cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Kimia Khatulistiwa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 329 Documents
Aktivitas Antirayap Daun Gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) Terhadap Rayap Tanah Coptotermes sp. Afghani Jayuska, Andi Hairil Alimuddin, Irma Tiara Puteri,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.81 KB)

Abstract

Tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis Lam./ Thymelaeaceae) umumnya digunakan dalam bidang pengobatan dan kosmetik. Namun belum diketahui bioaktivitas gaharu sebagai antirayap, terutama bagian daun yang tidak banyak dimanfaatkan. Pada penelitian ini, ekstrak daun gaharu digunakan sebagai antirayap terhadap rayap tanah Coptotermes sp.. Penelitian ini dibagi atas tiga tahapan, yaitu ekstraksi dan fraksinasi, skrining fitokimia, serta uji aktivitas antirayap dengan ‘metode umpan paksa’. Uji dilakukan selama 7 hari dengan variasi konsentrasi 0% (kontrol negatif), 2%, 4%, 6%, 8%, 10% (b/v), serta fipronil 0,25% (v/v) (kontrol positif). Ekstrak kasar metanol yang diperoleh dari 730 g daun gaharu kering sebesar 136,8 g (18,74%), terdiri dari 7,23% fraksi n-heksana, 11,10% fraksi etil asetat, dan 81,67% fraksi metanol. Skrining fitokimia yang dilakukan pada ekstrak daun gaharu menggunakan tabung reaksi dan plat kromatografi lapis tipis (KLT) menunjukkan ekstrak daun gaharu mengandung senyawa golongan flavonoid, polifenol/tanin, steroid, triterpenoid, dan saponin. Analisis GC-MS fraksi n-heksana menunjukkan adanya senyawa skualen yang tergolong ke dalam triterpenoid serta beberapa senyawa steroid. Uji aktivitas antirayap dengan ‘metode umpan paksa’ dilakukan selama 7 hari dengan variasi konsentrasi 0% (kontrol negatif), 2%, 4%, 6%, 8%, 10% (b/v), serta fipronil 0,25% (v/v) (kontrol positif). Hasil penelitian menunjukkan fraksi yang paling aktif terhadap uji antirayap adalah fraksi etil asetat (LC50 1,192%) dan fraksi n-heksana (LC50 1,414%). Senyawa golongan steroid yang terdapat dalam kedua fraksi tersebut diduga berperan aktif sebagai antirayap. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa ekstrak daun gaharu memiliki potensi sebagai antirayap terhadap rayap tanah Coptotermes sp.. Kata kunci: Coptotermes sp., Aquilaria malaccensis Lam., antirayap, skrining fitokimia, steroid
STUDI WAKTU PENGUAPAN PADA PEMBUATAN BLEND MEMBRAN POLISULFON/SELULOSA ASETAT DARI NATA de COCO Intan Syahbanu, Puji Ardiningsih, Mita Yuspitasari,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 4 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.797 KB)

Abstract

Membran merupakan suatu lembaran tipis yang bertindak sebagai pemisah selektif antara dua fase karena bersifat semipermeabel. Pada penelitian ini membran dibuat dari selulosa asetat dan polisulfon yang di blending dengan polietilenglikol (PEG 400) menggunakan metode inversi fasa pada berbagai variasi waktu penguapan 0, 30, 60, 90, dan 120 detik. Hasil asetilasi pada selulosa telah berhasil dilakukan dengan munculnya gugus khas dari selulosa asetat. Karakterisasi selulosa asetat menggunakan FTIR menunjukkan adanya gugus OH pada 3573,36 cm-1, C=O pada 1742,18 cm-1, dan C-O asetil pada 1223,35 cm-1. Analisis morfologi membran selulosa asetat dengan SEM menunjukkan terbentuknya pori membran asimetris. Hasil penelitian diperoleh nilai fluks tertinggi untuk membran sintesis dan komersil berturut-turut sebesar 106,316 L/jam.m2 dan 42,776 L/jam.m2 pada waktu penguapan 0 detik. Nilai rejeksi tertinggi yang diperoleh pada penelitian ini sebesar 49,179 % untuk membran dengan waktu penguapan 30 detik. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa membran polisulfon/ polietilenglikol/ selulosa asetat yang dihasilkan merupakan membran berpori yang baik digunakan dalam teknik pemisahan. Kata Kunci: membran, selulosa asetat, waktu penguapan
ZEOLIT SINTESIS DARI SEKAM PADI DAN APLIKASINYA DALAM MENURUNKAN KADAR ION Fe (II) PADA AIR GAMBUT Titin Anita Zaharah, Intan Syahbanu, Lispina Era,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 4 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.464 KB)

