cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285722923393
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Prodi Pengembangan Kurikulum, Gedung Sekolah Pascasarjana UPI Lt. 6 Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : -
curriculum development; curriculum design; curriculum implementation; curriculum evaluation; instructional development; model of instructional; media of instructional; evaluation of instructional
Articles 295 Documents
Pelaksanaan Kurikulum Jenjang Pendidikan Tinggi pada Era Revolusi Industri 4.0 Melalui Blended Learning Dadi Mulyadi
Inovasi Kurikulum Vol 18, No 1 (2021): Inovasi Kurikulum, February 2021
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2433.423 KB) | DOI: 10.17509/jik.v18i1.36287

Abstract

Pendidikan tinggi menghadapi tantangan Perguruan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0. Pendidikan tinggi memiliki kewajiban untuk terus berinovasi dalam berbagai aspek, salah satunya seperti kurikulum. Maka dari itu rekonstruksi kurikulum pendidikan tinggi dalam menghadapi revolusi industri merupakan hal yang penting seperti mendesain kurikulum dengan keahlian berbasis digital dan pendekatan human digital. Kurikulum disusun sedemikian rupa yang memungkinkan siswa melakukan beraneka ragam kegiatan belajar. Kurikulum perlu dilakukan pengelolaan agar proses pencapaian titik akhir dapat dicapai dengan baik. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah studi pustaka, yaitu dengan mengumpulkan serta mengolah berbagai sumber untuk dapat kemudian ditarik kesimpulan. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa salah satu inti manajemen yang utama di sekolah adalah manajemen kurikulum, karena pada dasarnya manajemen kurikulum memiliki prinsip agar pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. Perguruan tinggi dalam menyusun atau mengembangkan kurikulum, wajib mengacu pada KKNI dan Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Proses belajar mengajar di perguruan tinggi perlu memadukan teknologi khususnya informasi dan komunikasi dalam pembelajaran. Pembelajaran bauran atau blended learning muncul sebagai respon dari perkembangan teknologi yang tidak terelakan. Blended learning sebagai kombinasi antara e-learning dengan direct face-to-face learning yang memberikan potensi peningkatan pengalaman belajar mahasiswa lebih baikKata Kunci: Manajemen Kurikulum; Pendidikan Tinggi; Pembelajaran Campuran Higher education faces the challenges of Higher Education in the Era of Industrial Revolution 4.0. Higher education has an obligation to continue to innovate in various aspects, one of which is the curriculum. Therefore, reconstruction of the higher education curriculum in the face of the industrial revolution is important, such as designing a curriculum with digital-based expertise and a digital human approach. The curriculum is structured in such a way that it allows students to carry out a variety of learning activities. The Curriculum needs to be managed so that the process of achieving the end point can be achieved properly. The method used in this research is literature study, namely by collecting and processing various sources so that conclusions can then be drawn. In this study it was found that one of the main management cores in schools is curriculum management, because basically curriculum management has a principle so that learning can be carried out well. Higher education in compiling or developing a curriculum, must refer to the KKNI and the National Higher Education Standards. The teaching and learning process in higher education needs to combine technology, especially information and communication in learning. Mixed learning or blended learning emerged as a response to the inevitable development of technology. Blended learning as a combination of e-learning with direct face-to-face learning that provide the potential to improve the student learning experience better
Video-Based Learning: Memenuhi Kebutuhan Peserta Didik dalam Mendapatkan Pengalaman Belajar yang Konkret Annisa Indri Ayuningtias. A.S.; Fatma Hijrie Ismailia; Zydan Naufal Musyaffa; Mahda Aulia Prasetia
Inovasi Kurikulum Vol 17, No 2 (2020): Inovasi Kurikulum, August 2020
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2051.677 KB) | DOI: 10.17509/jik.v17i2.37115

