cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285722923393
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Prodi Pengembangan Kurikulum, Gedung Sekolah Pascasarjana UPI Lt. 6 Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : -
curriculum development; curriculum design; curriculum implementation; curriculum evaluation; instructional development; model of instructional; media of instructional; evaluation of instructional
Articles 295 Documents
Penerapan Teknologi Imersif pada Axioo Class Program di jenjang SMK Ryan Yovanda; Gege Mulyani; Nuriska Garnitasari
Inovasi Kurikulum Vol 17, No 2 (2020): Inovasi Kurikulum, August 2020
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2314.335 KB) | DOI: 10.17509/jik.v17i2.37143

Abstract

Revolusi 4.0 membuat kemajuan di segala aspek, baik sosial, ekonomi, budaya, bahkan pendidikan, yang sangat terlihat adalah berkembangnya teknologi di semua aspek. Banyak aspek selalu menggunakan teknologi, seperti pendidikan dimana para pengajar sekarang memanfaatkan teknologi untuk berlangsungnya proses pembelajaran, ini memberi kesempatan kepada perusahaan teknologi untuk membantu proses terjadinya tujuan pembelajaran bahkan pendidikan, salah satunya adalah perusahaan axioo yang bekerja sama dengan sekolah-sekolah, khususnya SMK untuk mendesain kelas yang di dalamnya menggunakan teknologi saat proses pembelajaran, bahkan memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mencoba merakit perangkat elektronik seperti komputer, laptop dan sebagainya.Kata Kunci: Axioo; Axioo Class Program; Smartclass AbstractRevolution 4.0 made progress in all aspects, both social, economic, cultural, even education, that is so obvious is that the development of technology in almost every aspect has always been technology, like education where teachers now utilize technology to help the learning process, giving technology the opportunity to help the purpose of learning even education. One of them is axioo companies that work with schools, particularly Vocational School to design classes that inside use technology during the learning process, even giving students the opportunity to try to assemble electronic devices like computers, laptops, etc.
Pentingnya Landasan Psikologis dalam Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Lilis Yuliawati
Inovasi Kurikulum Vol 5, No 1 (2008): Inovasi Kurikulum, February 2008
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.826 KB) | DOI: 10.17509/jik.v5i1.35627

Abstract

Kurikulum sebagai rancangan dari pendidikan, mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam keseluruhan kegiatan pendidikan, menentukan proses pelaksanaan dan hasil daripada pendidikan. Mengingat begitu pentingnya peranan kurikulum didalam pendidikan dan didalam perkembangan kehidupan manusia, maka pengembangan kurikulum tidak dapat sembarangan. Demikian pula dalam pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pengembangan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Salah satu landasan yang berkaitan dengan peranan anak dalam pengembangan kurikulum adalah landasan psikologis. Implikasi dari psikologis merupakan salah satu landasan pengembangan kurikulum yakni kepada para guru sebagai desainer, developer dan sekaligus sebagai barisan paling depan yakni sebagai implementor kurikulum.
Adaptasi Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini di Masa Pandemi Covid-19 M. Megandarisari
Inovasi Kurikulum Vol 18, No 1 (2021): Inovasi Kurikulum, February 2021
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1900.226 KB) | DOI: 10.17509/jik.v18i1.35868

Abstract

Covid-19 memberikan dampak pada berbagai bidang dan aspek kehidupan manusia, termasuk Pendidikan. Pendidikan Anak Usia Dini yang menerapkan sistem belajar dari rumah, tentu harus melakukan adaptasi pada kurikulum pembelajaran. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan bagaimana proses adaptasi kurikulum pendidikan anak usia dini pada berbagai aspek, berikut dengan tantangan yang dihadapi oleh pihak-pihak yang terlibat dalam prosesnya, serta solusi alternatif untuk mengatasi berbagai hambatan yang ada. Pendekatan penelitian yang digunakan yakni penelitian kualitatif, dengan metode studi literatur. Dari hasil pengolahan data, dapat disimpulkan bahwa dalam kurikulum pada kondisi khusus untuk Pendidikan Anak Usia Dini yang telah dirancang oleh Kemendikbud, dijelaskan beberapa hal terkait pelaksanaan kurikulum, prinsip pembelajaran, sampai kepada asesmen pembelajaran di masa pandemi. Implementasi kurikulum pada kondisi khusus dapat berjalan secara optimal dengan adanya kerjasama yang baik antara para pihak yang terlibat dalam implementasi, antara lain pengelola sekolah, guru, peserta didik, serta orang tua yang mendampingi anak belajar di rumah.Kata Kunci: Kurikulum, Pendidikan Anak Usia Dini, Pandemi Covid-19 Covid-19 has an impact on various fields and aspects of human life, including education. Early Childhood Education that implements the learning from home’s system, need to adapt to the curriculum. This study aims to describe the process of adapting the early childhood education curriculum in various aspects, such as: the challenges faced by the parties involved in the process, as well as alternative solutions to overcome various existing obstacles. The research approach used is qualitative research, with literature study method. The conclusion of this research is in the curriculum in special conditions for Early Childhood Education that has been designed by the Ministry of Education and Culture, several things are explained related to curriculum implementation, learning principles, and also learning assessments during the pandemic. Curriculum implementation in special conditions could be implemented optimally when the peoples involved in implementation were able to collaborating well, including school managers, teachers, students, and parents who accompany children to study at home.
Peningkatan Profesional Guru Melalui Pelatihan Pendekatan Kemitraan R. Rayendra
Inovasi Kurikulum Vol 17, No 1 (2020): Inovasi Kurikulum, February 2020
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1682.091 KB) | DOI: 10.17509/jik.v17i1.36892

Abstract

Pengembangan SDM guru dan tenaga kependidikan bertujuan memberikan kesempatan kepada guru dan tenaga kependidikan untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap individu sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan di sekolah. Pembinaan kemitraan melibatkan pelatihan satu lawan satu dari seorang guru oleh pelatih dengan tujuan untuk memperbaiki pengajaran dan pembelajaran siswa. Penerapan program pembinaan instruksional secara efektif adalah fokus pada pendekatan kemitraan. Pelatih instruksional memberikan kontribusi yang sangat penting untuk perbaikan sekolah dengan bermitra dengan guru untuk membantu mereka menemukan cara yang lebih baik untuk menjangkau lebih banyak siswaKata Kunci: Profesional Guru; Pelatihan; Pendekatan Kemitraan AbstractThe development of human resources for teachers and education personnel aims to provide opportunities for teachers and education personnel to develop and express themselves according to the needs, talents, and interests of each individual in accordance with the conditions needed in schools. Partnership building involves one-on-one training of a teacher by a trainer with the aim of improving student teaching and learning. The implementation of an effective instructional coaching program is a focus on a partnership approach. Instructional trainers make a critical contribution to school improvement by partnering with teachers to help them find better ways to reach more students.
Pengembangan Kurikulum Program Studi Diploma III Analis Kesehatan Berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Asep Fithri Hilman
Inovasi Kurikulum Vol 5, No 1 (2008): Inovasi Kurikulum, February 2008
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.769 KB) | DOI: 10.17509/jik.v5i1.35618

Abstract

Penelitian tentang cara menurunkan standar kompetensi menjadi mata kuliah yang sanggup mengakomodir kebutuhan kompetensi pada program studi Diploma III Analis Kesehatan. Temuan yang dihasilkan dari penelitian ini adalah ; 1) cara menurunkan standar kompetensi menjadi mata kuliah yang bisa mengakomodir kompetensi, 2) Cara menghitung bobot mata kuliah dan 3) struktur kurikulum Pendidikan Diploma III Analis Kesehatan. Tahapan menurunkan standar kompetensi menjadi mata kuliah adalah : 1) membuat daftar kompetensi yang memuat unit-unit kompetensi yang sesuai digunakan sebagai bahan pengembangan kurikulum pendidikan diploma III Analis Kesehatan, 2) mengidentifikasi elemen-elemen/sub kompetensi, 3) menentukan gatra pembelajaran untuk setiap elemen kompetensi, 4) menurunkan setiap elemen kompetensi kedalam ranah pembelajaran menurut klasifikasi Bloom, 5) mengidentifikasi kedalaman setiap ranah dan membuat perkiraan mata kuliah, 6) membuat daftar/tabel penjabaran kompetensi dan sub kompetensi ke dalam ranah, 7) membuat daftar/table mata kuliah yang dihaslikan dari penjabaran kompetensi/sub kompetensi, 8) mereduksi ranah pembelajaran dari daftar mata kuliah apabila ada mata kuliah yang memiliki ranah pembelajaran dengan tujuan pembelajaran yang sama/mirip, 9) menghitung bobot mata kuliah dan 10) membuat struktur mata kuliah. Cara menghitung bobot sks mata kuliah adalah dengan cara membagi yang terbagi menjadi 38 mata kuliah. Dari jumlah tersebut 96 sks bobot mata kuliah yang dimiliki mata kuliah tersebut dengan jumlah bobot total seluruh mata kuliah yang dihasilkan kemudian dikalikan dengan jumlah sks yang akan dibuat. Berdasarkan kedua tahapan ini dihasilkan struktur kurikulum Pendidikan Diploma III Analis Kesehatan dengan jumlah sks sebanyak 110 atau 32 mata kuliah merupakan mata kuliah yang diturunkan dari SKKNI yang pada struktur kurikulum dimasukan pada kelompok mata kuliah kompetensi dasar sebanyak 19 sks (13 mata kuliah), dan kompetensi utama sebanyak 77 sks (19 mata kuliah), 14 sks lainnya bukan merupakan penurunan dari SKKNI dan dikelompokkan kedalam mata kuliah kompetensi dasar umum.
Evaluasi Kurikulum Pendidikan Dasar: Satu Usulan Erliany Syaodih
Inovasi Kurikulum Vol 6, No 2 (2009): Inovasi Kurikulum, August 2009
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.424 KB) | DOI: 10.17509/jik.v6i2.35700

