cover
Contact Name
Yunardi Kristian Zega
Contact Email
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Phone
+6281213076611
Journal Mail Official
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Editorial Address
Gedung House of Glory Lt.3-4, Jl. Ahmad Yani, Eden Park; Kel. Taman Baloi, Kec. Batam Kota, Kotamadaya Batam, Kepulauan Riau.
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika
ISSN : 26853515     EISSN : 26853485     DOI : -
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani dengan ciri Pentakostal-Kharismatika, dengan nomor ISSN: 2685-3485 (online), ISSN: 2685-3515 (print), dikelola dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi REAL, Batam, Kepulauan Riau. Focus dan Scope penelitian DIEGESIS adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru); Teologi Sistematika; Teologi Pastoral; Misiologi; Isu-isu Pentakostal-Kharismatika. DIEGESIS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari semua institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 61 Documents
Konsep Simbol Keagamaan Yang Sakral Menurut Mircea Eliade Dan Relevansinya Bagi Umat Kristiani Dalam Relasi Antar Agama Di Indonesia Bruto, Siprianus; Widyawati, Fransiska; Tangi, Antonius Marius
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 1: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.491

Abstract

Incidents of religious harassment are frequently reported in Indonesia, often manifesting as insults or damage to sacred religious symbols, including those of Christianity. This not only disrupts the tranquility of the Christian community but also undermines interfaith relationships. This study explores the thoughts of Mircea Eliade on sacred religious symbols, distinguishing them from the profane, and assesses their relevance to Christians and the development of interfaith relations. The research aims to reinforce Christian understanding of the sacred and profane within their religion and to correlate these concepts with biblical principles. A qualitative approach, specifically a literature review, is employed in this study. The findings suggest that Eliade’s philosophy provides a theoretical framework for comprehending the sanctity of symbols across religions. Each religion has its unique interpretation of the sacred and profane, shaped by its theological and historical context. Sacred elements demand a different level of respect and protection compared to the profane. Eliade’s philosophy aligns with the interpretation of the Scriptures, which also employ symbols to depict the presence of the Holy Trinity. For Indonesian Christians, Eliade’s thoughts are relevant as they encourage religious communities to respect each other’s religious symbols, engage in symbolic dialogues, and strengthen faith experiences and relationships. Eliade’s philosophy can enrich Christians’ understanding of the sanctity of religious symbols. Externally, Christians can apply Eliade’s philosophy to foster respect and build tolerant and inclusive interfaith relationships. Keywords: Mircea Eliade; Symbol; Sacred; Religious Relations; InfidelAbstrak Insiden pelecehan agama sering dilaporkan di Indonesia, seringkali berwujud penghinaan atau kerusakan terhadap simbol-simbol sakral agama, termasuk simbol-simbol milik agama Kristen. Hal ini tidak hanya mengganggu ketenangan komunitas Kristen tetapi juga merusak hubungan antaragama. Studi ini mengeksplorasi pemikiran Mircea Eliade tentang simbol-simbol keagamaan yang sakral, membedakannya dari yang profan, dan menilai relevansinya bagi umat Kristen dan pengembangan hubungan antaragama. Penelitian ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman umat Kristen tentang konsep sakral dan profan dalam agama mereka dan untuk mengaitkan konsep-konsep ini dengan prinsip-prinsip Alkitab. Pendekatan kualitatif, khususnya studi literatur, digunakan dalam penelitian ini. Temuan menunjukkan bahwa filsafat Eliade memberikan kerangka teoritis untuk memahami kesucian simbol di berbagai agama. Setiap agama memiliki interpretasi unik tentang sakral dan profan, yang dibentuk oleh teologi dan konteks historisnya. Elemen-elemen sakral menuntut tingkat penghormatan dan perlindungan yang berbeda dibandingkan dengan yang profan. Filsafat Eliade sejalan dengan interpretasi Kitab Suci, yang juga menggunakan simbol untuk menggambarkan kehadiran Allah Tritunggal. Bagi umat Kristen di Indonesia, pemikiran Eliade relevan karena mendorong komunitas agama untuk saling menghormati simbol-simbol agama masing-masing, melakukan dialog simbolik, dan memperkuat pengalaman dan hubungan iman. Pemikiran Eliade dapat memperkaya pemahaman umat Kristen tentang kesucian simbol-simbol keagamaan. Secara eksternal, umat Kristen dapat menerapkan pemikiran Eliade untuk menunjukkan penghormatan dan membangun hubungan antaragama yang toleran dan inklusif.Kata Kunci: Mircea Eliade; simbol; sakral; relasi agama; kafir
Hakikat Kemiskinan Menurut Montfort Dan Relevansinya Bagi Kehidupan Umat Katolik Di Indonesia Syukur, Yakobus; Firmanto, Antonius Denny
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 1: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.523

