cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Phone
+6285345044457
Journal Mail Official
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Untan Jln. Imam Bonjol Pontianak Telp/fax : 0561-767673 / 0561-764513
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL HUTAN LESTARI
ISSN : 23383127     EISSN : 27761754     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jhl.v8i4
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hutan Lestari merupakan jurnal ilmu kehutanan yang menyajikan artikel mengenai hasil-hasil penelitian meliputi bidang teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal Hutan Lestari akan ditelaah oleh Penelaah yang sesuai dengan bidangnya. Jurnal Hutan Lestari dipublikasikan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura diterbitkan setiap 3 bulan sekali.
Articles 915 Documents
ESTIMASI CADANGAN KARBON DARI KEGIATAN REKLAMASI BLOK TAMBANG PT. CITRA MINERAL INVESTIDO, Tbk. KECAMATAN SANDAI KABUPATEN KETAPANG, KALIMANTAN BARAT Irfan, Muhammad; Widhanarto, Ganjar Oki; Dewantara, Iswan
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v9i3.49637

Abstract

Forests are one of the natural resources that can absorb a lot of carbon dioxide in the atmosphere that is bound and converted into a form of energy (sugar group) that is beneficial for many lives, biomass is a whole material derived from living things, which comes from organic matter that lives or dies, both above and below ground level. This research was conducted in post-mining areas aimed at finding out the potential of tree carbon reserves in reclamation blocks using allometric equations. There are 4 post-mining reclamation blocs. each block there are 2 types of trees namely Karet (Hevea brasiliensis) and Akasia (Acacia crassicarpa). This study uses the allometric formula of the 2 types of trees producing a total carbon of 293.55tons, this is influenced by the growth of tree diameter and area of mine reclamation land in PT. Citra Mineral Investindo, the 2nd species tree, has a good adaptation to the former mine land that lacks nutrients and nutrients although it will inhibit the growth of stem diameter.Keywords: mine reclamation, carbon stock.AbstrakHutan merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat menyerap banyak karbondioksida yang ada di atmosfer yang diikat dan diubah menjadi sebuah bentuk energi (gugus gula) yang bermanfaat bagi banyak kehidupan, biomassa merupakan keseluruhan materi yang berasal dari makhluk hidup, yang berasal dari bahan organik yang hidup maupun mati, baik diatas maupun dibawah permukaan tanah. Penelitian ini dilakukan pada kawasan pasca tambangan bertujuan untuk mengetahui potensi cadangan karbon pohon di blok reklamasi dengan menggunakan persamaan allometrik. Penelitian terdapat 4 blok reklamasi pasca tambang setiap blok terdapat ke-2 jenis pohon yaitu Karet (Hevea brasiliensis) dan Akasia (Acacia crassicarpa). Penelitian ini menggunakan rumus allometrik dari ke-2 jenis pohon menghasilkan karbon total sebesar 293,55 ton, hal ini dipengaruhi oleh pertumbuhan diameter pohon dan luas lahan reklamasi tambang di PT. Citra Mineral Investindo, ke-2 jenis pohon mempunyai adaptasi yang baik pada lahan bekas tambang yang kurang unsur hara dan nutrisi walaupun akan menghambat pertumbuhan diameter batang.Kata kunci: reklamasi tambang, cadangan karbon.
PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU SEBAGAI BAHAN BAKU ANYAMAN OLEH MASYARAKAT DESA PANDU RAYA KECAMATAN PARINDU KABUPATEN SANGGAU Mihar, Andreas; Wardenaar, Evy; Dirhamsyah, M
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v9i2.45982

