cover
Contact Name
Yunardi Kristian Zega
Contact Email
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Phone
+6281213076611
Journal Mail Official
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Editorial Address
Gedung House of Glory Lt.3-4, Jl. Ahmad Yani, Eden Park; Kel. Taman Baloi, Kec. Batam Kota, Kotamadaya Batam, Kepulauan Riau.
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika
ISSN : 26853515     EISSN : 26853485     DOI : -
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani dengan ciri Pentakostal-Kharismatika, dengan nomor ISSN: 2685-3485 (online), ISSN: 2685-3515 (print), dikelola dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi REAL, Batam, Kepulauan Riau. Focus dan Scope penelitian DIEGESIS adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru); Teologi Sistematika; Teologi Pastoral; Misiologi; Isu-isu Pentakostal-Kharismatika. DIEGESIS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari semua institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 61 Documents
GERONTEOLOGI PANTEKOSTA: Manusia Lanjut Usia sebagai Subjek Diakonia Sosial Elia Tambunan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 6, No 1: Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i1.385

Abstract

Indisputable, by remembering Pantecost, the association formed in the minds of academics is the doctrinal "drama" of the church that is infatuated with the strange manifestations of the Holy Spirit. Not many have considered that there is an academic reason to say, in the capacity possessed by Pentecostals according to their respective zones, they contribute socially to local communities. This paper answers how to humanize humans. With qualitative research by reading Pentecostal literature as a primary source, and interviewing many pastors, it is clear that the empirical data is true that there is Pantecostal gerontheology. Until now, these people are struggling to make adults the subject of social diakonia. Pantecostals represents the church's social responsibility to humans which is rightly seen as one of the social ways the church is present in the public arena so that they live a more dignified life.Keywords: Social Diakonia; Gerontheology; Elders; Pantecost. AbstrakSulit untuk dibantah, dengan hanya mengingat Pantekosta, maka asosiasi yang terbentuk di nalar akademisi ialah “drama” doktrinal gereja yang tergila-gila dengan manifestasi Roh Kudus yang ganjil. Tak banyak yang memperhatikan ada alasan akademis untuk mengatakan, dalam kapasitas yang dimiliki oleh kaum Pantekosta sesuai dengan zona masing-masing, mereka berkontribusi sosial kepada masyarakat lokal. Tulisan ini menjawab bagaimana memanusiakan manusia usia lanjut? Dengan penelitian kualitatif lewat membaca literatur Pantekosta sebagai sumber primer, dan mewancarai sejumlah pendeta terlihat data empiris benar ada geronteologi Pantekosta. Hingga sekarang, kaum ini terus bergulat untuk menjadikan orang dewasa sebagai subjek diakonia sosial. Pantekosta merepresentasikan tanggung jawab sosial gereja kepada manusia yang tepat dilihat sebagai salah satu cara sosial menggereja hadir di arena publik agar mereka hidup lebih bermartabat.Kata kunci: Diakonia Sosial; Geronteologi; Manula; Pantekosta.
Keterikatan Pengambilan Keputusan, Konsistensi Sifat-Sifat Bijak dan Evaluasi Karakter dalam Pembentukan Integritas (Paralelisme Amsal 28:6; 19:1) Farel Yosua Sualang
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 6, No 1: Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i1.378

