Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PEREMPUAN MADURA PESISIR MERETAS BUDAYA MODE PRODUKSI PATRIARKAT Mulyadi, Achmad
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 19, No 2 (2011): Islam, Budaya dan Perempuan
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Dalam rumah tangga,  perempuan memberikan semua pelayanan untuk suami, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya dan di luar rumah tangga, laki-laki mengendalikan dan membatasi peran publik perempuan. Fenomena ini oleh mode produksi patriarkat yang merugikan kaum perempuan. Peran perempuan dibatasi pada tugas-tugas domestik, yaitu sekitar “sumur, dapur dan kasur”. Peran ini dianggap sebagai hal ideal bagi seorang perempuan. Walau masih berakar kuat pada sebagian masyarakat, paradigma ini mulai ditolak seiring dengan gerakan emansipasi wanita. Sebagaimana yang terjadi pada masyarakat Branta Pesisir, keterlibatan istri nelayan mereka dalam wilyah publik sudah mentradisi secara turun tenurun. Tulisan ini mengekplorasi bagaimana mereka menabrak ortodoksi dan menakar realitas dengan meretas budaya produksi patriarkat. Kata kunci: peran, relasi, suami-istri, dan patriarkatAbstract:In the family, a woman contributes her whole potencies to her husband, children, and the other family members, on the other hand, a man takes controll and limits the public role of woman. Sylvia Walby name this phenomena as patriarchal-production mode that disservice the woman. The role of woman has been measured up by domestic jobs, it goes around bathroom, cooking room, and bed room. These roles are considered ideal for woman. This paradigm is deep-rooted in certain community, however, at the present time this has been resisted by woman emansipation movement. This article is based on the study at Baranta Pasisir women and  about to explore the role of fishermen’s wives in public domain. They demonstrate how they hit orthodox beliefs and mete the reality out by taking apart  the patriarchal-cultural products. Key words:dynamics, relation, husband-wife, patriarchat
KONSTRUKSI BARU METODOLOGI STUDI HUKUM ISLAM: Perpaduan Antara Inferensi Tektual dan Historis (Sosial-Empirik-Kultural) Mulyadi, Achmad
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 10, No 2 (2006): Model-Model Pendekatan Studi Islam
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Hukum Islam bisa dipahami sebagai kelanjutan logis atau produk jadi dari metodologi studi hukum Islam. Ketika hukum Islam "dianggap" tidak relevan dengan realitas empiris di masyarakat, maka yang patut dikaji adalah metodologi yang digunakan. Banyak para pemerhati hukum Islam menyatakan bahwa salah satu kelemahan mendasar dari cara berpikir dan pendekatan yang ada dalam metodologi studi hukum Islam saat ini adalah coraknya yang tekstualistik dan bersifat sui generis. Karena itu, perlu kontruksi baru metodologi studi hukum Islam sebagai pengembangan metodologi studi hukum Islam yang ada. Tulisan ini akan mengelaborasi secara detail tawaran (konstruksi) baru metodologi studi hukum Islam yang bercorak historis (sosial-empirik kulturak) dan bersifat sui generis-kum-empiris denga mengunakan pendekatan  Integralistik. Kata Kunci: Metodologi, Tekstual, Historis (Sosial-Empirik-Kultural) dan Integralistik
KALENDER RITUAL MASYARAKAT MUSLIM SUMENEP MADURA Mulyadi, Achmad
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol 9, No 1 (2012)
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.619 KB) | DOI: 10.19105/nuansa.v9i1.24

