cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Kimia Khatulistiwa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 329 Documents
KOMPOSISI SITRONELOL DAN GERANIOL DARI RHODINOL MINYAK SEREH JAWA MELALUI PEMISAHAN SILIKA GEL TERIMPREGNASI AgNO3 Endah Sayekti, Rudiyansyah, Vionika Prihartini,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 3 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.978 KB)

Abstract

Rhodinol hasil dari isolasi minyak sereh jawa merupakan campuran dari senyawa sitronelol dan geraniol. Penelitian ini bertujuan mengetahui komposisi  sitronelol dan geraniol dalam rhodinol dari hasil pemisahan silika gel terimpregnasi AgNO3. pada kromatografi kolom. Hasil dari analisis IR pada penentuan konsentrasi optimum perak nitrat untuk impregnasi silika gel yaitu 36% dengan waktu perendaman optimum untuk memodifikasi permukaan silika gel yaitu 1 jam. Elusi dilakukan dengan pelarut n-heksana : kloroform dengan perbandingan 99:1 (v/v) pada kromatografi kolom sehingga menghasilkan 27 fraksi.  Sampel tiap fraksi dianalisis dengan kromatografi lapis tipis (KLT) dengan pendeteksi noda menggunakan lampu UV dengan panjang gelombang 254 nm sehingga menghasilkan isolat dari hasil penggabunggan beberapa fraksi. Analisis terhadap isolat tersebut dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer GC-MS. Kromatogram GC-MS menunjukkan persentase sitronelol 21,42% dan geraniol 69,15% dalam rhodinol. Kata kunci: kromatografi, sitronelol, geraniol, dan silika gel yang diimpregnasi AgNO3
OPTIMASI KATALIS ASAM SULFAT DAN ASAM MALEAT PADA PRODUKSI GULA PEREDUKSI DARI HIDROLISIS KULIT BUAH DURIAN Andi Hairil Alimuddin, Harlia, Obed,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.027 KB)

Abstract

Kulit buah durian secara proporsional mengandung unsur selulosa sekitar 50-60 % sehingga memiliki potensi sebagai sumber penghasil gula pereduksi jika dihidrolisis. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk optimalisasi produksi gula pereduksi pada hidrolisis kulit buah durian dengan menggunakan katalis asam sulfat dan asam maleat. Hidrolisis kulit buah durian dengan asam sulfat konsentrasi 0,5-2,5 N dengan suhu divariasikan 75-95 oC sedangkan hidrolisis kulit buah durian dengan asam maleat konsentrasi 0,17-0,85 N dengan variasi suhu yang sama. Hasil analisis gula pereduksi secara kuantitatif menunjukkan kadar optimum gula pereduksi hasil hidrolisis dengan menggunakan katalis asam sulfat diperoleh pada konsentrasi 1,5 N pada suhu 900C yaitu 317,68 mg/ml. Sedangkan kadar optimum gula pereduksi hasil hidrolisis menggunakan katalis asam maleat diperoleh pada konsentrasi 0,68 N pada suhu 95 0C yaitu 0,119 mg/ml. Data ini mengindikasikan bahwa gula pereduksi yang dihasilkan dari hidrolisis kulit buah durian dengan menggunakan katalis asam sulfat jauh lebih banyak daripada menggunakan katalis asam maleat. Kata kunci : Kulit buah durian, hidrolisis, gula pereduksi, asam sulfat, asam maleat
PERBANDINGAN PENGOMPLEKS KALIUM TIOSIANAT DAN 1,10 FENANTROLIN PADA PENENTUAN KADAR BESI DENGAN SPEKTROFOTOMETER UV-VIS Lia Destiarti, Nora Idiawati, Tiara Handayani,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.382 KB)

Abstract

Penentuan besi sangat penting untuk perlindungan lingkungan, proses kimia dan studi kesehatan masyarakat. Pengompleks besi yang sering digunakan adalah 1,10-fenantrolin dan kalium tiosianat. Pengompleks 1,10-fenantrolin merupakan pengompleks yang cukup mahal sehingga dapat menjadi faktor penghambat dalam analisis. Kalium tiosianat dibandingkan dengan 1,10-fenantrolin memiliki harga yang relatif lebih murah sehingga akan efisien dalam bidang ekonomi. Pada penelitian ini telah dilakukan penentuan kadar besi dengan menggunakan instrumen spektrofotometer UV-Vis. Metode ini dilakukan dengan mengomplekskan zat yang akan dianalisis dengan pengompleks besi yang akan membentuk suatu warna yang spesifik. Pada metode tersebut dilakukan perbandingan pengompleks yaitu 1,10-fenantrolin dan kalium tiosianat. Pada kedua metode dilakukan validasi metode analisis dengan beberapa parameter yaitu presisi, akurasi, LOD, LOQ dan linieritas. Hasil penetapan kadar besi dengan menggunakan  pengompleks 1,10-fenantrolin yaitu diperoleh data bias akurasi 0,81%-24,60%, presisi 3,17%-12,60%, limit of detection (LOD) 0,88 ppm, limit of quantification (LOQ) 2,95 ppm, linieritas 0,0305x dan koefisien korelasi 0,996 pada rentang konsentrasi kerja 1-5 mg/L. Penetapan kadar besi dengan pengompleks KSCN memberikan data bias akurasi 2,90%-33,1%, presisi 2,20%-36,60%, LOD 0,82 ppm, LOQ 2,73 ppm, linieritas 0,0333x dan koefisien korelasi 0,997. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengompleks 1,10-fenantrolin lebih baik dibandingkan dengan kalium tiosianat. Kata Kunci: 1,10-fenantrolin, besi, kalium tiosianat, validasi
ADSORPSI Fe(II) DENGAN ARANG KULIT BUAH KAKAO (Theobroma cacao L.) TERAKTIVASI ASAM KLORIDA Titin Anita Zaharah, Intan Syahbanu, Lasma Debora Sianipar,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.51 KB)

Abstract

Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan tanaman yang menghasilkan hampir 75% limbah yang berupa kulit buah. Kulit buah kakao mengandung serat kasar, selulosa, hemiselulosa, dan lignin sehingga berpotensi untuk dijadikan arang aktif. Arang dibuat dari kulit buah kakao yang dipanaskan pada suhu 600 selama 1 jam dan diaktivasi menggunakan HCl 4M selama 24 jam. Arang aktif yang dihasilkan digunakan untuk mengadsorpsi Fe(II) dalam larutan dengan mengkaji kondisi optimum, kapasitas dan model isoterm adsorpsi. Penentuan kualitas arang aktif kulit buah kakao dilakukan  dengan kadar air, kadar abu, daya serap iod dan karakterisasi pori dilakukan dengan Gas Sorption Analyzer (GSA). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kadar air sebesar 9,780%, kadar abu sebesar 1,403% dan daya serap terhadap iod adalah 978,280 mg/g. Hasil analisis GSA diperoleh pori arang aktif memiliki luas permukaan sebesar 337,108 m2/g, volume total pori 0,211 cc/g dan jari-jari pori 2,498 nm. Kondisi optimum arang aktif kulit buah kakao pada massa 2 gram, waktu kontak 60 menit yang dilakukan pada pH 7. Kapasitas adsorpsi arang aktif dari kulit buah kakao terhadap Fe(II) adalah sebesar 0,446 mg/g dan mengikuti mekanisme adsorpsi isoterm Freundlich yang ditunjukkan oleh nilai R2 = 0,948.   Kata kunci: adsorpsi, arang aktif, asam klorida, besi, kulit buah kakao
KINETIKA ADSORPSI FENOL DALAM ASAP CAIR PADA ARANG AKTIF DARI CANGKANG BUAH KARET (Hevea brasiliensis) Intan Syahbanu, Anis Shofiyani, Nursia,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 7, No 4 (2018): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.575 KB)

Abstract

Tanaman karet (Hevea Brasiliensis) merupakan salah satu komoditi hasil perkebunan yang banyak tumbuh di Indonesia. Salah satu bagian dari tanaman karet yang belum banyak dimanfaatkan adalah cangkang buahnya. Cangkang buah karet mengandung senyawa selulosa, hemiselulosa dan lignin yang berpotensi untuk diolah menjadi arang aktif dan asap cair. Tahapan metode yang dilakukan pada penelitian ini meliputi pirolisis cangkang buah karet untuk menghasilkan asap cair dan arang aktif. Arang yang diperoleh diaktivasi dengan NaOH 2% dan digunakan untuk adsorpsi kandungan fenol dalam asap cair. Berdasarkan hasil penelitian asap cair yang diperoleh rendemen sebesar  36,54 %. dan memiliki karakteristik fisik berwarna coklat kehitaman, pH 3 dengan massa jenis 1,044 g/L. Arang aktif yang dihasilkan memiliki kadar air 1,85 %, kadar abu 0,60 % sehingga memenuhi kriteria SNI 06-3730-1995. Berdasarkan hasil GSA diperoleh volume total pori 0,990 cc/g dengan rerata ukuran pori 34,309 Å. Pengaplikasian arang aktif sebagai adsorben fenol dari asap cair menghasilkan penurunan kadar fenol asap cair dengan efisiensi sebesar 19,73%. Kinetika adsorpsi senyawa fenol pada asap cair mengikuti model kinetika pseudo-orde dua dengan nilai k2 0,591 L/mg.min. Kata kunci: adsorpsi, asap cair, buah karet, fenol dan hevea brasiliensis
DEGRADASI BAHAN ORGANIK PADA AIR GAMBUT DENGAN FOTOKATALIS TiO2 LAPIS TIPIS Lia Destiarti, Intan Syahbanu, Safitri Ulfah Ramadhani,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.509 KB)

