cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Kimia Khatulistiwa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 329 Documents
PENURUNAN KONSENTRASI BAHAN ORGANIK DAN BESI DALAM AIR GAMBUT DENGAN METODE UV-OZON Lia Destiarti, Nora Idiawati, Misnawati,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air gambut berwarna merah kecoklatan yang disebabkan adanya kandungan bahan organik dan besi dalam jumlah yang tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk menurunkan konsentrasi bahan organik dan besi dalam air gambut dengan metode UV-Ozon terhadap variasi waktu kontak serta mengetahui konsentrasi sisa ozon yang digunakan selama proses UV-Ozon. Hasil yang diperoleh untuk penurunan konsentrasi bahan organik air gambut sebagai bilangan permanganat sebesar 53,46% pada waktu kontak 3 jam, sedangkan penurunan konsentrasi besi terlarut (Fe2+) air gambut sebesar 67,01% pada waktu kontak 4 jam, serta konsentrasi sisa ozon sebesar 0,015 mg/L pada waktu kontak 5 jam. Dengan demikian dapat diketahui bahwa konsentrasi bahan organik dan besi air gambut dapat diturunkan secara advanced oxidation processes (AOPs) dengan metode UV-Ozon.   Kata Kunci : air gambut, besi, bahan organik, ozon
AKTIVITAS TERMITISIDA MINYAK ATSIRI DARI DAUN CEKALAK (Etlingera elatior (JACK) RM. SM.) TERHADAP RAYAP Coptotermes curvignathus sp PADA TANAMAN KARET Harlia, Nora Idiawati, Fahira Zuzani,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 3 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cekalak (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm) merupakan tanaman dari famili Zingiberaceae yang memiliki potensi untuk menghasilkan minyak atsiri, salah satunya pada bagian daun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen utama minyak atsiri daun cekalak (E. elatior) dan aktivitas biologis terhadap rayap (Coptotermes curvignathus sp) pengganggu bagi tanaman karet. Minyak atsiri daun cekalak (E. elatior) didestilasi dengan metode destilasi uap selama 4 jam. Rendemen minyak atsiri daun cekalak (E. elatior) yang di peroleh adalah 0,102% dan hasil dari identifikasi dengan menggunakan GC-MS menunjukkan beberapa senyawa di antaranya cyclopropane (28,57%), trans-β-Farnesene (8,97%), dodecanal (7,31%), cyclododecane (7,26%), α-Pinene (5,42%), dan caryophyllene (5,28%). Semakin besar konsentrasi minyak atsiri daun cekalak (E. elatior) pada kertas uji, maka semakin menurun kemampuan rayap untuk memakan kertas uji, sehingga pengurangan presentase pada berat kertas uji juga menurun. Hasil analisis probit data LC50 dari minyak atsiri daun cekalak (E. elatior) diperoleh sebesar 3,072%. Hal ini menunjukkan bahwa minyak atsiri dari daun cekalak bersifat toksik bagi rayap dan dapat dimanfaatkan sebagai termitisida pada tanaman karet.   Kata kunci: C. curvignathus, E. elatior , minyak atsiri, termitisida
PENGARUH WAKTU SONIKASI TERHADAP KARAKTERISTIK SELULOSA ASETAT HASIL SINTESIS DARI SABUT PINANG Intan Syahbanu, Husna Amalya Melati, Annisa Anugraini,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 3 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sabut pinang memiliki kandungan selulosa yang tinggi. Kandungan selulosa ini dapat dimanfaatkan untuk dijadikan selulosa asetat (SA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh waktu sonikasi terhadap massa molekul rata-rata viskositas (Mv) dan karakteristik selulosa asetat berbahan dasar sabut pinang. Tahapan penelitian ini adalah delignifikasi dan ekstraksi selulosa, proses asetilasi, proses hidrolisis, penentuan kadar asetil dan derajat substitusi (DS), dan penentuan Mv. Sabut pinang didelignifikasi dan diekstraksi untuk menghilangkan lignin dan memperoleh selulosa murni. Tahap asetilasi dilakukan selama 3 jam dengan proses sonikasi selama (0, 15, 30, 60, 90, dan 120) menit. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh waktu sonikasi terhadap massa molekul rata-rata (Mv) yaitu terjadinya penurunan Mv pada waktu sonikasi 120 menit. Spektrum FTIR SA hasil sintesis menunjukkan adanya puncak gugus karbonil (C=O) ulur pada bilangan gelombang 1737,85 cm-1 dan munculnya gugus ester dari gugus asetil pada bilangan gelombang 1224,59 cm-1 dan 1039,12 cm-1. Hal ini menunjukkan bahwa proses asetilasi pada selulosa dari sabut pinang menjadi selulosa asetat berhasil dilakukan. Hasil difraktogram XRD selulosa sabut pinang memiliki perbedaan dengan SA hasil sintesis. Selulosa sabut pinang muncul puncak tajam yang tinggi pada 23,2771o yang menunjukkan selulosa sabut pinang bersifat kristalin. SA hasil sintesis muncul puncak lebar yang menunjukkan SA bersifat amorf. Kata Kunci : massa molekul rata-rata viskositas (Mv), metode sonikasi, selulosa asetat, selulosa sabut pinang
KARBON AKTIF DARI LIMBAH CANGKANG SAWIT SEBAGAI ADSORBEN GAS DALAM BIOGAS HASIL FERMENTASI ANAEROBIK SAMPAH ORGANIK Afghani Jayuska, Apria Widyastuti Berlian Sitorus
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karbon aktif yang berasal dari limbah cangkang sawit dapat digunakan untuk penyerapan gas CO2 dan pemurnian biogas. Karbon aktif yang berasal dari cangkang sawit berukuran mikropori agar dapat menyerap gas dengan baik. Hasil karakterisasi menggunakan Gas Sorption Analyzer (GSA) menunjukkan nilai volume total pori, luas permukaan dan rerata jejari pori. Hasil analisis karbon aktivasi kimia memiliki volume pori 0,1304 cc/g, luas permukaaan 208,091 m2/g dan rerata jejari pori 12,531 dan hasil analisis karbon aktif komersial memiliki luas permukaan 666,534 m2/g dengan volume total pori 0,3571 cc/g dan rerata jari pori 10,713 ?. Pada pengukuran gas, karbon aktif cangkang sawit aktivasi kimia memiliki daya serap CO2 sebesar 6,1% dan kadar CH4 yang terukur sebesar 65,5% sedangkan pada karbon aktif komersial daya serap CO2 sebesar 12,97% dan kadar CH4 yang terukur sebesar 70,5%. Perbedaan pengukuran gas CH4 dengan menggunakan adsorben karbon aktif komersial dan karbon aktif cangkang sawit tidak terlalu jauh berbeda. Berdasarkan hasil analisis dengan GSA dan pengukuran gas, maka dapat disimpulkan karbon aktif yang berasal dari cangkang sawit memiliki potensi sebagai adsorben gas dilihat dari meningkatnya kadar CH4 sebelum menggunakan adsorben dan setelah menggunakan adsorben.
KARAKTERISASI SENYAWA FLAVONOID HASIL ISOLAT DARI FRAKSI ETIL ASETAT DAUN MATOA (Pometia pinnata J. R. Forst & G. Forst) Afghani Jayuska, Rahimah, Endah Sayekti,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isolasi senyawa flavonoid yang terkandung di dalam daun matoa (Pometia pinnata J.R.Frost & G.Forst) telah dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol. Hasil ekstrak kental metanol sebanyak 319,3 gram dipisahkan sebanyak 100 gram kemudian dilakukan pemurnian dengan fraksinasi dan kromatografi menggunakan pelarut dari yang non polar hingga ke pelarut yang relatif polar. Pada tahap fraksinasi pelarut yang digunakan berupa n-heksana, metilena klorida, dan etil asetat. Berdasarkan hasil fraksinasi dari daun matoa diperoleh fraksi n-heksana sebanyak 23,6360 g dan fraksi metilen klorida sebanyak 22,9560 g dengan hasil uji fitokimia menunjukkan negatif terhadap senyawa golongan flavonoid. Sedangkan pada fraksi etil asetat dari daun matoa sebanyak 25,0009 g positif mengandung flavonoid. Fraksi etil asetat selanjutnya dimurnikan dengan kromatografi kolom vakum cair dan kromatografi kolom tekan menggunakan fasa diam silika gel dengan perbandingan fasa gerak n-heksana:etil asetat (9:1) dan (8:2) yang dipilih sesuai dengan pergerakan dari kromatografi lapis tipis. Senyawa yang diperoleh kemudian dimurnikan dengan menggunakan KLT preparatif