cover
Contact Name
Jabes Pasaribu
Contact Email
jabespasaribu031@gmail.com
Phone
+6285372472039
Journal Mail Official
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Editorial Address
Gedung House of Glory Lt.3-4, Jl. Ahmad Yani, Eden Park; Kel. Taman Baloi, Kec. Batam Kota, Kotamadaya Batam, Kepulauan Riau.
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika
ISSN : 26853515     EISSN : 26853485     DOI : -
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani dengan ciri Pentakostal-Kharismatika, dengan nomor ISSN: 2685-3485 (online), ISSN: 2685-3515 (print), dikelola dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi REAL, Batam, Kepulauan Riau. Focus dan Scope penelitian DIEGESIS adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru); Teologi Sistematika; Teologi Pastoral; Misiologi; Isu-isu Pentakostal-Kharismatika. DIEGESIS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari semua institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 105 Documents
Pantekostalisme dalam Studi Agama: Merekonstruksi Sejarah Sosio-Intelektual di Indonesia Elia Tambunan; MC Reonald Debataraja
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 2: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.628

Abstract

Some say that there is no Pentecostal theology, there is only biblical theology by previous academics, that is the main problem in this article. According to the author, the argument built on the framework and work of postcolonial studies epistemology actually reveals things related to Pantecost in Indonesia (including theology) for the emergence of something distinctive, local, and original, which is then named Pantecostalism as a technical umbrella term. So that, this article is not the same as the previous researcher. This qualitative research paper is a social history approach with a source analysis method. We collected apart from primary, empirical, observational, interview, as well as literature studies, whether it is by academics working in the Pentecostal field including social media on various platforms, website pages or non-Pantecostal but as a secondary source for the sake of building the solidity of the decipherment of the writing. This paper presents the findings of a new intellectual orientation on Pantecostal studies in Indonesia that should not be equated with studying global Pentecostalism, because Pantecostalism, although it has a historicality from a socio-intellectual perspective, has its own distinction so that it is appropriate to be included as an inherent part of the study of religion. Keywords: Indonesia; pantecostalism; socio-intellectual; study of religionAbstrak Tak sedikit yang mengatakan, tidak ada teologi Pantekosta, yang ada ialah teologi alkitabiah saja oleh para akademisi sebelumnya, itulah masalah utama dalam tulisan ini. Oleh penulis, argumentasi yang dibangun berdasarkan kerangka pikir dan kerja epistemologis postcolonial studies justru menampakkan hal-hal sekaitan dengan Pantekosta di Indonesia (termasuk teologi) demi munculnya sesuatu hal yang khas, yang lokal, dan yang asali, yang kemudian dinamai dengan Pantekostalisme sebagai payung istilah secara teknis. Sehingga, tulisan ini tidak sama dengan peneliti sebelumnya. Tulisan penelitian kualitatif ini pendekatan sejarah sosial dengan metode analisis sumber. Kami mengumpulkan data selain dari sumber primer, empiris, observasi, wawancara, juga dengan kajian literatur, apakah itu oleh akademisi yang bekerja di ladang Pantekosta termasuk media sosial berbagai platform, laman website maupun yang bukan Pantekosta namun sifatnya sebagai sumber sekunder demi terbangunnya soliditas uraian tulisan. Tulisan ini menampilkan temuan kebaruan orientasi intelektual terkait studi Pantekosta di Indonesia yang tidak boleh, tidak perlu disama-samakan dengan studi global Pentekostalisme karena Pantekostalisme meskipun memiliki pertalian historisitas dari sisi sosio-intelektual tetapi memiliki distingsi tersendiri sehingga tepat dimasukkan sebagai bagian inheren studi agama.Kata-Kata Kunci: Indonesia; pantekostalisme; sosio-intelektual; studi agama
Konsep Manusia Theosis sesuai Injil, Menurut Matius 13:45-46 Analisis Perumpamaan Yesus Yolin ilo; Hendi Wijaya
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 1: Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i1.192

