Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

PENGARUH FORMULASI MALTODEKSTRIN DAN TWEEN 80 PADA KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA BUMBU HERBAL INSTAN: Influence of Maltodextrin and Tween 80 Formulations on Physicochemical Properties of Instant Herbal Spices Eva Mayasari; Tri Rahayuni; Jessi Manalu
Pro Food Vol. 5 No. 2 (2019): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.06 KB) | DOI: 10.29303/profood.v5i2.102

Abstract

ABSTRACT Herbal spices used in making instant spices are sansakng leaf (Albertisia papuana Becc.), onion, and garlic. The drying method in making instant spices uses the foam mat drying method. The purpose of this study was aimed to determine the effect of maltodextrin and tween 80 formulations on instant herbal spices and determine the best formulation of maltodextrin and tween 80 formulations added on instant herbal spices based on physical and chemical properties. This study used a randomized block design (RBD) factorial pattern which is consisted of two factors of maltodextrin (5%,10%,15%) and tween 80 (0.5% and 1%), each treatment was replicated four times. The ANOVA (α=5%) results showed that the addition of maltodextrin on intant herbal spices significantly affected on moisture content, water absorption, water activity, and yield. While the addition of tween 80 on intant herbal spices significantly affected on moisture content and water activity. The best treatment on physicochemical properties showed in the combination of maltodextrin 5% and tween 80 1%. Keywords: Albertisia papuana Becc., foam mat drying, maltodextrin, sansakng, tween 80 ABSTRAK Bumbu herbal yang digunakan pada pembuatan bumbu instan adalah daun sansakng (Albertisia papuana Becc.), bawang merah, dan bawang putih. Metode pengeringan dalam pembuatan bumbu instan menggunakan metode foam mat drying. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formulasi maltodekstrin dan tween 80 pada bumbu herbal instan dan menentukan formulasi yang tepat dari formulasi maltodekstrin dan tween 80 pada pembuatan bumbu herbal instan berdasarkan sifat fisik dan kimia. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial dengan dua faktor, yaitu konsentrasi maltodekstrin (5%, 10% 15%) dan konsentrasi tween 80 (0,5% dan 1%), masing-masing perlakuan diulang sebanyak empat kali. Parameter pengamatan yang diukur adalah karakteristik fisik dan kimia bumbu herbal instan. Hasil ANOVA (α=5%) menunjukkan bahwa penambahan maltodekstrin pada bumbu herbal instan berpengaruh nyata terhadap terhadap kadar air, daya serap air, aktivitas air dan rendemen bumbu herbal instan. Sedangkan penambahan tween 80 berpengaruh nyata terhadap kadar air dan aktivitas air. Kombinasi maltodekstrin sebanyak 5% dan tween 80 sebanyak 1% merupakan perlakuan terbaik berdasarkan karakteristik fisikokimia. Kata Kunci: Albertisia papuana Becc, foam mat drying, maltodekstrin, sansakng, tween 80
PENGARUH KOMBINASI SUHU DAN DEHUMIDIFIKASI UDARA PENGERING TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN IRISAN BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia): The Effect of Combination of Temperature and Drier Air Dehumidification On Antioxidant Activities of Noni Slices Ruth Riama Magdalena Marbun; Sholahuddin Sholahuddin; Tri Rahayuni
Pro Food Vol. 6 No. 1 (2020): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.412 KB) | DOI: 10.29303/profood.v6i1.133