Abstract

This research aims to explore the nature of poverty according to Montfort and its relevance to the lives of Catholic communities in Indonesia. Poverty is often associated with living in discomfort, injustice, unhappiness, a life of scarcity, and a lack of material wealth to meet one's needs. This common paradigm needs to be examined more deeply using the surgical tool of the nature or spirituality of poverty according to Montfort. The research employs a literature review methodology. The study reveals that Montfort's spirituality of poverty highlights the ability to fulfill responsibilities and live responsibly, especially by engaging with others and paying attention to the needs of many, particularly those who are poor and marginalized. The use of material wealth is emphasized not for worldly pleasures but as a necessary means to support life. The relevance of Montfort's teachings in the context of how Catholics in Indonesia experience their religious life can be seen in three essential attitudes. Firstly, poverty is considered a means to attain holiness. Secondly, poverty is viewed as an effort in service and solidarity. Thirdly, poverty is seen as a means to guide the community towards the virtues of spiritual life. Keywords: God; Catholic church; poverty; humanit; MontfortAbstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hakikat kemiskinan menurut Montfort dan relevansinya bagi kehidupan umat Katolik Indonesia. Kemiskinan kerapkali diidentikkan dengan hidup dalam ketidakadilan, ketidakbahagiaan, hidup yang serba kekurangan, serta hidup yang tidak berharta (hartanya tidak mencukupi kebutuhannya). Paradigma umum ini perlu dikaji lebih dalam dengan menggunakan pisau bedah hakikat atau spiritualitas kemiskinan menurut Montfort. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Kajian ini menemukan bahwa spiritualitas kemiskinan menurut Montfort menunjukkan kesanggupan untuk menjalankan tugas dan hidup secara bertanggung jawab, terlebih terpanggil untuk terlibat dalam hidup dengan orang lain serta menaruh perhatian kepada kebutuhan banyak orang, khususnya bagi mereka yang miskin dan terlantar serta dalam penggunaan harta benda bukan untuk menjadi kesenangan duniawi melainkan diperlukan untuk menunjang hidup. Relevansi ajaran Montfort dalam konteks bagaimana umat Katolik di Indonesia menghayati kehidupan agamanya dapat dilihat dalam tiga sikap penting. Pertama, kemiskinan merupakan sarana menuju kekudusan. Kedua, kemiskinan adalah upaya pelayanan dan solidaritas. Ketiga, kemiskinan adalah sarana untuk menghantar umat kepada keutamaan hidup rohani.Kata Kunci: Allah; gereja katolik; kemiskinan; manusia; Montfort
Kehilangan Hutan, Kehilangan Masa Depan: Krisis Ekologi Dalam Pendekatan Biblis Warwer, Fredrik; Malatuny, Yakob Godlif; Layan, Santy
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 1: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.446

