cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Kimia Khatulistiwa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 329 Documents
PENGGUNAAN KULIT KERANG DARAH SEBAGAI KOAGULAN AIR GAMBUT Lia Destiarti, Titin Anita Zaharah, Panji Prastowo,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 4 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air gambut memiliki kandungan zat organik yang tinggi, sehingga perlu dilakukan pengolahan dengan proses koagulasi-flokulasi agar diperoleh air bersih. Koagulan yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah kulit kerang darah (Anadara granosa). Kulit kerang dihaluskan menjadi serbuk kemudian dilakukan kalsinasi pada suhu 9000C. Pengolahan air gambut menjadi air bersih dilakukan dengan memvariasikan massa dari koagulan CaO (kalsium oksida) massa 800 mg/L, 900 mg/L dan 1000 mg/L yang dikontakkan dalam 1 L air gambut. Parameter pengujian adalah pH, kekeruhan, Chemical Oxygen Demand (COD), Biological Oxygen Demand (BOD). Variasi massa 800 mg/L, 900 mg/L dan 1000 mg/L menunjukkan nilai parameter pengujian yang berbeda tidak signifikan. Proses koagulasi dan flokulasi yang baik dihasilkan pH 12,41 ± 0,39, kekeruhan 5,36 ± 0,09 NTU, COD 51,21 ± 5,50 mg/L dan BOD 6,30 ± 1,78 mg/L. Hasil penelitian ini, dapat disimpulkan jumlah koagulan kulit kerang darah yang terbaik untuk pengolahan air gambut adalah massa 800 mg/L. Kata kunci: air gambut, CaO, pH, kekeruhan, COD, BOD
EKSTRAKSI DAN UJI STABILITAS ZAT WARNA ALAMI DARI BUAH LAKUM (Cayratia trifolia (L.) Domin) Nora Idiawati, Neliyanti,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lakum (Cayratia trifolia (L.) Domin) memiliki buah yang bewarna ungu kehitam-hitaman yang diduga berasal dari antosianin. Penelitian ini dilakukan untuk mengekstraksi, menentukan golongan pigmen dan menguji stabilitas zat warna alami dari buah lakum. Ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut air yang divariasikan suhu dan etanol yang divariasikan konsentrasi. Ekstrak optimum diuji flavonoid dan uji antosianin serta diuji stabilitasnya terhadap pengaruh suhu, cahaya, pH dan oksidator dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Hasil ekstraksi optimum pelarut air pada 70oC dan pelarut etanol 60%. Golongan pigmen buah lakum adalah antosianin. Uji stabilitas menunjukkan penyimpanan pada suhu 30 oC  dan 15 oC  selama 2 hari menurunkan absorbansi ekstrak air  sebesar 19,21 % dan 18,29 % dan ekstrak etanol sebesar 13,69 % dan 5,48 %. Penyinaran matahari selama 6 jam menurunkan absorbansi ekstrak air dan etanol sebesar 10,96 % dan 10,35 %. Penyinaran lampu 25 watt selama 48 jam menurunkan absorbansi ekstrak air dan etanol sebesar 5,18 % dan 5,64 %. Penambahan pH 1-2 meningkatkan absorbansi dan menurun pada pH 3-6. Penambahan oksidator H2O2 0,1 % selama 6 jam menurunkan absorbansi ekstrak air dan etanol sebesar 21,69 % dan 57,65 %. Antosianin buah lakum stabil pada suhu rendah, kondisi asam dan tanpa cahaya. Kata kunci : Lakum (Cayratia trifolia (L.) Domin), antosianin, ekstraksi.