Abstract

ABSTRACT Fresh noni fruit has nutrients and active components and contains high water content. Noni has a short shelf life caused by high of water content, so it is necessary to reduce the water content of the material by drying. The purpose of this study was to determine the effect of method and drying temperature combination on antioxidant activity of noni slices which include ascorbic acid, total flavonoids, and antioxidant activity. This study was designed using Randomized Block Design (RBD) with combination of 2 treatment factors, namely the drying temperature (T) and the drying method (M) and 3 replications. The drying method uses three methods, namely conventional hot air, dehydrated hot air, and circulated dehydrated hot air, while the drying temperature used was 50 ° C, 57 ° C and 65 ° C. Data analysis for ascorbic acid, total flavonoids, and antioxidant activity using ANOVA test (α = 5%) and HSD test (α = 5%), while drying time was analyzed descriptively. The results showed that the highest antioxidant activity with conventional methods at 50 ºC was 34% with the characteristics of ascorbic acid 52.8 mg/100g of noni dried fruit, total flavonoids 3.81 mg QE/g of noni dried fruit, and drying time for 18 hours. Keywords: adsorbent, antioxidant, drying, noni, temperature ABSTRAK Buah mengkudu segar kaya akan nutrisi dan komponen aktif serta mengandung kadar air tinggi. Tingginya kadar air mengakibatkan masa simpan yang singkat, sehingga perlu dilakukan pengeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi metode dan suhu pengeringan terhadap aktivitas antioksidan irisan buah mengkudu yang meliputi asam askorbat, total flavonoid, dan aktivitas antioksidan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) desain faktorial yang terdiri dari kombinasi dua faktor perlakuan, yaitu suhu pengeringan (T) dan metode pengeringan (M) serta 3 ulangan. Metode pengeringan menggunakan tiga metode, yaitu metode konvensional, metode adsorpsi dan metode sirkulasi, sedangkan suhu pengeringan yaitu 50 °C, 57 °C dan 65°C. Analisa data untuk asam askorbat, total flavonoid, dan aktivitas antioksidan menggunakan ANOVA (α=5%) dan uji BNJ (α=5%), sedangkan lama pengeringan dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan tertinggi dengan metode konvensional pada suhu 50 ºC yaitu sebesar 34% dengan karakteristik asam askobat sebesar 52,8 mg/100g buah mengkudu kering, total flavonoid sebesar 3,81 mg QE/g buah mengkudu kering, dan lama pengeringan selama 18 jam. Kata kunci: adsorben, antioksidan, mengkudu, pengeringan, suhu
PENGARUH SUBSTITUSI UBI JALAR ORANYE TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN SENSORI NUGGET TEMPE KEDELAI puji tri wahyuni; tri rahayuni; dwi raharjo
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 4, No 1: April 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v4i1.9562

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi ubi jalar oranye pada pembuatan nugget tempe kedelai yang mempunyai sifat fisikokimia dan sensori yang terbaik. Penelitian ini menggunakan Metode Rancangan Acak Lengkap yang terdiri satu faktor perlakuan yaitu substitusi ubi jalar oranye sebanyak tujuh taraf terdiri dari substitusi 0g, 50g, 100g, 150g, 200g, 250g dan 300g, diulang sebanyak empat kali. Variabel pengamatan meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar karbohidrat dan uji sensori, jika perlakuan berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji BNJ 5%. Uji sensori menggunakan metode Kruskal-Wallis selanjutnya untuk mendapatkan perlakuan terbaik dilakukan uji indeks efektifitas. Hasil penelitian menunjukkan pembuatan nugget tempe kedelai terbaik pada perlakuan substitusi 300g ubi jalar oranye. Nugget yang dihasilkan memiliki karakter fisikokimia dengan rerata kadar air 58,06%, abu 1,40%, lemak 9,67%, protein 15,38% dan karbohidrat 15,49% dan karakter sensori yaitu rasa 3,70 (enak), warna 4,00 (kuning), tekstur 4,10 (tidak keras) dan kesukaan 3,70 (suka).   Kata kunci : fisikokimia, nugget tempe kedelai, substitusi, ubi jalar oranye
PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG KETAN DENGAN PATI SAGU TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN SENSORI DODOL LABU KUNING (Cucurbita moschata Duch) NOVITA LESTARI; Tri Rahayuni; Suko Priyono
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 6, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v6i2.20650

