cover
Contact Name
Yulie Neila Chandra
Contact Email
jurnalbambuti@gmail.com
Phone
+6221-8649059
Journal Mail Official
jurnalbambuti@gmail.com
Editorial Address
Jl. Taman Malaka Selatan, Duren Sawit, Jakarta Timur, Jakarta 13450
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Bambuti: Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
ISSN : -     EISSN : 27972232     DOI : https://doi.org/10.53744/bambuti
Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok is an national journal published by Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok, Fakultas Bahasa dan Budaya, Universitas Darma Persada, Indonesia. It covers all areas of Theoretical Linguistics, Applied Linguistics, Culture, History and Literature. Bambuti aims to serve the interests of a wide range of thoughtful readers and academic scholars of China Studies, as well as politics, social, economic and others interested in the multidisciplinary study of China Studies
Articles 81 Documents
SUB-GENRES MILITARY LITERATURE IN CHINESE LITERATURE Hin Goan Gunawan; AINANI TAJRIYANI HS
Bambuti Vol 3 No 1 (2021): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.575 KB) | DOI: 10.53744/bambuti.v3i1.20

Abstract

Chinese literature has various genres, one of which is Military Literature. The short story entitled Sabuk Tentara Rusia by Ma Xiaoli is a text that tells about the relationship between the Russian Army and the Chinese Army and shows the cultural differences between the two countries. The analysis with the modern semiotic approach used in this study succeeded in mapping the elements of the Military Literature sub-genre in Ma Xiaoli's Sabuk Tentara Rusia in detail and comprehensively, and was able to confirm that the text is part of the Military Literature sub-genre in Chinese literature.
LIVING THE TEMPLE AS EXPRESSION OF CHINESE PHILOSOPHY AND CULTURE Ardian Cangianto
Bambuti Vol 3 No 1 (2021): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.038 KB) | DOI: 10.53744/bambuti.v3i1.21

Abstract

The temple is not always defined as a mere place of worship but also has multiple functions and cannot stand alone without any connection with others. This paper intends to provide an understanding of the temple as a form of expression of Chinese philosophy and culture. When gender becomes a problem in society, temples can also provide a way out, containing many social elements that are forgotten. Competition for the temple to be claimed by religious institutions makes the temple even more ambiguous and confusing. Such actions further alienated the temple from the development of the times and also lost social values ​​that were horizontal
ANALISIS PERBANDINGAN KATA BANTU BILANGAN INDIVIDUAL BAHASA MANDARIN DENGAN KATA BANTU BILANGAN INDIVIDUAL BAHASA INDONESIA Susiyati S; Lina l
Bambuti Vol 3 No 1 (2021): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (856.458 KB) | DOI: 10.53744/bambuti.v3i2.23

Abstract

The number of Chinese noun quantifiers is very rich, and the usage is very complicated. Different nouns have different matching quantifiers. This situation makes Indonesian students prone to errors when learning quantifiers. Therefore, this article tries to compare Chinese individual noun quantifiers with Indonesian corresponding individual noun quantifiers. This article compares and analyzes one-to-one, one-to-many and many-to-one individual noun quantifiers and finds the similarities and differences between Chinese and Indonesian individual noun quantifiers.
MARINE TRANSPORTATION ACROSS INDONESIA AND SINGAPORE IN TRANSNATIONAL CHINA BATAM TRANSPORTASI LAUT INDONESIA- SINGAPURA DALAM JARINGAN TRANSNASIONAL Danny Faturachman; C. Dewi Hartati; Febi Nur Biduri; Hin Goan Gunawan
Bambuti Vol 3 No 1 (2021): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.905 KB) | DOI: 10.53744/bambuti.v3i1.25

Abstract

Batam City, which is part of the Riau Islands province, is a connecting city between Indonesia and Singapore. Batam City is located in a very strategic location in the border region between countries, neighboring one of the world's business centers, namely Singapore. For this reason, marine transportation has a very important role in maritime countries like Indonesia. The high intensity of Batam and Singapore transportation cannot be separated from the Chinese population of Batam which is a community group in the city of Batam. The existence of Batam Chinese has been going on for centuries, since they came from mainland China using boats. With tenacity, social networks and geographical proximity to Singapore, Batam Chinese people become dominant in the economy in Batam. This study seeks to show maritime aspects and shipbuilding technology and their relationship with social society through transnational concepts. With globalization, and to develop networks, people really need sea transportation to support the transnational process. For all that, maritime safety is needed which greatly affects the sustainability development efforts, especially sea transportation activities.
THE FUNCTION CHANGE OF POTEHI PUPPET PERFORMANCE IN CHINESE TRADITION IN JAKARTA Stephany Maria Tahalele
Bambuti Vol 3 No 1 (2021): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.395 KB) | DOI: 10.53744/bambuti.v3i1.26

Abstract

This paper shows the development of wayang potent in Jakarta, changes in its function, the causes of changes in the function of wayang potent performances in Jakarta, and the impact of changes in the function of wayang potent performances for Chinese culture and society. In this writing, the research used is a qualitative method based on literature study, observation, and interviews. Based on this paper, it can be concluded that the wayang’s potent performance in its development has changed function and its performance has begun to adapt to the local culture. Currently, wayang potehi is not only performed at the temple but has begun to spread to the stage for entertainment outside the temple.
METODE PENGAJARAN AUDIOVISUAL (视听法) DALAM PEMBELAJARAN BAHASA MANDARIN PADA ANAK USIA 4-6 TAHUN. Hareza Wulansari; Febi Nur Biduri
Bambuti Vol 3 No 2 (2021): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.203 KB) | DOI: 10.53744/bambuti.v3i2.19

Abstract

Belajar bahasa asing pada usia dini bisa dimulai saat anak sudah mulai interaktif dan komunikatif dengan orang lain. Di usia 4-6 tahun, anak membutuhkan konsentrasi yang penuh untuk dapat menerima pelajaran dan informasi. Maka dibutuhkan metode pengajaran serta teknik dan cara mengajar yang mudah dipahami oleh anak-anak. Skripsi ini mengenai penggunaan metode pengajaran audiovisual (视听法) dalam pembelajaran Bahasa Mandarin untuk anak usia 4-6 tahun di ECC (Early Childhood Centre) preschool. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan metode pengajaran audiovisual (视听法) dalam pengajaran Bahasa Mandarin untuk anak usia 4-6 tahun . Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif . Data penelitian berupa data yang diperoleh dari wawancara dan angket. Subjek penelitian adalah guru kelas ECC (Early Childhood Centre) preschool. Hasil penelitian menyatakan bahwa metode pengajaran audiovisual sesuai dengan anak usia 4-6 tahun dilihat dari hasil angket dan wawancara. Karena metode ini menyenangkan dan mudah dipahami untuk anak usia tersebut.
Refleksi Pragmatisme Amerika Dan Konsep Yin Yang pada Film The Karate Kid Rusydi Muhammad Yusuf
Bambuti Vol 3 No 2 (2021): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.63 KB) | DOI: 10.53744/bambuti.v3i2.29

Abstract

Film the Karate Kid yang dibintangi oleh Dre Parker dan tuan Han, telah memberikan banyak pelajaran kepada para pemirsanya, secara tidak langsung cerita film ini mengangkat konsep pragmatisme Amerika dan konsep Yin Yang yang ada di negara China. Kedua konsep ini dicoba untuk disatukan meskipun memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Dre Parker sebagai pemeran utama dalam film ini telah berhasil memahami dengan baik konsep Yin Yang dalam budaya China, hal ini bisa terlihat dari bagaimana Dre Parker berlatih bersama tuan Han untuk bisa mempelajari Kung Fu sekaligus mempelajari konsep Yin Yang. Konsep Ying Yang yang diajarkan kepada Dre Parker adalah melalui pelatihan mengambil jaket dengan cara berulang-ulang, di sini jelas bahwa tuan Han ingin mengajarkan kepad Dre parker tentang konsep alam semesta yang penuh engan ketengangan, cinta, disiplin, toleransi dan harmoni serta keseimbangan, semua itu dapat dipelajari melalui alam semesta. Pada tahap selanjutnya konsep pragmatisme the tough minded soul dicoba disatukan oleh tuan Han, dengan mengajak Dre Parker ke gunung Wudang untuk berlatih kung fu. Di sinilah Dre Parker belajar konsep Yin Yang dengan baik, sehingga Dre Parker bisa belajar Kungfu dengan cepat, bisa mengambil keputusan dengan tepat pada saat dia mengalami tekanan dari lawannya. Penelitian ini mempergunakan metode kualitaitf dengan mencoba mengekplorasi konsep pragmatism Amerika dan konsep Yin Yang China. Pada akhirnya bahwa setiap bangsa memiliki konsep dan pandangan hidup mereka sendiri-sendiri yang hrus dihormati dan dihargai oleh bangsa lainnya.
ANALISIS KEBUTUHAN PEMBELAJARAN MANDARIN DASAR DI SMPN 163 JAKARTA Elyana Elyana
Bambuti Vol 3 No 2 (2021): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.421 KB) | DOI: 10.53744/bambuti.v3i2.31

