cover
Contact Name
Angger Bimantara
Contact Email
anggerbimantara28@gmail.com
Phone
+6285859299642
Journal Mail Official
jurnal@stai-ali.ac.id
Editorial Address
Jl. Sidotopo Kidul 51, Surabaya, Jawa Timur Kode pos 60152
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa
ISSN : 20889593     EISSN : 27743748     DOI : https://doi.org/10.54214/alfawaid
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal al-Fawa’id : Jurnal Agama dan Bahasa (P-ISSN: 2088-9593 dan E-ISSN: 2774-3748) adalah jurnal yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Ali bin Abi Thalib Surabaya. Sirkulasi penerbitan jurnal ini adalah 2 (dua) kali dalam setahun, yaitu di bulan maret dan september. Artikel yang dimuat berupa penelitian-penelitian tentang Agama dan Bahasa. Adapun fokus dan cakupan dari jurnal ini adalah sebagai berikut: Aqidah Agama Islam Fiqih Agama Islam Sejarah Agama Islam Pendidikan Islam Dakwah Islam Pengajaran Bahasa Asing (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris) Sastra Bahasa Asing (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris) Sejarah Pendidikan Bahasa Asing (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris) Strategi Pengajaran Bahasa Asing (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris) Media Pengajaran Bahasa Asing (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris)
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 2 (2018): September" : 7 Documents clear
Ahammiyah Tarbiyyah al-Aṭfāl fī Naẓar al-Islām Mubarak Bamualim
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 8 No 2 (2018): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.744 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol8.Iss2.47

Abstract

Pendidikan anak bukan hanya kewajiban orang tua, namun pendidikan anak memiliki makna yang lebih dari itu, pendidikan adalah investasi jangka panjang orang tua, kemerosotan akhlak pada saat ini disebabkan pola pendidikan yang salah, tidak kontinyu dan terlambat. Islam men gajarkan bahwa pendidikan anak dimulai saat sebelum pernikahan dan setelah pernikahan, pendidikan anak yang dilakukan sebelum pernika han berupa pemilihan pasangan yang baik berdasarkan kriteria yang di perintahkan Nabi. Adapun pendidikan anak yang dilakukan setelah anak itu lahir berupa memberikan tas}fiyyah (pembersihan) dari hal-hal yang buruk, baik dari sisi aqidah seperti syirik, maupun dari sisi akh lak buruk seperti sombong dan lain sebagainya. Disamping mensucikan jiwa anak islam juga memerintahkan untuk mentarbiyah anak seperti, mengajari sholat, takut atau murroqobatullah, kesemua bentuk pendi dikan ini telah dijelaskan Nabi dalam banyak hadis beliau, begitu juga Allah telah menerangkannya di dalam al Qur’an termasuk di dalam surat Lukman.
Al-Ḍowābiṭ al-Taʿlīmiyyah fī Takwīn Najāḥ Muʿallim Muhammad Chusnul Yakin
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 8 No 2 (2018): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.304 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol8.Iss2.48

Abstract

Pendidikan di dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Pendidikan adalah proses perbaikan yang terwariskan dari para Nabi dan Rasul ‘Alaihim al-Salām dalam menyampaikan pesan Ilahi, sehingga setiap pelaku pendidikan memiliki kedudukan mulia sebagaimana kemuliaan para Nabi dan Rasul. Mereka bak mentari yang menyinari, sehingga siapa yang mengambil ilmunya maka selamat dan siapa yang meninggalkannya maka dia celaka. Kebutuhan kepada sang pendidik yang mumpuni teramat besar terutama di saat kejahilan dan fitnah mulai merebak dan merusak. Kerusakan itu terlihat dari jauhnya masyarakat dari tuntunan dan ilmu yang seharusnya tergambar dalam ucapan dan pola tingkah laku mereka. Di sisi lain keberadaan sang pendidik sendiri yang telah berubah dari sosok yang mendidik menjadi sosok yang dikeramatkan, sikap berlebih-lebihan dalam menyanjung sang pendidik atau tokoh yang dianggap berilmu telah mengesampingkan fungsi ilmu itu sendiri dan lebih kepada pengkultusan yang diharapkan keberkahan, sehingga munculnya sikap berlebihan tersebut menjadi fitnah tersendiri yang tidak hanya menimpa masyarakat akan tetapi terlebih kepada sang pendidik yang telah terabaikan oleh keuntungan materi dari situasi fitnah ini. Karena itu kebutuhan kepada sang Pendidik yang Rabbani menjadi sebuah kebutuhan pokok yang sangat besar dalam menyelamatkan masyarakat dari fitnah kejahilan dan pengkultusan.
Makānah al-Lughah al-ʿArabiyyah wa Dawrunā fī al-Ḥifāẓ ʿalayhā Ainul Haris
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 8 No 2 (2018): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.718 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol8.Iss2.49