Abstract

Zat organik pada air gambut didominasi oleh senyawa humat menyebabkan warna, bau dan rasa pada air gambut. Oleh karena itu, perlu adanya pengolahan air gambut. Penelitian ini menggunakan metode fotokatalisis menggunakan titanium oksida (TiO2) lapis tipis dalam pengolahan air gambut dengan variasi waktu (0, 2, 4, 6 dan 8 jam) serta pH (3, 5 dan 7). Karakterisasi TiO2 lapis tipis dilakukan dengan menggunakan analisis X-Ray Diffraction (XRD). Berdasarkan pola XRD, puncak difraksi yang kuat terjadi pada 25,3o dan 48,1o yang menandakan TiO2 berstruktur anatase. Penentuan kondisi optimum ditinjau dari penurunan absorbansi bahan organik pada panjang gelombang 343 nm menggunakan sperktrofotometri UV-VIS dan penurunan permanganat bahan organik menggunakan metode permanganometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan organik pada air gambut dapat didegradasi oleh katalis TiO2 lapis tipis dengan waktu optimum 4 jam dengan pesentase penurunan absorbansi sebesar 69,63% dan penurunan permanganat sebesar 24,62%. Pada pH 5 degradasi bahan organik pada air gambut mencapai pesentase penurunan absorbansi sebesar 36,11% dan penurunan permanganat sebesar 16,34%. Dengan demikian, TiO2 lapis tipis yang telah dipreparasi mampu mendegradasi bahan organik pada air gambut melalui proses fotokatalisis dengan persentase penurunan bahan organik mencapai hampir 70%. Kata Kunci: fotokatalisis, katalis TiO2 lapis tipis, anatase
SINTESIS ZEOLIT SODALIT DARI LUMPUR PDAM UNTUK MENURUNKAN KONSENTRASI BESI TERLARUT Titin Anita Zaharah, Winda Rahmalia, Vini Selvianata,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 8, No 1 (2019): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.939 KB)

Abstract

Sintesis zeolit dari lumpur PDAM telah dilakukan pada penelitian ini. Zeolit hasil sintesis ini dikarakterisasi dan diaplikasikan untuk menurunkan konsentrasi besi terlarut. Lumpur PDAM digunakan sebagai sumber silika yang dipreparasi menjadi natrium silikat. Natrium silikat kemudian direaksikan dengan natrium aluminat, yang dibuat dari reaksi antara Al2O3 dan NaOH, menggunakan metode hidrotermal membentuk kristal zeolit. Hasil difraktogram XRD zeolit hasil sintesis menunjukkan adanya puncak 2? pada 24,38; 31,65 dan 34,72° yang mengindikasikan terbentuknya sodalit. Spektra FTIR zeolit hasil sintesis menunjukkan adanya serapan pada bilangan gelombang 3350,08 dan 1647,79 cm-1 yang mengidikasikan vibrasi ulur OH dan pada bilangan gelombang 964,45 cm-1 mengindikasikan vibrasi ulur asimetris dari T-O-T (T = Si atau Al) serta 728,24 cm-1 yang menunjukkan vibrasi ulur simetris T-O-T. Kapasitas adsorpsi zeolit pada besi terlarut yaitu 10,69 mg/g dengan efisiensi sebesar 94,31 % dan konsentrasi optimum besi terlarut yaitu 22,67 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa zeolit yang dihasilkan dapat digunakan untuk menurunkan kadar besi terlarut. Kata kunci : adsorpsi, besi, lumpur PDAM, sodalit, zeolit
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI ISOLAT ACTINOMYCETES 9ISP1 DARI SPONS ASAL PERAIRAN PULAU RANDAYAN Afghani Jayuska, Puji Ardiningsih, Tiara Kumala,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.524 KB)

Abstract

Actinomycetes merupakan mikroorganisme penghasil metabolit sekunder yang memiliki aktivitas biologi sebagai antimikroba. Actinomycetes dapat ditemukan di tanah dan di dasar laut. Namun, belum banyak penelitian mengenai kemampuan Actinomycetes yang berasal dari laut sebagai agen antibakteri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan Actinomycetes 9ISP1 yang bersimbiosis dengan spons asal perairan Pulau Randayan sebagai aktimikroba dengan menggunakan metode difusi agar. Isolat bakteri Actinomycetes yang bersimbiosis dengan spons diuji aktivitas antimikroba awalnya dengan media ISP1. Hasil uji menunjukkan bahwa isolat tersebut mampu menghambat pertumbuhan bakteri Bacillus cereus dan Aeromonas hydrophilla dengan zona hambat sebesar 14,4 dan 12,5 mm. Selanjutnya, isolat Actinomycetes 9ISP1 diproduksi dalam media cair ISP1 kemudian diuji aktivitas antimikrobanya dengan metode difusi agar (sumur). Hasil uji menunjukkan isolat Actinomycetes mampu menghambat bakteri uji Gram positif dan negatif yaitu Bacillus cereus, Pseudomonas aerogenosa, Staphylococcus aureus, Aeromonas hydrophylla, Vibrio cholera, Escherichia coli, Bacillus subtilis dan Salmonella dengan dosis sebesar 10µL/sumur dan kemampuan menghambat paling baik terhadap bakteri Escherichia coli dengan diameter zona hambat sebesar 29,1 mm sehingga isolat bakteri Actinomycetes yang bersimbiosis dengan spons berpotensi sebagai antibakteri. Kata kunci : Actinomycetes, spons, antibakteri, simbiosis bakteri dengan spons
UJI PERMSELEKTIVITAS ION Cr(III) PADA MEMBRAN KOMPOSIT KITOSAN TERCETAK ION Anis Shofiyani, Titin Anita Zaharah, Leony Yolanda,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 6, No 4 (2017): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.604 KB)

Abstract

Peningkatan kinerja kitosan sebagai pengikat logam berat dapat dilakukan dengan memodifikasinya menjadi bentuk membran komposit karbon. Proses imprinting menggunakan logam Cr(III) bertujuan untuk meningkatkan selektivitas terhadap ion logam target tersebut. Pembuatan membran komposit dilakukan melalui tahapan : pelarutan kitosan, imprinting, penambahan karbon, crosslinking, elusi ion imprinted, pencetakan menjadi bentuk membran serta regenerasi gugus fungsional kitosan. Membran Kitosan Tercetak Ion-Cr(III) (KTI-Cr(III)) dan membran Komposit Kitosan Tercetak Ion-Cr(III) pada Permukaan Karbon (KTI-Cr(III)-C) dikarakterisasi menggunakan spektroskopi FTIR dan SEM-EDX. Spektrum FTIR membran    KTI-Cr(III) dan (KTI-Cr(III)-C) menunjukkan adanya perubahan pita serapan pada gugus aktif kitosan yaitu –NH2 dan –OH. Hasil analisis SEM-EDX memperlihatkan terjadinya penurunan persen komposisi massa ion logam Cr(III). Permselektivitas membran KTI-Cr(III) terhadap Cr(III) berada pada pH 5 dengan nilai koefisien rejeksi tertinggi sebesar 98,94% dan permselektivitas membran KTI-Cr(III)-C terhadap ion Cr(III) optimum terjadi pada pH 4 dengan nilai koefisien rejeksi tertinggi sebesar 68,70%. Kata Kunci: membran, kitosan, permselektivitas, krom
IDENTIFIKASI METABOLIT SEKUNDER EKSTRAK LANDAK LAUT (Diadema setosum) DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Andi Hairil Alimuddin, Harlia, Mentari Risnauli Siahaan,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 4 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.85 KB)

Abstract

Landak laut adalah  kelompok hewan Echinodermata yang sering dijumpai di daerah perairan  laut Kalimantan Barat terutama di Pulau Lemukutan. Informasi tentang hasil penelitian landak laut masih sangat sedikit. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk menentukan golongan senyawa,aktivitas antibakteri ekstrak etanol serta hasil partisi dari landak laut (Diadema setosum) terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Pengujian sampel terdiri dari beberapa tahapan yaitu ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut 96%, partisi, uji fitokimia dan diteruskan dengan pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar dengan cara sumuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam ekstrak etanoldari sampel uji terdapat  senyawa triterpenoid, alkaloid, fenol dan saponin. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol, fraksi kloroform, fraksi etil asetat dan fraksi etanol memiliki kemampuan aktivitas antibakteri dengan hasil uji berupa fraksi etil asetat memiliki aktivitas antibakteri yang terbaik dengan diameter zona bening sebesar 12,02 mg/ml pada konsentrasi 100 mg/ml terhadap bakteri S.aureus. Hasil uji aktivitas antibakteri fraksi etil asetat dan ekstrak etanol memiliki kemampuan aktivitas antibakteri terhadap E. coli. fraksi etil asetat merupakan fraksi yang memiliki aktivitas antibakteri yang terbaik dengan diameter zona bening sebesar 11,02 mg/ml pada konsentrasi 100 mg/ml. Kata kunci : antibakteri, Diadema setosum, Escherichia coli  dan Staphylococcus aureus

Page 7 of 33 | Total Record : 329