cover
Contact Name
Cresensius Hanny Kurniawan
Contact Email
jurnalamreta@sttsati.ac.id
Phone
+6287859937095
Journal Mail Official
jurnalamreta@sttsati.ac.id
Editorial Address
Jln. Raya Karanglo 94-103, Banjararum, Singosari, Malang
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teologi Amreta
ISSN : -     EISSN : 25993100     DOI : 10.54345
Amreta Theology Journal is a bilingual semi scientific journal aimed at developing and advancing written works in the fields of Theology
Articles 107 Documents
Rethinking Contemporary Church: Graph dynamics, Trinity interpretation, and hidden role of women as missional networkers Victor Christianto
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 7 No. 1 (2023): Praying and Living in the Holy Spirit
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v7i1.128

Abstract

“The times they are a-changin’,” as Bob Dylan wrote his famous song. We all agree with that remark, and it is so timely to speak how the church today needs to be in a-changin’. The question, though, is what kind of change the church is seeking to embrace? Is it in Christology, or liturgy, or Ecclesiology. Perhaps many theologians try to rethink their Christology positions, but few dare to admit there are a number of pressing questions in Ecclesiology old thoughts, as Jim Petersen wrote. The present article explores beyond mere daily questions such as Strauch explored (1986), but we ask questions related to persistent hierarchy which may be quite too rigid for embracing many new technologies, such as graph network. We extend further ideas that we discuss previously (Simon & Christianto, 2020). More than that since several years ago, there have been various discussions regarding how the post-Covid-19 situation will affect churches throughout the world. Although several books have been published on how church leaders should adapt to respond to these new circumstances, such reports seem rather reactive rather than looking in depth at the current ecclesiological challenges posed by Covid-19. Some churches have explored potential implications of the liquid church model as suggested by Prof. Pete Ward, inspired by sociologist Zygmunt Bauman. In this short article, the author invites readers to learn from small and simple churches, especially from a graph dynamics/network theory perspective. Therefore, in this initial report, let us discuss a graph interpretation of the God Trinity and its implications for the church graph model. We continue our previous article in the Amreta Journal, where we discussed a simple church model inspired by the interpretation of the John Gospel chapter 1; i.e. when Jesus called His first disciples to follow Him, cf. for example the free church model considered by Miroslav Volf from the Gospel of Matthew 17. Taking into account the earliest Christian communities that have grown in the past, especially in the era of the first centuries AD, as explained by Wim Dryer etc., let us put forward a proposition: that many of the serious obstacles faced by churches today can only be responded to properly by rethinking shared testimony and experience among networks or relationships of friends. In other words, rapid spreading of the Great Good News from God could only be achieved by introducing a new type of social analysis, called graph theory and network dynamics. We will discuss some implications in particular for the often hidden role of women in developing and propagating these ecclesiastical missional networks. To conclude, it is this writer’s hope that such an in-depth viewpoint will bring several insights into how to connect between ecclesiological praxis of the early Christian churches and the 21st century churches, especially in many regions of the world where the body of Christ is under severe persecution.
MENCINTAI ALAM SEBAGAI BAGIAN DARI IMAN : TELAAH EKOLOGIS DARI INJIL MARKUS 12:28-31 Tangke Tasik, Angelicha
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 7 No. 2 (2024): How The Holy Spirit renew our Earth and our hearts
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v7i2.131

