cover
Contact Name
JOKO SANTOSO
Contact Email
ps.johnsantoso@gmail.com
Phone
+6287836107190
Journal Mail Official
jurnalberitahidup@gmail.com
Editorial Address
Jl. Solo-Kalioso KM.7.Solo
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0
ISSN : 26564904     EISSN : 26545691     DOI : https://doi.org/10.38189/jtbh.v4i1.181
Core Subject : Religion,
Focus & Scope Jurnal Teologi Berita Hidup adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Kepemimpinan Kristen Pendidikan Agama Kristen
Articles 293 Documents
Ineransi Alkitab sebagai Dasar Kurikulum Pendididikan Kristen Hardi Budiyana
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.92

Abstract

Inerrancy means the Bible is infallible. Because the Bible was revealed by God the Holy Spirit Himself. Even though the researcher is a sinner; however, the initiator is a God who cannot do wrong. The Holy Spirit uses all the individual potentials (shortcomings and strengths) of the Bible writers and is completely under the leadership and control of the Holy Spirit, so that what the authors of the books of the Bible write do not come from the author, but from God concerning the Word of God himself. A Christian can accept this inerrant biblical quality, so he must also accept other biblical qualities. This study uses a descriptive qualitative method regarding the Christian education curriculum that must be based on the inerrancy of the Bible. Biblical inerrancy emphasizes that the Bible is the Word of God, the Bible was written without errors because the idea of writing came from God. The curriculum is structured based on the inerrancy of the Bible with the aim of Christian education so that learners know God's work of salvation in and through the Lord Jesus alone, so that they believe that Jesus is God, so that those who believe have eternal life and their lives are changed by the Holy Spirit through the power of the Bible. The power of the Bible is because the Bible is the Word of God. Nothing can survive under the sovereignty of God's written Word, which is the Bible. Therefore, the Christian religious education curriculum is built based on the Bible in order to achieve its goals.Ineransi berarti Alkitab tidak mungkin salah. Karena Alkitab diwahyukan oleh Allah Roh Kudus sendiri. Walau penelitinya adalah orang berdosa; namun, inisiatornya adalah Allah yang tidak mungkin berbuat salah. Roh Kudus menggunakan semua potensi individual (kekurangan dan kelebihan) penulis Alkitab dan secara utuh berada dalam pimpinan dan kontrol Roh Kudus, sehingga yang ditulis oleh penulis kitab dalam Alkitab bukanlah berasal dari penulis, melainkan dari Allah mengenai Firman Allah sendiri. Orang Kristen dapat menerima sifat Alkitab yang ineransi ini, maka ia pasti juga menerima sifat-sifat Alkitab yang lain. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif mengenai kurikulum pendidikan  Kristen harus didasarkan pada ineransi Alkitab.  Ineransi Alkitab menekankan Alkitab adalah Firman Tuhan, Alkitab ditulis tanpa ada kesalahan karena ide dari tulisan berasal dari Allah. Kurikulum disusun berdasar pada ineransi Alkitab dengan tujuan Pendidikan Kristen agar pembelajar mengenal karya keselamatan Allah di dalam dan melalui Tuhan Yesus saja, supaya percaya bahwa Yesuslah Allah, sehingga yang percaya beroleh hidup yang kekal dan hidupnya diubah oleh Roh Kudus melalui kuasa Alkitab. Kuasa Alkitab adalah karena Alkitab adalah Firman Allah. Tidak ada yang dapat bertahan di bawah kedaulatan Firman Tuhan yang tertulis, yaitu Alkitab. Karena itu kurikulum pendidikan Agama Kristen dibangun berdasarkan Alkitab agar mencapai tujuan.
Aplikasi Prinsip Mazmur 2:11-12 dalam Peribadahan Kristen Wisnu Prabowo
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 2, No 2 (2020): Maret 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v2i2.34