Abstract

This article is the result of research on an effort to seize a valuable opportunity according to the Gospel of Matthew 13:45-46 to become similar to Christ in eternity (Kingdom of Heaven). The method used is the exegesis method. The results show that the effort or ability to choose the most valuable opportunity is the key to uniting oneself with God in eternity. Everyone who is aware of the precious opportunity that is given, will completely surrender himself to God, and try to discipline himself through obedience in becoming a disciple of Christ and choosing to live with Christ. In the end, the effort to choose the most valuable opportunity, makes everyone live in obedience that unites with Christ.Keywords: effort; respond to opportunities; surrender to Christ; become a disciple of Jesus.AbstrakArtikel ini merupakan hasil penelitian tentang sebuah usaha meraih kesempatan yang berharga menurut Injil Matius 13:45-46 untuk menjadi serupa dengan Kristus dalam kekekalan (Kerajaan Sorga). Metode yang digunakan adalah metode eksegesis. Hasilnya menunjukkan bahwa usaha atau kemampuan memilih kesempatan yang paling berharga adalah kunci menuju pada penyatuan diri dengan Allah dalam kekekalan. Setiap orang yang sadar akan kesempatan berharga yang diberikan, maka akan sepenuhnya menyerahkan diri kepada Allah, serta berusaha mendisiplinkan diri melalui ketaatan dalam menjadi murid Kristus dan memilih hidup bersama dengan Kristus. Pada akhirnya usaha memilih kesempatan yang paling berharga tersebut, menjadikan setiap orang hidup dalam ketaatan yang menyatu dengan Kristus.Kata kunci: usaha; meresponi kesempatan; menyerahkan diri pada Kristus; menjadi murid Yesus.
Memaknai “Kehendak-Mulah Yang Jadi” Berdasarkan Lukas 22:42 dan Aplikasinya bagi Peningkatan Iman Anggota Gereja Toraja Monika Jerry D. Londongna; Stephani Intan M. Siallagan; Deflit Dujerslaim Lilo
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 1: Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i1.243

Abstract

The aim of this study is to find out the meaning of "Thy will be done" according to the Bible in Luke 22:42, to find the right application for the lives of Toraja Church members of the Gloria Buttutanga, Buakayu Klasis. The authors begin with an overview and background of Luke 22:42, as well as an analysis of the text and then describes the understanding of church members Gloria Church about "Thy will be done" and the practices of life that members of the Gloria Church should have based on the meaning of "Thy will be done" from Luke 22:42. The qualitative research methods used in this research are literature review and a field study. For literature studies, the researcher also used the hermeneutic method, while field studies are carried out by observation and interview.  First, the phrase "Thy will be done" in Luke 22:42 can be interpreted as a form of total surrender and perfect obedience from Jesus. Second, members of the Toraja Church congregation in Gloria Buttutanga who are still weak in faith due to the suffering of life experienced should surrender themselves to God in totality and continue to live in obedience despite the suffering of life.Keywords: God's will; obedience; faith; the suffering of life.AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna “Kehendak-Mulah Yang Jadi” menurut Alkitab dalam Lukas 22:42 untuk menemukan penerapan yang tepat bagi kehidupan anggota Gereja Toraja Jemaat Gloria Buttutanga, Klasis Buakayu. Penulis memulai dengan gambaran umum dan latar belakang Lukas 22:42, serta analisis teks dan selanjutnya memaparkan pemahaman anggota jemaat Gloria Buttutanga Klasis Buakayu tentang “kehendak-Mulah yang jadi” dan praktek kehidupan yang harus dimiliki oleh anggota Jemaat Gloria berdasarkan makna “kehendak-Mulah yang jadi” dari Lukas 22:42. Metode penelitian kualitatif yang digunakan dalam peneltian ini adalah studi pustaka dan studi lapangan. Untuk studi pustaka, penulis gunakan juga metode hermeneutik sedangkan studi lapangan dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Temuan penelitian ini yaitu: pertama, frasa “Kehendak-Mulah Yang Jadi” di dalam Lukas 22:42 dapat dimaknai sebagai bentuk penyerahan diri total dan ketaatan yang sempurna dari Yesus. Kedua, anggota jemaat Gereja Toraja di Gloria Buttutanga yang masih lemah imannya karena penderitaan hidup yang dialami, seyogianya menyerahkan diri kepada Tuhan secara totalitas dan tetap hidup dalam ketaatan meski berada dalam penderitaan hidup.Kata kunci: kehendak Allah; ketaatan; iman; penderitaan hidup
Konsekuensi Atas Pemberitaan Injil Palsu Menurut Galatia 1:8-9: Sebuah Analisis Tentang Kemarahan Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia Cange Esra Runisi Gulo
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 5 No. 2: Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.255