Abstract

The destruction of forests in Indonesia has resulted in disasters and threatens the future of humanity on earth. Using forests for personal interests is an action that humans should prohibit. Theological reflection or Christian perspective studies are needed to encourage a contemplative approach to forests. This paper aims to examine the issue of ecological crisis in Indonesia with a biblical approach. A qualitative methodology of literature review approach is used in this article. The research reveals that deforestation continues to be the most significant form of land degradation in Indonesia. Although the Central Bureau of Statistics reported a substantial decrease in deforestation in Indonesia from 2019 to 2020, the country lost 213 million hectares of forest, equivalent to 3.5 times the size of Bali Island, between 2015 and 2020. Therefore, eco theology seeks to critique the Christian tradition to raise public awareness of the ecological crisis and not just concern for the environment. Awareness of forest sustainability should be instilled in the younger generation through planting programs to develop a sense of belonging, appreciation, and responsibility for the forest. This is an expression of gratitude to the Owner, God, while at the same time showing love to others and ensuring the preservation of the planet for future generations. Keywords: Forest Loss, Future Loss, Ecological Crisis, Biblical ApproachKeywords: forest los; future loss; ecological crisis; biblical approach Abstrak Kerusakan hutan di Indonesia mengakibatkan bencana dan mengancam masa depan umat manusia di muka bumi. Pemanfaatan hutan untuk kepentingan pribadi adalah tindakan yang seharusnya dilarang oleh manusia. Dibutuhkan refleksi teologi atau kajian perspektif Kristen untuk mendorong pendekatan kontemplatif terhadap hutan. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji persoalan krisis ekologi di Indonesia dengan pendekatan biblis. Metodologi kualitatif pendekatan tinjauan literatur digunakan dalam artikel ini. Penelitian ini mengungkapkan bahwa deforestasi terus menjadi bentuk degradasi lahan yang paling signifikan di Indonesia. Meskipun Badan Pusat Statistik melaporkan penurunan deforestasi yang signifikan di Indonesia dari tahun 2019 hingga 2020, kenyataannya negara ini kehilangan 213 juta hektar hutan, atau setara dengan 3,5 kali luas Pulau Bali, antara tahun 2015 dan 2020. Oleh karena itu, ekoteologi berusaha untuk mengkritik tradisi Kristen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang krisis ekologi, dan bukan hanya sekedar kepedulian terhadap lingkungan. Kesadaran akan kelestarian hutan harus ditanamkan kepada generasi muda melalui program penanaman, sehingga mereka dapat mengembangkan rasa memiliki, menghargai, dan bertanggung jawab terhadap hutan. Hal ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pemilik, Tuhan, dan sekaligus menunjukkan rasa cinta kasih kepada sesama, serta memastikan kelestarian planet ini untuk generasi mendatang.Kata Kunci: kehilangan hutan; kehilangan masa depan; krisis ekologi; pendekatan biblis
Model Transformasi Terhadap Budaya Sunda Cageur, Bageur, Bener, Pinter jeung Singer Purnama, Jellia Puspa; Hermanto, Yanto Paulus
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 1: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.460

Abstract

The Sundanese culture, known as cageur, bageur, bener, pinter, jeung singer, also referred to as Gapura Panca Waluya, is deeply ingrained in the life of the Sundanese community. Unfortunately, Christianity is often perceived as a religion that opposes culture, even compelling individuals to abandon their native traditions. This perception arises because Christianity was introduced to Sundanese lands by European missionaries, who were associated with colonialism, making conversion to Christianity seem like adopting the religion of the colonizers. Through this research, the author aims to answer how the model of transformation for the Sundanese values of cageur, bageur, bener, pinter, jeung singer can be achieved without opposing them but by transforming the existing understanding to help Sundanese Christians experiencing these cultural values. The data collection and analysis technique employed is a literature review. Through this research, the author hopes to ensure that the Gospel can remain relevant and contextual, especially for the Sundanese community, as God uses culture to communicate His plans and wills. Keywords: Sunda; cageur; bener; pinter; bageurAbstrak Budaya Sunda yaitu cageur, bageur, bener, pinter jeung singer, disebut juga dengan Gapura Panca Waluya merupakan budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat Sunda. Sayangnya, kekristenan dianggap sebagai agama yang menentang budaya, bahkan dianggap memaksa seorang untuk meninggalkan budaya asal. Ini disebabkan oleh karena agama Kristen dibawa ke tanah Sunda melalui para misionaris Eropa yang identik dengan penjajah, sehingga memeluk agama Kristen dianggap memeluk agama penjajah. Lewat penelitian ini, penulis bertujuan ingin menjawab bagaimana model transformasi terhadap budaya Sunda cageur, bageur, bener, pinter jeung singer dengan tidak perlu menentang, namun mentransformasikan pengertian yang ada untuk menolong masyarakat Sunda Kristen mengalami nilai budaya tersebut. Adapun teknik pengumpulan dan analisa data menggunakan kajian literatur. Lewat penelitian ini, penulis berharap agar Injil bisa tetap menjadi relevan dan konstekstual khususnya bagi masyarakat Sunda, sebab Allah memakai budaya untuk mengkomunikasikan rencana dan kehendakNya.Kata Kunci: Sunda; cageur; bener; pinter; bageur
Debora Dan Kepemimpinan Perempuan Dalam Konteks Indonesia Taneo, Rolin Ferdilianto Sandelgus
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 1: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.472