Abstract

The people of Pandu Raya Village, Parindu Subdistrict, Sanggau Regency, still use non-timber forest products which are used as raw materials for webbing. The research aims to analyze the use and describe the making of woven from non-timber forest products by the people of Pandu Raya Village, Parindu District, Sanggau Regency. The research method was carried out by interview. Retrieval of data using purposive sampling techniques. The results found 11 types of non-timber forest products used, namely 8 species of uwi such as uwi omak (Calamus javanensis Blume), uwi joronang (Daemonorops melanochaetes Blume), uwi siguh (Calamus caesius Blume), uwi golapak (Daemonorops geniculata (Giff) Mart) , uwi lowa (Korthalasia echinometra Blume), uwi danan (Calamus trachycoleus Becc), uwi marao (Korthalsia rigida Blume) and uwi joroyat (Calamus manan Miq). 1 type of korupok (Pandanus tectorius). 1 type of sago (Metroxylon sago) and 1 type of poring lantae (Gigantochloa hasskarliana). The highest utilization value (UV) was uwi omak (Calamus javanensis Blume) with a utilization value (0.8488) while the lowest utilization value was uwi danan (Calamus trachycoleus Becc) with a utilization value (0.3488). Of the 11 types of non-timber forest products used include stems with a percentage (50%), fronds with a percentage (9%) and leaves with a percentage (41%). The resulting webbing is in the form of raga, jarai, so`ok, tomik, korosah, punjuk, juah, jampot, koranyak, simpae and bakol, omaa` korupok, sorok, bomap, omaa` sago, roat sago, copat, limpak and oyok podi.Keywords: Non-Timber Forest Products, Utilization, Wicker. Masyarakat Desa Pandu Raya, Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau, masih memanfaatkan hasil hutan bukan kayu yang dijadikan bahan baku anyaman. Penelitian bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan dan mendeskripsikan pembuatan anyaman dari hasil hutan bukan kayu oleh masyarakat Desa Pandu Raya, Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau. Metode penelitian dilakukan dengan wawancara. Pengambilan data menggunakan teknik Purposive sampling. Hasil penelitian ditemukan 11 jenis hasil hutan bukan kayu yang dimanfaatkan yaitu 8 jenis uwi seperti uwi omak (Calamus javanensis Blume), uwi joronang (Daemonorops melanochaetes Blume), uwi siguh (Calamus caesius Blume), uwi golapak (Daemonorops geniculata (Giff) Mart), uwi lowa (Korthalasia echinometra Blume), uwi danan (Calamus trachycoleus Becc), uwi marao (Korthalsia rigida Blume) dan uwi joroyat (Calamus manan Miq). Korupok 1 jenis (Pandanus tectorius). Sago 1 jenis (Metroxylon sagu) dan poring lantae 1 jenis (Gigantochloa hasskarliana). Nilai pemanfaatan (UV) tertinggi yaitu uwi omak (Calamus javanensis Blume) dengan nilai pemanfaatan (0,8488) sedangkan nilai pemanfaatan terendah yaitu uwi danan (Calamus trachycoleus Becc) dengan nilai pemanfaatan (0,3488). Dari 11 jenis hasil hutan bukan kayu yang dimanfaatkan meliputi batang dengan persentase (50%), pelepah dengan persentase (9%) dan daun dengan persentase (41%). Anyaman yang dihasilkan berupa raga, jarai, so`ok, tomik, korosah, pingat, juah, jampot, koranyak, simpae dan bakol, omaa` korupok, sorok, bomap, omaa` sago, roat sago, copat, limpak dan oyok podi.Kata Kunci: Anyaman, Hasil Hutan Bukan Kayu, Pemanfaatan
KEANEKARAGAMAN JENIS BAMBU PADA HUTAN KOTA SEKADAU KABUPATEN SEKADAU Pian, kanisius pian; Burhanuddin, Burhanuddin; Yani, Ahmad
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v9i3.45343