Abstract

Consequences of false preaching of the gospel in (Galatians 1:8-9): An analysis of the apostle Paul's anger at the Galatians. The anger expressed by the apostle Paul was of great benefit especially to the Galatians who passed from Christ to living under the Law. In this study, the author used the exegesis method with a syntactic and semantic approach to text analysis by focusing on the text itself and interacting with other texts in the Bible as well as with various libraries, books, journals that discuss related topics. So, through this method, the author was able to find the meaning of the apostle Paul's anger in (Galatians 1:8-9). The results of this research can be revealed that the consequence of false preaching of the gospel is a curse that creates separation from God and becomes a person who does not love God. It can be known that when man is separated and does not live in Christ, he can do nothing and will perish. Thus, the activity of preaching the gospel should be carried out together with God the Holy Spirit who is the guide so that everyone who carries out the preaching of the gospel, the Ecclesiastes and Teachers of dogma, does not deviate from the purpose of God's mission, and faithfully embraces people to become believers and have faith in the Lord Jesus Christ.Keywords: consequences; gospel; false; aacursed; separated AbstrakKonsekuensi atas pemberitaan injil palsu dalam (Galatia 1:8-9): Sebuah analisis tentang kemarahan rasul Paulus kepada jemaat di Galatia. Kemarahan yang diungkapkan rasul Paulus ini sangat bermanfaat terutama bagi jemaat Galatia yang beralih dari Kristus kepada hidup dibawah Hukum Taurat. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode eksegesis dengan pendekatan analisis teks secara sintaksis dan semantis dengan berfokus pada teks itu sendiri dan melakukan interaksi dengan teks-teks yang lain dalam Alkitab serta dengan berbagai pustaka, buku-buku, jurnal yang membahas topik terkait. Sehingga melalui metode ini, penulis dapat menemukan makna dari kemarahan rasul Paulus dalam (Galatia 1:8-9). Hasil dari penelitian ini dapat disingkapkan bahwa konsekuensi dari pemberitaan injil palsu adalah sebuah kutukan yang menimbulkan keterpisahan dengan Allah serta menjadi pribadi yang tidak mengasihi Allah. Dapat diketahui bahwa ketika manusia terpisah dan tidak hidup dalam Kristus, ia tidak dapat berbuat apa-apa dan akan binasa. Jadi, kegiatan pemberitaan injil seharusnya dilakukan bersama dengan Allah Roh Kudus yang menjadi penuntun sehingga setiap orang yang melaksanakan pemberitaan injil, para Pengkhotbah dan Pengajar dogma, tidak menyimpang dari tujuan misi Allah, dan dengan setia merangkul orang-orang untuk menjadi percaya dan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus.Kata kunci: konsekuensi; injil; palsu; terkutuk; terpisah
Internalisasi Moderasi Beragama dalam Konteks Oikumene di Kampus STAKPN Sentani Santy Layan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 5 No. 2: Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.260

