cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 28 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 1 (2026)" : 28 Documents clear
PSIKOEDUKASI REGULASI EMOSI UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PADA SISWA SMK X Anggraeni, Nadya Ferdhita; Sholichah, Ima Fitri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8449

Abstract

Emotional intelligence is a crucial competency for vocational high school students in managing academic demands, social interactions, and preparation for entering the workforce. Preliminary findings indicate that many students experience difficulties in recognizing, understanding, and regulating their emotions adaptively. This program aimed to enhance students’ emotional intelligence through emotion regulation psychoeducation delivered in three structured sessions, including emotional awareness, identification of emotional triggers and calming strategies, and management of negative thoughts and emotional responses. The program was implemented at SMK X and involved 31 eleventh-grade TKR students using an educational and participatory approach through learning modules, self-reflection, group discussions, and emotional skill exercises. Program effectiveness was evaluated using a pre-test and post-test design with an emotional intelligence assessment instrument. The results demonstrated an increase in the mean emotional intelligence score from 92.6 prior to the intervention to 101.8 following the intervention. N-Gain Score analysis revealed that most participants showed low to moderate improvement, while a small proportion achieved high improvement. Overall, emotion regulation psychoeducation positively contributed to students’ ability to recognize emotions, understand emotional triggers, and apply more constructive emotional management strategies. These findings suggest that psychoeducational interventions can serve as a practical preventive approach to fostering emotional intelligence and supporting a more adaptive, positive, and supportive school environment. ABSTRAKKecerdasan emosional merupakan kompetensi esensial bagi peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam menghadapi tuntutan akademik, interaksi sosial, dan kesiapan memasuki dunia kerja. Temuan awal menunjukkan bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam mengenali, memahami, dan mengelola emosi secara adaptif. Program ini bertujuan meningkatkan kecerdasan emosional siswa melalui psikoedukasi regulasi emosi yang disusun dalam tiga sesi bertahap, meliputi pengenalan emosi, identifikasi pemicu serta strategi penenangan diri, dan pengelolaan pikiran serta respons emosional negatif. Kegiatan dilaksanakan di SMK X dengan melibatkan 31 siswa kelas XI TKR menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif melalui modul pembelajaran, refleksi diri, diskusi kelompok, dan latihan keterampilan emosional. Evaluasi efektivitas program dilakukan menggunakan desain pre-test dan post-test dengan instrumen kecerdasan emosional. Hasil menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata kecerdasan emosional dari 92,6 sebelum intervensi menjadi 101,8 setelah intervensi. Analisis N-Gain Score mengindikasikan bahwa sebagian besar peserta mengalami peningkatan pada kategori rendah hingga sedang, sementara sebagian kecil mencapai kategori tinggi. Secara keseluruhan, psikoedukasi regulasi emosi berkontribusi positif dalam meningkatkan kemampuan siswa mengenali emosi, memahami pemicu, serta menerapkan strategi pengelolaan emosi secara lebih konstruktif. Program ini berpotensi menjadi intervensi preventif yang aplikatif untuk mendukung perkembangan sosial-emosional siswa dan menciptakan iklim sekolah yang lebih adaptif dan kondusif.
HUBUNGAN MINDFULNESS IN COMMUNICATION DAN VOICE BEHAVIOR PADA KARYAWAN OPERASIONAL INDUSTRI FOOD & BEVERAGE DI JAKARTA Salvezza, Sheila; Subroto, Untung
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8708

Abstract

ABSTRACT Communication problems that frequently occur in the workplace can be addressed through mindfulness, particularly mindfulness in communication, which refers to an individual’s ability to be fully present, open, and to respond calmly during the communication process. One aspect of workplace behavior related to mindfulness in communication is voice behavior, defined as employees’ tendency to express ideas or suggestions aimed at encouraging organizational improvement or change. This study aimed to examine whether there is a relationship between mindfulness in communication and voice behavior among employees in the Food & Beverage (F&B) industry in Jakarta. This study employed a non-experimental quantitative approach using purposive sampling as the data collection technique. The instruments used were the Mindfulness in Communication Scale and the Voice Behavior Scale. A total of 246 participants were involved, consisting of employees who were currently or had previously worked as operational employees in the F&B industry in Jakarta, worked in team-based F&B companies rather than individual enterprises, and had a minimum of six months of work experience. The results of the analysis indicated that mindfulness in communication had a positive correlation with voice behavior. These results suggest that higher levels of mindfulness in communication are associated with higher levels of voice behavior among operational employees in the F&B industry in Jakarta. Based on these findings, organizations may develop programs focused on enhancing mindfulness in communication and voice behavior to support better communication and increase employee contributions within the organization. ABSTRAK Permasalahan komunikasi yang sering terjadi di tempat kerja dapat diatasi dengan mindfulness, khususnya mindfulness in communication yang merupakan kemampuan individu untuk hadir secara utuh, terbuka, serta merespons dengan tenang dalam proses komunikasi. Salah satu aspek perilaku di tempat kerja yang berkaitan dengan mindfulness in communication adalah voice behavior, yaitu kecenderungan karyawan untuk menyampaikan ide atau masukan yang bertujuan untuk mendorong perubahan atau perbaikan organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara mindfulness in communication dan voice behavior pada karyawan industri Food & Beverage (F&B) di Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan teknik pengambilan data purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Mindfulness in Communication Scale dan Voice Behavior Scale. Partisipan berjumlah 246 karyawan dengan karakteristik sedang atau pernah bekerja sebagai karyawan operasional di industri F&B di Jakarta, bekerja di perusahaan F&B berbasis tim dan bukan usaha perseorangan, serta memiliki pengalaman kerja minimal enam bulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa mindfulness in communication memiliki korelasi positif dengan voice behavior. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa semakin tinggi tingkat mindfulness in communication, maka semakin tinggi pula tingkat voice behavior pada karyawan operasional di industri F&B di Jakarta. Berdasarkan hasil penelitian ini, perusahaan dapat mengembangkan program yang berfokus pada peningkatan mindfulness in communication dan voice behavior untuk mendukung komunikasi yang lebih baik dan meningkatkan kontribusi karyawan dalam organisasi.
HUBUNGAN CODEPENDENCY DENGAN LONELINESS PADA GEN-Z Sanjaya, Selvi; Ninawati, Ninawati
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8969

Abstract

Codependent relationships are patterns in which individuals rely excessively on the needs and approval of others, to the point of neglecting their own personal needs. This condition can contribute to feelings of worthlessness, which in turn increases the risk of loneliness. loneliness is widely experienced by Generation Z, with more than half of its members reported feeling lonely across various social relationship contexts. This study aims to examine the relationship between codependency and loneliness among Generation Z. A quantitative approach with a correlational survey design was used. The participants consisted of 404 Generation Z individuals recruited through online sampling techniques. The instruments used were the Spann-Fischer Codependency Scale and the UCLA loneliness Scale Version 3, both of which had been adapted into Indonesian. Data were analyzed using Pearson’s Product-Moment Correlation. The results showed a significant positive relationship between codependency and loneliness among Generation Z (r = 0.503; p < 0.05). These findings indicate that the higher an individual's level of codependency, the higher their level of loneliness. ABSTRAK Codependent relationship merupakan pola hubungan ketika individu secara berlebihan bergantung pada kebutuhan dan persetujuan orang lain, sehingga mengabaikan kebutuhan personalnya sendiri. Kondisi ini dapat berkontribusi pada munculnya perasaan tidak berharga yang kemudian meningkatkan risiko loneliness. Fenomena loneliness banyak dialami oleh Generasi Z, dengan lebih dari setengah anggotanya dilaporkan merasakan kesepian dalam berbagai konteks hubungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara codependency dengan loneliness pada Generasi Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei korelasional. Partisipan berjumlah 404 orang Generasi Z yang diperoleh melalui teknik sampling daring. Instrumen yang digunakan yaitu Spann-Fischer Codependency Scale dan UCLA loneliness Scale Version 3 yang telah diadaptasi ke bahasa Indonesia. Teknik analisis data yang digunakan adalah Pearson Product-Moment Correlation. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara codependency dengan loneliness pada Generasi Z (r = 0,503; p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat codependency individu, semakin tinggi pula tingkat loneliness yang dialaminya.  
HUBUNGAN REGULASI EMOSI DENGAN STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA DALAM PROSES PENYUSUNAN TUGAS AKHIR Angela, Fiona Ria; Murti, Heru Astikasari Setya
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8970

Abstract

Academic stress is a prevalent issue among university students, with prevalence rates in Indonesian ranging from 36.7% to 71.6%. This study aims to examine the relationship between emotion regulation and academic stress levels among students at Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) during the undergraduate thesis writing process. This study employed a quantitative non-experimental method with a correlational design, involving 200 students recruited via snowball sampling technique. Emotion regulation was measured using the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), while academic stress was measured using the Perception of Academic Stress Scale (PASS). The results indicated a significant but very weak positive relationship between emotion regulation and academic stress (r = 0.178; p = 0.012; R² = 0.032). This suggests that emotion regulation accounts for only 3.2% of the variance in academic stress, implying that other factors play a more dominant role. These findings indicate that in the context of thesis writing, emotion regulation alone is insufficient to serve as an effective stress buffer. Therefore, psychological interventions should not solely focus on emotion regulation but also on reducing the stressors themselves, for instance, through improving supervision quality and enhancing task management processes. ABSTRAK Stres akademik merupakan persoalan umum yang sering dialami oleh mahasiswa, dengan angka prevalensi mencapai 36,7% - 71,6% di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menguji bagaimana hubungan antara regulasi emosi dan tingkat stres akademik pada mahasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dalam proses penyusunan tugas akhir. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional, melibatkan 200 mahasiswa yang dikumpulkan menggunakan teknik snowball sampling. Pengukuran variabel regulasi peneliti menggunakan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) sedangkan stres akademik diukur menggunakan Perception of Academic Stress Scale (PASS). Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan positif yang signifikan, namun sangat lemah antara regulasi emosi dan stres akademik (r = 0,178; p = 0,012; R² = 0,032). Hal tersebut menunjukan bahwa regulasi emosi hanya memberikan sumbangan efektif sebesar 3,2% terhadap tingkat stres akademik, sementara faktor lain memiliki peran yang lebih dominan. Temuan ini mengindikasikan bahwa dalam situasi penyusunan tugas akhir, regulasi emosi semata tidak berpengaruh besar sebagai peredam stres. Oleh karena itu intervensi secara psikologis alangkah lebih baik tidak hanya berfokus pada regulasi emosi, tetapi juga pada pengurangan sumber stresor, misalnya melalui peningkatan pada kualitas bimbingan serta proses manajemen tugas yang lebih baik.    
KONTRIBUSI KEMANDIRIAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR DALAM KESIAPAN KERJA MAHASISWA TINGKAT AKHIR Harto, Ivania Rachel; Sahrani, Riana
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8971

Abstract

The increasing competitiveness of the job market and the high unemployment rate among young adults, including university graduates, require final-year students to develop adequate work readiness before transitioning into the professional world. One important factor in shaping this readiness is the ability to make career decisions, which must be supported by autonomy and responsibility toward chosen career paths. This study employed a quantitative approach with purposive sampling, and the data were analyzed using multiple regression. A total of 301 final-year students from public and private universities participated in the study. The instruments used included the autonomy dimension of the Basic Psychological Need Satisfaction and Frustration Scale (BPNSNF), the Career Decision-Making Difficulties Questionnaire (CDDQ), and the Work Readiness Scale (WRS). The findings indicate that autonomy and career decision-making ability positively contribute to work readiness, accounting for 65.4 percent of the variance. The study also revealed gender differences, where male students demonstrated higher levels of career decision-making ability and work readiness compared to female students. ABSTRAK Persaingan dunia kerja yang semakin ketat serta tingginya tingkat pengangguran pada kelompok usia muda, termasuk lulusan perguruan tinggi, menuntut mahasiswa semester akhir memiliki kesiapan kerja yang optimal sebelum memasuki fase transisi menuju dunia profesional. Salah satu faktor awal yang diperlukan dalam proses kesiapan tersebut adalah kemampuan dalam mengambil keputusan karir. Kemampuan ini perlu dibangun melalui sikap mandiri dan tanggung jawab terhadap pilihan karir yang ditetapkan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling, dan analisis dilakukan dengan regresi berganda. Partisipan terdiri dari 301 mahasiswa dari perguruan tinggi negeri dan swasta. Alat ukur penelitian mencakup dimensi autonomy dari Basic Psychological Need Satisfaction and Frustration Scale (BPNSNF), Career Decision-Making Difficulties Questionnaire (CDDQ), serta Work Readiness Scale (WRS). Hasil analisis menunjukkan bahwa kemandirian dan pengambilan keputusan karir berkontribusi positif terhadap kesiapan kerja dengan nilai kontribusi sebesar 65,4%. Penelitian ini juga menemukan adanya perbedaan berdasarkan jenis kelamin, di mana mahasiswa laki-laki menunjukkan tingkat pengambilan keputusan karir dan kesiapan kerja yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa perempuan.  
STUDI KUALITATIF : STRATEGI KOMUNIKASI PASANGAN MENIKAH DALAM MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN JARAK JAUH Setiawan, Anjelly Catrina; Suparman, Meiske Yunithree
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8972

Abstract

The increasing prevalence of long-distance marriages (LDMs) due to the demands of professional mobility and technological advancements requires couples to develop complex communication strategies to maintain healthy relationships. This study focuses on analyzing the communication strategies employed by married couples in LDMs and their implications for relationship quality in the digital era. Using a qualitative phenomenological approach, data were extracted through in-depth interviews with four LDM couples to understand the dynamics of their interactions. The study findings revealed that each couple adopted adaptive communication strategies according to their emotional needs, with assurance, openness, and conflict management as dominant pillars. Digital media has proven to play a significant role as an emotional bridge, but its effectiveness depends heavily on the couple's ability to minimize misunderstandings due to the absence of non-verbal cues. It is concluded that the success of LDMs is not solely determined by technological sophistication, but rather by the couple's maturity in building trust, commitment, and a solid support system. Integration between wise use of technology and quality interpersonal interactions is key to maintaining the stability and harmony of long-distance marriages. ABSTRAK Fenomena pernikahan jarak jauh (Long Distance Marriage/LDM) yang semakin marak akibat tuntutan mobilitas profesional dan perkembangan teknologi mengharuskan pasangan mengembangkan strategi komunikasi yang kompleks demi mempertahankan hubungan yang sehat. Penelitian ini berfokus pada analisis strategi komunikasi yang diterapkan pasangan suami istri dalam menjalani LDM serta implikasinya terhadap kualitas hubungan di era digital. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, data digali melalui wawancara mendalam terhadap empat pasangan LDM untuk memahami dinamika interaksi mereka. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa setiap pasangan mengadopsi strategi komunikasi yang adaptif sesuai kebutuhan emosional, di mana dimensi assurance (pemberian jaminan), keterbukaan, dan manajemen konflik menjadi pilar dominan. Media digital terbukti berperan signifikan sebagai jembatan emosional, namun efektivitasnya sangat bergantung pada kemampuan pasangan meminimalisir kesalahpahaman akibat absennya isyarat non-verbal. Disimpulkan bahwa keberhasilan LDM tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh kematangan pasangan dalam membangun kepercayaan, komitmen, serta sistem dukungan yang solid. Integrasi antara pemanfaatan teknologi yang bijak dan kualitas interaksi interpersonal menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas dan keharmonisan rumah tangga jarak jauh.  
SKRINING KESEHATAN MENTAL PADA IBU RUMAH TANGGA DI DESA ROBOABA, KECAMATAN SABU BARAT, KABUPATEN SABU RAIJUA Ramadhani, Sakila Novirdia; Anakaka, Dian L.; Pello, Shela C.; Keraf, Abdi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8973

Abstract

Mental health is an essential factor influencing an individual's quality of life, including that of housewives who carry dual roles within the family and the community. Workload, economic pressure, and limited social support can increase the risk of mental health problems in this population. This study aims to describe the mental health condition of housewives in Roboaba Village, West Sabu District, Sabu Raijua Regency, with a specific focus on Daigama Hamlet. This research employed a quantitative descriptive design involving 87 housewives as respondents. The instrument used was the Self-Reporting Questionnaire (SRQ-29), developed by the World Health Organization (WHO), widely applied as a screening tool for mental health disorders. Data were analyzed using univariate methods and presented in frequency distributions and percentages. The results revealed that 58 respondents (66.7%) were indicated to have mental health problems, while 29 respondents (33.3%) showed no signs of such disorders. Based on the SRQ-29 dimensions, the most frequently reported symptoms were somatic symptoms (79.3%), followed by anxiety symptoms (64.4%), cognitive symptoms (62.1%), decreased energy (55.2%), trauma symptoms (54.0%), risk behaviors (54.0%), and depressive symptoms (48.3%). These findings indicate that housewives in Roboaba Village are highly vulnerable to mental health problems. Therefore, preventive and curative efforts are necessary, including increasing awareness of mental health, providing counseling services, and strengthening social support from families and the community. ABSTRAK Kesehatan mental merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi kualitas hidup individu, termasuk ibu rumah tangga yang memiliki peran ganda dalam keluarga dan masyarakat. Beban peran, tekanan ekonomi, serta kurangnya dukungan sosial dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesehatan mental pada ibu rumah tangga di Desa Roboaba, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, dengan fokus lokasi di Dusun Daigama. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 87 ibu rumah tangga. Instrumen yang digunakan adalah Self-Reporting Questionnaire (SRQ-29) yang dikembangkan oleh WHO dan telah digunakan secara luas untuk skrining gangguan kesehatan mental. Analisis data dilakukan secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden terindikasi memiliki masalah kesehatan mental, yaitu sebanyak 58 orang (66,7%), sedangkan 29 orang (33,3%) tidak menunjukkan indikasi gangguan kesehatan mental . Berdasarkan aspek SRQ-29, gejala yang paling banyak ditemukan adalah gejala somatik sebanyak 69 orang (79,3%), diikuti oleh gejala kecemasan 56 orang (64,4%), gejala kognitif 54 orang (62,1%), gejala penurunan energi 48 orang (55,2%), gejala trauma 47 orang (54,0%), perilaku berisiko 47 orang (54,0%), dan gejala depresi 42 orang (48,3%) . Ini menunjukkan bahwa ibu rumah tangga di Desa Roboaba berada pada kondisi yang rentan terhadap gangguan kesehatan mental. Oleh karena itu, diperlukan perhatian dan intervensi melalui peningkatan kesadaran tentang kesehatan mental, penyediaan layanan konseling, serta dukungan sosial dari keluarga dan masyarakat.      
DISONEKSI DIGITAL SEBAGAI STRATEGI REGULASI DIRI TERHADAP KEBUTUHAN UMPAN BALIK PADA MAHASISWA PENGGUNA MEDIA SOSIAL Ompusunggu, Carine
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.9148

