cover
Contact Name
Khairil Fazal
Contact Email
khairil.fazal@ar-raniry.ac.id
Phone
+6285373325237
Journal Mail Official
jurnal.abrahamic@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Ar-raniry, Banda Aceh Indonesia Jalan Abdur Rauf Kopelma Darussalam, Gedung Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Lt. I, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Provinsi Aceh 23111, Indonesia
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama
ISSN : 27977722     EISSN : 27976440     DOI : 10.22373/arj
Abrahamic Religions: Journal of Religious Studies is open access and peer review research journal published by the Study Program of Religions, UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Abrahamic Religions is a Journal of the Study Program of Religions and Religions as a forum for researchers, academics, professionals, practitioners, and students worldwide to share knowledge in the form of empirical and theoretical research studies, case studies, and literature reviews. Scope: Religion and Culture Conflict Resolution Religious Moderation Theology Religion and Science Philosophy of Religion Psychology of Religion History of Religions Sociology of Religion Religion and Ethics Religion and Literature Religion and Art Religion and Media Religion and Linguistics Religion and Health Religion and Globalization
Articles 148 Documents
LIBERALISME DALAM PEMIKIRAN ISLAM Sinta Dewi, Ning Ratna
Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Prodi Studi Agama-Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/arj.v2i2.12827

Abstract

Liberalism is a study that discusses the issue of freedom or rather the understanding of the freedom inherent in every human being. Free attitude in this case is not only limited to the issue of belief in God alone, but this free attitude includes all aspects that exist in oneself, actions and thoughts that are owned by every human being. Islam itself teaches its followers to have a liberal attitude, in this case the intended liberal must be adapted to the teachings that apply in the Islamic religion. Likewise with thoughts, where every human being has different thoughts, and as long as these thoughts do not violate the applicable religious rules, then that thinking deserves to be maintained and even developed for progress.AbstrakLiberalisme merupakan kajian yang membahas persoalan kebebasan atau lebih tepatnya paham tentang kebebasan yang melekat pada diri setiap manusia. Sikap bebas dalam hal ini tidak hanya sebatas tentang persoalan keyakinan kepada Tuhan semata, namun sikap bebas ini meliputi segala aspek yang ada dalam diri, perbuatan dan juga pemikiran yang dimiliki oleh setiap manusia. Islam sendiri mengajarkan kepada pengikutnya untuk memiliki sikap liberal, dalam hal ini liberal yang dimaksud harus disesuaikan dengan ajaran yang berlaku dalam agama Islam tersebut. Begitu juga halnya dengan pemikiran, dimana setiap manusia memiliki pemikiran yang berbeda-beda, dan selama pemikiran tersebut tidak menyalahi aturan agama yang  berlaku, maka pemikiran itu layak untuk dipertahankan bahkan dikembangkan  demi kemajuan. 
GAYA HIDUP MINIMALIS SEBAGAI PENGAMALAN ILMU ESKATOLOGI DALAM MENGINGAT HARI AKHIR DAN AKHIRAT Putri, Rahmadila Dania; Wasik, Abdul
Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Prodi Studi Agama-Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/arj.v2i2.13402