Abstract

This paper aims to analyze the internalization of religious moderation values using the ecumenical approach at the STAKPN Sentani campus. This research uses a qualitative approach with a case study method. Researchers used an approach of in-depth interviews, observations, and documentation studies for data collection in this study. The research found that the internalization of moderation values for students in the STAKPN Sentani environment, which is different denominations and Church doctrines, was successfully carried out by campus residents, so that harmonization, togetherness, and responsibility in caring for life together remained intertwined until this moment. Several perspectives have been considered in religious moderation from an ecumenical point of view among students to ensure that no divisions among doctrines or traditions have been held. The conclusion that can be drawn is that ecumenism is the choice of path used to connect Christians in all aspects, including denominations, doctrines, and common ideals for proclaiming the gospel. Through the internalization of moderation values for students in STAKPN Sentani environments of different denominations and doctrines the Church can take care of harmonization, unity, togetherness, and shared responsibility in arranging life together according to God's will.Keywords: STAKPN Sentani students; religious moderation; Ecumene AbstrakPenulisan ini bertujuan menganalisis internalisasi nilai-nilai moderasi beragama menggunakan pendekatan oikumene di kampus STAKPN Sentani. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Peneliti menggunakan pendekatan yaitu wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi untuk pengumpulan data dalam penelitian ini. Penelitian menemukan, internalisasi nilai-nilai moderasi bagi mahasiswa di lingkungan STAKPN Sentani yang berbeda denominasi dan doktrin Gereja berhasil dilakukan oleh warga kampus, sehingga harmonisasi, kebersamaan, dan tanggung jawab dalam merawat hidup bersama tetap terjalin sampai detik ini. Beberapa perspektif telah dipertimbangkan dalam moderasi agama dari sudut pandang oikumene di kalangan mahasiswa untuk memastikan bahwa tidak ada perpecahan di antara doktrin atau aliran yang telah dipegang. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah oikumene menjadi pilihan jalan yang digunakan untuk menghubungkan umat Kristiani dalam segala aspek, termasuk denominasi, doktrin, dan cita-cita bersama untuk mewartakan injil. Melalui internalisasi nilai-nilai moderasi bagi mahasiswa di lingkungan STAKPN Sentani yang berbeda denominasi dan doktrin Gereja dapat merawat harmonisasi, persatuan, kebersamaan, dan tanggung jawab bersama dalam menata hidup bersama sesuai kehendak Tuhan.Kata kunci: mahasiswa STAKPN Sentani; moderasi beragama; oikumene
Penghakiman Yang Akan Datang: Refleksi Teologis Bagi Kehidupan Kristiani Febri Yanto Ziliwu; Ishak Kukuh Soliyanto; Kharisda Mueleni Waruwu
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 5 No. 2: Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.266

Abstract

Talking about the upcoming judgment is a mysterious thing that is certainly questioned by everyone, causing their own fears, some are not too curious and even most don't really know what the upcoming judgment will look like. As a result, different opinions have emerged in response to this. In the Old and New Testament Bibles it is written how God gives a picture of the judgment. Thus, this article attempts to examine theologically the upcoming judgments found in the Old to New Testaments with the aim that people have a correct picture of the coming judgments. Researchers use descriptive analytical methods to explain the concept of judgment in the Old Testament, and the concept of judgment in the New Testament. In this study, it is a reflection that the judgment that occurs is inseparable from how God relates to His creation, all will experience both the living and the just dead and the person who does so is God Himself. Thus, man needs to maintain the sanctity of life, make the word the center of life, keep hope in Jesus and carry out the Great Commission until thetime of judgment comes.Keywords: bible; judgment; new testament; old testament AbstrakBerbicara mengenai penghakiman yang akan datang merupakan suatu hal yang misterius yang tentunya dipertanyakan oleh setiap orang sehingga menimbulkan ketakutan tersendiri, ada pula yang tidak terlalu ingin tahu bahkan sebagian besar tidak terlalu spesifik tahu seperti apa kelak penghakiman yang akan datang itu. Akibatnya muncul berbagai pendapat yang berbeda-beda dalam menanggapi hal demikian. Dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru telah tertulis bagaimana Allah memberikan gambaran kelak mengenai penghakiman itu. Dengan itu, artikel ini mencoba mengkaji secara teologi penghakiman yang akan datang yang terdapat dalam Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru dengan tujuan agar umat memiliki gambaran yang benar akan penghakiman yang akan datang. Peneliti menggunakan metode deskriptif analitik untuk memaparkan konsep penghakiman dalam Perjanjian Lama, dan konsep penghakiman dalam Perjanjian Baru. Dalam kajian ini mendapatkan sebuah refleksi bahwa penghakiman yang terjadi tidak terlepas dari bagaimana hubungan Allah dengan ciptaan-Nya, semua akan mengalami baik yang hidup maupun yang telah mati secara adil dan oknum yang melakukannya ialah Allah sendiri. Dengan itu, manusia perlu menjaga kekudusan hidup, menjadikan firman sebagai pusat hidup, tetap berpengharapan pada Yesus dan melaksanakan Amanat Agung hingga waktunya penghakiman itu tiba.Kata kunci: alkitab; penghakiman; perjanjian baru; perjanjian lama
Implikasi Paralelisme Janus dalam Filipi 3:9 Bagi Iman Percaya Masa Kini Candra Gunawan Marisi
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 5 No. 2: Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.267