Abstract

Women are not actually second class citizens in society.  Women can actually lead too.  However, public awareness of choosing women is still low.  Moreover, in the Indonesian political calendar, in 2024 Indonesia will elect leaders both above the executive and legislative branches.  This article is intended to find out the causes of women’s minimal involvement in the Indonesian political arena.  After that, this article will also show the role of women in leading.  This context will be put into dialogue with the story of Deborah in the Bible, who was also a successful female leader.  The result of this dialogue is to provide a leadership perspective that is not gender biased.  The building in this paper uses the literature method, namely by looking at literature that specifically discusses the two topics that are currently in the spotlight, namely the role of Deborah and the contribution of Indonesian women in leading. Keywords: Deborah; women; leadersAbstrakPerempuan sesungguhnya bukan warga kelas dua dalam masyarakat. Perempuan juga sebenarnya bisa memimpin. Hanya saja, kesadaran publik untuk memilih perempuan masih rendah. Apalagi dalam kalender politik Indonesia, tahun 2024 ini Indonesia akan memilih pemimpin baik di atas eksekutif maupun legislatif. Adanya tulisan ini dimaksudkan untuk mencari tahu penyebab keterlibatan perempuan yang minim di arena politik Indonesia. Setelah itu, tulisan ini juga akan menampilkan tentang bagaimana peran perempuan dalam memimpin. Konteks ini akan didialogkan  dengan kisah Debora dalam Alkitab yang juga adalah pemimpin perempuan yang berhasil. Hasil dialog ini yakni memberi suatu perspektif kepemimpinan yang tidak bias gender. Bangunan dalam tulisan ini menggunakan metode kepustakaan yaitu dengan melihat literatur-literatur yang secara khusus membahas kedua topik yang sementara menjadi sorotannya yaitu peran Debora dan kontribusi perempuan Indonesia dalam memimpin.Kata Kunci: Debora; perempuan; pemimpin
Karunia-Karunia Rohani bagi Pelayanan Gerejawi: Perspektif dari Roma 12:6-8 Priyono, Joko; Pangngaroan, Andarias
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 2: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.552

Abstract

This study aims to investigate the integration of the gifts of the Spirit in the context of ecclesiastical ministry as presented in Romans 12:6-8. This research uses qualitative methods by performing text analysis and contextual interpretation of relevant verses. The research findings show that the gifts mentioned in the text, namely gifts of prophecy, service, teaching, encouragement, contribution, leadership, and mercy, are mutually integrated and complementary in ecclesiastical service. The implications of this study emphasize the importance of acknowledging and developing the gifts of the Spirit in forming a healthy and productive church community in the mission of ministry. Keywords: spiritual gifts; church service; Romans 12:6-8AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki integrasi karunia-karunia Roh dalam konteks pelayanan gerejawi dalam Surat Roma 12:6-8. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan analisis teks dan interpretasi kontekstual terhadap ayat-ayat yang relevan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa karunia-karunia yang disebutkan dalam teks tersebut, yaitu karunia bernubuat, pelayanan, pengajaran, menasihati, memberi sumbangan, kepemimpinan, dan belas kasihan, saling terintegrasi dan saling melengkapi dalam konteks pelayanan gerejawi. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya pengakuan dan pengembangan karunia-karunia Roh dalam membentuk komunitas gereja yang sehat dan produktif dalam misi pelayanan.Kata Kunci: karunia rohani; pelayanan gerejawi; Roma 12:6-8
Merefleksi Konsep Tuhan Menurut Ulangan 6:4 dan Implikasinya dalam Pemahaman Trinitas Marisi, Candra Gunawan; Papay, Alex Djuang; Silaen, Upa; Pasaribu, Jabes
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 2: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.557