Abstract

Bahasa Arab merupakan bahasa yang paling mulia, karena bahasa Arab adalah bahasa Agama Islam. Setiap harinya, umat Islam membutuhkan atau menggunakan bahasa ini, mereka membaca al-Qur'an yang berbahasa Arab, sholat mereka berbahasa Arab, dzikir dan lain-lain. Di samping sebagai bahasa ibadah, bahasa Arab juga merupakan bahasa ilmu-ilmu Islam, baik fiqh, ḥadīth, dan yang lain sebagainya. Oleh sebab itu, para ulama mensyaratkan bagi seorang mujtahid untuk memahami dan menguasai bahasa Arab dan keilmuannya. Dalam perkembangannya, bahasa Arab mendapatkan tantangan dari pihak- pihak yang berusaha untuk menjauhkan bahasa Arab dari kehidupan kaum muslimin, maka pada makalah ini penulis akan menjelaskan tentang kedudukan bahasa Arab dan peran yang dapat dilakukan oleh kaum muslimin di dalam menjaga bahasa Arab.
Bayān ʿan al-Mukhaṣṣiṣāt al-Muttaṣilah Oscar Wardhana Windro Saputro
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 8 No 2 (2018): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.886 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol8.Iss2.50

Abstract

Lafal-lafal dalam Bahasa Arab, khususnya dalam atau teks agama baik itu di dalam ayat-ayat al-Qur’an maupun teks hadis, masing-masing memiliki bentuk dan arah tersendiri yang menuntun/menunjuk pada maknanya yang dikenal dengan dilālah. Para ulama ʾUṣūl Fiqh semenjak dikenalnya ilmu ini, telah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap bentuk-bentuk petunjuk/dilālah tersebut. Di antara bentuk-bentuk petunjuk/ dilālah yang senantiasa dibahas adalah bentuk umum dan khusus atau dikenal dengan istilah takhṣīṣ al-ʿĀm yaitu penjelasan bahwa yang dimaksud dari sebuah lafal yang bersifat umum adalah bukan seluruhnya, namun sebagian dari keumuman lafal tersebut. Syarat bolehnya suatu takhṣīṣ/pengkhususan adalah adanya petunjuk yang jelas yang dikenal dengan istilah dalīl mukhaṣṣiṣ. Mukhaṣṣiṣ terbagi menjadi 2 jenis jika dilihat dari keterkaitannya dengan teks kalimat: yaitu mukhaṣṣiṣ munfaṣilah (terpisah) dan mukhaṣṣiṣ muttaṣilah (tersambung). Mukhaṣṣiṣ muttaṣilah adalah suatu petunjuk yang tidak berdiri sendiri namun dia terkait dengan teks kalimat dan merupakan bagian darinya. Ada banyak bentuk mukhaṣṣiṣ muttaṣilah yang disebutkan oleh para ulama, namun seluruhnya terangkum dalam 5 bentuk yaitu : Istithnāʾ (pengecualian), Sharṭ (syarat), Ṣifah (sifat), Ghāyah (batas), Badal (pengganti). Makalah ini akan menjelaskan tentang masing-masing bentuk mukhaṣṣiṣ muttaṣilah baik secara definisi, perangkat dan hukum-hukum yang terkait dengannya.
Manhaj al-Shaikh Muḥammad bin Ṣāliḥ al-ʿUthaimīn fī Taʿlīm al-Balāghah: Dirāsah Taḥlīlīyyah li Kitāb Sharḥ Durūs al-Balāghah li Shaikh ibn al-ʿUthaimīn Nur Cholis Agus Santoso
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 8 No 2 (2018): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.096 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol8.Iss2.51

