cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Kimia Khatulistiwa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 329 Documents
BIOADSORPSI Pb2+ OLEH PATI SINGKONG (Manihot utilissima Pohl) TERFOSFORILASI Nora Idiawati, Lia Destiarti, Joshua Charisma,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.253 KB)

Abstract

Pencemaran logam timbal telah menjadi salah satu masalah bagi lingkungan sehingga perlu dilakukan penanganan serius untuk mengurangi pencemaran logam berat tersebut. Salah satu metode yang sering digunakan adalah metode adsorpsi, oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan sintesis pati singkong terfosforilasi sebagai adsorben logam timbal. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data pH optimum adsorpsi  Pb2+, waktu kontak dengan adsorpsi tertinggi dan untuk mengetahui isoterm yang menggambarkan proses adsorpsi Pb2+ oleh pati singkong terfosforilasi. Pati hasil isolasi sebelum dan sesudah modifikasi dikarakterisasi menggunakan spektrofotometer infra merah. Spektrum pati sebelum modifikasi menunjukkan adanya vibrasi regang O-H pada 3425,58 cm-1, vibrasi regang C-Halifatik pada 2931,80 cm-1 dan vibrasi regang C-OH pada 1157,29 cm-1, sedangkan setelah modifikasi fosfat muncul puncak baru yaitu gugus C-O-P pada 995,27 cm-1. Pada proses adsorpsi Pb2+, dilakukan penentuan pengaruh pH terhadap adsorpsi Pb2+ dengan variasi 4, 5, 6, 7, dan 8, waktu kontak dengan variasi waktu 60, 100 dan 140 menit serta penentuan isoterm adsorpsi Pb2+. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai pH optimum yaitu pada pH 6 dengan waktu kontak 140 menit. Isoterm Freundlich dan Langmuir belum dapat menggambarkan proses adsorpsi Pb2+ oleh pati singkong terfosforilasi, dimana nilai R2 Isoterm Freundlich dan Langmuir secara berturut-turut adalah 0,5667 dan 0,1876.   Kata kunci :  pati singkong (Manihot utilissima Pohl) terfosforilasi, timbal, pH, waktu kontak
UJI WATER UPTAKE DAN POROSITAS TERHADAP BLEND MEMBRAN BERBASIS POLISULFON DAN SELULOSA ASETAT DARI NATA DE COCO Intan Syahbanu, Nurlina, ‘Afaf Sri Hartini,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 4 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.7 KB)

Abstract

Teknologi membran telah banyak dikembangkan dalam proses pemisahan pada metode pengolahan limbah. Teknologi membran dipilih karena prosesnya sangat sederhana, dapat digunakan secara berulang, ramah lingkungan dan sangat selektif. Polisulfon merupakan polimer yang telah banyak diaplikasikan sebagai membran, namun membran polisulfon rentan terhadap fouling. Kelemahan pada membran polisulfon dapat diatasi dengan mencampur polisulfon dan selulosa asetat (SA) yang dibuat dari selulosa bakteri (nata de coco). Penelitian ini bertujuan untuk melihat karakteristik selulosa asetat hasil sintesis berdasarkan spektrum FTIR. Selulosa asetat (SA) disintesis dari nata de coco dengan metode asetilasi. Larutan polimer blend membran dibuat dengan mencampurkan polisulfon (PSf), N-metil pirolidon (NMP), polietilenglikol 400 (PEG400) dan SA. Blend membran selulosa asetat dibuat dengan menggunakan teknik inversi fasa. Membran yang dihasilkan dikarakterisasi dengan menggunakan uji water uptake dan porositas. Karakteristik serapan selulosa asetat ditandai dengan adanya puncak khas C-O-C dengan bilangan gelombang 1224 cm-1dan 1740 cm-1. Semakin tinggi suhu bak koagulasi yang digunakan pada pembuatan blend membran, maka pori yang dihasilkan juga semakin besar dan nilai water uptake juga semakin besar. Kata Kunci:membran, selulosa asetat, selulosa bakteri
UJI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK KASAR BUAH ASAM PAYA (Eleiodoxa conferta (Griff.) Buret) SECARA IN-VITRO DENGAN METODE STABILISASI MEMBRAN HRBC (HUMAN RED BLOOD CELL) Nora Idiawati, M. Agus Wibowo, Riska Nur Arifah,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.166 KB)