Abstract

Artikel ini membahas pendekatan ekologis terhadap kepercayaan agama, khususnya dalam konteks pengajaran Injil Markus 12:28-31. Fokusnya adalah untuk mengeksplorasi hubungan antara iman dan tanggung jawab lingkungan, menyoroti ajaran Yesus Kristus tentang kasih bagi Allah dan sesama manusia. Diskusi melibatkan konsep mengasihi Tuhan dan sesama, seperti yang diajarkan dalam Injil Markus, yang dapat diperluas untuk mencakup kewajiban terhadap alam. Inti dari artikel ini adalah pemahaman tentang bagaimana tindakan yang mendukung konservasi alam dapat mencerminkan iman seseorang. Selain itu, artikel ini membahas relevansi ajaran ini dalam menghadapi tantangan ekologi modern dan panggilan untuk mengembangkan kesadaran ekologis dalam praktik keagamaan. Artikel ini menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai ekologis dalam perspektif agama Kristen.   Abstract This article discusses an ecological approach to religious belief, especially in the context of the teaching of the Gospel of Mark 12:28-31. The focus is to explore the relationship between faith and environmental responsibility, highlighting the teachings of Jesus Christ about love for God and fellow humans. The discussion involves the concept of loving God and neighbor, as taught in the Gospel of Mark, which can be expanded to include obligations towards nature. The essence of this article is an understanding of how actions that support nature conservation can reflect one's faith. In addition, this article discusses the relevance of this teaching in facing modern ecological challenges and the call to develop ecological awareness in religious practice. This article emphasizes the importance of integrating ecological values in a Christian religious perspective.
Belajar tunduk sepenuhnya kepada Bapa seperti Yesus : (Injil Matius 26 : 39) Ashari Palilu, Saskia Lilia
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 7 No. 2 (2024): How The Holy Spirit renew our Earth and our hearts
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v7i2.132

Abstract

Abstrak Tujuan penulisan jurnal ini yaitu untuk menelusuri makna dan implikasi ketundukan Yesus kepada Bapa dalam konteks kehidupan kita. Ketundukan Yesus kepada Bapa adalah salah satu aspek terpenting dalam kehidupan-Nya.  Yesus menunjukkan ketaatan yang luar biasa kepada Bapaknya dalam kehidupannya di bumi.  Dia menempatkan kehendak Tuhan di atas segalanya dan hidup dalam ketaatan yang sempurna.  Dalam Matius 26:39, ketika Yesus berdoa di Taman Getsemani sebelum penyaliban-Nya, Yesus dengan rendah hati meminta agar cawan penderitaan yang Ia alami disingkirkan, namun pada akhirnya Ia berserah diri sepenuhnya pada kehendak Bapa. Penyerahan Yesus kepada Bapa mempunyai makna yang dalam. Hal ini menunjukkan kasih, ketaatan dan ketergantungan yang tak tergoyahkan pada Bapa. Dalam kepasrahannya, Yesus mengungkapkan kedekatan hubungan antara Bapa dan Anak serta kesempurnaan kehendak-Nya dalam melaksanakan rencana keselamatan Allah. Konsekuensi ketundukan Yesus kepada Bapa sangatlah penting bagi umat Kristiani. Kita dipanggil untuk mengikuti jejak-Nya dan hidup dalam ketundukan kepada Tuhan. Jika kita meneladani penyerahan diri Yesus, kita bisa mengalami perubahan hidup yang sangat besar. Ketundukan kepada Tuhan mendatangkan kedamaian, kegembiraan, dan kemakmuran sejati. Kata kunci : ketundukan, yesus, Bapa, kehendak allah kehidupan Kristiani   Abstract The purpose of writing this journal is to explore the meaning and implications of Jesus' submission to the Father in the context of our lives. Jesus' submission to the Father was one of the most important aspects of His life. Jesus showed extraordinary obedience to his Father in his life on earth. He placed God's will above all else and lived in perfect obedience. In Matthew 26:39, when Jesus prayed in the Garden of Gethsemane before His crucifixion, Jesus humbly asked that the cup of suffering He experienced be removed, but in the end He submitted completely to the will of the Father. Jesus' submission to the Father has a deep meaning. This shows unwavering love, obedience and dependence on the Father. In his surrender, Jesus revealed the close relationship between the Father and the Son and the perfection of His will in carrying out God's plan of salvation. Jesus' submission to the Father is very important for Christians. We are called to follow in His footsteps and live in submission to God. If we imitate Jesus' message, we can experience huge life changes. Submission to God brings true peace, joy, and well-being. Key words: submission, Jesus, Father, God's will for Christian life  
Psikologi Cinta Tuhan Dalam Metafora Mempelai Terhadap Perubahan Karakter orang Kristen Walui, Donny
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 7 No. 2 (2024): How The Holy Spirit renew our Earth and our hearts
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v7i2.147