Abstract

Eschatology is part of theology that discusses the last days, in Islamic teachings eschatology is closely related to the faith of a Muslim in the last days. And for a Muslim faith must be in line with the existence of evidence in the form of practice in everyday life that reflects an eschatology or faith in the last days. The practice of a science is very important because it will provide many benefits and significant developments for human life. Actually, there are many ways to practice and imply faith in the hereafter and eschatology, one of which is living a minimalist life. Then how can a minimalist life be said to be a practice of eschatology in remembering the last days or the afterlife. In this article, we will discuss this matter using qualitative research methods, in the form of literature review and literature study. The results of this study show that minimalist living can be used as the practice of eschatology in remembering the afterlife, because minimalist life is basically similar to qanaah and zuhud life, both of which focus on the afterlife. It also turns out that a minimalist life has been recommended from the beginning in Islamic teachings, namely living as simply as possible and not exaggerating in pursuing the world, and increasing practices to improve the quality of the afterlife.AbstrakIlmu eskatologi merupakan bagian dari ilmu teologi yang membahas mengenai hari akhir, pada ajaran Islam ilmu eskatologi erat kaitannya dengan keimanan seorang muslim kepada hari akhir. Dan bagi seorang muslim keimanan itu harus sejalan dengan adanya pembuktian berupa pengamalan dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan suatu ilmu eskatologi atau keimanan pada hari akhir. Pengamalan suatu ilmu sangat penting karena akan memberi manfaat yang banyak dan perkembangan yang signifikan bagi kehidupan manusia. Sebenarnya banyak cara dalam mengamalkan dan mengimplikasikan iman kepada hari akhir dan ilmu eskatologi, salah satu diantaranya adalah hidup minimalis. Lalu bagaimana bisa hidup minimalis dikatakan sebagai sebuah pengamalan ilmu eskatologi dalam mengingat hari akhir ataupun alam akhirat. Pada artikel ini akan dibahas mengenai hal tersebut dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, berupa kajian pustaka dan studi literatur. Hasil dari penelitian ini ternyata hidup minimalis bisa digunakan sebagai pengamalan ilmu eskatologi dalam mengingat akhirat, karena hidup minimalis pada dasarnya mirip dengan qanaah dan hidup zuhud, dimana sama-sama memfokuskan diri untuk kehidupan akhirat. Juga ternyata hidup minimalis memang sudah dianjurkan dari dahulu pada ajaran islam, yaitu hidup sesederhana mungkin dan tidak berlebih-lebihan dalam mengejar dunia, serta memperbanyak amalan untuk meningkatkan kualitas kehidupan akhirat.
KONTROVERSI ANTARA ULAMA SYARIÁT DENGAN ULAMA TASAWUF Nur, Faisal Muhammad
Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Prodi Studi Agama-Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/arj.v2i2.13403

Abstract

Sufism is part of Islamic Shari'a and is also the spirit of Islamic Shari'a. Sufi spiritual teachings can be used as a solution to overcome various kinds of problems in human life and can maintain harmony both internally and between religious communities, because the foundation of Sufis is love and compassion (mahabbah). In essence there is no dispute between fiqh scholars and Sufism scholars because these two scientific elements are included in the joints and foundations of Islamic Shari'a, fiqh scholars guard Shari'a outwardly while Sufism scholars guard Shari'a inwardly (spirit), like the two wings of a bird that need each other. one another. ABSTRAKTasawuf merupakan bagian dari Syariát Islam dan juga merupakan ruh dari Syariát Islam. Ajaran spiritual sufi dapat dijadikan sebagai solusi untuk menanggulangi berbagai macam problematika kehidupan manusia serta dapat menjaga kerukunan baik intern maupun antar ummat beragama, karena pondasi dari sufi adalah cinta dan kasih sayang (mahabbah).  Pada hakekatnya tidak ada perselisihan antara ulama  fiqih dengan ulama tasawuf karena kedua elemen keilmuan ini termasuk dalam sendi-sendi dan pondasi Syariát Islam, ulama fiqih menjaga Syariát secara lahiriah sedangkan ulama tasawuf menjaga Syariát secara batiniah (ruh), bagaikan kedua sayap burung yang saling membutuhkan satu sama lain.
KOSMOLOGI HARUN YAHYA DAN KRITIKNYA TERHADAP MATERIALISME: INTEGRASI AGAMA DAN SAINS Juwaini, Juwaini; Rahmasari, Lilis Suci
Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Prodi Studi Agama-Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/arj.v2i2.13404