Abstract

Seluruh dunia saat ini menghadapi era disrupsi di mana semua hal terus berganti dan tergantikan. Tidak terkecuali dunia pendidikan. Proses belajar mengajar terus berkembang seiring berjalannya waktu. Masuknya unsur teknologi dalam hampir seluruh aspek kehidupan manusia merubah wajah pendidikan itu sendiri. kebutuhan peserta didik tidak lagi sama dengan masa lampau. Metode yang digunakan di masa lampau tidak lagi dinilai efektif untuk dilaksanakan hari ini. Maka dilakukanlah penelitian-penelitian untuk mendapatkan suatu inovasi yang akan memenuhi kebutuhan pendidikan saat ini. Lalu ditemukanlah salah satu inovasi yaitu video-based learning yang mungkin banyak orang sudah menggunakannya, tetapi tidak sedikit juga yang bahkan belum mengetahui kepopuleran dari metode satu ini. Fakta bahwa video adalah hal yang sangat mudah untuk diakses dan banyak digemari menjadikan metode ini memiliki andil penting dalam membantu proses belajar- mengajar.Kata Kunci: Media Video, Pembelajaran Berbasis Video, Teknologi Pembelajaran AbstractThe whole world is currently facing an era of disruption where everything is constantly changing and being replaced. The world of education is no exception. The teaching and learning process continues to develop over time. The inclusion of elements of technology in almost all aspects of human life changes the face of education itself. The needs of students are no longer the same as in the past. The methods used in the past are no longer considered effective today. Therefore, research is carried out to obtain an innovation that will meet the needs of today's education. Then one of the innovations was found, namely video-based learning which maybe many people have used, but not a few who don't even know the popularity of this one method. The fact that videos are very easy to access and popular makes this method have an important role in helping the teaching and learning process.
Evaluasi Implementasi KTSP pada Aspek Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran di SMK Sunarto Halim Untung
Inovasi Kurikulum Vol 5, No 1 (2008): Inovasi Kurikulum, February 2008
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.59 KB) | DOI: 10.17509/jik.v5i1.35626

Abstract

Kurikulum senantiasa direvisi untuk mewujudkan kurikulum yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat, guna mengantisipasi perkembangan jaman, serta memberikan guideline atau acuan bagi penyelenggaraan pembelajaran di satuan pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik. KTSP akan membuat guru semakin kreatif, karena mereka dituntut harus merencanakan sendiri materi pelajarannya untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Pada pelaksanaannya masih timbul hambatan pelaksanaan KTSP di sekolah pada unsur guru. Implementasi KTSP masih diwarnai minimnya sosialisasi dan persiapan guru. Timbul pertanyaan bagaimana mungkin KTSP berhasil diterapkan di sekolah jika para guru masih belum memahami konsep, substansi, dan mekanisme pelaksanaan KTSP. Jika masalah ini dibiarkan maka akan sia-sia apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dan penentu kebijakan pendidikan, sehingga dalam konteks ini perlu dipahami bahwa pentingnya sebuah kesiapan yang harus dimiliki guru. Permasalahan di atas, diteliti melalui evaluasi implementasi KTSP pada aspek Kompetensi pengelolaan pembelajaran menggunakan model perbandingan antara standar evaluasi dengan hasil observasi (standard vs observ). Subjek penelitian adalah guru Mata Diklat Teknik Gambar Mesin di SMKN 2 Bandung. Instrument penelitian berupa: observasi, wawancara dan studi dokumentasi yang perangkatnya di jadment oleh ahlinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dibuat kelompok guru dibandingkan dengan rambu-rambu petunjuk penyusunan RPP yang terdapat pada dokumen KTSP, diperoleh ketercapaian 33% dibandigkan standar aspek perencanaan pembelajaran menurut KTSP di SMK. Pelaksanaan pembelajaran diperoleh ketercapaian 52,371%. Sedangkan  Pengelolaan pembelajaran secara utuh diperoleh ketercapaian 60,17.5%. 
Kebutuhan Program Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam untuk Meningkatkan Profesionalisme Guru Nana Husna
Inovasi Kurikulum Vol 6, No 2 (2009): Inovasi Kurikulum, August 2009
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.915 KB) | DOI: 10.17509/jik.v6i2.35706

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya tuntutan peningkatan profesiomalisme guru pendidikan agama Islam khususnya guru pendidikan agama Islam SMP dengan pengoptimalisasian kiprah musyawarah guru mata pelajaran. Kenyataan di lapangan musyawarah guru mata pelajaran belum dapat meningkatkan profesionalisme guru pendidikan agama Islam SMP khususnya di Kabupaten Ciamis. Dengan demikian untuk dapat meningkatkan profesionalisme guru PAI SMP perlu adanya kesadaran dari para guru PAI SMP untuk dapat terus menerus meningkatkan wawasan secara rutin melalui MGMP PAI seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran perencanaan program MGMP yang dapat menjawab kebutuhan guru PAI guna meningkatkan profesionalismenya. Metode penelitian yang dipergunakan adalah deskriptif kualitatif dengan studi kasus pada MGMP PAI SMP di Kab. Ciamis.
Tinjauan Terhadap Kurikulum Pendidikan Profesi Psikolog di Indonesia Delila Saskia Puspitarona
Inovasi Kurikulum Vol 17, No 1 (2020): Inovasi Kurikulum, February 2020
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1575.954 KB) | DOI: 10.17509/jik.v17i1.36836

Abstract

Pendidikan profesi psikolog menjadi pendidikan yang cukup diminati di Indonesia di samping pendidikan profesi kedokteran dan pendidikan profesi guru. Tentu untuk menjaga kualitas lulusan, pendidikan profesi psikolog telah melakukan berbagai kajian dan komparasi baik dalam aspek kurikulum dan tenaga pendidiknya. Sampai saat ini perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesi psikolog masih terbatas di Indonesia. Hal ini merupakan salah satu wujud dari para pemangku kepentingan dalam menjaga kualitas program profesi psikolog agar para lulusan yang akan terjun ke lapangan benar-benar dihasilkan dari program studi yang memenuhi standar. Seperti apakah pendidikan profesi psikolog di Indonesia? Artikel ini akan mengkaji mengenai riwayat dan situasi saat ini dari program pendidikan psikologi di Indonesia.Kata Kunci: Pendidikan Profesi; Pendidikan Profesi Psikolog; Profesi; Psikolog; Psikologi; Pendidikan Profesi Psikolog Indonesia AbstractProfessional psychology education is an education that is in demand in Indonesia in addition to medical professional education and teacher professional education. Of course, to maintain the quality of graduates, psychologist professional education has conducted various studies and comparisons both in terms of curriculum and teaching staff. Until now, universities that provide psychology professional education are still limited in Indonesia. This is a manifestation of the stakeholders in maintaining the quality of the psychologist professional program so that the graduates who will enter the field are actually produced from study programs that meet the standards. What is the psychologist's professional education like in Indonesia? This article will examine the history and situation of psychology education programs in Indonesia.
Peranan Wilayah dalam Pengembangan Kurikulum Masriam Bukit
Inovasi Kurikulum Vol 1, No 1 (2004): Inovasi Kurikulum, February 2004
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.674 KB) | DOI: 10.17509/jik.v1i1.35611

Abstract

Desentralisasi terjadi di berbagai bidang termasuk dalam bidang pendidikan. Alasan utama diberlakukannya desentralisasi dalam pendidikan adalah bahwa bila wilayah (propinsi, kabupaten atau kota) mendapat otonomi lebih besar dalam pengambilan keputusan, wilayah berikut kepala sekolah dan guru-guru akan mulai mengontrol kurikulum serta proses pengajaran di sekolah. Desentralisasi membuka ruang yang lebih baik kepada daerah untuk mengontrol pendidikan, serta diharapkan akan semakin besar fleksibilitas dalam pendidikan. Daerah juga memiliki peluang untuk mengembangkan pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan potensi daerahnya. Proses desentralisasi pendidikan dibagi kedalam dua tahap. Tahap pertama, pemindahan kewenangan kebijakan pendidikan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah.Tahap kedua,pemindahan berbagai keputusan dari pemerintah kepada masyarakat.
Evaluasi Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Sekolah Menengah Atas A. Azis
Inovasi Kurikulum Vol 6, No 2 (2009): Inovasi Kurikulum, August 2009
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.826 KB) | DOI: 10.17509/jik.v6i2.35699

Abstract

Pengembangan kurikulum yang sejalan dengan sistem pendidikan nasional, kebutuhan dan kondisi riil perlu diupayakan secara terus menerus bagi terwujudnya sumber daya manusia yang handal. Dengan digunakannya kurikulum 2006 (KTSP),  perubahan kurikulum 2004 ke 2006, merupakan upaya pembaharuan atau penyesuaian kurikulum yang didasarkan pada standar isi dan standar kompetensi lulusan yang diharapkan sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Untuk KTSP tingkat pendidikan menengah (SMA), tujuan pendidikannya adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri, dan dapat mengikuti pendidikan lebih lanjut. Untuk mencapai tujuan tersebut, dijabarkan ke dalam sejumlah mata pelajaran yang terdapat pada jenjang pendidikan menengah. Pada tataran implementasi kurikulum secara umum,  implementasi KTSP meliputi pengembangan silabus dan RPP, pelaksanaan proses pembelajaran dan cara penilaiannya. Dalam konteks pelaksanaan kurikulum, hasil penilaian dapat diamati melalui indikator-indikator yang tercermin dalam rangkaian kegiatan pembelajaran, sebagai bentuk implementasi kurikulum. Untuk melihat sejauhmana keberhasilan dari implementasi kurikulum, sudah barang tentu membutuhkan waktu dan proses, karena hasil dari suatu proses pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang terus menerus dan panjang.
Pengembangan Kompetensi pada Pendidikan Umum Nana Syaodih Sukmadinata
Inovasi Kurikulum Vol 1, No 1 (2004): Inovasi Kurikulum, February 2004
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.95 KB) | DOI: 10.17509/jik.v1i1.35605