Abstract

Bamboo is a grassy type plant with cavities and nodes in its trunk, bamboo is classified into many types. Other names for bamboo are reed, aur, and eru. Bamboo is a plant that grows from the Poaceae or Gramineae tribe or grass grass tribe. According to Lidwina (2017), bamboo rhizome roots will be able to maintain the hydrological system as an increase in soil and water, so that it can be used as a conservation plant. So that research was carried out to obtain data on the diversity of bamboo species found in the urban forest of Sekadau, Sekadau Regency. The method used in this research is survey method and double plot placement with purposive sampling technique, namely the type of sample plot is determined intentionally. Based on explorers conducted in the Sekadau City Forest area, Sekadau Regency, 4 types of bamboo were found consisting of 2 genera, namely Schizostzchyum and Gigantochloa. The type of bamboo that is most commonly found is Munti bamboo (Schizostzhyum sp), this is because the research location is close to the highlands and there are tributaries which are the habitat and place to grow Munti bamboo (Schizostzhyum, sp) with alluvial soil types at the research location. , while the smallest type of bamboo is Uja bamboo (Gigantochloa) with only 1 plot and 23 individuals.Keyword: Bamboo, Species diversity, and urban forest sekadau.AbstrakBambu merupakan tumbuhan jenis berumput dengan rongga dan buku pada batangnya, bambu diklasifikasikan menjadi banyak jenis. Nama lain dari bambu adalah buluh, aur, dan eru. Bambu adalah tumbuhan yang tumbuh dari suku Poaceae atau Gramineae atau suku rumput-rumputan. Menurut Lidwina (2017), akar rimpang bambu akan mampu menjaga sistem hidrologi sebagai penambah tanah dan air, sehingga dapat digunakan sebagai tanaman konservasi. Sehingga dilakukan penelitian untuk mendapatkan data keanekaragaman jenis bambu yang terdapat di hutan kota Sekadau Kabupaten Sekadau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dan penempatan petak ganda dengan teknik purposive sampling, yaitu jenis petak contoh ditentukan secara sengaja. Berdasarkan penjelajahan yang dilakukan di kawasan Hutan Kota Sekadau, Kabupaten Sekadau, ditemukan 4 jenis bambu yang terdiri dari 2 genus yaitu Schizostzchyum dan Gigantochloa. Jenis bambu yang paling banyak ditemukan adalah bambu munti (Schizostzhyum sp), hal ini dikarenakan lokasi penelitian yang dekat dengan dataran tinggi dan terdapat anak-anak sungai yang menjadi habitat dan tempat tumbuh bambu munti (Schizostzhyum, sp) dengan tanah aluvial. jenis di lokasi penelitian. , sedangkan jenis bambu terkecil adalah bambu Uja (Gigantochloa) dengan jumlah hanya 1 petak dan 23 individu.Kata Kunci : Keanekaragaman jenis, bambu, dan hutan kota sekadau 
KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN PIONIR DI LAHAN BEKAS PENAMBANGAN EMAS TANPA IZIN DESA BUGANG KECAMATAN HULU GURUNG KABUPATEN KAPUAS HULU Ruslaini, Ruslaini; Ekyastuti, Wiwik; Astiani, Dwi
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v9i3.45055

