cover
Contact Name
Retno Andriati
Contact Email
retno.andriati@fisip.unair.ac.id
Phone
+6289518900161
Journal Mail Official
biokultur@journal.unair.ac.id
Editorial Address
Kampus C Universitas Airlangga, JL. Mulyorejo, Surabaya, Mulyorejo, Surabaya City, East Java 60115
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Biokultur
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 23023058     EISSN : 27462692     DOI : http://dx.doi.org/10.20473/bk.v10i1.27409
Biokultur receives manuscripts from both original articles which are field-work research and literature review in the field of Anthropology. The scope of the anthropology includes: Social Anthropology Physical Anthropology Political Anthropology Cultural and Society
Articles 58 Documents
Stress Markers Pada Calcaneus Penambang Belerang di Gunung Welirang Nadia Amalia
Biokultur Vol. 9 No. 2 (2020): Responses to Cultural Changing
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bk.v9i2.23117

Abstract

Stress markers adalah tanda pada tulang yang menjadi petunjuk bahwa individu tersebut pernah melakukan suatu pekerjaan yang melibatkan kerjasama otot dan sendi untuk beraktivitas dengan intensitas waktu yang lama dan berulang. Penambang belerang di Gunung Welirang melakukan aktivitas pekerjaannya dengan  beban belerang sebanyak ±100-250 kg setiap hari dengan cara dipikul dan ditarik menggunakan gerobak, dengan tumpuan terbesarnya berada pada tulang calcaneus. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana variasi stress markers yang muncul pada tulang calcaneus penambang belerang terkait lama kerja, beban kerja, dan inensitas kerja. Metode yang digunakan dalam pengambilan dan pengumpulan data ini adalah metode observasi, kuesioner terbuka, dan rontgen untuk melihat adanya stress markers. Adapun analisis data yang digunakan adalah metode kuantitatif, yaitu melihat hasil foto rontgen dan menganalisisnya dengan data lama kerja, beban kerja, dan intensitas kerja pada tiap individu penambang belerang Gunung Welirang. Hasilnya adalah terdapat variasi stress markers berupa osteopit sebanyak 87,5%  dan robustisitas sebanyak 100%  pada calcaneus penambang belerang, serta terdapat variasi letak stress markers pada osteopit dan robustisitas. Hal tersebut disebabkan karena perbedaan usia, lama masa kerja, beban kerja, dan intensitas kerja pada masing-masing subjek penelitian.
Moral Economic Behavior of Small-Medium Enterprises in Three Provinces During the Covid-19 Pandemic Nasrullah Widiantoro Sandi
Biokultur Vol. 10 No. 1 (2021): Cultural and Environmental Problems
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bk.v10i1.27413

Abstract

The purpose of this research is to identify the condition of MSMEs and the actions taken to survive the COVID-19 pandemic. The subjects in this study were MSMEs in three provinces, namely East Java (Surabaya and Gresik), Central Java (Pekalongan and Cilacap), and Riau (Pekanbaru). The method used in this research is a literature review with a descriptive research type. This means that the data in this study are secondary data from the research results of other researchers. The literature sources in this thesis are five journals of research results on MSMEs in East Java (Surabaya and Gresik), Central Java (Pekalongan and Cilacap), and Riau (Pekanbaru) during the COVID-19 pandemic. To carry out the analysis, the researcher used the concept of J. Scott's (1981) moral economic behavior theory which has two basic assumptions. It is a subsistence economy and safety-first behavior to avoid risk. The results, first, the researchers looked at the conditions of MSMEs in East Java, Central Java, and Riau which was in a subsistence condition or was in minimal conditions during the COVID-19 pandemic such as decreased sales turnover, difficulty in raw materials, reduced consumers due to social restrictions and regulations. the distribution system was also obstructed because of the social restrictions imposed by the government. Second, the researchers also looked at the moral economic behavior & safety first of MSME actors in two categories. The first category is the one that has a positive impact on the behavior such as improving the quality of production, keeping product prices affordable, and maintaining good relations with consumers to form consumer loyalty to MSMEs. Then, for the second category, those that have a negative impact on the sustainability of MSMEs in the midst of a pandemic can be seen in the use of conventional marketing methods, lack of innovation in products and some even implement a “loss-sold” as long as it can be sold; strategy because of lack of product quality and to minimize losses.
Studi Komparatif Motivasi dan Prestasi Belajar Taruna AAL Ditinjau dari Pilihan Korps Untuk Mewujudkan World Class Navy Koko Komarudin
Biokultur Vol. 9 No. 1 (2020): Cultural Dynamics and Changes
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bk.v9i1.21724

