cover
Contact Name
Dietriech G. Bengen
Contact Email
dieter@indo.net.id
Phone
+62251-8627323
Journal Mail Official
dieter@indo.net.id
Editorial Address
Departement of Marine Science and Technology Faculty of fisheries and marine science, IPB University Jln. Lingkar Akademik, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
ISSN : 20879423     EISSN : 2620309X     DOI : https://doi.org/10.29244/jitkt
Core Subject : Science,
Aims and Scope Journal of Tropical Marine Science and Technology (Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis) is a scientific journal in the field of tropical marine science and technology. We have a aims and scope to focus in publishing a good quality scientific articles for dissemination of research results in the field of marine science and technology. Aims As an media of information and dissemination of research results in the field of marine science and technology, especially in the waters of Indonesia and Southeast Asia region, Could actively and continuously disseminate the best research results to various stakeholders, and; This Journal of Tropical Marine Science and Technology can improve the quality of research results and benefit stakeholders. Scope The article, published in this Journal of Tropical Marine Science and Technology covers a wide range of research topics in the field of: marine biology, marine ecology, biological oceanography, chemical oceanography, physical oceanography, dynamical oceanography, coral reef ecology, marine acoustic, marine remote sensing, marine geographical information system, marine microbiology, marine polution, marine aquaculture, post-harvest fisheries technology, integrated coastal management (ICM) marine biotechnology, air-sea interaction, ocean engineering,
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 658 Documents
PERTUMBUHAN LARVA DAN PRODUKSI BENIH IKAN KERAPU BEBEK Cromileptes altivelis Valenciennes, 1828 HASIL BUDIDAYA TURUNAN KE-3 Regina Melianawati; Ni Wayan Widya Astuti; . Tridjoko
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 3 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.647 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i3.20322

Abstract

ABSTRAKKetersediaan induk dalam suatu usaha pembenihan memiliki peran yang sangat penting. Namun demikian, ketersediaan induk yang berasal dari alam sangat terbatas jumlahnya, sehingga perlu dilakukan penyediaan calon induk yang berasal dari hasil budidaya. Ikan kerapu bebek Cromileptes altivelis Valenciennes, 1828 turunan pertama (F-1) dan turunan kedua (F-2) sudah dapat diproduksi dari hasil budidaya, namun benih turunan ketiga (F-3) belum dapat diperoleh. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik morfologis dan pertumbuhan larva ikan kerapu bebek F-3 sebagai calon induk F-3, serta tingkat keberhasilan produksi benihnya. Pemeliharaan larva dilakukan dalam hatchery hingga larva menjadi benih. Parameter yang diamati meliputi panjang total dan panjang duri sirip larva, berat tubuh larva serta sintasan dan jumlah produksi benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang total larva umur 5, 15, 25 dan 35 hari, masing-masing adalah 3,20±0,07; 4,42±1,11; 8,35±1,12 dan 12,51±3,23 mm. Duri sirip mulai terukur pada larva umur 15 hari. Berat larva umur 30 hari adalah 0,11±0,04 g. Pola pertumbuhan panjang total dan berat tubuh larva adalah eksponensial, sedangkan pola pertumbuhan duri siripnya adalah linier. Masa pemeliharaan larva hingga menjadi benih adalah ± 40 hari. Jumlah benih ikan kerapu bebek F-3 yang diproduksi dalam satu kali siklus pemeliharaan berkisar 440 hingga 2.300 ekor dari 50 ekor induk dan 3 kali siklus pemijahan dengan tingkat kelangsungan hidup 1,30% hingga 8,80%. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa ikan kerapu bebek F-3 dapat diproduksi dari hasil budidaya seperti halnya pada F-1 dan F-2. ABSTRACTBroodstocks are the most important part of humpback grouper culture, but their availability in nature are limited. Therefore, it is necessary to produce broodstock candidates from culture. The first (F-1) and the second (F-2) generation of humpback grouper have already been produced but the third generation (F-3) production is still on the way. This study was conducted to find out morphological characteristic of the third generation (F-3) of humpback grouper larvae as the candidate of the third generation of broodstock, larval growth and the success rate of seed production. Larvae rearing was done in hatchery until larvae metamorphosed to be seeds. Observed variables including larval total length and spine length, larval body weight, survival rate and the juvenile productions. The study result showed the total length of 5, 15, 25 and 35 days old larvae were 3.20±0.07; 4.42±1.11; 8.35±1.12 and 12.51±3.23 mm, respectively. The spine began measured on 15 days old larvae. The body weight of 30 days old larvae was 0.11±0.04 g. The growth pattern of larval total length and body weight were exponential, while the growth of spine was linear. Rearing period from larvae to juveniles was 40 days. Number of F-3 seed production of humpback grouper produced from once rearing cycle range between 440 and 2,300 fish and the survival rate range from 1.30% up to 8.80%. Therefore, this study could indicate that seed of F-3 humpback grouper can be produced as those of F-1 and F-2.
POTENSI KEJADIAN ROB DI PESISIR PROBOLINGGO SERTA PERBANDINGAN KONDISINYA ANTARA MUSIM BARAT DAN MUSIM TIMUR BERDASARKAN DATA OSEANOGRAFI DAN METEOROLOGI Asep Sandra Budiman; Indarto Happy Supriadi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 3 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.811 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v11i3.20349

