cover
Contact Name
JOKO SANTOSO
Contact Email
ps.johnsantoso@gmail.com
Phone
+6287836107190
Journal Mail Official
jurnalberitahidup@gmail.com
Editorial Address
Jl. Solo-Kalioso KM.7.Solo
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0
ISSN : 26564904     EISSN : 26545691     DOI : https://doi.org/10.38189/jtbh.v4i1.181
Core Subject : Religion,
Focus & Scope Jurnal Teologi Berita Hidup adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Kepemimpinan Kristen Pendidikan Agama Kristen
Articles 293 Documents
Konsep Keluhuran Seorang Imam Menurut John Chrysostom Seniman Gulo; Hendi Hendi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.64

Abstract

The nobility of the priest is to be Christ's sole representative on earth and to mediate between God and men. The nobility of a priest is not just an office or an ordinary position, but the priest is a noble job that people do not have. Through literature research from John Chrysostom there are two important points in the nobility of the priest. First, what is the nobility of the priest, Second, discuss the role of the pastor in the spirituality of the congregation. The nobility of the priest ultimately leads man to experience or unite with the Triune God.Keluhuran imam adalah menjadi wakil Kristus satu-satunya di bumi dan menjadi pengantara Allah dan manusia. Keluhuran seorang imam bukan hanya jabatan atau kedudukan yang biasa-biasa saja namun imam adalah suatu pekerjaan yang mulia yang orang tidak miliki. Melalui penelitian literatur dari John Chrysostom ada dua pokok penting dalam keluhuran imam. Pertama, apa itu keluhuran imam, Kedua, mendiskusikan peranan gembala dalam kerohanian jemaat. Keluhuran imam pada akhirnya membawa manusia untuk mengalami atau menyatu dengan Allah Tritunggal.
Pedoman Etika Praktis Pelayanan Jemaat Berdasarkan 1 Petrus 5 : 1 – 4 Aldrin Purnomo; David Martinus Gulo; Gersom Situmorang; Jontro Simanjuntak
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.134

Abstract

Manajemen merupakan aspek penting di dalam melakukan pelayanan jemaat. Sistem manajemen yang baik, bersih dan memiliki batasan-batasan wewenang yang jelas akan berpengaruh terhadap perkembangan jemaat. Dalam kenyataannya masih banyak ditemukan pola manajemen pelayanan yang buruk dan berakibat kepada hancurnya pelayanan jemaat dan tidak sedikit yang berakhir pada kisah tragis dari sang pelayan. Penyalahgunaan wewenang dan perlakukan moral yang tidak sesuai dengan ajaran yang terdapat di dalam Alkitab justru menjadi penyebab runtuhnya sebuah bangunan pelayanan jemaat. Untuk itu diperlukan sebuah  pedoman etika di dalam pelayanan jemaat sangat diperlukan untuk mengantisipasi segala bentuk kesewenang-wenangan yang terjadi di dalam pelayanan jemaat. Penelitian ini memberikan sebuah pedoman praktis bagi setiap jemaat untuk membuat sebuah dokumen etika yang harus ditaati oleh seluruh pemangku kebijakan dan pelaksana dalam sebuah pelayanan jemaat. Pedoman yang didasarkan kepada eksegesis teks 1 Petrus 5:1-4 dengan melakukan studi silang dengan beberapa dokumen pedoman etika dan kepatuhan yang dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan berkelas dunia. Dengan melakukan studi literatur dan focus group discussion, terbentuklah sebuah pedoman praktis yang dapat dijadikan acuan bagi jemaat untuk melakukan manajemen pelayanan jemaat yang bersih, sopan dan berkeadilan.
Penerapan Prinsip Pemuridan Elia dalam Pendidikan Agama Kristen Soeliasih Soeliasih
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 2, No 1 (2019): September 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v2i1.23