Abstract

Masyarakat Sumenep Madura memiliki dan menggunakan sistem kalender dalam mengagendakan atau mengenang aktifitas kesehariannya secara unik. Pengunaan kalender tersebut biasanya dikaitkan dengan aktifitas ritualitas, yang mereka lakukan seperti ritual pernikahan, khitan, membangun bangunan (rumah, musalla, atau masjid), mengenang wafatnya seorang Kyai, rokat tase’ dan lain-lain. Karena itu, adanya pemilihan masyarakat Sumenep Madura atas kalender tersebut dikaitkan dengan ritualitas ’populer’ tertentu menjadi menarik untuk dikaji dan ditelusuri khususnya menyangkut sistem kalender yang digunakan dan perbandingannya dengan kalender hijriyah serta faktor lain yang menyebabkan masyarakat untuk selalu mengunakannya. Secara metodologis, karena penelitian ini bersifat Eksploratif-Kualitatif, maka penggalian data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara, observasi, konsep-konsep dan dokumen-dokumen yang berhasil dihimpun baik dari kitab, buku, majalah, buletin, website dan data-data pendukung lainnya yang dianalisis secara kualitatif dan trianggulatif. secara metodologis, penentuan kalender muslim Sumenep didasarkan pada hisab ‘urfi, yang penentuannya hanya berdasarkan data tetap dengan cara menambah lima pada hari yang sudah diketahui. Kalender ritual tahunan masyarakat Sumenep, pada praktiknya, dikenal dikenal 6 bulan baik dan 6 bulan yang jelek atau semua bulan baik, hanya saja diantara bulan tersebut ada waktu baik dan ada waktu jelek. Dilihat dari segi baik-jeleknya bulan, bulan-bulan yang kategori baik adalah bulan sabel, takepe’, poasa, jumadil laher, rejjeb,dan rasol. Sedangkan bulan yang terkategori jelek adalah bulan sora, sappar, molod, jumadil lawel, rebbe dan reaje.
AKURASI ARAH KIBLAT MASJID-MASJID DI KABUPATEN PAMEKASAN Mulyadi, Achmad
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol 10, No 1 (2013)
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.836 KB) | DOI: 10.19105/nuansa.v10i1.163

Abstract

Arah kiblat menjadi salah satu syarat sahnya shalat, namun demikian syarat ini seringkali tidak dipedulikan oleh masyarakat. Pembangunan tempat ibadah (masjid) semestinya dilengkapi dengan penentuan arah kiblat, yang terbagi dalam dua cara. Pertama, mengikuti arah kiblat masjid atau musholla yang ada terlebih dahulu. Cara ini akan mengakibatkan penentuan arah kiblat yang salah apabila arah masjid dan musholla yang diikuti juga salah. Kedua, menghadap ke barat dengan asumsi bahwa arah kiblat identik dengan arah barat. Signifikansi penelitian ini secara teoritis adalah mendeskripsikan akurasi arah kiblat masjid-masjid di Kabupaten Pamekasan. Penelitian ini secara metodologis bersifat eksploratif-kualitatif, sehingga penggalian data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara, observasi, konsep-konsep, dan dokumendokumen yang berhasil dihimpun, baik dari buku, majalah, buletin, website dan data-data pendukung lainnya yang dianalisis secara kualitatif dan triangulatif. Hasil penelitian dapat ditemukan beberapa hal sebagai berikut: pertama, data koordinat astronomis masjid-masjid ditemukan, bahwa Lintang Masjid di kabupaten Pamekasan berkisar antara 7º 05’ 03” LS sampai 7º 13’ 11” LS dan Bujur Masjid 113º 27’ 20.0” BT sampai 113º 33’ 55.0” BT. Kedua, Arah kiblat masjid-masjid di kabupaten Pamekasan berkisar antara BU: 23º 48’ 0” sampai 23º 52’ 0” UB: 66º08’ 0 ” sampai 66º12’ 0 ” UTSB:293º 48’ 0” sampai 293º52’ 0”. Hal itu menunjukkan, bahwa deviasi derajat arah kiblat masjid di kabupaten Pamekasan berkisar 3 derajat, apabila dikonversi pada jarak kilometer, akan didapatkan penyimpangan arah kiblat dari ka’bah ke masjid-masjid tersebut berkisar 452.3 kilometer.
PENGALAMAN NELAYAN BINTARO GAPURA SUMENEP DALAM PENENTUAN ARAH KIBLAT DAN WAKTU SHALAT (PERSPEKTIF FIQH HISAB-RUKYAT) Mulyadi, Achmad
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol 15, No 2 (2018)
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.884 KB) | DOI: 10.19105/nuansa.v15i2.2060