Abstract

Abstract: Worship and service are things that are very well known to Christians. In conducting worship and service there are several things that should be used as a basis for guidance. In Psalm 2: 11-12, written instructions for Christians in worship. This article examines the meaning of the sentence in Psalm 2: 11-12, which is, "Serve the Lord with fear, and rejoice with trembling. Kiss the Son, lest he be angry. And ye perish from the way, when his wrath is kindled but a little. Blessed are all they that put their trust in him. " This study is a qualitative study using descriptive methods of literature and text analysis. The study results obtained are: First, worship must be performed with an attitude of fear and respect for the holiness and glory of God. Worship must also be performed with joy, but the attitude of that joy must also be done with fear and respect for the holiness and glory of God. Second, happiness will be found for every Christian who takes refuge in God. Christians take refuge in God as proof that they believe and surrender completely to God.Abstrak: Ibadah dan melayani adalah hal yang sangat dikenal oleh orang Kristen. Di dalam melakukan ibadah dan pelayanan tersebut ada beberapa hal yang harus dijadikan dasar panduan. Di dalam Mazmur 2:11-12, tertulis tentang petunjuk bagi orang Kristen di dalam melakukan ibadah. Artikel ini mengkaji arti dari kalimat yang ada di dalam Mazmur 2:11-12 tersebut yaitu, “Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!”. Kajian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskriptif literatur dan analisis teks. Hasil kajian yang diperoleh adalah: Pertama,  ibadah harus dilakukan dengan sikap takut dan hormat akan kekudusan dan kemuliaan Tuhan. Ibadah juga harus dilakukan dengan sukacita, tetapi sikap sukacita itupun harus dilakukan dengan rasa takut dan hormat akan kekudusan dan kemuliaan Tuhan. Kedua, kebahagiaan akan di dapatkan bagi setiap orang Kristen yang berlindung kepada Tuhan. Orang Kristen berlindung kepada Tuhan sebagai bukti bahwa mereka percaya dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan.
Yesus Antara Zelot dan Eseni: Konstruksi Teologi Transformatif dalam Konteks Indonesia Sheren Angela; Amos Sukamto; Tri Mulyanti
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.180

Abstract

Theological studies are often seen as normative and a religious teaching that is pure and unchangeable. This view causes theology to often become irrelevant to the context. Therefore, it is very important to increase efforts to construct transformative theology, especially in the Indonesian context, so that theology becomes relevant and able to become an answer to the problems of today's society. The presence of God in Jesus into the world is still mostly portrayed as the task of saving mankind from sin (John 3:16). The social ministry side of Jesus in the effort to transform society has not received enough attention. This article will analyze the path of social transformation that Jesus took by comparing the attitudes of the Zealots and the Essenes in responding to the problems that arise in society. The Zealots in responding to the realities of socio-political problems that occur around them tend to use violence (violence), whereas the Essenes tend to withdraw from the world (ascetic). Jesus is neither like the Zealots nor like the Essenes. Jesus entered into society (Non Ascetic), not using violence (Non Revolution), but through transformation (but through transformation). The method used is Hermeneutics by emphasizing historical, sociological and textual analysis to dissect some parts of Luke's Gospel. Through this article, it is hoped that it can provide alternatives to the construction of transformative theology in the Indonesian context, by imitating the praxis of the ministry of the Lord Jesus.Kajian teologi kerap kali dilihat sebagai suatu hal yang normatif dan merupakan suatu ajaran agama yang bersifat murni dan tidak dapat diubah. Pandangan tersebut mengakibatkan teologi sering menjadi tidak relevan lagi dengan konteks. Oleh karena itu sangat penting untuk memperbanyak usaha konstruksi teologi transformatif khususnya dalam konteks Indonesia, sehingga teologi menjadi relevan dan mampu menjadi jawaban bagi persoalan masyarakat masa kini. Kehadiran Allah dalam diri Yesus ke dalam dunia kebanyakan masih dipotret sebatas tugas penyelamatan manusia dari dosa (Yoh. 3:16). Sisi pelayanan sosial Yesus dalam usaha mentransformasi masyarakat masih belum mendapat perhatian yang cukup. Artikel ini akan menganalisis jalan transformasi sosial yang ditempuh Yesus dengan membandingkan sikap golongan Zelot dan golongan Eseni dalam merespons persoalan-persoalan yang muncul di dalam masyarakat. Golongan Zelot dalam merespons terhadap kenyataan-kenyataan persoalan sosial politik yang terjadi di sekitarnya cenderung dengan cara menggunakan kekerasan (violence), sebaliknya golongan Eseni cenderung menarik diri dari dunia (asketis). Yesus tidak seperti Zelot dan juga tidak seperti Eseni. Yesus masuk ke dalam masyarakat (Non Ascetic), tidak menggunakan kekerasan (Non Revolution), tetapi dengan jalan transformasi (but through transformation). Metode yang digunakan adalah Hermeneutika dengan memberi tekanan pada analisis historis, sosiologis dan analisis teks untuk membedah beberapa bagian Injil Lukas. Melalui artikel ini diharapkan dapat memberikan alternatif-alternatif konstruksi teologi transformatif dalam konteks Indonesia, dengan meneladani praxis pelayanan Tuhan Yesus.
Pembaharuan Pikiran Pengikut Kristus Menurut Roma 12:2 Asih Rachmani Endang Sumiwi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 1, No 1 (2018): September 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v1i1.4

Abstract

The existence of Christians in this world cannot be separated from the community in which they are located. When someone is in the midst of a community with a different way of life, it is very possible for him to be similar to his surroundings. Whereas what God wants from the existence of Christians in the world is that they can become bright, not follow the flow around them. Paul once gave a special message to the Romans so that they would not be like this world but changed by renewal of mind. This study focuses on the study of the phrases ἀνακαινώσει τοῦ νοὸς (anakainosei tou noos) from Romans 12: 2, which literally means renewal of the mind. This study aims to find out what is meant by the renewal of the mind, why it is necessary to renew the mind, how the renewal of the mind occurs, and how it applies to the life of Christianity in the present. With the exegesis method, researchers try to find out the meaning of the phrase either through lexical studies or by paying attention to the background of letter writing. Having found the meaning and relation to the context of the phrase, its application is made for Christian life today. The conclusions of this research are as follows: First, the renewal of the mind in Romans 12: 2 is a renewal of one's awareness of the truth which builds understanding of the true meaning of life. Second, followers of Christ need to experience a renewal of the mind because the mind will play a role in determining its life, namely in creating or setting its standard of living. Third, renewal of the mind is a process that occurs continuously every day through the Word of God which is done by the Holy Spirit, so that by this process Christians will understand the will of God, that is what is good, that is pleasing to God and perfectAbstrakKeberadaan umat Kristen di dunia ini tidak dapat dipisahkan dari lingungan masyarakat di mana mereka berada.  Ketika seseorang berada di tengah masyarakat dengan cara hidup yang berbeda, sangat mungkin baginya untuk menjadi serupa dengan sekitarnya.  Padahal yang dikehendaki Tuhan dari keberadaan umat Kristen di dunia adalah agar mereka bisa menjadi terang, bukan mengikuti arus sekitarnya. Paulus pernah berpesan secara khusus kepada jemaat Roma agar mereka tidak menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubah oleh pembaharuan pikiran.  Penelitian ini memusatkan kajian kada frasa ἀνακαινώσει τοῦ νοὸς  (anakainosei tou noos) dari surat Roma 12:2, yang secara literal berarti pembaharuan pikiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pembaharuan pikiran, mengapa perlu pembaharuan pikiran, bagaimana terjadinya pem­baharuan pikiran, serta bagaimana penerapannya bagi kehidupan kekristenan pada masa sekarang. Dengan metode eksegesis, peneliti mencoba menemukan makna dari frasa tersebut baik melalui studi leksikal maupun dengan memperhatikan latar belakang penulisan surat. Setelah ditemukan makna dan kaitannya dengan konteks dari frasa tersebut, dibuat penerapannya bagi kehidupan kekristen­an sekarang ini. Sebagai kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Pertama, pembaharuan pikiran dalam Roma 12:2 adalah pembaharuan kesadaran sese­orang terhadap kebenaran sehingga terbangun pemahaman akan makna hidup yang benar. Kedua, pengikut Kristus perlu mengalami pembaharuan pikiran karena pikiran akan sangat berperan dalam menentukan kehidupan­nya, yaitu dalam mencipta­kan atau menetapkan standar hidupnya. Ketiga, pembaharuan pikiran adalah proses yang terjadi terus menerus setiap hari melalui Firman Tuhan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga dengan proses ini orang Kristen akan mengerti kehendak Allah yaitu apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan sempurna. 
Menuju Evolusi Ibadah Kristen di Masa Pandemi Covid-19 Fransiskus Irwan Widjaja; Fredik Melkias Boiliu; Didimus SB Prasetya; Haposan Simanjuntak; Vicky BGD Paat
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.87

Abstract

The rapid spread of COVID-19 throughout the world is changing the way everyone lives in socializing; the environment most used for a living has rapidly shrunk into homes. Business, schools, and religious services all move quickly online. No one knows precisely how long these physical and social restrictions will last -or what are the short and long-term impacts on religious life? In standard times, the presence of religious adherents in houses of worship is used by sociologists as a condition of religiosity for every religious devotee. But how can religiosity be measured in a time when people are alone? And in a time when people are not allowed to meet in large groups or even leave their homes.  What will the Religiosity of Religion look like in the future? And how will the coronavirus affect the religious practices of the Nusantara religions? This paper aims to provide a way forward for studying post-pandemic evolutionary religions that are significant in Indonesia. This study uses an evaluation method in a qualitative approach. The exploration into the evolution of human religiosity is often distorted by assumptions made about religion's nature. This review explores developments in the evolution of religion and provides critical evaluations of different theoretical positions. In general, scholars believe that religion is adaptive. In this set of ideas, theologians' evolutionary insight is not a threat but rather an essential clarification of cross-cultural religion's evolution.Penyebaran COVID-19 yang cepat ke seluruh dunia mengubah cara hidup setiap orang dalam bersosialisasi; lingkungan yang paling banyak digunakan untuk hidup telah dengan cepat menyusut menjadi rumah. Bisnis, sekolah, dan layanan keagamaan semuanya bergerak cepat secara online. Tidak ada yang tahu persis berapa lama pembatasan fisik dan sosial ini akan bertahan atau apa dampak jangka pendek dan jangka panjangnya terhadap kehidupan beragama. Pada zaman standar, kehadiran pemeluk agama di rumah ibadah dimanfaatkan para sosiolog sebagai syarat religiusitas setiap pemeluk agama. Tapi bagaimana religiusitas bisa diukur di saat orang sendirian? Dan di saat orang tidak diperbolehkan bertemu dalam kelompok besar atau bahkan meninggalkan rumah. Seperti apa Religiusitas Agama di masa depan? Dan bagaimana virus corona akan mempengaruhi praktik keagamaan agama-agama Nusantara? Makalah ini bertujuan untuk memberikan jalan ke depan untuk mempelajari agama-agama evolusioner pasca-pandemi yang signifikan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dan studi literature. Penjelajahan ke dalam evolusi religiusitas manusia sering kali terdistorsi oleh asumsi-asumsi yang dibuat tentang hakikat agama. Ulasan ini mengeksplorasi perkembangan dalam evolusi agama dan memberikan evaluasi kritis tentang posisi teoritis yang berbeda. Secara umum, para sarjana percaya bahwa agama itu adaptif. Dalam kumpulan gagasan ini, wawasan evolusioner para teolog bukanlah ancaman, melainkan klarifikasi esensial dari evolusi agama lintas budaya.
Konsep Keluhuran Seorang Imam Menurut John Chrysostom Seniman Gulo; Hendi Hendi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.64

Abstract

The nobility of the priest is to be Christ's sole representative on earth and to mediate between God and men. The nobility of a priest is not just an office or an ordinary position, but the priest is a noble job that people do not have. Through literature research from John Chrysostom there are two important points in the nobility of the priest. First, what is the nobility of the priest, Second, discuss the role of the pastor in the spirituality of the congregation. The nobility of the priest ultimately leads man to experience or unite with the Triune God.Keluhuran imam adalah menjadi wakil Kristus satu-satunya di bumi dan menjadi pengantara Allah dan manusia. Keluhuran seorang imam bukan hanya jabatan atau kedudukan yang biasa-biasa saja namun imam adalah suatu pekerjaan yang mulia yang orang tidak miliki. Melalui penelitian literatur dari John Chrysostom ada dua pokok penting dalam keluhuran imam. Pertama, apa itu keluhuran imam, Kedua, mendiskusikan peranan gembala dalam kerohanian jemaat. Keluhuran imam pada akhirnya membawa manusia untuk mengalami atau menyatu dengan Allah Tritunggal.
Potret Pemimpin Kristen Sebagai Sumber Daya Manusia Unggul Menurut Kitab Titus Iksantoro Iksantoro
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 2, No 1 (2019): September 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v2i1.24

Abstract

Theological Seminary as an Indonesian Christian Religious Higher Education Institution has the task of preparing Excellent Christian Leaders, so they can compete on the global stage. The Titus letter is one of the books that offers a image of a Excellent Christian Leader. Understanding and making such Christian leaders can help the government's vision of preparing Excellent Human Resources. The image of a Excellent Christian Leader according to Titus must have certain qualifications are family qualifications (Tit. 1: 6), personality qualifications (Tit. 1: 7), social qualifications (Tit. 1: 8), spiritual qualifications (Tit. 1: 8, 9) and professional qualifications (Tit. 1: 9, 13; 2: 1). AbstrakSekolah Tinggi Teologi sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia mengemban tugas untuk mempersiapkan para pemimpin Kristen yang unggul, sehingga dapat bersaing di kancah global. Surat Titus merupakan salah satu kitab yang menyodorkan potret Pemimpin Kristen yang unggul. Dengan memahami dan mencetak pemimpin Kristen yang demikian, dapat menolong visi pemerintah menyiapkan Sumber Daya Manusia Unggul. Potret pemimpin Kristen yang unggul menurut Titus harus memiliki kualifikasi tertentu, yaitu kualifikasi keluarga (Tit. 1:6), kualifikasi kepribadian (Tit. 1:7), kualifikasi sosial (Tit. 1:8), kualifikasi spiritual (Tit. 1:8, 9) dan kualifikasi professional (Tit. 1:9, 13; 2:1).  
Tren-tren Kultur Hidup Bergereja Pada Era Digital-Pandemi Covid-19 Amos Sukamto
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.168

Abstract

AbstractThe hallmark of the Industrial Revolution 4.0 and Society 5.0 is that the culture of digitization plays a very important role in human life. This culture ushered humans into an era called digitized societies. Everything is digital. The Covid-19 pandemic has accelerated these changes, which of course also have an impact on the culture of church life. By using the survey method, it is found that several trends in church culture today: (1) The church suddenly became a digital church (online, virtual). (2) The presence of church congregations in online worship is still very diligent, especially the Boomers generation. There is a tendency for young people to be less diligent in worship. (3) Congregation participation in online worship is still very good, they are involved in the liturgical flow of worship and respond to the preaching of God's Word. (4) Even though the congregation is still loyal to its church, there is a tendency to become more liquid (liquid church members). They attend online services hosted by other churches. Of course, this culture will become a trend in the future that will color the culture of church life. (5) After the Covid-19 pandemic, the trend in the culture of the church congregation will choose the phygital church, and the onsite church is still a cultural trend that colors the life of the church congregation because Indonesian people are still very attached to the Gemeinschaft type of society. Ciri Revolusi Industri 4.0 dan Masyarakat 5.0 adalah kultur digitalisasi memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan umat manusia. Kultur ini menghantarkan manusia masuk pada sebuah era yang disebut digitized societies. Everything is digital. Pandemi Covid-19 mengakselerasi perubahan-perubahan tersebut yang tentunya berdampak juga pada kultur hidup bergereja. Dengan menggunakan metode survei didapatkan beberapa tren kultur hidup bergereja pada masa kini: (1) Gereja mendadak menjadi gereja digital (online, virtual). (2) Kehadiran jemaat gereja dalam ibadah online masih sangat baik khususnya generasi Boomers. Terdapat kecenderungan usia muda kurang rajin dalam beribadah. (3) Partisipasi jemaat dalam ibadah online masih sangat baik, mereka ikut terlibat alur liturgi ibadah dan memberikan respons pada pemberitaan Firman Tuhan. (4) Meskipun jemaat masih setia pada gerejanya namun ada kecenderungan menjadi lebih cair (liquid church member). Mereka menghadiri ibadah online yang diselenggarakan oleh gereja-gereja lain. Tentunya kultur ini akan menjadi tren ke depan yang akan mewarnai kultur hidup bergereja. (5) Pasca pandemi Covid-19 kecenderungan tren kultur jemaat gereja akan memilih phygital church, dan gereja onsite masih menjadi tren kultur yang mewarnai kehidupan jemaat gereja karena masyarakat Indonesia masih sangat lekat dengan tipe masyarakat Gemeinschaft.
Studi Deskriptif Teologis Pembangunan Bait Suci Orang Samaria di Gunung Gerizim Yonatan Alex Arifianto; Joseph Christ Santo
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 1 (2020): September 2020 (Studi Intertestamental)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i1.61

Abstract

One of the elements of the contention that arose between the Samaritans and the Jews mentioned in John 4 was about the center of worship. The Samaritans recognized the Temple on Mount Gerizim as a center of worship, while the Jews recognized the Temple in Jerusalem. The existence of the Temple on Mount Gerizim is not widely recorded in the Bible. That is why research is needed to describe this Samaritan place of worship which causes conflict between the Samaritan and the Jew. The problem in this research is how the construction of the Temple on Mount Gerizim so that it becomes an element of contention between the Samaritans and the Jews. To answer these questions, the authors used the literature method with a descriptive qualitative approach. The results showed that the temple on Mount Gerizim was not the center of worship that God intended it to be. In New Testament times, what God wanted was for worshipers who were not focused on the temple on Mount Gerizim or in Jerusalem, but worshipers who worshiped God in spirit and in truth.Salah satu unsur pertikaian yang muncul di antara orang Samaria dan orang Yahudi yang disebutkan dalam Yohanes 4 adalah mengenai pusat ibadah. Orang Samaria mengakui Bait Suci di Gunung Gerizim sebagai pusat ibadah, sementara orang Yahudi mengakui Bait Suci di Yerusalem. Keberadaan Bait Suci di Gunung Gerizim tidak banyak dicatat oleh Alkitab. Itu sebabnya dibutuhkan penelitian untuk mendeskripsikan tempat ibadah orang Samaria ini sehingga menimbulkan konflik di antara orang Samaria dan orang Yahudi. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pembangunan Bait Suci di Gunung Gerizim sehingga menjadi salah satu unsur pertikaian antara orang Samaria dan orang Yahudi. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis menggunakan metode pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bait suci di Gunung Gerizim bukanlah pusat ibadah yang dikehendaki Tuhan. Pada masa Perjanjian Baru, yang dikehendaki Tuhan adalah penyembah yang tidak terfokus kepada bait suci di Gunung Gerizim ataupun di Yerusalem, melainkan penyembah yang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran.
Korelasi Antara Efikasi Diri dengan Prokrastinasi Akademik di Kalangan Mahasiswa Hendrik Tuaputimain
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.187

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan efikasi dan prokrastinasi akademik; (2) mengetahui hubungan antara efikasi diri dan prokrastinasi akademik; dan (3) mengukur seberapa besar sumbangsinya terhadap mahasiswa Kota Ambon dalam menyelesaikan tugas akhir. Penelitian ini termasuk penelitian survei dengan tujuan eksplanasi untuk menjelaskan hubungan antar variabel melalui uji hipotesis. Sampel dalam penelitian ini adalah 90 mahasiswa di Kota Ambon. Pengambilan sampel size menggunakan cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan angket. Teknik analisis data menggunakan korelasi product moment, tetapi sebelumnya data diuji normalitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) nilai efikasi diri tergolongdalam kategori tinggi dan prokrastinasi akademik mahasiswa termasuk kategori sedang; (2) ada hubungan negatif yang signifikan antara efikasi diri dan prokrastinasi akademik, dimana nilai r sebesar 0,461 dan nilai p adalah nol; dan (3) sumbangan efektif yang diberikan variabel efikasi diri dengan prokrastinasi akademik ditunjukkan dengan nilai r sebesar 0,461 atau 46,1%. Hal ini berarti masih terdapat 53,9% faktor lain yang mempengaruhi prokrastinasi akademik pada mahasiswa. 

Page 6 of 30 | Total Record : 293