cover
Contact Name
Yani Osmawati
Contact Email
jurnaldeviance@budiluhur.ac.id
Phone
+6221-5853753
Journal Mail Official
jurnaldeviance@budiluhur.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Ciledug, Petukangan Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12260
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Deviance: Jurnal Kriminologi
ISSN : 25803158     EISSN : 25803166     DOI : -
Core Subject : Social,
Deviance Jurnal Kriminologi (ISSN 2580-3158 for printed version and ISSN 2580-3166 Online version), is a peer-reviewed, open-access journal published by Universitas Budi Luhur. This journal publishes twice a year (June and December). Deviance Jurnal Kriminologi publishes articles on criminological Issue. The journal invites scholar to submit original articles from variety of persperctives (sociological, philosophical, geographical, psychological, jurisprudential, cultural, political, policy standpoints, etc), focusing on crime and society
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2019)" : 5 Documents clear
Pencegahan Viktimisasi Pencurian Data Pribadi Claudia Clarentia Ciptohartono; Mohammad Kemal Dermawan
Deviance Jurnal kriminologi Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.653 KB) | DOI: 10.36080/djk.v3i2.1105

Abstract

Penelitian ini membahas strategi pencegahan viktimisasi pencurian data pribadi di Indonesia. Dengan keberadaan internet, kehidupan manusia tidak lagi berlangsung hanya di dunia fisik saja tetapi sudah merambah ke dunia maya, begitu pula dengan kejahatan. Transisi kejahatan didukung oleh keberadaan internet yang mendukung akses ke dunia maya lewat smartphone. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran keamanan masyarakat dan mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan pencurian data pribadi. Penelitian dilakukan dengan mixed-method kuantitatif dan kualitatif menggunakan kuesioner terstandar dan survei viktim serta self-report mengenai pengetahuan, persepsi, dan perilaku masyarakat. Terdapat 179 responden dengan batasan: berusia dewasa, berdomisili di Jabodetabek, dan menggunakan smartphone pribadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kesadaran keamanan responden terhadap alat (smartphone), sistem, dan ruang (internet) cukup baik yaitu 67,03% pada tingkat kesadaran tinggi. Namun jika dinilai secara terpisah, penilaian terhadap kesadaran menjadi semakin menurun dan berada di tingkat rendah-menengah dengan nilai paling rendah pada kesadaran terhadap ruang. Kemudian penilaian kesadaran terhadap data pribadi, yaitu 56,98% pada tingkat kesadaran menengah dan jika dinilai secara terpisah antara pengetahuan, sikap, dan persepsi dengan perilaku hasilnya semakin menurun. 44,69% responden memiliki kesadaran dengan nilai nol pada perilaku terhadap data pribadi umum. Tidak mengherankan jika hasil survei menunjukkan 94,97% responden pernah menjadi korban pencurian data pribadi, terutama pada kejahatan pencurian data dengan tingkat rendah. Untuk itu, strategi pencegahan viktimisasi yang terbaik adalah dengan memperbaiki aspek penentu kesadaran keamanan terutama dalam berperilaku dalam kepemilikan data pribadi dan smartphone, juga dalam menggunakan sistem, aplikasi, dan internet.
Analisis Kriminologis Penggunaan News Picture dalam Hoax yang Tersebar di Media Sosial (Analisis Isi Hoax pada Turnbackhoax.Id) Triasa Nitorizki Hawari; Herlina Permata Sari
Deviance Jurnal kriminologi Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.177 KB) | DOI: 10.36080/djk.v3i2.1095

Abstract

Artikel ini berusaha memahami peran penggunaan news picture dalam hoax yang tersebar di sosial media. Dengan menggunakan enthnographic content analysis, data penelitian ini didapatkan dengan mengumpulkan hoax dari situs pen-debunked, turnbackhoax.id. Peneliti berhasil mengumpulkan 1097 hoax dari jangka waktu Juli 2015 hingga Juni 2018. Setelah melewati proses penyaringan kembali berdasarkan jenis konten visual dan jumlah like, share dan comment¸ terpilih 20 hoax yang mendapatkan nilai share di atas 10.000. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penggunaan news picture pada hoax bertujuan untuk memengaruhi emosi pembaca. Fungsi gambar dalam sebuah hoax terbagi menjadi dua, sebagai menjadi bukti atas terjadinya sebuah peristiwa dan sebagai pembangkit beragam emosi yang kemudian membuat orang lebih mudah memercayai hoax. Permasalahan lain pun muncul saat sebuah hoax menggunakan news picture yang menggambarkan penderitaan atau rasa sakit. Pihak yang ada dalam gambar tersebut didehumanisasi menjadi sekedar komoditas emosi yang siap digunakan untuk memenuhi tujuan pembuat hoax. Selain itu juga ditemukan bahwa permasalahan hoax tidak terlepas dari bagaimana bentuk internet itu sendiri. Ditemukan pula bahwa hoax bertemakan agama lebih berpotensi tersebar luas dibandingkan dengan tema lain karena hubungannya dengan identitas dan emosi pengguna media sosial di Indonesia.
Penerapan Situational Crime Prevention dalam Sekuriti Survei: Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang, Jakarta Orisa Shinta Haryani
Deviance Jurnal kriminologi Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1567.997 KB) | DOI: 10.36080/djk.v3i2.1097

Abstract

Lembaga pemasyarakatan (Lapas) merupakan suatu tempat yang secara khusus disiapkan untuk menerima dan melakukan penahanan terhadap pelaku kejahatan. Lapas menjadi tempat bagi narapidana untuk menjalani hukuman dan mendapatkan pembinaan selama periode waktu tertentu berdasarkan hasil putusan hakim persidangan. Oleh karena itu, Lapas memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk mencegah terjadinya kejahatan dan menjaga keamanan di dalam lingkungan Lapas maupun mencegah narapidana melarikan diri dari tempat tersebut. Sekuriti survei yang dilakukan dalam penelitian ini didasarkan pada teori situational crime prevention yang memfokuskan pembahasan pada pengamanan fisik suatu tempat. Teori ini juga menjelaskan terdapat sixteen opportunity reducing technique yang juga digunakan tolak ukur dalam survei sekuriti yang dilakukan. Hasil dari sekuriti survei yang dilakukan menunjukkan bahwa secara umum pengamanan fisik yang diterapkan di Lapas Kelas I Cipinang, Jakarta telah cukup efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan oleh institusi tersebut.
Mengukur dan Mengembangkan Konsep Diri Anak Menuju Terbentuknya Kepribadian Anak yang Memiliki Kemandirian terhadap Bullying di Kelas XI Sma Islam Harapan Ibu Pondok Pinang Jakarta Selatan Kartono Kartono
Deviance Jurnal kriminologi Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.788 KB) | DOI: 10.36080/djk.v3i2.1104

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) memberikan gambaran yang tepat mengenai konsep diri anak menuju terbentuknya kepribadian yang tangguh menghadapi masalah bullying di SMA Islam Harapan Ibu Pondok Pinang Jakarta Selatan, dan (2) mengembangkan pendekatan praktis dari konsep pendidikan yang teoritis menjadi suatu hal yang dapat dengan mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.Ada beberapa rambu yang harus dipahami pada saat mengenal diri seorang remaja. Proses pencarian identitas yang dilakukan oleh seseorang, dimana pencarian identitas tersebut dilakukan melalui proses untuk mendekatkan diri dengan orang lain atau kelompok masyarakat tertentu. Pembentukan sosok idola yang terjadi pada diri seseorang akan melalui proses yang berbeda Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Islam Harapan Ibu Pondok Pinang Jakarta Selatan. Sampel yang diambil adalah kelas XI yang berjumlah 30 siswa yang diambil secara purposive sampling. Data yang terkumpul dalam penelitian ini berupa konsep diri anak, angket dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengukur dan mengembangan konsep diri anak dapat membentuk kepribadian anak. Mengembangkan konsep diri anak dapat membentuk kepribadian anak sebesar 75% kategori baik sekali, 19% kategori baik dan 6% dengan kategori cukup. Selain itu siswa merespon baik (78%) setelah diterapkan pengembangan konsep diri.
Tantangan dan Masa Depan Pengendalian Sosial Cyber Bullying: Diskursus Keterlibatan Sekolah sebagai Bystander Lucky Nurhadiyanto
Deviance Jurnal kriminologi Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.949 KB) | DOI: 10.36080/djk.v3i2.1103

Abstract

Dominasi dalam bentuk kekerasan, kenakalan hingga penyimpangan merupakan bagian yang sulit dipisahkan dari proses pendidikan di sekolah. Kekerasan di sekolah (yang seringkali disebut dengan bullying) tidak lagi dilakukan secara tradisional, namun beralih ke dunia maya. Alih-alih memanfaatkan kemajuan teknologi guna mengoptimalkan proses pembelajaran, seringkali kemajuan teknologi mendukung bullying itu sendiri. Hal ini menciptakan transformasi bullying tradisional yang memanfaatkan media elektronik menjadi cyber bullying. Pelaku dan korban dapat dibatasi pada lingkup pihak yang terlibat dalam berbagai konten cyber bullying. Namun, keberadaan bystander dapat mengalami rekonstruksi pada dimensi sekolah. Sekolah mampu berperan sebagai bystander aktif yang menguatkan cyber bullying. Di sisi lain, sekolah dapat pula meredam cyber bullying dengan berperan sebagai bystander pasif. Asumsi ini kiranya dapat membuka ruang diskusi tentang peran sekolah sebagai agen pengendalian sosial cyber bullying. Tulisan ini menggunakan 6 (enam) asumsi dalam perspektif kriminologi konstitutif, yakni engetahuan, diskursus, dan politik; konstruksi aturan oleh manusia dan konstruksi manusia oleh aturan; kekuasaan, bahaya, dan kejahatan; kejahatan sebagai produksi sosial; keterlibatan sistem peradilan dalam reproduksi kejahatan; dan wacana peradilan sosial. Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif bersifat deskripsti dengan bersumber pada data sekunder. Simpulan yang dapat disederhanakan diklasifikasikan seperti sekolah menjadi “muara” bahkan “penitipan” bagi orang tua, ketidakmerataan rasio guru dan siswa, model pembelajaran klasikal, distrubusi beban siswa, hingga permasalahan internal pengajar terkait dengan kesejahteraan, hingga sistem pendidikan (kurikulum) yang bersifat parsial. Ragam inventaris permasalahan mengalami kristalisasi dengan melemahnya ikatan sosial antara sekolah dengan berbagai stakeholders di dalamnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 5