cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Kimia Khatulistiwa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 329 Documents
SENYAWA FLAVONOID DARI FRAKSI ETIL ASETAT BATANG TANAMAN ANDONG (Cordyline fruticosa) DAN AKTIVITAS SITOTOKSIKNYA TERHADAP SEL HeLa Ari Widiyantoro, Nurlina, Iman Nur Satya Budi,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 4 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.47 KB)

Abstract

Tanaman andong (Cordyline fruticosa) telah digunakan sebagai obat tradisional. Tanaman ini telah diketahui memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamsi dan antifeedant. Penelitian ini akan difokuskan untuk menjelaskan struktur senyawa flavonoid yang terdapat pada fraksi etil asetat batang tanaman andong (Cordyline fruticosa) dan menjelaskan aktivitas sitotoksik senyawa flavonoid tersebut terhadap sel kanker HeLa. Ekstraksi dan fraksinasi dilakukan untuk memperoleh fraksi dari batang andong. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa batang tanaman andong mengandung senyawa terpenoid, steroid, flavonoid, saponin, alkaloid dan tanin yang memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker HeLa. Pemisahan fraksi etil asetat dilakukan dengan kromatografi kolom. Isolat dikarakterisasi dengan UV-Vis dan spektra IR untuk mendapatkan profil spektranya. Selanjutnya diuji aktivitas sitotoksiknya terhadap sel kanker HeLa yang dilakukan terhadap ekstrak kental metanol, fraksi maupun isolat dari fraksi etil asetat batang andong. Spektrum IR isolat FE1.1* menunjukkan serapan 3425,58 (OH), 2864,65-2924,09 (CH), 1730 (C=O), 1396,46-1499 (C=C), 1087 (C-O-C). Berdasarkan analisis spektroskopi, dapat disimpulkan bahwa senyawa pada isolat FE1.1* adalah senyawa flavonoid dengan prediksi struktur yaitu senyawa. Isolat FE1.1* memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker HeLa sebesar 232,770 μg/mL pada konsentrasi 700 μg/mL. Kata kunci : Cordyline fruticosa, inframerah, UV-Vis, Sel HeLa, flavonoid
ANALISIS SIFAT FISIK DAN KIMIA GEL EKSTRAK ETANOL DAUN TALAS (Colocasia esculenta (L.) Schott) Nora Idiawati, Muhamad Agus Wibowo, Noorritha Khairany,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.963 KB)

Abstract

Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott) merupakan salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai alternatif obat luka serta telah diketahui memiliki kandungan senyawa aktif yang berperan sebagai antibakteri dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan topikal gel bagi obat luka dengan basis Na-CMC dan menentukaan sifat fisik dan kimia gel tersebut. Daun talas diekstrak dengan menggunakan pelarut etanol. Terhadap ekstrak etanol daun talas dilakukan skrining fitokimia terlebih dahulu kemudian dibuat ke dalam bentuk sediaan gel, selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap sediaan gel tersebut. Berasarkan hasil skrining fitokimia, ekstrak etanol daun talas memiliki kandungan senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, steroid dan saponin. Sediaan gel yang dibuat memiliki sifat fisik yang homogen, memiliki kekentalan yang cukup tinggi, bertekstur lembut dan memiliki aroma khas ekstrak. Gel ekstrak dengan kandungan ekstrak etanol daun talas 5%, 10% dan 15% memiliki daya sebar berturut-turut 2.18 cm; 2.23 cm; 2.40 cm, dan memiliki daya lekat berturut-turut 18.3 menit; 23.15 menit; 44.33 menit. Hasil pengujian terhadap sifat kimia gel berupa nilai pH menunjukkan ketiga variasi gel ekatraak etanol daun talas memiliki nilai pH pada kisaran 5. Gel dengan kandungan ekstrak 15% memiliki kondisi fisik dan kimia yang lebih baik dibandingkan gel dengan kandungan ekstrak 5% dan 10%. Kata kunci : Colocasi esculenta (L.) Schoot, gel, Na-CMC
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIBAKTERI FRAKSI ETIL ASETAT BUAH ASAM KANDIS (Garcinia dioica Blume) TERENKAPSULASI PATI-Carboxymethylcellulose (CMC) Puji Ardiningsih, Afghani Jayuska, Irene Utami,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.609 KB)

Abstract

Buah asam kandis (Garcinia dioica Blume) merupakan sumber antioksidan dan antibakteri, namun pemanfaatannya dalam wujud ekstrak memiliki waktu penyimpanan yang relatif pendek dan rentan mengalami kerusakan akibat pengaruh lingkungan. Enkapsulasi merupakan salah satu solusi untuk melindungi dan mengontrol pelepasan bahan aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan antibakteri buah asam kandis sebelum dan sesudah proses enkapsulasi dengan bahan penyalut pati-CMC (Carboxymethylcellulose). Adapun prosedur enkapsulasi dilakukan pada 20% (b/b) fraksi etil asetat dan pati-CMC dengan perbandingan 1:3 menggunakan metode freeze drying. Uji aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picryl hydrazil), sedangkan uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi sumur. Hasilnya diperoleh aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 fraksi dan enkapsulat masing-masing adalah 37,883 dan 359,225 ppm. Berdasarkan uji aktivitas antibakteri diperoleh hasil bahwa fraksi aktif menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococus aureus dan Pseudomonas aeruginosa pada rentang konsentrasi 1-6 mg/sumur, sendangkan enkapsulat hanya aktif menghambat bakteri P.aeruginosa pada rentang konsentrasi 0,3-1,0 mg/sumur. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penggunaan pati-CMC dengan perbandingan 1:3 belum optimal melindungi bahan aktif saat diaplikasikan sebagai sumber antioksidan, namun optimal dalam meningkatkan sifat antibakteri fraksi etil asetat buah asam kandis.Kata Kunci: G. dioica Blume, antioksidan, antibakteri, enkapsulasi, freeze drying
AKTIVITAS BIOINSEKTISIDA EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi) TERHADAP KECOAK (Periplaneta americana) Puji Ardiningsih, Intan Syahbanu, Yokarius Krisman,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 3 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.888 KB)

Abstract

Kecoak (Periplaneta americana) merupakan serangga yang tergolong sebagai hama dan dapat menjadi vektor bakteri dari beberapa penyakit seperti disentri, kolera, diare, tifus, dan polio. Penggunaan insektisida sintetis sebagai pembasmi kecoak umumnya meninggalkan residu berupa bahan aktif yang sulit terurai dan berdampak negatif bagi lingkungan. Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) merupakan tanaman yang memiliki beberapa manfaat diantaranya berpotensi sebagai insektisida alami. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan ekstrak kasar, fraksi n-heksan, etil asetat dan etanol daun belimbing wuluh sebagai insektisida alami pada kecoak. Pengujian dilakukan menggunakan metode semprot pada 10 ekor hewan uji dan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Mortalitas hewan uji dianalisis dan dihitung menggunakan analisis One Way ANOVA. Fraksi n-heksan memberikan nilai signifikan (P<0,05) terhadap kontrol negatif sedangkan fraksi lainnya tidak memberikan hasil yang signifikan. Pengujian fraksi n-heksan selanjutnya menggunakan variasi konsentrasi 12,50; 25,00; 37,50; dan 50,00% (b/v), dilakukan juga uji terhadap kontrol positif (Baygon) dan kontrol negatif (Akuades+DMSO). Hasil fitokimia menunjukkan fraksi n-heksan mengandung senyawa golongan terpenoid/steroid. Konsentrasi optimum fraksi n-heksan membunuh kecoak adalah 25,00%. Nilai LC50 fraksi n-heksan sebesar 24,135% serta LT50 sebesar 47,044 jam sehingga dari hasil penelitian ini, fraksi n-heksan berpotensi sebagai bioinsektisida. Kata kunci : Averrhoa bilimbi, Bioinsektisida, Periplaneta americana
KAPASITAS ADSORPSI ION LOGAM Cd(II) PADA BIOARANG DAUN KETAPANG (Terminalia catappa Linn) Winda Rahmalia, Anis Shofiyani, Domiruddin,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 4 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.787 KB)

Abstract

Telah dilakukan sintesis bioarang dari daun ketapang dengan proses karbonisasi pada suhu 300oC selama 30 menit. Kualitas bioarang diuji berdasarkan standar SII No. 0258-88 meliputi uji kadar air, kadar abu, daya serap iod, dan daya serap metilen biru. Karakterisasi bioarang menggunakan spektrofotometer fourier transform infra red (FTIR) untuk mengetahui gugus fungsi dan analisis scanning electron microscope (SEM) dilakukan untuk mengetahui morfologi permukaan bioarang. Bioarang hasil sintesis di aplikasikan untuk adsorpsi logam Cd(II) dengan variasi konsentrasi 1 ; 2 ; 4 ; 6 ; 8; 10 mg/L serta dipelajari pola isoterm adsorpsi yang terjadi secara Langmuir, Freundlich dan BET (Brunauer-Emmet-Teller). Hasil penelitian menunjukkan nilai kadar air sebesar 3,38%, kadar abu 13,67%, daya serap iod 109,3628 mg/g, daya serap metilen biru 23,885 mg/g. Analisis FTIR menunjukkan adanya gugus fungsi C-H , C-O, dan O-H pada bioarang. Hasil analisis SEM menunjukkan terbentuknya pori bioarang dengan ukuran mikropori. Pada bioarang Interaksi adsorpsi berlangsung secara fisisorpsi, mengikuti model isoterm Langmuir dan BET dengan kapasitas adsorpsi maksimum (Xm) 10,4058 mg/g dan konstanta kesetimbangan (K) yakni 0,06568 L/mg serta penurunan kadar ion Cd(II) sebesar 66,7-99%. Berdasarkan hasil penelitian diketahui adsorben bioarang daun Ketapang mempunyai kinerja yang baik terhadap adsorpsi ion logam Cd(II). Kata Kunci : bioarang daun ketapang, adsorpsi, Cd(II)
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KASAR BUAH ASAM PAYA (Eleiodoxa conferta (Griff.) Buret) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus DAN Salmonella thypi Agus Wibowo, Nora Idiawati, Ghea Lidyaza Safitri,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.098 KB)

Abstract

Asam paya (E. conferta (Griff.) Buret) merupakan tumbuhan yang termasuk dalam kelompok Palmae, suku Aracaceae. Tumbuhan ini banyak ditemukan di daerah rawa-rawa air tawar seperti Thailand, Malaysia dan Indonesia. Penelitian ini bertujuan menjelaskan pengaruh ekstrak kasar etanol buah asam paya dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella thypi  dengan metode difusi cakram. Hasil pengujian skrinning fitokimia ekstrak kasar etanol asam paya menunjukkan adanya kandungan senyawa alkaloid, flavanoid, saponin, tannin dan triterpenoid,. Senyawa-senyawa metabolit sekunder diduga memiliki peranan dalam menghambat aktivitas bakteri S.aureus dan S.thypi. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa ekstrak kasar etanol dengan konsentrasi 80% mampu memberikan zona hambat paling besar. Zona hambat S.aureus  adalah 9,63 mm (kategori sedang) dan untuk zona hambat S.thypi adalah 17,61 mm (kategori kuat). Nilai zona hambat tersebut menunjukkan efek bakteriostatik, yakni hanya menghambat dan tidak membunuh. Kata Kunci: antibakteri, Asam paya (E.conferta. (Griff.) Buret), S.aureus dan S.thypi, senyawa kimia, zona hambat
IDENTIFIKASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI TIGA ISOLAT BAKTERI TANAH GAMBUT KALIMANTAN BARAT Puji Ardiningsih1, Afghani Jayuska1Puji Ardiningsih, Afghani Jayuska, Erlindawati,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.375 KB)

Abstract

Senyawa antibakteri diketahui mampu dihasilkan oleh bakteri dari tanah dan dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri patogen. Sifat keasaman pada tanah gambut mengindikasikan bahwa bakteri yang mampu bertahan hidup di dalamnya memiliki keunikan tersendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi 3 isolat bakteri dari tanah gambut dan mengetahui kemampuannya dalam menghasilkan senyawa antibakteri. Identifikasi spesies bakteri dilakukan berdasarkan Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology melalui uji morfologi dan biokimia. Uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi agar (well) menggunakan dua jenis supernatan bebas sel bakteri, yaitu supenatan asam dan supernatan netral terhadap bakteri uji Bacillus cereus dan Escherichia Coli. Hasil identifikasi menunjukkan bakteri yang diisolasi dari tanah gambut tersebut yaitu: Enterobacter cloacae, Enterobacter gergoviae, dan Proteus rettgeri. Identifikasi protein dengan uji biuret secara kualitatif terhadap seluruh supernatan bebas sel netral menunjukkan hasil uji positif.Supernatan bebas sel yang bersifat asam dari isolat B (Enterobacter gergoviae) menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji Gram positif dan negatif, dengan diameter zona hambat B. cereus: 9,401 mm danE. Coli: 10,301 mm. Supernatan bebas sel netral dari isolat B (Enterobacter gergoviae)memiliki daya hambat dengan diameter zona hambat B. cereus: 18,975 mm danE. Coli: 10,870 mm. Ketiga isolat bakteri mampu menghasilkan senyawa yang bersifat antibakteri. Kata kunci: antibakteri, bakteriosin, tanah gambut
PENGARUH WAKTU KONTAK DAN FREKUENSI EKSTRAKSI PADA ISOLASI ASAM HUMAT DARI KOMPOS KOTORAN SAPI Intan Syahbanu, Nurlina, Mirna Tersiana Tamnasi,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 3 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.494 KB)

Abstract

Asam humat merupakan hasil dekomposisi bahan organik. Asam humat dapat terkandung pada tanah gambut, kompos atau humus. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh waktu kontak ekstraksi (1 jam, 2 jam, 4 jam, 6 jam, dan 12 jam) dan pengaruh frekuensi ekstraksi (1 kali, 2 kali, 3 kali dan 4 kali) terhadap perolehan asam humat dari kompos kotoran sapi. Asam humat diekstraksi dengan pelarut basa (KOH), dan diendapkan dengan penambahan asam (HCl) kemudian dimurnikan dengan KOH. Selanjutnya dilakukan penentuan nilai keasaman asam humat dengan metode titrasi dan dianalisis gugus fungsinya dengan spektrofotometer FTIR. Persentase asam humat hasil ekstraksi pada waktu kontak 1 jam, 2 jam, 4 jam, 6 jam dan 12 jam secara berturut-turut sebesar 1,2711%, 3,0948%, 2,9606%, 2,6057%, dan 2,4178%. Persentase asam humat paling banyak diperoleh pada waktu kontak 2 jam. Nilai total keasaman, gugus karboksil dan gugus fenolik asam humat dari frekuensi ekstraksi yang masuk dalam rentang Schnitzer diperoleh pada frekuensi ekstraksi dua kali secara berturut-turut adalah 625 cmol kg-1, 300 cmol kg-1 dan 325 cmol kg-1.  Dengan demikian, melalui penelitian ini dapat disimpulkan bahwa persentase asam humat terbaik pada waktu kontak 2 jam dan frekuensi ekstraksi dua kali. Kata Kunci : kompos, asam humat, total keasaman, fenolik
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN SOMA (Ploiarium alternifolium Melch) TERHADAP Propionibacterium acnes M. Agus Wibowo, Savante Arreneuz, Seli Marselia,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 4 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.609 KB)

Abstract

Soma (P. alternifolium Melch) merupakan tanaman yang berpotensi sebagai obat anti jerawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi fraksi dari daun soma sebagai antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Pada penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan; (i) ekstraksi dan uji fitokimia ekstrak dan fraksi daun soma, (ii) penentuan aktivitas antbakteri ekstrak dan fraksi daun soma terhadap bakteri P. acnes, (iii) penentuan Kadar Hambat Minimum (KHM) terhadap semua fraksi. Pada tahap pertama menunjukkan hasil bahwa ekstrak metanol daun soma mengandung senyawa steroid, terpenoid, alkaloid, polifenol, flavonoid dan saponin. Fraksi metanol mengandung senyawa terpenoid, alkaloid, polifenol, flavonoid dan saponin. Fraksi etil asetat mengandung senyawa steroid, alkaloid, polifenol, flavonoid dan saponin serta fraksi n-heksana mengandung senyawa steroid, polifenol dan flavonoid. Pada tahap kedua diperoleh hasil bahwa ekstrak dan fraksi daun soma memiliki kemampuan aktivitas antibakteri terhadap bakteri P. acnes. Rata-rata diameter zona hambat yang dihasilkan dari keempat jenis ekstrak dengan konsentrasi 500 mg/mL secara berturut-turut adalah 9,42, 15,81, 8,65 dan 5,87 mm. Pada tahap ketiga memberikan hasil bahwa nilai KHM dari semua fraksi daun soma adalah 9,45, 10,38 dan 125 mg/mL. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa fraksi yang memiliki kemampuan aktivitas antibakteri paling baik terhadap bakteri P. acnes adalah fraksi metanol.Kata kunci: Soma (P. alternifolium Melch), Propionibacterium acnes, uji fitokimia, aktivitas antibakteri, Kadar Hambat Minimum (KHM)
SENYAWA SITOTOKSIK DARI FRAKSI DIKLOROMETANA DAUN KRATOM (Mitragyna speciosa Korth.) TERHADAP SEL KANKER PAYUDARA T47D Puji Ardiningsih, Ari Widiyantoro, Petricia Suryandari,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.63 KB)

Abstract

Daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.) merupakan tumbuhan obat yang memiliki kandungan senyawa flavonoid, terpenoid, alkaloid, dan saponin. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan aktivitas sitotoksik dari metabolit sekunder yang terkandung di dalam daun kratom terhadap sel kanker payudara T47D dan mengetahui karakteristik senyawa yang berperan dalam aktivitas sitotoksik tersebut. Penelitian dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu maserasi, partisi, dan kromatografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi diklorometana mempunyai nilai IC50 sebesar 238,34 µg/mL dan isolat mempunyai nilai IC50 sebesar 159,66 µg/mL, yang tergolong ke dalam sitotoksik moderat dan dapat digunakan sebagai kemoprevensi. Analisis spektrofotometer UV-Vis terhadap isolat menunjukkan adanya serapan maksimum pada λ 318, 302 dan 284 nm dengan transisi elektronik n→π*, n→σ*, dan π→π*. Spektrum IR menunjukkan serapan pada bilangan gelombang 3054 cm -1 (OH), 2987 cm-1 (C-H alifatik ulur), 1601 cm-1 (C=O), 1496-1421 cm-1 (cincin aromatik) dan 1264 cm-1 (C-O-C), sedangkan analisis 1H-NMR (CDCl­3­­, 500 MHz) pada pergeseran kimia δ 6,5 – 7,7 ppm merupakan sinyal dari proton yang terikat pada gugus aromatik. Berdasarkan analisis spektroskopi dan uji fitokimia, diketahui bahwa isolat yang diperoleh termasuk senyawa golongan fenolik. Kata kunci : Mitragyna speciosa, sitotoksik, sel kanker T47D, fenolik