cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Diagnosis dan Tatalaksana Enterokolitis Nekrotikans Muhammad Luthfi Taufik; Desriani Lestari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i4.1366

Abstract

Enterokolitis nekrotikans (EKN) ialah peradangan berat saluran pencernaan yang terjadi pada 5-7% neonatus prematur. EKN merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di NICU. Patofisiologi multifaktorial dan belum sepenuhnya diketahui. Deteksi dini sulit karena manifestasi klinis sulit dibedakan dan masih tergantung pada radiologi abdomen yang kurang sensitif. Patofisiologi dan pendekatan diagnosis menjadi topik penelitian prioritas di bidang neonatologi saat ini. Strategi pencegahan dan tatalaksana komprehensif diharapkan dapat ditemukan agar memperbaiki luaran penyakit.Necrotizing enterocolitis (NEC) is a serious inflammatory disease of intestine which affects 5-7% preterm neonates. NEC is the leading cause of morbidity and mortality in NICU despite rapid advance in preterm neonatal care. Pathophysiology of NEC is multifactorial and not fully understood. Early detection is challenging because of indistinguishable clinical manifestation and still relies on less sensitive abdominal radiography. Nowadays, pathophysiology and diagnostic approach are priority topics for research in neonatology. Comprehensive prevention and treatment strategies expectedly can improve outcome of disease.
Karakteristik Nyeri Punggung Bawah Anggota Aktif TNI AD di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta Army Pambudi Suryo; Sasmoyohati -; Lukas Hadiarso
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 7 (2017): THT
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i7.745

Abstract

Nyeri punggung bawah (NPB) adalah nyeri di daerah punggung bagian bawah, dapat nyeri lokal, radikular atau keduanya. NPB menempati urutan kedua tertinggi kasus nyeri setelah sefalgia; angka kehilangan kerja bisa mencapai 6 – 7 minggu/tahun. Anggota TNI AD yang memiliki tugas pokok menjaga kedaulatan NKRI, memiliki beberapa faktor risiko NPB, hal ini dapat menurunkan kesiapan dalam tugas. Jumlah responden penelitian ini 57 orang dengan kasus : kontrol adalah 1:1, data dianalisis univariat, bivariat menggunakan uji Chi Square, dan multivariat menggunakan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan keluhan NPB terbanyak karena HNP (Herniasi Nukleus Pulposus) dengan persentase 64,9%, kejadian NPB terbanyak pada kelompok pangkat Bintara (35%). Variabel bebas yang diuji adalah usia (p : 0,039), pangkat (p : 0,036), aktivitas fisik (p : 0,008), kebiasaan merokok (p : 0,558), dan IMT (p : 0,036). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa aktivitas fisik merupakan faktor risiko NPB paling dominan, kemungkinan NPB pada anggota aktif TNI AD yang memiliki aktivitas fisik berat sebesar 35,7%, sedangkan jika ada ketiga faktor risiko utama (aktivitas fisik berat, usia >40 tahun, dan IMT ≥25), risiko NPB mencapai 89,9%. Pencegahan dan meminimalkan faktor risiko diharapkan dapat menurunkan kejadian NPB angka kehilangan kerja pada anggota aktif TNI AD serta.Low back pain (LBP) is a pain in lower back area, could be local, radicular or both. LBP ranks as 2nd highest cause of pain after cephalgia, may cause 6 – 7 weeks/year work absence. Indonesian Army which has the duty of keeping Indonesia’s sovereignty, has some risks for LBP that can decrease their duty readiness. This study included 57 respondents, case : control 1:1. Data was analyzed by univariate, bivariate using Chi Square, and multivariate using Logistic Regression analysis. The results showed most LBP is due to HNP (Herniation of the Nucleus Pulposus) (64,9%), mostly in Bintara rank (35%). Variables tested were age (p : 0,039), rank (p : 0,036), physical activity (p : 0,008), smoking habit (p : 0,558), and Body Mass Index (BMI) (p : 0,036). The result of the multivariate analysis demonstrated that heavy physical activity was the most dominant risk factor, with 35,7% probability for LBP. If three major risk factors (heavy physical activity, age above 40 years old, and BMI ≥25) were combined, probability of LBP was increased to 89,9%. Prevention and minimizing risk factors are expected to decrease LBP and work absence among the Indonesian Army.
Terapi Stem Cell untuk Penyakit Parkinson Maria Diandra Porsiana; I Komang Arimbawa
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i3.374

