cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Kimia Khatulistiwa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 329 Documents
KARAKTERISASI ZEOLIT A SINTETIS DARI LUMPUR PDAM KOTA PONTIANAK DAN ALUMINA Lia Destiarti, Siti Hajar, Nelly Wahyuni,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zeolit A merupakan zeolit sintetis yang mengandung aluminasilikat dan membentuk unit tetrahedral. Salah satu bahan yang dapat digunakan untuk mensintesis zeolit A adalah lumpur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Upaya untuk melakukan sintesis zeolit A dikarenakan zeolit A memiliki nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang tinggi dan dapat digunakan sebagai adsorben. Zeolit A dapat memisahkan molekuk-molekul berdasarkan ukuran dan bentuknya. Sintesis zeolit A dari lumpur PDAM Kota Pontianak dilakukan dengan metode hidrotermal pada suhu 100oC selama 4 jam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik zeolit A hasil sintesis dengan adanya penambahan massa alumina yang dilihat karakterisasi XRD dan daya serapnya terhadap iod serta kapasitas tukar kationnya. Variasi massa alumina (Al2O3) terhadap silika (SiO2) yaitu masing-masing 1:1, 1:2 dan 1:3. Hasil karakterisasi lumpur PDAM menggunakan XRF mengandung SiO2:Al2O3 sebesar 49,11%:29,45%. Hasil karakterisasi XRD teridentifikasi puncak 2? karakteristik zeolit A standar, yaitu pada zeolit 1 memiliki puncak 2? = 12,43; 27,94 dan 34,63. Sedangkan pada zeolit 2 memiliki puncak 2? = 7,10; 27,85 dan 34,47 serta pada zeolit 3 memiliki puncak 2? = 12,51 dan 34,34. Nilai kapasitas tukar kation pada perbandingan SiO2:Al2O3 sebesar 1:1 yaitu 128,080 cmol+/kg, sedangkan pada perbandingan SiO2:Al2O3 sebesar 1:2 yaitu 38,044 cmol+/kg dan pada perbandingan SiO2:Al2O3 sebesar 1:3 yaitu 10,123 cmol+/kg. Daya serap terhadap iod terdapat pada perbandingan SiO2:Al2O3 sebesar 1:1 yaitu 593,875 mg/g, sedangkan pada perbandingan SiO2:Al2O3 sebesar 1:2 yaitu 363,679 mg/g dan pada perbandingan SiO2:Al2O3 sebesar 1:3 yaitu 395,113 mg/g. Kata kunci: sintesis zeolit A, KTK, daya serap terhadap iod
ENKAPSULASI DAN UJI STABILITAS PIGMEN KAROTENOID DARI BUAH TOMAT YANG TERSALUT CARBOXY METHYL CELLULOSE (CMC) Adhitiyawarman, Lia Destiarti, Chu Juniana Aschida,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang enkapsulasi dan uji stabilitas pigmen karotenoid dari buah tomat. Pigmen diperoleh dari hasil ekstraksi tomat menggunakan pelarut n-heksana:aseton:etanol =2:1:1(v/v). Ekstrak kentalpigmen kemudian dienkapsulasi menggunakan CarboxyMethyl Cellulose (CMC) sebagai penyalut dengan metode koaservasi. Enkapsulasi bertujuan untuk melindungi pigmen dari kondisi lingkungan yang dapat merusaknya. Enkapsulasi pigmen dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi penyalut CMC (10, 20 dan 30%) dan kecepatan pengadukan (500, 600, 700, dan 800 rpm). Analisis dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Visibelpada panjang gelombang 469 nm. Efisiensi optimumenkapsulasi diperoleh dengan menggunakan 20% CMC yaitu sebesar 94,2%. Adapun kecepatan pengadukan yang menghasilkan efisiensi enkapsulasi tertinggi adalah 500 rpm dengan efisiensi 82,7%.Enkapsulatdiuji fotostabilitasnya terhadap cahaya (cahaya polikromatis 73 lux dan UV-C 47 lux) dan termostabilitasnya pada suhu (30, 40, dan 50oC) selama 5 hari. Uji ini dilakukan untuk menentukankonstanta degradasi (k) dan waktu paruh (t1/2) pigmen dalam enkapsulat. Berdasarkan penurunan absorbansi pigmen selama iradiasi dan suhu penyimpanan, nilai k pigmen oleh penyinaran cahaya polikromatis dan UV-C berturut-turut yaitu 0,0028 dan 0,0025dengan t1/2 sebesar247,5 dan 277,2 jam. Adapun nilai k pigmen pada suhu 30, 40 dan 50oC berturut-turut adalah 0,0035, 0,0040, dan 0,0048 dengan t1/2 sebesar198 jam, 173,25 jam, dan 144,37 jam. Kata kunci: Karotenoid tomat, enkapsulasi, CMC, fotostabilitas/termostabilitas, koaservasi.
PENENTUAN KAPASITAS ADSORPSI ION KLORIDA (Cl-) PADA PASIR KUARSA TERLAPIS MANGAN OKSIDA DAN KAOLIN TERAKTIVASI HCl Rudiyansyah, Kiki Prio Utomo, Susi Lindasari,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ion klorida (Cl-) merupakan anion yang dapat berikatan dengan beberapa kation membentuk suatu garam terlarut di dalam air. Kadar klorida yang tinggi pada air dapat mempercepat proses pengkaratan pada logam. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan adsorpsi ion klorida menggunakan adsorben pasir kuarsa terlapis mangan oksida dan kaolin teraktivasi HCl. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik adsorben melalui analisis XRD, SEM dan EDS serta untuk memperoleh nilai kapasitas adsorpsi maksimum melalui isoterm adsorpsi Freundlich dan Langmuir. Parameter uji yang dilakukan yaitu variasi konsentrasi ion klorida 0; 5,0693; 10,6456; 20,6389; 41,2779 dan 60,9101 mg.L-1. Hasil karakterisasi SEM dan EDS pada pasir kuarsa terlapis mangan oksida membuktikan adanya butiran mangan oksida pada permukaan pasir kuarsa dengan persentase 9,36%. Karakterisasi kaolin melalui analisis XRD menunjukkan terdapat mineral kuarsa dengan intensitas relatif 100% mengalami perubahan intensitas setelah dilakukan aktivasi dengan HCl. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kapasitas adsorpsi maksimum ion klorida menggunakan kaolin teraktivasi HCl yaitu 1,5306 mg.g-1 melalui interaksi elektrostatik dan pasir kuarsa terlapis mangan oksida yaitu 0,2711 mg.g-1 melalui mekanisme outer sphere complexes dan inner sphere complexes, yang dapat digambarkan melalui isoterm Langmuir dengan nilai R2 adalah 0,9843 dan 0,9657. Kata kunci:  ion klorida, kapasitas adsorpsi, pasir kuarsa terlapis mangan oksida, aktivasi kaolin
KARAKTERISASI SENYAWA FLAVONOID DARI FRAKSI ETIL ASETAT KULIT BUAH MANGGA (Mangifera spp.) DAN AKTIVITASNYA SEBAGAI PENGOMPLEKS LOGAM Pb(II) Ari Widiyantoro, Gusrizal, Nita Tiurlina Br. Manullang,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 8, No 1 (2019): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan logam timbal memiliki dampak negatif terhadap lingkungan mahkluk hidup khususnya kesehatan manusia. Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui aktivitas pengompleks isolat F.III dari fraksi etil asetat kulit buah mangga dengan logam Pb(II). Penelitian dilakukan dengan beberapa tahap yaitu maserasi, partisi, kromatografi, karakterisasi, dan uji pengompleks. Uji fitokimia terhadap isolat F.III (19,5 mg) positif fenolik  sedangkan sifat fisik isolat berbentuk kristal amorf berwarna kuning dengan titik leleh 135-139oC. Spektra Uv-Vis (H2O) menunjukkan adanya serapan maksimum pada 297 nm. Spektra IR (KBr) Vmaks cm-1 menunjukkan adanya serapan pada bilangan  gelombang 3435 (OH), 2923-2855 (CH alifatik), 1631 (C=O karbonil), 1500 (aromatik),1113 (C-O-C). Spektrum 1H-NMR (CD3OD, 400 MHz) menunjukkan kemunculan sinyal pada geseran (δ ppm): 5,16 (1H,d, J=7,6 Hz), 5,34 (1H,d,J=12Hz), 5,72 (1H,d, J=11,6 Hz), 5,76 (1H,d, J=11,6 Hz), 6,3 (1H, d, J=2,8 Hz), 6,5 (2H, d, J=6,4Hz), 6,6(2H,d, J=6,4), 7,11 (2H, d, J=8,4), 7,2 (1H, dd, J=4,8). Berdasarkan analisis uji fitokimia dan spektroskopi serta dibandingkan dengan literatur maka diprediksi bahwa isolat F.III adalah senyawa morelloflavon (biflavonoid). Uji pengompleks menggunakan isolat F.III 100 ppm dengan logam Pb(II) 50 ppm yang berasal dari Pb(NO3)2 menunjukkan adanya ikatan antara ligan dan atom pusat berupa penurunan absorbansi dan tidak mengalami pergeseran panjang gelombang. Kata kunci :  Mangifera spp., morelloflavon, pengompleks
PENGARUH WAKTU DISTILASI TERHADAP KOMPONEN MINYAK ATSIRI PADA DAUN KESUM (Polygonum minus Huds) Afghani Jayuska, Harlia, Syaiful,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesum merupakan tanaman endemik Kalimantan yang memiliki aroma khas sehingga oleh masyarakat setempat dimanfaatkan sebagai bumbu masakan khususnya bubur pedas dan telah dikenal sebagai obat tradisional dan penyedap masakan. Daun Kesum  berpotensi sebagai penghasil minyak atsiri dan sebagai sumber alami aldehida alifatik yang dapat berguna sebagai zat aditif makanan dan industri parfum. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan waktu dengan metode distilasi uap terhadap komponen senyawa yang terkandung dalam daun kesum. Penelitian ini dibagi dua tahap yaitu isolasi dengan distilasi uap dan analisis dengan gas chromatograph - mass spectrometry (GC-MS). Sampel daun kesum segar seberat 1 kg didistilasi masing-masing 4 jam dan 8 jam. Rendemen rata-rata minyak atsiri daun kesum yang dihasilkan pada daun segar selama 4 jam sebesar 0,083 %, daun segar 8 jam sebesar 0,106 %. Hasil uji statistik dengan ANOVA satu jalan dengan tingkat signifikan 0,05 diperoleh daun segar 4 jam tidak berbeda nyata terhadap daun segar 8 jam,. Hasil dari analisis GC-MS terdapat kandungan senyawa utama pada daun segar 4 jam yaitu dodekanal 31,18 % dekanal 16,88%, dan daun segar  8 jam yaitu yaitu dodekanal 18,31 %, dekanal 13,14. Kata kunci: kesum, distilasi uap, polygonum minus Huds
PEMANFAATAN LIMBAH DAUN NANAS (Ananas comosus) SEBAGAI BAHAN DASAR ARANG AKTIF UNTUK ADSORPSI Fe(II) Anis Shofiyani, Intan Syahbanu, Ab. Ari Setiawan,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 3 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun nanas (Ananas comosus) merupakan bagian tanaman nanas yang kurang dimanfaatkan masyarakat sehingga menjadi limbah. Daun nanas mengandung serat selulosa sebesar 69,5-71,5% yang berpotensi dimanfaatkan sebagai arang aktif. Arang daun nanas dibuat dengan cara dikarbonisasi selama 1 jam pada suhu 300 dan diaktivasi menggunakan H2SO4 1 M atau H3PO4 1 M selama 24 jam. Arang aktif yang dihasilkan digunakan untuk adsorpsi logam Fe(II) dengan mengkaji model kinetika, kapasitas dan isoterm adsorpsi. Arang daun nanas tanpa aktivasi, teraktivasi H2SO4 dan H3PO4 memiliki kadar air masing-masing sebesar 4,3248%, 1,248% dan 1,258%; kadar abu sebesar 4,1549%, 0,950% dan 1,729%; daya serap iodin sebesar 274,3582 mg/g, 382,1576 mg/g dan 371,2104 mg/g; luas permukaan sebesar 520,5939 m2/g, 725,1430 m2/g dan 704,3707 m2/g; daya serap metilen biru sebesar 58,4140 mg/g, 58,6822 mg/g dan 58,4548 mg/g dengan luas permukaan sebesar 216,5807 m2/g, 217,5751 m2/g dan 216,7320 m2/g. Gugus fungsional pada arang daun nanas dan arang aktif ditunjukkan melalui vibrasi OH regangan di 3058,99 dan 3194,13; vibrasi C=O regangan di 1899,86 dan 1999,56; vibrasi C=C aromatik di 1574,10 dan 1595,56; vibrasi CO di 1224,93 dan 1376,71; vibrasi CH aromatik di 755,03 dan 767,17. Kinetika adsorpsi Fe(II) pada arang daun nanas teraktivasi H2SO4 dan H3PO4 mengikuti model pseudo orde 2 dengan nilai R2 sebesar 0,968 dan 0,994. Kapasitas adsorpsi Fe(II) pada arang teraktivasi H2SO4 dan H3PO4 sebesar 2,15 mg/g dan 1,025 mg/g, mengikuti model adsorpsi isoterm Langmuir dengan nilai R2 sebesar 0,908 dan 0,996. Kata kunci : adsorpsi, arang aktif, asam fosfat, arang tanpa aktivasi, asam sulfat, besi, daun nanas, kapasitas adsorpsi
OPTIMASI JENIS DAN KONSENTRASI ASAM PADA HIDROLISIS SELULOSA DALAM TONGKOL JAGUNG Nora Idiawati, Rudiyansyah, Jhon Wesly Harianja,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 4 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selulosa merupakan polimer glukosa yang tidak bercabang berbentuk rantai linier yang dihubungkan oleh ikatan β-1,4 glikosidik. Struktur linier menyebabkan selulosa bersifat kristalin dan tidak mudah larut. Salah satu limbah yang memiliki selulosa adalah tongkol jagung. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar gula reduksi tertinggi yang dihasilkan melalui proses hidrolisis dengan pengukuran menggunakan metode Somogyi-Nelson. Selulosa yang diperoleh dilakukan proses delignifikasi dengan NaOH 10%  dalam 28 jam waktu perendaman. Delignifikasi selain untuk menghilangkan lignin juga melarutkan hemiselulosa sehingga diperoleh kandungan selulosa. Kadar delignifikasi yang diperoleh yaitu sebesar 64,4%. Optimasi jenis dan konsentrasi asam pada selulosa dalam tongkol jagung menggunakan asam HNO3, H2SO4, dan HClO4 dengan variasi konsentrasi 10%, 20%, 30%, dan 40%. Gula reduksi tertinggi diperoleh melalui proses hidrolisis yaitu sebesar 718,71 mg/L (14,36%) menggunakan HClO4 30%.
ISOLASI SENYAWA TERPENOID DARI AKAR DURIAN MERAH (Durio Dulcis Beec) Andi Hairil Alimuddin, Rudiyansyah, Ayu Fitri,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tentang kandungan senyawa kimia akar durian merah yang berasal dari Kalimantan Barat bertujuan untuk mengisolasi dan menentukan golongan senyawa terpenoid dari akar durian merah (D. dulcis Becc).  Ekstraksi komponen senyawa menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol. Pemisahan fraksinya menggunakan metode partisi (n-heksana dan etil asetat) dan beberapa tahap kromatografi, yaitu kromatografi vakum cair (KVC), kromatografi kolom gravitasi (KKG) dan kromatografi lapis tipis preparatif (KLTP). Uji fitokimia golongan terpenoid ditentukan dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT) dengan menggunakan reagen semprot H2SO4 10 %. Penelitian ini menghasilkan satu isolat murni golongan terpenoid sebanyak 1,1 mg.   Kata Kunci: Durian, D. dulcis Becc, terpenoid
KARAKTERISASI KATALIS ZEOLIT-Ni REGENERASI DAN TANPA REGENERASI DALAM REAKSI PERENGKAHAN KATALITIK Endah Sayekti1, Aladin Sianipar, Astro Tadeus Imelda H. Silalahi
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karakterisasi katalis zeolit-Ni dengan perlakuan regenerasi dan tanpa regenerasi dalam reaksi perengkahan katalitik telah dilakukan. Tahapan-tahapan preparasi zeolit meliputi demineralisasi, dealuminasi, dan aktivasi. Tahapan selanjutnya yaitu impregnasi zeolit dengan logam Ni, kalsinasi, dan uji aktivitas katalis zeolit-Ni dengan menggunakan kembali katalis sebanyak tiga kali reaksi perengkahan tanpa perlakuan regenerasi katalis (disebut A) dan menggunakan katalis yang diregenerasi (disebut B). Perengkahan terhadap minyak jelantah sebagai umpan dilakukan pada suhu 310 320 0C dengan rasio O/C (oil/catalyst)=4 selama 6 jam. Hasil analisis XRD (X-Ray Diffraction) menunjukkan bahwa kuarsa dan mordenit tidak mengalami perubahan struktur dan masih merupakan penyusun utama katalis zeolit-Ni fresh, katalis bekas perengkahan ketiga tanpa perlakuan regenerasi (A-3), dan katalis bekas dengan perlakuan regenerasi (B-3). Keasaman katalis A-3 menurun hingga 98,85 % dan katalis bekas B-3 menurun hingga 84,35 %. Selanjutnya, luas permukaan spesifik katalis mengalami penurunan hingga 43,14 % (A-3) dan 15,97 % (B-3). Namun, rerata jari pori meningkat dari 1,579 nm pada katalis zeolit-Ni baru (fresh) menjadi 4,499 nm (A-3) dan 1,688 nm (B-3). Volume total pori katalis sebesar 9,181 x 10-2 cc/g (zeolit-Ni fresh); 1,487 x 10-1 cc/g (A-3); dan 8,247 x 10-2 cc/g (B-3).
SINTESIS POLIMER KONDUKTIF KOMPOSIT POLIPIROL-SELULOSA DALAM LARUTAN FeCl3.6H2O Berlian Sitorus, Pulgentius Abus, Rudiyansyah,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sintesis polimer konduktif polipirol-selulosa dilakukan melalui polimerisasi pirol dalam matrik selulosa dengan variasi massa pirol 0,5 ; 1 ; 1,5 ; dan 2 gram dalam larutan FeCl3.6H2O. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara isolasi selulosa dari tanah gambut, mensintesis, mengkarakterisasi komposit polipirol-selulosa dan mengetahui nilai konduktifitas tertinggi dari proses swelling dan tanpa swelling. Hasil analisis FT-IR menunjukan pita serapan selulosa pada daerah panjang gelombang 3425,58 cm-1(-OH), 2924,09 cm-1 (C-H), 1033,85 cm-1 (C-O-C), 1373,32 cm-1 (C-OH). Sedangkan pita serapan polipirol berada pada daerah panjang gelombang 3425,58 cm-1 (N-H), 1543,05 cm-1 (C=C), 1272,72 cm-1 (C-C), 1442,75 cm-1 (C-N). Analisis XRD menunjukan adanya pergeseran nilai 2? pada komposit polipirol-selulosa dengan proses swelling dan tanpa proses swelling yaitu dari 22,64-22,71o dan 26,62-26,64o. Komposit polipirol-selulosa bersifat semikristalin dan semikonduktor. Hasil analisis EIS menunjukan nilai konduktifitas yang paling tinggi sebesar 7,14 Scm-1 yaitu komposit dengan proses swelling pada variasi 0,5 gram pirol. Kata kunci: swelling, matrik selulosa, komposit polipirol-selulosa