Abstract

ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung ketan dengan pati sagu terhadap sifat fisikokimia dan sensori dodol labu kuning.Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor yaitu substitusi tepung ketan denganpati sagu terhadap pembuatan dodol labu kuning dengan taraf perlakuan masing-masing perbandingannya yaitu (100:0 %), (90:10 %), (20:80 %), (70:30 %), (60:40 %) dan (50:50 %) diulang sebanyak 4 kali. Variabel pengamatan meliputi kadar air, kadar lemak, total padatan terlarut, uji tingkat kekerasan, aktivitas air (Aw) dan uji sensori, jika perlakuan berpengaruh nyata dilanjutkan uji BNJ 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi tepung ketan denganpati sagu pada pengolahan dodol labu kuning memberikan pengaruh nyata terhadap kadar air, kadar lemak, total padatan terlarut, uji tingkat kekerasan, aktivitas air (Aw) dan warna namun tidak berpengaruh nyata terhadap aroma, rasa dan tekstur. Dodol labu kuning pada perlakuan 50 % tepung ketan : 50 % pati sagu memiliki karakteristik fisikokimia dan sensori terbaik menghasilkan kadar air 30,26 %, kadar lemak 3,75 %, total padatan terlarut 23,42 0Brix, tingkat kekerasan 0,56Kg Force dan Aw 0,79 %. Hasil analisis sensori terbaik yaitu tekstur 3,28 (agak elastis), rasa 4,00 (manis), warna 3,40 (agak kuning kecoklatan) dan aroma 3,20 (agak beraroma labu kuning)   Kata kunci: dodol, labu kuning, pati sagu, substitusi, tepung ketan
PENGARUH PEMBERIAN KASCING TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO PADA TANAH PODSOLIK MERAH KUNING Jamilah -; Tri Rahayuni; Rini Susana
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 2, No 2: Agustus 2013
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v2i2.2542

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis kascing yang terbaik terhadap pertumbuhan bibit kakao pada tanah podsolik merah kuning. Penelitian dilaksanakan di Mempawah Kabupaten Pontianak, lama penelitian 4 bulan 2 minggu, terhitung dari tanggal 18 Juni sampai 22 Oktober 2012. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 4 taraf perlakuan diulang sebanyak 5 kali dan setiap satuan percobaan terdiri dari 6 sampel tanaman, sehingga jumlah seluruhnya 120 tanaman. Perlakuan tersebut adalah 0,60 kg/polybag kascing atau setara dengan 4 bagian tanah : 1 bagian kascing, 0,75 kg/polybag kascing atau setara dengan 3 bagian tanah : 1 bagian kascing, 1,00 kg/polybag kascing atau setara dengan 2 bagian tanah : 1 bagian kascing, 1,50 kg/polybag kascing atau setara dengan 1 bagian tanah : 1 bagian kascing. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah pertambahan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, indeks luas daun, volume akar, berat kering tanaman, laju pertumbuhan relatif dan pengamatan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kascing pada tanah podsolik merah kuning berpengaruh nyata terhadap luas daun (bulan ke-3, bulan ke-4), volume akar, berat kering tanaman (bulan ke-4) dan laju pertumbuhan relatif (bulan ke 3 4). Pemberian kascing berpengaruh tidak nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun (bulan ke-1, bulan ke-2), indeks luas daun, berat kering tanaman (bulan ke-1, bulan ke-2, bulan ke-3), laju pertumbuhan relatif (bulan ke 1-2, bulan ke 2-3). Pemberian kascing dengan dosis 1,50 kg/polybag memberikan pertumbuhan yang terbaik pada bibit kakao.Kata kunci : Kascing, Bibit Kakao, Podsolik Merah Kuning
KAJIAN SUHU DAN LAMA PENGERINGAN PADA KUALITAS BAHAN BAKU BUBUR PEDAS KHAS NATUNA APRIANA APRIANA; Tri Rahayuni; Lucky Hartanti
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 7, No 2 (2018): April 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.143 KB) | DOI: 10.26418/jspe.v7i2.24303