dua dimensi perbandingan eluen n-heksana : etil asetat (8:2) menghasilkan kristal berwarna kuning sebanyak 14,10 mg dengan waktu retensi I (Rf I) = 0,20 dan waktu retensi II (Rf II) = 0,24. Selanjutnya ekstrak yang relatif murni dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis dan spektrofotometer Inframerah (IR). Berdasarkan hasil analisis dan interpretasi maka dapat diidentifikasi bahwa senyawa hasil isolat yang diperoleh dari daun matoa merupakan senyawa golongan flavonoid. Kata kunci : Flavonoid, Etil Asetat, Matoa (Pometia pinnata J.R.Forst & G.Forst)
KARAKTERISASI SENYAWA TRITERPENOID DARI KULIT AKAR JABON ( Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq.) Rudiyansyah, Afghani Jayuska, Epi Yulisa,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 4 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jabon (Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq.) adalah pohon besar  dengan mahkota berbentuk payung yang luas dan batang silinder dengan cabang-cabang yang khas. Beberapa bagian tanaman Jabon (A. cadamba) telah digunakan untuk  penyembuhan luka, antioksidan, dan aktivitas antimalaria.Senyawa triterpenoid diisolasi dari fraksi etanol pada kulit akar Jabon (A. cadamba) Tahapan isolasi senyawa triterpenoid adalah ekstraksi, fraksinasi, kromatografi vakum cair (KVC), dan kromatografi kolom gravitasi (KKG). Analisis isolat ditentukan menggunakan proton nuclear magnetic resonance (1H-NMR) (500 MHz). Pergeseran kimia senyawa triterpenoid δH (ppm): 0,9 (2H,m) ; 1,3 (9H,d, J=7,05Hz) ; 1,6 (7H,m,) ; 2,02 (1H,m) ; 2,32 (2H,m) ; 3,98 (1H,s) ; 4,29 (3H,m) ; dan 7,5 (1H,s). Berdasarkan data spektrum 1H-NMR dan uji fitokimia dengan reagen Lieberman-Burchard diketahui bahwa kulit akar jabon terkandung senyawa triterpenoid.   Kata kunci: Jabon, Kromatografi, karakterisasi, A. cadamba, triterpenoid 
PENENTUAN KADAR TIMBAL (II) PADA AIR SUNGAI KAPUAS SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRA VIOLET-VISIBLE Puji Ardiningsih., Rocky Aldinomera, Lia Destiarti,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Timbal merupakan salah satu logam yang sangat berbahaya yang mungkin terdapat dalam badan perairan, salah satunya di Sungai Kapuas. Oleh karena sifat timbal yang berbahaya bagi manusia maka perlu dilakukan penentuan kadar timbal dengan menggunakan metode analisis yang tepat sehingga diperoleh hasil yang tepat pula. Menurut SNI 6989-8-2009, penentuan kadar timbal dilakukan dengan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Meskipun metode ini sudah tervalidasi, namun ketersediaan Spektrofotometer Serapan Atom masih terbatas. Dengan demikian, diperlukan metode alternatif lain untuk pengukuran logam timbal selain Spektrofotometri Serapan Atom. Metode alternatif lain yang dapat digunakan untuk menentukan kadar timbal adalah spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini dilakukan untuk memvalidasi metode penentuan Pb dengan spektrofotometri UV-Vis. Validasi metode pengujian timbal dengan spektrofotometri UV-Vis mempunyai linearitas yang baik dengan koefisien korelasi sebesar 0,9962, akurasi sebesar 0,15%-26,1%, presisi sebesar 3,03%-18,33%, limit deteksi dan limit kuantifikasi berturut-turut sebesar 0,46 ppm dan 1,54 ppm. Berdasarkan hasil uji parameter validasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode pengujian kadar timbal secara spektrofotometri UV-Vis memenuhi kriteria yang ditetapkan. Kata kunci : timbal, validasi metode analisis, spektrofotometri UV-Vis