Abstract

Asam paya (Eleiodoxa conferta (Griff) Buret) termasuk ke dalam golongan  famili Aracaceae. Buah ini juga dikenal dengan nama asam kelubi atau salak hutan. Tekstur dari kulit buah ini lebih keras dan lebih tebal daripada kulit salak serta memiliki rasa buah yang sangat asam. Buah asam paya memiliki aktivitas sebagai antioksidan dimana berperan sebagai antiinflamasi dengan cara menangkap radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan mengetahui aktivitas antiinflamasi secara in vitro dengan metode stabilisasi membran HRBC (Human Red Blood Cell). Hasil pengujian skrining fitokimia asam paya mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, steroid, alkaloid, dan saponin. Senyawa flavonoid, tanin dan saponin memiliki aktivitas terbesar untuk menstablikan sel darah merah. Kontrol positif menggunakan aspirin yang merupakan golongan obat AINS (Antiinflamasi Non Steroid). Aspirin sebagai standar obat pada konsentrasi 100 ppm mampu menstabilkan sel darah merah sebesar 91,56%. Hasil stabilitas membran sel darah merah pada konsentrasi 100 ppm ekstrak kasar buah asam paya sebesar 59,86%. Uji ANOVA menunjukkan aktivitas penstabilan membran sel darah merah oleh ekstrak kasar buah asam paya berbeda nyata dengan aspirin. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa buah asam paya berpotensi sebagai agen antiinflamasi. Kata Kunci : asam paya (Eleiodoxa conferta (Griff) Buret), antiinflamasi, stabilisasi membran
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK DAUN MALEK (Litsea graciae Vidal) TERHADAP BAKTERI Stapylococcus aureus DAN Escherichia coli Nora Idiawati, Berlian Sitorus, Dina Katrin,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.814 KB)

Abstract

Tumbuhan malek (Litsea graciae Vidal) merupakan salah satu dari genus Litsea yang memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder, pada fraksi metanol, n-heksana dan kloroform terdiri dari alkaloid, flavonoid, steroid dan triterpenoid, yang dapat berpotensi sebagai antibakteri. Secara empiris masyarakat memanfaatkan biji malek sebagai obat bisul. Metode yang digunakan untuk uji bioaktivitas terhadap bakteri S. aureus dan E. coli adalah metode cakram kertas dengan melihat diameter zona hambat yang dihasilkan. Variasi konsentrasi ketiga fraksi tersebut adalah 4, 5, 6, dan 7% (b/v). Diameter zona hambat yang dihasilkan oleh ekstrak daun malek pada konsentrasi terkecil yang diberikan yaitu 4 %  memiliki daya hambat terbesar pada fraksi kloroform terhadap bakteri S.aureus yaitu sebesar 12,6 mm dan terhadap bakteri E.coli sebesar 11 mm. Zona hambat ini menunjukkan bahwa ekstrak daun malek dari berbagai fraksi berpotensi sebagai antibakteri.   Kata Kunci : Antibakteri, Escherichia coli, Litsea graciae vidal, Stapylococcus aureus
SENYAWA TERPENOID DARI FRAKSI DIKLOROMETANA DAUN TANAMAN ANDONG (Cordyline fruticosa) DAN AKTIVITAS ANTIMALARIANYA TERHADAP Plasmodium falciparum Ari Widiyantoro, Puji Ardiningsih, Mai Nurhayati,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 3 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.765 KB)

