JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur (sebelumnya Jurnal Online Mahasiswa S1 Arsitektur UNTAN) adalah jurnal nasional yang berisi kumpulan naskah/ artikel hasil perancangan arsitektur yang fokus pada kegiatan "analisis dan sintesis" yang mendukung proses-proses perancangan arsitektur dan menghasilkan karya arsitektural. Substansi naskah dapat berupa kajian mengenai metode perancangan, proses analisis dalam perancangan, pengambilan keputusan dalam proses desain, proses penciptaan karya arsitektural, dan teori yang mendukung proses perancangan. Selain itu, JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur juga menerima (terbatas) naskah dengan pendekatan "penelitian" kajian arsitektural lainnya, seperti sejarah, teori, dan kritik arsitektur, teknologi bangunan, serta kota dan permukiman. JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur mempunyai ISSN 2746-5896 (media online)
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 2, No 1 (2014): Maret"
:
10 Documents
clear
TAMAN SATWA KALIMANTAN BARAT
Maulana, Yasir
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 1 (2014): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1557.17 KB)
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i1.6473
Indonesia merupakan Negara yang sangat kaya akan sumber daya alam, budaya serta keanekaragaman hayati. Akan tetapi sifat manusia yang merusak alam semakin lama semakin merugikan dan merusak keseimbangan ekosistem yang ada. Keberadaan taman satwa di Kalimantan Barat sangat diperlukan karena kondisi satwa yang ada sangat sulit dilihat langsung oleh masyarakat dan terdapatnya jenis satwa yang tergolong langka. Kalimantan Barat sangat memerlukan tempat konservasi satwa yang juga dapat menjadi tempat wisata yang rekreatif dan edukatif sehingga cocok untuk perencanaan kawasan wisata taman satwa. Perancangan kawasan meliputi fasilitas pengunjung taman satwa dan melalui analisis dan pertimbangan terhadap lokasi perancangan. Perencanaan kawasan wisata taman satwa juga berpengaruh dalam ilmu pengetahuan masyarakat, serta membantu mempertahankan habitat satwa yang ada sehingga tidak punah. Sehingga perlu dirancang dengan baik untuk menghidupkan kembali kebun binatang yang telah ada sebelumnya dengan menyesuaikan lingkungan dengan menerapkan konsep alami dan tradisional yang menggunakan bentukan rumah betang dan sirkulasi dalam kawasan menggunakan jembatan kayu khas daerah kalimantan barat serta vegetasi yang rimbun agar menunjang kesan alami untuk kenyamanan satwa dan pengunjung. Perancangan kawasan taman satwa merupakan suatu langkah wisata edukatif dalam memenuhi kebutuhan wisata masa sekarang dan masa mendatang, memberikan suatu inovasi dalam mengatasi perkembangan pariwisata dengan menggunakan konsep pariwisata berkelanjutan. Kata kunci: taman satwa, konservasi, edukatif
Mini Football Square di Kota Pontianak
Putra, Anggoro Hastomo
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 1 (2014): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1922.464 KB)
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i1.5529
Olahraga merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Selain untuk menyehatkan tubuh, olahraga juga banyak manfaat dan fungsi lain. Antusias masyarakat Kota Pontianak terhadap olahraga futsal sangat tinggi, namun belum diringi dengan fasilitas yang representaif. Tidak hanya futsal, saat ini masyarakat bahkan telah akrab dengan olahraga mini football lainnya, seperti street football, indoor football, beach football� ataupun� freestyle football. Keberadaan Mini Football Square menjadi solusi tepat bagi masyarakat Kota Pontianak akan tempat yang representatif untuk menampung kegiatan