Abstract

The views of certain groups within Christianity include the arguments of Arius (Jehovah's Witnesses), who asserts that although Jesus possesses a special nature, He remains human and therefore should not be regarded as more than merely a "creation," like any other human. There is also a belief known as Jesus Only or Oneness, which resembles the heretical teachings of Sabellianism in a new form. Additionally, Islamic perspectives challenge the Christian belief in the Trinity by suggesting that Christians believe in three gods and interpreting the concept of the Trinity as a practice of tritheism. Deuteronomy 6:4 serves as the primary commandment that requires total commitment from the nation of Israel on a personal level, as well as for contemporary believers in Jesus Christ. The purpose of this research is to analyze Deuteronomy 6:4 to reflect on the meaning of the oneness of God. Through this research, it can also be affirmed that the LORD is the God worthy of worship by every believer, and that only God, and no other gods, deserve human worship. The research is conducted using a qualitative method with an inductive approach, specifically through exegesis and lexical and grammatical analysis of the studied verse, which is then reflected upon with other biblical verses, journals, or books to support the research findings. The results indicate that the doctrine of the Trinity affirms the unity of God in three persons, which is not a contradiction: God has one essence and three persons. The Bible affirms both the oneness of God and the divinity of the Father, the Son, and the Holy Spirit. The Trinity provides boundaries for human speculation about the nature of God. The oneness of God is expressed as His essence or existence, while His diversity is expressed in three persons. In the context of conveying God's laws, the oneness of God has several important implications: 1) When God speaks, there is no one else who can contradict Him. 2) When God promises, there is no one else who can retract it. 3) When God punishes disobedience, there is no one else who can protect against it. 4) The LORD is the only true God, not a god among other gods. Keywords: God is one; Trinity; the only true God; concept of LordAbstrak Pandangan beberapa kalangan umat ‘kristen’ mencakup argumen Arius (saksi Yehuwa) yang menyatakan bahwa meskipun Yesus memiliki sifat yang istimewa, Ia tetap merupakan manusia dan oleh karena itu tidak seharusnya dianggap lebih dari sekadar "ciptaan," seperti halnya manusia lainnya, ada juga pemahaman yang dikenal sebagai Jesus Only atau Oneness, yang menyerupai ajaran sesat Sabelianisme dalam bentuk yang baru. Selain itu, pandangan dari Islam menyerang keyakinan Kristen mengenai Allah Tritunggal dengan anggapan bahwa Kristen meyakini adanya tiga Allah, serta menafsirkan bahwa konsep Tritunggal adalah praktik triteisme. Ulangan 6:4 merupakan hukum utama yang mengharuskan komitmen total dari bangsa Israel secara personal demikian juga bagi orang percaya Yesus Kristus masa kini. Tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk menganalisa Ulangan 6:4 untuk merefleksikan makna Tuhan itu esa, melalui penelitian ini juga dapat menegaskan bahwa TUHAN adalah Allah yang layak disembah oleh setiap orang percaya, hanya Tuhan dan allah yang lain tidak layak mendapatkan penyembahan dari manusia. Penelitian dilakukan dengan Metode Kualitatif dengan pendekatan induktif yakni, eksegesa dan analisa ayat secara leksikal dan gramatikal dari ayat yang diteliti, selanjutnya direfleksikan dengan ayat Alkitab yang lain, jurnal atau buku yang lain untuk mendukung hasil penelitian.  Hasil yang ditemukan, doktrin Trinitas meneguhkan kesatuan Allah di dalam tiga pribadi, bukan merupakan kontradiksi: Allah memiliki satu esensi dan tiga pribadi. Alkitab meneguhkan baik keesaan Allah dan keilahian Bapa, Anak dan Roh Kudus. Trinitas memberikan batasan kepada spekulasi manusia tentang natur Allah. Keesaan dari Allah dinyatakan sebagai esesnsiNya atau keberadaanNya, sedangkan keragamanNya diekspresikan dalam tiga pribadi. Dalam konteks penyampaian hukum-hukum Allah, keesaan Allah mempunyai beberapa implikasi yang penting: 1, Kalau Allah berfirman, tidak ada yang lain yang dapat menolaknya. 2, Kalau Allah berjanji, tidak ada yang lain yang dapat menariknya. 3, Kalau Allah menghukum ketidaktaatan, tidak ada yang lain yang dapat melindungi. 4, TUHAN adalah satu-satunya Allah yang benar, bukan Tuhan diantaran tuan yang lain.Kata kunci: Esa; Trinitas; satu-satunya Tuhan; konsep Tuhan
Harmoni Teologi: “Unconditional Election” dan Teologi Kovenan bagi Kehidupan Rohani Jemaat Purwonugroho, Daniel Pesah; Halawa, Iman Kristina; Panggabean, Saut Maruli P.
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 2: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.574