Abstract

ABSTRACT The increasing intensity of social media use among university students has amplified the need for digital feedback, which often leads to psychological pressure, digital fatigue, and a tendency to withdraw temporarily from online environments. This self-regulatory response is reflected in digital disconnection behaviors, which function as a strategy to maintain psychological balance amid constant digital engagement. This study aims to examine the relationship between the need for social media feedback and digital disconnection behaviors among university students. This research employed a quantitative correlational design. A total of 255 university students participated as respondents through purposive sampling. Data were collected using online questionnaires measuring the need for social media feedback and digital disconnection behaviors. Data analysis was conducted using Spearman’s correlation test alongside a linearity assessment to identify the directional pattern between the variables. The results indicate a significant positive relationship (r = 0,305; p < 0,01) between the need for social media feedback and digital disconnection. Higher levels of digital feedback seeking were associated with a stronger tendency to engage in disconnection as a means of reducing psychological distress and restoring self-control. The relationship between the variables demonstrated a stable and linear pattern. In conclusion, the need for social media feedback plays a substantial role in shaping digital disconnection tendencies among university students. These findings highlight the importance of digital literacy, self-regulation skills, and healthier social media usage strategies in supporting student well-being within increasingly connected digital environments. ABSTRAK Penggunaan media sosial yang intensif pada mahasiswa sering kali memunculkan kebutuhan tinggi akan umpan balik digital, yang dapat menimbulkan tekanan psikologis dan kelelahan digital sehingga mendorong individu untuk mengambil jarak dari aktivitas daring. Salah satu strategi yang muncul adalah perilaku disoneksi digital sebagai bentuk regulasi diri terhadap potensi dampak negatif penggunaan media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebutuhan umpan balik media sosial dengan perilaku disoneksi digital pada mahasiswa pengguna media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 255 mahasiswa pengguna media sosial berpartisipasi sebagai responden melalui metode purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner daring yang terdiri dari skala kebutuhan umpan balik media sosial dan skala perilaku disoneksi digital. Analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman serta uji linearitas untuk melihat pola keterkaitan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif (r = 0,305; p < 0,01) yang signifikan antara kebutuhan umpan balik media sosial dan perilaku disoneksi digital. Maka, semakin tinggi kebutuhan individu untuk memperoleh validasi dan respons digital, semakin besar kecenderungan mereka untuk melakukan disoneksi sebagai upaya mengurangi tekanan dan memulihkan kendali diri. Pola hubungan yang ditemukan bersifat linear dan stabil. Kesimpulannya, kebutuhan umpan balik media sosial berperan dalam membentuk kecenderungan mahasiswa untuk melakukan digital disoneksi. Implikasi penelitian menekankan pentingnya literasi digital, kemampuan regulasi diri, serta strategi penggunaan media sosial yang lebih sehat bagi mahasiswa di era konektivitas digital yang semakin intensif.

Page 3 of 3 | Total Record : 28