Abstract

Pendidikan dasar merupakan wilayah fundamental  bagi pengembangan  sumber  daya manusia.KTSP pada Pendidikan  Dasar sewajarnya dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, diarahkan pada berbagai tuntutan dan kebutuhannya di masyarakat dan untuk masa depan. Implementasi KTSP untuk Pendidikan Dasar  membutuhkan kesiapan berbagai perangkat dan sumber daya manusia, termasuk alat ukur tingkat keberhasilannya. Evaluasi KTSP untuk pendidikan dasar sewajarnya diarahkan pada setiap wilayah kurikulum secara terintegrasi, baik dari sisi ide, dokumen, desain, implementasi dan perangkat-perangkat kurikulum. Kendati saat ini implementasi KTSP pada tingkat Pendidikan Dasar belum sempurna namun selayaknya perangkat evaluasi sudah disiapkan.
Peranan Rintisan dalam Pembaruan Kurikulum R Ibrahim
Inovasi Kurikulum Vol 1, No 1 (2004): Inovasi Kurikulum, February 2004
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.427 KB) | DOI: 10.17509/jik.v1i1.35606

Abstract

Setiap upaya pembaruan, termasuk pembaruan kurikulum, memerlukan fase rintisan di mana kurikukum baru dilaksanakan dalam skala kecil untuk keperluan pembenahan atau pemantapan sebelum disebarluaskan ke dalam skala yang lebih besar sampai akhirnya diberlakukan secara nasional. Fase rintisan kegiatannya meliputi uji coba dalam hal aspek efektivitas, efisiensi, dan kelaikan/keterlaksanaan. Selain itu, selama fase rintisan, peranan evaluasi juga memiliki peranan yang sangat penting, dan paling tidak, ada tiga jenis evaluasi yang perlu dilakukan selama fase rintisan yaitu evaluasi sumberdaya, evaluasi proses, dan evaluasi hasil. Melalui ketiga jenis evaluasi tersebut, diharapkan dapat diperoleh informasi yang berguna untuk dijadikan masukan bagi pengambilan keputusan tentang pembenahan atau pemantapan program dalam aspek efektivitas, efisiensi, dan kelaikan selama dan pada akhir fase rintisan tersebut
Penerapan Pembelajaran Berbasis Komputer (Computer Based Instruction) Model Tutorial Muhammad Nurhalim
Inovasi Kurikulum Vol 6, No 1 (2009): Inovasi Kurikulum, February 2009
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.645 KB) | DOI: 10.17509/jik.v6i1.35688

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas CBI model tutorial untuk meningkatkan hasil belajar siswa dibanding dengan model konvensional yang digunakan guru pada mata pelajaran Biologi di Madrasah Aliyah Negeri se-Kota Bandung, sedangkan tujuan khususnya adalah untuk mengetahui perencanaan pembelajaran, perbedaan hasil belajar antara kedua model (PBK model tutorial dengan pembelajaran konvensional yang dilakukan oleh guru), mengidentifikasi faktor pendukung keberhasilan, mengetahui kelebihan dan kekurangan CBI model tutorial pada mata pelajaran Biologi di Madrasah Aliyah Negeri se-Kota Bandung. Hasil dalam penelitian ini secara umum dapat disimpulkan bahwa PBK model tutorial lebih efektif di dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan pembelajaran konvensional yang dilakukan oleh guru. Adapun hasil secara khusus meliputi: (1) perencanaan pembelajaran meliputi dua kategori yaitu membuat administrasi umum (pembuatan silabus dan RPP) dan penjabaran RPP ke dalam software PBK model tutorial; (2) terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara PBK model tutorial dengan pembelajaran konvensional yang dilakukan guru; (3) faktor yang menentukan keberhasilan meliputi: faktor pendukung (sarana dan prasarana, sumber daya pelaksana, dukungan pihak terkait) dan faktor penghambat (sarana prasarana, sumber daya pelaksana, waktu, dukungan pihak terkait dan biaya); (4) kelebihan PBK model tutorial meliputi: keefisienan software program, kemudahan pengorganisasian materi, kelebihan yang berkaitan dengan fungsi dan kegunaan dari program tutorial, kelebihan yang berkenaan dengan fungsi dan kelebihan media, sedangkan kekurangan PBK model tutorial meliputi: ketergantungan pembelajaran terhadap sarana,ketergantungan dengan kualitas software program, dan ketergantungan terhadap kemampuan subjek pengguna.
Pendidikan Profesi Guru (PPG) Pariwisata Woro Priatini
Inovasi Kurikulum Vol 17, No 1 (2020): Inovasi Kurikulum, February 2020
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2192.123 KB) | DOI: 10.17509/jik.v17i1.36770