Abstract

The groups of Proverbs 10-29 present a topical discussion, such as wealth, poverty, honesty, diligence, gentleness, etc. Proverbs 28:6; 19:1 speaks of the integrity of wise men who do not prioritize wealth. The problem is that interpreters limit the emphasis to elements essential to the formation of integrity in the assemblies of Proverbs 10-29, such as decision-making and character habituation. However, using a qualitative study of the sub-interpretive design of wisdom literature (especially considering the structure of parallelism, figurative language style), this article finds that there is an attachment between decision making, consistency in the nature of wisdom and character evaluation in the formation of integrity in a wise person. The attachment of these three elements is due to the existence of the wording pattern of item-evaluation and the character of the evaluation of parallelism Proverbs 28:6; 19:1.Keywords: Integrity; Parallelism; Book of Proverbs AbstrakKumpulan-kumpulan Amsal 10-29 menyuguhkan suatu pembahasan secara topikal, misalnya mengenai kekayaan, kemiskinan, kejujuran, ketekunan, kelemahlembutan, dll. Tidak terkecuali mengenai topik integritas, Amsal 28:6;19:1 membahas mengenai integritas dari orang bijak yang tidak mengutamakan harta kekayaan. Permasalahannya, para penafsir hanya membatasi penekanan elemem-elemen penting dalam pembentukan integritas dalam kumpulan-kumpulan Amsal 10-29, misalnya pengambilan keputusan dan pembiasaan karakter. Akan tetapi, dengan menggunakan kajian kualitatif sub interpretative design sastra hikmat (khususnya memperhatikan struktur paralelisme, gaya bahasa kiasan), artikel ini menemukan bahwa adanya keterikatan antara pengambilan keputusan, konsistensi pada sifat-sifat hikmat dan evaluasi karakter dalam pembentukan integritas pada seseorang yang bijak. Keterikatan ketiga elemen ini disebabkan oleh adanya pola perkataan item-evaluasi dan karakter evaluasi terhadap paralelisme Amsal 28:6; 19:1.Kata Kunci: Integritas; Paralelisme; Kitab Amsal.
Memaknai “Kehendak-Mulah Yang Jadi” Berdasarkan Lukas 22:42 dan Aplikasinya bagi Peningkatan Iman Anggota Gereja Toraja Monika Jerry D. Londongna; Stephani Intan M. Siallagan; Deflit Dujerslaim Lilo
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 6, No 1: Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i1.243

Abstract

The aim of this study is to find out the meaning of "Thy will be done" according to the Bible in Luke 22:42, to find the right application for the lives of Toraja Church members of the Gloria Buttutanga, Buakayu Klasis. The authors begin with an overview and background of Luke 22:42, as well as an analysis of the text and then describes the understanding of church members Gloria Church about "Thy will be done" and the practices of life that members of the Gloria Church should have based on the meaning of "Thy will be done" from Luke 22:42. The qualitative research methods used in this research are literature review and a field study. For literature studies, the researcher also used the hermeneutic method, while field studies are carried out by observation and interview.  First, the phrase "Thy will be done" in Luke 22:42 can be interpreted as a form of total surrender and perfect obedience from Jesus. Second, members of the Toraja Church congregation in Gloria Buttutanga who are still weak in faith due to the suffering of life experienced should surrender themselves to God in totality and continue to live in obedience despite the suffering of life.Keywords: God's will; obedience; faith; the suffering of life.AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna “Kehendak-Mulah Yang Jadi” menurut Alkitab dalam Lukas 22:42 untuk menemukan penerapan yang tepat bagi kehidupan anggota Gereja Toraja Jemaat Gloria Buttutanga, Klasis Buakayu. Penulis memulai dengan gambaran umum dan latar belakang Lukas 22:42, serta analisis teks dan selanjutnya memaparkan pemahaman anggota jemaat Gloria Buttutanga Klasis Buakayu tentang “kehendak-Mulah yang jadi” dan praktek kehidupan yang harus dimiliki oleh anggota Jemaat Gloria berdasarkan makna “kehendak-Mulah yang jadi” dari Lukas 22:42. Metode penelitian kualitatif yang digunakan dalam peneltian ini adalah studi pustaka dan studi lapangan. Untuk studi pustaka, penulis gunakan juga metode hermeneutik sedangkan studi lapangan dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Temuan penelitian ini yaitu: pertama, frasa “Kehendak-Mulah Yang Jadi” di dalam Lukas 22:42 dapat dimaknai sebagai bentuk penyerahan diri total dan ketaatan yang sempurna dari Yesus. Kedua, anggota jemaat Gereja Toraja di Gloria Buttutanga yang masih lemah imannya karena penderitaan hidup yang dialami, seyogianya menyerahkan diri kepada Tuhan secara totalitas dan tetap hidup dalam ketaatan meski berada dalam penderitaan hidup.Kata kunci: kehendak Allah; ketaatan; iman; penderitaan hidup
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH: Diajukan Sebagai Model Kajian Alkitab dalam Ibadah Keluarga Fredrik Warwer
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 6, No 1: Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i1.384