Abstract

Elijah was one of the prophets of the nation of Israel who experienced the terrible use of God. Through his ministry, the Israelites experienced a great revival. The success of Elijah's ministry did not reach himself, but he had duplicated it to his student named Elisha, even Elisha became a greater prophet than Elijah. The success of discipleship Elijah the prophet needs to be an example for God's servants today in carrying out Christian religious education. This study seeks to find the principles of discipleship Elijah the prophet to apply to discipleship in the present. As a result of this research, it was found several qualifications of religious educators in Elijah, including aspects of spirituality, mentality, personality, and managerial. Abstrak: Elia adalah salah satu nabi bangsa Israel yang mengalami pemakaian Allah secara dahsyat. Melalui pelayanannya bangsa Israel mengalami kebangunan rohani yang besar. Keberhasilan pelayanan Elia tidak sampai pada dirinya sendiri, namun ia telah menduplikasikannya kepada muridnya yang bernama Elisa, bahkan Elisa menjadi nabi yang lebih hebat daripada Elia. Keberhasilan pemuridan nabi Elia perlu menjadi contoh bagi hamba-hamba Tuhan pada masa sekarang dalam menjalankan pendidikan agama Kristen. Penelitian ini berusaha menemukan prinsip-prinsip pemuridan nabi Elia untuk dapat diterapkan bagi pemuridan pada masa sekarang. Sebagai hasil dari penelitian ini ditemukan beberapa kualifikasi pendidik agama dalam diri Elia, meliputi aspek spiritualitas, mentalitas, personalitas, dan manajerial.  
Konsep Imam dan Jabatan Imam pada Masa Intertestamental Paulus Kunto Baskoro
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 1 (2020): September 2020 (Studi Intertestamental)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i1.50

Abstract

ABSTRACTThe intertestamental period is a Protestant term, while the deuterocanonical period is a Catholic and Orthodox Christian term to refer to the time gap between the period covered by the Hebrew Bible or "Old Testament" and the period covered by the Christian "New Testament". Traditionally, this period is thought to cover about four hundred years, from the time of Malachi's ministry (420 BC) to the advent of John the Baptist in the early 1st century AD, a period that is almost the same as the Second Temple period (530 BC to 70 M). It is known by members of the Protestant community as "400 Silent Years" (400 Silent Years) because it is believed to be a time period in which God did not reveal anything new to His people.However, it is undeniable that in the intertestamental times there are many parts of history that are sometimes questioned and are being sought for truth. Because after all, even though 400 years of God's silence did not speak to humans, the world's history continues. Although the context is mostly in the form of ruling kingdoms. And religious history also continues, with a tradition built. Among them about the journey of the concept of the priesthood in tradition in Israel as the concept of worship for the Jews. The question which is still being debated and becoming a conversation is First, what are the duties and responsibilities of the high priest during the intertestamental period? Second, are priesthood rules in the Torah still enforced during the intertestamental period, or are there changes and adjustments?Through this paper, the author will give a little understanding of what happened during the intertestamental period in connection with the priestly ministry in Israel. ABSTRAKPeriode intertestamental (bahasa Inggris: Intertestamental period) merupakan suatu istilah Protestan, sedangkan periode deuterokanonikal (bahasa Inggris: deuterocanonical period) adalah istilah Katolik dan Kristen Ortodoks untuk menyebut kesenjangan waktu antara periode yang dicakup oleh Alkitab Ibrani atau "Perjanjian Lama" dan periode yang dicakup oleh "Perjanjian Baru" orang Kristen. Secara tradisional, periode ini dianggap mencakup kira-kira empat ratus tahun, sejak masa pelayanan Maleakhi (420 SM) sampai kepada munculnya Yohanes Pembaptis pada awal abad ke-1 Masehi, suatu periode yang hampir sama dengan periode Bait Suci Kedua (530 SM hingga 70 M). Dikenal oleh anggota komunitas Protestan sebagai "400 Tahun Sunyi" (400 Silent Years) karena diyakini merupakan kurun waktu di mana Allah tidak menyatakan apa-apa yang baru kepada umat-Nya.Namun tidak bisa dipungkiri bahwa dimasa-masa intertestamental banyak sekali bagian-bagian sejarah yang terkadang banyak yang dipertanyakan dan sedang dicari kebenarannya. Sebab bagaimanapun juga meskipun 400 tahun masa Allah diam tidak berbicara kepada manusia, manusia sejarah dunia tetap berjalan. Meskipun konteksnya banyak berupa kerajaan-kerajaan yang berkuasa. Dan sejarah keagamaan juga tetap berjalan, dengan sebuah tradisi-tradisi yang dibangun. Diantaranya tentang pejalanan konsep keimaman dalam tradisi di Israel sebagai konsep penyembahan bagi orang-orang Yahudi. Pertanyaan yang masih menjadi perdebatan dan menjadi perbincangan adalah Pertama, bagaimanakah tugas dan tanggung jawab imam besar pada masa intertestamental?  Kedua, apakah aturan keimaman dalam Taurat tetap ditegakkan pada masa intertestamental, ataukah ada perubahan dan penyesuaian?Lewat makalah ini, penulis akan sedikit memberikan pemahaman tentang apa yang terjadi di masa intertestamental sehubungan dengan perjalanan pelayanan keimaman di Israel.
Implementasi Manajemen Sumber Daya Manusia Berdasarkan Kitab Nehemia Pasal 1-13 Di Kalangan Gembala Sidang Joko Sembodo; Yusak Sigit Prabowo
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.101