Abstract

Tidal flood has become a serious problem in several coastal areas in Indonesia, particularly in Probolinggo, East Java Province - Indonesia. The study of tidal flood in the coastal area of Probolinggo was conducted by processing and analyzing oceanographical and meteorological data to asses the possibility and to compare its variability between the West and East seasons. Data is used for this study consist of tidal and wind data from Stamet II Perak Surabaya (7 years from 2004 - 2011); rainfall data from BMKG Juanda Surabaya (9 years from 2002 - 2011); and Probolinggo topography data from SRTM (Shuttle Radar Topography Mission - http://srtm.csi.cgiar.org/). Tidal flood occurrence possibility was determined by comparing the sea level heights with the topography of the study area. the meteorological data were analyzed to compare its variability during West and East seasons. Results show that tidal flood may occur at several points on the coast of Probolinggo while the high tide occurs especially during the spring tide since the sea level was higher (0.73 m) than the topography of the coastal area of Probolinggo (<0.5 m by average). The condition becomes worse during the East season due to the existence of strong wind in the direction that contributes to generating a high wave in the coastal.
SEBARAN DAN KELIMPAHAN IKAN KARANG DI PERAIRAN PULAU LIUKANGLOE, KABUPATEN BULUKUMBA Chair Rani; Abdul Haris; Inayah Yasir; Ahmad Faizal
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 3 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (872.366 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v11i3.20557

Abstract

Ikan karang merupakan ikan yang berasosiasi dengan terumbu karang dan keberadaannya ditentukan oleh variasi dan kompleksitas terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika kekayaan jenis dan kelimpahan ikan karang pada beberapa lokasi di terumbu karang Pulau Loukangloe, Kabupaten Bulukumba dan keterkaitannya dengan tutupan karang hidup dan karang mati. Metode LIT digunakan untuk mengetahui tutupan karang hidup dan karang mati dan teknik visual sensus untuk mendata struktur komunitas ikan karang. Pendataan dilakukan pada 6 stasiun dengan 2 kedalaman (3-5 m dan 8-10 m) dan 3 kali pengulangan transek (luas area pemantauan 80 m2). Perbandingan kekayaan jenis dan kelimpahan ikan karang antar stasiun diuji dengan analisis ragam, sedangkan antar kedalaman dianalisis dengan uji t-student. Hubungan antar kekayaan jenis dan kelimpahan ikan dengan kondisi terumbu karang dilakukan dengan analisis regresi dan korelasi. Jumlah jenis pada kedalaman 3-5 m sangat dinamis di setiap bulan pengamatan dan memberikan perbedaan yang nyata, sedangkan di kedalaman 8-10 m, relatif stabil dan tidak berbeda antar stasiun. Kelimpahan ikan karang pada kedalaman 8-10 m lebih tinggi dan berbeda nyata dari kedalaman 3-10 m. Tutupan karang hidup yang tinggi memperlihatkan jumlah jenis ikan karang yang lebih kaya dan berbeda nyata dengan stasiun yang tutupan karang hidupnya rendah, namun tidak dalam hal kelimpahannya. Meskipun berkorelasi positif, namun hubungan antara tutupan karang hidup dengan jumlah jenis dan kelimpahan ikan karang tergolong lemah. Sebaliknya, berkorelasi negatif dengan tutupan karang mati yang tinggi.
SISTEM SOSIAL EKOLOGI KAWASAN DESA PESISIR KABUPATEN SUBANG . Muliani; Luky Adrianto; Kadarwan Soewardi; Sigid Hariyadi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 3 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5000.153 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i3.20597