Abstract

Problem-based learning can improve conceptual understanding and constructive thinking. This research aims to develop a problem-based learning model design and an ideal family or cell group worship design. Family worship or cell group worship is a worship that is carried out regularly once a week. This research was conducted at the Smirna GKII Sentani Papua Congregation, qualitative, data collection was carried out through observation and review of articles. The problem-based learning model developed consists of six stages, namely determining the problem; problem analysis; information retrieval; synthesis of knowledge; conclusion and evaluation of the problem-solving process; as well as evaluation of activities. The worship design developed includes leading praise and opening prayers (initial activities), prayers, preaching God's Word, devotionals (core activities), intercessory prayers and offerings, concluding (final activities). The problem-based learning model is carried out on the core activities and the problems discussed are raised from the bible passages read. During the process of core activities, church members play an active role in discussions, expressing opinions, explore Bible passages related to the problems discussed, providing solutions to problems appropriately based on Bible verses. This model is expected to be used as an alternative model in the implementation of family worship or cell groups, because it can empower congregation members.Keywords: Problem Based Learning Model; Smirna GKII Sentani Chruch; Worship; JonahAbstrakPembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan pemahaman konseptual dan pemikiran konstruktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain model pembelajaran berbasis masalah dan desain ibadah keluarga atau kelompok sel yang ideal. Ibadah keluarga atau kelompok sel dimaksud merupakan ibadah yang dilakukan secara rutin satu kali dalam seminggu. Penelitian ini dilakukan di Jemaat Smirna GKII Sentani Papua, bersifat kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan review artikel. Model pembelajaran berbasis masalah yang dikembangkan terdiri dari enam tahap, yaitu menentukan masalah; analisis masalah; penelusuran informasi; sintesis pengetahuan; kesimpulan dan evaluasi proses pemecahan masalah; serta evaluasi kegiatan. Desain ibadah yang dikembangkan meliputi memimpin pujian dan doa pembukaan (kegiatan awal), doa, pemberitaan Firman Tuhan, renungan (kegiatan inti), doa syafaat dan persembahan, penutup (kegiatan akhir). Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan pada kegiatan inti dan masalah yang dibahas diangkat dari bagian Alkitab yang dibaca. Selama proses kegiatan inti berlangsung, anggota jemaat berperan aktif dalam diskusi, mengemukakan pendapat, melakukan penelusuran bagian alkitab yang terkait dengan masalah yang dibahas, memberikan solusi terhadap masalah dengan tepat berdasarkan ayat Alkitab. Model ini diharapkan dapat dijadikan alternatif model dalam pelaksanaan ibadah keluarga atau kelompok sel, karena dapat memberdayakan anggota jemaat.Kata kunci: Model Pembelajaran Berbasis Masalah; Jemaat Smirna GKII Sentani; Ibadah; Yunus
Konsep Manusia Theosis sesuai Injil, Menurut Matius 13:45-46 Analisis Perumpamaan Yesus Yolin ilo; Hendi Wijaya
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 6, No 1: Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i1.192

Abstract

This article is the result of research on an effort to seize a valuable opportunity according to the Gospel of Matthew 13:45-46 to become similar to Christ in eternity (Kingdom of Heaven). The method used is the exegesis method. The results show that the effort or ability to choose the most valuable opportunity is the key to uniting oneself with God in eternity. Everyone who is aware of the precious opportunity that is given, will completely surrender himself to God, and try to discipline himself through obedience in becoming a disciple of Christ and choosing to live with Christ. In the end, the effort to choose the most valuable opportunity, makes everyone live in obedience that unites with Christ.Keywords: effort; respond to opportunities; surrender to Christ; become a disciple of Jesus.AbstrakArtikel ini merupakan hasil penelitian tentang sebuah usaha meraih kesempatan yang berharga menurut Injil Matius 13:45-46 untuk menjadi serupa dengan Kristus dalam kekekalan (Kerajaan Sorga). Metode yang digunakan adalah metode eksegesis. Hasilnya menunjukkan bahwa usaha atau kemampuan memilih kesempatan yang paling berharga adalah kunci menuju pada penyatuan diri dengan Allah dalam kekekalan. Setiap orang yang sadar akan kesempatan berharga yang diberikan, maka akan sepenuhnya menyerahkan diri kepada Allah, serta berusaha mendisiplinkan diri melalui ketaatan dalam menjadi murid Kristus dan memilih hidup bersama dengan Kristus. Pada akhirnya usaha memilih kesempatan yang paling berharga tersebut, menjadikan setiap orang hidup dalam ketaatan yang menyatu dengan Kristus.Kata kunci: usaha; meresponi kesempatan; menyerahkan diri pada Kristus; menjadi murid Yesus.
Menelisik Spiritualitas Gerakan Pentakostal-Kharismatik dalam Potret Megachurch di Indonesia Fredy Simanjuntak
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 6, No 2: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i2.484

Abstract

This study examines the notable expansion of Indonesian churches in urban areas, particularly in relation to the Pentecostal-Charismatic movement and its subsequent metamorphosis into megachurches. This phenomenon has become indisputable in the modern church's image, giving it a unique symbolism in the culture at large. With their expressive worship styles, vibrant environments, modern music, expansive stages, and inspirational sermons, these churches provide a distinctive religious experience. Even though this movement is gaining traction and expanding quickly, the research also draws attention to the idea that megachurches are a kind of religious commodification that may be more designed to appeal to the general public. As a result, the purpose of this study is to determine whether this transformation is only on the surface or if it includes comprehensive changes in the structure and essence of the church. The research method used is phenomenology, and theologically, this research finds a strong foundation for this movement in the Bible. The findings of this study show that, despite the criticism leveled at it, the megachurch movement has had a positive impact on the spiritual growth of its congregation, demonstrating that the megachurch phenomenon is not only superficial, but also includes a profound transformation in their spiritual experience.Keywords: pentecostal-charismatic movement; spirituality; megachurch; IndonesiaAbstrakPenelitian ini mengeksplorasi pertumbuhan gereja yang signifikan di daerah perkotaan di Indonesia, khususnya dalam konteks gerakan Pentakostal-Kharismatik yang kemudian mengalami transformasi menjadi gereja raksasa atau megachurch. Fenomena ini menjadi tak terbantahkan dalam gambaran gereja kontemporer, menciptakan simbolisme khas dalam masyarakat modern. Gereja-gereja ini menawarkan pengalaman religius yang unik dengan gaya ibadah ekspresif, suasana yang aktif, musik kontemporer, panggung yang megah, dan khotbah motivasional. Meskipun gerakan ini mendapat dukungan dan pertumbuhan pesat, penelitian ini juga menyoroti kritik terhadap konsep gereja mega sebagai komodifikasi agama yang mungkin lebih ditujukan untuk menarik massa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menelusuri apakah transformasi ini hanya terjadi di permukaan atau mencakup perubahan menyeluruh dalam struktur dan esensi gereja. Metode penelitian yang digunakan adalah fenomenologi, dan secara teologis, penelitian ini menemukan dasar yang kuat dalam Alkitab untuk gerakan ini. Hasil penelitian ini merinci bahwa, di samping kritik yang muncul, gerakan ini memiliki dampak positif dalam pertumbuhan spiritual para jemaatnya, menunjukkan bahwa fenomena gereja raksasa tidak hanya bersifat permukaan, tetapi mencakup transformasi yang mendalam dalam pengalaman rohaniah mereka.Kata Kunci: Gerakan Pentakostal-Kharismatik; Spiritualitas; Megachurch; Indonesia
Mendengar Suara Perempuan dalam Peristiwa Bungkamnya Sarah: Studi Naratif Dialog Abram dengan Sarai dalam Kej. 12:10-20 Abraham Pakpahan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 6, No 2: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i2.485