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN, TOTAL FENOL DAN TOKSISITAS DARI EKSTRAK DAUN DAN BATANG LAKUM (Cayratia trifolia (L) Domin) Lia Destiarti, Rumayati, Nora Idiawati,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 3 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lakum (Cayratia trifolia) merupakan salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan, kandungan total fenol dan aktivitas toksisitas ekstrak metanol, fraksi n-heksana, fraksi kloroform dan fraksi metanol daun dan batang lakum. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikril-hidrazil), uji kandungan total fenol menggunakan metode Folin-Ciocalteu dan uji toksisitas menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa % rendemen tertinggi yaitu pada fraksi metanol daun 25,617%. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi metanol daun dan batang mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, polifenol dan steroid. Fraksi n-heksana dan kloroform daun dan batang mengandung senyawa polifenol dan steroid. Aktivitas antioksidan terdapat pada fraksi metanol batang lakum memilki dengan nilai IC50 60 ppm dan kandungan total fenol tertinggi yaitu sebesar 57,7 μg/mL. Uji toksisitas  menunjukkan bahwa fraksi kloroform dan metanol batang memiliki aktivitas toksisitas yang tertinggi dengan nilai LC50 91,7 ppm. Hal ini mengindikasikan bahwa fraksi metanol bersifat aktif sebagai antioksidan dan fraksi kloroform batang bersifat aktif sebagai antikanker. Kata kunci : antiokisdan, Cayratia trifolia, lakum, skrining fitokimia, total fenol, toksisitas
ISOLASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI JAMUR (FUNGI) TANAH GAMBUT PONTIANAK Puji Ardiningsih, Zakia Maya Fanida,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2019): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus resistansi bakteri patogen terhadap beberapa antibiotika yang ada di pasaran menunjukkan bahwa eksplorasi sumber senyawa antibiotika baru perlu dilakukan sebagai upaya untuk menghasilkan senyawa antibakteri baru. Salah satu organisme yang dapat dijadikan sebagai penghasil antibakteri adalah jamur. Tujuan dari penelitian ini yaitu memperoleh isolat jamur dari tanah gambut yang memiliki aktivitas antibakteri. Total sebanyak 8 isolat murni diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etil asetat untuk diuji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri uji Salmonella typhi, Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas aeruginosa. Hasil uji Aktivitas antibakteri 8 isolat jamur dengan metode difusi sumur menunjukkan bahwa hanya 1 isolat jamur HAI yang aktif dengan zona hambat 9,27 mm terhadap S. typhi. Isolat jamur HA1 diidentifikasi secara makroskopis dan mikroskopis, diduga merupakan jamur Trichoderma sp.  Kata Kunci: antibakteri, tanah gambut, jamur 
OPTIMASI WAKTU DAN SUHU PENGERINGAN MODIFIKASI SILIKA GEL BERBAHAN DASAR ABU SEKAM PADI DENGAN TRIBUTILAMINA Nelly Wahyuni, Iman Saputra Pertama, Titin Anita Zahara
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 4 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abu sekam padi memiliki kandungan SiO2 87-97% sehingga dapat dimanfaatkan untuk mensintesis silika gel. Penelitian ini bertujuan memodifikasi silika gel dengan menggunakan senyawa organik tributilamina. Berdasarkan analisis XRD menunjukan silika gel abu sekam padi memiliki sifat amorf dengan ditunjukan dari intensitas dan puncak tertinggi terletak pada sudut 2θ= 21,98o. Modifikasi silika gel menggunakan senyawa organik tributilamina dengan konsentrasi 0,1 M pada variasi waktu kontak yaitu; 1, 2, 3, 4 dan 5 jam serta suhu pengeringan setelah modifikasi dengan variasi suhu pengeringan 20, 40, 60, 80 dan 100 oC. Spektra IR menunjukan bahwa waktu kontak dan suhu optimum adalah 3 jam pada suhu 40 oC, yang ditandai dengan munculnya serapan pada bilangan gelombang 1380,04 cm-1 yang mengindikasikan adanya gugus N-O. Foto SEM menunjukan morfologi permukaan yang lebih halus dan merata pada permukaan silika gel modifikasi.   Kata Kunci : Abu sekam padi, silika gel, tributilamina, modifikasi