Abstract

Kompetensi mempunyai makna yang luas. Minimal dapat dibedakan atas lima macam kompetensi, yaitu kompetensi dasar, kompetensi umum, kompetensi akademis, kompetensi vokasional dan kompetensi profesional. Dalam program pendidikan umum, konsep kompetensi dapat diterapkan namun demikian konsep dan rumusan kompetensinya berbeda dengan yang diterapkan pada program pendidikan vokasional atau kejuruan. Kurikulum dan pembelajarannya diarahkan kepada penguasaan kompetensi atau kemampuan berpikir tahap tinggi. Proses pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan (ingatan) dan pengertian (pemahaman), tetapi dilanjutkan kepada tahapan yang lebih tinggi. Menurut Lorin W. Anderson dan David R. Krathwohl (2001) dilanjutkan kepada tahapan aplikasi, analisis (sintesis), evaluasi dan kreativitas. Karena itu, dalam Pendidikan Umum diharapkan digunakan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang lebih mengaktifkan siswa, seperti pembelajaran: diskaveri-inkuiri, bermakna, kontekstual, eksperiensial, komunikatif, pemecahan masalah, pengamatan lingkungan, percobaan, penelitian sederhana, simulasi, bermain peran, praktik langsung, dsb.
Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam K. Kokabudin
Inovasi Kurikulum Vol 6, No 1 (2009): Inovasi Kurikulum, February 2009
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.67 KB) | DOI: 10.17509/jik.v6i1.35687

Abstract

Masalah pokok dalam penelitian ini adalah bagaimana pengembangan kurikulum mata pelajaran PAI  yang dilakukan oleh MAN 2 Serang. Secara rinci pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana madrasah dan guru bidang studi melakukan pengembangan silabus dan RPP, bagaimana Implementasi pembelajaran PAI, dan faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dan pendukung dalam pengembangan kurikulum mata pelajaran PAI   yang ada di satuan pendidikan.  Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Dengan tahapan-tahapan mulai dari perencanaan awal, orientasi, eksplorasi, member check, sampai pada tahap triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam proses pengembangan kurikulum mata pelajaran PAI di madrasah belum dilakukan secara sempurna. Belum terlihat adanya kesiapan dari pihak madrasah atau satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum secara mandiri. Dalam proses pengembangan kurikulum, baik pihak madrasah ataupun guru, masih sangat bergantung pada draf-draf yang dibuat oleh instansi terkait. Dalam pengembangan silabus dan RPP penjabaran SK dan KD ke dalam indikator-indikator materi pelajaran PAI masih dalam tahap mengadopsi  belum  sampai pada tahap development.
Pengelompokan Berdasarkan Kemampuan (Ability Grouping) dan Dampaknya bagi Peserta Didik R. Risdiyanto
Inovasi Kurikulum Vol 18, No 1 (2021): Inovasi Kurikulum, February 2021
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2245.261 KB) | DOI: 10.17509/jik.v18i1.36405

Abstract

Pengelompokan siswa di sekolah berdasarkan kemampuan siswa atau prestasi masa lalu telah dibahas sejak lama tetapi masih relevan dengan konteks pendidikan saat ini. Sistem seperti itu telah dipromosikan oleh beberapa peneliti pendidikan karena manfaatnya bagi siswa dan guru. Di antara manfaatnya adalah efektivitas pengajaran mengingat guru akan memiliki siswa dengan kecepatan belajar yang homogen dan memungkinkan sekolah untuk memberikan dukungan yang lebih baik bagi siswa yang berkemampuan lebih rendah. Di sisi lain, para ahli lain menentang metode tersebut dengan menyarankan bahwa itu akan mempromosikan segregasi sosial dan menurunkan motivasi siswa dengan prestasi masa lalu yang lebih rendah karena mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk melihat ke rekan-rekan mereka yang lebih baik yang duduk di kelas yang sama. Artikel ulasan ini akan merangkum pemahaman terkini tentang masalah ini baik dari sudut pandang, pro dan kontra.Kata Kunci: Ability Grouping; Pembelajaran; Metode Pembelajaran Grouping students in schools based on students’ ability or past achievements has been discussed for ages but still relevant to recent educational context. Such system that has been promoted by some educational researchers due to its benefit for students and teachers. Among the benefits are effectiveness of instruction considering that teacher will have students with homogenous learning pace and allowing school to give better support for lower-ability pupils. On the other hand, other experts are against the method by suggesting that it will promote social segregation and demotivate students with lower past achievement as they will not have a chance to look up to their better peers sitting in the same class. This review article will summarize current understanding of the issue in both point of view, the pros and cons.

Page 2 of 30 | Total Record : 295