Abstract

Abu sekam padi mempunyai komposisi silika hampir 88,92% yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk sintesis zeolit. Zeolit sintesis dibuat melalui tahapan yaitu pembuatan natrium silikat dan natrium aluminat. Natrium silikat dihasilkan dari reaksi antara abu sekam padi dengan larutan NaOH melalui proses pelarutan yang kemudian dikalsinasi pada suhu 500˚C. Padatan natrium silikat kemudian dilarutkan dalam akuades hingga terbentuk larutan natrium silikat sedangkan Natrium aluminat dihasilkan dari reaksi antara NaOH dengan Al2O3. Natrium silikat dan natrium aluminat direaksikan untukmenghasilkan kristal zeolit dari abu sekam padi. Hasil karakterisasi dengan XRD menunjukkan bahwa zeolit abu sekam padi yang dihasilkan dominan memiliki karakteristik fase modernit dimana intesitas tertinggi pada 2θ=28,0304 serta hasil XRF menunjukkan kandungan Al sebesar 65% dan Si sebesar 24,8% maka zeolit sintesis tersebut dikategorikan zeolit dengan kadar Si rendah. Zeolit sintesis dari abu sekam padi diaplikasikan pada air gambut untuk menurunkan kadar ion Fe (II) diperoleh massa optimum 1,75 gram pada waktu kontak 60 menit sebesar 91,01%. Kata kunci : abu sekam padi, adsorpsi, besi, zeolit sintesis
SINTESIS KATALIS SN/ZEOLIT DAN UJI AKTIVITAS PADA REAKSI ESTERIFIKASI LIMBAH MINYAK KELAPA SAWIT (PALM SLUDGE OIL) Thamrin Usman, Nelly Wahyuni, Yudi Yudistira,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.37 KB)

Abstract

Sintesis katalis Sn/zeolit telah dilakukan untuk reaksi esterifikasi asam lemak dalam limbah minyak kelapa sawit. Karakterisasi katalis dilakukan dengan XRD, XRF, FTIR, dan uji keasaman. Katalis Sn/zeolit disintesis dengan mengimpregnasi logam Sn dari garam SnCl2 kedalam zeolit, dimana jumlah Sn yang diimpregnasi tersebut divariasikan berdasarkan pada nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK) zeolit. Katalis Sn/zeolit digunakan pada reaksi esterifikasi asam lemak dari limbah minyak kelapa sawit dengan variasi waktu reaksi untuk melihat aktivitas katalitik katalis. Hasil XRD menunjukkan bahwa katalis Sn/zeolit didominasi mineral modernit dan kuarsa. Hasil XRF menunjukkan adanya peningkatan jumlah logam Sn dan rasio Si/Al pada katalis Sn/zeolit seiring dengan penambahan jumlah logam Sn, dan efisiensi pengembanan Sn pada zeolit dapat mencapai 90,79% pada katalis dengan rasio 1:4. Hasil FTIR menunjukkan bahwa katalis hasil sintesis memiliki sisi asam Bronsted (pada spektrum 1639,4; 1656,7; 1654,8 cm-1) dan sisi asam Lewis (pada spektrum 1400,2 dan 1402,2 cm-1) dengan keasaman total tertinggi 0,54 mmol/g pada katalis Sn/zeolit 4:1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu reaksi optimum dalam reaksi esterifikasi adalah 4 jam dengan persentase konversi produk mencapai 96,00% yang dapat dicapai dengan rasio Sn dan zeolit pada katalis sebesar 4:1. Metil ester yang dihasilkan memiliki indeks bias 1,45 (29,6°C), kerapatan 0,88 g/mL (25°C) dan viskositas 9,28 cSt (25°C). Hasil analisa GC-MS menunjukkan komposisi utama metil ester adalah metil elaidat (35,80%), metil palmitat (32,22%), dan metil stearat (11,09%). Kata Kunci: esterifikasi, KTK, limbah minyak kelapa sawit, logam Sn, zeolit
SINTESIS SENYAWA TURUNAN ANTRAKUINON DARI VANILIN DAN FTALAT ANHIDRIDA MENGGUNAKAN KATALIS AlCl3 Andi Hairil Alimuddin, Rudiyansyah, Widya Hartati,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 3 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.857 KB)

Abstract

Penelitian tentang sintesis senyawa turunan antrakuinon telah dilakukan menggunakan vanilin dan ftalat anhidrida dengan katalis AlCl3 pada temperatur 110C selama 4 jam. Proses sintesis dimulai dengan cara refluks dan dilanjutkan dengan ekstraksi menggunakan etil asetat. Pemurnian dilakukan dengan teknik kromatografi lapis tipis preparatif (KLTP) dan dikarakterisasi menggunakan spektrofotometer infrared (IR). Hasil penelitian menunjukkan isolat berupa padatan berwarna coklat dengan massa sebesar 0,0032 g dan rendemen yang diperoleh sebesar 1,13%. Hasil uji fitokimia dilakukan dengan menyemprotkan KOH 10% yang menghasilkan noda berwarna kuning pada plat KLT yang menunjukkan positif senyawa turunan antrakuinon. Spektrum IR menunjukkan pita serapan pada maks (cm-1): 3448,7 (OH), 2854,6  (C-H aldehida), 1666,5 (C=O), 1589,3 (C=C aromatik), 1496,7 (C-H), 1273,0 (C-O-CH3) dan 817,8 (C-H aromatik luar bidang). Berdasarkan data spektrum IR dan hasil uji fitokimia, diprediksi bahwa senyawa tersebut adalah senyawa 1-hidroksi-2-metoksi-4-formilantrakuinon. Kata Kunci: antrakuinon, ftalat anhidrida, vanilin,  AlCl3
PENINGKATAN RENDEMEN MINYAK ATSIRI DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum) DENGAN METODE DELIGNIFIKASI DAN FERMENTASI Afghani Jayuska, Andi Hairil Alimuddin, Chandra Wijaya,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 4 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.242 KB)

Abstract

Minyak atsiri daun cengkeh (S. aromaticum) dari suku Myrtaceae telah diekstrak dengan metode destilasi uap dengan perlakuan awal delignifikasi, fermentasi, dan gabungan delignifikasi dan fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan rendemen minyak atsiri daun cengkeh dengan perlakuan awal delignifikasi, fermentasi, dan gabungan delignifikasi dan fermentasi. Delignifikasi daun cengkeh menggunakan larutan NaOH 0,25% pada temperatur 55 – 60 oC, fermentasi daun cengkeh menggunakan kapang Trichoderma harzianum yang dilakukan selama 8 hari (5 hari secara aerobik dan 3 hari secara anaerobik). Gabungan proses delignifikasi dan fermentasi diawali dengan proses delignifikasi menggunakan larutan NaOH 0,25% pada temperatur 55 – 60 oC dan dilanjutkan dengan proses fermentasi menggunakan kapang T. harzianum selama 8 hari (5 hari secara aerobik dan 3 hari secara anaerobik). Rendemen minyak atsiri hasil destilasi daun cengkeh dari proses delignifikasi, fermentasi, dan gabungan delignifikasi dan fermentasi berturut-turut sebesar 2,3566%; 2,6567%; dan 1,3581%. Berdasarkan hasil tersebut proses fermentasi memberikan hasil terbaik dengan kenaikan rendemen sebesar 57,7%; delignifikasi 39,9%, dan penurunan rendemen dari gabungan delignifikasi dan fermentasi sebesar 19,4%. Identifikasi menggunakan GC-MS menunjukkan kadar eugenol dan (trans)-β-karyofilen minyak atsiri daun cengkeh juga sudah memenuhi standar yang ditetapkan.   Kata Kunci: Cengkeh (Syzygium aromaticum), Delignifikasi, Fermentasi, GC-MS, Myrtaceae, Trichoderma, Rendemen
ADSORPSI SENYAWA FENOLIK DALAM ASAP CAIR PADA ARANG AKTIF DARI CANGKANG LUAR BUAH KARET Intan Syahbanu, Anis Shofiyani, Elisabet Paskalia,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.65 KB)