Abstract

This study aims to discuss the concept of cosmology Harun Yahya in the Koran with the theory (Big Bang) and his criticism of the concept of materialist cosmology. This paper uses library research and analysis of the character's thoughts, starting with examining all available data from primary sources, namely Harun Yahya's book, entitled "The Creation of Nature" and other secondary sources related to Harun Yahya's cosmological concepts. The results showed that Harun Yahya did the integration between religion and science. The integration that he did was the integration of the concept of cosmology version of the Koran with the concept of cosmology version of the Big Bang theory. According to him, the Qur'anic version of the concept of cosmology is very much in line with what is conveyed in the Big Bang theory. One of its relevance is to both mention that the universe began from nothing and has an end point. In contrast to the cosmological concept of materialists who explain that this universe has no beginning and no end. Furthermore, the concept of materialism claims that the universe is only filled with matter that is visible to the five senses, there is no room for spirit and God. This is in accordance with the statement that does not assume the existence of God (atheism). Therefore, with this integrative paradigm, a harmonious and harmonious life should be built between religion and science, by no longer creating a "gap" between the two. Because both are valid science and a coherent source of truth for the world.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk membahas tentang konsep kosmologi Harun Yahya di dalam Alquran dengan teori (Big Bang) dan kritikannya terhadap konsep kosmologi materialis. Tulisan ini mengunakan penelitian kepustakaan dan analisis pemikiran tokoh dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari sumber primer yaitu buku karya Harun Yahya, yang berjudul “Penciptaan Alam” dan sumber sekunder lainnya yang berhubungan dengan konsep kosmologi Harun Yahya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Harun Yahya melakukan pengintegrasian antara agama dan sains. Pengintegrasian yang beliau lakukan adalah integrasi konsep kosmologi versi Alquran dengan konsep kosmologi versi teori Big Bang. menurutnya, konsep kosmologi versi Alquran, sangat selaras dengan apa yang disampaikan dalam teori Big Bang. Salah satu relevansinya adalah sama-sama menyebutkan bahwa alam semesta berawal dari ketiadaan dan memiliki titik akhir. Berbeda dengan konsep kosmologi kaum materialis yang  menjelaskan bahwa alam semesta ini tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir. Selanjutnya konsep materalisme mengklaim, bahwa alam semesta ini hanya di isi oleh materi-materi yang tampak secara panca indera saja, tidak ada ruang bagi roh dan Tuhan. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang tidak menganggap adanya eksistensi Tuhan (ateisme). Oleh sebab itu, dengan paradigma integratif ini, sudah seharusnya dibangun kehidupan yang rukun dan harmonis antara agama dan sains, dengan tidak lagi membuat “gap” antar keduanya. Karena keduanya merupakan ilmu valid dan sumber kebenaran koheren bagi dunia. 
TRADISI DAN BUDAYA TOLERANSI DALAM TINJAUAN SEJARAH DI ACEH Nurlaila, Nurlaila
Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Prodi Studi Agama-Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/arj.v2i2.13892

Abstract

The discussion of tolerance has become a hot topic discussed in various studies, both in the form of writing and verbally through various dialogues and forums. Tolerance is an easy topic to discuss in sharing forums, but in its realization and application there is still a lot to learn. The problem of tolerance is a test in itself in society, because although there are many scientific studies that discuss the necessity and obligation of a culture of tolerance in society. But in reality tolerance is always a problem in realizing it. This sometimes becomes difficult in its realization because it is found that there are still many citizens, groups or even certain cultures who are intolerant in various ways. Aceh, an area that applies Islamic law in Indonesia, is a test in itself in implementing a culture of tolerance in Aceh. There were several cases that caused Aceh to become intolerant, starting from the DI/TII rebellion in 1953 which was intolerant of Indonesia, the displacement of other ethnic groups during GAM's burning of houses of worship in Aceh and various other cases that indicated that Aceh was intolerant. Seeing this reality, this study wants to see another angle on the problem of tolerance in Aceh. The author sees from the perspective of culture and history, Aceh is very tolerant in religious matters. So that in the course of Aceh's history they can live, do business, diplomacy and discuss with various religions.AbstrakPembahsan tentang toleransi  menjadi topik yang hangat di bicarakan dalam berbagai kajian baik di berupa tulisan, maupun pembicaraan secara lisan lewat bergai dialog dan forum. Toleransi menjadi topik yang mudah untuk di bahas dalam berbagi forum namun dalam perwujudan dan aplikasinya masih harus terus banyak belajar. Masalah toleransi menjadi ujian tersendiri dalam masyarakat, karena meski banyak kajian ilmiah yang membahas harus, perlu dan wajibnya budaya toleransi dalam bermasyarakat. Namun kenyataannya toleransi selalu terjadi masalah dalam mewujudkan. Hal tersebut kadang menjadi susah dalam perwujudannya karena didapati masih banyak warga, kelompok atau bahkan budaya tertentu yang bersikap intoleran dalam berbahai hal.  Aceh sebuah daerah yang menerapkan syariat Islam di Indonesia menjadi ujian tersendiri dalam menerapakan budaya toleransi di Aceh. Ada beberapa kasus yang menyebabkan Aceh menjadi in toleran mulai dari pemberontaka DI/TII tahun 1953 yang tidak toleran dengan Inonesia, pengusian etnis lain pada saat  GAM pembak aran rumah ibadah  di Aceh dan berbagai kasu lain yang mengindikasikan Aceh intoleran. Melihat realitas tersebut kajian ini ingin melihat sudut lain dari permasalah toleransi di Aceh. Penulis melihat dari kaca mata budaya dan sejarah dulu, Aceh sangat toleran dalam masalah agama. Sehingga  dalam perjalanan sejarah Aceh bisa hidup, berbisnis, berdiplomasi dan berdiskusi dengan berbagai Agama. 
MODERASI BERAGAMA DALAM AGAMA KONGHUCHU Mawardi, Mawardi
Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Prodi Studi Agama-Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/arj.v2i2.14585

