cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285722923393
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Prodi Pengembangan Kurikulum, Gedung Sekolah Pascasarjana UPI Lt. 6 Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : -
curriculum development; curriculum design; curriculum implementation; curriculum evaluation; instructional development; model of instructional; media of instructional; evaluation of instructional
Articles 295 Documents
Curriculum learning organization (study at Madrasah Ibtidaiyah) Zulia Nurul Faizah; Oktaviani Adhi Suciptaningsih; Siti Faizah
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.75807

Abstract

The role of the curriculum for educational units is absolute. Therefore, curriculum development must be adjusted to the madrasah environment's identity and potential, including in organizing learning. The organization of learning is closely related to the learning process. This can also be one of the community's attractions to the madrasah. This study aims to examine the components of organizing intracurricular, co-curricular, and extracurricular learning at MI Miftahul Ulum Bukur. Researchers used interviews and documentation. The research findings state that intracurricular learning on national content is arranged and carried out according to the guidelines of the Ministry of Education, Culture, Research and Technology and the Decree of the Minister of Religion but also maintains the potential of teachers such as maintaining science and social studies subjects that apply in each semester for all levels of grades III-VI. The local content that is applied shows the madrasah's identity, such as Mabadi, 'Alala, and BTQ. Co-curricular learning is carried out through P5RA activities, and the selection of activities is based on the needs and availability of surrounding resources. Extracurricular learning as an effort of madrasah to achieve in non-academic fields offers scouting activities, drumband, qira'at, banjari, speech (English and Indonesian), calligraphy, and English. This research can be used as a reference for other madrasahs to observe, imitate, and modify the organization according to their educational units. AbstrakPeran kurikulum bagi satuan pendidikan adalah hal yang mutlak. Oleh karenanya, pengembangan kurikulum harus disesuaikan dengan identitas dan potensi lingkungan madrasah termasuk dalam mengorganisasikan pembelajaran. Pengorganisasian pembelajaran memiliki keterkaitan yang erat dengan proses pembelajaran. Pula hal ini bisa menjadi salah satu daya tarik masyarakat terhadap madrasah. Penelitian ini bertujuan mengkaji komponen pengorganisasian pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler MI Miftahul Ulum Bukur. Peneliti menggunakan wawancara dan dokumentasi. Temuan penelitian menyatakan bahwa pembelajaran intrakurikuler pada muatan nasional disusun dan dilakukan sesuai pedoman Kemdikbudristek dan Keputusan Menteri Agama namun juga tetap mempertahankan potensi guru seperti mempertahankan mata pelajaran IPA dan IPS berlaku di tiap semester untuk semua jenjang kelas III-VI. Sedangkan muatan lokal yang terapkan benar-benar menunjukkan identitas madrasah seperti Mabadi, ‘Alala, dan BTQ. Pembelajaran kokurikuler dilaksanakan melalui kegiatan P5RA dan pemilihan kegiatannya berdasarkan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya sekitar. Pembelajaran ekstrakurikuler sebagai upaya madrasah untuk berprestasi dibidang non akademik menawarkan kegiatan pramuka, drumband, qira’at, banjari, pidato (bahasa Inggris dan bahasa Indonesia), kaligrafi, serta bahasa Inggris. Penelitian ini bisa dijadikan referensi bagi madrasah lain untuk mengamati, meniru, dan memodifikasi pengorganisasian tersebut sesuai satuan pendidikannya.Kata Kunci: ekstrakurikuler; intrakurikuler; kokurikuler; kurikulum
Enhancing learning through teachers' pedagogical skills: Self-efficacy, self-regulation, and school climate R. Anggi Apriyani Usman; Endang Supardi; K. Kusnendi
Inovasi Kurikulum Vol 22, No 1 (2025): Inovasi Kurikulum, February 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i1.73323