Abstract

Pendidik atau pengajar dituntut untuk senantiasa meningkatkan keilmuan yang dimiliki, disamping keilmuan yang berkaitan dengan materi ajar, pendidik harus meningkatkan kemampuan atau keilmuannya berkaitan dengan cara atau metode bagaimana dia mengajar, peningkatan kemampuan metode mengajar bisa berasal dari pengalaman, namun hal ini tentunya memerlukan waktu yang tidak sebentar, selain itu peningkatan kemampuan mengajar juga bisa diperoleh dengan cara melihat praktek pengajaran yang dilakukan seseorang atau dengan membaca hasil-hasil penelitian mengenai metode-metode pembelajaran dan keefektifannya. Dalam penelitian ini, peneliti akan memaparkan tentang metode pembelajaran yang dilakukan oleh Shayikh Muhammad bin Shalih al ʿUthaimīn dalam materi al-balāghah. Penelitian ini merupakan studi buku; hal ini disebabkan asal dari buku Sharḥ durūs al-balāghah adalah pelajaran beliau yang direkam kemudian ditranskip. Dan dari penelitian yang dilakukan peneliti menemukan bahwa dalam proses pembelajaran balāghah beliau menggunakan metode berikut: Ceramah, Diskusi, Tanya Jawab. Disamping itu beliau selalu melakukan evaluasi di setiap akhir sesi untuk mengetahui atau mengukur pemahaman murid, adapun tujuan pembelajaran beliau adalah memahamkan murid terhadap isi dari buku durūs al-Balāghah, sehingga di dalam menjelaskannya beliau tidak banyak keluar dari tema atau menyebutkan perbedaan-perbedaan pendapat yang ada.
Bidʿah Ḥasanah dalam Perspektif Al-ʿIzz Bin ʿAbd Al-Salām dan ʿAli Bin Ḥasan Al-Ḥalabī Fadlan Fahamsyah
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 8 No 2 (2018): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.367 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol8.Iss2.52

Abstract

This research explores the views of Imam Al-ʿIzz Bin ʿAbd Al-Salām dan ʿAli Bin Ḥasan Al-Ḥalabī to the bidʿah ḥasanah concept. The polemic about bid’ah ḥasanah always be warm even hot on the grassroots, so this writing tries to track the conclusion and the root cause of bid’ah ḥasanah from two figures mentioned above.The results of this research shows the difference bet ween those two figures, Al-ʿIzz Bin ʿAbd Al-Salām says that there is a bidʿah ḥasanah , while ʿAli Bin Ḥasan Al-Ḥalabī says that there is no bidʿah ḥasanah . The cause of difference views between them is when Al-ʿIzz Bin ʿAbd Al-Salām used term of bid’ah in the con text of etymology while al - Halaby interpreted the term in the context of terminology. As for the difference factor in the common people that there is no classification bid’ah in worship and non - worship (muʿamalah). The comparison results between these two figures can be seen from two sides. First, the similarity; which both of them against together the bid’ah which certainly against the sharia; as for the different side that Al-ʿIzz found there is a bidʿah ḥasanah like building Islamic schools (madrasah), le arning tajweed, etc., while al Halaby found that all bidʿah in religious matters are misguided. Build schools in the views of al - Ḥalabī is not bidʿah , but maslahah mursalah.
Nilai Pendidikan Aqidah Luqman al-Ḥakim Maryono Maryono
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 8 No 2 (2018): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.382 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol8.Iss2.53

Abstract

Luqman is a name enshrined in Islam in the Holy Qur'an. His life journey is always wise and above the truth and never leaves him. The story is not only enshrined in the Holy Qur’an, but also enshrined as the name one of the surat’s in the Holy Qur'an. His storie’s have many important education values and very benefits for life. This research is a qualitative study, which uses non-statistical analysis, the data search with the right interpretation to make a systematic description. The Qualitative research is a research that aimed to describe and analyze the phenomena, events, social activities, attitudes, beliefs, perceptions, people's thoughts individual or group. Some descriptions are used to find some principles and explanations that lead to make conclusions. The value of Luqman's aqeedah educations are includes: the obligation to honor of Allah and the prohibition of doing syirik, believing the day of vengeance (the last day) where Allah will repay all of his servants' good or bad actions even though mustard seeds must feel that Allah Subhanahu wa Ta'ala always supervises and know the movements of every human beings, and should not make underestimate the good or bad that is done, however small. 

Page 1 of 1 | Total Record : 7