Abstract

ABSTRAK Interaksi sistem sosial - ekologi di desa pesisir sering menimbulkan permasalahan, mulai dari menurunnya kualitas ekologi hingga terjadinya konflik sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem sosial - ekologi yang terdapat di Desa Blanakan, Desa Tanjungtiga, Desa Rawameneng, dan Desa Mayangan serta mengetahui jaringan konektivitas sistem sosial - ekologi dari desa pesisir yang terintegrasi. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder terkait sistem sosial dan sistem ekologi, analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan spasial deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem sosial – ekologi Desa Blanakan, Desa Tanjungtiga, Desa Rawameneng, dan Desa Mayangan tersusun atas jaringan sumberdaya berupa sumberdaya ikan, sumberdaya ekosistem, sumberdaya lahan, dan sumberdaya air yang digunakan oleh nelayan, petani, dan masyarakat umum. Keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya didukung oleh ketersediaan infrastruktur yang disediakan oleh pemerintah dan swasta. Jaringan konektivitas sistem sosial - ekologi dari integrasi desa pesisir menunjukkan bahwa sistem sosial antar desa pesisir terkonektivitas melalui interaksi pendidikan, kelembagaan nelayan, pelayaanan kesehatan, dan interaksi lainnya, sedangkan interaksi sistem ekologi terkonektivitas melalui jaringan fishing ground dan pemanfaatan ekosistem mangrove secara bersama terutama antara Desa Blanakan dan Desa Mayangan.  ABSTRACTThe interactions of the socio-ecological systems in the coastal villages often create problems, ranging from the declining ecological quality to social conflicts. This study aimed not only to analyze the socio-ecological systems in the villages of Blanakan, Tanjungtiga, Rawameneng, and Mayangan, but also to find out the connectivity network of socio-ecological systems of the integrated coastal villages. The data collected included primary and secondary data related to social and ecological systems. The data analysis was performed in descriptive-quantitative and descriptive-spatial manners. The results showed that the socio-ecological systems of Blanakan Village, Tanjungtiga Village, Rawameneng Village, and Mayangan Village were composed of resource networks such as fish resources, ecosystem resources, land resources, and water resources used by fishermen, farmers and general public. The sustainable utilization of the resources was supported by the availability of infrastructure provided by the government and the private sector. The connectivity network of socio-ecological ecosystems of the integrated coastal villages showed that the social systems among coastal villages were connected through educational interactions, fishermen institutions, health services, and other interactions, while the interaction of the ecological system was connected through fishing ground networks and the shared utilization of mangrove ecosystems, especially between Blanakan Village and Mayangan Village.
DISTRIBUSI DAN KONDISI KOMUNITAS LAMUN DI BANGKA SELATAN, KEPULAUAN BANGKA BELITUNG Okto Supratman; Okto Supratman; Wahyu Adi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 3 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2095.456 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i3.20614

Abstract

ABSTRAKBangka Selatan memiliki potensi keanekaragaman lamun yang tinggi, tetapi informasi yang berkaitan dengan sebaran spesies dan kondisi komunitas lamun masih belum banyak diketahui. Tujuan penelitian yaitu menentukan jumlah spesies, sebaran dan kondisi komunitas lamun di Bangka Selatan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2016 sampai Mei 2017. Lokasi penelitian dilakukan di beberapa wilayah Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Sebaran dan jumlah spesies lamun ditentukan berdasarkan gabungan data primer dan data sekunder. Pengambilan data kondisi padang lamun meliputi data tutupan dan kerapatan lamun dilakukan menggunakan transek kuadrat berukuran 50 cm x 50 cm. Hasil penelitian di Bangka Selatan ditemukan sebanyak 10 spesies lamun. Sebaran lamun  meliputi Pantai Tanjung Kerasak (9 spesies), Pulau Lepar  (8 spesies), Pesisir Desa Tukak (8 spesies), Pulau Anak Air (5 spesies), Pantai Puding dan Pulau Kelapan ditemukan hanya 4 spesies. Kondisi padang lamun di Bangka Selatan dengan kerapatan yaitu 633,37 tegakan/m2sampai 1066,76 tegakan/m2. Rata-rata persentase tutupan lamun yaitu 29,61% dikategorikan miskin.ABSTRACTSouth Bangka has a high potential for seagrass diversity, but information relating to the distribution of species and the condition of seagrass communities is still not widely understood. The research objective was to determine the number of species, distribution and conditions of seagrass communities in South Bangka. The research was conducted in June 2016 until May 2017. The location of the research was carried out in several areas of South Bangka, Bangka Belitung Islands. The distribution and number of seagrass species was determined based on a combination of primary data and secondary data. Data collection of seagrass condition includes seagrass coverage and density carried out using quadratic transect measuring 50 cm x 50 cm. The results of research in South Bangka found 10 species of seagrass. Seagrass distribution includes Tanjung Kerasak Beach (9 species), Lepar Island (8 species), Coastal Tukak Village (8 species), Anak Air Island (5 species), Puding Beach and Kelapan Island found only 4 species. Seagrass conditions in South Bangka with a density of 633.37 stands/m2 to 1066.76 stands/m2. The average percentage of seagrass cover is 29.61% which is categorized as poor.
STRUKTUR POPULASI IKAN KURAU Polynemus dubius DI TELUK PALABUHANRATU Julia Syahriani Hasibuan; Mennofatria Boer; Yunizar Ernawati
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (993.741 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i2.20654

Abstract

Teluk Palabuhanratu memiliki banyak sumberdaya ikan, salah satunya adalah ikan kurau Polynemus dubius. Aktivitas penangkapan ikan yang terus-menerus dapat mempengaruhi dinamika populasi ikan kurau. Perubahan dinamika populasi dapat diketahui dengan melihat struktur ukuran dan reproduksi ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis status populasi ikan kurau P. dubius di Teluk Palabuhanratu melalui pengkajian aspek reproduksi dan dinamika populasi selama bulan Mei-September 2017. Jumlah ikan kurau diperoleh sebanyak 384 ekor ikan jantan dan 556 ekor ikan betina dengan menggunakan metode Penarikan Contoh Acak Berlapis (PCAB). Analisis data terdiri atas sebaran frekuensi panjang, hubungan panjang bobot, serta rasio kelamin dan tingkat kematangan gonad. Hasil penelitiaan diperoleh bahwa rasio kelamin jantan dan betina adalah 1:1,45 (tidak seimbang), tingkat kematangan gonad IV terjadi pada bulan september sebesar 68% jantan dan 38% betina. Hubungan panjang bobot ikan kurau memiliki pola pertumbuhan isometrik didominasi oleh ikan belum matang gonad. Oleh karena itu, status populasi ikan kurau di Palabuhanratu sudah menunjukan overexploited dengan aspek reproduksi yang menunjukkan kondisi TKG yang tidak ideal, nilai Lc<Lm dan menangkap pada musim pemijahan akan mengganggu keberlanjutan populasi ikan ini sedangkan dari sisi dinamika populasi, pertumbuhan ikan yang seragam menunjukkan potensi pertumbuhan ikan semakin rendah dan perlu kehati-hatian dalam menetapkan target tangkapan.
STRUKTUR POPULASI IKAN TERI HITAM Stolephorus commersonii DI TELUK PALABUHANRATU Nufaiza Fitri Chandra Utami; Mennofatria Boer; Achmad Fachrudin
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.046 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i2.20678

Abstract

Ikan teri hitam Stolephorus commersonii merupakan salah satu ikan pelagis yang memiliki peranan penting dan berpotesi cukup besar bagi produksi perikanan di kawasan Teluk Palabuhanratu dibuktikan dengan jumlah hasil tangkapan berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat. Aktivitas penangkapan ikan yang terus meningkat dan dikhawatirkan dapat membahayakan kelestarian sumberdaya, sehingga penetapan dan penerapan kebijakan pengelolaan sumberdaya ikan berkelanjutan mutlak harus dilakukan. Penelitian dilakukan untuk menganalisis reproduksi dan dinamika populasi ikan teri hitam. Pengambilan contoh dilakukan bulan Mei sampai September 2017. Analisis data terdiri dari nisbah kelamin, fase tingkat kematangan gonad, sebaran frekuensi panjang dan hubungan panjang dan bobot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan contoh yang diambil berjumlah 1838 ekor tidak seimbang dengan perbandingan jantan dan betina 1:1,7 atau 36,96% : 63,04%. Ikan dominan tertangkap pada selang kelas 48-56 mm sedangkan puncak tingkat kematangan gonad pada selang kelas 91-104 mm di bulan Agustus. Pola pertumbuhan ikan teri memiliki hubungan panjang bobot yang bersifat alometrik negatif didominasi oleh ikan yang masih muda dan seharusnya tidak boleh ditangkap, sehingga perlunya penutupan daerah atau musim penangkapan dan pengaturan mata jaring dan alat tangkap untuk mencegah kerusakan lingkungan perairan.
KANDUNGAN MAGNETIT DAN DISTRIBUSI SEDIMEN PADA PANTAI ANOI ITAM, PULAU WEH Syahrul Purnawan; Irfan Kamal; Yopi Ilhamsyah; Sri Agustin; Chitra Octavina; Adam Muhammad
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.485 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i2.20982

Abstract

Keberadaan pasir besi dalam suatu wilayah memiliki peran ekonomis penting, umumnya dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk industri. Di sisi lain, kandungan mineral dan magnetit dalam sedimen dapat digunakan sebagai bahan penjejak untuk menelusuri proses transport sedimen dalam suatu lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran pola distribusi magnetit di lingkungan Pantai Anoi Itam (PAI) yang berada di bagian timur Pulau weh, Kota Sabang. Analisis komposisi magnetit bersama dengan parameter ukuran butiran rata-rata, digunakan untuk mendeskripsikan pola sebaran pasir besi yang terbentuk pada kawasan PAI. Sampel sedimen diambil pada bulan Februari 2017 menggunakan coring pada 20 stasiun di sepanjang pantai (alongshore). Parameter ukuran butiran rata-rata diperoleh menggunakan metode ayak basah, sedangkan kandungan magnetit dihasilkan dari separasi menggunakan magnet kuat Neodynium tipe n-35. Sedimen PAI dicirikan memiliki tekstur yang agak kasar, dimana tipe pasiran dengan sedikit kerikil (Slightly Gravelly Sand) umum ditemukan. Diperoleh nilai ukuran butiran rata-rata sedimen antara 0,30 mm hingga 1,72 mm, dengan rerata (average) 0,74 mm. Magnetit memiliki nilai ukuran butiran rata-rata antara 0,31 mm hingga 1,82 mm, dan diperoleh rerata sebesar 0,76 mm. Keterdapatan magnetit ditemukan dalam persentase yang tinggi pada bagian utara PAI dan menjadi lebih rendah menuju bagian selatan, sehingga disimpulkan bahwa pola sebaran magnetit berasal dari bagian utara PAI.
PEMETAAN HABITAT BENTIK BERBASIS OBJEK MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL-2 DI PERAIRAN PULAU WANGI-WANGI KABUPATEN WAKATOBI La Ode Khairum Mastu; Bisman Nababan; James P Panjaitan
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2017.861 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i2.21039

Abstract

Penelitian pemetaan habitat bentik di Pulau Wangi-wangi masih sangat sedikit dilakukan, sehingga ketersediaan data spasial habitat bentik di daerah ini sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan habitat bentik perairan dangkal menggunakan citra Sentinel-2 dengan metode klasifikasi berbasis objek/OBIA dan menghitung tingkat akurasi hasil klasifikasi habitat bentik di perairan Pulau Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi. Penelitian ini dilaksanakan di perairan Pulau Wangi-wangi, khususnya perairan Sombu Dive dan sekitarnya. Penelitian ini menggunakan data satelit Sentinel-2 dengan resolusi spasial 10x10 m2 yang diakuisisi pada tanggal 4 April 2017 dan pengambilan data lapangan dilakukan pada bulan Maret - April 2017. Klasifikasi citra dengan metode OBIA menggunakan metode contextual editing pada level 1. Level 2 menggunakan klasifikasi terbimbing dengan beberapa algoritma klasifikasi yaitu support vector machine (SVM), decision tree (DT), Bayesian, dan k-nearest neighbour (KNN) dengan input themathic layer dari data lapangan. Klasifikasi habitat bentik dilakukan pada 12 dan 9 kelas dengan penerapan optimasi skala segmentasi yaitu 1, 1,5, 2, dan 2,5. Berdasarkan metode OBIA, habitat bentik dapat dipetakan dengan tingkat akurasi sebesar 60,4% dan 64,1% pada citra klasifikasi 12 dan 9 kelas secara berturut-turut pada nilai optimum skala segmentasi 2 dengan algoritma SVM.
PENGARUH KOMPOSISI MINERAL AIR TANAH TERHADAP FISIOLOGI DAN HISTOLOGI UDANG VANAME Litopenaeus vannamei Agus Dwiono; Bambang Widigdo; Kadarwan Soewardi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 3 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3316.862 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i3.21049

Abstract

ABSTRAKBanyak petambak udang vaname L. vannamei di pantai utara Jawa menggunakan air tanah (groundwater) sebagai media budidaya dengan tujuan untuk menghindari berbagai kontaminan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi komposisi mineral utama air tanah di kabupaten Karawang (Jawa Barat), serta pengaruhnya terhadap performa pertumbuhan, fisiologi dan histologi udang vaname. Penelitian dengan metode ex post-facto didasarkan pada pengamatan tiga kolam budidaya selama 83 hari masa pemeliharaan. Antar kolam penelitian terdapat perbedaan nyata (p<0,05) pada parameter salinitas (12-16 ppt), SO42‾ (148-642 mg/L) dan Na/K (26,6-45,2). Hasil penelitian memperlihatkan udang memiliki bobot tubuh rata-rata (ABW) sebesar 8,83; 17,3; dan 18,5 g serta sintasan (SR) sebesar 37,7; 81,7; dan 78,3% masing-masing untuk kolam A, B dan C. Rendahnya ABW dan SR kolam A diperkirakan karena pengaruh infeksi Enterocytozoon hepatopenaei. Udang dari kolam C (Na/K=45,2) memiliki konsentrasi glukosa hemolim lebih tinggi dibanding kolam B (Na/K=26,6), yang mengindikasikan bahwa udang kolam C lebih terpapar stres. Hepatopankreas udang kolam C mengalami beberapa kelainan berupa atrofi tubulus, sloughing cell, dan penurunan jumlah sel sekretori, sementara kelainan tersebut tidak ditemukan pada kolam B. Meskipun relatif tidak ada perbedaan performa pertumbuhan antara kolam B dengan kolam C, namun secara fisiologis dan histologis terdapat perbedaan yang dimungkinkan akibat dari perbedaan rasio Na/K media. ABSTRACTMany shrimp farmers on the northern coast of Java used groundwater as a culture media in order to avoid various contaminants. This study aimed to evaluate the major mineral composition of inland saline groundwater (ISGW) in Karawang (West Java, Indonesia) and its effects on the growth, physiology, and histology of L. vannamei. Ex post-facto study was done based on observations of three ponds during 83 days of shrimp culture. Between ponds there were significant differences (p <0.05) on salinity (12-16 ppt), SO42‾ (148-642 mg/L) and Na/K (26.6-45.2). The results showed that shrimp’s average body weight (ABW) and survival rate (SR) of pond A, B and C was 8.83, 17.3, and 18.5 g; and 37.7, 81.7, and 78.3% respectively. The low ABW and SR of pond A were possibly due to the influence of Enterocytozoon hepatopenaei infection. Pond C (Na/K=45.2) significantly has a higher shrimp’s hemolymph glucose concentration than pond B (Na/K=26.6), indicated more exposed to stress. Similarly, shrimp’s hepatopancreas of pond C has some abnormalities that were not found in pond B. Although relatively there was no difference in the growth performance between pond B and pond C, but physiologically and histologically there were some differences that possibly due to the difference in Na/K ratio of the media.

Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 17 No. 3 (2025): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 17 No. 2 (2025): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 17 No. 1 (2025): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 16 No. 3 (2024): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 16 No. 2 (2024): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 16 No. 1 (2024): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 15 No. 3 (2023): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 15 No. 2 (2023): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 15 No. 1 (2023): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 14 No. 3 (2022): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 14 No. 1 (2022): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 13 No. 3 (2021): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 13 No. 2 (2021): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 13 No. 1 (2021): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 3 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 3 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 2 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 1 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 3 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 1 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 9 No. 2 (2017): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 9 No. 1 (2017): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 8 No. 2 (2016): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 8 No. 1 (2016): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 7 No. 2 (2015): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 7 No. 1 (2015): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 6 No. 2 (2014): Electronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 6 No. 1 (2014): Electronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 5 No. 2 (2013): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 5 No. 1 (2013): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 4 No. 2 (2012): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 4 No. 1 (2012): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 3 No. 2 (2011): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 3 No. 1 (2011): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 2 No. 2 (2010): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 2 No. 1 (2010): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 1 No. 2 (2009): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 1 No. 1 (2009): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis More Issue