Abstract

Penyakit Parkinson adalah salah satu gangguan neurodegeneratif terbanyak di dunia yang ditandai dengan gangguan motorik maupun non motorik kronik progresif akibat degenerasi neuron dopaminergik pada substansia nigra. Prevalensi penyakit ini meningkat seiring pertambahan usia dan paling banyak pada individu berusia di atas 60 tahun. Terapi farmakologi saat ini efektif memperbaiki gejala dan meningkatkan kualitas hidup dengan cara memodulasi sistem dopamin, akan tetapi belum ada yang dapat menghentikan progresivitas penyakit. Terapi stem cell mulai diteliti karena kemampuan berdiferensiasi menjadi sel saraf dan dan dapat diinduksi menjadi sel dengan fungsi spesifik. Tujuan review ini adalah mendeskripsikan beberapa jenis stem cell sebagai terapi potensial penyakit Parkinson.Parkinson's disease is one of the most frequent neurodegenerative disorders in the world, characterized by chronic progressive motor and non motor disorders due to degeneration of dopaminergic neurons in the substantia nigra. The prevalence increases with age and mostly occurs in individuals over 60 years old. Pharmacological treatment of Parkinson's disease is currently effective in improving patient’s symptoms and quality of life by modulating the dopamine system, but can not prevent the progression of this disease. Stem cell therapy has been studied as the potential therapy because of its ability to differentiate into nerve cells and induced into cells with specific functions. This review describe several types of stem cells as a potential therapy for Parkinson's disease.
Terapi Alternatif Penyakit Kardiovaskuler dengan Pigmen Alami Katarina Purnomo Salim; Renny Indrawati; Leenawaty Limantara
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i11.893

Abstract

Pola diet dan gaya hidup kurang sehat menyebabkan berbagai kasus hiperkolesterol dan obesitas. Berbagai pengobatan untuk mengatasi permasalahan tersebut masih terus diperbaharui, tak hanya dengan obat-obatan sintetik namun juga obat alam berbasis senyawa bioaktif tumbuhan tingkat tinggi. Sejumlah studi juga menunjukkan bahwa pigmen alami, yang diproduksi oleh tumbuhan tingkat tinggi maupun rendah, juga mampu memberikan manfaat terapi hampir serupa untuk membantu menurunkan prevalensi penyakit kardiovaskular. Beberapa pigmen seperti fukosantin, astasantin, lutein, dan fikosianin dibuktikan memiliki sifat antioksidan alami serta bioaktivitas spesifik dalam metabolisme lemak tubuh, sehingga dapat digunakan untuk terapi penyakit yang disebabkan oleh kerusakan oksidatif, termasuk penyakit kardiovaskular.The unhealthy life style and poor diet become the reason of most hypercholesterol and obesity cases. Numerous studies are still continuously conducted to overcome heart conditions, not only with synthetic drugs but also natural herbals from bioactive compounds of higher plants. Several natural pigments studies showed comparable activities in decreasing cardiovascular disease prevalence. Fucoxanthin, astaxanthin, lutein, and phycocyanin are natural antioxidants, playing beneficial role in the metabolism of body fats. They can be applied for diseases associated with oxidative stress, including cardiovascular problems.
Replantasi Jari Precisza Fanny Faranita; Decky Andrea
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i4.492

Abstract

Amputasi merupakan terpisahnya sebagian tubuh karena proses trauma atau tindakan operasi. Amputasi jari dan anggota gerak lain sering dengan konsekuensi fungsional dan estetika. Proses penyatuan kembali atau replantation membutuhkan teknik operasi mikrovaskular tingkat lanjut. Tindakan ini memiliki angka keberhasilan cukup tinggi tetapi bergantung pada banyak faktor.Amputation is defined as separation of body parts due to trauma or surgery. Digital or extremity amputations may have important functional and aesthetic aspects. Replantation is an emergency treatment for traumatic amputation case; it needs advanced microvacular surgery procedures. Rate of success depends on many factors. 
Kranioplasti untuk Kasus Cedera Kepala Wayan Niryana; Dewa Putu Wisnu Wardhana; Heru Sutanto Koerniawan; Sri Maliawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 8 (2018): Alopesia
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i8.635