Abstract

Di era postmodern ini, terdapat banyak orang-orang Kristen yang hanya sekedar rutinitas ke gereja untuk ibadah tetapi hatinya tidak mencintai Tuhan dibuktikan dengan sikap dan perbuatan sehari-hari yang tidak mencerminkan seseorang tersebut menyenangkan Tuhan. Berdasarkan analisis pendekatan kualitatif, ditemukan bahwa penyebab utama adalah karena banyak orang Kristen yang mencintai dunia lebih dari mencintai Tuhan. Untuk bisa menanggulangi hal ini pertama membuka pemahaman dalam mencintai Tuhan lewat bantuan ilmu psikologi dengan membandingkan cinta mempelai terkait metafora Tuhan Yesus sebagai mempelai pria dan orang Kristen sebagai mempelai wanita. Adapun hasil yang diperoleh adalah dengan memahami cinta mempelai yang begitu kuat, yang mampu merubah karakter, menjadikan orang Kristen termotivasi untuk menerapkan cinta kepada Tuhan lebih dari apapun yang ada dalam dunia ini sehingga merubah karakter orang Kristen yang terus menyenangkan dan memprioritaskan Tuhan.
Blackaby, Henry. Apa yang Roh Kudus katakan pada Gereja Victor Christianto
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 7 No. 1 (2023): Praying and Living in the Holy Spirit
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v7i1.148

Abstract

Resensi buku: Blackaby, Henry. Apa yang Roh Kudus katakan pada Gereja
Joyner, Rick. Overcoming Evil in the Last days. Victor Christianto
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 7 No. 1 (2023): Praying and Living in the Holy Spirit
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v7i1.149

Abstract

Resensi buku: Joyner, Rick. Overcoming Evil in the Last days.
Menyingkap misteri Ilahi: Kajian filsafat mengenai eksistensi Tuhan yang didasarkan pada Iman Kristen Surianto Laia, Dedi
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 7 No. 2 (2024): How The Holy Spirit renew our Earth and our hearts
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v7i2.151

Abstract

Keberadaan Tuhan adalah suatu hal yang terus dipertanyakan oleh manusia. Manusia mengandalkan akal dan pengetahuannya untuk mencari tahu tentang keberadaan Tuhan, walaupun manusia tidak pernah menemukan kepastian akan keberadaan Tuhan. sehingga berbagai anggapan manusia tentang Tuhan muncul, bahwa Tuhan tidak ada; dan sebagian manusia menyangkal dan menolak akan keberadaan Tuhan. Melalui eksplorasi yang terus dilakukan oleh manusia namun mustahil manusia mampu memahami dan mengetahui keberadaan Tuhan secara sempurna karena Tuhan sifatnya transenden tidak terbatas sedangkan manusia bersifat imanen atau terbatas adanya. Sehingga dalam penulisan srtikel ini, penulis mengkaji melalui perspektif filsafat yang didasarkan pada iman Kristen, benarkah Tuhan itu tidak ada? Apakah Tuhan hanyalah khayalan manusia? Banyak sekali manusia khususnya kelompok-kelompok tertentu yang tidak percaya adanya Tuhan dan menganggap bahwa seseorang yang percaya akan adanya Tuhan merupakan suatu kebodohan. Dengan memanfaatkan konsep Teologi Kristen dan pemikiran filsafat, artikel ini membahas argumen-argumen yang digunakan dalam membuktikan eksistensi Tuhan yang tidak terlepas dari perspektif iman kekristenan. Filsafat telah lama menjadi sarana untuk memahami dan menggali pemahaman akan eksistensi Tuhan dalam berbagai tradisi Kristen. Penulis menyajikan beberapa argumen filosofis yang digunakan oleh para teolog kristen untuk mendukung keyakinan akan keberadaan Tuhan dan juga membahas kontribusi pemikiran para filsuf Kristen yang terkemuka dalam merumuskan pandangan tentang eksistensi Tuhan. Dengan mempertimbangkan sudut pandang filsafat, artikel ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana iman Kristen memandang eksistensi Tuhan dan bagaimana filsafat dapat berperan dalam memperkuat keyakinan tersebut. Kesimpulannya, artikel ini menyajikan pandangan tentang bagaimana kajian filsafat berguna dalam memahami dan merenungkan eksistensi Tuhan, terutama dalam kerangka iman Kristen.
Kebangkitan Tubuh dalam Perspektif Teologi Sistematika: Kajian Tentang Konsep Keselamatan halawa, jonius
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 7 No. 2 (2024): How The Holy Spirit renew our Earth and our hearts
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v7i2.154