Abstract

This article is designed to explore the theological harmony between the doctrine of "unconditional election" and covenant theology and its implications for the spiritual life of the congregation. "Unconditional election" is the concept where God chooses individuals for salvation without regard to their conditions or efforts. Covenant theology frames the interaction between God and humanity through covenants. The harmonization between the doctrine of "unconditional election" and covenant theology centres on the redemptive work and obedience of Jesus Christ on the cross. This obedience of Jesus Christ results in human salvation without any human effort. It also allows humans to experience the covenant of grace without any human effort. Through a qualitative descriptive research method, the theological harmonization between the doctrine of "unconditional election" and covenant theology will be explored to draw spiritual implications for the congregation. The harmonization of "unconditional election" and covenant theology brings individual spiritual well-being and assurance and fosters communal growth.Keywords: harmony; unconditional election; covenant theologyAbstrak Artikel ini dirangkai guna menelusuri harmoni teologi antara doktrin “unconditional election” dengan teologi kovenan dan implikasinya bagi kehidupan rohani jemaat. “Unconditional election” merupakan konsep dimana Allah memilih manusia untuk diselamatkan dan tidak bergantung dengan kondisi dan daya upaya manusia. Teologi kovenan membingkai interaksi Allah dengan manusia melalui kovenan. Harmonisasi antara doktrin “unconditional election” dan teologi kovenan ini bertitik tumpu di dalam karya penebusan dan ketaatan Yesus Kristus di kayu salib. Ketaatan Yesus Kristus ini membawa dampak manusia mengalami keselamatan tanpa melibatkan sedikitpun usaha manusia. Ketaatan Yesus Kristus juga membuat manusia mengalami kovenan anugerah tanpa adanya usaha manusia sedikitpun. Melalui metode penelitian kualitatif deskriptif beserta pengumpulan data studi pustaka, harmonisasi teologi antara doktrin “unconditional election” dan teologi kovenan akan ditelusuri guna menarik implikasi spiritual bagi jemaat. Harmonisasi “unconditional election” dan teologi kovenan membawa jemaat mengalami kesejahteraan dan kepastian spiritual secara individu dan mendatangkan pertumbuhan secara komunal.Kata Kunci: harmoni; unconditional election; teologi kovenan
Pendampingan Pelayanan Pastoral Pentakostal Kharismatik dalam Menangani Permasalahan Kesehatan Mental Jemaat Duha, Sang Putra Immanuel; Marpaung, Nona Beta
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 2: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.612