Abstract

Facing the Qibla becomes one of the absolute requirements in doing prayer, except in some concequencies, first, the humans are in fear, in a forced condition and in a serious ill; second, they are praying during travelling on the vehicles. The fishermen of Bintaro Gapura Sumenep belong to a society which are often faced to the exception to face Qibla in doing their prayer. The condition while fishing and the boat used become the factors in the easinesss in doing the prayer. In the Fiqh Hisab- Rukyah perspective analysis, it is explained how to decide the position of Qibla in doing prayer in the middle of the sea. The data is collected through the steps of qualitative research. It starts from non-participant observation, unstructured interview and documentation. There are many challeges faced by the fishermen in doing the prayer, from the sea breeze and wave condition to the work in the sea which takes so much time. In the limited condition, they are rarely think about the completeness and the valid requirement of the prayer, especially the matter of facing Qibla. The majority of them think that the qibla is on the west of the direction. To adjust the compass’ accuracy of the west, they just mark off the direction of the sun’s shift and set. They do not know whether the sun ‘s position is on the south or north of the equator. The standart is based on the verification of the compass’ or remote’s west. They do the prayer based on the right time to pray by looking at the time or another natural markers.
PENGARUH ETHREL TERHADAP PEMBUNGAAN TANAMAN NENAS RUSADI, IDRUS ARDI; Listiawati, agustina; mulyadi, achmad
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zat Pengatur Tumbuh adalah senyawa organik tanaman yang dalam konsentrasi rendah dapat mempengaruhi proses fisiologi tumbuhan salah satunya adalah etilen. Etilen berperan dalam mempercepat pembungaan pada tanaman, salah satunya adalah pembungaan pada tanaman nenas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi hormon pembungaan (Ethrel 480 SL) yang terbaik untuk mempercepat pembungaan nenas. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 1 faktor, terdiri dari 7 perlakuan konsentrasi Ethrel, diulang sebanyak 4 kali serta setiap ulangan terdiri dari 3 sampel tanaman. Perlakuan E1 (0,05 ml/l), E2 (0,25 ml/l), E3 (0,45 ml/l) , E4 (0,65 ml/l), E5 (0,85 ml/l), E6 (1,05 ml/l) dan E7 (1,25 ml/l). Variabel yang diamati adalah waktu terbentuknya bunga (hari), persentase terbentuknya bunga (%), persentase terbentuknya buah (%), diameter buah (cm), panjang buah (cm) dan berat buah (gram). Hasil penelitian menunjukkan pemberian konsentrasi Ethrel berpengaruh tidak nyata terhadap  persentase terbentuknya bunga, persentase terbentuknya buah, diameter buah, panjang buah, berat buah dan berpengaruh nyata terhadap waktu terbentuknya bunga. Konsentrasi Ethrel 1,05 ml/l memberikan hasil terbaik pada waktu terbentuknya bunga pada tanaman nenas sebesar 27,33 hari.   Kata kunci : Ethrel, Nenas, Pembungaan Nenas
PENGARUH KOMPOS BAGASE TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KAILAN PADA TANAH ALLUVIAL MARYANDI, ASTIAN; MUSTAMIR, ELLY; MULYADI, ACHMAD
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 3: Desember 2013
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kailan (Brassica oleraceae Var. Acephala) sebagai tanaman hortikultura merupakan salah satu jenis sayuran yang paling banyak dikonsumsi dan diminati oleh masyarakat. Budidaya kailan pada tanah alluvial dihadapkan pada beberapa kendala, antara lain alluvial mempunyai kandungan liat yang cukup tinggi, serta lapisan olah yang dangkal, selain itu kandungan unsur hara dan bahan organik yang rendah, tingkat keasaman tanah yang tinggi, serta memiliki permeabilitas yang lambat dan cukup peka terhadap erosi. Salah satu bahan organik yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan budidaya kailan pada tanah alluvial adalah kompos bagase. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui pengaruh kompos bagase terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kailan pada tanah Alluvial. Penelitian ini menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 5 ulangan. Setiap ulangan terdiri dari 3 sampel tanaman, sehingga jumlah seluruhnya ada 75 tanaman. Perlakuan yang dimaksud adalah sebagai berikut: k1 = 210 g/polybag kompos bagase atau setara dengan 9% bahan organik, k2 = 413 g/polybag kompos bagase atau setara dengan 11% bahan organik, k3 = 613 g/polybag kompos bagase atau setara dengan 13% bahan organik, k4 = 813 g/polybag kompos bagase atau setara dengan 15% bahan organik, k5 = 1.011 g/polybag kompos bagase atau setara dengan 17% bahan organik. Variabel yang diamati adalah: Luas daun (cm2), kehijauan daun (spad unit), volume akar (cm3), berat segar tanaman (g), dan berat kering tanaman (g). Pemberian kompos bagase pada tanaman kailan di tanah alluvial memberikan hasil terhadap variabel luas daun, berat segar dan berat kering tanaman. Hasil terbaik ditunjukkan pada perlakuan k2 dengan dosis 413 g/polybag setara dengan 11 % bahan organik terhadap luas daun dengan hasil 753 cm2, berat segar dengan hasil 66,26 g dan juga terhadap berat kering tanaman dengan hasil 5,74 g. Sedangkan terhadap kehijauan daun dan volume akar tidak menunjukan hasil yang baik Kata Kunci : Kailan, Kompos Bagase, Tanah Alluvial
PEREMPUAN MADURA PESISIR MERETAS BUDAYA MODE PRODUKSI PATRIARKAT Mulyadi, Achmad
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Islam, Budaya dan Perempuan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v19i2.66

Abstract

Abstrak:Dalam rumah tangga,  perempuan memberikan semua pelayanan untuk suami, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya dan di luar rumah tangga, laki-laki mengendalikan dan membatasi peran publik perempuan. Fenomena ini oleh mode produksi patriarkat yang merugikan kaum perempuan. Peran perempuan dibatasi pada tugas-tugas domestik, yaitu sekitar “sumur, dapur dan kasur”. Peran ini dianggap sebagai hal ideal bagi seorang perempuan. Walau masih berakar kuat pada sebagian masyarakat, paradigma ini mulai ditolak seiring dengan gerakan emansipasi wanita. Sebagaimana yang terjadi pada masyarakat Branta Pesisir, keterlibatan istri nelayan mereka dalam wilyah publik sudah mentradisi secara turun tenurun. Tulisan ini mengekplorasi bagaimana mereka menabrak ortodoksi dan menakar realitas dengan meretas budaya produksi patriarkat. Kata kunci: peran, relasi, suami-istri, dan patriarkatAbstract:In the family, a woman contributes her whole potencies to her husband, children, and the other family members, on the other hand, a man takes controll and limits the public role of woman. Sylvia Walby name this phenomena as patriarchal-production mode that disservice the woman. The role of woman has been measured up by domestic jobs, it goes around bathroom, cooking room, and bed room. These roles are considered ideal for woman. This paradigm is deep-rooted in certain community, however, at the present time this has been resisted by woman emansipation movement. This article is based on the study at Baranta Pasisir women and  about to explore the role of fishermen’s wives in public domain. They demonstrate how they hit orthodox beliefs and mete the reality out by taking apart  the patriarchal-cultural products. Key words:dynamics, relation, husband-wife, patriarchat
Pemikiran Al-Khawarizmi dalam Meletakkan Dasar Pengembangan Ilmu Astronomi Islam Mulyadi, Achmad
International Journal Ihya' 'Ulum al-Din Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.947 KB) | DOI: 10.21580/ihya.20.1.2782

Abstract

The progress of Islamic civilization is inseparable from the influence of the emergence and rapid development of Islamic astronomy. Islam leads the world civilization and breaks the record as the longest-running civilization lasting more than 14 centuries. At this time, astronomical activities in the Islamic world began to develop intensively. This condition cannot be separated from the role of al-Khwarizmi who made a very valuable contribution. The construction of his thinking which was based on mathematical astronomy made him the foundation of the development of Islamic astronomy, in addition to its development of the geocentric theory of Aristotle and Ptolemy. This is the real contribution of al-Khwarizmi that is very large and fundamental in the heyday of medieval Islam which eventually became the starting point of the scientific development and subsequent Muslim astronomers to date. The emergence of various observatories and planetariums which made observations with more modern tools finally gave birth to many new theories in the study of world astronomy. This study explores al-Khwarizmi's role in the growth and development of astronomy in his time to the present.
Pemikiran Al-Khawarizmi dalam Meletakkan Dasar Pengembangan Ilmu Astronomi Islam Achmad Mulyadi
International Journal Ihya' 'Ulum al-Din Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.947 KB) | DOI: 10.21580/ihya.20.1.2782

Abstract

The progress of Islamic civilization is inseparable from the influence of the emergence and rapid development of Islamic astronomy. Islam leads the world civilization and breaks the record as the longest-running civilization lasting more than 14 centuries. At this time, astronomical activities in the Islamic world began to develop intensively. This condition cannot be separated from the role of al-Khwarizmi who made a very valuable contribution. The construction of his thinking which was based on mathematical astronomy made him the foundation of the development of Islamic astronomy, in addition to its development of the geocentric theory of Aristotle and Ptolemy. This is the real contribution of al-Khwarizmi that is very large and fundamental in the heyday of medieval Islam which eventually became the starting point of the scientific development and subsequent Muslim astronomers to date. The emergence of various observatories and planetariums which made observations with more modern tools finally gave birth to many new theories in the study of world astronomy. This study explores al-Khwarizmi's role in the growth and development of astronomy in his time to the present.