cover
Contact Name
Agus Ruliyansyah
Contact Email
agus.ruliyansyah@faperta.untan.ac.id
Phone
+62561-740191
Journal Mail Official
jsp.equator@gmail.com
Editorial Address
Jalan Prof. Dr. Hadari Nawawi
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL SAINS PERTANIAN EQUATOR
ISSN : -     EISSN : 2964562X     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jspe.v12i1.59508
Jurnal Sains Pertanian Equator is open access, academic, citation indexed, and blind peer-reviewed journal. It covers original research articles, review, and short communication on diverse topics related to agriculture science. We accept submission from all over the world. All submitted articles shall never be published elsewhere, original and not under consideration for other publication
Articles 52 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016" : 52 Documents clear
Uji Tingkat Toleransi Tanaman Jagung Pada Fase Tertentu Terhadap Cekaman NaCl pada Tanah Sulfat Masam dengan Budidaya Jenuh Air sumarti sumarti; Ir. Setia Budi, M.MA Ir. Setia Budi, M.MA; Ir Dini Anggorowati, M.Sc Ir Dini Anggorowati, M.Sc
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v5i3.16634

Abstract

Demand of corn always increased. Therefore corn production has to be increased through both intensification and extensification program. Cultivation of corn in acid sulphate soil has salinity problems causing crop toxicity. This study aims to determine the effect of NaCl concentration to the growth and yield of corn in the acid sulphate soil with saturated cultivation, and assesing the growth phase of corn which is tolerant to the NaCI stress. The experiment was carried out at green house, located in Faculty of Agriculture, Tanjungpura University Pontianak. The experimental design was completely randomized design which consisted of two factors and three replications. The first was the level NaCl which consisted of n0 (without NaCI), n1 (1,50+3,00 dS/m) dan n2 (3,00+6,00 dS/m) whereas the second factor was NaCl application time which consisted of p1  (early growth phase), p2 (toward tasseling phase), and p3 (after tasseling phase). The result showed that the treatment of NaCI concentration sinivicantly effeced only the dry wight of plant. Meanwhile, the period of NaCI application did not effect on all variable observed.
STUDI EFISIENSI PENYALURAN DAN APLIKASI AIR DIPETAK TERSIER PADA LAHAN SAWAH BERIRIGASI DIDESA TIRTAKENCANA KECAMATAN BENGKAYANG KABUPATEN BENGKAYANG DESI DESI; Tino orciny chandra; Junaidi junaidi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v5i3.18005

Abstract

Irigasi merupakan pendukung keberhasilan pembangunan pertanian dan merupakan kebijakan Pemerintah yang sangat strategis guna mempertahankan produk siswasembada beras. Diperlukan pengelolaan dan perhatian khusus dalam pengelolaan sumberdaya air karena sangat berpengaruh terhadap pemanfaatan air untuk kebutuhan tanaman, kehilangan air selama proses penyaluran air irigasi (distributionlosses) dan selama proses pemakaian (fieldapplication losses). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi penyaluran dan aplikasi air di petak tersier pada lahan sawah beririgasi di Desa Tirtakencana Kecamatan Bengkayang. Pengambilan sampel tanah pada satu penggunaan lahan disesuaikan dengan titik pengamatan dengan jumlah 8 sampel, dengan masing-masing kedalaman 0-20 cm, 20-40cm. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pH tanah tergolong masam sampai agak masam dan C/N rasio yang rendah. Profil tanah pada petakan sawah memiliki tiga lapisan tanah  (solum)  yaitu kedalaman 0-40cm, lapisan 40 cm- 50 cm dan lapisan50- 60 cm.  kedalaman 0-20 cm dan 20-40cm menunjukan keretria lempung berpasir. Bobot isi tanah memiliki kriteria sedang tinggi dan sangat tinggi, porositas tanah termasuk kriteria baik, poros sampai kurang baik, permeabilitas tanah menunjukan agak lambat, sementara kadar air kapasitas lapangan Adapun perbedaan nilai rata-rata yaitu pada kedalaman 0-20 cm (58,87%) lebih tinggi sedangkan lapisan tanah kedalaman 20-40 cm (36,43%) lebih rendah. Efisiensi penyaluran air pada keadaan  pintu air dibuka semua nilai efisiensi nya sebesar   98,6 % dan pada saat kedaan pintu air di buka satu arah nilai efisiensinya sebesar  96,3 %. Rata-rata nilai efisiensi penyaluran sebesar 94,65 %. Rata-rata nilai efisiensi aplikasi air pada petak sawah sebesar 69,45 %. Efisiensi keseluruhan 67,68%.   Katakunci :Efisiensi penyaluran, aplikasi air, lahan sawah, petak tersier.
Keanekaragaman Mikoriza Arbuskula Pada Tanaman Nanas (Ananas comosus L) Yang di Tanam Pada Tanah Gambut Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya Ikrimah, Ikrimah; Ir.Ismahan Umran, M.Si, Ir.Ismahan Umran, M.Si; Ir. H.Riduansyah,MP, Ir. H.Riduansyah,MP
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mycorrhizal Arbuscular (MA) is a potential of natural resources found in nature and can be found almost all ecosystems. Mycorrhiza is one of association between roots and fungi. Influenced by environmental factors such as soil temperature, soil moisture, soil pH, organic material, light intensity and the host plant. This study aims to determine species diversity of arbuscular mycorrhizal (AM) in pineapple plant (Ananas comosus L) grown on peat Soil at Sungai Raya Subdistrict Kubu Raya. Observation variables observed species diversity, evenness abundance of spesies, pH, temperature, C-Organik, rainfall. Results obtained insulation 660 spores/100 g soil and 12 spore types Nanas location Sungai Asam with diversity index of 1.63, 922 spores/100 g soil in Pineapple Village location Rejosari 922 spores / 100 g soil and 10 types of spores in a diversity index of 1,66  and 1028 spores / 100 g soil and 16 types of spores in the secondary forest with a diversity index of 1,9. The results showed that the Mycorrhizal Fungi on the third location of the observations show the diversity criteria
pengaruh komposisi media tanam terhadap pertumbuhan stek lada juliadi juliadi; sitihadijah sitihadijah; rahmidiyani rahmidiyani
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v5i3.17533

Abstract

PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN STEK LADA     Oleh Juliadi1) Siti Hadijah2) Rachmidiyani2) 1)Mahasiswa Fakultas Pertanian, 2)Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak ABSTRAK   Lada merupakan salah satu komoditas rempah-rempah yang penting dari zaman dahulu hingga sekarang. Kebutuhan lada masyarakat yang meningkat membuat lada harus dikembangkan, salah satunya dengan penanaman menggunakan stek dengan komposisi media tanam tanah aluvial, pupuk kandang sapi, dan arang sekam padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi media tanam yang terbaik terhadap pertumbuhan stek tanaman lada 7 ruas yang langsung di tanam di lapangan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen rancangan acak lengkap faktor tunggal yaitu komposisi media tanam yang terdiri dati 5 taraf perlakuan. Perlakuan yang dimaksud adalah p0 : Tanah + Pupuk kandang sapi + arang sekam padi dengan perbandingan 1:0:0, p1 : tanah + pukan sapi + arang sekam padi dengan perbandingan 1:1:0, p2 : tanah + pukan sapi + arang sekam padi dengan perbandingan 1:0:1, p3 : tanah + pukan sapi + arang sekam padi dengan perbandingan 1:1:1, p4 : tanah + pukan sapi + arang sekam padi dengan perbandingan 1:2:1. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali dan setiap ulangan terdiri dari 4 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi media yang diberikan meningkatkan pertumbuhan stek tanaman lada. Komposisi media p3 : Tanah Aluvial + Pukan Sapi + Arang Sekam Padi         dengan perbandingan 1:1:1 memberikan hasil yang terbaik bagi    pertumbuhan stek tanaman lada yang langsung ditanam di lapangan yang menghasilkan rata-rata tertinggi pada variabel pengamatan jumlah daun yaitu 81,05 helai dan panjang tunas yaitu 50,35 cm.   Kata Kunci : arang sekam padi, pupuk kandang sapi, stek lada, tanah aluvial                             THE EFFECT OF MEDIUM COMPOSITION ON THE GROWTH OF PEPPER CUTTING   By Juliadi1) Siti Hadijah2) Rachmidiyani2) 1)The student of the Faculty of Agriculture, 2)Lecturers in the Faculty of Agriculture Tanjungpura University Pontianak     ABSTRACT   Pepper is one of the commodities that are important spice from ancient times to the present. The current increased of pepper comsumption should be anticipated by increasing the production, in which one of them by using cuttings with growing media composition with alluvial soil, cow manure, and rice husks. This study aimed to determine the best composition of growth media on the growth of the pepper plant with 7cuttings  nodes, directly planted in the field. This study used afield experimental method with completely randomized design, with single factor, namely growing medium composition comprising 5 treatment levels. The treatment swere p0: soil + cow manure + rice husk with a ratio of 1: 0: 0, p1: soil + cow manure + rice husk, with a ratio of 1: 1: 0, p2: soil + cow manure + husk rice with a ratio of 1: 0: 1, p3: cow manure + soil + piles of rice husk with a ratio of 1: 1: 1, p4: cow maure + soil + piles of rice husk with a ratio of 1: 2: 1. Each treatment was repeated 5 times and each test consisting of 4 samples. The results showed that the composition of a given growing medium on pepper cuttings increasing the cutting growth. Composition of p3 media: alluvial Soil + cow manure + rice husk charcoalin the ratio 1: 1: 1 gives the best results for the growth of the pepper cuttings which were planted directly in the field that resulted in the highest average in theobserved variable that the number of leaves were 81,05 and the bud length which were 50,35 cm.   Keywords: rice husk, cow manure, pepper cuttings, alluvial                               PENDAHULUAN Lada (Piper nigrum L) merupakan salah satu komoditas rempah-rempah yang penting dari zaman dahulu hingga sekarang. Lada pernah dijuluki sebagai raja rempah-rempah (the king of spice) yang memiliki nilai ekspor yang  tinggi. Lada termasuk komuditas unggulan yang dapat meningkatkan devisa Negara. Prospek budidaya tanaman lada sangat baik, mengingat harga yang relatif tinggi. Pada akhir maret 2014 merujuk data Bappebti, harga lada hitam di pasar spot Lampung kembali terangkat dan dilepas pada posisi Rp 74.072 per kg, dan lada putih di pasar spot Pangkal Pinang ditransaksikan pada level Rp 120.084 per kg. Tingginya tingkat permintaan dan ekspor lada di pasar dunia telah memicu kenaikan harga lada di tengah turunnya tingkat suplai (produksi) lada di Tanah Air (Bappebti, 2014). Harga lada yang tinggi pada saat ini memotivasi petani untuk memulai kembali berkebun lada, oleh sebab itu diperlukan teknik budidaya yang baik terutama pada saat pembibitan. Stek memegang peranan penting dalam pembibitan tanaman lada karena lebih efektif, efesien dan praktis, serta bibit yang dihasilkan memiliki sifat yang sama dengan pohon induknya (Aguzaen, 2009). Pembuatan stek lada biasa dilakukan dengan dua cara yaitu stek panjang dan stek pendek. Penggunaan stek panjang yang langsung ditanam di lapangan 7 ruas, hal tersebut membuat peluang tumbuhnya lebih menjanjikan ketika diberikan campuran media tanam yang sesuai perlakuan dengan stek panjang yang memiliki peluang tumbuh dan berkembangnya lebih cepat, sehingga lebih efektif dan efisien dalam penyediaan dan digunakan sebagai bahan stek. Kelemahan menggunakan stek terletak pada sistem perakaran yang kurang baik, karena bibit lada asal stek hanya memiliki akar lateral sebagai akar utama, jumlahnya terbatas dan akar serabutnya hanya berada lapisan olah saja (Wahid dkk, 1996 dan Rismunandar, 2000). Hal itu menyebabkan jangkauan dan permukaan serapan akar tanaman menjadi terbatas, sehingga kemampuan menyerap hara dan air menjadi terbatas. Media tumbuh yang baik sangat diperlukan terutama pada saat pembibitan dan penanaman langsung di lapangan karena media yang baik akan memberikan keleluasaan akar untuk berkembang secara optimal, memudahkan tanaman dalam menyerap unsur hara dan air. Media tanam yang baik untuk stek tanaman lada adalah harus subur, memiliki porositas cukup, aerasi yang bagus, drainase baik, kapasitas mengikat air yang tinggi dan terhindar dari genangan air yang berlebihan karena akan mengakibatkan pembusukan akar tanaman maupun stek itu sendiri oleh sebab itu pemberian media tanam yang tepat akan memberikan pertumbuhan stek dan akar yang baik. Penggunaan tanah aluvial dalam media stek dihadapkan dengan struktur tanah yang pejal dan miskin unsur hara, oleh sebab itu perlu adannya penambahan bahan organik pupuk kandang sapi dan arang sekam padi agar tanah menjadi gembur dan subur. Pemanfaatan pupuk kandang sapi dan arang sekam padi sebagai media tanaman diharapkan dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah aluvial yang cenderung pejal, miskin unsur hara, dan sedikit mikro organisme. Sehingga dari hal tersebut perlu adanya komposisi media tanam yang sesuai untuk pembibitan lada. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk : mengetahui komposisi media tanam yang terbaik terhadap pertumbuhan stek tanaman lada 7 ruas yang langsung di tanam di lapangan.   METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Dusun Segonde, Desa Pisak, Kecamatan Tujuhbelas, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat, dengan lama penelitian 4 bulan. Waktu penelitian dimulai dari tanggal 01 April 2016 persiapan lahan, media dan bahan penelitian, kemudian tanggal 13 Mei 2016 sampai 13 Agustus 2016 adalah proses pengamatan. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah stek lada 7 ruas, tiang pancang (panjat) dan jarak tanam, tanah aluvial, pupuk kandang sapi, arang sekam padi, dan sungkup (penutup stek). Alat yang digunakan adalah pisau stek, meteran, cangkul, skop, gembor, pisau, parang, ember, takin, timbangan, palu, gergaji, paku, termometer, higrometer, corong, kamera, serta alat-alat lain yang mendukung selama kegiatan penelitian. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen rancangan acak lengkap faktor tunggal yaitu komposisi media tanam yang terdiri dati 5 taraf perlakuan. Perlakuan yang dimaksud adalah p0 : Tanah + Pupuk kandang sapi + arang sekam padi dengan perbandingan 1:0:0, p1 : tanah + pukan sapi + arang sekam padi dengan perbandingan 1:1:0, p2 : tanah + pukan sapi + arang sekam padi dengan perbandingan 1:0:1, p3 : tanah + pukan sapi + arang sekam padi dengan perbandingan 1:1:1, p4 : tanah + pukan sapi + arang sekam padi dengan perbandingan 1:2:1. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali dan setiap ulangan terdiri dari 4 sampel. Pelaksanaan penelitian meliputi penyiapan media dan lahan tempat penelitian. Langkah-langkah penyiapan media dan lahan adalah persiapan media dengan mencampurkan jumlah banyaknya media untuk memenuhi lobang tanam disetiap perlakuan diukur dengan perbandingan volume sesuai perlakuan. Kemudian di inkubasi selama 1-3 hari, selanjutnya dimasukan kedalam lobang tanam yang sudah disediakan ukuran atas 30cm x 30cm, bawah 30cm x 30cm dan kedalaman 20cm. Pemasangan sungkup menggunakan pelepah daun rotan dilahan tempat penelitian sesegera mungkin sesudah saat penanaman stek untuk mencegah cahaya matahari secara langsung yang mempercepat penguapan dan kekeringan yang akan terjadi pada stek tanaman. Pengambilan stek tanaman lada bahan stek diperoleh dari tanaman lada berumur 1-2 tahun atau tanaman dalam keadaan tidak berbunga dan berbuah. Tanaman lada diambil dari varietas Bengkayang yang berasal dari kebun rakyat di Kecamatan Tujuhbelas, Kabupaten Bengkayang. Stek diambil pada sore hari menggunakan pisau stek yang tajam sekitar 20cm dari pangkal batang cabang ortotrop atau batang panjat. Stek dipotong miring sekitar 450. Panjang stek yang diambil dari batang induk sekitar 9-12 ruas, sebanyak 100 stek, kemudian stek dibungkus dengan daun pisang dan dimasukan kedalam karung goni yang sudah disediakan untuk menguruangi penguapan selama perjalanan. Penyiapan stek sebelum ditanam di dalam lubang tanam stek yang sudah diambil 9-12 ruas akan dipotong bagian ujung, hingga tersisa 7 ruas dan 4 daun yang tersisa disetiap cabang-cabang ruas bagian atas stek. Sebelum dilakukan penanaman, pangkal stek direndam dalam air sungai  yang berlumpur (pada kolam air berlumpur) yang sudah disediakan selama 1-3 hari agar kondisi stek tetap dalam kondisi seimbang. Penanaman dilakukan sore hari langsung setelah stek siap di tanam pada pukul 16.00 dengan memasukan stek kedalam media yang telah disiapkan ke dalam lobang tanam sesuai dengan komposisi perlakuan. Cara penanaman adalah sebagai berikut : lobang tanam yang berisi media diambil sebagian untuk memasukan stek kemudian diisi kembali. Stek dimasukan 4 ruas kedalam tanah dan 3  ruas berada diatas. Setelah stek dimasukan ke lobang tanam, kemudian media dikembalikan kedalam lubang tanam dengan hati-hati supaya posisi stek tepat berada ditengah sesuai dengan bentuk lubang tanamannya. Stek yang sudah ditanam dalam lubang tanam disiram dengan jumlah yang sama supaya media yang ada dalam lubang tanam lebih rapat. Stek segera dipasangkan sungkup/penutup menggunakan pelepah rotan dilahan tempat penelitian yang sudah disediakan dengan kelembaban dan suhu yang sesuai untuk pertumbuhan stek lada. Pemeliharaan stek lada dilakukan dengan cara penyiraman 2 kali sehari pada pagi pukul 06.00 WIB dan sore pukul 17.00 WIB. Air yang digunakan yaitu 2 liter sama banyaknya setiap tanaman/lubang tanam. Kemudian penyiangan gulma secara rutin disekitar tanaman baik diluar maupun di dalam area kebun dan tanaman. Variabel pengamatan yang berpengaruh nyata diuji lanjut menggunakan uji BNJ (Beda Nyata Jujur). Variabel pengamatan yang berpengaruh tidak nyata disajikan dalam bentuk gambar (grafik).   HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis keragaman, uji lanjut, dan rata-rata pengaruh komposisi media tanah aluvial : pupuk kandang sapi : arang sekam padi terhadap pertumbuhan stek lada semua variabel pengamatan adalah sebagai berikut : Tabel 1. Rekapitulasi Analisis Keragaman semua Variabel Pengamatan SK db F Hitung F Tabel 5% JT JD PT Perlakuan 4 1,86tn 10,87* 6,50* 2,87 Galat 20 Total 24 KK (%)   19,15 27,67 25,74   Keterangan : *        = Berpengaruh nyata tn = Berpengaruh tidak nyata KK    = Koefisien Keragaman JT      = Jumlah Tunas JD     = Jumlah Daun PT     = Panjang Tunas   Tabel 1. menunjukkan bahwa komposisi media berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah tunas tanaman lada. Rata-rata jumlah tunas tanaman lada dapat dilihat pada Gambar 1. berikut ini : Gambar 1. Rata-rata Jumlah Tunas setiap Perbandingan Media Tanam Gambar 1. menunjukkan bahwa rata-rata jumlah tunas tanaman lada dengan pemberian media tanam tanah aluvial : pupuk kandang sapi : arang sekam padi berkisar antara 1,40 sampai 1,90 tunas. Rata-rata jumlah tunas tanaman lada tertinggi dihasilkan oleh pemberian media tanam dengan perbandingan 1 : 2 : 1 yaitu 1,90 tunas. Rata-rata jumlah tunas terendah dihasilkan oleh pemberian media dengan komposisi 1 : 0 : 0 yaitu 1,40 tunas. Hasil analisis keragaman pada Tabel 1. menunjukkan bahwa pemberian komposisi media berpengaruh nyata terhadap jumlah daun tanaman lada. Selanjutnya dilakukan uji BNJ taraf 5% untuk mengetahui perbedaan setiap perlakuan yang disajikan pada Tabel 2. berikut ini : Tabel 2. Uji BNJ Pengaruh Komposisi Media terhadap Jumlah Daun dan Panjang Tunas Tanah : Pukan Sapi : Arang Sekam Jumlah Daun (daun) Panjang Tunas (cm) 1 : 0 : 0 25,70 c 21,23 b 1 : 1 : 0 41,45 bc 33,37 ab 1 : 0 : 1 51,10 bc 35,02 ab 1 : 1 : 1 81,05 a 50,35 a 1 : 2 : 1 68,70 ab 39,48 a BNJ 5% 28,07 17,48 Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama berbeda nyata    antarperlakuannya pada taraf 5%   Tabel 2. menunjukkan bahwa jumlah daun tanaman lada dengan komposisi media tanah aluvial : pupuk kandang sapi : arang sekam padi (1 : 1 : 1) menghasilkan rata-rata tertinggi yaitu 81,05 daun yang berbeda nyata dengan tanaman lada semua komposisi media kecuali 1 : 2 : 1. Jumlah daun terendah dihasilkan oleh tanaman lada dengan perbandingan media 1 : 0 : 0 yaitu 25,70 daun yang berbeeda nyata dengan tanaman lada komposisi media 1 : 1 : 1 dan 1 : 2 : 1, namun berbeda tidak nyata dengan tanaman lada komposisi media 1 : 1 : 0 dan 1 : 0 : 1. Tabel 3. menunjukkan bahwa panjang tunas tanaman lada dengan komposisi media tanah aluvial : pupuk kandang sapi : arang sekam padi (1 : 1 : 1) menghasilkan rata-rata tertinggi yaitu 50,35 cm yang berbeda tidak nyata dengan tanaman lada semua komposisi media kecuali 1 : 0 : 0. Panjang tunas terendah dihasilkan oleh tanaman lada dengan perbandingan media 1 : 0 : 0 yaitu 25,70 daun yang berbeeda nyata dengan tanaman lada komposisi media 1 : 1 : 1 dan 1 : 2 : 1, namun berbeda tidak nyata dengan tanaman lada komposisi media 1 : 1 : 0 dan 1 : 0 : 1. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi media tanam berupa tanah aluvial, pupuk kandang sapi, dan arang sekam padi pada tanaman lada belum memberikan pengaruh yang nyata pada jumlah tunas stek lada. Hal ini diduga karena faktor genetik dan faktor luar yaitu suhu dan kelembaban. Menurut Suprapto (2014),  bahwa pertumbuhan tunas pada stek didukung oleh faktor dalam diantara menyangkut sifat-sifat genetik dan bawaan dari stek itu sendiri. Kemudian yang paling dominan dipengaruhi oleh faktor luar yaitu media tanam, suhu dan kelembaban. Rata-rata suhu selama penelitian berlangsung yaitu 26,630C dan rata-rata kelembaban yaitu 62,93%. Pertumbuhan stek lada selain dipengaruhi oleh media juga dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban lingkungan sekitarnya. Hartman (1983) menambahkan bahwa suhu perakaran optimal untuk perakaran stek berkisar antara 21°C sampai dengan 27°C pada pagi dan siang hari dan 15°C pada malam hari. Berdasarkan panduan teknis kebun lada, bahwa untuk menunjang pertumbuhan optimal stek lada membutuhkan suhu optimal 230C - 300C, kelembaban udara 70% - 90 %, dan curah hujan 150 - 200 mm/bulan. Rata-rata suhu selama penelitian berlangsung yaitu 26,630C, rata-rata kelembaban yaitu 62,93%, dan rata-rata curah hujan pada bulan Mei yaitu 116,36 mm, bulan Juni yaitu 104,60 mm, bulan Juli yaitu 116,10 mm, dan bulan Agustus hanya 3,14 mm. Suhu dan curah hujan yang sesuai syarat tumbuh membuat pertumbuhan stek lada berlangsung dengan baik meskipun saat penelitian berlangsung kelembaban masih rendah. Diduga rendahnya kelembaban menyebabkan jumlah tunas yang terbentuk tidak maksimal. Suhu di sekitar tanaman sangat berpengaruh terhadap proses fisiologi tanaman, terutama pada proses fotosistesis, respirasi, penyerapan air dan hara serta translokasi yang akhirnya mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Jumin (1992), menjelaskan bahwa translokasi asimilat terjadi dengan adanya molekul/ion melintasi membran dari daun ke jaringan merismatik. Komposisi media antara tanah aluvial, pupuk kandang sapi, dan arang sekam padi memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun dan panjang tunas sehingga meningkatkan jumlah daun dan panjang tunas stek tanaman lada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi media tanah aluvial : pupuk kandang sapi : arang sekam padi (1 : 1 : 1) menghasilkan rata-rata jumlah daun tertinggi yaitu 81,05 helai. Komposisi media tanah aluvial : pupuk kandang sapi : arang jerami (1 : 1 : 1) menghasilkan rata-rata panjang tunas yang tertinggi yaitu 50,35 cm. Komposisi media yang seimbang antara ketiga bahan tersebut menyediakan unsur hara yang cukup untuk stek tanaman lada. Campuran media dengan jumlah yang sama menyebabkan media dalam keadaan ideal dan cocok untuk pertumbuhan tanaman dengan menyediakan unsur hara karena aerasi menjadi lebih baik sehingga oksigen masuk ke dalam tanah. Pemberian pupuk kandang sapi dan arang jerami padi dengan tanah aluvial memperbaiki sifat fisik tanah yang bertekstur keras sehingga akar sulit untuk menembusnya. Media yang baik juga memungkinkan aktivitas mikroorganisme berjalan dengan baik sehingga membantu menyediakan unsur hara bagi tanaman. Tanah aluvial bisa dijadikan media tanam jika faktor pembatas bisa diperbaiki. Salah satu perbaikannya yaitu penambahan pupuk organik (pupuk kadang sapi). Pupuk kandang sapi sering digunakan untuk menambahkan bahan organik dalam tanah yang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Selain itu pupuk kandang sapi mengandung unsur hara lengkap yang dibutuhkan bagi tanaman karena mengandung unsur makro seperti nitrogen, fosfor, serta kalium, dan unsur mikro seperti kalsium, magnesium, dan sulfur (Munawar, 2006). Lakitan (2007) menambahkan bahwa pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya ketersediaan hara. Jika unsur hara tersedia dengan tepat maka pertumbuhan tanaman akan maksimal termasuk. Pupuk kandang sapi juga mengandung hormon seperti creatin, asam indol asetat, dan auksin yang dapat merangsang pertumbuhan akar. Tanaman akan mudah menembus media yang memiliki tekstur baik dan menyerap unsur hara yang tersedia dengan optimal sehingga meningkatkan pertumbuhan tanaman lada termasuk penambahan jumlah daun. Menurut Musnamar (2003), pupuk kandang mengandung unsur hara lengkap yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya. Pupuk kandang banyak mengandung unsur hara baik makro maupun mikro. Unsur N dan K kebanyakan bersumber dari kotoran cair sedangkan unsur P berasal dari kotoran padat. Nyakpa dkk (1988) mengemukakan bahwa peranan P penting untuk pertumbuhan sel, pembentukan akar, dan rambut akar. Pupuk kandang sapi yang diberikan adalah bahan organik yang berfungsi membuat unsur hara menjadi tersedia sehingga memudahkan akar tanaman lada untuk menyerapnya. Arang sekam padi memiliki karakteristik yang ringan dan kasar sehingga sirkulasi udara tinggi, kemampuan menahan air tinggi, berwarna hitam sehingga dapat mengabsorbsi sinar matahari dengan baik. Arang sekam padi memiliki pH yang cukup tinggi antara 8,5-9,0 sehingga sangat baik untuk meningkatkan pH pada tanah asam. Tanah aluvial memiliki pH yang masam sehingga pencampuran dengan pupuk kandang sapi dan arang sekam padi dapat meningkatkan pH sekaligus menyediakan unsur hara untuk pertumbuhan stek tanaman lada. Arang sekam padi juga memiliki sifat porositas yang baik dan kemampuan menyerap air rendah (Istiqomah, 2007). Hal ini membuat media dapat menampung air dengan optimal sesuai kebutuhan tanaman sehingga berdampak baik untuk pertumbuhan termasuk jumlah daun dan panjang tunas stek tanaman lada. Dewi dkk (2007) yang menyatakan bahwa tanaman lada menghendaki kondisi tanah yang memiliki aerasi dan drainase yang baik. Kondisi tanah yang baik tentu memiliki ketersediaan unsur hara untuk diserap oleh tanaman. Unsur hara dalam bentuk tersedia akan lebih cepat terserap oleh akar tanaman yang akan digunakan dalam proses metabolisme sehingga akan memberikan respon yang baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Terlihat bahwa terjadi peningkatan jumlah daun dan panjang tunas stek lada dengan komposisi media yang seimbang. Jumlah tunas, panjang daun, dan jumlah tunas yang dihasilkan oleh stek lada dengan kombinasi media tanah + pupuk kandang sapi + arang sekam padi (1 : 0 : 0) lebih rendah dibandingkan dengan stek lada pada kombinasi media lainnya. Hal ini diduga disebabkan oleh media untuk stek lada adalah tanah aluvial yang memiliki kelemahan yaitu derajat kemasaman yang tinggi. Tanah aluvial juga memiliki sifat fisik yang keras sehingga akar tanaman sulit menembus tanah untuk menyerap air dan unsur hara. Hakim, dkk, (1986) mengemukakan bahwa status kesuburan aluvial amat tergantung dengan bahan induk  dan iklim. Suatu kecenderungan memperlihatkan bahwa di daerah beriklim basa P dan K relatif rendah dan pH lebih rendah dari 6,5 daerah-daerah dengan curah hujan rendah di dapat kandungan P dan K lebih tinggi dan netral. Keadaan ini menyebabkan stek lada dengan media tanah aluvial saja mengalami pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan pemberian bahan organik. Pada tanah-tanah podsolik merah kuning dan tanah yang mengandung banyak pasir kwarsa, pertumbuhan kedelai kurang baik, kecuali bila diberi tambahan pupuk organik atau kompos dalam jumlah cukup (Melati dan Andriyani, 2005). Penambahan bahan organik seperti pupuk kandang sapi dan arang sekam padi dapat meningkatkan pertumbuhan stek lada.   Rekapitulasi Hasil Penelitian Rangkuman rata-rata hasil penelitian pengaruh komposisi media terhadap pertumbuhan stek lada semua variabel pengamatan dapat dilihat pada Tabel 4. berikut ini : Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Penelitian semua Variabel Pengamatan Perbandingan Media Jumlah Tunas Jumlah Daun Panjang Tunas p0 1,40 25,70 c 21,23 b p1 1,55 41,45 bc 33,37 ab p2 1,55 51,10 bc 35,02 ab p3 1,70 81,05 a 50,35 a p4 1,90 68,70 ab 39,48 a KK (%) 19,15 27,67 25,74 F Hitung 1,86tn 10,87* 6,50* Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama berbeda tidak nyata            antarperlakuannya pada taraf Uji BNJ 5% p0 : Tanah + Pukan Sapi + Arang Sekam Padi dengan perbandingan 1:0:0 p1 : Tanah + Pukan Sapi + Arang Sekam Padi dengan perbandingan 1:1:0 p2 : Tanah + Pukan Sapi + Arang Sekam Padi dengan perbandingan 1:0:1 p3 : Tanah + Pukan Sapi + Arang Sekam Padi dengan perbandingan 1:1:1 p4 : Tanah + Pukan Sapi + Arang Sekam Padi dengan perbandingan 1:2:1 KK    = Koefisien Keragaman tn = Berpengaruh tidak nyata *       = Berpengaruh nyata KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa komposisi media yang diberikan meningkatkan jumlah dan panjang tunas. Komposisi media p3 yaitu tanah aluvial + pukan sapi + arang sekam padi dengan perbandingan 1:1:1 memberikan hasil yang terbaik bagi pertumbuhan stek tanaman lada yang langsung ditanam di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stek lada dengan komposisi media 1 : 1 : 1 menghasilkan rata-rata tertinggi pada variabel pengamatan jumlah daun yaitu 81,05 helai dan panjang tunas yaitu 50,35 cm.   DAFTAR PUSTAKA Aguzaen, H. 2009. Respon Pembibitan Stek Bibit Lada (Piper nigrum L)   terhadap Pemberian Air Kelepa dan Berbagai Jenis CMA. Jurnal Agronobis          Vol 1, No 1. Universitas Baturaja. Malang.   BAPPEBTI, 2014. Analisis Harga Lada Hitam/Putih Maret 2014. http://www.bappebti.go.id//media/docs/info-komoditi_2014-04-15_16-56-53_Analisis_Bulanan_Lada-Maret.pdf diakses 20 Mei 2014.   Dewi, O; A. Nurawan; A. Hanafiah; Budiman; D.Sediono; dan D. Saragih. 2007. Petunjuk Teknis Pembibitan Lada Perdu. http://ditjenbun.deptan.go.id/Akses 11 September 2015   Hakim, N., M. Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S. G. Nugroho, M.R. Saul, M.A. Diha, G.B. Hong, dan H. H. Barly, 1986, Dasar-Dasar Ilmu Tanah, Universitas Lampung. Lampung.   Hartman, H.T. and D.E. Kester. 1983. Plant Propagation Principles and Practices.4 th ed. Prentice Hall. New Jersey. United State.   Istiqomah, S, 2007. Menanam Hidroponik. Azka Mulia Media. Jakarta.   Jumin, H. B, 1992. Ekofisiologi Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologi. Rajawali Pers. Jakarta   Lakitan. 2007. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada. Jakarta   Munawar,  Effi, I. 2006. Pupuk Organik Padat. Penebar Swadaya. Jakarta.   Rismunandar dan M. H. Riski. 2003. Lada budidaya dan Tata Niaganya. Cetakan X. Penebar Swadaya. Jakarta.   Suprapto, A. 2014. Zat Pengatur Tumbuh Penting Meningkatkan Mutu Stek Tanamam, Magelang : Universitas Tidar Magelang.   Wahid, P., D. Soetopo, R. Zaubin, I. Mustika dan N. Nurdjannah. 1996. Monograf Tanaman Lada. Balitro. Bogor.
