kelompok seni media disabilitas. This community service article aims to enhance the Media Arts Group for Persons with Disabilities' capacity in digital graphic design as part of an inclusive and sustainable arts empowerment initiative in the digital space. The program was implemented through a participatory approach, positioning persons with disabilities as active subjects in the creative process. The methodology encompassed several stages: needs assessment, digital graphic design training, hands-on practice, intensive mentoring, and evaluation of creative outputs. The training specifically used Canva, an accessible, adaptable software that is disability-friendly, supporting both collaborative work and independent creative development. Notably, the program integrated Artificial Intelligence (AI) features to facilitate more effective exploration of visual ideas. Following the program's completion, participants continued their graphic design activities, producing visual content for community purposes and for social media platforms. The results indicate a significant improvement in technical skills, particularly in basic editing, as well as a deeper understanding of composition, typography, and color selection. Furthermore, the participants demonstrated the ability to produce more structured and communicative designs compared to their initial conditions. Beyond technical gains, the program contributed to increased self-confidence and creative independence in utilizing digital media as a medium for artistic expression. It is recommended that future initiatives strengthen follow-up programs through continuous mentoring and more optimal integration of AI technology to expand creative production opportunities for media arts groups within the disability community.
Resin on Carving: Pelatihan Resin Glow in The Dark pada Ukiran Kayu Elemen Motif Tradisi di Sentra Perajin Kayu Desa Serenan Rahayu Adi Prabowo; Chici Yuliana Nadi; Sutriyanto Sutriyanto
Jurnal Pengabdian Seni Vol 7, No 1 (2026): MEI 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v7i1.17473

Abstract

Desa Serenan merupakan sentra kriya kayu ukir tradisional yang selama ini berfokus pada produksi mebel berukuran besar. Minimnya variasi produk dan keterbatasan pengetahuan mengenai inovasi material menyebabkan daya saing produk relatif stagnan. Program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan untuk memperkenalkan penggunaan resin glow in the dark pada ukiran kayu sebagai bentuk diversifikasi produk yang adaptif, bernilai tambah, dan sesuai dengan selera pasar modern. Tujuan kegiatan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan mitra dalam mengaplikasikan resin glow in the dark pada ukiran kayu, menciptakan variasi produk kecil yang lebih ringan, ekonomis, mudah dipasarkan, serta membekali mitra dengan keterampilan dokumentasi pemasaran digital. Metode pelaksanaan pelatihan yaitu sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi, serta perencanaan keberlanjutan program. Luaran pelatihan meliputi terciptanya minimal tiga prototipe produk diversifikasi ukiran kayu kombinasi resin glow in the dark, enam foto produk dalam katalog digital, satu akun media sosial untuk mitra, luaran pendukung berupa artikel ilmiah, publikasi media massa, karya visual, dan karya audiovisual. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa mitra berhasil menghasilkan tiga produk diversifikasi, memiliki akun media sosial untuk promosi, serta menyusun katalog digital produk. Program ini secara keseluruhan mampu mengembangkan potensi Desa Serenan sebagai sentra kriya kayu yang inovatif dan berdaya saing pada era ekonomi kreatif. Serenan Village is a center for traditional woodcarving crafts that focuses on large-scale furniture production. Limited product variety and knowledge of material innovation have resulted in relatively stagnant product competitiveness. This community service program was implemented to introduce the use of glow-in-the-dark resin in woodcarving as a form of adaptive product diversification, adding value and aligning with modern market tastes. This training aims to improve partners' skills in applying glow-in-the-dark resin to woodcarving, creating smaller, lighter, more economical, and more marketable product variations, and equipping partners with digital marketing documentation skills. The training implementation methods include socialization, training, technology application, mentoring, evaluation, and program sustainability planning. Training outputs include the creation of at least 3 prototypes of various woodcarving products combined with glow-in-the-dark resin, 6 product photos for a digital catalog, 1 partner social media account, and supporting outputs in the form of scientific articles, mass media publications, visual works, and audiovisual works. The training results showed that the partners successfully produced three diverse products, had social media accounts for promotion, and compiled a digital product catalog. This program, as a whole, can develop Serenan Village's potential as a center for innovative, competitive woodcraft in the creative economy era.
Penguatan Identitas Sekolah melalui Desain Maskot dalam Program Penyuluhan Seni di SMP N 1 Sentolo Ika Yulianti; Margiyanto Margiyanto; Sudaryanto Margiyanto; Imroatu Sholikah
Jurnal Pengabdian Seni Vol 7, No 1 (2026): MEI 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v7i1.19641

Abstract

Persaingan yang semakin ketat antarsekolah, identitas visual menjadi aspek penting dalam memastikan citra lembaga pendidikan tidak terganggu. Ada banyak sekolah dengan potensi dan keunggulan yang belum terlihat oleh publik. Tujuan dari kegiatan seni ini adalah untuk membantu SMP N 1 Sentolo dalam menciptakan identitas visual sekolah melalui tata letak maskot sekolah dan skema branding. Kegiatan ini dilakukan secara kolaboratif dan dengan guru sebagai mitra untuk menciptakan konsep visual. Pendekatan yang digunakan meliputi diskusi kelompok terfokus, pemetaan potensi sekolah, proses kreatif desain maskot, serta penyusunan media komunikasi visual. Kegiatan ini dilaksanakan dalam 12 sesi dengan 20 orang guru. Kegiatan ini menghasilkan maskot sekolah "Gatotkaca Anantaka" untuk siswa yang mewakili nilai-nilai siswa seperti karakter, semangat belajar, dan ambisi. Bersamaan dengan maskot tersebut, poster, stiker, map sekolah, karakter berdiri, dan template presentasi pengajaran dan pembelajaran dibuat sebagai alat komunikasi visual melalui latihan ini. Kehadiran identitas visual semacam itu membantu sekolah dalam memperkuat komunikasi kelembagaan dengan publik. Tugas ini juga memengaruhi peningkatan pemahaman guru tentang peran desain visual dalam mengembangkan citra lembaga pendidikan. With increasingly fierce competition among schools, visual identity has become a crucial aspect in ensuring the image of educational institutions remains intact. Many schools possess potential and excellence that remain unseen by the public. The purpose of this art activity was to assist SMP N 1 Sentolo in creating a visual identity through the design of a school mascot and branding scheme. This activity was conducted collaboratively with teachers as partners in creating the visual concept. The approach included focus group discussions, mapping the school's potential, the creative process of mascot design, and preparing visual communication materials. This activity was carried out over 12 sessions with 15 teachers. The results showed that this activity resulted in the school mascot "Gatotkaca Anantaka" for students, representing student values such as character, enthusiasm for learning, and ambition. Along with the mascot, posters, stickers, school folders, standing characters, and teaching and learning presentation templates, this exercise created visual communication tools. The presence of such a visual identity helps the school strengthen institutional communication with the public. This task also influences teachers' understanding of the role of visual design in developing the image of educational institutions.
Peningkatan Lingkungan Belajar PAUD Melalui Mural Edukatif di Desa Dwi Karya Mustika, Mesuji Timur M Dimas Yudi Witjaksono; Chairul Amriyah; Sigit Yudi Prasetyo; Didik Wahyudi
Jurnal Pengabdian Seni Vol 7, No 1 (2026): MEI 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v7i1.19112

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan belajar anak usia dini melalui pembuatan mural edukatif di PAUD Tunas Lestari, Desa Dwi Karya Mustika. Permasalahan yang dihadapi mitra adalah kurangnya media visual yang menarik dan edukatif di lingkungan sekolah yang dapat mendukung proses pembelajaran anak. Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan deskriptif-partisipatif, meliputi observasi kondisi dinding sekolah, diskusi dan koordinasi dengan pihak sekolah serta pemerintah desa, perencanaan desain mural, hingga pelaksanaan pengecatan. Partisipan dalam kegiatan ini adalah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata UIN Raden Intan Lampung, dengan instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi dan dokumentasi kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa mural bertema hewan dengan desain sederhana dan warna cerah mampu menciptakan suasana belajar yang lebih ceria, menarik, dan edukatif bagi anak-anak PAUD. Selain memperindah lingkungan sekolah, mural juga berfungsi sebagai media pengenalan visual yang mendukung perkembangan kognitif anak usia dini. Kegiatan ini memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan praktik pembelajaran berbasis lingkungan serta memperkuat peran mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan kreatif dan edukatif. This community service activity aims to improve the quality of the early childhood learning environment by creating educational murals at PAUD Tunas Lestari in Dwi Karya Mustika Village. The main problem faced by the partner institution was the lack of engaging, educational visual media within the school environment to support children’s learning. The activity was implemented using a descriptive-participatory approach, which included observing the condition of the school wall, discussing and coordinating with the school management and village authorities, planning mural design, and the painting process. The participants in this activity were students of the Community Service Program (Kuliah Kerja Nyata) from UIN Raden Intan Lampung, with data collected through observation sheets and activity documentation. The results indicate that animal-themed murals with simple designs and bright colors created a more cheerful, engaging, and educational learning atmosphere for early childhood students. In addition to enhancing the aesthetic appearance of the school environment, the murals also functioned as visual learning media that support early childhood cognitive development. This activity contributes to the development of environment-based learning practices and strengthens university students' role in community empowerment through creative and educational approaches.

Page 10 of 10 | Total Record : 96