PRODUKSI DAN KARAKTERISASI XILANASE DARI JAMUR XILANOLITIK ASIDOFILIK Puji Ardiningsih, Lia Destiarti, Eka Tresna Widhiana,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Xilanase mampu menghidrolisis hemiselulosa khususnya xilan. Enzim ini sering digunakan baik dalam industri roti, makanan dan minuman, maupun sebagai campuran pakan ternak. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah memproduksi dan mengarakterisasi xilanase yang dihasilkan oleh jamur xilanolitik asidofilik asal tanah gambut Pontianak, Kalimantan Barat. Isolat jamur xilanolitik asidofilikyang diperoleh diremajakan pada media PDA selektif steril. Isolat ini digunakan pada produksi enzim dengan waktu fermentasi optimum selama7 hari. Pengujian aktivitas ekstrak kasar xilanase dilakukan dengan variasi suhu (30˚C, 40˚C, 50˚C, 60˚C, 70˚C, dan 80˚C) dan pH (2,0; 2,5; 3,0; 3,5; 4,0; 4,5; 5,0 dan 5,5). Aktivitas ekstrak kasar enzim optimum pada suhu 70˚C dan pH 3,5 dengan aktivitas sebesar 757,87 mU/mL. Aktivitas jamur xilanolitik asidofilik dari tanah gambut Pontianak Kalimantan Barat memiliki aktivitas lebih baik dibandingkan aktivitas xilanolitik isolat  jamur terbaik yang diisolasi dari serasah dan tanah di lantai hutan mangrove pesisir pantai pasir putih Situbondo yang memiliki aktivitas sebesar 84 mU/mL.   Kata kunci: tanah gambut,  jamur xilanolitik asidofilik, xilanase
SINTESIS DAN KARAKTERISASI TERMAL PLASTIK RAMAH LINGKUNGAN POLYBLEND SELULOSA AMPAS TEBU DAN LIMBAH BOTOL PLASTIK POLIETILEN TEREFTALAT Harlia, Intan Syahbanu, Desi Salbeti,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai polyblend dari selulosa ampas tebu dan limbah botol plastik polietilen tereftalat (PET) dalam pembuatan plastik ramah lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik plastik poliblend PET-selulosa dan stabilitasnya secara termal. Hasil analisis FTIR selulosa dan PET menunjukkan adanya gugus fungsi -OH streching pada selulosa pada bilangan gelombang 3328,08 cm-1. Sedangkan pada PET menunjukkan adanya gugus fungsi CH2 alkana pada bilangan gelombang 2984,63 cm-1. Setelah dilakukan pembuatan poliblend plastik ramah lingkungan dengan beberapa variasi menunjukkan bahwa variasi 50/50 merupakan perbandingan yang paling baik dalam pembuatan poliblend plastik ramah lingkungan antara PET dan selulosa. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil analisis DTA-TGA menunjukkan bahwa variasi 50/50 paling stabil secara termal. Kata kunci: poliblend, PET, selulosa
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SENYAWA GOLONGAN FENOL DARI BEBERAPA JENIS TUMBUHAN FAMILI MALVACEAE ., Ricki Hardiana, Rudiyansyah, Titin Anita .
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandungan total fenol dan aktivitas antioksidan dari 5 jenis tumbuhan famili Malvaceae yaitu kapuk pendek (Ceiba pentandra (L.) Gaetrn. var. Indica Bakhuizen), kapuk panjang (Ceiba pentandra (L.) Gaetrn.), durian (Durio acutifolius (Mast.) Kosterm.), pahitan (Melochia corchorifolia L.), dan pungpulutan (Urena lobata L.) yang diperoleh dari Pegunungan Ambawang, Dusun Gunung Ambawang, Kalimantan Barat, telah diteliti pada penelitian ini. Uji kandungan total fenol menggunakan metode Folin-Ciocalteu dan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikril-hidrazil) dan kekuatan mereduksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pahitan (Melochia corchorifolia L.) memiliki kandungan total fenol yang paling tinggi dan nilai IC50 yang paling rendah dibandingkan sampel lainnya. Secara keseluruhan, terdapat hubungan erat antara kandungan total fenol dan nilai IC50, yang mana nilai IC50 dengan menggunakan metode DPPH dan kekuatan mereduksi tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Kata kunci : Malvaceae, fenol, antioksidan, DPPH
EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KULIT BATANG BELIMBING HUTAN (Baccaurea angulata Merr.) TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli Savante Arreneuz, Titin Anita Zaharah, Heni,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Belimbing hutan (Baccaurea angulata Merr.) merupakan salah satu tumbuhan yang berasal dari Kalimantan yang buahnya diketahui memiliki potensi sebagai antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder dan efektivitas antibakteri ekstrak kulit batang belimbing hutan dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dan E. coli. Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi, uji fitokimia, dan penentuan aktivitas antibakteri dengan metode difusi sumur. Hasil uji fitokimia kulit batang belimbing hutan pada ekstrak metanol positif mengandung senyawa alkaloid, terpenoid, saponin dan polifenol, fraksi etil asetat positif mengandung senyawa flavonoid, saponin dan polifenol, fraksi n-heksana positif mengandung senyawa terpenoid, sedangkan pada fraksi metanol positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, terpenoid, saponin dan polifenol. Berdasarkan hasil pengujian aktivitas antibakteri, fraksi etil asetat memiliki kemampuan penghambatan terhadap S. aureus dengan diameter zona hambat pada konsentrasi 100 mg/mL sebesar 3,51 mm, namun tidak dapat menghambat pertumbuhan E. coli. Sedangkan ekstrak metanol, fraksi n-heksana dan fraksi metanol tidak aktif dalam menghambat S.aureus dan E. coli. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak kulit batang belimbing hutan tidak berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri S.aureus dan E. coli. Kata Kunci: antibakteri, metode difusi sumur, Baccaurea angulata Merr
SINTESIS KOMPOSIT POLIANILINA-SELULOSA MENGGUNAKAN MATRIKS SELULOSA DARI TANDAN KOSONG SAWIT Harlia, Eko Saputra Berlian Sitorus
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sintesis komposit polianilina-selulosa menggunakan matriks selulosa yang berasal dari tandan kosong sawit telah dilakukan dalam penelitian ini. Jumlah polianilina yang terkomposit pada matriks selulosa dapat ditingkatkan dengan cara memasukkan polianilina ke dalam ruang antar struktur selulosa. Adanya ikatan hidrogen antar struktur selulosa menyebabkan polianilina sulit masuk. Proses swelling dilakukan untuk memperbesar ruang antar struktur selulosa sehingga molekul anilina dapat masuk. Sintesis komposit polianilina-selulosa dilakukan dengan variasi perlakuan awal swelling pada selulosa menggunakan dimetil sulfoksida (DMSO) dan tanpa perlakuan awal swelling pada selulosa. Selain itu, sintesis komposit polianilina-selulosa juga dilakukan dengan variasi massa anilina yaitu 0,5 g, 1 g, dan 1,5 g. Konduktivitas komposit polianilina-selulosa ditentukan dengan menggunakan Electrochemical Impedance Spectroscopy. Berdasarkan hasil pengukuran konduktivitas, komposit polianilina-selulosa yang dihasilkan bersifat semikonduktor. Nilai konduktivitas tertinggi dimiliki oleh komposit dengan variasi jumlah anilina 1,5 g, yakni 1,35 x 10-2 1,54 x 10-2 S/cm untuk komposit yang disintesis tanpa perlakuan awal swelling dan 3,58 x 10-3 3,87 x 10-3 S/cm untuk komposit yang disintesis melalui perlakuan awal swelling. Hasil pengukuran konduktivitas menunjukkan bahwa komposit polianilina-selulosa yang disintesis melalui perlakuan awal swelling memiliki nilai konduktivitas lebih tinggi dibandingkan dengan komposit yang disintesis tanpa melalui perlakuan awal swelling. Kata kunci: komposit, polianilina, selulosa, swelling.
PENURUNAN KADAR ION SULFAT DALAM AIR MENGGUNAKAN KOMPOSIT KITOSAN/ZEOLIT/PVA Nurlina, Anis Shofiyani, Klara Oktavia,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 4 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ion sulfat (SO42-) merupakan anion penyebab kesadahan air. Penurunan kadar ion sulfat dalam air menggunakan komposit kitosan/zeolit/PVA pelet terikat silang gluteraldehid telah dilakukan pada penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakterisasi gugus fungsi dan stabilitas komposit pelet pada variasi pH. Adsoeben komposit digunakan dalam menurunkan konsentrasi ion sulfat dalam air. Tahapan metode yang dilakukan meliputi pembuatan komposit, karakterisasi kandungan gugus fungsi komposit menggunakan FTIR, uji stabilitas komposit, penentuan kadar ion sulfat teradsorpsi menggunakan spektrofotometri UV-Vis untuk menentukan kapasitas adsorpsi ion sulfat. Hasi spektrofotometri FTIR menunjukan munculnya serapan gugus –OH (3364,55 cm-1) dan –NH (3346,31 cm-1) dari kitosan; gugus amida dari kitosan (1633,92 cm-1); gugus C=N (1637,67cm-1) yang menunjukan pembentukan ikatan imina antara  kitosan dan glutaraldehid; gugus C-H (2162,37 cm-1 dan 2283,85); gugus C-O-C dari kitosan (1020,51 cm-1 dan 1028,27 cm-1); gugus C-N dari kitosan (1380,72 cm-1); gugus Al-O dari zeolit (788,33 cm-1 dan 782,34 cm-1). Komposit pelet terikat silang gluteraldehid lebih stabil dalam asam dan basa dibandingkan komposit pelet tanpa terikat silang dengan gluteraldehid. Massa komposit pelet 0,1 gram menghasilkan kapasitas adsorpsi ion sulfat paling besar, yaitu 55,39 mg/g. Semakin besar massa komposit pelet yang digunakan, maka kapasitas adsorpsinya semakin menurun. Kata kunci: kesadahan, kitosan, zeolit, komposit, glutaraldehid
KARAKTERISASI SENYAWA ALKALOID DARI FRAKSI ETIL ASETAT DAUN KESUM (Polygonum minus Huds) Endah Sayekti, Diasyti Pramita, Harlia,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 3 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isolat yang relatif murni telah diisolasi dari 1 kg daun Polygonum minus Huds. (Polygonaceae). Isolat diperoleh dari fraksi etil asetat berbentuk padatan amorf berwarna hijau tua (19 mg), mempunyai titik leleh 85-87oC (tidak terkoreksi) dan uji fitokimia menunjukan positif alkaloid. Kemurnian senyawa diuji dengan kromatografi lapis tipis satu dan dua dimensi yang menampakan satu noda pada KLT. Spektrum UV-Vis memberikan serapan maksimum pada panjang gelombang 210 nm menunjukan adanya serapan khas dari kerangka cincin furan yang dimiliki oleh alkaloid indol, serta adanya serapan pada panjang gelombang maksimum sebesar 270 nm dan 285 nm mengindikasikan bahwa isolat B5 tersebut termasuk dalam golongan alkaloid indol. Panjang gelombang 220, 250, 270 dan 285 nm menunjukan adanya transisi elektronik - * dan memiliki kromofor C=C. Puncak serapan pada ?maks 285 nm menunjukkan adanya kromofor benzena. Spektrum IM menunjukan adanya pita serapan pada (cm-1) 3483-3610 (uluran N-H), 3311 (uluran O-H), 2860-2925 (uluran C-H), 1735 (uluran C=O), 1458-1546 (uluran C=C), 1379 (uluran C-N), 1168-1259 (uluran C-O). Spektrum RMI-1H memperlihatkan adanya sinyal triplet pada ?H 0,89 (J= 3 Hz) , sinyal multiplet pada ?H 1,35 (J= 13 Hz), sinyal singlet pada ?H 3,60 (J= 0,25 Hz), sinyal kuartet pada ?H 3,98 (J= 1 Hz) dan sinyal singlet pada ?H 8,14 (J= 0,1 Hz). Spektrum RMI-13C memperlihatkan 14 sinyal karbon yang terdiri dari; C, CH, CH2, CH3, CH-OH dan C=O. Berdasarkan data spektrum tersebut diprediksi bahwa isolat merupakan senyawa alkaloid jenis indol yang tersubstitusi pada cincin pirol. Kata kunci : Polygonum minus Huds, Alkaloid, Fraksi Etil Asetat
VALIDASI METODE PENGUKURAN KADAR ASAM HUMAT HASIL EKSTRAKSI KALIUM HIDROKSIDA DENGAN SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET Nora Idiawati, Lia Destiarti, Pudji Astuti,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tersedianya tanah gambut yang luas membuka peluang untuk mengisolasi asam humat dan melakukan validasi penentuan kadar asam humat. Pengukuran kadar asam humat hasil ekstraksi diambil dari tanah gambut asal Kalimantan Barat. Ekstraksi asam humat didasarkan pada metode ekstraksi basa menggunakan 0,1 M KOH dan dikarakterisasi dengan spektrofotometer inframerah. Penentuan asam humat hasil ekstraksi dianalisis menggunakan spektrofotometer ultraviolet pada panjang gelombang 219 nm. Validasi metode penentuan kadar asam humat mempunyai linearitas yang baik dengan koefisien korelasi sebesar 0,997, akurasi sebesar 1,76%-5,66%, presisi sebesar 1,655%-5,085%, LOD 1,2mg/L, LOQ 3,9 mg/L. Hasil penelitian menunjukkan nilai kadar asam humat sebesar 0,0356 %. Hasil karakterisasi FTIR  asam  humat  hasil  ekstraksi  menghasilkan  munculnya  spektrum IR pada daerah  3410 cm-1, 2924 cm-1, 1712 cm-1, 1620 cm-1, 1419 cm-1, 1381 cm-1, dan daerah 1250 cm-1. Hal ini menandakan karakreristik asam humat hasil ekstraksi relatif tidak jauh berbeda dengan asam humat standar.   Kata kunci : asam humat, ekstraksi, validasi metode, spektrofotometri ultraviolet, KOH