Abstract

Bubur pedas Natuna adalah makanan tradisional melayu yang berbahan dasar beras dan beberapa rempah – rempah, yang biasa disajikan pada bulan Ramadhan maupun perayaan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan suhu dan lama pengeringan terbaik terhadap kualitas bahan baku bubur pedas khas Natuna. Penelitian dilaksanakan di Laboraturium Teknologi Hasil Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak dimulai pada Maret sampai Agustus 2017. Rancangan penelitian ini menggunakan metode percobaan faktorial dalam RAK (Rancangan Acak Kelompok) dengan 2 faktor perlakuan yaitu suhu (40 ˚C, 50 ˚C, 60˚C) dan lama ( 4 jam, 5 jam, 6 jam) dengan 3 ulangan. Variabel pengamatan meliputi rendemen, kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, karbohidrat dan sensori, jika perlakuan berpengaruh nyata dilanjutkan uji BNJ 5 %. Uji sensori menggunakan metode Kruskal-Wallis selanjutnya untuk mendapatkan perlakuan terbaik dilakukan uji indeks efektifitas. Hasil penelitian pengeringan bahan baku bubur pedas khas Natuna menghasilkan kualitas terbaik dengan perlakuan suhu 60˚C selama 6 jam. Bahan baku yang dihasilkan memiliki karakter fisikokimia dan sensori : rendemen 85, 39 %, kadar air 4,53 %, kadar abu 1,43 %, kadar lemak 7,48 %, kadar protein 0,006% dan karbohidrat 86,55 %. Hasil analisis sensori  terbaik yaitu warna 3,70 (kuning), aroma 4,60 (sangat wangi khas bubur pedas), kerenyahan 4,50 (renyah) dan kesukaan 3,97 (suka).
Pengaruh Komposisi Biji Karet dan Kacang Tanah Terhadap Karakteristik Fisikokimia dan Sensori Mentega Kacang Campur ajeng khuldiah; Tri Rahayuni; Sulvi Purwayanti
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 6, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v6i2.19450

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi biji karet dan kacang tanah dengan sifat fisikokimia dan sensori mentega kacang terbaik. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor yaitu perbandingan biji karet dan kacang tanah dengan taraf perlakuan masing-masing perbandingannya yaitu (10:90 %), (20:80 %), (30:70 %), (40:60 %), (50:50 %) dan (60:40 %) diulang sebanyak 4 kali. Variabel pengamatan meliputi kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, kadar karbohidrat dan uji sensori, jika perlakuan berpengaruh nyata dilanjutkan uji BNJ 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi biji karet dan kacang tanah dalam pengolahan mentega kacang campur memberikan pengaruh nyata terhadap kadar air, kadar protein, kadar lemak dan kadar karbohidrat namun tidak berpengaruh nyata terhadap kadar abu, aroma, rasa dan tekstur. Mentega kacang campur pada perlakuan 20:80 % memiliki karakteristik fisikokimia dan sensori terbaik menghasilkan kadar air 2,0865 %, kadar abu 1,2089 %, kadar protein 20,8500 %, kadar lemak 46,8325 % dan karbohidrat 29,0221 %. Hasil analisis sensori terbaik yaitu aroma 3,6667 (agak suka), rasa 3,9667 (agak suka) dan tekstur 3,8000 (agak suka). Kata kunci : Biji karet, Kacang tanah, Mentega kacang campur
KAJIAN PENAMBAHAN JAHE PADA KUALITAS MANISAN KERING BIJI KARET astuti rabayani; tri rahayuni; lucky hartanti
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v5i3.17086

Abstract

Manisan kering biji karet merupakan salah satu inovasi hasil olahan pangan fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perlakuan terbaik dari penambahan jahe pada kualitas manisan biji karet yang dihasilkan. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) menggunakan 1 faktor  perlakuan yaitu penggunaan penambahan jahe dengan 6 taraf perlakuan yaitu 0, 20,40,60, 80 dan 100 g jahe. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak empat kali. Variabel pengamatan meliputi sifat fisikokimia dan organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan jahe berpengaruh nyata terhadap lemak, karbohidrat,  dan Total Padatan Terlarut serta berpengaruh tidak nyata terhadap kadar air, kadar abu, protein serta vitamin C. Perlakuan penambahan jahe terbaik adalah 80 g jahe dengan karakter fisikokimia berupa kadar air (7,80 %), kadar abu (4,18 %),protein (5,67 %),  lemak (19,36 %), karbohidrat (61,94 %), Total Padatan Terlarut (40,50 0Brix) dan vitamin C (8,58 %) dengan karakter organoleptik terbaik yaitu rasa 3,86 (sangat pedas jahe), aroma 4,08 (wangi), tekstur 4,24 (renyah) dan kesukaan 3,9 (suka).
FORMULASI CARBOXY METHYL CELLULOSE dan SANTAN TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA dan SENSORI SUSU NABATI JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata L) Hanief Dharmawan Dharmawan; Tri Rahayuni; Oke Anandika Lestari
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v9i2.38983