olahraga tersebut. Mini Football Square merupakan suatu kawasan dengan sepakbola sebagai citra utama kawasan. Mini Football Square dirancang dengan konsep kawasan terpadu tematik. Olahraga sepakbola menjadi olahraga dominan pada Mini Football Square. Mini Football Square memiliki fungsi sebagai kawasan olahraga terpadu yang di dalamnya terdapat fasilitas olahraga seperti futsal, indoor football,beach football, street football, dan freestyle football. Penerapan prinsip perancangan ruang terbuka menjadi dasar perancangan mini football square serta menimbulkan citra kawasan sebagai kawasan bernuansa sepakbola.�Kata kunci: Kawasan Sepakbola Mini, Ruang Terbuka, Kawasan Tematik
RUMAH SAKIT HEWAN DI KOTA PONTIANAK
Indrawan, Wery;
Gunawan, Ivan;
Alhamdani, M. Ridha
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 1 (2014): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1694.579 KB)
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i1.4865
Kegemaran di dalam memelihara hewan sudah menjadi hal yang biasa bagi kalangan penduduk kota Pontianak. Hewan-hewan yang dipelihara dengan maksud dan tujuan tertentu tersebut tentunya juga rentan terhadap penyakit tergantung pada bagaimana ia diperlakukan oleh sang majikannya. Ada kondisi dimana hewan tersebut juga memerlukan tingkat perawatan yang lebih serius apabila terkena penyakit tertentu. Untuk itulah, fungsi sebuah Rumah Sakit Hewan akan banyak berperan di dalamnya. Klinik Hewan di kota Pontianak tidak memiliki fasilitas berupa ruang rawat inap, ruang rontgen, dan ruang bedah yang penting di dalam menunjang kegiatan pelayanan kesehatan hewan. Hewan yang terkena penyakit terkadang membutuhkan perawatan yang cukup lama dan pengobatan yang teratur sehingga memerlukan fasilitas yang memadai. Bangunan Rumah Sakit Hewan merupakan salah satu fasilitas kesehatan khusus hewan yang dapat melayani kebutuhan perawatan kesehatan hewan, baik secara rawat inap maupun rawat jalan. Selain itu, masyarakat bisa mendapatkan informasi dari rumah sakit mengenai cara-cara di dalam menjaga kesehatan hewan yang mereka pelihara. Dengan demikian, masyarakat juga dapat terhindar dari efek atau pengaruh negatif dari memelihara hewan yakni kemungkinan tertularnya penyakit hewan terhadap manusia.
PUSAT REHABILITASI NARKOTIKA KALIMANTAN BARAT
FITRIANI, APRIYANTI
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 1 (2014): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1989.477 KB)
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i1.6015
Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya lainnya. Salah satu provinsi di Indonesia dengan jumlah kasus narkotika yang besar adalah Kalimantan Barat. Menurut Undang-Undang Pemerintah Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 pasal 1 no. 15 tentang narkotika menyebutkan “penyalah guna merupakan orang yang menggunakan narkotika tanpa hak atau melawan hukum”. Namun Undang-undang yang sama yaitu pada Bagian Kedua pasal 54 yang mengatakan bahwa “pengguna narkotika berkewajiban untuk direhabilitasi baik rehabilitasi secara medis maupun sosial melalui fasilitas rehabilitasi”. Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 04 Tahun 2010 menyatakan bahwa “penempatan penyalahgunaan, korban penyalahgunaan dan pecandu narkotika ke dalam lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial”. Sehingga, untuk menangani korban penyalahgunaan narkotika diperlukanlah sebuah Pusat Rehabilitasi Narkotika Kalimantan Barat. Sistem pelaksanaan rehabilitasi sesuai dengan yang diterapkan oleh pihak BNN RI yaitu “Therapeutic Community”. Pusat Rehabilitasi Narkotika Kalimantan Barat ini merupakan bangunan massa banyak. Setiap massa disesuaikan dengan fungsi dan kegiatan residen, sehingga massa bangunan dibagi menjadi tiga yaitu bangunan perkantoran; bangunan therapeutic community; dan bangunan re-entry. Penataan massa dilakukan dengan sistem enclosure yang dapat menciptakan ruang terpisah antara residen dan dunia luar. Utilitas dan penataan lingkungan pada bangunan disesuaikan dengan kebutuhan dan keamanan residen dalam melakukan proses rehabilitasi, sedangkan untuk struktur disesuaikan dengan tapak, konsep, keamanan residen dan fungsi bangunan. Kesimpulan dari perancangan Pusat Rehabilitasi Narkotika Kalimantan Barat ini diarahkan untuk pemenuhan fasilitas BNNP Kal-Bar agar dapat dimanfaatkan untuk merehabilitasi pengguna narkotika di Kalimantan Barat dan merancang sebuah Pusat Rehabilitasi Narkotika yang sesuai dengan standar operasional sebuah Pusat Rehabilitasi Narkotika BNN RI. Kata kunci: Narkotika, Therapeutic Community, Pusat Rehabilitasi Narkotika Kalimantan Barat
PUSAT INFORMASI BUDAYA TIONGHOA KALIMANTAN BARAT
Jocunda, Silvia
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 1 (2014): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4049.676 KB)
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i1.7363
Kalimantan Barat memiliki keberagaman budaya yang terdiri dari 3 etnis mayoritas yaitu Melayu, Dayak dan Tionghoa. Kebudayaan Tionghoa Kalimantan Barat berumur ribuan tahun, sehingga perlu dilestarikan agar dapat dipelajari oleh generasi masa kini dan yang akan datang. Saat ini, fasilitas informasi budaya Tionghoa di Kalimantan Barat sangat minim, sehingga informasi budaya Tionghoa belum terfasilitasi dengan baik. Perencanaan dan perancangan Pusat Informasi Budaya Tionghoa Kalimantan Barat sangat penting karena dapat merepresentasikan dan menjadi wadah informasi budaya Tionghoa di Kalimantan Barat. Pusat Informasi Budaya Tionghoa Kalimantan Barat merupakan fasilitas yang memiliki informasi berupa bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, dan kesenian etnis Tionghoa Kalimantan Barat. Lokasi perancangan berada di kawasan pendidikan Universitas Tanjungpura, Pontianak. Hal ini untuk mendukung kawasan dan bangunan perancangan yang berbasis sumber informasi dan pendidikan. Kondisi eksisting site dikelilingi oleh jalan dan membuat site mudah untuk diakses dari berbagai arah. Pusat informasi budaya Tionghoa Kalimantan Barat memiliki 3 fungsi yaitu fungsi informasi, fungsi edukasi, dan fungsi rekreasi. Konsep utama dari pusat informasi budaya Tionghoa Kalimantan Barat adalah open access. Bangunan bersifat terbuka, mudah diakses pengunjung, ruang bersama, fasilitas yang memudahkan pengunjung untuk mendapatkan, menikmati dan mempelajari informasi kebudayaan. Kata kunci: Pusat Informasi Budaya, Tionghoa, Kalimantan Barat
REDESIGN PUSAT PERBELANJAAN KAPUAS BESAR DI KOTA PONTIANAK
Prayitno, Tri
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 1 (2014): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1433.853 KB)
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i1.5006
Pusat perbelanjaan pada umumnya terdiri dari bangunan atau kumpulan beberapa bangunan dalam satu lokasi. Dalam satu pusat perbelanjaan tersebut berkumpul sejumlah vendor independen atau beragam toko dengan dan beragam brand, yang semuanya dihubungkan antara satu dengan yang lain. Tetapi sering kali pusat � pusat perbelanjaan masih banyak yang belum bisa membuat konsumen merasa nyaman dan aman. Kota Pontianak merupakan kota yang sedang berkembang. Dan salah satu bentuk perkembanganya tersebut dapat dilihat dari aktifitas ekonomi. Aktifitas ekonomi yang dominan di kota Pontianak adalah sektor perdagangan. Salah satu komoditi yang diperdagangkan di kota Pontianak adalah produk kebutuhan berupa sandang dan pangan. Di kota Pontianak masih banyak pusat perbelanjaan yang belum bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi konsumenya. Misalnya di daerah pusat perbelanjaan Kapuas Besar di kota Pontianak. �Kondisi kapuas Besar yang kumuh, bangunan gedung yang sudah rusak, usang, jalur sirkulasi yang sempit dapat menghambat akses dan aktivitas pada bangunan pusat perbelanjaan Kapuas Besar. 