Abstract

Daun andong (Cordyline fruticosa) banyak digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional untuk batuk darah dan pendarahan pada kehamilan. Penelitian ini bertujuan menjelaskan karakteristik terpenoid dari fraksi diklorometana dan aktivitas antimalarianya terhadap Plasmodium falciparum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstraksi, fraksinasi, pemisahan dan uji kemurnian. Hasil ekstraksi daun andong dengan metanol diperoleh sebanyak 144,01 g ekstrak kental. Ekstrak metanol mengandung senyawa flavonoid, terpenoid, steroid, alkaloid, saponin, dan tanin. Ekstrak  metanol menunjukkan nilai aktivitas antimalaria IC50 sebesar 10,44 g/mL yang memberikan aktivitas antimalaria cukup baik. Ekstrak ini selanjutnya difraksinasi sehingga diperoleh fraksi n-heksana, diklorometana, etil asetat, dan metanol. Aktivitas antimalaria (IC50) dari fraksi diklorometana, n-heksana, etil asetat, dan metanol berturut-turut adalah 1,03 g/mL, 11,01 g/mL, 7,67 g/mL, dan 29,54 g/mL. Fraksi diklorometana memberikan aktivitas antimalaria paling baik. Pemisahan dan pemurnian fraksi diklorometana menghasilkan isolat FD3.5. Isolat menunjukkan nilai aktivitas antimalaria IC50 sebesar 1,79 g/mL. Analisis spektrum UV-Vis diperoleh absorbansi maksimum pada panjang gelombang ( ) 253 nm dan 296 nm yang menunjukkan adanya transisi elektronik n *. Spektrum IR menunjukkan gugus C-H alkena pada bilangan gelombang 3020,30 cm-1 dan 1215,06 cm-1 menunjukkan gugus C-O-C. Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan menunjukkan adanya terpenoid dan ditandai dengan warna merah setelah disemprot menggunakan pereaksi Liebermann-Buchard. Kata Kunci: Cordyline fruticosa, daun andong, terpenoid, antimalaria, Plasmodium falciparum
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK TERIPANG BUTOH KELING (Holothuria leucospilota) DARI PULAU LEMUKUTAN TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis M. Agus Wibowo, Savante Arreneuz, Intan Permata Sari,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 4 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.423 KB)

Abstract

Butoh keling (Holothuria leucospilota) diketahui memiliki kandungan metabolit sekunder yang dapat berfungsi sebagai antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui golongan metabolit sekunder yang terdapat pada butoh keling dan mengetahui fraksi ekstrak butoh keling yang efektif berperan sebagai antibakteri terhadap bakteri P.acnes dan S.epidermidis serta mengetahui konsentrasi hambat minimumnya. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar. Hasil uji fitokimia menunjukkan pada ekstrak kasar, fraksi methanol dan etil asetat memiliki kandungan golongan metabolit sekunder triterpenoid, flavonoid dan saponin, sedangkan fraksi n-heksana hanya memiliki kandungan triterpenoid. Fraksi yang memiliki aktivitas tertinggi terhadap bakteri P.acnes dan S.epidermidis adalah fraksi etil asetat. Kadar hambat minimum (KHM) fraksi etil asetat terhadap bakteri P.acnes adalah pada konsentrasi 62,5 mg/mL, sedangkan KHM bakteri S.epidermidis adalah pada konsentrasi 125  mg/mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat dari ekstrak butoh keling memiliki aktivitas antibakteri terhadap P. acnes dan S.epidermidis sehingga dapat digunakan sebagai alternatif antibakteri. Kata kunci: Butoh keling (Holothuria leucospilota), Antibakteri, Propionibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis, metabolit sekunder
KARAKTERISASI SIFAT MEKANIK KULIT BATANG LANTUNG (ARTOCARPUS ELASTICUS) TERLAPIS PATI TALAS (COLOCASIA ESCULENTA (L.) SCHOTT) Nurlina, Intan Syahbanu, Edi Siswanto,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.653 KB)