Abstract

This study aims to obtain data on the diversity of pioneer plant species in the ex-illegal gold mining area from Bugang Village, Hulu Gurung District, Kapuas Hulu Regency. The research method used is a survey method with vegetation data sampling in the form of a single plot measuring 50 m x 100 m. Furthermore, 10 plots of 20m x 20m were made in single plots and the remaining 20m x 10m were 5 plots, 5m x 5m for saplings and 2m x 2m for seedlings and understorey 15 plots each. The results showed that there were 1,059 individual pioneer plants from 20 species and 11 families. The value of understorey vegetation density, seedling level and salpling level showed high criteria. The highest index of importance of understorey was 53.9% for Diplazium esculentum, 37.5% for Bellucia axinanthera and saplings 123% for Brookea tomentosa. The diversity index value (H ') for understorey, seedling level and sapling level has a value of <1. This value indicates that the ex gold mining site has a low level of diversity but still has a high level of control with a stable abundance of species and the number of individuals of each plant species that are evenly distributed. Keywords: Bugang Village, ex-illegal gold mining, pioneering plant, species diversityAbstrak Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data keanekaragaman jenis tumbuhan pionir di lahan bekas penambangan emas tanpa izin Desa Bugang Kecamatan Hulu Gurung Kabupaten Kapuas Hulu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan pengambilan contoh data vegetasi berupa petak tunggal berukuran 50m x 100m. Selanjutnya dibuat 10 petak berukuran 20m x 20m dalam satu petak dan sisanya 20m x 10m ada 5 petak, 5m x 5m untuk pancang dan 2m x 2m untuk semai dan tumbuhan bawah masing-masing 15 petak . Hasil penelitian menunjukkan terdapat 1.059 individu dari 20 jenis dan 11 famili. Kerapatan vegetasi tumbuhan bawah, tingkat semai dan pancang termasuk dalam kriteria  hutan yang baik. Indeks nilai penting tumbuhan bawah tertinggi adalah 53,9% untuk Diplazium esculentum, semai 37,5% untuk Bellucia axinanthera dan pancang 123% untuk Brookea tomentosa. Nilai indeks keanekaragaman tumbuhan bawah, tingkat semai dan pancang memiliki nilai <1. Nilai ini menunjukkan bahwa lokasi bekas penambangan emas memiliki tingkat keanekaragaman yang rendah namun masih memiliki tingkat kelimpahan jenis yang stabil dan jumlah individu tiap jenis tumbuhan yang tersebar merata. Kata kunci: Bekas penambangan emas tanpa izin, Desa Bugang, keanekaragaman jenis, tumbuhan pionir
ETNOZOOLOGI MASYARAKAT DAYAK KANCINGK UNTUK RITUAL ADAT DAN MISTIS DI KECAMATAN NANGA TAMAN KABUPATEN SEKADAU Yanto, Lusin; Anwari, M Sofwan; Yani, Ahmad
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v9i3.46360

Abstract

The existence of flora and fauna cannot be separated from human life. Humans in their lives use various resources around them to meet their daily needs. The Dayak Kancingk community is one of the Dayak sub-tribes located in the Nanga Taman District, Sekadau Regency. The Dayak Kancingk community is very closely related to nature, one of the natural products that they use is the animals they use for the benefit of traditional and mystical rituals. The purpose of this study was to obtain data on the types of animals used as traditional and mystical rituals, the parts used, and the meaning of their use. The method used in this research is a survey method, the selection of respondents is determined by snowball sampling technique and data collection using a questionnaire. This study obtained 12 selected respondents and obtained 39 spescies from 36 families that were used for traditional and mystical rituals by Dayak Kancingk community. The parts used are the whole body, head, fur, voice, and tail fin.Keywords : Dayak Kancingk, Ethnozoology, Mystical, Traditional rituals. AbstrakKeberadaan flora dan fauna tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Manusia dalam kehidupannya memanfaatkan berbagai sumberdaya disekitar mereka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Masyarakat Dayak Kancingk merupakan salah satu sub suku Dayak yang terletak di Kecamatan Nanga Taman Kabupaten sekadau. Masyarakat Dayak Kancingk sangat erat hubunagannya dengan alam, salah satu hasil alam yang dimanfaatkannya adalah satwa yang mereka manfaatkan untuk kepentingan ritual adat dan mistis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data jenis satwa yang dimanfaatkan sebagai ritual adat dan mistis, bagian yang digunakan, dan makna dari pemanfaatannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, pemilihan responden ditentukan dengan teknik snowball sampling dan pengumpulan data menggunakan kuisioner. Penelitian ini memperoleh 12 responden terpilih dan didapatkan 39 spesies dari 36 famili yang dimanfaatkan untuk ritual adat dan mistis oleh masyarakat Dayak Kancingk. Bagian yang dimanfaatkan adalah seluruh tubuh, kepala, bulu, suara, dan sirip ekor. Kata kunci: Dayak Kancingk, Etnozoologi, Mistis, Ritual adat.
DAYA TARIK WISATA ALAM RIAM KUWEG DI DESA TAMONG KECAMATAN SIDING KABUPATEN BENGKAYANG Doni, Radite; Rifanjani, Slamet; Latifah, Siti
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v9i3.46102

