cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Kimia Khatulistiwa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 329 Documents
PEMANFAATAN TONGKOL JAGUNG SEBAGAI ADSORBEN BESI PADA AIR TANAH Adhitiyawarman., Antonia Nunung Rahayu,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 3 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Besi (Fe) merupakan salah satu jenis logam berat yang memiliki toksisitas tinggi dan konsentrasi besi yang melebihi ambang batas dapat menurunkan kualitas lingkungan perairan. Salah satu cara untuk mengurangi kadar besi (Fe) dalam air tanah ialah dengan cara adsorpsi menggunakan adsorben. Dalam penelitian ini telah dibuat adsorben dari limbah tongkol jagung dengan tongkol jagung tanpa pengarangan teraktivasi (selulosa) dan karbon aktif tongkol jagung teraktivasi. Adsorben karbon aktif tongkol jagung dan tongkol jagung tanpa pengarangan diaktivasi dengan asam klorida dengan konsentrasi berbeda yaitu dengan konsentrasi 4M dan 0,1M. Parameter yang diujikan pada penelitian ini ialah variasi massa adsorben, pH larutan dan waktu kontak. Kondisi optimum yang diperoleh untuk adsorben karbon aktif tongkol jagung ialah pada massa 1,75 gram, pH 6,5 dan waktu 30 menit, sedangkan untuk adsorben tongkol jagung tanpa pengarangan teraktivasi ialah pada massa adsorben 0,50 gram, pH larutan 6,5 dan waktu 30 menit. Kapasitas adsorpsi besi dalam air tanah dengan menggunakan adsorben tongkol jagung tanpa pengarangan teraktivasi dan adsorben karbon aktif tongkol jagung pada kondisi optimumnya masing-masing sebesar 192,2 mg/g dan 87,2 mg/g. Kata kunci: tongkol jagung, adsorben, air tanah, karbon aktif.
ISOLASI DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI ACTINOMYCETES BERASOSIASI DENGAN KORAL Puji Ardiningsih, Risa Nofiani, Dayang Indah Kurniati,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2019): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit infeksi adalah masalah penyakit diseluruh dunia yang disebabkan oleh mikroba patogen. penyakit infeksi umumnya dapat diobati dengan menggunakan antibiotik. Actinomyecetes yang berasosiasi dengan koral memiliki potensi untuk menghasilkan senyawa antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan Actinomycetes di koral yang memiliki aktivitas antibakteri dan mengidentifikasi genusnya. Isolasi dan produksi Actinomycetes menggunakan media ISP1, dan ekstraksi Actinomycetes menggunakan pelarut etil asetat. Aktivitas antibakteri dalam penelitian ini menggunakan metode difusi agar dan isolat diidentifikasi mengikuti pedoman buku Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology. Isolat  Actinomycetes yang diisolasi dari koral memiliki genus Streptomyces sp. BD2. Ekstrak Streptomyces sp. BD2 menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococus aureus, Escherichia coli, Salmonella typhi, Pseudomonas aeruginosa, dan Vibrio cholerae. Kata kunci: koral, Actinomycetes, antibakteri
SINTESIS DAN INTERKALASI PIGMEN NORBIXIN PADA BENTONIT TERPILAR TiO2 Titin Anita Zaharah, Shafira Kurnia, Nelly Wahyuni,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 4 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pigmen norbixin pada Kesumba mampu menyerap energi UV dan mengubahnya menjadi energi karena memiliki ikatan rangkap konjugasi. Namun ikatan rangkap konjugasi juga dapat mempercepat norbixin mengalami fotodegradasi sehingga perlu diembankan dalam suatu material padat. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakteristik interkalasi pigmen norbixin pada bentonit terpilar TiO2. Tahapan perlakuan meliputi pembuatan bentonit terpilar menggunakan larutan polikation titanium dan dilanjutkan interkalasi pigmen norbixin pada bentonit terpilar dengan variasi massa tertentu. Hasil XRD menunjukkan bahwa terjadi peningkatan daerah antarlapis pada bentonit (fresh clay) sebesar 19,36 Å pada 2θ=4,56 setelah dilakukan pemilaran. Spektra inframerah menunjukkan bahwa terdapat serapan C-O asam karboksilat pada daerah 1381,03 nm diikuti dengan pembentukan ikatan hidrogen antara gugus hidroksil (-OH) norbixin dengan gugus silikat (-SiO) bentonit setelah diinterkalasi. Produk interkalasi terbaik diperoleh pada variasi massa bentonit 1 g ditandai dengan peningkatan paling besar pada intensitas gugus hidroksil (-OH).   Kata Kunci: bentonit, norbixin, pilarisasi
