cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Kimia Khatulistiwa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 329 Documents
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK N-HEKSANA, ETIL ASETAT DAN METANOL KULIT BUAH JERUK SAMBAL (Citrus microcarpa Bunge) Gusrizal, Mulyani Wulandari, Nora Idiawati,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman jeruk sambal (Citrus microcarpa Bunge) dikenal secara luas di Kalimantan Barat. Buah jeruk ini biasa dikonsumsi dalam bentuk jus dan digunakan sebagai bumbu masak, sedangkan kulitnya digunakan sebagai pelengkap masakan tertentu. Penelitian tentang uji fitokimia dan uji aktivitas antioksidan untuk mengetahui potensi kulit buah jeruk sambal sebagai sumber senyawa antioksidan telah dilakukan. Kulit buah jeruk sambal dimaserasi dengan pelarut metanol dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kasar. Ekstrak kasar kemudian dipartisi secara berturut-turut dalam n-heksana dan etil asetat sehingga diperoleh ekstrak n-heksana, etil asetat dan metanol. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak n-heksana kulit buah jeruk sambal mengandung senyawa steroid, sedangkan ekstrak etil asetat dan ekstrak metanol mengandung flavonoid, polifenol dan alkaloid. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH terhadap ekstrak n-heksana, etil asetat dan metanol menunjukkan bahwa nilai EC50 berturut-turut untuk ketiga ekstrak adalah 162,16 g/mL (antioksidan kategori lemah); 134,02 g/mL (antioksidan kategori sedang) dan 94,01 g/mL (antioksidan kategori kuat). Dibandingkan dengan asam askorbat (EC50=18,74 g/mL), ketiga ekstrak tersebut mempunyai aktivitas antioksidan yang lebih rendah. Aktivitas antioksidan kuat ekstrak metanol diduga karena adanya senyawa flavonoid dan polifenol sesuai dengan hasil pengujian fitokimia. Kata kunci : Citrus microcarpa Bunge, Uji aktivitas antioksidan, DPPH
ADSORPSI ION LOGAM Cu(II) MENGGUNAKAN BIOMASSA ALGA COKLAT (Sargassum crassifolium) YANG TERENKAPSULASI AQUA-GEL SILIKA Nelly Wahyuni, Ronaldo, Imelda H. Silalahi,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 3 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alga coklat merupakan biosorben yang dapat digunakan untuk mengadsorpsi logam berat. Salah satu diantara alga coklat adalah Sargassum crassifolium yang memiliki kemampuan adsorpsi cukup baik, dikarenakan adanya gugus karboksilat. Gugus aktif yang terdapat dalam Sargassum crassifolium sangat dipengaruhi oleh pH, sehingga diperlukan teknik enkapsulasi. Enkapsulasi bertujuan untuk meningkatkan gugus aktif, kualitas sifat fisik maupun sifat kimia dari adsorben untuk proses adsorpsi. Enkapsulasi alga coklat menggunakan aqua-gel silika yang diperoleh dari larutan sol gel yang berasal dari serbuk kaca.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kapasitas adsorpsi maksimum dan kondisi optimum adsorpsi ion Cu(II) dalam larutan menggunakan Sargassum crassifolium yang terenkapsulasi aqua-gel silika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomassa S. crassifolium mampu mengadsorpsi ion logam Cu pada pH=7 dengan qe rata-rata 99,03 mg/g, waktu kontak optimum adsorpsi adalah 20 menit dengan qe rata-rata 41,43 mg/g, konsentrasi adsorpsi diperoleh pada konsentrasi 351,08 ppm dengan qe rata-rata 254,16 mg/g dan qmaks ion Cu(II) adalah 0,75 mmol/g. Kata kunci: logam berat, alga coklat, adsorpsi, enkapsulasi, Sargassum crassifolium
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI EUCALYPTUS PELLITA TERHADAP BAKTERI Escherichia coli dan Staphylococcus Aureus Afghani Jayuska, Savante Arreneuz, Dina Putri Astiani,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 3 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun Eucalyptus pellita merupakan limbah industri yang mempunyai potensi sebagai minyak atsiri. Kandungan senyawa kimia yang terdapat dalam minyak atsiri dari Eucalyptus diketahui dapat berperan sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan senyawa kimia minyak atsiri E. pellita dan aktivitas antibakterinya terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus serta nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) minyak atsiri tersebut. Minyak atsiri E. pellita diperoleh dengan menggunakan metode destilasi uap. Rendemen minyak yang dihasilkan 89% b/b dan diperoleh 33 senyawa yang terdeteksi menggunakan Gas Cromatography – Mass Spectrometry (GC-MS). Terdapat enam senyawa utama dengan komposisi diatas 5% yaitu β-pinen (20,88%), trans-kariopilen (15,60%), α-pinen (10,41%), globulol (7,64), bornilen (6,74%) dan spatulenol (6,08%). Aktivitas antibakteri minyak atsiri terhadap bakteri E. coli dan S. aureus mempunyai zona bening masing-masing sebesar 13,1 dan 17,4 mm dan mempunyai daya hambat pertumbuhan bakteri yang sedang. Nilai MIC minyak atsiri terhadap bakteri E. coli dan S. aureus masing-masing sebesar 1,22 dan 1,19 yang memiliki aktivitas yang sedang. Kata kunci : minyak atsiri, senyawa kimia, antibakteri, nilai MIC, E. pellita
APLIKASI EDIBLE COATING DARI PEKTINJERUK SONGHI PONTIANAK (Citrus nobilis var Microcarpa) PADA PENYIMPANAN BUAH TOMAT Nurlina, Yongki Alexandra,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 4 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jeruk songhi merupakan produk gagal dari buah jeruk pontianak komersial. Jeruk ini dianggap sebagai limbah yang belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Salah satu alternatif pemanfaatannya adalah sebagai bahan baku pembuatan edible coating dengan mengekstrak pektin yang terkandung  jeruk songhi pontianak. Edible coating diaplikasikan pada buah tomat dan mencari formula edible coating terbaik terhadap karakteristik buah tomat selama penyimpanan. Pembuat edible coating dilakukan dengan melarutkan tepung pektin sebanyak 0,5; 1; dan 2 gram di dalam aquades dan ditambahkan 1 ml gliserol. Edible coating dilapisi pada buah tomat dan disimpan dengan variasi waktu penyimpanan 10 dan 20 hari pada suhu dingin dan suhu kamar. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa buah tomat yang dilapisi dengan edible coating paling optimal mencegah dalam kerusakan mekanis dan respirasi adalah buah tomat yang dilapisi dengan edible coating dengan komposisi 1 gram pektin dengan waktu penyimpanan 10 hari pada suhu dingin. Kata kunci: jeruk soghi, citrus nobilis var microcarpa, pektin, edible coating
PERBANDINGAN INOKULAN Fusarium sp MENGGUNAKAN METODE INFUS DAN INJEKSI UNTUK MENDAPATKAN GAHARU PADA POHON Aquilaria malaccensis Savante Arreneuz, Muhamad Agus Wibowo, Wawan Dwi Putra Vantompan,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gaharu merupakan resin yang dihasilkan oleh pohon Aquilaria malaccensis, gaharu ini terbentuk akibat adanya  infeksi tehadap pohon A.malaccensis oleh mikroba bisa terjadi secara alami ataupun buatan. Secara alami mikroba yang sering menginfeksi tanaman ini adalah Fusarium sp. penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas hasil dalam memproduksi gaharu menggunakan metode infus dan injeksi. Penelitian ini dibagi dalam dua tahap yaitu, infeksi pohon A.malaccensiss dengan Fusarium sp dalam memproduksi gaharu dan analisis pohon A.malaccensis yang telah diinfeksi selama 3 bulan. Metode uji morfologi dari penelitian ini dihasilkan bahwa infeksi dengan menggunakan metode infus menghasilkan gubal dengan ciri warna coklat kehitaman dan diameter 1,5 cm,sedangkan metode injeksi memberikan hasil gubal dengan ciri warna coklat muda dan diameter 1 cm. Dari penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa metode infus memberikan hasil gubal gaharu yang lebih baik dibandingkan dengan metode injeksi, hasil analisis  senyawa kimia menggunakan GC-MS belum menunjukan adanya senyawa indikator penentu resin gaharu. Kata kunci : A.malaccensis, Fusarium sp, injeksi,  gaharu
KARAKTERISASI SENYAWA LAKTON DARI FRAKSI ETIL ASETAT BUAH KEMBANG MERAK (Caesalpinia pulcherrima) Rudiyansyah, Nurlina, Risalawati,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 3 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Senyawa lakton dari fraksi etil asetat pada buah C. pulcherrima telah berhasil diisolasi dan dikarakterisasi. Tujuan penelitian ini adalah karakterisasi struktur senyawa lakton yang terdapat pada buah C. pulcherrima. Metode isolasi yang dilakukan meliputi serangkaian tahapan metode ekstraksi dan kromatografi. Isolat yang diperoleh berupa isolat F6(8-9), berbentuk kristal berwarna kuning dengan massa  0,0036 g. Analisis KLT menunjukkan hasil positif senyawa lakton. Karakterisasi dilakukan dengan metode spektroskopi 1H NMR (500 MHz, (CD3)2CO-d6)  dan  13C NMR (125 MHz, (CD3)2CO-d6). Spektrum 1H NMR menunjukkan geseran kimia δH (ppm): 7,1081 (1H, s); 3,7819 (2H, s); 2,9078 (2H, s) dan 1,2844 (1H, s). Spektrum 13C NMR menunjukkan geseran kimia δC (ppm): 167,1896; 146,0645; 109,7804; 121,7814 dan 51,8873. Berdasarkan data spektrum tersebut dan perbandingan terhadap data literatur senyawa yang terdapat pada isolat F6(8-9) dari ekstrak buah C. pulcherrima diprediksikan adalah senyawa         γ-lakton. Kata Kunci: C. pulcherrima, isolasi, karakterisasi, etil asetat, lakton
SINTESIS TiO2/Ti TERDOPING LOGAM Fe3+ MENGGUNAKAN METODE ANODISASI DENGAN BANTUAN SINAR TAMPAK Anthoni B. Aritonang, Intan Syahbanu, Aldrianti,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 8, No 3 (2020): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktifitas fotokatalisis TiO2 dapat ditingkatkan dengan menggeser daerah serapan sinar UV ke daerah sinar tampak. Salah satu upaya untuk meningkatkan aktifitas fotokatalis TiO2 dengan penambahan dopan Fe3+. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan dopan Fe3+ terhadap gugus fungsi, ukuran kristal, dan energi band gap. Metode yang digunakan adalah metode anodisasi menggunakan tegangan 40 V selama 1 jam dan dilakukan proses kalsinasi pada suhu 450oC selama 3 jam. Konsentrasi dopan Fe3+ yang digunakan sebesar 0,3%; 0,4%; dan 0,5% (b/v). Fotokatalis Fe-TiO2/Ti yang dihasilkan dilakukan uji aktivitas terhadap degradasi zat warna metilen biru dengan bantuan sinar tampak. Metilen biru divariasikan pada pH 9, 10, 11, 12 dan 13. Hasil karakterisasi FTIR menunjukkan Fe-TiO2/Ti 0,3% (b/v) memiliki vibrasi ulur gugus fungsi -OH 3399,68 cm-1 dan vibrasi ulur gugus fungsi Ti-O-Ti atau Ti-O 685,72 cm-1 dan 453,29 cm-1. Difraktogram XRD menunjukkan struktur fasa anatase dengan ukuran kristalit sebesar 124,58 nm. Hasil karakterisasi UV-Vis/DRS menunjukkan energi band gap TiO2 Degussa P25, TiO2/Ti, dan Fe-TiO2/Ti sebesar 3,22 eV; 3,16 eV; dan 2,91 eV. Hal ini menunjukkan bahwa dopan Fe3+ pada TiO2/Ti mempengaruhi nilai energi band gap.Kata Kunci: anodisasi, fotokatalis Fe-TiO2/Ti, metilen biru, titanium dioksida
KARAKTERISASI BAKTERI ASAM LAKTAT GENUS Leuconostoc DARI PEKASAM ALE-ALE HASIL FORMULASI SKALA LABORATORIUM ., Rohmah Anita Sari, Risa Nofiani, Puji A .
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bakteri asam laktat (BAL) banyak ditemukan pada produk fermentasi, salah satunya adalah pekasam ale-ale yang merupakan makanan fermentasi tradisional Ketapang, Kalimantan Barat. BAL mempunyai peranan penting dalam proses fermentasi, salah satunya adalah untuk mengawetkan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter BAL genus Leuconostoc yang diisolasi dari pekasam ale-ale hasil formulasi skala laboratorium. Komposisi pekasam ale-ale formulasi meliputi : daging ale-ale, gula, garam dan bawang putih. Formulasi pekasam ale-ale dibuat dengan memvariasikan konsentrasi bawang putih. Teknik isolasi BAL dilakukan dengan metode goresan menggunakan media MRS yang diperkaya CaCO3 1%. Genus BAL ditentukan melalui uji makroskopik, mikroskopik dan biokimia. Hasil isolasi diperoleh 1 isolat BAL yang merupakan genus Leuconostoc. Karakteristik BAL dapat menunjukkan potensinya sebagai pengawetan makanan fermentasi dan agen probiotik. Isolat Leuconostoc sp. Aa8 dapat berpotensi sebagai starter makanan fermentasi dan sebagai agen probiotik karena dapat tumbuh pada pH 1 setelah inkubasi 4 jam, memiliki aktivitas antimikroba, dapat menghasilkan asam hingga pH akhir media setelah inkubasi 48 jam sebesar 4,23 dan tidak memiliki aktivitas enzim lipase. Kata kunci: Pekasam ale-ale, isolasi, probiotik, starter, Leuconostoc.
SKRINING FITOKIMIA EKSTRAK DAUN BELIMBING HUTAN (Baccaurea angulata Merr.) Puji Ardiningsih, Nora Idiawati, Bambang Elik Andriyanto,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 4 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pohon belimbing hutan merupakan salah satu tumbuhan dari genus Baccaurea. Tanaman ini hidup di daerah tropis di Kalimantan Barat dan buahnya dapat dikonsumsi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder dan aktivitas antioksidan daun belimbing hutan. Senyawa metabolit sekunder diperoleh dari proses ekstraksi yaitu maserasi dan partisi. Hasil uji fitokimia pada ekstrak kasar metanol mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, polifenol, terpenoid maupun steroid, fraksi n-heksana hanya mengandung flavonoid dan steroid, fraksi etil asetat mengandung alkaloid, flavonoid, polifenol dan steroid. Sedangkan fraksi metanol positif mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, dan steroid. Kata Kunci: Belimbing hutan (Baccaurea angulata Merr.), fitokimia
PELAPISAN MANGAN DIOKSIDA PADA PASIR SILIKA DARI KAOLIN CAPKALA DAN APLIKASINYA SEBAGAI ADSORBEN BESI (III) DALAM LARUTAN Lia Destiarti, Winda Rahmalia, Laina Radestiani,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 4 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu sumber air di Kota Pontianak adalah air tanah dengan karakteristik air yang berwarna kuning atau kuning kecoklatan yang diduga karena adanya kandungan besi yang cukup tinggi. Adsorpsi merupakan salah satu metode yang yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar Fe(III) dalam larutan. Dalam penelitian ini, adsorben yang digunakan untuk menurunkan Fe(III) dalam larutan adalah pasir silika terlapis mangan dioksida (MnO2). Pasir silika yang digunakan diperoleh dari hasil pemisahan kaolin Capkala. Sintesis pasir terlapis MnO2 dilakukan menggunakan KMnO4 0,2 M dan HCl pekat (37% w/w). Parameter yang dipelajari adalah pengaruh waktu kontak adsorben dengan adsorbat, pengaruh massa adsorben dan pengaruh konsentrasi adsorbat. Terlapisnya MnO2 pada pasir silika ditunjukkan dengan karakterisasi menggunakan XRD pada puncak 2  = 19,08o; 59,72o dan 65,64o,puncak silika ditunjukkan pada 2  = 26,64o; 20,84o dan 50,11o yang merupakan mineral kuarsa. Data XRF juga menunjukkan adanya kandungan MnO sebesar 0,136%. Hasil penelitian menunjukkan waktu kontak terbaik adalah 30 menit dengan persentase Fe(III) yang teradsorpsi 52%. Sedangkan massa adsorben terbaik adalah 2,5 gram dengan persentase Fe(III) yang teradsorpsi 25,8%. Adsorpsi Fe(III) oleh pasir silika terlapis MnO2 mengikuti kinetika adsorpsi pseudo-orde dua dengan konstanta laju 0,012 g/mg.min. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa adsorben pasir silika terlapis MnO2 mampu menurunkan kadar Fe(III) sebesar 25,8% sampai 52% untuk masing-masing parameter. Kata Kunci: Fe(III), pasir terlapis MnO2, kaolin Capkala