cover
Contact Name
Rika Puspita Sari MZ
Contact Email
rika_puspita@um-palembang.ac.id
Phone
+6282281007455
Journal Mail Official
jurnalediblefpump@gmail.com
Editorial Address
Jl. A. Yani 13 Ulu Palembang telp (0711)511731 email : edible@um-palembang.ac.id http://jurnal.um-palembang.ac.id/edible
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Edible : Jedb
ISSN : 23014199     EISSN : 24432113     DOI : https://doi.org/10.32502/jedb.v9i1
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Edible discusess the relust of agricultural research in the field of food science and technology. Jurnal ini membahas tentang hasil-hasil penelitian pertanian di bidang ilmu dan teknologi pangan, Seperti : Pasca Panen,Pengolahan Pangan, Rekayasa Pangan, Gizi Pangan , Mikrobiologi Pangan Serta Pangan lainnya yang belum disebutkan. Merupakan hasil dari penelitian dosen Fakultas Pertanian UM Palembang dan penulis dari luar Universitas Muhammadiyah Palembang.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2016): Edible" : 8 Documents clear
STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI ITIK PEGAGAN SEBAGAI KOMODITAS UNGGULAN DAERAH Hasan Hery; Kiki Yuliati; Hasbi Hasbi; Gatot Priyanto; Meisji Liana Sari
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 5, No 1 (2016): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v5i1.636

Abstract

Penelitian ini bermaksud untuk menyusun strategi pengembangan agroindustri berbasis itik Pegagan sebagai komoditas unggulan daerah. Ternak Itik Pegagan merupakan plasma nutfah lokal yang memiliki prospek untuk dikembangkan. Namun hingga saat ini jika dilihat dari populasinya justru ada kecendrungan menurun. Penelitian ini menggunakan analisis SWOT untuk penentuan alternatif strategi pengembangan Agroindustri Itik Pegagan, kemudian untuk penetapan prioritas strategi menggunakan QSPM. Hasil penelitian diperoleh strategi terpilih yaitu revitalisasi sistem perbibitan rakyat oleh pemerintah daerah di sentra ternak itik Pegagan yang berbasis sumber daya lokal melalui regulasi dan penerapan teknologi tepat guna.
PENGARUH BAHAN PELAPIS (Edible Coating) DAN KETEBALAN KEMASAN TERHADAP UMUR SIMPAN PEMPEK IKAN PARANG-PARANG DALAM KEMASAN VACUM Elfaini, Yessi; Domonita, Heni
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 5, No 1 (2016): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v5i1.641

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan pelapis (edible coating) dan ketebalan kemasan terhadap umur simpan pempek ikan parang-parang dalam kemasan vacuum. Penelitian ini dilaksanakan dilaboratorium Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang dan Balai Riset dan Standarisasi Industri Palembang pada bulan Desember 2014 sampai dengan bulan Mei 2015. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara fakorial dengan faktor perlakuan bahan pelapis (edible coating) dan ketebalan kemasan yang terdiri dari enam kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak tiga kali. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah analisis kimia meliputi analisis kadar protein, kadar air dan uji visual. Sedangkan uji organoleptik meliputi warna, bau dan kerenyahan dengan mengunakan uji pembanding jamak. Perlakuan jenis bahan pelapis (edible coating) berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air dan kadar protein pempek ikan parang-parang setelah penyimpanan 12 hari. Perlakuan ketebalan kemasan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air dan kadar protein pempek ikan parang-parang setelah penyimpanan 12 hari. Interaksi perlakuan bahan pelapis (edible coating) dan ketebalan kemasan berpengaruh tidak nyata terhadap kadar air dan kadar protein pempek ikan parang-parang setelah penyimpanan 12 hari. Interaksi perlakuan bahan pelapis (edible coating) dan ketebalan kemasan berpengaruh nyata terhadap sifat organoleptik warna, bau dan kerenyahan pempek ikan parang-parang setelah penyimpanan 12 hari.
PENAMBAHAN CARBOXY METHYL CELLULOSE (CMC) TERHADAP KARAKTERISTIK KIMIA, FISIKA DAN SENSORIS SAUS CUKO PEMPEK Iman, Nur; Dasir, Dasir; Alhanannasir, Alhanannasir
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 5, No 1 (2016): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v5i1.637

Abstract

Penambahan Carboxy Methyl Cellulose (CMC) terhadap karakteristik kimia, fisika, dan sensoris saus cuko pempek. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penambahan Carboxy Methyl Cellulose (CMC) terhadap karakteristik kimia, fisika, dan sensoris saus cuko pempek. Penelitian ini Alhamdulillah telah dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian Univeritas Muhammadiyah Palembang dan Laboratorium Kimia dan Mikrobiologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Palembang Maret 2015 sampai dengan bulan Agustus 2015.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara non faktorial dengan faktor perlakuan penambahan CMC yang terdiri dari lima tingkat faktor perlakuan yaitu 1,0%, 1,5%, 2,0%, 2,5%, dan 3,0% yang diuji sebanyak empat kali ulangan. Adapun parameter yang diamati dalam penelitian ini, untuk analisis kimia meliputi kadar gula total dan pH dan uji fisik viskositas. Sedangkan uji organoleptik meliputi aroma dan rasa pada saus cuko pempek menggunakan uji hedonik. Hasil penelitian berpengaruh sangat nyata terhadap kadar gula total, pH, dan viskositas saus cuko pempek. Kadar gula total tertinggi terdapat pada perlakuan C5 dengan nilai rata-rata 33,720% dan kadar gula total terendah terdapat pada perlakuan C1 dengan nilai rata-rata 32,803%, pH tertinggi terdapat pada perlakuan C5 dengan nilai rata-rata 6,60 dan pH terendah terdapat pada perlakuan C1 dengan nilai rata 6,05, dan viskositas tertinggi terdapat pada perlakuan C5 dengan nilai rata-rata 400,53 dan viskositas terendah terdapat pada perlakuan C1 dengan nilai rata 17,38. Hasil analisis uji organoleptik dengan uji hedonik pada aroma dan rasa saus cuko pempek. Berdasarkan uji friedman pada aroma diperoleh nilai T-kritik sebesar 0,59. Nilai tersebut jumlahnya lebih kecil (<) dari nilai F-tabel 0,05 pada derajat bebas (4,96) sebesar 2,46. Berarti penambahan CMC (Carboxy Methyl Cellulose) berpengaruh tidak nyata terhadap aroma saus cuko pempek dan tidak dilakukan uji lanjut (Uji Conover), dan rasa diperoleh nilai T-kritik sebesar 0,48. Nilai tersebut jumlahnya lebih kecil (<) dari nilai F-tabel 0,05 pada derajat bebas (4,96) sebesar 2,46. Berarti penambahan CMC (Carboxy Methyl Cellulose) berpengaruh tidak nyata juga terhadap rasa saus cuko pempek dan tidak dilakukan uji lanjut (Uji Conover).
APLIKASI TEKNOLOGI PENCUCIAN SEBAGAI NILAI TAMBAH DALAM HIGIEN DAN SANITASI SELADA PADA TINGKAT PEDAGANG PASAR TRADISIONAL DI KOTA PALEMBANG Ade Vera Yani; Hasbi Hasbi; Gatot Priyanto; Rindit Pambayun; Agus Wijaya
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 5, No 1 (2016): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v5i1.638

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menghitung nilai tambah dari perlakuan pencucian sebagai aplikasi dari higien dan sanitasi terhadap sayuran selada pada tingkat pedagang pasar tradisional yang ada di kota Palembang. Penelitian ini menggunakan perhitungan nilai tambah metode Hayami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio nilai tambah tertinggi pada Pasar Jaka Baring 48,72% ; diikuti Pasar Perumnas 42,58% ; Pasar Km5 33,45% ; dan Pasar AAL 29,06%.
MEMPELAJARI SIFAT FISIKA KIMIA BAKSO JAMUR DENGAN PERSENTASE JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus Jacq) DAN TEPUNG TAPIOKA Handayani, Suarmi; Dasir, Dasir; Yani, Ade Vera
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 5, No 1 (2016): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v5i1.634

Abstract

Bakso dengan bahan dasar jamur tiram putih juga menjadi alternatif bahan pangan bagi para vegetarian yang ingin menikmati olahan pangan dalam bentuk bakso. Jamur tiram putih sebagai substitusi daging sapi menjadi salah satu alasan memilih bakso untuk dikembangkan dengan bahan utama jamur tiram. Kualitas bakso ditentukan oleh bahan baku serta tepung yang digunakan dan perbandingannya di dalam adonan. Faktor lain yang mempengaruhi kualitas bakso yaitu bahan tambahan yang digunakan serta cara memasaknya. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul “mempelajari sifat fisika kimia bakso jamur dengan persentase jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus Jacq) dan tepung tapioka”. Perlakuan persentase jamur tiram putih, persentase tepung tapioka dan interaksinya berpengaruh sangat nyata terhadap kadar protein dan kadar air bakso jamur. Interaksi perlakuan J3T1 (jamur tiram putih 80% dan tepung tapioka 50%) mempunyai kadar protein tertinggi dengan nilai rata-rata 10,07%. Interaksi perlakuan J3T3 (jamur tiram putih 80% dan tepung tapioka 20%) mempunyai kadar air teringgi dengan nilai rata-rata 78,580%. Data uji organoleptik uji pembanding jamak persentase jamur tiram putih dan persentase tepung tapioka terhadap rasa dan warna bakso jamur, diperoleh bahwa perlakuan J2T2 mempunyai rasa dan warna yang berbeda tidak nyata dengan bakso komersil dengan nilai rata-rata terendah yaitu 35,00% dan 25,00%. Interaksi perlakuan J1T1 (jamur tiram putih 50% dan tepung tapioka 50%) mempunyai tingkat kekenyalan tertinggi dengan nilai rata-rata 3,20 (kriteria kenyal).
MEMPELAJARI BERBAGAI SUHU AWAL PEREBUSAN TERHADAP KEHILANGAN PROTEIN DAGING SAPI BAGIAN HAS DALAM Sari, Dian Novita; Murtado, A.D.; Muchsiri, Mukhtarudin
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 5, No 1 (2016): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v5i1.639

Abstract

Mempelajari Berbagai Suhu Awal Perebusan terhadap Kehilangan Protein Daging Sapi Bagian Has Dalam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu awal perebusan yang mampu memperkecil kehilangan protein dan sifat indrawi daging, dan untuk optimalisasi perebusan. Penelitian ini dilaksanakan dilaboratorium Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang pada bulan Oktober 2013 sampai dengan bulan April 2014. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara non fakorial dengan faktor perlakuan dengan faktor perlakuan berbagai suhu awal perebusan daging sapi yang terdiri dari empat faktor perlakuan dan diulang sebanyak empat kali. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah untuk analisis kimia dilakukan analisis kadar protein pada daging mentah dan daging sapi bagian has dalam yang sudah direbus. Analisis fisik dilakukan uji residu pada air rebusan dan susut daging setelah perebusan pada daging sapi bagian has dalam. Sedangkan uji organoleptik meliputi warna, aroma dan penampakan total dengan menggunakan uji hedonik. Perlakuan suhu awal perebusan daging berpengaruh sangat nyata terhadap kadar protein, kehilangan kadar protein, residu air rebusan, susut volume dan susut berat daging sapi has dalam rebus. Kadar protein tertinggi terdapat pada perlakuan D4 (suhu awal perebusan 1000C) dengan nilai rata-rata 14,54%, Kehilangan Kadar Protein tertinggi terdapat pada perlakuan D1 (suhu awal perebusan 400C) dengan nilai rata-rata 22,08% Residu air rebusan tertinggi terdapat pada perlakuan D1 (suhu awal perebusan 400C) dengan nilai rata-rata 1,38%. Susut volume tertinggi terdapat pada perlakuan D1 (suhu awal perebusan 400C) dengan nilai rata-rata 65,461%. Susut berat tertinggi terdapat pada perlakuan D1 (suhu awal perebusan 400C) dengan nilai rata-rata 48,696%. Uji organoleptik terhadap warna, aroma dan penampakan total pada perlakuan D4 (suhu awal perebusan 1000C) mempunyai tingkat kesukaan tertinggi terhadap warna, aroma dan penampakan total daging sapi dibanding perlakuan D1, D2, D3, Untuk mendapatkan daging sapi rebus yang baik penulis menyarankan sebaiknya menggunakan perlakuan D4 (suhu awal perebusan 1000C).
PENGARUH PERBANDINGAN JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus Jacq) DAN TEPUNG TAPIOKA TERHADAP KARATERISTIK FISIKA, KIMIA PADA ORGANOLEPTIK PEMPEK JAMUR TIRAM Surono, Surono; Suyatno, Suyatno; Mukhtarudin, Mukhtarudin
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 5, No 1 (2016): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v5i1.635

Abstract

Studying the Effect Comparison White Oyster Mushroom (Pleurotus ostreatus Jacq) and Tapioca Flour Characteristics Of Physics, Chemistry At Pempek Organoleptik Oyster Mushrooms. This study aims to determine the effect of white oyster mushroom comparison (pleorotus ostreatus Jaq) and flour tapoika against kerateristik physics, chemistry on Organoleptik pempek oyster mushrooms. This study was conducted at the Laboratory Alhamdulillah Faculty of Agriculture, University of Muhammadiyah Palembang and Industrial Research and Standards Palembang in December 2014 until the month of August 2015. This study uses Kelompaok Random Design (RAK) are arranged in a non factorial with treatment factor comparisons white oyster mushrooms with flour tapoika which consists of five treatment factors and repeated emapat times. The parameters were observed in this study, for chemical analysis mliputi levels of protein and moisture content that has not pempek fried oyster mushrooms. As for organoleptic tests include color, taste and flavor with hedonic test and rank test pempek texture with oyster mushrooms. The results showed that the influence of white oyster mushroom comparison (Pleorotus ostreatus Jaq) and tapioca flour very significant effect on the moisture content and protein pempek white oyster mushroom. Protein content and high water content contained in the treatment J5 (white oyster mushrooms 1.5 parts: 0.5 parts tapioca flour) with an average value of 10.61%, and 64.97%, while the protein content and low water content contained in the J1 treatment (white oyster mushrooms 0.5 parts: 1.5 parts tapioca starch) with an average value of 5.34% and 51.33%. Organoleptic results using hedonic test on pempek white oyster mushroom (Pleorotus ostreatus Jaq) for color, flavor and aroma. For color does not affect nayata with the highest score at the J1 treatment with an average value of 3.64 (rather preferred criteria), while the taste and aroma of real effect. Highest sense J3 treatment with an average value of 3.60 (criteria rather preferred) and the highest taste J1 treatment with an average value of 3.64 (criteria rather preferred). Significant level of resilience. J3 treatment by comparison oyster mushroom and tapioca flour (white oyster mushroom 1, section: tapioca flour 1, section) produce the best level of elasticity with an average value of 2.84 (criteria somewhat chewy).
MEMPELAJARI PENAMBAHAN KAPUR SIRIH Ca(OH)2 SEBAGAI BAHAN PENGHAMBAT KERUSAKAN PADA NIRA KELAPA Suntoro, Adi; Suyatno, Suyatno; Sylviana, Sylviana
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 5, No 1 (2016): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v5i1.640

Abstract

Mempelajari penambahan kapur sirih Ca(OH)2 sebagai bahan penghambat kerusakan pada nira kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kapur sirih Ca(OH)2 sebagai penghambat kerusakan nira kelapa. Penelitian ini dilaksanakan dilaboratorium Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang pada bulan Oktober 2013 sampai dengan bulan April 2014. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara non faktorial dengan faktor perlakuan dengan faktor perlakuan persentase kapur sirih yang terdiri dari lima faktor perlakuan dan diulang sebanyak tiga kali. Parameter yang diamati dalam penelitian ini untuk analisis kimia adalah kadar gula reduksi,total asam dan pH . Sedangkan untuk Uji organoleptik meliputi rasa, aroma dan warna, dengan menggunakan uji hedonik. Perlakuan penambahan kapur sirih berpengaruh sangat nyata terhadap kadar gula reduksi nira kelapa. Kadar gula reduksi tertinggi terdapat pada perlakuan N0 (penambahan kapur sirih Ca(OH)2(0,0%) dengan nilai rata-rata 3,937, dan kadar gula reduksi terendah terdapat pada perlakuan N4 (penambahan kapur sirih Ca(OH)2 2%) dengan nilai rata-rata 2,324% . Total asam tertinggi terdapat pada perlakuan N0 (penambahan kapur sirih Ca(OH)2 (0,0%) dengan nilai rata-rata 0,884% dan kadar total asam terendah terdapat pada perlakuan N4 (penambahan kapur sirih Ca(OH)2 2,0%) dengan nilai rata-rata 0,166. pH tertinggi terdapat pada perlakuan N4 (penambahan kapur sirih Ca(OH)2 2,0%) dengan nilai rata-rata 6,33 dan pH terendah terdapat pada perlakuan N0(penambahan kapur sirih Ca(OH)2 0,0% dngan nilai rata-rata 4,77. Uji organoleptik terhadap warna, aroma dan rasa , tertinggi nira kelapa terdapat pada perlakuan N4 penambahan kapur sirih Ca(OH)2 2,0%) dibanding perlakuan N0,N1,N2,N3 .Untuk mendapatkan nira kelapa yang baik penulis menyarankan sebaiknya menggunakan perlakuan N4 kapur sirihCa(OH)2 2,0%.

Page 1 of 1 | Total Record : 8