Abstract

Pentecostal-Charismatic churches have a unique approach to pastoral care for congregants facing mental health issues. This approach integrates spiritual, emotional, and communal aspects to respond to mental well-being issues. However, research on the effectiveness of the charismatic pastoral care model in this area is limited. This study aims to evaluate Pentecostal-Charismatic pastoral care in addressing congregational mental health issues. The method used is a qualitative case study with document analysis from various related sources. The formulation of the problem is the extent to which the practice of pastoral care in these churches can address the mental health of the congregation, as well as the challenges faced.  The results showed that charismatic pastoral care plays an important role in addressing mental health issues through three elements: spiritual, emotional, and communal. Spiritually, congregants find strength through faith and prayer. The emotional aspect allows them to share their feelings, while the communal aspect encourages involvement in church activities. However, challenges such as lack of training for pastors and mental health stigma still exist. This research emphasizes the importance of developing a more systematic mentoring model to make the church a safe and supportive place for congregants experiencing mental health issues. Keywords: pastoral care; mental health; pentecostal charismaticAbstrak Gereja-gereja Pentakostal-Kharismatik memiliki pendekatan unik dalam pendampingan pastoral bagi jemaat yang menghadapi masalah kesehatan mental. Pendekatan ini mengintegrasikan aspek spiritual, emosional, dan komunal untuk merespons isu kesejahteraan mental. Namun, penelitian tentang efektivitas model pendampingan pastoral kharismatik di bidang ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelayanan pastoral Pentakostal-Kharismatik dalam menangani masalah kesehatan mental jemaat. Metode yang digunakan adalah studi kasus kualitatif dengan analisis dokumen dari berbagai sumber terkait. Rumusan masalahnya adalah sejauh mana praktik pelayanan pastoral di gereja-gereja ini dapat menangani kesehatan mental jemaat, serta tantangan yang dihadapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendampingan pastoral kharismatik berperan penting dalam mengatasi masalah kesehatan mental melalui tiga elemen: spiritual, emosional, dan komunal. Secara spiritual, jemaat menemukan kekuatan melalui iman dan doa. Aspek emosional memungkinkan mereka berbagi perasaan, sementara aspek komunal mendorong keterlibatan dalam kegiatan gereja. Namun, tantangan seperti kurangnya pelatihan bagi pendeta dan stigma kesehatan mental masih ada. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan model pendampingan yang lebih sistematis untuk menjadikan gereja sebagai tempat yang aman dan mendukung bagi jemaat yang mengalami masalah kesehatan mental.Kata kunci: pendampingan pastoral; kesehatan mental;  pentakostal kharismatik
Kajian Teologis tentang Pembedaan Gender dan Hak Waris Suku Batak Toba serta Implikasinya di Perantauan Simangunsong, Marulam; Gultom, Joni Manumpak Parulian
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 2: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.624

Abstract

The Batak Toba tribe applies a patrilineal kinship system passed down from generation to generation. And if, in the current context, gender differentiation and inheritance rights that are more dominant for men than women are still rigidly applied, it is not following the position of women as God's creatures who are equal to men. In addition, this does not follow human rights. The study aims to explain gender differentiation and the granting of actual inheritance rights in a theological study. This study provides a practical solution for customary leaders in the community to adapt and adjust Biblical values. The research method uses a qualitative ethnographic approach. The results are [1] The Bible explicitly provides gender equality and inheritance rights to men and women based on the love of God the Father. [2] The patrilineal kinship system should undergo significant adaptation and value adjustments in the diaspora. [3] The church guides church members and is socialized to the leaders of clan holders in the diaspora. Keywords: Toba Batak; gender; female; Parents; patrilinealAbstrak Suku Batak Toba menerapkan sistem kekerabatan secara patrilineal turun-temurun dengan pembedaan gender dan hak waris yang lebih dominan kepada anak laki laki daripada perempuan. Penerapan secara kaku tentu tidak sesuai dengan kedudukan perempuan sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang setara dengan laki laki. Selain itu tidak sesuai dengan hak azasi manusia itu sendiri. Tujuan penelitian adalah menjelaskan dalam kajian teologis tentang pembedaan gender dan pemberian hak waris yang sebenarnya dan kontektualisasi penerapannya kepada masyarakat suku ini yang tinggal di perantauan. Penelitian ini memberikan solusi praktis kepada masyarakat tersebut untuk beradaptasi dan melakukan penyesuaian nilai secara Alkitabiah.  Penelitian dengan pendekatan kualitatif etnografi. Hasil nya adalah [1] Alkitab secara tegas memberikan kesetaraan gender dan hak waris kepada laki laki dan perempuan berdasarkan kasih Allah Bapa. [2] Sistem kekerabatan patrilineal sebaiknya perlu mengalami adaptasi dan penyesuain nilai yang significant di perantauan. [3] Gereja memberi pembinaan kepada warga gereja dan disosialisasikan kepada para pimpinan pemegang marga di perantauan.Kata kunci: Batak Toba; gender; Perempuan; Orangtua; patrilineal