cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285722923393
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Prodi Pengembangan Kurikulum, Gedung Sekolah Pascasarjana UPI Lt. 6 Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : -
curriculum development; curriculum design; curriculum implementation; curriculum evaluation; instructional development; model of instructional; media of instructional; evaluation of instructional
Articles 295 Documents
Penerapan Pendekatan Konstruktivisme Terhadap Sistem Mobile Learning untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa Klara Elinda Fakhira; Muhamad Parhan; Rusdan Kamil
Inovasi Kurikulum Vol 17, No 2 (2020): Inovasi Kurikulum, August 2020
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2128.917 KB) | DOI: 10.17509/jik.v17i2.37040

Abstract

Tujuan pembuatan artikel kajian pustaka ini yaitu memanfaatkan mobile learning dengan menghubungkan pendekatan konstruktivisme agar siswa dapat berkembang dengan baik dan bisa meningkatkan potensi dalam dirinya, dengan itu siswa dapat berkreativitas dengan bebas tanpa ada tekanan dan selalu menggunakan mobile learning dengan bijak. Dalam proses pembelajaran perlu adanya strategi belajar dan juga media yang diperlukan. Strategi belajar yang akan dibahas pada artikel ini yaitu pendekatan konstruktivisme yang merupakan salah satu dari model pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL). Pendekatan konstruktivisme merupakan pendekatan yang menekan siswa lebih aktif dengan demikian siswa lebih bebas dan dapat membangun kreativitas siswa secara mandiri maupun bersama-sama (Saefudin, 2008). Seiring berkembangnya teknologi dalam dunia pendidikan media pembelajaran yang digunakan pun semakin bervariasi. Sistem pembelajaran online adalah media pembelajaran yang akan di teliti. Pendekatan pembelajaran mobile merupakan media yang paling efektif dan efisien pada era industri 4.0. Dari pendekatan konstruktivisme berbasis pembelajaran mobile diharapkan siswa dapat meningkatkan kreativitasnya dan menambah pemahaman dari materi yang disampaikan melalui menganalisis dan mencari kesimpulan dari sebuah masalah.Kata Kunci: Konstuktivisme; Inovasi; Mobile Learning; kreativitas AbstractThe purpose of making this literature review article is to utilize mobile learning by linking constructivism approaches so that students can develop well and can increase their potential, with which students can be creative freely without any pressure and always use mobile learning wisely. In the learning process there is a need for learning strategies and also the media needed. The learning strategy that will be discussed in this paper is the constructivism approach which is one of the Contextual Teaching Learning (CTL) learning models. The constructivism approach is a learning approach that invites students to think and construct in solving a problem together so that an accurate solution is obtained. As the development of technology in the world of education the learning media used are even more varied. The learning media used in research are mobile learning systems. Mobile learning systems are the most effective and efficient media in the industrial era 4.0. From the constructivism approach based on the mobile learning system, students are expected to be able to increase their creativity and increase understanding of the material presented through analyzing and finding conclusions from a problem.
Implementasi Model Cooperative Learning Tipe Jigsaw untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa S. Samsuri
Inovasi Kurikulum Vol 5, No 1 (2008): Inovasi Kurikulum, February 2008
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.08 KB) | DOI: 10.17509/jik.v5i1.35624

Abstract

Konsep Cooperative Learning pada dasarnya mengacu pada pendekatan teori konstruktivisme, dimana dalam proses pembelajarannya memfokuskan pada aktivitas siswa secara individual, menemukan dan mentranformasikan informasi secara kompleks. Jigsaw merupakan salah satu tipe model pembelajaran cooperative learning yang dalam proses pembelajarannya mengutamakan kerja kelompok dan interaksi setiap anggota kelompok. Ciri khas model pembelajaran tipe jigsaw dibentuk kelompok asal dan kelompok atau tim ahli.Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar yang diharapkan, pada akhir Kegiatan Belajar Mengajar(KBM) harus dilakukan tes akhir sebagai tolak ukur kemampuan siswa dalam menyerap bahan ajar dan tolak ukur bagi keberhasilan guru dalam melaksankan KBM.
Kompetensi: Wawasan Kependidikan, Akademik, Dan Pengembangan Profesi Guru Pada Evaluasi Implementasi KTSP di SMK R Syafiar; Amay Suherman; Mumu Komaro
Inovasi Kurikulum Vol 6, No 2 (2009): Inovasi Kurikulum, August 2009
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.72 KB) | DOI: 10.17509/jik.v6i2.35703

Abstract

Pelaksanaan KTSP di sekolah masih mengalami hambatan pada unsur guru. Implementasi KTSP masih diwarnai minimnya sosialisasi dan kompetensi guru. Timbul pertanyaan bagaimana mungkin KTSP berhasil diterapkan di sekolah jika para guru masih belum memahami konsep, substansi, dan mekanisme pelaksanaan KTSP. Jika masalah ini dibiarkan maka akan sia-sia apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dan penentu kebijakan pendidikan, sehingga dalam konteks ini perlu dipahami bahwa pentingnya kompetensi yang harus dimiliki guru. Permasalahan di atas, diteliti melalui evaluasi implementasi KTSP pada aspek kompetensi wawasan kependidikan, akademik, dan pengembangan profesi menggunakan model perbandingan antara standar evaluasi dengan hasil observasi (standard vs observ). Subjek penelitian adalah guru Mata Diklat Teknik Gambar Mesin di SMKN 2 Bandung. Instrument penelitian berupa: observasi, wawancara dan studi dokumentasi yang perangkatnya di jadment oleh ahlinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi wawasan kependidikan dibandingkan dengan rambu-rambu tuntutan kurikulum yang terdapat pada dokumen KTSP di SMK, diperoleh ketercapaian lima pulih koma sembilan puluh tujuh persen, kompetensi akademik keilmuan dan keterampilan diperoleh ketercapaian lima puluh delapan koma tiga persen, sedangkan kompetensi pengembangan profesi diperoleh ketercapaian tigapuluh depalan koma nol tujuh persen.
Menaklukan Dunia Kerja melalui Pendidikan Profesi Guru Bahasa Inggris Fegy Lestari; M. Mukhidin
Inovasi Kurikulum Vol 17, No 1 (2020): Inovasi Kurikulum, February 2020
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2039.266 KB) | DOI: 10.17509/jik.v17i1.36806

Abstract

Tuntutan dunia kerja yang semakin membuat msyarakat memutar otak, agar dapat mewujudkan mimpinya. Perkembangan globalisasi yang menghadirkan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ditengah-tengah masyarakat yang menyebabkan persaingan bebas disegala sektor dan tidak luput di sektor pendidikan. Indonesia merupakan negara ASEAN, yang berarti harus mempersiapkan masyarakat dengan kemampuan dan keterampilan dalam bersaing di dunia kerja. Selain itu, juga harus mempersiapkan pendidik (guru) lokal memiliki profesionalisme yang tinggi yang dapat bersaing dengan tenaga asing. Salah satu upaya pemerintah adalah menciptakan program pendidikan profesi guru (PPG) di sektor pendidikan. Memiliki guru yang berkualitas adalah harapan setiap masyarakat agar dapat menciptakan lulusan-lulusan yang berkualitas yang mampu bersaing baik secara nasional maupun internasional. Salah satu PPG yang dapat menjembatani dengan dunia internasional adalah PPG bahasa Inggris, dimana lulusan-lulusan yangberkualitas dapat mengaplikasikan kemampuan berbahasa Inggris dapat lahir dari seorang guru yang memiliki kompetensi berbahasa Inggris dengan baik dan benar.Kata Kunci: Tuntutan dunia kerja; MEA; PPG; Guru dan Lulusan yang berkualitas AbstractThe demands of the world of work are increasingly making people rack their brains, in order to realize their dreams. The development of globalization that presents the Asean Economic Community (MEA) in the midst of society that causes free competition in all sectors and does not escape the education sector. Indonesia is an ASEAN country, which means it must prepare people with the ability and skills to compete in the world of work. In addition, it must also prepare local educators (teachers) to have high professionalism who can compete with foreign workers. One of the government's efforts is to create a teacher professional education (PPG) program in the education sector. Having quality teachers is the hope of every society in order to create quality graduates who are able to compete both nationally and internationally. One of the PPGs that can bridge the international community is the English PPG, where quality graduates who can apply English language skills can be born from a teacher who has good and correct English competence.
Peran Sekolah dalam Pengembangan Kurikulum Hansiswany Kamarga
Inovasi Kurikulum Vol 1, No 1 (2004): Inovasi Kurikulum, February 2004
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.338 KB) | DOI: 10.17509/jik.v1i1.35609

Abstract

Kurikulum dapat digunakan dalam berbagai makna. Dikaitkan dengan konsep Tunner dan Tunner, pemahaman terhadap pengembangan kurikulum di Indonesia mengacu kepada konsepsi instructional plan yang mempunyai fungsi eklektik. Dari definisi tersebut kurikulum di Indonesia bersifat fleksibel sesuai dengan posisinya sebagai legal formal. Hamid Hasan, menyatakan salah satu dimensi dalam prosedur pengembangan kurikulum adalah kurikulum sebagai suatu kegiatan atau proses, dan pelaksanaan kurikulum suatu proses dilakukan atas dasar tuntutan aspek kurikulum yang dikembangkan berdasarkan perumusan ide. Peran sekolah dalam pengembangan kurikulum difokuskan pada implementasi dokumen kurikulum, khususnya yang mengacu kepada proses yang berkaitan antara pedoman pengajaran dengan sistem untuk memprediksi hasil. Dalam lingkup kelas, implementasi kurikulum melibatkan guru sebagai pengembang kurikulum dan siswa sebagai peserta yang memperoleh stimulasi dalam mengubah pola perilaku. Kurikulum. Kurikulum berfungsi sebagai alat bantu untuk tugas guru dalam mengembangkan strategi pengajaran.
Evaluasi Pengembangan KTSP: Suatu Kajian Konseptual Said Hamid Hasan
Inovasi Kurikulum Vol 6, No 2 (2009): Inovasi Kurikulum, August 2009
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.108 KB) | DOI: 10.17509/jik.v6i2.35697

Abstract

Evaluasi  kurikulum KTSP  diarahkan pada beberapa sasaran, diantaranya  tingkat pemahaman ide dan prinsip pengembangan KTSP;  keberhasilan pengembangan dokumen  KTSP dan keberhasilan  KTSP. Fokus evaluasi diarahkan pada ide,pengembangan dokumen, pelaksanaan KTSP dan hasil belajar.Untuk  menentukan tingkat keberhasilan   pengembangan KTSP secara komprehensif  digunakan  dua dimensi , yaitu dimensi nilai dan dimensi arti. Evaluasi dimensi nilai berkaitan dengan keunggulan  intrinsik KTSP tanpa mempersoalkan lingkungan dimana  KTSP dilaksanakan, sedangkan dimensi arti  berkaitan dengan nilai pengaruh KTSP terhadap lingkungan.
IMPLEMENTATION MODEL OF CURRICULUM DEVELOPMENT AND LEARNING DESIGN Nurhamzah CS
Inovasi Kurikulum Vol 18, No 2 (2021): Inovasi Kurikulum, August 2021
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v18i2.35804

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran pada mata kuliah Tasawuf di Fakultas Tarbiyah IAI Latifah Mubarokiyah. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan menggunakan model 4-D dengan tiga tahap yang digunakan, yaitu tahap pendefinisian, tahap perancangan, dan tahap pengembangan. Data bersifat kualitatif dikumpulkan dari catatan validator dalam melakukan validasi dan data kuantitatif dikumpulkan melalui pedoman validasi dengan skala likert. Data kualitatif digunakan untuk melakukan perbaikan atas perangkat pembelajaran, sementara data kualitatif dianalisis dengan menggunakan statistik sederhana mencari nilai rerata kemudian ditafsirkan dengan menggunakan kriteria validasi. Hasil penelitian pada tahap pendefinisian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran RPS yang dibuat dosen belum lengkap yakni tidak ditemukan rancangan pengalaman belajar mahasiswa dan metode yang dituangkan tidak variatif, sementara RTM yang dibuat dosen belum memenuhi kriteria panduan RTM, sebab hanya menyajikan jenis penilaian, proses, hasil belajar, UTS, UAS dan penugasan. Pada tahap perancangan, dosen diminta untuk memperbaiki dengan merancang RPS dan RTM kembali sesuai dengan panduan. Pada tahap pengembangan RPS dan RTM dilakukan validasi dan diperbaiki sesuai dengan saran dan kritik validator. Tingkat validasi RPS diperoleh pada tingkat 3,38 terletak pada kategori sangat layak, dan tingkat validasi RTM diperoleh 3,58 terletak pada kategori sangat layak.Kata Kunci: Pengembangan; Kurikulum; RPS; RTM; Tasawuf AbstractThis study aims to develop learning plan for Sufism courses at the Tarbiyah Faculty of IAI Latifah Mubarokiyah. This research is development research using a 4-D model with three stages used, namely the definition stage, the design stage, and the development stage. Qualitative data were collected from the validator's records in conducting validation and quantitative data were collected through validation guidelines with a Likert scale. Qualitative data is used to make improvements to learning plan, while qualitative data is analyzed using simple statistics to find the average value and then interpreted using validation criteria. The results of the research at the definition stage show that the RPS made by the lecturers are not complete, there are no design for student learning experiences and the methods outlined are not varied, while the RTM made by the lecturer does not meet the criteria for the RTM guideline, because it only presents the types of assessments, processes, learning outcomes, UTS, UAS and assignments. At the design stage, lecturers were asked to improve by designing the RPS and RTM again according to the guidelines. At the development stage of RPS and RTM, validation is carried out and corrected according to the suggestions and criticisms of the validator. The RPS validation level obtained at the level of 3.38 lies in the very feasible category, and the RTM validation level obtained at 3.58 lies in the very feasible category.
Relevansi Lulusan Teknologi Pendidikan pada Profesi Pengembang Media Pembelajaran Ratu Sylvia Ridwan; Syelma Nuraida Fatya; Fazri Fauziutami
Inovasi Kurikulum Vol 19, No 1 (2022): Inovasi Kurikulum, February 2022
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v19i1.43506

Abstract

Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini berdampak pula pada munculnya inovasi-inovasi di bidang pembelajaran yang membutuhkan pengelolaan lebih lanjut oleh profesi yang memiliki kompetensi relevan. Salah satu kompetensi yang memiliki urgensi adalah profesi Pengembang Teknologi Pembelajaran yang merupakan peluang karir bagi lulusan program studi Teknologi Pendidikan. Urgensi profesi tersebut juga diakui pemerintah dengan disahkannya Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: PER/2/M.PAN/2009 tentang Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran Dan Angka Kreditnya. Namun, pengimplementasian JF-PTP di lapangan belum sepenuhnya maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi dan relevansi antara profesi Teknologi Pendidikan dengan Pengembangan Media Pembelajaran dengan mengkaji lebih lanjut terkait profesi Pengembang Media Pembelajaran berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Sumber data didapatkan dari wawancara dengan tiga orang alumni Teknologi Pendidikan UPI yang bekerja sebagai Pengembang Media Pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa tidak ada kondisi eksplisit pengimplementasian Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (JF-PTP) pada bidang pekerjaan Pengembang Media Pembelajaran. Selain itu, hasil penelitian juga meneliti kompetensi lulusan Teknologi Pendidikan. Kompetensi yang harus dimiliki lulusan Teknologi Pendidikan secara lebih spesifik diantaranya mampu menguasai keterampilan 4C (collaboration, critical thinking, communication, and creativity), 5 kawasan Teknologi Pendidikan (desain, pengembangan, pemanfaatan, pelaksana, dan nilai), kompetensi pedagogi dan andragogi.Kata Kunci: Pengembang Media; Teknologi Pendidikan; Jabatan Fungsional. AbstractThe rapid development of information and communication technology at this time also has an impact of the emergence of innovations in the field of learning that require further management by professions that have relevant competencies. One of the competencies that has urgency is the learning technology development profession which is career opportunities for graduated students of Educational Tecknology major. The urgency of the profession is also recognized by the government with the ratification of the Minister of State Apparatus Empowerment Regulation Number: PER/2/M.PAN/2009 regarding the Functional Position of Learning Technology Developer and its Credit Score. However, the implementation of JF-PTP in the field has not been fully maximized. This study aims to determine the implementation and relevance of the Educational Technology profession with the Development of Learning Media by further examines the Learning Media Developer profession based on the facts that occur in the field. The method used in this research is descriptive with a qualitative approach. Sources of data obtained from interviews with three alumni of Educational Technology major, UPI, who whork as Learning Media Developers. Based on the results of the study, it was found that there were no explicit conditions for the implementation of the Functional Position of Learning Technology Developer (JF-PTP), Learning Media Developer. In addition, the results of the research are also the competencies of graduates of educational technology. The specific competencies include being able to master 5 areas of Educational Technology, pedagogical and andragogic competencies (depending on the focus of media development based on each level).
Interactive Effect of Score Levels on Students’ Performance in Social Studies Omotayo Olabo Obielodan; Amos Ochayi Onojah; Adenike Aderogba Onojah; Ebenezer Sanya Ibironke; Esther Oluwafunmilayo Alabi
Inovasi Kurikulum Vol 19, No 1 (2022): Inovasi Kurikulum, February 2022
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v19i1.40315

Abstract

Perkembangan teknologi di era modern dapat membantu guru belajar tentang lingkungan belajar yang kolaboratif. Teknologi dapat memotivasi siswa dan memungkinkan mereka untuk terlibat pada tingkat yang sama sekali berbeda dari sebelumnya, itu juga meningkatkan pengalaman akademik siswa. Penelitian ini menguji pengaruh interaktif tingkat skor terhadap prestasi belajar IPS siswa. Pengujian data dalam penelitian ini dilakukan dengan uji ANOVA pada 29 SMP. Penelitian ini dilakukan dengan menguji pengaruh interaktif tingkat skor audio visual terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen terhadap 21 siswa SMP yang dijadikan sampel untuk menguji audio visual. Temuan menetapkan bahwa audio-visual meningkatkan kinerja akademik siswa dalam studi sosial. Tidak ada pengaruh interaktif yang signifikan dari tingkat skor pada kinerja siswa dalam IPS. Studi ini menyimpulkan bahwa audio-visual meningkatkan kinerja studi sosial siswa terlepas dari tingkat skor mereka. Oleh karena itu direkomendasikan bahwa guru IPS harus didorong untuk menggunakan alat bantu audio-visual karena memberikan pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa. Selain itu, Pemerintah harus memperkerjakan guru yang berkualitas dan terampil untuk mengajar mata kuliah, dan perencana kurikulum harus berhati-hati dalam merancang materi untuk mengajar IPS.Kata Kunci: Efek Interaktif; Tingkat Skor; Audio-Visual; Prestasi Akademik Mahasiswa; Penelitian Sosial. AbstractTechnological developments in the modern era may help teachers learn about a collaborative learning environment. Technology can motivate students and allow them to be engaged on a completely different level than they have ever before. It also increases student academic experience. This study examined the interactive effect of score levels on students' social studies performance. The data testing in this study was carried out with the ANOVA test on 29 junior secondary schools. This research was conducted by examining the interactive effect of the audio-visual score level on students' academic achievement in social studies subjects. The study employs an experimental research method of these 21 junior secondary school students sampled to test the audio-visual. The findings established that audio-visual improves students' academic performance in social studies. There was no significant interactive effect of score levels on students' performance in social studies. The study concluded that audio-visual improves students' social studies performance irrespective of their score levels. It was thus recommended that social studies teachers be encouraged to use audio-visual aids as it gives more meaningful learning to students. Besides, the Government should employ qualified and well-skilled teachers to teach the course, and the curriculum planner must be careful in designing material to teach social studies.
Pengembangan Instrumen Analisis Kebutuhan Kurikulum Diklat Guru SLB Tunagrahita Pada Materi Pembelajaran Housekeeping Ayu Nimas Salmitri; Zainal Arifin; Gemala Herlistiana
Inovasi Kurikulum Vol 18, No 2 (2021): Inovasi Kurikulum, August 2021
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v18i2.37198

Abstract

Pengembangan keprofesionalan secara berkelanjutan untuk melakukan sebuah transfer kepada siswa menjadikan sebuah pendidikan dan pelatihan (diklat) cukup dibutuhkan dalam pengembangan mutu seorang guru. Guru SLB memiliki peran untuk memberikan bekal untuk siswanya bekerja setelah lepas dari sekolah. Keterampilan tata graha / housekeeping merupakan kompetensi wajib dimiliki oleh anak tunagrahita di SLB, dengan kompetensi tersebut lulusan SLB dapat bersaing di dunia kerja. Analisis kebutuhan diklat (AKD) dilakukan sebelum diklat dilaksanakan, tujuannya ialah menjadikan diklat tepat sasaran, efektif dan efisien. Instrumen AKD merupakan bagian esensial dari pengumpulan informasi untuk AKD. Tidak tersedianya pedoman AKD untuk pelaksanaan diklat housekeeping untuk guru SLB tunagrahita, serta kebutuhan kompetensi housekeeping untuk mengajar dan membimbing siswa tunagrahita cukup tinggi, maka pengembangan instrumen AKD menjadi solusi yang cukup baik. Tujuan penelitian ini ialah mengembangkan instrumen analisis kebutuhan diklat guru SLB tunagrahita pada bidang housekeeping, sebagai upaya pengembangan diklat yang tepat sasaran, efektif dan efisien. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah Design and Development (DnD) dengan langkah pengembangan yang melakukan uji validitas, uji reliabilitas, uji keterbacaan serta uji coba terbatas. Hasil dari pengembangan instrumen menghasilkan tanggapan baik dari responden terhadap hasil uji keterbacaan serta uji coba terbatasnya, secara umum pengembangan ini dikatakan layak digunakan untuk pengembangan kurikulum AKD.Kata Kunci: AKD; Guru SLB; Instrumen; Tata Graha; TunagrahitaAbstractContinuous professional development quite needed in developing the quality of a teacher. Special school (SC) teachers have the role of providing provisions for their students to work after leaving school. Housekeeping skills are mandatory competencies for intellectual disabilities, with these competencies special school graduates can compete in the world of work. Training Needs Analysis (TNA) is carried out before the training, the aim is to make the training right on target, effective and efficient. The TNA instrument is an essential part of gathering information for TNA. The unavailability of TNA guidelines for the implementation of housekeeping training for SC teachers, and the need for housekeeping competence to teach and guide intellectual disabilities is quite high, so the development of TNA instruments is a fairly good solution. The purpose of this study was to develop an instrument for analyzing the training needs of intellectual disabilities teachers in the field of housekeeping, as an effort to develop targeted, effective and efficient training. The method used in this research is Design and Development (DnD) with development steps is validity tests, reliability, readability and limited trials. The results of this research resulted in good responses from respondents, in general this development is said to be suitable for developing the TNA.

Page 5 of 30 | Total Record : 295