Abstract

Paul is a great writer. As a Pharisee is undoubtedly his skill as an interpreter and writer with the semistic style seen in parts of his writings. The basic point for understanding the epistles, however, is that in the Jewish and Pharisee backgrounds it remained an integral part of Paul. His identity as a Jew and his concern for his nation's heritage provide one side of dialogue that continues throughout the letter, an arch that runs back and forth across patterns. Likewise, in Paul's writings in Philippians 3:9, there is a central point of Paul's belief in God's justification. This research was conducted using a qualitative method with a semantic analysis approach, namely with the literary style of Janus parallelism and the polysemy parallelism approach to texts. There is a literary style of Janus's parallelism in Paul's writing style in Philippians 3:9. Through this method of parallelism Janus can look deeper into the meaning written by Paul of "the justification of God through the Faithfulness of Christ." This verse has similarities with what Paul wrote in Romans 1:17 and Galatians 2:16 and 3:11 regarding the believer's justification first of all because of "Christ's faithfulness" until death even to death on the cross. Paul had a firm conviction that believers are justified not because of the law, but believers are justified because of Christ's faithfulness which is the righteousness that God bestows upon believers.Keywords: janus parallelism; polysemy parelelism; Paul; pistis; Philippian’s letter AbstrakPaulus merupakan seorang penulis yang handal. Sebagai seorang Farisi tidak diragukan lagi keahliannya sebagai penafsir dan penulis dengan gaya semistik yang terlihat dalam bagian-bagian tulisannya. Poin dasar untuk pemahaman tentang surat-surat itu, bagaimanapun, adalah bahwa di latar belakang Yahudi dan Farisi tetap menjadi bagian integral dari Paulus. Identitas dirinya sebagai seorang Yahudi dan kepeduliannya terhadap warisan bangsanya memberikan satu sisi dialog yang berlanjut di seluruh surat, lengkungan yang berjalan bolak-balik di seluruh pola. Demikian juga terlihat dalam tulisan Paulus di surat Filipi 3:9 terdapat pusat keyakinan Paulus terhadap pembenaran Allah. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan analisa semantik, yakni dengan gaya sastra paralelisme Janus dan pendekatan paralelisme polisemi terhadap teks. Terdapat gaya sastra paralelisme Janus pada gaya penulisan Paulus dalam teks Filipi 3:9. Melalui metode paralelisme Janus ini dapat melihat lebih dalam kepada makna yang dituliskan oleh Paulus tentang “pembenaran Allah melalui Kesetiaan Kristus.” Ayat ini memiliki kesamaan dengan apa yang Paulus tuliskan di dalam Roma 1:17 dan Galatia 2:16 dan 3:11 mengenai pembenaran orang percaya pertama-tama adalah karena “kesetiaan Kristus” sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib. Paulus memiliki keyakinan yang teguh bahwa orang percaya dibenarkan bukan karena melakukan hukum Taurat, melainkan orang percaya dibenarkan karena kesetiaan Kristus yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan kepada orang percaya.Kata kunci: paralelisme janus; parelelisme polisemi; Paulus; pistis; surat filipi
Cara Pandang Kaum Pentakostal Mencermati Pelayanan Petrus Sang Tokoh Kontraversi Kosma Manurung
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 5 No. 2: Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.270

Abstract

For the Pentecostals, Peter's life was always interesting to observe. Peter, who was originally just a fisherman, usually fished, but his encounter with God turned him into a fisher of men. In addition, there were various supernatural events that Peter saw and experienced in his life. One of the interesting events to study that occurred in Peter's ministry, is presented very nicely in Acts 9:32-43 which the researcher then makes the purpose of this article by framing it from the perspective of the Pentecostals. The use of the method of description and support from literature review is expected to provide a clear, accurate, and adequate picture of the story of Peter's life and ministry, an overview of the story of Peter's ministry in the passage of Acts 9:32-34, and the perspective of the Pentecostals regarding this story. For the Pentecostals this story of Peter's enrichment provides an example in leadership and ministry, a life filled with God's supernatural powers, the importance of doing good to others, and a mandatory choice to live in a community of believers.Keywords: spiritual community; Peter's ministry; Pentecostal Theology AbstrakBagi kaum Pentakostal, kehidupan Petrus selalu menarik untuk dicermati. Petrus yang awalnya hanya seorang nelayan yang biasanya menjala ikan, namun pertemuannya dengan Tuhan merubahnya menjadi penjala manusia. Selain itu, ada berbagai peristiwa supranatural yang Petrus lihat dan alami dalam hidupnya. Salah satu peristiwa menarik untuk dikaji yang terjadi dalam pelayanan Petrus, disuguhkan dengan sangat apik dalam Kisah Para Rasul 9:32-43 yang kemudian peneliti jadikan tujuan dalam artikel ini dengan membingkainya dari cara pandang kaum Pentakostal. Penggunaan metode deskripsi dan dukungan dari kajian literatur diharapkan bisa memberikan gambaran yang jelas, cermat, dan memadai terkait selayang pandang kisah hidup dan pelayanan Petrus, gambaran kisah pelayanan Petrus dalam perikop Kisah Para Rasul 9:32-34, dan cara pandang kaum Pentakostal terkait kisah ini. Bagi kaum Pentakostal kisah pelayaan Petrus ini memberikan keteladanan dalam kepemimpinan maupun pelayanan, adanya kehidupan yang dipenuhi kuasa supranatural Allah, pentingnya berbuat baik kepada sesama, dan pilihan wajib untuk hidup dalam komunitas orang percaya.Kata kunci: komunitas rohani; pelayanan Petrus; teologi pentakostal
Keterikatan Pengambilan Keputusan, Konsistensi Sifat-Sifat Bijak dan Evaluasi Karakter dalam Pembentukan Integritas (Paralelisme Amsal 28:6; 19:1) Farel Yosua Sualang
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 1: Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i1.378