Abstract

The interest of cadets is one of the considerations to determine their Service Corps while studying in the Naval Academy; though, it bears the least point compared among other aspects.  Based on some views of educational experts, interest is a motivational tool that can arouse the excitement of learning. Hypothetically, cadets who have good motivation to learn are feasibly able to get better achievement. The author carried out the study to find out the distinction of motivation and learning achievement between cadets with the corps of their interests and those whose corps are not on their interests: the influencing factors upon motivation and learning achievement; and simulation of dynamic system of motivation and achievement with the samples of 4th-grader  Cadets of 62 in Indonesian Naval Academy.  By using the results of independent t-test with a value greater than 0.05.  apparently there is no significant differences of motivation and learning achievement  among the cadets with different corps in relevance  with their interests. Then based on the descriptive analysis, factors that influence the motivation and learning achievement are: the instructors and the cadres, teaching materials, teaching and learning facilities and learning social environment with the  average  point of 84.25% of satisfaction level. The result from the dynamic system simulation model tells that the respondents who have very good level of interest and are supported optimally by  the influencing  factors, are able to achieve GPA 3.6. It proves that interest, motivation and influencing factors come in linear to better achievement among cadets. Therefore, it is necessary to conduct regular and organized  evaluation toward learning factors for optimal learning achievement of cadets.
Perlawanan Hegemoni Budaya dan Mitos pada Karya Seni Rupa Digital Biennale Jatim Jokhanan Kristiyono
Biokultur Vol. 9 No. 2 (2020): Responses to Cultural Changing
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bk.v9i2.22365

Abstract

Penelitian ini menganalisis praktik seni melalui karya seni rupa digital yang dilakukan oleh seniman digital yang tergabung pada komunitas seni Biennale Jatim. Karya seni yang dianalisis ini untuk melihat secara mendalam dan eksploratif bagaimana ekspresi perlawanan dominasi dan hegemoni budaya, dominasi mitos yang melembaga pada masyarakat. Dengan pendekatan studi kualitatif melalui metode etnografi digital, peneliti melakukan eksplorasi secara medalam dengan observasi partisipasi proses penciptaan karya dan instalasi karya seni pada pameran Biennale Jatim 7. Dua karya seni yang dianalisis pada penelitian ini menunjukkan sebuah temuan penelitian yaitu gambaran nyata tentang perlawanan atas hegemoni (counter hegemony) lewat karya-karya seni. Perlawanan terhadap kondisi sosial masyarakat dan perlawanan terhadap budaya dan mitos pada masyarakat. Para seniman muda yang tergabung di komunitas seni digital Biennale Jawa Timur ini mengganggap praktik seni pada budaya Barat telah melakukan alienisasi terhadap masyarakat di Indonesia terutama masyarakat seni. Sebagai dampaknya, masyarakat Indonesia yang memiliki kultur sosial sangat berbeda dengan Barat, menjadi kaum yang inferior.
Habitus dan Praktik Aktor dalam Arena Pemajuan Kebudayaan Adiyanto Adiyanto
Biokultur Vol. 10 No. 1 (2021): Cultural and Environmental Problems
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bk.v10i1.27799

Abstract

Program kegiatan pelestarian kesenian di UPT. Pemberdayaan Lembaga Seni Wilwataikta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, yang bertujuan untuk mewujutkan kemajuan kebudayaan seperti yang di amanatkan dalan Undang- Undang Pemajuan Kebudayaan. Apabila pelaksanaan Progran kegiatan pelesarian kesenian tersebut tidak terlaksana dengan optimal dikarenakan, banyak kegiatan abal-abal, yang penting jalan dan ada laporan kegiatan fiktif. Hal ini dikarenakan perilaku birokrasi yang sangat buruk. Untuk meneliti fenomena yang terjadi tersebut, maka peneliti menggunakan teori praktik sosial dari Pierre Bourdueu yaitu Habitus, modal/ kapital dan ranah/ arena. Pencabaran teori parktik sosial Pierre Bourdueu dilakukan atas dasar fenomena perilaku birokrasi dalam pelaksanaan program kegiatan pelestarian kesenian. Maka penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan metode fenomenologi dan ethnografi yang dikemukakan oleh John W. Creswell. Dalam penelitian ini menemukan bahwa praktik sosial birokrasi pada aparatur pemerintah dalam menjalankan tugas dan kewajibannya yaitu di UPT. Pemberdayaan Lembaga Seni Wilwatikta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, secara etika/moral aparatur masih tergolong rendah, dengan adanya praktek-praktek yang tidak terpuji dalam pelaksanaan program kegiatan pelestarian kesenian, sehingga belum dapat mewujudkan kemajuan kebudayaan seperti yang di amanatkan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan.
Perubahan Perilaku Budaya Mburi Omah Masyarakat Pinggir Sungai Afiarta Akbar Alfiyansyah
Biokultur Vol. 9 No. 1 (2020): Cultural Dynamics and Changes
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bk.v9i1.21721

Abstract

Fuel Terminal (FT) Boyolali merupakan bagian perusahaan PT. Pertamina (Persero) yang memiliki berbagai program pemberdayaan masyarakat dan pengolahan lingkungan sebagai wujud tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat sekitar perushaan. Coorporate Social Responsibility (CSR) perusahaan terhadap kelestarian lingkungan diwujudkan dalam program keanekaragaman hayati dan pemberdayaan masyarakat di sungai Kalipepe. Pelestarian lingkungan sungai Kalipepe yang berdekatan dengan lokasi perusahaan tersebut disebabkan adanya pencemaran lingkungan sungai. Pencemaran tersebut bukan dikarenakan oleh perusahaan melainkan oleh masyarakat yang masih belum peduli akan kelestarian lingkungan. Banyaknya masyarakat yang membuang sampah di sungai kalipepe karena berada dibelakang rumah yang tidak terlihat oleh orang lain. Muncul mainset masyarakat mengenai sungai sebagai “mburi omah” yang mana masyarakat menggap sungai sebagai tempat kotor membuang sampah.
Apropriasi Budaya Suku Banjar dalam Gaya Kepemimpinan Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor Toto Fachrudin
Biokultur Vol. 10 No. 2 (2021): Actors' Role in Their Societies
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bk.v10i2.31685

Abstract

Fenomena penggunaan simbol etnik sebagai identitas budaya menjadi cara yang efektif untuk memengaruhi publik dalam mencapai tujuan politik, menarik untuk dikaji lebih mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana cara Sahbirin Noor menampilkan dirinya dengan menggunakan identitas diri sebagai Paman Birin. Teori apropriasi budaya digunakan untuk melihat bagaimana identitas budaya diadaptasi dalam kepemimpinan kepala daerah. Penggunaan simbol etnik dan identitas budaya, termasuk di dalamnya bagaimana cara berbicara, bersikap, dan bertindak, dalam gaya kepemimpinan kepala daerah menjadi kajian penelitian ini. Metode penelitian ini kualitatif, dengan menggunakan metode studi kasus terhadap kepemimpinan Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor.  Data dalam penelitian ini didapatkan dengan melakukan observasi keseharian Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor. Wawancara mendalam kepada warga masyarakat, aparat, budayawan, tokoh masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa panggilan Paman Birin yang melekat pada dirinya menjadi identitas budaya, karena mencitrakan dirinya sebagai bagian dari kekerabatan kultural dengan seluruh warga Kalimantan Selatan yang bersuku Banjar. Paman Birin menjadi identitas simbolik diri dan identitas budaya yang diadaptasi dari nilai-nilai budaya Suku Banjar dalam kepemimpinan Gubernur Kalsel Sahbirin Noor. Apropriasi budaya Banjar ini terlihat dari cara berkomunikasi, gaya bicara, sikap, maupun penggunaan atribut pakaian Gubernur Kalsel Sahbirin Noor.
Makna Tradisi Mepe Kasur Merah Hitam Pada Suku Bangsa Osing Arga Diena Prabasari
Biokultur Vol. 10 No. 2 (2021): Actors' Role in Their Societies
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bk.v10i2.31715

Abstract

Tradisi merupakan salah satu bagian dari suatu suku, tradisi dapat menjadi ciri khas dari suku tersebut. Tradisi Mepe kasur yang hanya ada di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi. Suku Bangsa Osing di Kemiren percaya jika seorang ibu tidak memberikan kasur merah hitam kepada anak gadisnya yang akan menikah maka rumah tangganya akan kurang langgeng. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan cara pengumpulan data dengan observasi, wawancara, studi literatur, dan dokumentasi, serta dengan interpretatif budaya Clifford Geertz. Informan yang diwawancarai dalam penelitian ini berjumlah 11 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 5 makna dalam tradisi mepe/menjemur kasur merah hitam secara bersamaan, yaitu 1) warna merah melambangkan keberanian, 2) warna hitam sebagai simbol dari kelanggengan, 3) Kasur dengan jumlah gembil sebagai simbol sebagai status sosial pemiliknya, 4) koin sen pada kasur sebagai simbol dalam keberanian mencari nafkah, 5) kasur yang dijemur bermakna membersihkan hal-hal negatif dalam rumah.
Konsep Guru Sejati dan Harmonisasi Kehidupan Dalam Legenda Masyarakat Dukuh Wonomulyo Yunita Furinawati
Biokultur Vol. 10 No. 2 (2021): Actors' Role in Their Societies
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bk.v10i2.31713

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana masyarakat Wonomulyo mengakui posisi guru sebagai perantara antara jagat besar dan jagat kecil. Fenomena cerita tentang asal mula suatu wilayah adalah permasalahan yang menarik untuk dikaji lebih mendalam. Cerita itu dianggap representasi kebudayaan di dalam suatu masyarakat. Sebuah cerita yang masih diyakini memiliki fungsi semacam itu adalah legenda Dukuh Wonomulyo. Cerita ini memiliki struktur yang unik, dimana setiap elemennya mecerminkan tatanan kehidupan masyarakat Wonomulyo. Metode etnografi digunakan dalam studi ini. Data kualitatif diperoleh melalui observasi partisipasi dan wawancara mendalam kepada informan warga masyarakat Wonomulyo serta text. Studi ini menerapkan paradigma strukturalisme melalui teori yang diformulasikan oleh Lévi-Strauss. Hasil studi ini menunjukkan bahwa Ki Hajar Wonokoso merupakan sosok sentral di dalam narasi cerita maupun kehidupan spiritual. Dia adalah guru bagi para keturunannya, yang tidak lain adalah orang-orang Wonomulyo sendiri. Semua ajaran kebajikannya yang diwarisi dan diamalkan oleh para keturunan, memberi mereka keselamatan dan kedamaian hidup serta harmonisasi kehidupan.
Siasat Manipulatif Partai Politik Bimantara Ilham Dewanto
Biokultur Vol. 10 No. 2 (2021): Actors' Role in Their Societies
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bk.v10i2.31714

Abstract

Siasat politik partai membentuk sebuah budaya yang mempengaruhi perilaku kader-kader PDIP Kota Surabaya dalam mencapai tujuan politiknya. Focus studi ini pada fenomena siasat manipulatif partai politik dalam praktik politik mikro untuk mendapatkan elektabilitas di Kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode etnografi. Wawancara mendalam digunakan kepada informan dari partai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya kaderisasi partai dimulai dari sosialisasi rekrutmen anggota, ketentuan anggota baru, tingkatan dan fungsi bidang kaderisasi, jenjang kaderisasi partai, penanaman ideologi partai, dan mekanisme pemilihan kader menjadi calon partai. Dinamika yang dialami kader partai politik adalah adanya perebutan kekuasaan internal partai, kurangnya pengetahuan ilmu politik, dan harapan masyarakat yang terlampau tinggi terhadap kader terpilih. Siasat manipulatif/politik mikro partai politik untuk pemenangan saat mengikuti Pemilihan Anggota Legislatif (DPRD) dan Pemilihan Walikota di Kota Surabaya adalah: 1) Penentuan calon bukan dari kader partai; 2) Kegiatan sosial menjelang pemilu; 3) Memanfaatkan jabatan publik untuk bekerja optimal; 4) Membangun citra partai untuk mengangkat citra kader; dan 5) Melibatkan orang lain untuk mendulang suara.