Abstract

Mutual respect and mutual respect is an attitude that must be owned by everyone to realize a tolerance. Tolerance is the most important aspect of social life. Where in social life of course everyone wants a safe, peaceful, and peaceful life. In terms of the teachings of religious moderation, it is not only belonging to one particular religion, but various religions and even world civilizations also have things like that. This study concludes that religious moderation is necessary, especially now that religious moderation aims to create a generation that is moderate and not easily influenced by radical ideas spread from cyberspace. As in Confucianism, this ethnic Chinese religion also upholds a sense of tolerance. This is done on the grounds that differences are certain things and differences should not be to divide but to complement each other.AbstrakSaling menghargai dan saling menghormati adalah suatu sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang untuk terwujudnya suatu toleransi. Toleransi merupakan aspek terpenting dalam hidup bermasyarakat. Dimana dalam hidup bermasyarakat tentu semua orang menginginkan hidup yang aman, tentram, dan damai. Dalam hal ajaran moderasi agama bukanlah hanya kepunyaan satu agama tertentu saja, melainkan berbagai agama bahkan peradaban dunia juga mempunyai hal seperti itu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa moderasi beragama sangat diperlukan apalagi saat ini moderasi beragama bertujuan agar mencetak generasi yang moderat dan tidak gampang terpengaruh oleh paham-paham radikal yang disebarkan dari dunia maya. Seperti halnya didalam agama Khonghucu, agama etnis Tionghoa ini juga menjunjung tinggi rasa toleransi. Hal tersebut dilakukan dengan alasan bahwa perbedaan merupakan hal yang pasti adanya dan perbedaan seharusnya tidak untuk memecah belah melainkan untuk saling melengkapi
Toleransi: Peran Tokoh Agama sebagai Perekat Kerukunan Umat Beragama Samuel, Samuel; Tumonglo, Esther Epin
Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Prodi Studi Agama-Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/arj.v3i1.14734

Abstract

Religious Figures As Adhesives for Inter-religious Harmony in Toraja, starting from the phenomenon that the Toraja people, specifically the southern Toraja bordering the Enrekang area, which is predominantly Muslim, is a plural society from generation to generation while maintaining harmony between religious communities, especially Christian Muslims. This harmony has never been shaken by sara issues like in some other places. One of the glues is the religious leaders themselves. As the focus of this research, a research question was formulated, namely how religious figures play a role in gluing harmony between religious communities. These problems are studied using the theory of pluralism. Meanwhile, for field data, qualitative research methods were used, namely by observing with the aim of obtaining information about how the role of religious leaders in gluing inter-religious harmony. As a research finding, the role of religious leaders in gluing tolerance between religious communities, especially Christian Muslims in Toraja, is that religious leaders are able to act as role models or role models, coaches and are able to act as leaders for every community.ABSTRAKTokoh Agama Sebagai Perekat Kerukunan Antar Umat Beragama di Toraja, bertitik tolak dari fenomena bahwa masyarakat Toraja secara khusus Toraja bagian selatan yang berbatasan dengan daerah Enrekang yang mayoritas muslim adalah masyarakat majemuk dari turun temurun tetap memelihara kerukunan antar umat beragama khususnya Islam Kristen. Kerukunan tersebut tidak pernah tergoyahkan oleh isu-isu sara seperti di beberapa tempat lainnya. Salah satu perekat adalah tokoh agama sendiri. Sebagai focus penelitian ini dirumuskan question research yaitu bagaimana Tokoh Agama berperan dalam merekatkan kerukunan antar umat beragama. Permasalahan tersebut dikaji dengan menggunakan teori pluralisme. Sementara untuk data lapangan digunakan metode penelitian kualitatif yaitu dengan mengamati dan juga melalui wawancara bersama informan dengan tujuan untuk memperoleh informasi tentang peran tokoh agama dalam merekatkan kerukunan antar umat beragama. Sebagai temuan penelitian bahwa peran tokoh agama dalam merekatkan toleransi antar umat beragama khususnya Kristen Islam di Toraja adalah tokoh agama mampu berperan sebagai teladan atau panutan, Pembina serta mampu berperan sebagai pemimpin bagi setiap uma
Manusia Penata Alam dan Bukan Penakluk Alam Manggala Kala’tasik, Veronika Restu
Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Prodi Studi Agama-Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/arj.v3i1.14867

Abstract

Man was created with the mandate or responsibility to nurture another creation. The creation of the others in this regard is no exception to nature. Nature by not merely being created by the Creator but, through the realm of man, the glory of God is revealed. Man who is a noble creation is given the trust to keep nature and continue to declare the glory of God. Man must take good care of, maintain, work on nature. Man's covetousness of the beauty and richness of nature makes man "forget" the mandate that the Creator entrusts. The universe is also a creation that has value for that man as a noble creation should have the consciousness to maintain that value (as a sesame of creation). The methodology used is a descriptive analysis study. The reference sources used are literacy references such as related books and journals. This writing intends to open up the mindset and give awareness of the importance of maintaining or being a stylist not a conqueror of nature. Qualitative methods are used through literature studies in this writing. The increasing needs of man seem to force to make desires a necessity that leads to the destruction of nature. For this reason, it is necessary to be aware and live enough and be grateful.ABSTRAKManusia diciptakan dengan mandat atau tanggungjawab untuk memelihara ciptaan yang lain. Ciptaan yang lain dalam hal ini tidak terkecuali alam. Alam dengan tidak hanya sekedar diciptakan oleh Sang pencipta begitu saja namun, melalui alam manusia kemuliaan Tuhan dinyatakan. Manusia yang adalah ciptaan yang mulia diberikan kepercayaan untuk menjaga agar alam tetap dan terus menyatakan kemuliaan Tuhan. Manusia harus menjaga, memelihara, mengusahakan alam dengan baik. Ketamakan manusia akan keindahan dan kekayaan alam membuat manusia “lupa” akan mandat yang Sang Pencipta percayakan. Alam semesta pun merupakan ciptaan yang mempunyai nilai untuk itu manusia sebagai ciptaan yang mulia seharusnya memiliki kesadaran untuk menjaga nilai tersebut (sebagai sesame ciptaan). Adapun metodologi yang digunakan adalah studi deskriptif analisis. Sumber rujukan yang digunakan adalah referensi literasi seperti buku dan jurnal terkait. Penulisan ini bermaksud untuk membuka pola pikir serta memberi kesadaran akan pentingya menjaga atau menjadi penata bukan penakluk alam. Digunakan metode kualitatif melalui studi pustaka dalam penulisan ini. Kebutuhan manusia yang semakin meningkat seolah-olah memaksa untuk menjadikan keinginan sebagai kebutuhan yang berujung pada pengrusakan alam. Untuk itu, diperlukan kesadaran serta hidup cukup dan bersyukur.
Torah sebagai Kitab Suci Yudaisme: Konsep dan klasifikasi Rizal Maulana, Abdullah Muslich; Camila, Marsha; Putri, Meisin Imanda; Hafitzah, Nabila; Sidqi, Nailatu Lutfiyah
Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Prodi Studi Agama-Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/arj.v3i1.15049

Abstract

Scripture is one of the essential parts of every religion, as from scripture, people can understand many things related to the belief in question, such as the concept of divinity, teachings, rituals, laws and regulations, and many others. Likewise, Jews own Torah which was revealed to the prophet Moses. In addition, there are also other books that they believe in the life of Jews. This study aimed to determine the definition, meaning, and classification of Torah according to Judaism. Accordingly, this study used a descriptive analysis method through a qualitative approach with literature studies to sufficiently understand the intended research purpose. This study concluded that Torah is Jews guideline of life, containing divine laws taught to Moses and transmitted to further generations. Torah, in detail, encompasses five books: Bereshit, Shemot, Vayiqra, Bemidbar, and Devarim. ABSTRAKAgama yang diyakini setiap umat  memiliki Kitab Suci sebagai salah satu bagian penting dari setiap agama, oleh karena dari kitab suci orang dapat memahami banyak hal yang berkaitan dengan kepercayaan terkait, seperti konsep ketuhanan, ajaran, ritual, hukum dan peraturan, dan banyak lainnya. Pun demikian umat Yahudi juga memiliki Torah yang diturunkan kepada Musa. Selain Torah, ada juga kitab-kitab lain yang mereka yakini mendeskripsikan kehidupan orang Yahudi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui definisi, makna, dan klasifikasi Torah menurut Yudaisme. Guna mencapai itu, penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif melalui pendekatan kualitatif dalam bentu studi pustaka untuk mampu menjawab tujuan penelitian yang dimaksud. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Torah adalah pedoman hidup orang Yahudi, berisi hukum-hukum ketuhanan yang telah diajarkan kepada Musa dan diturunkan kepada generasi selanjutnya. Torah, secara detail mencakup lima kitab: Bereshit, Shemot, Vayiqra, Bemidbar, dan Devarim.
Tradisi Sedekah Laut di Bungo Wedung Demak Ditinjau dari Perspektif Georges Bataille Rofi'ah, Zulfatur
Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Prodi Studi Agama-Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/arj.v3i1.15117

Abstract

The people of Bungo village, Wedung sub-district, Demak district, which are located in an area near the sea, have caused some of the residents to work as fishermen. Then, the fishermen and the surrounding community hold a marine alms tradition every year which must be preserved, this is believed to be very influential with the results obtained for these fishermen regarding offerings offered to supernatural creatures that live in the sea. With the aim of the community believing that there is a separate value and can receive good reciprocity for what they do. Besides that, Georges Bataille has a theory that can be applied to this sea alms tradition. Therefore, this study uncovers the problem of the marine alms tradition by elaborating Georges Bataille's theory. This paper is based on data collected through interviews with four different informants taking into account the characteristics of each and analyzed using various sources of related books and journals. From the results of this study, it was found that the religious way of the people of Bungo village in carrying out the sea alms tradition was in accordance with the theory described by Georges Bataille.ABSTRAKMasyarakat desa Bungo kecamatan Wedung kabupaten Demak yang terletak di area dekat laut menyebabkan sebagian penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Kemudian, para nelayan dan masyarakat sekitar mengadakan tradisi sedekah laut setiap tahunnya yang wajib dilestarikan, hal ini diyakini sangat berpengaruh dengan hasil yang didapatkan bagi para nelayan tersebut terkait sesajen yang dipersembahkan bagi makhluk ghaib yang hidup di laut. Dengan tujuan masyarakat meyakini ada nilai tersendiri dan dapat menerima timbal baik atas apa yang mereka lakukan. Di samping itu, Georges Bataille memiliki sebuah teori yang dapat diaplikasikan pada tradisi sedekah laut ini. Oleh karena itu, penelitian ini mengungkap permasalahan tradisi sedekah laut dengan menjabarkan teori Georges Bataille. Tulisan ini didasarkan pada data yang dikumpulkan melalui wawancara kepada empat informan yang berbeda dengan memperhatikan karakteristik masing-masing dan dianalisa menggunakan berbagai sumber buku dan jurnal yang berkaitan. Dari hasil penelitian tersebut, ditemukannya cara beragama masyarakat desa Bungo dalam pelaksanaan tradisi sedekah laut tersebut sesuai dengan teori yang dijabarkan oleh Georges Bataille.