Abstract

Dialogue is an interaction between two or more people that involves mutually constructive communication between the speaker and the interlocutor, but in the narrative Gen. 12:10-20 looks like just one way dialogue. This dialogue is seen through the conversation between Abram and Sarai. Abram, who was filled with fear, told Sarai to recognize herself as Abram's sister and not as his wife. The author's aim in conducting this research is to see that Sarai is an important character in this narrative. The author sees that Sarai has an important role in shaping this narrative even though she is shown as someone who is silent without offering any resistance. This research was conducted by the author using narrative criticism to understand that the narrative of Sarai's silence is a criticism for today's readers to hear women's voices and respect women.Keywords: Abram; sarai; voice; Lord; silence; narrativeAbstrakDialog merupakan interaksi dua orang atau lebih yang melibatkan komunikasi yang saling membangun interaksi antara pembicara dengan lawan bicaranya namun dalam narasi Kej. 12:10-20 terlihat hanya dialog satu arah. Dialog ini terlihat melalui percakapan antara Abram dan Sarai. Abram yang sedang dipenuhi ketakutan menyuruh Sarai untuk mengakui dirinya sebagai adik Abram dan bukan sebagai istrinya. Tujuan penulis dalam melakukan penelitian ini untuk melihat bahwa Sarai merupakan tokoh yang penting dalam narasi ini. Penulis melihat bahwa Sarai memiliki peranan penting dalam membentuk narasi ini meskipun ia diperlihatkan sebagai seorang yang bungkam tanpa memberikan perlawanan. Penelitian ini dilakukan oleh penulis dengan menggunakan kritik naratif untuk memahami bahwa narasi bungkamnya Sarai merupakan kritik kepada pembaca masa kini untuk mendengar suara perempuan dan menghormati perempuan.Kata Kunci: Abram; sarai; suara; Tuhan; bungkam; narasi
Relasi Alam dengan Eksistensi Manusia Terhadap Krisis Ekologi Berdasarkan Perspektif Filsafat-Teologis Delinda Elizabeth Aritonang; Roberto Hamonangan Silitonga; Destri Ayu Natalia Hutauruk
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 6, No 2: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i2.489

Abstract

This study examines the relationship between nature and human existence regarding the current ecological crisis. God, humans and nature are inseparable links. Recently, society has been faced with an environmental crisis and a decline in the ecosystem system, ranging from global warming, drought, floods, climate change, reduction in natural resources, to the extinction of flora and fauna diversity. When technological developments become more advanced and penetrate development that does not pay attention to environmental welfare, an ecological crisis occurs. Humans are considered the main actor in the ecological crisis which occurs due to greed and negligence in exploiting natural resources. A crisis of human existence and disharmony in the relationship between God and nature occurred. The aim of this research is to provide an understanding of the relationship between nature and human existence in order to create awareness of the relationship between humans and their love of nature and minimize the ecological crisis. The research method uses descriptive qualitative methods. This research method is carried out by collecting data, describing, analyzing and evaluating through critical thinking from books, journal articles and the Bible related to the discussion. This method divides this research into three important points. First, Human Existence and the Ecological Crisis. Second, the meaningful relationship between humans, nature and God towards the ecological crisis. Third, Understanding the Spiritual-Ecological Relationship between Nature and Human Existence. The result of this research is to offer a reconstruction of the paradigm of human existence towards an awareness of the meaningful relationship between God and nature as an alternative in overcoming the ecological crisis and conserving natural resources. The conclusion is to convey the message that through awareness, humans as God's creation must be grateful and responsible for maintaining and preserving them in the form of positive-constructive actions.Keywords: relations; human existenc; ecological crisis; nature; ecological spiritualityAbstrakKajian ini menelisik relasi alam dengan eksistensi manusia terhadap krisis ekologi yang terjadi sekarang ini. Allah, manusia dan alam, merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Akhir-akhir ini masyarakat diperhadapkan pada krisis lingkungan dan penurunan dalam sistem ekosistem, mulai dari pemanasan global, kekeringan, banjir, perubahan iklim, berkurangnya sumber daya alam, hingga punahnya keanekaragaman flora dan fauna. Ketika perkembangan teknologi semakin maju dan merasuki pembangunan yang tidak memperhatikan kesejahteraan lingkungan, terjadilah krisis ekologis. Manusia dianggap sebagai aktor utama atas krisis ekologi yang terjadi karena keserakahan dan kelalaian dalam mengeksploitasi sumber daya alam. Krisis eksistensi manusia dan disharmoni relasi antara Allah dan alam pun terjadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberi pemahaman relasi alam dengan eksistensi manusia demi mewujudukan kesadaran relasi manusia terhadap kecintaan kepada alam dan meminimalisir krisis ekologi. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data, mendeskripsikan, menganalisis dan mengevaluasi melalui pemikiran kritis dari buku, artikel jurnal dan Alkitab yang berkaitan dengan pembahasan. Metode ini membagi penelitian ini menjadi tiga poin penting. Pertama, Eksistensi Manusia dan Krisis Ekologi. Kedua, Relasi Bermakna Manusia, Alam dan Tuhan terhadap Krisis Ekologi. Ketiga, Memaknai Relasi Alam dan Eksistensi Manusia yang Spiritualitas-Ekologis. Hasil dari penelitian ini adalah menawarkan rekonstruksi paradigma eksistensi manusia terhadap kesadaran relasi yang bermakna antara Allah dan alam sebagai suatu alternatif dalam menanggulangi krisis ekologis dan melestarikan sumber daya alam. Kesimpulannya adalah untuk menyampaikan pesan bahwa melalui kesadaran manusia sebagai ciptaan Allah harus bersyukur dan bertanggungjawab menjaga dan melestarikan dipertanggungjawabkan dalam bentuk perbuatan yang positif-konstruktif.Kata Kunci: relasi; eksistensi manusia; krisis ekologi; alam; spiritualitas ekologis
Analisa Narasi Yehovah Shalom dalam Repetisi Perkataan Tuhan Kepada Gideon Berdasarkan Hakim-Hakim 6:11-24 Andris Kiamani; Aska Pattinaja
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 6, No 2: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i2.438

Abstract

Judges 6:11-24 contains the life story of Gideon who was chosen by God to judge Israel. In researching this story, there is a special emphasis given by Gideon in response to God's call, by calling Yehovah Shalom. Many studies discuss the story of Gideon only in the context of its thematic structure in Gideon's encounter with God and ignore the deepening of the narrative meaning of Jehovah Shalom, which correlates with the repetition of God's words to Gideon. For this reason, this article is written based on qualitative research with a literature study in a hermeneutic approach, to analyze the narrative of Jehovah Shalom in the repetition of God's words to Gideon. This article finds that there are five important meanings, namely: First, Gideon believed that only God could save the Israelites from the Midianites; Second, Gideon believed that only God could restore the condition of the Israelites that was destroyed due to the colonization of the Midianites; Third, Gideon believed that only God could bless the Israelites so that they would experience prosperity from every poverty; Fourth, Gideon believed that only God could give peace to the Israelites so that Israel could return to a quiet, safe and peaceful life; and Fifth, Gideon believed that only God could choose and call him and give him the strength to be a judge over Israel.Keywords: judges; gideon; repetition; jehovah shalomAbstrakHakim-Hakim 6:11-24 berisi kisah hidup Gideon yang diplih oleh Tuhan untuk menjadi hakim atas Israel. Dalam meneliti tentang kisah ini, ada penekanan khusus yang diberikan oleh Gideon sebagai respon terhadap panggilan Tuhan, dengan menyebut Yehovah Shalom. Banyak penelitian yang membahas kisah Gideon hanya dalam konteks struktur tematisnya dalam perjumpaan Gideon dengan Tuhan dan mengabaikan pendalaman makna narasi Yehovah Shalom, yang berkorelasi dengan repetisi perkataan Tuhan terhadap Gideon. Untuk itulah artikel ini ditulis berdasarkan, penelitian kualitatif dengan studi literatur dalam pendekatan hermeneutik, untuk menganalisa narasi Yehovah Shalom dalam repetisi perkataan Tuhan kepada Gideon. Artikel ini menemukan, ada lima arti penting, yaitu: pertama, Gideon percaya hanya Tuhan yang sanggup menyelamatkan bangsa Israel dari bangsa Midian; kedua, Gideon percaya hanya Tuhan yang dapat memulihkan kondisi bangsa Israel yang hancur akibat penjajahan bangsa Midian; ketiga, Gideon percaya hanya Tuhan yang dapat memberkati bangsa Israel sehingga mengalami kemakmuran dari setiap kemelaratan; keempat, Gideon percaya hanya Tuhan yang dapat memberikan damai sejahtera atas bangsa Israel sehingga Israel dapat kembali hidup tenang, aman dan damai; dan kelima, Gideon percaya hanya Tuhan yang sanggup memilih dan memanggil dirinya serta memberikan kekuatan untuk dapat menjadi hakim atas Israel.Kata Kunci: hakim-hakim; gideon; repetisi; yehovah shalom
Mendesak Peran Aktif Gereja Merawat Ekosistem Laut: Sebuah Pelajaran Penting Dari Masyarakat Marao Biak Ferre, Godfried San; Rumansara, Jois Yohanes
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 6, No 2: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i2.443