0leh karena itu perlu adanya redesign agar pusat perbelanjaan Kapuas Besar lebih fungsional, nyaman, aman dan lebih tertata dengan rapi. Aman dapat dilihat dari kondisi fisik dan bangunan yang sudah tidak mampu menampung dan tidak layak pakai.�Kata Kunci : Redesign, Pusat Perbelanjaan
KAWASAN VILLA DENGAN PENATAAN LANDSEKAP AGROWISATA DI KOTA SINGKAWANG
Tokan, Matilda Relu Lama
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 1 (2014): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i1.6383
Villa merupakan salah satu alternatif tempat tinggal sementara yang berada jauh dari kejenuhan/kepenatan akan aktivitas di kota dan berada jauh dari kota-kota besar, karena fungsi villa pada umumnya adalah sebagai tempat peristirahatan dan dapat dikembangkan di suatu area atau daerah pegunungan yang dekat dengan pertanian dan perkebunan. Oleh karena itu, perlu perancangan dan pengembangan villa di daerah yang memiliki elemen luar/landsekap berupa lahan pertanian villa dapat dan perkebunan (agro), dimana sektor agro ini dapat menjadi daya tarik wisata (agrowisata) yang dapat menunjang dari keberadaan villa itu sendiri. Elemen luar/landsekap agrowisata ini, bertujuan sebagai penunjang atau pendukung dari fungsi utama yaitu hunian (villa). Perancangan Villa dengan penataan landsekap agrowisata ini dapat dikembangkan di daerah atau kota yang memiliki daya tarik wisata dan memiliki sektor pertanian serta perkebunan yang cukup berpotensi untuk dijadikan alternatif objek wisata, salah satunya adalah Singkawang. Pemanfaatan sektor pertanian dan perkebunan yang menjadi daya tarik wisata (agrowisata) ini bertujuan untuk bagian atau aset utama maupun penunjang dari Kota Singkawang. Keberadaan villa yang dekat dengan daerah perkebunan dan pertanian ini merupakan salah satu alternatif sarana penginapan yang menyajikan pemandangan alam yang menyejukkan. Kata kunci: Villa, Landsekap Agrowisata, Villa Agrowisata di Kota Singkawang.
PERANCANGAN PERPUSTAKAAN DAERAH KOTA PONTIANAK DENGAN MENGGUNAKAN METODE PENGHAWAAN GROUND COOLED SYSTEM
Putra, Cipta Cakra Diraja
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 1 (2014): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i1.4955
Ilmu pengetahuan dan informasi disebarkan ke segala penjuru dunia melalui media cetak dari masa lampau hingga masa kini. Badan Pusat Statistik (2006) menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Hal tersebut menjadi dasar pemerintah Republik Indonesia mencanangkan program pembenahan dan pengadaan perpustakaan kota dan daerah. Kota Pontianak yang merupakan ibukota provinsi Kalimantan Barat juga menjadi tujuan program tersebut. Aktivitas utama didalam sebuah perpustakaan adalah membaca. Kondisi ideal dalam mebaca diperoleh dari berbagai aspek, salah satunya adalah penghawaan. Iklim tropis yang dimiliki kota Pontianak menjadikan kondisi cukup panas. Sistem penghawaan yang dapat mendukung aktivitas membaca adalah sistem penghawaan buatan, dikarenakan dapat menjaga kelembaban ruang dan akustik ruang yang diperlukan dalam sebuah perpustakaan. Penghawaan buatan konvensional yang digunakan pada masa sekarang ini memerlukan sumber daya listrik yang tinggi. Ground cooled system (GCS) dapat menjadi solusi masalah hemat energi dan penghawaan yang diperlukan didalam sebuah perpustakaan. Penggunaan GCS menghemat kebutuhan ruang pada perpustakaan. Hal tersebut dikarenakan sistem GCS pada perpustakaan ini memanfaatkan tanah sebagai media untuk menukar panas.�Kata kunci: Perpustakaan, penghawaan buatan, ground cooled system
RUMAH SAKIT KELAS C DENGAN KONSEP ARSITEKTUR SADAR ENERGI DI KECAMATAN PONTIANAK UTARA KOTA PONTIANAK
Wijaya, Budi
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 1 (2014): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i1.7420
Kesehatan merupakan hal mendasar bagi manusia. Rumah sakit merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan. Di Kota Pontianak, tren pertumbuhan rumah sakit belum diikuti oleh pemerataan fasilitas kesehatan karena Kecamatan Pontianak Utara merupakan satu - satunya kecamatan yang belum memiliki rumah sakit. Secara geografis Kecamatan Pontianak Utara juga terpisah dari kecamatan lain di Kota Pontianak dan menurut data Bappeda Kota Pontianak (2013) persentase jumlah keluarga miskin tertinggi berada pada Kecamatan Pontianak Utara (28.09%). Perancangan bangunan rumah sakit kelas C dengan konsep arsitektur sadar energi bertujuan untuk mewadahi kebutuhan fasilitas kesehatan di Kecamatan Pontianak utara dan sekitarnya. Adapun metode perancangan yang digunakan adalah pengumpulan data, analisa, sintesis, dan tahap rancangan. Hasil dari perancangan bangunan rumah sakit berupa 2 massa yaitu massa utama dan massa pendukung. Orientasi dan perletakan bangunan serta zona ruang diatur menyesuaikan kondisi iklim sehingga cahaya dan penghawaan alami dapat dimanfaatkan secara maksimal dengan menggunakan bidang jendela yang dominan pada fasad area utara dan selatan. Pentingnya aplikasi arsitektur sadar energi pada bangunan rumah sakit melalui pemanfaatan pencahayaan dan penghawaan alami diharapkan dapat menekan biaya operasional rumah sakit sehingga dapat meminimalisir biaya pengobatan masyarakat di Kecamatan Pontianak Utara.Kata kunci : Kecamatan Pontianak Utara, Rumah Sakit Umum Kelas C, Arsitektur Sadar Energi
Ecopark di Kota Pontianak
Putri Dirgania Agusta
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 1 (2014): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i1.6023
Kota pontianak yang sedang berkembang ini mengakibatkan pembangunan diberbagai sektor seperti perdagangan, perumahan, pariwisata dan perkantoran. Ruang terbuka hijau kota Pontianak yang mulai ditinggalkan dan digantikan dengan perkerasan/bangunan dapat menyebabkan kurangnya ketersediaan lahan terbuka hijau, hilangnya lahan bermain bagi anak-anak, dan tempat rekreasi hijau. Bangunan yang cenderung menutup permukaan tanah dikhawatirkan dapat mengurangi pemasokan air ke dalam tanah dan dapat menimbulkan potensi iklim mikro menjadi semakin panas. Hal inilah yang kemudian dapat merusak keseimbangan ekologi kota pontianak dan merusak lingkungan perkotaan.Untuk menciptakan lingkungan kota Pontianak yang sehat, dapat dilakukan dengan mengupayakan kembali keseimbangan ekologis kota Pontianak dengan menghadirkan kembali lingkungan-lingkungan alami kota. Salah satu contoh lingkungan alami kota adalah ruang terbuka hijau berupa ecopark. Ecopark merupakan ruang terbuka hijau yang dapat berperan dalam membantu fungsi hidrologi dalam hal penyerapan air dan mereduksi potensi banjir. saving water, meredam kebisingan, menyerap polutan dan karbondioksida serta menghasilkan oksigen. Selain itu ecopark dapat berfungsi sebagai sarana belajar, rekreasi, dan bermain bagi masyarakat, serta ruang terbuka hijau yang berupa ecopark ini diharapkan dapat menimbulkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan kota tempat mereka tinggal. Kata-kata kunci : ecopark, ekologi, ruang terbuka hijau