KARAKTERISASI SENYAWA STEROID DARI FRAKSI DIKLOROMETANA RANTING DURIAN KLAWING (Durio graveolens Becc.) Titin Anita Zaharah, Rudiyansyah, Dayang Irma Suryani,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 4 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Durian klawing (Durio graveolens Becc.) merupakan tumbuhan durian yang menghasilkan daging buah berwarna merah dan tiap ruasnya memiliki satu buah biji. Durian klawing merupakan salah satu dari 7 jenis durian yang dapat dikonsumsi. Penelitian ini telah berhasil mengisolasi senyawa metabolit skunder dari fraksi diklorometana ranting durian klawing (D. graveolens Becc.). Isolat fraksi C4 diperoleh sebanyak 2,2 mg. Data spektrum 1H-NMR dari fraksi C4 menunjukkan adanya geseran kimia δH (ppm) 1,57 (9H, s), δH 1,66 (3H, m), δH 2,33 (3H, t), δH 4,27 (2H, m) 8,09 (1H, s). Berdasarkan uji fitokimia fraksi C4 dan data spektrum 1HNMR tersebut diprediksi mengandung senyawa steroid.  Kata Kunci: Isolasi, karakterisasi, D. graveolens Becc., steroid 
SINTESIS DAN KARAKTERISASI PASIR BESI TERLAPIS MANGAN DIOKSIDA SERTA APLIKASINYA UNTUK PENURUNAN KADAR ION FOSFAT DALAM AIR Anis Shofiyani, Lia Destiarti, Alpius Suriadi,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasir besi Sungai Boli Kiba merupakan salah satu mineral alam Kalimantan Barat yang pemanfaatanya belum maksimal dan bahkan hanya menjadi mineral yang tidak memiliki harga jual. Karakteristik fisik pasir besi tersebut adalah berwarna hitam abu-abu dan tertarik magnet dengan kuat. Berdasarkan analisis XRF, pasir ini mengandung mineral hematit dan analisis XRD menunjukan adanya kandungan Fe3O4. Pasir besi yang terdiri dari mineral besi oksida memiliki kemampuan membentuk kompleks dengan senyawa lain. Oleh karena itu, pasir besi digunakan sebagai material penyangga adsorben mangan dioksida (MnO2) yang memiliki partikel halus dan bersifat kurang stabil di dalam larutan. Hasil analisis XRF menunjukan bahwa pasir besi terlapis mangan dioksida mengandung mineral MnO 7,28%, Fe2O3 78,449%, SiO2 4,706%, Al2O3 3,079% dan hasil analisis XRD menunjukan sudut 2θ khas MnO2 (2θ = 37,270; 56,570; 38,950; 56,570; 65,670; 68,850; 27,780; 28,490; 41,100). Pasir besi yang telah terlapis MnO2 digunakan untuk mengadsorpsi ion fosfat. Efektivitas penurunan ion fosfat oleh pasir besi terlapis MnO2 yaitu sebesar 36,26% dengan konsentrasi awal ion fosfat sebesar 10,60 mg/L dan waktu kontak optimum 2,5 jam. Adsorpsi pasir besi terlapis mangan dioksida terhadap ion fosfat memiliki kapasitas adsorpsi Langmuir 9,7847 mg/g dan kapasitas adsorpsi Freundlich yaitu sebesar 0,1932 mg/g. Hasil uji stabilitas menunjukan bahwa mangan dioksida yang diimobilisasi pada pasir besi lebih stabil dibandingkan dengan mangan dioksida yang tidak diimobilisasi. Kadar mangan yang lepas dalam larutan fosfat menggunakan adsorben MnO2 (massa Mn 63,25%) yaitu 14,5 mg/L, sedangkan menggunakan adsorben pasir besi terlapis MnO2 (massa Mn 26,86%) kadar mangan yang lepas dalam larutan fosfat yaitu 0,015 mg/L. Kata Kunci: pasir besi terlapis MnO2, fosfat, kapasitas adsorpsi, stabilitas
ISOLASI DAN KARAKTERISASI ALGINAT DARI RUMPUT LAUT (Sargassum polycystum) ASAL PERAIRAN SINGKAWANG KALIMANTAN BARAT Ajuk Sapar, Ridho Brilliantoro, Endah Sayekti, Siti Kamisyah,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 8, No 3 (2020): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isolasi dan karakterisasi alginat dari rumput laut Sargassum polycystum telah dilakukan dengan menggunakan metode jalur kalsium alginat. Proses ini dilakukan dengan cara pengendapan menggunakan CaCl2 dengan waktu 3, 5, dan 7 hari untuk mendapatkan alginat dengan kualitas yang baik. Beberapa parameter yang digunakan untuk pengujian kualitas alginat yaitu uji fisiko-kimia, uji proksimat, dan analisis FTIR, serta uji aktivitas antioksidan. Isolat Ca-alginat SAR-7 menunjukkan hasil bahwa variasi waktu pengendapan sangat berpengaruh terhadap rendemen, yaitu 3,52% dengan kemurnian 32,00%, viskositas 8,74 Cp, pH 7,00, kadar air 19,29%, kadar abu 30,00%, kadar protein 3,50%, kadar lemak 25,07%,dan kadar karbohidrat 22,14%. Analisis FTIR menunjukkan hasil bahwa kalsium alginat mempunyai gugus fungsi –OH, C=O, C-O, dan alkil. Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa Ca-alginat dengan konsentrasi 50 ppm memiliki bioaktivitas antioksidan dengan kemampuan inhibisi DPPH sebesar 19,57%. Kata kunci: Sargassum polycystum, ektraksi, alginat, antioksidan
SENYAWA SITOTOKSIK DARI FRAKSI ETIL ASETAT DAUN DARUJU (Acanthus ilicifolius Linn.) TERHADAP SEL HeLa Puji Ardiningsih, Ari Widiyantoro, Oktavian Rachmadi,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker leher rahim termasuk dalam kanker yang banyak diderita oleh wanita di Indonesia maupun di dunia. Pengobatan kanker menggunakan bahan dasar senyawa alam dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan maupun pencegahan kanker. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas sitotoksik pada senyawa yang terdapat pada fraksi etil asetat daun daruju (Acanthus ilicifolius Linn.) terhadap sel kanker HeLa dan melakukan karakterisasi terhadap senyawa tersebut. Beberapa tahapan yang dilakukan untuk memperoleh senyawa adalah preparasi sampel, ekstraksi, fraksinasi, pemisahan dan pemurnian senyawa. Senyawa yang didapat berupa padatan amorf kehijauan.Hasil pengujian aktivitas sitotoksik senyawa terhadap sel kanker HeLa menunjukkan nilai IC50 sebesar 83,81 µg/mL, yang termasuk dalam senyawa sitotoksik potensial. Hasil karakterisasi senyawa dengan 1H-NMR (400 MHz, DMSO) menunjukkan δH pada 7,92 (1H, d, J=8,8 Hz, H-2’), δH pada 7,90 (1H, d, J=8,8 Hz, H-6’), δH pada 6,93 (1H, d, J=8,8 Hz, H-3’), δH pada 6,92 (1H, d, J=8,8 Hz, H-5’), δH pada 6,74 (1H, s, H-3), δH pada 6,46 (1H, d, J=2 Hz, H-8), δH pada 6,18 (1H, d, J=2 Hz, H-6). Hasil karakterisasi dengan 1H-NMR memperkirakan senyawa sitotoksik adalah senyawa apigenin, yang termasuk dalam golongan fenolik. Kata kunci: Acanthus ilicifolius Linn., apigenin, sitotoksik
AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI METANOL DAN FRAKSI KLOROFORM KAYU GAHARU BUAYA (Aetoxylon sympetalum) TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli Afghani Jayuska, Harlia, Emelia,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 8, No 3 (2020): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gaharu buaya (Aetoxcylon sympetalum) merupakan jenis tanaman Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Fraksi metanol dan fraksi kloroform kayu gaharu buaya memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Kedua bakteri tersebut sering mengalami resisten terhadap antibiotik, maka perlu dilakukan eksplorasi terhadap senyawa yang memiliki potensi sebagai antibakteri yang dapat mengatasi masalah infeksi. Oleh karena itu, pada penelitian ini telah dilakukan uji untuk mengetahui aktivitas ekstrak kayu gaharu buaya (A.sympetalum) terhadap bakteri E.coli dan S.aureus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari fraksi metanol dan fraksi kloroform kayu gaharu buaya (A.sympetalum) terhadap bakteri S.aureus dan E.coli dan menentukan sifat antibakteri dari masing-masing fraksi. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi sumuran. Berdasarkan uji aktivitas antibakteri, diketahui bahwa ekstrak kayu Gaharu Buaya memiliki aktivitas antibakteri terhadap S.aureus dan E.coli yang memiliki sifat bakteristatik ditunjukan terbentuknya zona bening pada setiap fraksi. Fraksi metanol menghasilkan zona bening terhadap bakteri E.coli dengan zona hambat 9,7556 mm sedangkan terhadap bakteri S.aureus menghasilkan zona bening sebesar8,2556 mm. Fraksi kloroform menghasilkan zona bening terhadap bakteri S.aureus  dengan zona bening 8,3111 mm sedangkan terhadap bakteri E.coli meghasilkan zona bening sebesar 5,3667 mm.  Kata kunci : aktivitas antibakteri, Eschrechia coli, gaharu buaya, Staphylococcus aureus
BIOAKTIVITAS EKSTRAK BATANG KECOMBRANG (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) TERHADAP RAYAP Coptotermes curvignathus. sp Harlia, Berlian Sitorus, Fitri Rislyana,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 3 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) adalah salah satu tanaman dari famili Zingiberaceae dan merupakan tanaman herba yang digunakan masyarakat sebagai pemberi aroma makanan, dan beberapa penelitian sebelumnya telah mengaplikasikan tanaman kecombrang sebagai anti bakteri dan anti nyamuk. Dalam penelitian ini dilakukan uji potensi biotermitisida dari ekstrak batang kecombrang (E. elatior (Jack) R.M.Sm.) terhadap rayap jenis Coptotermes curvignathus. sp. Penelitian dilakukan dengan cara fraksinasi secara bertingkat menggunakan pelarut etanol, n-heksan dan kloroform, dimana masing-masing fraksi dibuat dalam konsentrasi 0% (kontrol negatif), 2%, 4%, 6%, 8%, 10% dan kontrol positif (fipronil) yang dilakukan selama 7 hari dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Tiap kelompok perlakuan berjumlah 50 ekor rayap jenis C. curvignathus.sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan ekstrak batang kecombrang sebesar 2,15%, terdiri dari 1,06% fraksi etanol; 0,45% fraksi n-heksan dan 0,20% fraksi kloroform. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi kloroform memiliki toksisitas yang tinggi karena dengan konsentrasi minimum 4% mampu mematikan rayap uji 100% pada hari ke-6. Berdasarkan hasil skrining fitokimia, fraksi kloroform mengandung golongan senyawa steroid, alkaloid dan flavonoid yang memiliki bioaktivitas tinggi terhadap rayap. Hal ini membuktikan bahwa ekstrak batang kecombrang (E. elatior (Jack) R.M.Sm.) memiliki sifat biotermitisida terhadap rayap C. curvignathus. sp.   Kata kunci: biotermitisida, kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.), rayap Coptotermes curvignathus. sp
PEMANFAATAN ZEOLIT A TERMODIFIKASI HEXADECYLTRIMETHYLAMMONIUM (HDTMA) SEBAGAI ADSORBEN FOSFAT Lia Destiarti, Nelly Wahyuni, Dita Setiawati
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Deterjen merupakan senyawa organik yang tersusun dari komponen utama berupa surfaktan dan pembentuk (builder). Builder yang biasanya digunakan yaitu senyawa fosfat, sehingga dapat menyebabkan pencemaran air akibat kadar fosfat berlebih. Oleh sebab itu dilakukan proses adsorpsi untuk menurunkan kadar fosfat pada limbah deterjen mengunakan zeolit A termodifikasi HDTMA dengan variasi konsentrasi HDTMA. Adsorben hasil modifikasi ini dikarakterisasi menggunakan spektrofotometer inframerah (IR). Parameter adsorpsi yang dipelajari meliputi optimasi konsentrasi HDTMA, penentuan waktu kontak, dan kapasitas adsorpsi fosfat pada limbah deterjen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, fosfat dari limbah deterjen dengan konsentrasi awal 19,94 menurun sebesar 13,32 ppm (66,83 %). Proses adsorpsi dilakukan pada pH 3, kecepatan pengadukan 150 rpm, dan massa adsorben sebanyak 0,4 gram, dengan kapasistas adsorpsi paling tinggi yaitu pada konsentrasi HDTMA 0,067 M dengan waktu kontak optimum 90 menit.   Kata kunci: zeolit A, HDTMA, fosfat, adsorpsi