Abstract

Sektor pariwisata menghasilkan devisa bagi negara. Dalam perkembangannya, terdapat sejumlah tantangan dan hambatan. Demikian pula, sektor pendidikan mempunyai kondisi yang sama. Untuk itu, perlu dilakukan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Kepariwisataan memiliki kompetensi meliputi Sikap, Pengetahuan dan Keterampilan Keprofesian Guru. Kegiatan akademik semester pertama lokakarya pengembangan perangkat pembelajaran, presentasi hasil pengembangan perangkat pembelajaran, dan peer-teaching, serta pendalaman atau penguatan materi bidang studi/keahlian. Kegiatan akademik semester kedua berupa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dan bagi PPG kejuruan ada kegiatan praktik di industri. Dengan program tersebut, diharapkan PPG Pariwisata memberikan penguasaan pedagogik, dan program keahlian khusus kepariwisataan.Kata Kunci: Guru Pariwisata; Pariwisat;, Pendidikan Profesi Guru (PPG) AbstractThe tourism sector generates foreign exchange for the country. In its development, there are a number of challenges and obstacles. Likewise, the education sector has the same conditions. For this reason, it is necessary to carry out a Tourism Professional Teacher Education (PPG) program that has competencies covering attitudes, knowledge and professional skills of teachers. The academic activities of the first semester are workshops on developing learning tools, presentations of the results of developing learning tools, and peer teaching, as well as deepening or strengthening material in the field of study/skills. The second semester academic activities are in the form of Field Experience Practice (PPL), Classroom Action Research (PTK), and for vocational PPG, there are practical activities in industry. With this program, it is hoped that PPG Tourism will provide pedagogic mastery and special tourism expertise programs.
Pemanfaatan Media Pembelajaran Berbasis Video dalam Penyampaian Konten Pembelajaran Ratu Sylvia Ridwan; Isra Al-Aqsha; Ginanda Rahmadini
Inovasi Kurikulum Vol 18, No 1 (2021): Inovasi Kurikulum, February 2021
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3971.725 KB) | DOI: 10.17509/jik.v18i1.37653

Abstract

Dalam proses pembelajaran sering kali ditemukan hambatan-hambatan yang dialami oleh siswa. Hambatan tersebut dapat berupa siswa sulit menerjemahkan materi yang disampaikan guru karena penjelasan yang diberikan terlalu abstrak. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan adanya media dalam mencapai tujuan pembelajaran yang sesuai. Keberadaan media pembelajaran memberikan kemudahan bagi guru untuk menyampaikan konten pembelajaran. Media pembelajaran dituntut untuk selalu berkembang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu menghadirkan suasana kelas yang sesuai dengan perkembangan zaman. Media yang dapat digunakan salah satunya yaitu media video. Penelitian ini mencoba untuk mengkaji lebih lanjut terkait pemanfaatan media video dalam penyampaian konten pembelajaran dalam proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur atas hasil-hasil penelitian sebelumnya. Berdasarkan hasil kajian, diperoleh bahwa media pembelajaran berbasis video dapat menjadi salah satu media pembelajaran yang dimanfaatkan oleh guru sebagai upaya untuk menyampaikan konten pembelajaran yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran.Kata Kunci: Media Pembelajaran; Video; Video Pembelajaran AbstractIn the learning process, students often encounter obstacles. These obstacles can be in the form of students having difficulty translating the material presented by the teacher because the explanation given is too abstract. To overcome these problems, it is necessary to have media in achieving appropriate learning objectives. The existence of learning media makes it easy for teachers to deliver learning content. Learning media are required to always develop following the development of science and technology in order to be able to present a classroom atmosphere that is in accordance with the times. One of the media that can be used is video media. This study tries to study further related to the use of video media in the delivery of learning content in the learning process. This study uses a literature study method on the results of previous studies. Based on the results of the study, it was found that video-based learning media can be one of the learning media used by teachers as an effort to convey learning content that will be delivered in the learning process.

Page 3 of 30 | Total Record : 295