Abstract

Kulit batang lantung merupakan salah satu sumber daya alam yang potensial. Masyarakat memanfaatkannya sebagai tali alami kulit kayu dan berbagai produk lainnya. Telah dilakukan penelitian mengenai pelapisan kulit batang lantung menggunakan pati talas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kulit batang lantung terlapis pati talas. Berdasarkan analisis menggunakan metode Chesson, kulit batang lantung mengandung hemiselulosa 22,28%; selulosa 21,34%; lignin 16,15%; abu 23,32%. Metode pelapisan kulit batang lantung menggunakan metode dip coating. Peningkatan sifat mekanik kulit batang lantung sebanding dengan massa pati talas yang digunakan dalam coating. Hasil karakteristik kulit batang lantung dapat ditunjukkan oleh hasil uji tarik dengan nilai tegangan terkecil 0,742 N/mm2pada penggunaan massa pati sebanyak 0 gram dan tegangan terbesar 0,909 N/mm2 pada massa pati sebanyak 6 gram. Sifat mekanik sampel hasil coating menggunakan pati palas berkurang setelah direndam dalam air. Penurunan nilai tegangan yang paling besar akibat terendam air ditunjukkan oleh sampel I (tanpa coating), yaitu 0,067 N/mm2. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa pati talas berpotensi meningkatkan sifat mekanik kulit batang lantung. Kata kunci: coating, kulit batang lantung, pati talas, sifat mekanik, uji tarik
OPTIMASI PRODUKSI PROTEIN SEL TUNGGAL (PST) DARI BAKTERI YANG TERDAPAT PADA GASTROINTESTINAL (GI) IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DAN IKAN KEMBUNG (Scomber canagorta) Savante Arreneuz, Muhamad Agus Wibowo, Berly Inuhan,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.77 KB)

Abstract

Ikan nila (Oreochromis niloticus) dan ikan kembung (Scomber canagorta) merupakan jenis ikan yang dikonsumsi hanya bagian daging sedangkan bagian gastrointestinal (GI) dibuang sebagai limbah terhadap lingkungan. Bagian GI ikan-ikan ini mengandung banyak jenis dari bakteri yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber bakteri penghasil protein sel tunggal (PST) dengan proses fermentasi. Aplikasi pemanfaatan protein yang bersumber dari bakteri lebih sering digunakan dibandingkan sumber dari hewan dan fungi, hal ini dikarenakan proses pertumbuhan dan regenerasinya yang sangat cepat. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh kondisi optimum dalam produksi protein dan penentuan kadar protein yang didapat dari GI ikan nila (O. niloticus) dan ikan kembung (S. canagorta) menggunakan metode Bradford dengan alat spektrofotometer UV-Vis. Isolat-isolat terpilih dari sumber ikan nila (O. niloticus)  adalah N1, N2, dan N3 sedangkan sumber ikan kembung (S. canagorta) adalah K1, K2, dan K3. Tahapan dalam penentuan kondisi optimum produksi PST adalah penentuan waktu fermentasi, temperatur dan pH. Isolat terpilih dari sumber ikan nila (O. niloticus) dan ikan kembung (S. canagorta) N3 dan K3 berdasarkan kondisi optimum produksi PST. Waktu fermentasi optimum dari isolat N3 dan K3 adalah 36 jam, temperatur optimum dari isolat N3 dan K3 yaitu 40oC dan derajat keasaman optimum dari isolat N3 dan K3 adalah pH 7. Hasil penelitian terhadap kondisi optimum produksi PST pada isolat N3 dan K3 memiliki kondisi optimum yang sama yaitu waktu fermentasi 36 jam, temperatur 40oC dan pH 7 dengan kadar PST masing-masing untuk isolat terpilih N3 dan K3 yaitu 1,123 dan 1,039 mg/ml. Kata kunci : Protein sel tunggal, Oreochromis niloticus, Scomber canagorta, pH, temperatur, fermentasi 
ADSORPSI KADMIUM(II) MENGGUNAKAN ADSORBEN SELULOSA AMPAS TEBU TERAKTIVASI ASAM NITRAT Titin Anita Zaharah, Lia Destiarti2, Riska Kusumawardani,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 3 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.191 KB)

Abstract

Penelitian mengenai penentuan kapasitas adsorpsi selulosa dari ampas tebu teraktivasi asam nitrat terhadap kadmium (II) telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik dari selulosa teraktivasi asam nitrat, mengetahui kondisi kerja adsorpsi Cd(II) serta mengetahui kapasitas adsorpsi dan persentase adsorpsi (II) dari selulosa ampas tebu teraktivasi asam nitrat. Selulosadiaktivasi menggunakan larutan asam nitrat dan dikarakterisasi gugus fungsinya menggunakan spektrofotometer Fourier Transform Infra Red (FTIR). Penentuan nilai pH kerja adsorpsi dilakukan pada variasi pH 5, 6, dan 7 (waktu kontak 90 menit, konsentrasi Cd(II) awal 10 ppm). Penentuan waktu kontak kerja dilakukan dengan variasi waktu kontak 60, 90, dan 120 menit (kondisi pH optimum, konsentrasi awal 10 ppm). Adsorpsi dilakukan dengan sistem batch. Sampel kadmium (II) mula-mula dan filtrat dari hasil adsorpsi dianalisis menggunakan spektrofotometer serapan atom (SSA). Spektrum FTIR yang diperoleh menunjukkan adanya gugus fungsi aromatik (3749,62 cm-1), gugus -OH (3410,15 cm-1), gugus C-H (2916,37 cm-1, 1427,32 cm-1, 1373,32 cm-1, 1319,31 cm-1), gugus  C-O (1157,29 cm-1) dan gugus -CH2 (894,97 cm-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kerja adsorpsi kadmium (II) oleh selulosa teraktivasi asam nitrat terjadi pada pH 7 dan waktu kontak 120 menit. Kapasitas adsorpsi maksimum selulosa teraktivasi asam nitrat untuk kadmium (II) adalah sebesar 2,215 mg/g. Dapat disimpulkan bahwa adsorben selulosa ampas tebu teraktivasi asam nitrat dapat mengadsorpsi kadmium(II) dengan baik. Kata kunci : delignifikasi,kadmium, kapasitas adsorpsi, pH, waktu kontak
PENGARUH EKSTRAK KULIT BUAH NANAS (Ananas comosus L. Merr) TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKO KIMIA DAN CITA RASA KOPI (Coffea sp) Puji Ardiningsih, Andi Hairil Alimuddin, Desi Noviar,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 4 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.377 KB)

Abstract

Minuman kopi sangat digemari oleh masyarakat luas, namun memiliki efek samping untuk kesehatan jika diminum secara berlebihan. Salah satu upaya untuk menghasilkan kopi dengan mutu dan cita rasa yang lebih baik adalah dengan fermentasi kopi dalam perut hewan luwak, namun metode ini membutuhkan biaya yang tinggi sehingga dibutuhkan metode lain yaitu dengan fermentasi kopi secara in vitro menggunakan ekstrak kulit nanas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengamati pengaruh ekstrak kulit nanas terhadap karakteristik fisiko kimia dan cita rasa kopi. Penelitian ini menggunakan 2 faktor, yaitu konsentrasi ekstrak kulit nanas dengan variasi 30, 50 dan 80% (v/b) dan waktu fermentasi kopi dengan variasi 24, 30 dan 36 jam. Bubuk kopi yang dihasilkan dianalisa kadar protein, kafein, lemak, air, abu, pH dan nilai organoleptiknya kemudian dibandingkan dengan data kopi tanpa fermentasi sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kopi dengan karakteristik fisiko kimia dan cita rasa yang terbaik adalah kopi dengan konsentrasi ekstrak kulit nanas 80% dan waktu fermentasi 36 jam, dengan nilai kadar protein 10,09%, kadar lemak 10,92%, kafein 0,79%, air 6,83%, abu 4,008%, dan pH 6,46 serta nilai organoleptik 7,48 dengan kategori sangat baik. Fermentasi in vitro ekstrak kulit nanas mampu meningkatkan karakteristik fisiko kimia dan cita rasa pada kopi. Kata kunci: kopi (Coffea sp), nanas (Ananas comosus  L. Merr), fisiko kimia, organoleptik, fermentasi

Page 5 of 33 | Total Record : 329