Abstract

Cangkang buah karet mengandung senyawa selulosa, hemiselulosa, dan lignin sehingga berpotensi sebagai bahan baku dalam proses pirolisis untuk menghasilkan asap cair dan produk samping berupa arang. Asap cair mengandung senyawa fenolik yang berbau tajam yang dapat diadsorpsi menggunakan arang untuk meningkatkan kualitas asap cair. Penelitian ini bertujuan untuk penentuan karakteristik asap cair, karakteristik arang teraktivasi H3PO4 2,5 %, efektivitas dan kapasitas arang aktif pada proses adsorpsi senyawa fenolik dalam asap cair dari cangkang buah karet. Hasil karakteristik asap cair meliputi pengukuran massa jenis sebelum adsorpsi 1,044 g/L setelah adsorpsi 0,987 g/L dan pH asap cair sebelum adsorpsi 2,8 setelah adsorpsi 3,1. Konsentrasi senyawa fenolik sebelum adsorpsi 5338,5 mg/L dan setelah dilakukan adsorpsi menggunakan arang aktif konsentrasi menjadi 3737,41 mg/L. Kualitas arang aktif yang ditentukan adalah kadar air, kadar abu, luas permukaan arang aktif, volume total pori dan rerata ukuran pori. penelitian ini diperoleh kadar air 1,93 %, kadar abu 0,63 %, luas permukaan arang akif 486,400 m2/g, volume total pori 0,4566 cc/g dan rerata ukuran pori 30,964 Å. Efektivitas dari arang aktif untuk menurunkan konsentrasi senyawa fenolik dalam asap cair sebesar 30,029 % dengan kapasitas adsorpsi 15,993 mg/g. Mekanisme isoterm adsorpsi mengikuti pola Freundlich dengan R2 = 0,995. Kata kunci : adsorpsi, cangkang luar buah karet, senyawa fenolik
PERBANDINGAN METODE PENENTUAN Pb(II) DI SUNGAI KAPUAS SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS CARA KALIBRASI TERPISAH DAN ADISI STANDAR Lia Destiarti, Nurlina, Eka Selpiana,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.194 KB)

Abstract

Sungai Kapuas merupakan perairan yang digunakan sebagai jalur transportasi air. Aktivitas transportasi air di Sungai Kapuas memiliki gas buangan berpotensi menimbulkan pencemaran logam berat salah satunya timbal (Pb). Kadar logam Pb dapat dianalisis menggunakan spektrofotometri ultra violet-visible dengan metode kalibrasi terpisah. Metode kalibrasi terpisah memiliki kelemahan jika sampel air yang dianalisis mengandung matriks, sehingga dipilih metode lain yaitu adisi standar. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode kalibrasi terpisah dan adisi standar dalam menentukan kadar timbal di Sungai Kapuas serta melakukan validasi hasil analisis dari kedua metode tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada metode kalibrasi terpisah diperoleh nilai akurasi 0,38%%-57,07%, presisi 8,06%-21,62%, LOD 2,04 mg/L, LOQ 6,8 mg/L, koefisien korelasi 0,984. Parameter analitik dengan metode adisi standar diperoleh nilai akurasi 8%-63%, presisi 9,07%-14,29%, LOD 0,08 mg/L, LOQ 0,28 mg/L dan koefisien korelasi 0,889. Hasil penentuan kadar Pb(II) dalam air Sungai Kapuas dengan metode kalibrasi terpisah dan adisi standar secara berturut-turut adalah 0,985±0,102 ppm dan 0,003±0,0036 ppm. Berdasarkan uji-t, penentuan kadar Pb dengan menggunakan spektrometri UV-Vis yang dianalisis dengan metode kalibrasi terpisah dan adisi standar menunjukkan hasil analisis yang berbeda secara signifikan. Berdasarkan parameter analitiknya, metode yang lebih baik dalam menentukan kadar Pb adalah dengan metode adisi standar. Kata kunci: Pb(II), kalibrasi standar, adisi standar, validasi metode, spektrofotometri UV-Vis
PENURUNAN ION Ca(II) DAN Mg(II) PENYEBAB KESADAHAN OLEH KOMPOSIT KITOSAN-ZEOLIT PELET DAN BEADS Nurlina, Titin Anita Zaharah, Ivo Risti Handayani,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 3 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.664 KB)

Abstract

Pada penelitian ini telah dibuat komposit kitosan-zeolit pelet (p) glutaraldehid (G) (KZ-pG) dan tanpa glutaraldehid (KZ-p) serta komposit kitosan-zeolit beads (b) glutaraldehid (G) (KZ-bG) dan tanpa glutaraldehid (KZ-b). Komposit diaplikasikan untuk menurunkan konsentrasi ion Ca(II) dan Mg(II) penyebab kesadahan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi gugus fungsi komposit serta mengetahui kestabilan komposit. Tujuan lainnya adalah menentukan kapasitas adsorpsi ion Ca(II) dan Mg(II) oleh komposit. Tahapan penelitian meliputi: pembuatan komposit, uji stabilitas komposit dalam larutan dengan variasi pH 2-8, dan penentuan kapasitas adsorpsi ion Ca(II) dan Mg(II) oleh komposit. Komposit KZ-p dibuat dari kitosan:zeolit:PVA 1:1:3. Komposit KZ-b dibuat dengan melarutkan kitosan dalam asam asetat dan ditambahkan zeolit (1:1). Komposit KZ-pG dan KZ-bG dibuat dengan melarutkan KZ-p dan KZ-b dalam glutaraldehid. Spektrum FT-IR menunjukkan karakteristik serapan gugus –C=N dari ikatan kitosan-gluteraldehid pada komposit KZ-pG dan KZ-bG. Komposit KZ-pG dan KZ-bG lebih stabil daripada komposit KZ-p dan KZ-b. Kapasitas adsorpsi maksimum diperoleh dari pengaplikasian massa komposit 10 mg. Kapasitas adsorpsi ion Ca(II) dan Mg(II) oleh komposit KZ-pG berturut-turut sebesar 57,2 g/g dan 34,8 g/g. Kapasitas adsorpsi ion Ca(II) dan Mg(II) komposit KZ-bG berturut-turut sebesar 55,6 g/g dan 33,9 g/g. Penurunan massa komposit KZ-pG dan KZ-bG berpengaruh signifikan terhadap kenaikan kapasitas adsorpsi ion Ca(II) dan Mg(II). Kata kunci: kesadahan, kitosan-zeolit, Ca(II), Mg(II), komposit
KARAKTERISASI SABUN MINYAK BIJI KETAPANG (TERMINALIA CATAPPA L.) DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK KESUMBA (BIXA ORELLANA L.) SEBAGAI PEWARNA ALAMI Winda Rahmalia, Intan Syahbanu, Nur Intan Oktaviani,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 3 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.206 KB)

Abstract

Sabun merupakan campuran asam lemak dengan senyawa natrium atau kalium yang digunakan sebagai pembersih. Pembuatan sabun menggunakan minyak biji ketapang (Terminalia catappa L.) sebagai bahan baku merupakan alternatif yang dapat digunakan karena keberadaan yang melimpah. Penambahan ekstrak kesumba (Bixa orellana L.) sebagai pewarna alami untuk membuat penampilan sabun lebih menarik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas sabun minyak biji ketapang (sabun a) sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan untuk mengetahui pengaruh pewarna alami dari ekstrak selaput biji kesumba dalam sabun minyak biji ketapang (sabun b). Sabun a dan b yang dihasilkan memiliki kadar air masing-masing sebesar 12,06% dan 14,29%, jumlah asam lemak 83,75% dan 75,21%, kadar asam lemak 0,818% dan 0,614% serta negatif mengandung alkali bebas dan minyak mineral sehingga sesuai dengan SNI. Pada uji iritasi pada kulit sabun dinyatakan negatif kulit dan untuk uji antioksidan sabun tanpa penambahan pewarna kesumba memiliki nilai Inhibition Concetration (IC50) sebesar 68 ppm dan sabun yang telah ditambahkan dengan pewarna kesumba memiliki nilai Inhibition Concetration IC50 sebesar 296,67 ppm. Kata kunci: Antioksidan, kesumba, minyak biji ketapang, sabun