Abstract

Doktrin kebangkitan tubuh memegang peran sentral dalam memahami konsep keselamatan secara utuh dalam teologi sistematika Kristen. Doktrin ini menegaskan bahwa keselamatan tidak hanya mencakup aspek rohani semata, tetapi juga jasmani. Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian secara jasmani menjadi dasar dan jaminan bagi kebangkitan tubuh orang percaya, menunjukkan kemenangan atas dosa dan kematian serta membuka jalan bagi keselamatan yang lengkap. Kebangkitan tubuh memiliki implikasi luas, seperti menegaskan bahwa Allah peduli dengan ciptaan fisik, memberikan harapan pemulihan dan penyembuhan total, serta mendorong penghargaan terhadap tubuh sebagai bait Roh Kudus. Dalam kajian ini, kebangkitan tubuh dipandang sebagai sumber pengharapan, kekuatan, dan motivasi bagi orang Kristen dalam menjalani kehidupan di dunia ini serta mengantisipasi keselamatan yang lengkap di akhirat.
Membaca Kisah Para Rasul 1:1-11 dalam terang hari kenaikan Yesus Kristus Christianto, Victor
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 7 No. 2 (2024): How The Holy Spirit renew our Earth and our hearts
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v7i2.155

Abstract

ABSTRAKDalam beberapa tahun ini ada perdebatan yang cukup seru dikalangan akademisi khususnya yang bercorak Pentakostal,termasuk: seberapa jauh perbedaan antara hermeneutika Injili padaumumnya dan hermeneutika Pentakostalisme? Misalnya, dalam membaca Kis 1:1-11, perhatian kita mungkin langsung terserap kekata kuasa atau dunamis. Benar, ini kata yang ajaib bagi banyakorang, bahkan pak Menzies telah menulis tentang EmpoweringSpirit. Dalam uraian ini kita meneliti hal-hal yang kiranya jarangatau luput dari pembahasan pada umumnya. ABSTRACTIn recent years there has been quite an exciting debate amongacademics, especially those with a Pentecostal style, including: howfar is the difference between Evangelical hermeneutics in generaland Pentecostalist hermeneutics? For example, in reading Acts 1:1-11, our attention may be immediately drawn to the words power ordunamis. It's true, this is a magical word for many people, even Dr.Menzies has written about Empowering Spirit. In this description wediscuss things that are rarely discussed or overlooked in general.
Manusia Menjadi Tuhan? Suatu Evaluasi Teologis-Apologetis terhadap pemikiran Yuval Noah Harari Tentang Manusia Bong, Ivan
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 7 No. 2 (2024): How The Holy Spirit renew our Earth and our hearts
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v7i2.157

Abstract

Perkembangan homo sapiens yang begitu signifikan memunculkan berbagai macam isu yang mengancam Kekristenan.  Salah satu isu yang mengancam Kekristenan terkait dengan homo sapiens yang bisa menjadi tuhan disampaikan oleh Yuval Noah Harari dalam triloginya, yaitu Sapiens: A Brief History of Humankind, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow, dan 21 Lessons of The 21st Century.  Argumentasi yang diajukan oleh Harari berdasar pada teori evolusi.  Demikian penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bahwa argumentasi Yuval Noah Harari mengenai manusia yang menjadi tuhan yang disampaikannya dalam triloginya tidak dapat dibenarkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Literature Review.  Melaluinya, peneliti akan menelaah trilogi yang ditulis oleh Yuval Noah Harari, namun hanya dibatasi pada konsep manusia.  Telaah yang dilakukan menggunakan literatur Kristen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka argumentasi Harari terkait dengan konsep homo sapiens yang menjadi tuhan tidak bisa dipertahankan.  Perkembangan homo sapiens yang disampaikan oleh Harari tidak realistis, karena tidak memiliki cukup bukti rasional dan empiris. Berdasarkan hasil telaah yang telah dilakukan, konsep Harari mengenai homo sapiens yang menjadi Tuhan tidak dapat dibenarkan berdasarkan doktrin Kristen.

Page 9 of 11 | Total Record : 107