Abstract

Seiring kemajuan teknik operasi bedah saraf, jumlah pasien cedera kepala yang mampu selamat pasca kraniektomi dekompresi meningkat signifikan. Pasien-pasien tersebut selanjutnya akan menjalani kranioplasti untuk memperbaiki defek kranium. Keuntungan lain prosedur kranioplasti antara lain: menyediakan proteksi otak, pencegahan atau eliminasi kolapsnya hemisfer otak atau herniasi serebri yang disebut sindrom pasca trepanasi. Hingga saat ini belum ada material ideal untuk kranioplasti.Advances in neurosurgery techniques will increase decompressive craniectomy survivors significantly. These patients will undergo cranioplasty to correct the cranium defects. Cranioplasty has other advantages : to provide brain protection, to prevent or to eliminate brain hemisphere collapse or cerebral herniation called post trephine syndrome. There is no truly ideal material for cranioplasty until now.
Katarak Kongenital : Skrining dan Diagnosis Junetta Airene Priskila Taba
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19]
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i7.1454

Abstract

Katarak kongenital merupakan kekeruhan lensa sejak lahir dan berpotensi menyebabkan gangguan penglihatan atau bahkan kebutaan. Pemeriksaan red reflex pada bayi baru lahir sangat penting untuk deteksi dini kelainan tersebut. Pemeriksaan mata lanjutan untuk diagnosis antara lain slit-lamp, ultrasound, funduskopi serta tajam penglihatan. Katarak kongenital yang mengganggu fungsi penglihatan dapat ditatalaksana dengan teknik operasi.Congenital cataract is lens opacity since birth and can potentially cause visual impairment, even blindness. Red reflex examination in newborn is very important for early screening. Further diagnostic eye examination includes slit lamp, ultrasound, funduscopy, and visual acuity. Congenital cataract that impair vision can be managed surgically. 
Menilai Kualitas Hidup Anak Penyandang Hemofilia Shanessa Budiarty; Selvi Nafianti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i8.784

Abstract

Hemofilia merupakan penyakit congenital defisiensi faktor koagulasi dengan manifestasi perdarahan. Hemofilia dapat mengganggu kualitas hidup fisik, sosial, sekolah dan emosi penyandangnya. Salah satu instrumen untuk menilai kualitas hidup anak adalah pediatric quality of life questionnaire/PedsQL; penggunaannya di kalangan penyandang hemofilia anak dapat menunjang tatalaksana.Hemophilia is a congenital coagulation deficiency associated with bleeding manifestation. Hemophilia can affect physical, social, school and emotional quality of life; children with hemophilia can have lower self perception compared to healthy children. Pediatric quality of questionnaire/PedsQL is an instrument for assessment of quality of life in children; it use among children with hemophilia can improve their management.
Anemia Hemolitik Autoimun pada Anak Bella Kurnia; Theatania Trisna Yonathan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i11.406

Abstract

Anemia hemolitik autoimun (AIHA) disebabkan oleh antibodi terhadap eritrosit sendiri yang menyebabkan hemolisis dan anemia. Penyebab paling sering idiopatik. Pada anak biasanya bersifat akut dan dapat mengancam jiwa. Terapi lini pertama AIHA adalah kortikosteroid dan immunoglobulin. Respon paling baik terhadap steroid didapatkan pada anak.Autoimmune hemolytic anemia (AIHA) is caused by autoantibodies against own erythrocytes leading to hemolysis and anemia. The most common cause is idiopathic. This anemia is usually acute and can be life-threatening. First line therapy is corticosteroid and can be combined with intravenous immunoglobulin. Best response to steroids is among children.
Suplemen untuk Rambut Sehat Esther Kristiningrum
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i6.661

Abstract

Usia, perubahan hormonal, defisiensi zat gizi, stres, penataan rambut yang berlebihan, dan faktor-faktor lainnya dapat menyebabkan rambut rusak atau kerontokan rambut. Mengingat risiko efek samping obat-obatan untuk kerontokan rambut, banyak orang tertarik pada pengobatan alternatif. Suplemen dapat membantu mempertahankan lingkungan sebaik mungkin untuk pertumbuhan rambut yang sehat dan mengurangi kerusakan dan kerontokan rambut.Age, hormonal changes, nutrient deficiency, stress, over-styling, and other factors can cause damaged hair or hair loss. Due to risk of drugs for hair loss, many people look into alternative treatments. Supplements can help maintain the best possible environment for healthy hair growth, and reduces hair damage and hair loss.

Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue