cover
Contact Name
Cresensius Hanny Kurniawan
Contact Email
jurnalamreta@sttsati.ac.id
Phone
+6287859937095
Journal Mail Official
jurnalamreta@sttsati.ac.id
Editorial Address
Jln. Raya Karanglo 94-103, Banjararum, Singosari, Malang
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teologi Amreta
ISSN : -     EISSN : 25993100     DOI : 10.54345
Amreta Theology Journal is a bilingual semi scientific journal aimed at developing and advancing written works in the fields of Theology
Articles 107 Documents
Is there connection between Pentecostalism belief and hairstyle? Discussion on practice of Worshiping God in the Spirit and the Truth Victor Christianto
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 5 No. 1 (2021): How the Holy Spirit help churches to respond today issues
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v5i1.73

Abstract

Abstract The present article is intended for really devout Christians. Many Christian men andwomen often ask deep in their heart, how they can do their best to please Father inHeaven. There are guides on how to worship God, to dedicate their bodies and work,but how shall we glorify God with our hair? For women, there is a hint that we canfind in St. Paul’s letters to Corinthians: but are there guides for devout men? It turnsout that is quite delicate matter to discuss. Moreover, as we discussed in a recentpaper in this journal, there is limitation of Aristotelian logic to grasp spiritual termssuch as Trinity or Manunggaling Kawula Gusti in Javanese term. Now, allow us toemphasize the same point using non-Aristotelian logic and non-Diophantinearithmetics. In that sense, spiritual realms go beyond what science cannot go. In thelast section, we will discuss shortly on possible implications of worshiping God in theSpirit and the Truth.   Abstrak Artikel ini ditujukan untuk orang Kristen yang benar-benar taat. Banyak pria danwanita Kristen sering menanyakan jauh di lubuk hati mereka: bagaimana kami dapat melakukan yang terbaik untuk menyenangkan Bapa di Surga? Ada panduan tentang bagaimana menyembah Tuhan, untuk mendedikasikan tubuh dan pekerjaan mereka, tetapi bagaimana kita akan memuliakan Tuhan dengan rambut kita? Untuk para wanita, memang ada petunjuk yang dapat ditemukan dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat Korintus: tetapi apakah ada panduan untuk kaum pria? Ternyata hal ini merupakan masalah yang cukup rumit untuk dibahas. Selain itu, seperti yang penulis bahas baru-baru ini dalam jurnal ini, terdapat  keterbatasan logika Aristotelian untuk memahami istilah-istilah spiritual seperti Trinitas atau Manunggaling Kawula Gusti dalam istilah Jawa. Sekarang, izinkan penulis untukmenyampaikan hal yang sama, namun dengan menggunakan logika non-Aristotelian dan non-Diophantine aritmatika. Dalam pengertian itu, alam spiritual melampaui apa yang tidak bisa dicapai oleh sains. Dalam bagian terakhir, kita akan membahas secara singkat tentang kemungkinan implikasi dari menyembah Tuhan di Roh dan Kebenaran.
Mencari Guru Sejati: Makna spiritual identitas Manusia Pendusta (“Spouter of Lies”) dalam Naskah Qumran Victor Christianto
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 5 No. 2 (2022): Holy Spirit inside: How the Holy Spirit works through us and within us
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v5i2.69

Abstract

Dalam artikel ini penulis mengajukan argumen sanggahan di antaranya terhadap pandangan Robert Eisenman dalam bukunya James the Brother of Jesus, khususnya yang berkaitan dengan identifikasi Eisenman bahwa Guru Kebenaran yang disebut dalam naskah Pesher Habakuk adalah Yakobus saudara Yesus (James the Just) dan Manusia Pendusta adalah Rasul Paulus. Cukup banyak kontroversi di seputar siapakah identitas Manusia Pendusta dalam DSS atau yang kerap dikenal sebagai naskah-naskah Qumran, salah satu hipotesis yang diajukan oleh salah seorang ahli Qumran, yakni Robert Eisenman, cukup kontroversial. Beliau menduga bahwa berdasarkan catatan Josephus dan sumber-sumber lainnya, bahwa Manusia Pendusta (Spouter of Lies) itu tidak lain adalah Rasul Paulus yang menulis sebagian besar surat dalam Perjanjian Baru. Meski dapat diajukan argumen-argumen lainnya untuk menyanggah Robert Eisenman tersebut, namun dalam tulisan ini penulis lebih memfokuskan pada makna spiritual dari kontroversi antara Guru Kebenaran dan Manusia Pendusta tersebut, serta implikasinya bagi mereka yang tergerak untuk menempuh Spiritualitas Jalan Lurus. Beberapa implikasi langsung yang dapat ditarik dari Spiritualitas Jalan Lurus akan dibahas di bagian akhir tulisan ini, di antaranya: bagaimana kita semestinya belajar menjadi pembawa kehidupan dan pohon kehidupan, dan juga bagaimana mengembangkan sikap yang sehat dan berintegritas di tengah hiruk-pikuknya paham Post-Truth. Penulis menyebutnya “Beyond Post-Truth.” Kiranya sepercik uraian ini akan berguna bagi para pembaca.   Abstract In this article, the author proposes rebuttal arguments, including against the views of Robert Eisenman in his book James the Brother of Jesus, particularly with regard to Eisenman's identification that the Teacher of Truth mentioned in the Pesher Habakkuk manuscript is James the brother of Jesus (James the Just) and the Man of Lies is the Apostle. Paul. There is quite a lot of controversy surrounding the identity of the Spouter of Lies in the DSS or what is often known as the Qumran manuscripts, one of the hypotheses proposed by one of the Qumran experts, namely Robert Eisenman, is quite controversial. He suspects that based on Josephus' records and other sources, that the Spouter of Lies was none other than the Apostle Paul who wrote most of the letters in the New Testament. Although many other arguments can be put forward to refute Robert Eisenman, in this paper the author focuses more on the spiritual meaning of the controversy between the Master of Truth and the Man of Lies, and its implications for those who are moved to follow the Spirituality of the Straight Path. Some of the direct implications that can be drawn from the Spirituality of the Straight Path will be discussed at the end of this paper, including: how we should learn to be bearers of life and the tree of life, and also how to develop a healthy attitude and integrity in the midst of the hustle and bustle of Post-Truth understanding. The author calls it “Beyond Post-Truth.” Hopefully this little description will be useful for the readers.
Makna “Bertobatlah” Berdasarkan Matius 3:2 Benny Tampubolon
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 5 No. 2 (2022): Holy Spirit inside: How the Holy Spirit works through us and within us
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v5i2.75

Abstract

“Bertobatlah” merupakan bentuk kata kerja aktif yang dilakukan baik bersifat perorangan atau banyak orang. Perintah ini ditujukan kepada obyek pelaku yang tidak berjalan sesuai dengan kehendak Allah. Maka bertobat adalah tindakan yang harus dilakukan seluruh umat manusia karena seluruh umat manusia telah berdosa kepada Allah. Sebab dari kata bertobat sendiri secara etimologi dalam bahasa Yunaninya memiliki pengertian Μετανοεῖτε (Metanoeite) mengubah pikiran, dan tujuan hidup yang mengacu kepada penerimaan terhadap kehendak Allah. Bicara pikiran dan tujuan ialah berurusan dengan batiniah. Dari kata “bertobatlah” ini merupakan satu sikap yang bersedia untuk berubah atau atas dasar keputusan sendiri. Bukan terjadi secara otomatis. Bertobat memiliki konsekuensi yakni percaya kepada YHWH dan berpegang pada hukum-hukum YHWH (di dalam Perjanjian Lama), dan taat kepada Yesus Kristus sebagai Mesias dan ajaran-ajaran-Nya (di dalam Perjanjian Baru). Artinya tatanan hidup manusia didominasi atau diatur oleh peraturan-peraturan-Nya. Dalam tatalaksana bertobat pun terdapat beberapa bagian, di antaranya percaya kepada seluruh berita Injil (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), memberi diiri dibaptis disertai dengan pengakuan dosa sebagai bukti dan memaknakan kerelaan hati untuk membawa diri kepada peralihan hidup, yaitu tidak lagi berjalan atas dasar dan kepentingan diri sendiri melainkan atas kehendak dan tujuan Allah. Selain itu bertobat memiliki kaitannya dengan menerima keselamatan oleh pengampunan dosa dari Allah serta perihal Kerajaan Sorga yaitu karya-karya Allah dalam diri manusia itu. --- Abstract "Repent” is an active verb form that is done either individually or by many people. This command is addressed to the object of the perpetrator who does not go according to God's will. So repenting is an action that must be done by all mankind because all mankind has sinned against God. Because the word repent itself etymologically in Greek has the meaning (Metanoeite) change the mind, and the purpose of life that refers to acceptance of God's will. Talking thoughts and goals is dealing with the inside. From the word "repent" this is an attitude that is willing to change or on the basis of one's own decision. It doesn't happen automatically. Repentance has the consequence of believing in YHWH and keeping YHWH's laws (in the Old Testament), and obeying Jesus Christ as the Messiah and His teachings (in the New Testament). This means that the order of human life is dominated or regulated by His regulations. In the management of repentance there are also several parts, including believing in the entire gospel message (Old Testament and New Testament), giving oneself to be baptized accompanied by confession of sins as evidence and interpreting the willingness of the heart to bring oneself to the transition of life, which is no longer walking on the basis of self-interest but in the will and purpose of Allah. In addition, repenting has something to do with receiving salvation by forgiveness of sins from God and regarding the Kingdom of Heaven, namely the works of God in humans.
The New Covenant at Qumran Andreas Hauw
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 5 No. 2 (2022): Holy Spirit inside: How the Holy Spirit works through us and within us
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v5i2.77

Abstract

This paper discusses what the community at Qumran thought about a new covenant. It covers three manuscripts (Temple Scrolls [11Q19], The Rule of the Community [1QS, 4Q255-264a, 5Q11, 5Q13] and The Damascus Document [4Q266-273, 5Q12, 6Q15]) because they use the phrase “new covenant” and present ideas about this covenant. The proper contexts of the three aforementioned manuscripts, and the phrase “new covenant” found in the OT only once(Jer.31:31), including their theological, political and social values are discussed. In addition, the emphasis on the concept of covenant in each manuscript and how it relates them to each other is explained. This paper concludes that the Qumran community reinterpreted the concept of covenant in a new way influenced by the theological, political and social issues of its time.
THE REPENTANCE MOVEMENT: How the Holy Spirit worked among people in Nias Island: GERAKAN PERTOBATAN: Bagaimana Roh Kudus bekerja di antara orang-orang di Pulau Nias Agustinus Dermawan
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 5 No. 2 (2022): Holy Spirit inside: How the Holy Spirit works through us and within us
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v5i2.78

Abstract

Tulisan ini menjelaskan secara singkat sebuah gerakan kebangkitan di pulau Nias. Pada awal abad ke-20, gerakan Roh Kudus secara luar biasa terjadi di pulau kecil Nias, di lepas pantai timur laut Sumatra, Indonesia. Tanda utamanya adalah berbaliknya ribuan orang kepada Tuhan dan menyebabkan gereja masuk ke dalam pertobatan yang mendalam. Oleh karena itu, gerakan itu disebut fangesa dodo, pertobatan yang agung. Dalam tulisan ini, pertama yang akan dibahas adalah para pelaku dan tanahnya, kemudian latar belakang gereja di Nias, beberapa preseden Revival, dan terakhir jalannya gerakan revival. Semua kajian dalam makalah ini ditulis untuk memperoleh pemahaman dan apresiasi tentang bagaimana Roh Kudus bekerja dalam arus kehidupan manusia. ---- Abstract This paper describes shortly a revival movement in Nias island. In the early part of the 20th century, a remarkable movement of the Holy Spirit took place on the small island of Nias, off the northeast coast of Sumatra, Indonesia. Its main mark was the turning of many thousands to the Lord and causing the church to go into deep repentance. Therefore, the movement has been called fangesa dodo, the great repentance. In this paper, first under consideration, will be the people and the land, then the background of the church in Nias, some precedents of Revival, and finally the course of revival movements. All studies in this paper are written in order to gain an understanding and an appreciation of how the Holy Spirit has been working in the stream of human life.  
Upaya pemikiran rekonstruktif awal terhadap Ekonomi Kerajaan Allah menurut Kitab Taurat: Dan sekelumit tentang kunci keberhasilan koperasi Victor Christianto; Welko Marpaung; Murpin Josua Sembiring
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 5 No. 2 (2022): Holy Spirit inside: How the Holy Spirit works through us and within us
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v5i2.79

Abstract

Salah satu permasalahan utama dalam bidang ekonomi di negeri ini adalah bagaimana menafsirkan dan menjabarkan Pasal 33 UUD 1945. Namun kalau kita melihat kembali perkembangan terkini pemikiran ekonomi, ada setidaknya 3 arus besar pemikiran: mereka yang percaya sepenuhnya akan kedigdayaanekonomi pasar dan maksimalisasi profit (dipertajam oleh Milton Friedman, 1970); mereka yang percaya bahwa ekonomi yang bernuansa sosialis yang akan memberikan keadilan, dengan perkembangan terkini misalnya sistem komunitarianisme dll; dan yang terakhir adalahupaya mencari jalan tengah di antara kedua kubu tersebut, misalnya yang disebut: state capitalism, atau common prosperity (diperkenalkan oleh Presiden RRC, Xi Jinping baru-baru ini). Meski artikel ini tidak bermaksud membahas secara menyeluruh masing-masing pendekatan, namun kami berusaha melihat kembali seperti apakah corak ekonomi KerajaanAllah yang dirancang Tuhan bagi umat-Nya. Artikel ini juga merupakan salah satu upaya untuk merefleksikan Pasal 33 tersebut dalam perspektif altruisme dalam Etika Kristen, khususnya yang berhubungan dengan konsep keramahan (hospitalitas).Dalam makalah ini, kami mengajukan suatu interpretasi ulang atas ayat tersebut berdasarkan konsep yang kami usulkan untuk disebut sebagai ekonomi kesetiakawanan atau"ekonomi hospitalitas." (dalam artikel terdahulu di jurnal NPTRS, kami mengajukan terma “koinomics.” - apakah ekonomi hospitalitas dan koinomics memang sama persis, tentu perludiskusi tersendiri.) Beberapa hal yang kami pertimbangkan dalam usulan ini antara lainadalah (1) manfaat neurosains dari memberi dan bekerjasama (cooperation), (2) tradisi lokal yang memberikan nilai tinggi terhadap persahabatan, (3) budaya keramahan, (4) pendekatananti-utilitarianisme, (5) konsep identitas relasional.   ---- Abstract One of the main problems in the economic field in this country is how to interpret and explain Article 33 of the 1945 Constitution. There have been many attempts to conduct a judicial review of various laws related to Article 33. At the latest developments in economic thought, there are at least three major currents of thought: those who fully believe in the supremacy of the market economy and profit maximization, as sharpened by Friedman (1970); those who believe that a socialist economy will provide justice, with recent developments such as communitarianism, etc.; and those believing in a middle ground between the two camps, as commonly called the state of capitalism or prosperity. The President of the PRC, Xi Jinping, recently introduced the latter. Without discussing each approach thoroughly, we look at the types of the economy the Kingdom of God has designed for His people. This article also aims to reflect on Article 33 from the perspective of altruism in Christian ethics, especially those related to the concept of hospitality (hospitality). Article 33 of the 1945 Constitution says: "The economy is structured as a joint effort based on the principle of the family cooperative." (Note: this is a non-official translation.) Some economists interpret this family principle as "mechanical solidarity," which is considered outdated. We propose a reinterpretation of this verse based on a concept called the solidarity economy, or the "hospitality economy." (In the previous article in the journal NPTRS, we put forward the term "koinomics"—both the economics of hospitality and koinomics are the same, of course, and need a separate discussion.) Some other issues we consider in this paper include (1) the neuroscientific benefits of giving and cooperation, (2) local traditions that place a high value on friendship, (3) a culture of friendliness, (4) an anti-utilitarian approach, (5) the concept of relational identity.
Mindset Health: Embracing Failure as a Paradox of Learning Pedagogy in Higher Education Yahya Afandi
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 5 No. 2 (2022): Holy Spirit inside: How the Holy Spirit works through us and within us
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v5i2.80

Abstract

Kegagalan adalah salah satu fakta kehidupan yang tidak mudah untuk ditangani, khususnya oleh seorang dewasa. Alih-alih menarik pelajaran penting dengan saksama dan detail dari kegagalan yang dialami, ia justru berusaha sejauh mungkin menghindarkan diri dari fakta ini. Artikel ini hendak menyajikan hasil pemikiran Carol Susan Dweck, salah satu Profesor Psikologi dari Stanford University, dalam melakukan pengamatan menarik tentang mekanisme penanganan fakta kegagalan. Dari pengamatannya, Dweck menyadari bahwa kualitas manusia, seperti keterampilan intelektual dapat dikembangkan. Dalam banyak disiplin ilmu, karya Dweck tentang “mindset” atau pola pikir, telah dikaitkan dengan berbagai keberhasilan akademik para peserta didik. Melalui penelitiannya tersebut, Dweck memperkenalkan dua istilah, yaitu “fixed and growth mindset” yang menjelaskan akibat dari keengganan terhadap risiko dan kegagalan dalam perkembangan pembelajaran. Kelompok dengan pola pikir tetap “Fixed Mindset” (FM) memandang sifat dan kecerdasan sebagai bawaan yang cenderung mengikat identitas antara kesuksesan dan kinerja, yang sering menyebabkan ketidaknyamanan terhadap kegagalan. Sedangkan orang- orang dengan pola pikir berkembang “Growth Mindset” (GM) memandang diri mereka sendiri sebagai sesuatu yang dapat berubah melalui pembelajaran, termasuk kebutuhan untuk mencoba hal-hal baru untuk maju. Orang dengan pola pikir berkembang mengaitkan kesalahan dan kegagalan dengan pembelajaran serta peningkatan yang positif—bukan hal negatif. Melalui tema ini, penulis menawarkan “embracing failure” sebagai sebuah paradoks pedagogis yang penting untuk menjalani dinamika proses pembelajaran teologi secara kritis dan kreatif sekaligus proses pembentukan diri sebagai seorang pelayan Injil yang berdaya lenting dan relevan di tengah era disruptif ini.   === Abstract Failure is a difficult reality to accept, especially as an adult. Instead of carefully and thoroughly drawing important lessons from his failures, he attempted to avoid this fact as much as possible. This article would like to present the ideas of Carol Susan Dweck, a Stanford University Professor of Psychology, who has made some interesting observations about the mechanism for dealing with the fact of failure. Dweck realized that human qualities, such as intellectual skills, could be developed based on her observations. Dweck's work on "mindset" has been linked to various academic successes of students across many disciplines. Dweck's research introduced two terms, "fixed and growth mindset," which describe the effects of risk aversion and failure in learning development. Groups with a "Fixed Mindset" (FM) view traits and intelligence as innate, which tends to tie the identity between success and performance, causing discomfort when a failure occurs. People with a growth mindset (GM), on the other hand, see themselves as something that can change through learning, including the need to try new things in order to advance. Mistakes and failures are associated with positive learning and improvement in people with a growth mindset, not negative ones. Through this theme, the author proposes "embracing failure" as a pedagogical paradox necessary for critically and creatively experiencing the dynamics of the theological learning process, as well as the process of self-formation as a resilient and relevant gospel minister in the midst of this disruptive era.
Keseimbangan hidup sebagai landasan manajemen waktu: Sebuah Refleksi Teologis: Life balance as a cornerstone of time management: A Theological Reflection Gani Wiyono
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 5 No. 2 (2022): Holy Spirit inside: How the Holy Spirit works through us and within us
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v5i2.81

Abstract

Kerja/karir kerap kali menjadi oposan dari keluarga, Gereja, dan masyarakat. Kalau begitu, haruskah kita mengambil langkah 'iman' dengan mengabaikan kerja demi yang namanya keluarga, Gereja atau masyarakat. Tentu saja itu bukan pilihan yang bijaksana. Yang perlu dilakukan di sini adalah hidup seimbang.   ---- Abstract Work/career is often opposed by family, church, and society. If so, should we take the step of 'faith' by ignoring work for the sake of family, church or society. Of course it's not a wise choice. What needs to be done here is a balanced life.
Book review: Pentecost, This story is our story - by Robert P. Menzies Victor Christianto
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 6 No. 2 (2023): Pentakostalisme di abad ke-21
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v6i2.113

Abstract

Ulasan buku kali ini adalah mengenai karya Dr. Robert P. Menzies, Pentecost: This story is out story.
Konsep Keheningan Menurut St. Maximus The Confessor: Proses Mencapai Pemurnian Jiwa, Keheningan berarti menjaga indra, Nera Generasi Hia; Ruby Hatlan
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 6 No. 2 (2023): Pentakostalisme di abad ke-21
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v6i2.105

Abstract

Abstrak Artikel ini menganalisis bagaimana sudut pandang St. Maximus dalam buku The Philokalia tentang hidup dalam keheningan. Keheningan merupakan doa batin yang dilakukan terus menerus untuk menjaga diri dari segala hal godaan duniawi. Keheningan adalah sebuah cara bagi manusia untuk menjaga hati dan pikiran dari serangan iblis. Menjaga hati dan pikiran adalah salah satu cara untuk mendatangkan kebajikan. Oleh sebab itu, keheningan merupakan sebuah latihan asketisme untuk mencapai pemurnian jiwa. Latihan asketisme dapat dilakukan dengan pengendalian diri dan doa murni.   Abstract in English This article analyzes how St. Maximus in the book The Philokalia about living in silence. Silence is an inner prayer that is done continuously to protect one self from all worldly temptations. Silence is a way for humans to protect their hearts and minds from demonic attacks. Guarding the heart and mind is one way to bring goodness. Therefore, silence is an exercise in asceticism to achieve soul purification. The practice of asceticism can be practiced by self control and pure prayer.

Page 7 of 11 | Total Record : 107