Abstract

The Marao community in Biak Numfor Regency, Papua, faces severe challenges in managing marine ecosystems. The community's lack of knowledge about marine ecosystem management means that human activities in the sea that violate environmental ethics worsen conditions, threatening marine ecosystems and the quality of the coastal environment. This research examines the church's active role in caring for aquatic ecosystems in Marao village, Biak. A qualitative method with a case study approach was used to analyse the church's active role in protecting the marine environment. The results showed that community-based marine resource management involves active community participation in ecosystem protection. In Marao, the community applies the Sasi tradition to regulate the use of natural resources. This practice consists of prohibiting fishing or using destructive fishing gear for a certain period, allowing the marine ecosystem to recover and fish resources to be sustainable. The church plays an active role in introducing environmental ethics to the community, although it has not yet fully integrated the teachings in its programmes. The application of ethical-theological values influences the perception and responsibility of the Marao community in caring for the marine ecosystem, emphasising that nature is the work of God and thus a moral obligation and calling as believers in the God of man in maintaining the balance of the ecosystem.Keywords: active role of the church; marine ecosystem; marao biak communityAbstrakMasyarakat Marao di Kabupaten Biak Numfor, Papua yang menghadapi tantangan serius dalam mengelola ekosistem laut. Pengetahuan masyarakat yang minim tentang pengelolaan ekosistem laut sehingga aktivitas manusia di laut yang melanggar etika lingkungan memperburuk kondisi, mengancam ekosistem laut dan kualitas lingkungan pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran aktif gereja merawat ekosistem laut di kampung Marao, Biak. Metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus digunakan untuk menganalisis peran aktif gereja dalam menjaga lingkungan laut. Hasil penelitian menunjukkan pengelolaan sumber daya laut berbasis masyarakat melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam melindungi ekosistem. Di Marao, masyarakat menerapkan tradisi Sasi untuk mengatur penggunaan sumber daya alam. Praktik ini melibatkan pelarangan penangkapan ikan atau penggunaan alat tangkap merusak selama periode tertentu, memungkinkan ekosistem laut pulih dan sumber daya ikan berkelanjutan. Gereja menjalankan peran secara aktif dalam mengenalkan etika lingkungan kepada masyarakat, meskipun belum sepenuhnya mengintegrasikan ajaran tersebut dalam programnya. Pengaplikasian nilai etis-teologi memengaruhi persepsi dan tanggung jawab masyarakat Marao dalam merawat ekosistem laut yang menekankan bahwa alam adalah karya Tuhan sehingga menjadi tanggung jawab dan panggilan moral sebagai umat yang beriman kepada Tuhan manusia dalam menjaga keseimbangan ekosistem.Kata Kunci: peran aktif gereja; ekosistem laut; masyarakat marao biak