cover
Contact Name
Faizal Amir Parlindungan Nasution
Contact Email
faiz10march@gmail.com
Phone
+6285716172888
Journal Mail Official
jurnalnaker@gmail.com
Editorial Address
Jl. Jendral Gatot Subroto Kav. 51, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12750, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ketenagakerjaan
ISSN : 19076096     EISSN : 27228770     DOI : 10.47198
Core Subject : Economy, Social,
Jurnal Ketenagakerjaan (J-naker/The Indonesian Journal of Manpower) adalah publikasi ilmiah yang diterbitkan oleh Pusat Pengembangan Kebijakan, Kementerian Ketenagakerjaan. J-naker bekerjasama dengan beberapa asosiasi fungsional dan profesi di bidang ketenagakerjaan dalam rangka mengembangkan publikasi ini agar menjadi wadah peningkatan kualitas kebijakan ketenagakerjaan. Kerjasama tersebut antara lain dengan Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) Komisariat Kementerian Ketenagakerjaan, Asosiasi Mediator Hubungan Industrial Indonesia (AMHII), Asosiasi Pengawas Ketenagakerjaan Indonesia (APKI), Asosiasi Instruktur Pelatihan Kerja Republik Indonesia Indonesia (PILAR RI), Ikatan Pengantar Kerja Seluruh Indonesia (IKAPERJASI), dan Persatuan Perencana Pembangunan Indonesia (PPPI) Komisariat Kementerian Ketenagakerjaan.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 14 No. 1 (2019)" : 6 Documents clear
Pengaruh Upah Minimum terhadap Anak Bekerja: Bukti Empiris di Indonesia Nisa Ulkaromah; Arie Damayanti
Jurnal Ketenagakerjaan Vol. 14 No. 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.245 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak dari upah minimum terhadap anak bekerja di Indonesia, menggunakan SAKERNAS BPS tahun 2012. Beberapa penelitian anak bekerja sebelumnya mempercayai bahwa peningkatan upah minimum dapat mengurangi fenomena anak bekerja karena kesejahteraan rumah tangga meningkat. Namun secara teori, peningkatan upah yang disebabkan oleh kebijakan upah minimum dapat menyebabkan beberapa orang dewasa terkena pemutusan hubungan kerja, akibatnya rumah tangga tersebut mengirim anaknya untuk bekerja. Penelitian ini menggunakan model multinomial logit dan membagi dua tipe anak bekerja, yaitu pekerja keluarga dan pekerja di pasar kerja. Hasil penelitian menunjukan bahwa anak pekerja keluarga meningkat seiring dengan peningkatan upah minimum, terutama jika orang tua kehilangan pekerjaan dari sektor formal. Sedangkan dampak upah minimum terhadap anak di pasar kerja tidak ditemukan adanya signifikansi. Pada kondisi daerah, penelitian ini menemukan bahwa dampak upah minimum di daerah maju, cenderung untuk mengurangi probabilitas anak bekerja lebih besar dibandingkan daerah berkembang. Penelitian ini juga menemukan adanya hubungan antara upah minimum terhadap anak bekerja rumah tangga di luar sektor formal. Secara keseluruhan, penelitian ini berpendapat bahwa dampak upah minimum terhadap anak bekerja adalah fenomena yang kompleks.
Kelahiran yang Tidak Direncanakan: Apakah Hambatan bagi Wanita untuk Bekerja? Ari Purbowati
Jurnal Ketenagakerjaan Vol. 14 No. 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.16 KB)

Abstract

Persentase wanita yang mengalami kelahiran tidak direncanakan meningkat selama lima tahun terakhir. Di sisi lain, tingkat partisipasi angkatan kerja wanita relatif mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir. Penelitian ini menganalisis hubungan antara kelahiran tidak direncanakan dengan partisipasi wanita dalam pasar tenaga kerja. Data yang digunakan adalah data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 dengan unit analisis wanita umur 15-49 tahun yang pernah melahirkan sejak Januari 2012. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa persentase kelahiran yang tidak direncanakan adalah sebesar 16% di mana 8% merupakan kelahiran yang berasal dari kehamilan yang tidak tepat waktu, dansisanya adalah kelahiran yang berasal dari kehamilan yang tidak diinginkan. Dengan menggunakan metode regresi probit, diketahui bahwa kelahiran tidak direncanakan mempunyai hubungan yang negatif terhadap partisipasi wanita dalam pasar tenaga kerja. Adanya kelahiran tidak direncanakan menurunkan peluang wanita untuk bekerja sebesar 1,8 persen poin.
Kedudukan Mediator Hubungan Industrial Kabupaten/Kota dalam Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial antara Pengusaha dengan Pekerja Bayu Yudha Prasetya
Jurnal Ketenagakerjaan Vol. 14 No. 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.176 KB)

Abstract

Prinsip Negara kesejahteraan yang dianut oleh Indonesia membawa konsekuensi logis yaitu pemerintah seharusnya memiliki kewenangan untuk terlibat dalam mensejahterakan warga negara. Sektor hubungan industrial menuntut peran aktif pemerintah untuk terlibat mengupayakan keadilan dan kesejahteraan bagi para pihak. Faktanya Mediator Hubungan Industrial Kabupaten/Kota yang berada di "garis depan" penyelesaian perselisihan Hubungan Industrial di wilayah Kerjanya, memiliki kewenangan yang terbatas. Solusi untuk Mediator Hubungan Industrial Kabupaten/Kota terhadap keterbatasan kewenangan ini, dapat dilakukan dengan menjalin koordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait.
Pengaruh Gender terhadap Keputusan Anak Bekerja di Indonesia Beni Teguh Gunawan
Jurnal Ketenagakerjaan Vol. 14 No. 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.254 KB)

Abstract

Pekerja anak menjadi salah satu persoalan yang dihadapi tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia internasional. Kajian sebelumnya menjelaskan bahwa faktor utama anak bekerja adalah kemiskinan. Selain kemiskinan diduga ada faktor lain yang memperbesar kemungkinan anak untuk bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak jender terhadap keputusan anak untuk bekerja di Indonesia. Diduga terdapat diskriminasi jender dalam keluarga untuk memutuskan apakah anak laki-laki atau perempuan yang akan bekerja. Analisis kuantitatif menggunakan multinomial logit pada data Susenas 2015 menemukan bahwa anak laki-laki justru memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk bekerja dibandingkan perempuan. Peluang seorang anak laki-laki lebih tinggi 0,35% dibandingkan anak perempuan untuk bekerja saja, sementara di sisi lain kemungkinan anak laki-laki lebih kecil 0,79% untuk sekolah dibandingkan dengananak perempuan. Peluang terbesar bagi seorang anak laki-laki adalah sekolah sambil bekerja.
Kewirausahaan dan Pemberdayaan Pemuda dalam Mengurangi Pengangguran Suryadi Suryadi
Jurnal Ketenagakerjaan Vol. 14 No. 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.53 KB)

Abstract

Pengangguran di usia muda menyebabkan pemuda tidak dapat memainkan peran penuh dalam pembangunan. Pemberdayaan pemuda dapat digunakan sebagai solusi untuk mengatasi masalah pengangguran kaum muda.Untuk mengatasi pengangguran, bisa dilakukan melalui pemberdayaan dalam bentuk program kewirausahaan pemuda.Konsep pemuda adalah penduduk berusia 16-30 tahun. Dari analisis regresi sederhana, dapat dilihat bahwa kewirausahaan muda belum dapat mengurangi pengangguran di kalangan angkatan kerja muda.Hal ini dibuktikan dengan hasil pengolahan data statistik yang menunjukkan bahwa kewirausahaan muda tidak signifikan dalam mengurangi pengangguran.Dalam mengatasi pengangguran, perlu untuk membangun kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, universitas, pusat pelatihan kerja dan pengusaha.
Analisis Tenaga Kerja Muda Tanpa Kegiatan (Not in Education, Employment or Training–Neet) Berdasarkan Status Perkawinan Oktaviana Dwi Saputri; Sapto Setyodhono
Jurnal Ketenagakerjaan Vol. 14 No. 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.631 KB)

Abstract

Saat ini Indonesia sedang mengalami bonus demografi, dimana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak daripada penduduk usia non produktif. Namun di sisi lain banyak terdapat tenaga kerja muda yang tidak dalam pendidikan, tidak sedang bekerja, dan tidak sedang mengikuti pelatihan (Not in Education, Employment or Training–NEET), yang menjadi beban keluarga, masyarakat dan tentu saja dapatmembahayakan stabilitas negara. Untuk mengantisipasi hal tersebut diperlukan berbagai upaya yang didasarkan pada karakteristik NEET, yang salah satunya adalah berdasarkan status perkawinan. Dengan mengolah dan menganalisis secara deskriptif kuantitatif data Sakernas Agustus 2018, jumlah tenaga kerja muda NEET banyak berada di perkotaan. Namun demikian, apabila dilihat dari status perkawinannya,diketahui bahwa sebagian besar tenaga kerja muda NEET adalah: perempuan, berpendidikan SMP dan SMU/SMA dengan kegiatan mengurus rumah tangga serta tinggal di pedesaan. Selain itu mereka yang menikah pada usia muda juga tidak sedikit, dan diindikasikan bahwa semakin rendah tingkat pendidikan tenaga kerja muda NEET, maka jumlah yang berstatus sudah menikah lebih banyak dan diikuti dengan tingkat perceraian yang lebih tinggi. Permasalahan yang lebih mendesak lagi adalah bahwa tidak sedikit jumlah tenaga kerja muda NEET yang melakukan kegiatan lainnya, dimana kegiatan tersebut tidak jelas dan bisa jadi mengarah pada kegiatan yang bersifat negatif. Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi dan mengatasi tenaga kerja muda NEET perlu mendapatkan perhatian khusus.

Page 1 of 1 | Total Record : 6