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan pembelajaran bahasa Mandarin dasar yang telah dilakuan di SMPN 163 Jakarta, sebagai rujukan untuk perlu tidaknya melakukan kegitan ini secara berlanjut serta untuk pengembangan materi dan pembuatan silabus. Dalam penelitian ini mengidentifikasikan kendala dalam mempelajari bahasa mandarin setelah mengikuti pembelajaran bahasa mandarin, manfaat mempelajari mandarin, keberlanjutan program pelatihan bahasa Mandarin dasar, serta kebutuhan mempelajari bahasa Mandarin dasar berdasarkan empat keahlian dasar berbahasa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan pendekatan kuantitatif. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 15 responden yang berasal dari murid SMPN 163, gurur serta orang tua Murid. Dari Analisis data kuesioner menyatakan bahwa mereka tertarik untuk mempelajari bahasa Mandarin dengan menambah jam kegiatan dan mengganti tema materi karena mereka sudah cukup paham dengan tema materi yang diberikan saat ini dengan jumlah persentasi 53.3%. dalam hal pengenalan dan penulisan Hanzi mereka mengalami kesulitan dengan jumlah persentase 93.3% peserta merasa sulit dalam ham mempelakari Hanzi. Hasil analisis kebutuhan pembelajaran bahasa Mandarin dasar menyimpulkan bahwa mahasiswa membutuhkan bahasa Mandarin untuk memahami percakapan dan kosakata sederhana.
The Comparative Language Style at SOT and SOT’s Subtitle on Soft News DAAI Mandarin and Metro Xinwen Dwi Adyla; Vivi Adryani Nasution, S.S., MTCSOL
Bambuti Vol 3 No 2 (2021): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.011 KB) | DOI: 10.53744/bambuti.v3i2.32

Abstract

Nowadays, language style has entered a wider scope, included electronic journalism and also television news broadcast. This paper described and used language style according to Huang and friends (2012). This paper will discussed about the comparison of language style at soundbite on tape (SOT) and SOT’s subtitle on both soft news videos, is: DAAI Mandarin and Metro Xinwen. This paper’s goals is to find out the type of language style that contained in SOT and SOT’s subtitle on soft news DAAI Mandarin and Metro Xinwen. Data source using soft news video of television news broadcast. Research method used descriptive qualitative with observed data collection methods and note taking techniques for the data collection. The result of data analysis used three steps, is: data condensation, data presenting, and drawing conclusions. The results of data analysis are presented in the form of narrative explanation.
Tionghoa Dungkek dan Pulau Sapudi (Pulau Madura) dan Makna Kubur Berbentuk Perahu Ardian Cangianto
Bambuti Vol 3 No 2 (2021): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1400.091 KB) | DOI: 10.53744/bambuti.v3i2.33

Abstract

Kedatangan masyarakat Tionghoa ke Nusantara sudah berlangsung selama ribuan tahun lamanya dan hubungan antara Tiongkok dengan kerajaan-kerajaan Nusantara dicatat pertama kali dalam “Kronik Han”. Dengan adanya catatan itu menunjukkan berlangsungnya arus migrasi baik dari Nusantara maupun dari Tiongkok. Dalam perjalanan sejarah arus migrasi dari Tiongkok dan menetapnya mereka di Nusantara, tentunya terjadi asimilasi alamiah dan akulturasi orang-orang Tionghoa yang menyimpan harapan dan keinginan dari kaum imigran Tiongkok yang menetap tersebut. Hal itu dapat kita lihat dalam ornament kelenteng maupun kuburan orang Tionghoa, dalam paper ini akan diuraikan bentuk kuburan kaum Tionghoa di Dungkek dan pulau Sapudi yang amat unik dari bentuknya berupa perahu mengandung unsur pengharapan diterima secara utuh oleh masyarakat tempat mereka tinggal dengan tidak melupakan asal mereka. Dari pengamatan terlihat adanya perubahan bentuk kuburan dari yang berornamen Tionghoa menjadi bentuk perahu dan kemudian ornament dan bentuk kuburan Tionghoa yang tidak berbentuk perahu lagi. Dari bentuk kuburan itu dapat disimpulkan bahwa ada empat bentuk kuburan dan juga mewakili tiga masa walau tidak secara sepenuhnya dapat dikatakan harus seperti itu, dan bentuk perubahan dari yang bergaya Tiongkok maupun bergaya ‘modern’ atau makam bernuansa ‘Islam’, dapat menunjukkan kepercayaan mereka, tapi dari pengamatan makam berbentuk ‘perahu’ itu dapat dilihat bahwa ternyata hal itu tidak berlaku berdasarkan kepercayaan. Bentuk kuburan seperti ‘perahu’ yang merapat itu bisa melambangkan pengharapan akan ketenangan dan penerimaan, juga asal muasal mereka adalah perantau melewati lautan dan mendarat di tanah yang baru.