Abstract

This study aims to assess the elements of attraction. This research is expected to be input to the local government as a consideration in the management and development of natural tourism objects. The research was carried out for approximately 3 weeks in Tamong Village, Siding District, Bengkayang Regency. This study used a survey method with interview techniques, sampling was carried out by accidental sampling with predetermined criteria and time periods. The data was processed using the guidelines for the analysis of the operating area of natural tourism objects and attractions (ADO-OTDWA) of the directorate general of PHKA which has been modified according to the scores that have been determined for each criterion. The number of respondents was 31 people. The results of the study, Riam Kuweg area has a good value area attraction (A) to be developed as a natural tourist attraction.Keywords: Tamong Village, Riam Kuweg, Natural Attractions. AbstrackPenelitian ini bertujuan untuk menilai unsur daya tarik wisata. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukkan kepada pemerintah setempat sebagai pertimbangan dalam rangka pengelolaan dan pengembangan objek wisata alam. Penelitian dilaksanakan selama kurang lebih 3 minggu di desa tamong kecamatan siding kabupaten bengkayang. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik wawancara, pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling dengan kriteria dan jangka waktu yang telah ditentukan. Data diolah dengan pedoman analisis daerah operasi objek dan daya tarik wisata alam (ADO-OTDWA) direktorat jendral PHKA yang telah dimodifikasi sesuai dengan skor yang telah ditentukan untuk masing-masing kriteria. Jumlah responden sebanyak 31 orang. Hasil penelitian kawasan Riam Kuweg memiliki daya tarik area yang bernilai baik (A) untuk dikembangkan sebagai objek wisata alam.Kata Kunci: Desa Tamong, Riam Kuweg, Daya Tarik Alami.
PERENCANAAN INTERPRETASI PENGEMBANGAN EKOWISATA MANGROVE DI DESA SUNGAI KUPAH KECAMATAN SUNGAI KAKAP KABUPATEN KUBU RAYA Rahmawati, Rahmawati; Kartikawati, Siti Masitoh; Latifah, Siti
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v9i3.43816

Abstract

Sungai Kupah Village, Sungai Kakap District, Kubu Raya Regency. Geographically, this destination is crossed by the equator which is located between 109°10'8”E – 109°10'40”E and 0°1'36”S - 0°2'8''S with a developed area of 7500 km. The environmental and socio-cultural conditions of the Sungai Kupah Village community are currently being developed as a Telok Standing Ecotourism destination, but in the implementation of its management, it has not shown the principles of ecotourism. The development of Telok Standing Ecotourism can be optimal if it is supported by environmental interpretation activities. The method used in this research is a survey with interview techniques. The results of the data collection show that Telok Standing Ecotourism has natural resources that have the potential to be developed as a tourist destination in the form of physical potential, plant potential and cultural potential. The potential consists of mangrove ecosystems, rice field landscapes, Panjang Island, Kapuas River, lighthouse, 12 plants and 10 animals that are typical of mangroves, as well as settlement patterns, making coconut sugar and salted fish, eating sepulung, robo-robo and culmination. Based on the potential that exists in the mangrove ecotourism area of Sungai Kupah Village, the manager can plan 2 tour packages. Environmental education interpretation package with activities that visitors can do, namely studying mangrove ecosystems, getting to know mangrove ecosystem animals, getting to know coastal landscapes through lighthouses, and sunsets. Cultural tourism package activities in the form of saprahan, robo-robo, eating sepulung, and social traditions of the Coastal community.Keywords: ecotourism, interpretation, mangrove.AbstrakDesa Sungai Kupah, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya secara geografis destinasi ini dilewati garis khatulistiwa yang terletak antara 109°10’8”BT – 109°10’40”BT dan 0°1’36”LS - 0°2’8”LS dengan luasan kawasan yang dikembangkan yaitu 7500 km.  Kondisi lingkungan dan sosial budaya masyarakat Desa Sungai Kupah saat ini sedang dikembangkan sebagai destinasi Ekowisata Telok Berdiri, namun dalam pelaksanaan pengelolaannya belum menunjukkan prinsip-prinsip ekowisata. Pengembangan Ekowisata Telok Berdiri dapat optimal jika didukung oleh kegiatan interpretasi lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey dengan teknik wawancara. Hasil pendataan menunjukkan bahwa Ekowisata Telok Berdiri memiliki sumber daya alam yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berupa potensi fisik, potensi tumbuhan dan potensi budaya. Potensi tersebut terdiri ekosistem mangrove, lansekap persawahan, Pulau Panjang, Sungai Kapuas, mercursuar, 12 tanaman dan terdapat 10 hewan yang menjadi khas mangrove, serta terdapat pola permukiman, pembuatan gula kelapa dan ikan asin, makan sepulung, robo-robo dan kulminasi. Berdasarkan potensi yang ada di kawasan ekowisata mangrove Desa Sungai Kupah, pengelola dapat merencanakan 2 paket wisata. Paket interpretasi edukasi lingkungan dengan kegiatan yang dapat dilakukan pengunjung yaitu mempelajari ekosistem mangrove, mengenal satwa ekosistem mangrove, mengenal bentang alam pesisir melalui mercusuar, dan sunset. Kegiatan paket wisata budaya berupa saprahan, robo-robo, makan sepulung, dan tradisi sosial masyarakat Persisir.Kata kunci ˸ ekowisata, interpretasi, mangrove.
BIOAKTIVITAS EKSTRAK LIMBAH BUAH BAKAU (Rhizophora mucronata Lamk) TERHADAP JAMUR PERUSAK KAYU Schizophyllum commune Fries Saputra, Doni; Diba, Farah; Tavita, Gusti Eva
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v9i3.46441

Abstract

This research aimed to evaluation the anti-fungal activity of mangrove fruit waste extracts Rhizophora mucronata Lamk and the optimal concentration in inhibiting the growth of the Schizophyllum commune Fries. Mangrove fruit waste was derived from LSM Surya Perdana Mandiri, Setapuk Besar village, North Singkawang district, Singkawang city, West Borneo. Mangrove fruit waste made into particle with size pass of 20 mesh and retained 40 mesh. Then mangrove fruit waste was extract with maceration process with aquades as a solution. The extract then mixed with potatoes dextrose agar (PDA) with several concentration i.e. 0%, 2%, 4%, 6%, 8% and 10% and pour into petri dish. One isolate of S. commune was put in the center of PDA in each petri dish and then incubated for seven days. The results of research showed that the antifungal activity of mangrove fruit waste extract was included in the weak category for concentrations of 2%, 4% 6% with anti fungal activities values 13.40%, 17.05% and 20.23% respectively and moderate category for concentrations of 8% and 10% with anti fungal activities values were 34,91% and 42.40%. Based on the AFA value category and BNJ test results, mangrove fruit waste extract with a concentration of 10% is the extract concentration with the highest anti-fungal activity value of 42.40%. Keyword: Anti-fungal activity, mangrove fruit waste, Rhizophora mucronata Lamk, Schizophyllum commune FriesAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas anti jamur ekstrak limbah buah bakau (Rhizophora mucronata Lamk) dan konsentrasi efektif dalam menghambat pertumbuhan jamur Schizophyllum commune Fries. Limbah buah bakau diperoleh dari LSM Surya Perdana Mandiri, kelurahan Setapuk Besar, kecamatan Singkawang Utara, kota Singkawang, Kalimantan Barat. Limbah buah bakau dibuat menjadi partikel dengan ukuran lolos 20 mesh dan tertahan 40 mesh. Kemudian limbah buah bakau di ekstrak menggunakan metode maserasi dengan pelarut aquades. Ekstrak kemudian dicampurkan dengan Potato Dextrose Agar (PDA) dengan beberapa konsentrasi yaitu 0%, 2%, 4%, 6%, 8% dan 10% dan dituangkan ke dalam cawan petri. Salah satu isolate S. commune ditempatkan ditengah PDA pada setiap cawan petri dan kemudian diinkubasi selama tujuh  hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas anti jamur ekstrak limbah  buah  bakau  termasuk dalam  kategori lemah untuk konsentrasi 2%, 4% dan 6% dengan nilai AFA berturut-turut adalah 13,40%, 17,05% dan 20,23%  serta kategori sedang untuk konsentrasi 8% dan 10% dengan nilai AFA berturut-turut adalah 34,91% dan 42,40%. Berdasarkan kategori nilai AFA dan hasil uji BNJ, ekstrak limbah buah bakau dengan konsentrasi 10% merupakan konsentrasi ekstrak dengan nilai aktivitas anti jamur tertinggi yaitu sebesar 42,40%. Kata kunci: Aktivitas anti jamur, Limbah buah bakau, Rhizophora mucronata Lamk, Schyzophyllum commune Fries
STUDI PEMANFAATAN ROTAN SEBAGAI BAHAN KERAJINAN OLEH MASYARAKAT DI DESA SIBAU HULU KECAMATAN PUTUSSIBAU UTARA KABUPATEN KAPUAS HULU Ranglaut, Sebastianus Lio Rago; Hardiansyah, Gusti; Nurhaida, Nurhaida
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v9i3.50069

Abstract

Rattan is a forest product or non-timber plant that lives and grows in tropical forests and is very suitable to be planted in Indonesia. Rattan is not only used for its stems but also its roots, leaves and fruit for daily needs. This study aims to identify the types of rattan, analyze the parts of rattan and record the types of rattan utilization. The results of this study are expected to provide scientific data and information regarding the Study of Rattan Utilization for the Community in Sibau Hulu Village as well as preserving the knowledge of the local community and as a form of information on how to process rattan by the people of Sibau Hulu Village. This research was conducted in Sibau Hulu Village, North Putussibau District, Kapuas Hulu Regency. The time of study was carried out from April 6 to May 6, 2021. The method used in this study was the survey method. The data collection techniques used in the study were interviews, questionnaires, and the selection of respondents' samples was carried out by purposive sampling as many as 77 families from 330 families in Sibau Hulu Village. Based on the results of the study showed that there were 6 types of rattan used in Sibau Hulu Village. The stages of rattan processing are the traditional harvest stage, the cleaning stage, the drying stage, and the last stage is weaving. The results of data analysis showed that the parts of the rattan used were stems, fruits and reeds. There are 14 types of rattan utilization that are used as handicrafts. The resulting craft motifs have 5 motifs with 8 types of woven.Keywords: Crafts, community, rattan, utilizationAbstrakRotan merupakan salah satu tanaman hasil hutan atau bukan kayu yang hidup dan tumbuh di hutan tropis dan sangat cocok ditanam di Indonesia. Rotan tidak hanya dimanfaatkan batangnya tetapi juga akar, daun dan buahnya untuk kebutuhan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis rotan, menganalisis bagian-bagian rotan dan mencatat jenis-jenis pemanfaatan rotan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan data dan informasi ilmiah mengenai Kajian Pemanfaatan Rotan Bagi Masyarakat di Desa Sibau Hulu serta melestarikan pengetahuan masyarakat setempat dan sebagai bentuk informasi cara pengolahan rotan oleh masyarakat. Desa Sibau Hulu. Penelitian ini dilakukan di Desa Sibau Hulu, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu. Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 6 April sampai dengan 6 Mei 2021. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah wawancara, kuesioner dan pemilihan sampel responden dilakukan secara proposive sampling sebanyak 77 KK dari 330 KK di Desa Sibau Hulu. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 jenis rotan yang digunakan di Desa Sibau Hulu. Tahapan pengolahan rotan adalah tahap panen tradisional, tahap pembersihan, tahap pengeringan, dan tahap terakhir adalah menenun. Hasil analisis data menunjukkan bahwa bagian rotan yang digunakan adalah batang, buah dan alang-alang. Ada 14 jenis pemanfaatan rotan yang digunakan sebagai kerajinan tangan. Motif kerajinan yang dihasilkan memiliki 5 motif dengan 8 jenis anyaman.Kata kunci: Kerajinan, masyarakat, rotan, pemanfaatan
INVENTARISASI TUMBUHAN HOYA (APOCYNACEAE) DALAM KAWASAN HUTAN LINDUNG KECAMATAN JANGKANG KABUPATEN SANGGAU Mayrantie, Marsia; Manurung, Togar Fernando; Herawatiningsih, Ratna
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v9i3.44438

Abstract

Hoya is an epiphytic vine whose survival is primarily dependent on the concentration of its root system. Hoya involves various processes in human life, including as a decorative herb, a source of food to boost economic value, and a medicinal ingredient. There are still many people who rarely know about this hoya plant. The purpose of this study was to make an inventory and find the types of hoya in the Protected Forest Area, Jangkang District, Sanggau Regency. This research was conducted for ± 4 weeks in the Protected Forest Area of Jangkang District, followed by an analysis of research data. This study used a survey method with the determination of plots in the field carried out by purposive sampling with a size of 20 x 20 m, then described, These observations were made at three different locations, namely hills, valleys, and riparian. The total number of observation plots was 24 plots and the object of this study was the hoya plant species found in trees. Based on the data obtained at the research location, there are 4 types of hoya with 62 individuals from the total observation plot. The types of hoya found in the research location were Hoya lasiantha, Hoya meredithii, Hoya mitrata and Hoya ranauensis. The observations indicate that hoya is more common in riparian locations with 30, compared to 13 hill locations, 19 in valley locations. This can happen because hoya prefers growing conditions with high humidity.Keywords: Hoya, Protected Forest, Plant InventoryAbstrakHoya adalah tumbuhan epifit merambat yang kelangsungan hidupnya banyak tergantung pada keberadaan pohon tumpangannya. Hoya memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia, yaitu sebagai tanaman hias, sumber pangan untuk meningkatkan nilai ekonomi, dan sebagai bahan obat-obatan. Pemahaman tentang tumbuhan hoya ini masih banyak masyarakat yang jarang mengetahuinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginventarisasi dan menemukan jenis hoya yang terdapat dalam Kawasan Hutan Lindung Kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau. Penelitian ini dilaksanakan ± 4 minggu di Kawasan Hutan Lindung Kecamatan Jangkang dilanjutkan dengan analisis data penelitian. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pengambilan penentuan petak di lapangan dilakukan secara purposive sampling dengan ukuran 20 x 20 m, kemudian dideskripsikan, pengamatan ini dilakukan pada tiga lokasi yang berbeda yaitu bukit, lembah dan riparian. Jumlah seluruh petak pengamatan sebanyak 24 petak dan objek dari penelitian ini adalah jenis tumbuhan hoya yang terdapat pada pohon.  Berdasarkan data yang diperoleh di lokasi penelitian terdapat 4 jenis hoya dengan jumlah individu sebanyak 62 dari total seluruh petak pengamatan. Jenis-jenis hoya yang ditemukan pada lokasi penelitian adalah Hoya lasiantha, Hoya meredithii, Hoya mitrata dan Hoya ranauensis.   Dari hasil pengamatan menerangkan bahwa hoya lebih banyak dijumpai pada lokasi riparian dengan   jumlah 30, dibandingkan dengan lokasi bukit berjumlah 13, lokasi lembah berjumlah 19. Hal ini dapat terjadi karena hoya lebih menyukai kondisi tempat tumbuh yang memiliki kelembaban yang cukup tinggi.                                         Kata kunci: Hoya, Hutan Lindung, Inventarisasi Tumbuhan

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 4 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 4 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 1 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 4 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 3 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 2 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 1 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 4 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 3 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 2 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 1 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 4 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 1 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 4 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 2 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 1 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 4 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 3 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Lestari Vol 4, No 1 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 4 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 3 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 2 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Lestari More Issue