Abstract

Human resource management is a tremendous force that can be extracted and developed for church growth, both in quality and quantity. This research was conducted to determine the tendency of human resource management implementation and the most dominant dimension based on the book of Nehemia chapter 1-13 among pastors of the Gereja Bethel Injil Sepenuh (Full Gospel Bethel Church) in Surakarta. This research uses quantitative research methods with data analysis obtained from the study of the book of Nehemiah chapter 1-13 and other literature sources, carried out by measuring the application of the theory that has been obtained in the field by collecting data that is processed descriptively quantitatively. Data were obtained from 50 respondents, namely pastors from the Gereja Bethel Injil Sepenuh in Surakarta. The results obtained are the tendency of implementing human resource management based on the book of Nehemiah chapter 1-13 among the pastors of the Gereja Bethel Injil Sepenuh in Surakarta on moderate criteria. The dominant dimension in the implementation of human resource management based on the book of Nehemiah chapters 1-13 among pastors of the Gereja Bethel Injil Sepenuh in Surakarta is human resource management planning.Manajemen sumber daya manusia merupakan kekuatan yang luar biasa  yang bisa digali dan dikembangkan bagi pertumbuhan gereja, baik itu secara kualitas maupun secara kuantitas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kecenderungan implementasi manajemen sumber daya manusia dan dimensi yang paling dominan berdasarkan kitab Nehemia pasal 1-13 di kalangan gembala sidang Gereja Bethel Injil Sepenuh Se-Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan analisis data yang diperoleh dari studi Alkitab Nehemia pasal 1-13 dan sumber literatur pustaka lainnya, dilakukan dengan mengukur penerapan teori yang sudah diperoleh tersebut di lapangan dengan mengumpulkan data yang diolah secara deskriptif kuantitatif. Data diperoleh dari 50 responden, yaitu gembala sidang yang berasal dari Gereja Bethel Injil Sepenuh se-Surakarta. Adapun hasil yang didapat adalah kecenderungan implementasi manajemen sumber daya manusia berdasarkan kitab Nehemia pasal 1-13 di kalangan gembala sidang Gereja Bethel Injil Sepenuh Se-Surakarta pada kriteria sedang. Dimensi  yang dominan dalam implementasi manajemen sumber daya manusia berdasarkan kitab Nehemia pasal 1-13 di kalangan gembala sidang Gereja Bethel Injil Sepenuh se-Surakarta adalah perencanaan manajemen sumber daya manusia.
Pembelajaran Daring: Harmonisasi Teknologi Dan Pendidikan Karakter Kristen Anak Jean Evelyn Ilela
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.189

Abstract

The Covid-19 pandemic has created a new habitus for all aspects of life, including education. In accordance with the circular given from the Minister for the entire learning process to be carried out online. This is because the impact of this pandemic is not only experienced by one or two countries but the whole world, including Indonesia. Online learning is not a new method applied in the world of education. Online learning is one way of distance learning that aims to transfer knowledge by utilizing electronic communication networks. Distance learning constraints need a breakthrough because many regions experience technological limitations, weak networks, and limited internet quotas. Proficiency in using technology must also be done intelligently. Good character must also run in harmony with technological developments so that children are able to become good people in character and smart in technology. Technology will continue to develop and Christian character education will continue to be built. Teachers, parents, and children must synergize well so that the implementation of online learning can run well. Not only knowledge is transferred, but spiritual strengthening must be done so that the formation of Christian character can have an impact on children as students. Rapid technological developments also require these three components to be able to adapt and utilize them intelligently.                                                            Abstrak Kondisi pandemi Covid-19 membuat suatu habitus baru ke semua aspek kehidupan tak terkecuali dunia pendidikan. Sesuai surat edaran yang diberikan dari Menteri untuk seluruh proses pembelajaran dilakukan secara daring. Hal ini dikarenakan dampak yang ditimbulkan dari pandemi ini bukan hanya dialami oleh satu atau dua negara namun seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia. Pembelajaran daring bukanlah suatu metode baru yang diterapkan dalam dunia pendidikan. Pembelajaran daring yang dilakukan merupakan salah satu cara pembelajaran jarak jauh yang bertujuan mentransfer ilmu pengetahuan dengan memanfaatkan jaringan komunikasi elektronik. Kendala pembelajaran jarak jauh perlu terobosan karena banyak daerah mengalami keterbatasan teknologi, lemahnya jaringan, dan kuota internet yang terbatas. Kecakapan menggunakan teknologi juga harus dilakukan secara cerdas. Karakter yang baik juga harus berjalan secara harmonis dengan perkembangan teknologi agar anak mampu menjadi pribadi yang baik secara karakter dan cerdas dalam berteknologi. Teknologi akan terus berkembang dan pendidikan karakter Kristen tetap terbangun. Guru, Orangtua, dan anak harus bersinergi dengan baik agar pelaksanaan pembelajaran daring dapat berjalan dengan baik. Bukan hanya ilmu pengetahuan yang ditransfer namun penguatan secara spiritual harus dilakukan sehingga pembentukan karakter kristen dapat berdampak bagi anak sebagai peserta didik. Perkembangan teknologi yang secara cepat juga mengharuskan ketiga komponen ini mampu beradaptasi dan memanfaatkan secara cerdas. 
Metode Pendekatan Pemberitaan Injil yang Efektif Menurut Injil Matius dan Aplikasinya Bagi Orang Percaya Masa Kini Paulus Kunto Baskoro; Suhadi Suhadi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.191

Abstract

Penginjilan menjadi bagian terpenting dalam kehidupan setiap orang percaya dan ini merupakan pesan amanat agung yang Tuhan Yesus nyatakan dalam Matius 28:19-20. Penginjilan selalu indentik dengan konsep pemberitaan Injil. Pemberitaan Injil seharusnya selalu menjadi gaya hidup setiap orang percaya. Sebab sadar atau tidak sadar pemberitaan Injil menjadi kunci pertumbuhan gereja dan juga penambahan murid Yesus yang diperlengkapi dan memperlengkapi setiap orang percaya. Ketika penginjilan tidak menjadi prioritas, yang terjadi gereja akan terjadi kelambatan dalam pertumbuhan dan pemuridan tidak berjalan secara efektif. Perlu dilakukan metode pendekatan tentang pemberitaan Injil, sehingga memberitakan Injil menjadi hal yang menyenangkan serta menggairahkan bagi setiap orang percaya. Karena beberapa orang percaya beranggapan bahwa pemberitaan Injil hanya tugas kaum misionaris dan terkadang sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Penulisan ini menggunakan metode deskritif literatur. Tujuannya supaya lewat penulisan yaitu Pertama, menyadarkan setiap orang percaya betapa pentingnya esensi pemberitaan Injil bagi orang yang belum percaya Yesus. Kedua, orang percaya memiliki metode yang terbaik dalam pemberitaan Injil, sehingga pemberitaan Injil menjadi hal yang menyenangkan. Ketiga, banyak jiwa yang dimenangkan dan siap untuk dimuridkan. 
Implementasi Kecerdasan Digital (Digital Quotient) Dalam Pelayanan Pendidikan Agama Kristen Monica Santosa
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.196

Abstract

Penulisan ini termotivasi karena kenyataan bahwa di era digital saat ini jemaat Tuhan tidak semua siap untuk menerima perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak orang menggunakan perangkat digital, tetapi tidak semua orang menggunakannya dengan benar. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya tidak menjadi masalah, tetapi mendukung perluasan Injil untuk diberitakan ke ujung dunia. Karena itu, setiap pengguna perangkat digital, terutama anak Tuhan, harus bijak dalam menggunakannya. Dalam pendidikan, setiap pendidik dan siswa harus memiliki kecerdasan digital yang baik. dalam tulisan ini, kita akan membahas implementasi kecerdasan digital dalam pelayanan pendidikan Kristen. Penelitian ini menggunakan metode penelitian campuran yaitu kuantitatf dan kualititaf. Adapun alat ukur yang bisa digunakan untuk melihat skor kecerdasan digital yang nantinya dapat digunakan pendidik maupun siswa dalam proses pelayanan pendidikan agama kristen pada era digital.
Integritas dan Moralitas sebagai Pesan dari Teguran Nabi Amos untuk Melestarikan Keadilan Timotius Avent Jordan; Gernaida Krisna R. Pakpahan
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.227

Abstract

Justice is something that cannot be removed in life. There is a reason that justice can fade, even at the court, it’s because of integrity is not maintained. The problem of today's injustice in the field of law is not something new, even in the Bible this problem exists. The prophet Amos' rebuke to the Northern Kingdom of Israel because of injustice. Based on that message, the writer takes the essence that can be applied to this mature life. The author uses a literature study research method, because it is in accordance with the need to get the essence of the writings of the prophet Amos. Based on the research, it was found that justice can be maintained with integrity and morality in each individual. Keadilan merupakan sesuatu yang tak boleh dihilangkan dalam kehidupan. Ada penyebabnya keadilan itu bisa luntur, bahkan di meja hijau sekalipun, seperti integritas yang tak dijaga. Persoalan hari-hari ini tentang ketidakadilan dalam bidang hukum bukanlah sesuatu yang baru, dalam Alkitab pun persoalan ini ada. Teguran nabi Amos pada Kerajaan Israel Utara memberikan gambaran mengenai ketidakadilan tersebut. Berdasarkan pesan itulah penulis mengambil intisari yang dapat diterapkan untuk kehidupan masak ini. Penulis menggunakan metode penelitian studi literatur, karena sesuai dengan kebutuhan untuk mendapatkan intisari dari tulisan nabi Amos. Berdasarkan penelitian, hasilnya didapati bahwa keadilan itu bisa terjaga dengan integritas dan moralitas dalam diri masing-masing pribadi.
Memahami Konsep Menyangkal Diri, Memikul Salib dan Mengikut Yesus: Sebuah Analisis Biblikal Lukas 9:23-26 Danny Yonathan
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 1, No 2 (2019): Maret 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v1i2.14

Abstract

From every generation, believers receive instruction that aims to strengthen faith and educate believers to become militant disciples of Christ, and have readiness to serve God in accordance with the true concept of Christian thought. Thus believers must dare to deny themselves, and carry the cross every day and follow Jesus Christ who is the Lord and Savior. This article had purpose to give the understanding biblically the concept of self-denying, carrying cross and following Jesus according to the text of Luke 9:23-26. AbstrakDari setiap generasi, orang percaya menerima pengajaran yang bertujuan untuk meneguhkan iman serta mendidik  orang-orang percaya untuk menjadi murid Kristus yang militan, serta memiliki kesiapan untuk melayani Tuhan sesuai dengan konsep pemikiran Kristen yang benar. Orang percaya harus mau menyangkal diri, dan memikul salib setiap hari serta mengikut Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman secara biblikal konsep menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus sesuai dengan teks pada Lukas 9:23-26.