Abstract

The groups of Proverbs 10-29 present a topical discussion, such as wealth, poverty, honesty, diligence, gentleness, etc. Proverbs 28:6; 19:1 speaks of the integrity of wise men who do not prioritize wealth. The problem is that interpreters limit the emphasis to elements essential to the formation of integrity in the assemblies of Proverbs 10-29, such as decision-making and character habituation. However, using a qualitative study of the sub-interpretive design of wisdom literature (especially considering the structure of parallelism, figurative language style), this article finds that there is an attachment between decision making, consistency in the nature of wisdom and character evaluation in the formation of integrity in a wise person. The attachment of these three elements is due to the existence of the wording pattern of item-evaluation and the character of the evaluation of parallelism Proverbs 28:6; 19:1.Keywords: Integrity; Parallelism; Book of Proverbs AbstrakKumpulan-kumpulan Amsal 10-29 menyuguhkan suatu pembahasan secara topikal, misalnya mengenai kekayaan, kemiskinan, kejujuran, ketekunan, kelemahlembutan, dll. Tidak terkecuali mengenai topik integritas, Amsal 28:6;19:1 membahas mengenai integritas dari orang bijak yang tidak mengutamakan harta kekayaan. Permasalahannya, para penafsir hanya membatasi penekanan elemem-elemen penting dalam pembentukan integritas dalam kumpulan-kumpulan Amsal 10-29, misalnya pengambilan keputusan dan pembiasaan karakter. Akan tetapi, dengan menggunakan kajian kualitatif sub interpretative design sastra hikmat (khususnya memperhatikan struktur paralelisme, gaya bahasa kiasan), artikel ini menemukan bahwa adanya keterikatan antara pengambilan keputusan, konsistensi pada sifat-sifat hikmat dan evaluasi karakter dalam pembentukan integritas pada seseorang yang bijak. Keterikatan ketiga elemen ini disebabkan oleh adanya pola perkataan item-evaluasi dan karakter evaluasi terhadap paralelisme Amsal 28:6; 19:1.Kata Kunci: Integritas; Paralelisme; Kitab Amsal.
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH: Diajukan Sebagai Model Kajian Alkitab dalam Ibadah Keluarga Fredrik Warwer
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 1: Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i1.384

Abstract

Problem-based learning can improve conceptual understanding and constructive thinking. This research aims to develop a problem-based learning model design and an ideal family or cell group worship design. Family worship or cell group worship is a worship that is carried out regularly once a week. This research was conducted at the Smirna GKII Sentani Papua Congregation, qualitative, data collection was carried out through observation and review of articles. The problem-based learning model developed consists of six stages, namely determining the problem; problem analysis; information retrieval; synthesis of knowledge; conclusion and evaluation of the problem-solving process; as well as evaluation of activities. The worship design developed includes leading praise and opening prayers (initial activities), prayers, preaching God's Word, devotionals (core activities), intercessory prayers and offerings, concluding (final activities). The problem-based learning model is carried out on the core activities and the problems discussed are raised from the bible passages read. During the process of core activities, church members play an active role in discussions, expressing opinions, explore Bible passages related to the problems discussed, providing solutions to problems appropriately based on Bible verses. This model is expected to be used as an alternative model in the implementation of family worship or cell groups, because it can empower congregation members.Keywords: Problem Based Learning Model; Smirna GKII Sentani Chruch; Worship; JonahAbstrakPembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan pemahaman konseptual dan pemikiran konstruktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain model pembelajaran berbasis masalah dan desain ibadah keluarga atau kelompok sel yang ideal. Ibadah keluarga atau kelompok sel dimaksud merupakan ibadah yang dilakukan secara rutin satu kali dalam seminggu. Penelitian ini dilakukan di Jemaat Smirna GKII Sentani Papua, bersifat kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan review artikel. Model pembelajaran berbasis masalah yang dikembangkan terdiri dari enam tahap, yaitu menentukan masalah; analisis masalah; penelusuran informasi; sintesis pengetahuan; kesimpulan dan evaluasi proses pemecahan masalah; serta evaluasi kegiatan. Desain ibadah yang dikembangkan meliputi memimpin pujian dan doa pembukaan (kegiatan awal), doa, pemberitaan Firman Tuhan, renungan (kegiatan inti), doa syafaat dan persembahan, penutup (kegiatan akhir). Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan pada kegiatan inti dan masalah yang dibahas diangkat dari bagian Alkitab yang dibaca. Selama proses kegiatan inti berlangsung, anggota jemaat berperan aktif dalam diskusi, mengemukakan pendapat, melakukan penelusuran bagian alkitab yang terkait dengan masalah yang dibahas, memberikan solusi terhadap masalah dengan tepat berdasarkan ayat Alkitab. Model ini diharapkan dapat dijadikan alternatif model dalam pelaksanaan ibadah keluarga atau kelompok sel, karena dapat memberdayakan anggota jemaat.Kata kunci: Model Pembelajaran Berbasis Masalah; Jemaat Smirna GKII Sentani; Ibadah; Yunus

Page 7 of 11 | Total Record : 105