Abstract

FORMULASI CARBOXY METHYL CELLULOSE dan SANTANTERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA dan SENSORI SUSUNABATI JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata L) FORMULATION OF CARBOXYMETHYL CELLULOSE AND COCONUTMILK AGAINST PHYSICOCHEMICAL PROPERTIES AND SENSORYOF MILK IN SWEET CORN (Zeamayssaccharata L) Hanief Dharmawan1*), Tri Rahayuni2), Oke Anandika Lestari2)1)Program Studi S-1 Agroteknologi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian,Universitas Tanjungpura2)Dosen Program Studi S-1 Ilmu Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian,Universitas Tanjungpura*Email Korespondensi : haniefdmw@gmail.comABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi terbaik CMC (Corboxy Methyl Cellulose) dan santan berdasarkan sifat fisikokimia dan sensori susu nabati jagung manis. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 1 faktor perlakuan terdiri dari 6 taraf, yaitu formulasi CMC : Santan terdiri dari 0:0%, 0,1:5%, 0,3:7%, 0,5:9%, 0,7:11%, 0,9:13%. Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 24 sampel kombinasi. Parameter pengamatan meliputi kadar protein, kadar pH, kadar total padatan terlarut, dan sensori. Hasil Uji Indeks Efektifitas menunjukkan bahwa formulasi terbaik terdapat pada 0,1% CMC dan 5% Santan, dimana kadar protein (0,52%), pH (5,52) dan total padatan terlarut (18,18obrix). Hasil uji sensori terbaik yaitu rasa 92,24 (manis), warna 84,14 (kuning), kekentalan 94,38 (kental) dan kesukan 106,10 (suka). Kata Kunci : CMC, Jagung Manis, Santan, Susu Nabati.
SUBSTITUSI TEPUNG TERIGU DENGAN TALAS KUKUS PADA PEMBUATAN KUE BINGKE Marselina Weni Sari; Tri Rahayuni; Suko Priyono
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v9i2.38984

Abstract

SUBSTITUSI TEPUNG TERIGU DENGAN TALAS KUKUS PADA PEMBUATAN KUE BINGKE Marselina Weni Sari*), Tri Rahayuni 2), Suko Priyono 2)1)Program Studi S-1 Agroteknologi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian,Universitas Tanjungpura2)Dosen Program Studi S-1 Ilmu Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian,Universitas Tanjungpura*Email Korespondensi : marselinawenisari12@gmail.comABSTRAKKue bingke merupakan makanan tradisional khas Pontianak yang terbuat dari tepung terigu, telur, gula pasir, santan, garam dan susu kental manis yang menyerupai kue lumpur.  Kue bingke ini khas menyerupai bentuk bunga segi enam, bertekstur lembut dan rasa manis serta tanpa bahan pengawet sintesis. Talas merupakan tanaman umbi-umbian yang dapat mengeluarkan getah berwarna putih seperti susu. Tanaman ini memiliki daun berbentuk perisai dan warna daun yang sangat bervariasi tergantung varietasnya. Umbi talas berpotensi sebagai sumber karbohidrat dan protein yang cukup tinggi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui substitusi terbaik tepung terigu dan talas berdasarkan sifat  kimia dan sensori kue bingke. penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 1 faktor perlakuan terdiri dari 6 taraf, yaitu substitusi tepung terigu : talas terdiri dari 100:0 %, 90:10 %, 80:20 %, 70:30 %, 60:40 %, 50:50 %. Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 24 sampel kombinasi. Parameter pengamatan meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar karbohidrat dan sensori. Hasil Uji Indeks Efektifitas menunjukkan bahwa substitusi terbaik terdapat pada 50% tepung terigu dan 50% talas, dimana kadar air (46,72), kadar abu (1,90), kadar lemak (22,95), kadar protein (6,42) dan kadar karbohidrat (22,00). Hasil uji sensori terbaik yaitu warna 4,16 (menarik), aroma 3,96 (beraroma talas), tekstur 4,28 (sangat tidak keras) dan rasa 4,12 (manis). Kata Kunci : bingke, talas, terigu, substitusi