RESEARCH OF WATER QUALITY ON SELAKAU RIVER FOR RICE IRRIGATION IN THE SUNGAI NYIRIH VILLAGE SELAKAU SUBDISTRICT OF SAMBAS REGENCY suherman suherman; Ir.H.Riduansyah, MP Ir.H.Riduansyah, MP
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v5i3.16610

Abstract

The river is one of supporting the agricultural activities by human,the river is one of the sources of water that can be used for irrigation in an agricultural activity. The irrigation water is expected to increase the production of food crops in particular, therefore, to determine the suitability of irrigation water requires a water quality testingfor irrigation water. The water quality test will be used to determine the suitability of water that may or may not be managed to perform activities of irrigated agriculture. The purpose of this study is to determine the water quality of the river Selakau as a source of irrigation water the village of Sungai Nyirih Selakau District of Sambas Regency. The research variables are divided into two, namely: the main variable that consists of Salinity / Electrical Conductivity, Sodium Absorption Ratio (SAR), Residual Sodium Carbonate (RSC), Boron and pH. While the supporters Variable are Temperature / Water Temperature (° C) and brightness. Based on observations on Salinity / electrical conductivity, Ratio Absorption Sodium (SAR), Residual Sodium Carbonate (RSC), Boron, pH, Temperature / Water Temperature (° C) and Brightness have fulfilled the criteria of assessment of irrigation water, so the river water Selakau can used as irrigation water rice plants in Sungai nyirih.
PENGARUH ETHREL TERHADAP PEMBUNGAAN TANAMAN NENAS RUSADI, IDRUS ARDI; Listiawati, agustina; mulyadi, achmad
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zat Pengatur Tumbuh adalah senyawa organik tanaman yang dalam konsentrasi rendah dapat mempengaruhi proses fisiologi tumbuhan salah satunya adalah etilen. Etilen berperan dalam mempercepat pembungaan pada tanaman, salah satunya adalah pembungaan pada tanaman nenas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi hormon pembungaan (Ethrel 480 SL) yang terbaik untuk mempercepat pembungaan nenas. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 1 faktor, terdiri dari 7 perlakuan konsentrasi Ethrel, diulang sebanyak 4 kali serta setiap ulangan terdiri dari 3 sampel tanaman. Perlakuan E1 (0,05 ml/l), E2 (0,25 ml/l), E3 (0,45 ml/l) , E4 (0,65 ml/l), E5 (0,85 ml/l), E6 (1,05 ml/l) dan E7 (1,25 ml/l). Variabel yang diamati adalah waktu terbentuknya bunga (hari), persentase terbentuknya bunga (%), persentase terbentuknya buah (%), diameter buah (cm), panjang buah (cm) dan berat buah (gram). Hasil penelitian menunjukkan pemberian konsentrasi Ethrel berpengaruh tidak nyata terhadap  persentase terbentuknya bunga, persentase terbentuknya buah, diameter buah, panjang buah, berat buah dan berpengaruh nyata terhadap waktu terbentuknya bunga. Konsentrasi Ethrel 1,05 ml/l memberikan hasil terbaik pada waktu terbentuknya bunga pada tanaman nenas sebesar 27,33 hari.   Kata kunci : Ethrel, Nenas, Pembungaan Nenas
Respon Tanaman Bawang Merah Terhadap Pemberian Pupuk Kandang Puyuh pada Tanah Podsolik Merah Kuning Respon Tanaman Bawang Merah Terhadap Pemberian Pupuk Kandang Puyuh pada Tanah Podsolik Merah Kuning razikin, khoirul; sulistyowati, henny; mulyadi, ahmad
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon tanaman bawang merah terhadap pemberian pupuk kandang puyuh pada tanah podsolik merah kuning. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Agustus sampai Oktober 2015 di Kebun Percobaan Fakutas Pertanian Universitas Tanjungpura, Pontianak. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari lima perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan dalam penelitian adalah pemberian 992 g/polybag pupuk kandang puyuh atau setara dengan 10 % bahan organik dalam tanah (a1), 1.509 g/polybag pupuk kandang puyuh atau setara dengan 15 % bahan organik dalam tanah (a2), 2.026 g/polybag pupuk kandang puyuh atau setara dengan 20 % bahan organik dalam tanah (a3), 2.543 g/polybag pupuk kandang puyuh atau setara dengan 25 % bahan organik dalam tanah (a4) dan 3.060 g/polybag pupuk kandang puyuh atau setara dengan 30 % bahan organik dalam tanah (a5). Variabel yang diamati dalam penelitian meliputi volume akar, jumlah daun, jumlah anakan, jumlah umbi, berat segar umbi dan berat kering umbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang puyuh berpengaruh tidak nyata untuk variabel jumlah daun, jumlah anakan dan jumlah umbi tetapi berpengaruh nyata terhadap volume akar, berat segar umbi dan berat kering umbi. Pemberian pupuk kandang puyuh dengan dosis 1.509 g/polybag atau setara dengan 15 % bahan organik dalam tanah sudah memberikan pengaruh yang baik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah pada tanah podsolik merah kuning. Kata kunci :    bawang merah , pupuk kandang puyuh, tanah podsolik merah kuning.
Evaluasi Daya Hasil Beberapa Klon Lidah Buaya pada Media Tanah Gambut santi nofrisa lestari
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v5i3.16654

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hasil klon lidah buaya yang ditanam pada media tanah gambut yang berasal dari dua lokasi pengambilan yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Pontianak Jalan Sepakat II, dengan lama penelitian selama enam bulan dari tanggal 3 Februari 2015 sampai dengan tanggal 11 Agustus 2015 dengan menggunakan metode eksperimen Rancangan Petak Terbagi (RPT) yang terdiri dari 2 faktor, yakni faktor tanah gambut sebagai petak utama dan faktor klon sebagai petak bagian. Variabel yang diamati adalah pertambahan tinggi tanaman (cm), pertambahan jumlah pelepah, jumlah anakan, panjang pelepah hasil (cm), lebar pelepah hasil (cm), tebal pelepah hasil (cm), berat pelepah hasil per tanaman (g), jumlah pelepah hasil, dan berat total pelepah hasil (g). Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa klon E8 memberikan hasil yang lebih baik pada media tanah gambut asal Rasau Jaya I.Kata kunci: daya hasil, klon, lidah buaya, gambut, Rasau Jaya I 
KAJIAN PENAMBAHAN JAHE PADA KUALITAS MANISAN KERING BIJI KARET astuti rabayani; tri rahayuni; lucky hartanti
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v5i3.17086

Abstract

Manisan kering biji karet merupakan salah satu inovasi hasil olahan pangan fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perlakuan terbaik dari penambahan jahe pada kualitas manisan biji karet yang dihasilkan. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) menggunakan 1 faktor  perlakuan yaitu penggunaan penambahan jahe dengan 6 taraf perlakuan yaitu 0, 20,40,60, 80 dan 100 g jahe. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak empat kali. Variabel pengamatan meliputi sifat fisikokimia dan organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan jahe berpengaruh nyata terhadap lemak, karbohidrat,  dan Total Padatan Terlarut serta berpengaruh tidak nyata terhadap kadar air, kadar abu, protein serta vitamin C. Perlakuan penambahan jahe terbaik adalah 80 g jahe dengan karakter fisikokimia berupa kadar air (7,80 %), kadar abu (4,18 %),protein (5,67 %),  lemak (19,36 %), karbohidrat (61,94 %), Total Padatan Terlarut (40,50 0Brix) dan vitamin C (8,58 %) dengan karakter organoleptik terbaik yaitu rasa 3,86 (sangat pedas jahe), aroma 4,08 (wangi), tekstur 4,24 (renyah) dan kesukaan 3,9 (suka).
PENGARUH PUPUK KOTORAN KAMBING TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TANAMAN PALA DI TANAH ALUVIAL indra darmawan; Ir. Hj. Siti Hadijah, M.Sc Ir. Hj. Siti Hadijah, M.Sc; Ir. Rini Susana, M.Sc Ir. Rini Susana, M.Sc
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v5i3.16727

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk kotoran kambing terhadap pertumbuhan bibit tanaman pala di tanah aluvial. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak, sejak 23 November 2015 sampai dengan 8 April 2016. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dengan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari satu faktor yaitu dosis pupuk kotoran kambing (m), dan 6 taraf perlakuan dengan 4 ulangan dan setiap satuan percobaan terdiri dari 3 tanaman sampel. Perlakuan tersebut adalah tanpa pemberian pupuk kotoran kambing (m0), 250 g/ polybag setara dengan 5% pupuk kotoran kambing (m1), 500 g/polybag setara dengan 10% pupuk kotoran kambing (m2), 750 g/polybag setara dengan 15% pupuk kotoran kambing (m3), 1000 g/polybag setara dengan 20% pupuk kotoran kambing (m4) dan 1250 g/polybag setara dengan 25% pupuk kotoran kambing (m5). Variabel pengamatan dalam penelitian ini adalah pertambahan tinggi tanaman, pertambahan jumlah daun, volume akar dan berat kering tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kotoran kambing memberikan pengaruh nyata terhadap variabel pertambahan tinggi tanaman pada bibit tanaman pala, sedangkan pada variabel pertambahan jumlah daun, volume akar dan berat kering tanaman berpengaruh tidak nyata. Penambahan pupuk kotoran kambing menghasilkan pertambahan jumlah daun, volume akar, dan berat kering yang sama dengan tanpa penambahan pupuk kotoran kambing. Kata Kunci : Aluvial, Pala, Pupuk Kotoran Kambing