Abstract

This research is motivated by the student's learning outcomes in the economics of SMA Negeri in Jakarta Timur, which did not reach the Minimum Completeness Criteria (KKM). This research aims to analyze the role of school climate in influencing teachers' pedagogical competence on learning outcomes through students' self-efficacy and self-regulation. The method used is a correlational study with a sample of 138 grade IX social science students selected randomly. Data were collected through questionnaires and analyzed using Structural Equation Modeling (SEM). The results show that teachers' pedagogical competence, students' self-efficacy, self-regulation, and school climate are high, while students' economics learning outcomes are moderate. Self-efficacy mediates the effect of teachers' pedagogical competence on learning outcomes. Self-regulation does not mediate this effect. School climate does not moderate the indirect effect of teachers' pedagogical competence through self-efficacy on learning outcomes. School climate also does not moderate the indirect effect of teachers' pedagogical competence through self-regulation on learning outcomes. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil belajar ekonomi peserta didik SMA Negeri di Jakarta Timur yang tidak memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Tujuan penelitian ini untuk mengkaji peran iklim sekolah dalam mempengaruhi kompetensi pedagogik guru terhadap hasil belajar melalui efikasi diri dan regulasi diri peserta didik. Metode yang digunakan adalah studi korelasional dengan sampel 138 peserta didik kelas IX IPS yang dipilih secara acak. Data dikumpulkan melalui angket dan dianalisis menggunakan structural equation modeling (SEM). Hasilnya menunjukkan kompetensi pedagogik guru, efikasi diri, regulasi diri peserta didik, dan iklim sekolah berada pada tingkat tinggi, tetapi hasil belajar ekonomi peserta didik berada pada tingkat moderat. Efikasi diri memediasi pengaruh kompetensi pedagogik guru terhadap hasil belajar. Regulasi diri tidak memediasi pengaruh tersebut. Iklim sekolah tidak memoderasi pengaruh tidak langsung kompetensi pedagogik guru melalui efikasi diri terhadap hasil belajar. Iklim sekolah juga tidak memoderasi pengaruh tidak langsung kompetensi pedagogik guru melalui regulasi diri terhadap hasil belajar.Kata Kunci: efikasi diri; hasil belajar; iklim sekolah; kompetensi pedagogik guru; regulasi diri
Integrating local wisdom into learning in school’s curriculum: A bibliometric analysis K. Khusyairin; Udin Saefudin Sa'ud; S. Sururi; Nani Hartini
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.75667

Abstract

This study presents a bibliometric analysis of research on integrating local wisdom into school learning, providing a comprehensive overview of scholarly developments from 2010 to 2024. Utilizing the Scopus database, the bibliometric method retrieved an initial 284 documents, refined to 145 after applying inclusion criteria. The analysis reveals a significant annual growth rate of 28.21 percent in publications, indicating a burgeoning interest in this field. Indonesia emerged as the leading contributor in the number of publications and citations; the most productive authors and the most cited documents also originated from Indonesia. Co-occurrence keyword analysis identified vital themes such as character education, the development of learning media, and the innovative use of technology—including mobile learning and augmented reality—to facilitate local wisdom integration. Despite the predominance of Indonesian research, international collaboration remains limited, highlighting opportunities for comparative studies and broader global engagement. The findings suggest integrating local wisdom into education enhances cultural preservation, student engagement, and moral development. Future research should explore technology's role in this integration, assess long-term educational outcomes, and encourage international partnerships to enrich the global discourse on culturally responsive education. AbstrakStudi ini menyajikan analisis bibliometrik penelitian tentang integrasi kearifan lokal ke dalam pembelajaran di sekolah, memberikan gambaran komprehensif tentang perkembangan ilmiah dari tahun 2010 hingga 2024. Dengan memanfaatkan basis data Scopus, metode bibliometrik awalnya memperoleh 284 dokumen, yang kemudian disaring menjadi 145 setelah menerapkan kriteria inklusi. Analisis menunjukkan tingkat pertumbuhan publikasi tahunan yang signifikan sebesar 28,21 persen, mengindikasikan minat yang semakin meningkat di bidang ini. Indonesia muncul sebagai kontributor terdepan dalam hal jumlah publikasi dan sitasi; penulis paling produktif dan dokumen yang paling banyak disitasi juga berasal dari Indonesia. Analisis ko-occurance kata kunci mengidentifikasi tema-tema kunci seperti pendidikan karakter, pengembangan media pembelajaran, dan penggunaan teknologi inovatif—termasuk pembelajaran mobile dan augmented reality—untuk memfasilitasi integrasi kearifan lokal. Meskipun penelitian Indonesia mendominasi, kolaborasi internasional masih terbatas, menyoroti peluang untuk studi komparatif dan keterlibatan global yang lebih luas. Temuan ini menunjukkan bahwa mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam pendidikan meningkatkan pelestarian budaya, keterlibatan siswa, dan pengembangan moral. Penelitian selanjutnya harus mengeksplorasi peran teknologi dalam integrasi ini, menilai hasil pendidikan jangka panjang, dan mendorong kemitraan internasional untuk memperkaya diskursus global tentang pendidikan yang responsif secara budaya.Kata Kunci: bibliometrik; kearifan lokal; kurikulum; pembelajaran; sekolah
Relationship between Mathematics education philosophy and traditional Malay culture in Serampang 12 Nina Fadilah; Izwita Dewi; Faiz Ahyaningsih
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.76071

Abstract

Philosophy requires humans to think intelligently to develop towards the next thought of knowledge. The presence of ethnomathematics is not a new thing but has existed since the introduction of mathematics itself as a form of advanced knowledge thinking related to mathematics learning. Through the concept of ethnomathematics, cultural practices can be studied so that students will better understand how their culture is related to mathematics. This study uses a qualitative descriptive research method with a type of ethnographic research that analyzes the movement pattern of traditional Malay dance culture in Serampang 12. The results of the research findings are in the form of variations in mathematics learning, in the form of media associated in the context of traditional Malay culture, so that students who have been considering boring and rigid learning can have a fun lesson because it is associate with the value of the beauty of a Traditional Dance who have a philosophy of politeness, order, togetherness or positive association. The exploration of movement patterns in the traditional dance of Serampang 12 also aims to make it easier for students to build a learning experience that connected to the visual and kinesthetic experience of students. AbstrakFilsafat menuntut manusia agar berpikir cerdas sehingga manusia tersebut dapat berkembang menuju pemikiran pengetahuan yang selanjutnya. Kehadiran etnomatematika bukan suatu hal yang baru melainkan sudah ada sejak diperkenalkan ilmu matematika itu sendiri sebagai bentuk pemikiran pengetahuan lanjutan terkait dengan pembelajaran matematika. Melalui konsep etnomatematika dapat dikaji praktik budaya sehingga peserta didik akan lebih memahami bagaimana budaya mereka terkait dengan matematika. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian etnografi yang menganalisis pola gerakan budaya tari tradisional Melayu Serampang 12. Hasil temuan penelitian berupa variasi dalam pembelajaran matematika dimana media dikaitkan dalam konteks budaya tradisional Melayu, sehingga peserta didik yang selama ini menganggap pembelajaran membosankan dan kaku bisa menjadi pelajaran yang menyenangkan karena bisa dihubungkan dengan nilai keindahan suatu tarian tradisional serampang 12 yang memiliki filosofi kesopanan, keteraturan, kebersamaan atau pergaulan yang positif. Eksplorasi pola gerakan pada tarian tradisional Serampang 12 juga bertujuan untuk memberikan kemudahan peserta didik dalam membangun pengalaman belajar yang terhubung dengan pengalaman visual dan kinestetik peserta didik.Kata Kunci: budaya; filsafat; Matematika; pendidikan Matematika
Augmented reality-based training to enhance teachers' knowledge of reproductive health for special needs students Iding Tarsidi; Endang Rochyadi; Budi Susetyo; S. Sunardi; Hendriano Meggy; Dira Rosalia Nurkholifah; Anira Zakiyyah Febrianti; Elvina Hapsari; Naila Cynthia Fajrin
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.75430

Abstract

Teachers of special schools face significant challenges in delivering reproductive health education to children with special needs because many teachers do not have adequate knowledge and skills in delivering related topics that require delivery adjustments to the mental, physical, and psychological conditions of students. This study aims to measure the effect of augmented reality-based training on improving special school teachers' understanding of how to deal with puberty problems in children with special needs. Using a quantitative approach with a one-group pretest-posttest experimental design, this study involved 30 special education teachers in Bandung City who were selected by purposive sampling. The training provided focused on sexual and reproductive health education and how to deal with puberty problems using AR tools. The data obtained were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test, which showed the effectiveness of AR training, as evidenced by increased subject understanding after attending the training. In addition, the varying improvement in subject scores indicates that individual factors influence learning outcomes. These findings suggest that AR-based training is efficacious in improving teachers' understanding of reproductive health and sexuality education for children with disabilities and indicate the need for a more personalized approach in future training. AbstrakGuru Sekolah Luar Biasa (SLB) menghadapi tantangan besar dalam menyampaikan pendidikan kesehatan reproduksi kepada anak berkebutuhan khusus karena banyak guru tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam menyampaikan topik terkait yang memerlukan penyesuaian penyampaian dengan kondisi mental, fisik, serta psikologis peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh pelatihan berbasis Augmented Reality (AR) terhadap peningkatan pemahaman guru Sekolah Luar Biasa (SLB) dalam menghadapi permasalahan pubertas pada anak berkebutuhan khusus (ABK). Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen one group pretest-posttest, penelitian ini melibatkan 30 guru SLB di Kota Bandung yang dipilih secara purposive sampling. Pelatihan yang diberikan berfokus pada pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual serta cara menghadapi permasalahan pubertas dengan menggunakan perangkat AR. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test, yang menunjukkan efektivitas pelatihan AR secara signifikan, dibuktikan dengan adanya peningkatan pemahaman subjek setelah mengikuti pelatihan. Selain itu, peningkatan skor subjek yang bervariasi menandakan adanya faktor individu yang memengaruhi hasil belajar. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan berbasis AR efektif dalam meningkatkan pemahaman guru mengenai pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas bagi ABK serta mengindikasikan perlunya pendekatan yang lebih personal dalam pelatihan di masa mendatang.Kata Kunci: anak berkebutuhan khusus; augmented reality; pelatihan guru; pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual