cover
Contact Name
Yunardi Kristian Zega
Contact Email
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Phone
+6281213076611
Journal Mail Official
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Editorial Address
Gedung House of Glory Lt.3-4, Jl. Ahmad Yani, Eden Park; Kel. Taman Baloi, Kec. Batam Kota, Kotamadaya Batam, Kepulauan Riau.
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika
ISSN : 26853515     EISSN : 26853485     DOI : -
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani dengan ciri Pentakostal-Kharismatika, dengan nomor ISSN: 2685-3485 (online), ISSN: 2685-3515 (print), dikelola dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi REAL, Batam, Kepulauan Riau. Focus dan Scope penelitian DIEGESIS adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru); Teologi Sistematika; Teologi Pastoral; Misiologi; Isu-isu Pentakostal-Kharismatika. DIEGESIS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari semua institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 61 Documents
Implikasi Pemahaman Kematian bagi Pembinaan Kerohanian Jemaat: Refleksi Teologis Lukas 16:19-31 Marnaek Nainggolan; Happy Fasigita Paradesha
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 1: Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i1.181

Abstract

This study aims to counteract the paradigm claim that says that a person's spirit can wander and enter human life. In addition, it is concluded that people who have died can still communicate actively with humans to provide guidance, protection, and sustenance to humans, especially for those who want to honor the spirits of the dead. This attitude has been deeply rooted both from the side, religions, and even cultures in Christianity that do not understand the concept of death from a biblical perspective. The discussion of this article uses an inductive method of qualitative research, first looking for data and Bible facts. Data were collected through field observations and literature study through reference books, journal articles related to problems in article writing. These results explain that the understanding of death in Luke 16:19-31 cannot be used as a basis for thinking that people who have died can still communicate with everyone who is still in the world. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menangkal adanya klaim paradigma yang mengatakan bahwa setelah seseorang meninggal, rohnya dapat mengembara dan memasuki kehidupan manusia. Selain itu sebagian meyakini bahwa orang yang sudah meninggal masih dapat berkomunikasi secara aktif dengan manusia untuk memberi petunjuk, perlindungan, dan rezeki kepada manusia secara khusus bagi mereka yang mau menghormati arwah yang sudah meninggal. Sikap seperti ini telah mengakar kuat baik dari sisi budaya, agama-agama dan bahkan dalam kekristenan yang tidak memahami konsep kematian dari perspektif Alkitabiah. Pembahasan artikel ini menggunakan penelitian kualitatif metode induktif penafsiran terlebih dahulu mencari data dan fakta Alkitab. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan studi pustaka melalui buku-buku referensi, artikel jurnal yang berkaitan dengan permasalahan dalam penulisan artikel. Hasil pembahasan ini menguraikan bahwa pemahaman kematian pada Lukas 16:19-31 tidak dapat dijadikan sebagai dasar untuk berpikir bahwa orang yang sudah meninggal masih bisa berkomunikasi dengan setiap orang yang masih berada di dunia. 
Good Church Governance dengan Menerapkan Seri ISO 9000 dan Implikasinya bagi Pemimpin Gereja Yakub Hendrawan Perangin Angin; Tri Astuti Yeniretnowati
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 1: Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i1.179

Abstract

AbstractThe Good Corporate Governance in this study was borrowed as Good Church Governance because the principles of GCG are in line with the principles contained in Total Quality Management based on the ISO 9000 series of quality management standards. Good church governance practices have become not only an obligation but a necessity for current and future churches to implement good quality management. The ISO standard is recommended to be applied as a model of good church governance because the criteria contained in it can lead the church to achieve good, healthy, and effective church governance by complying with the rules and Bible truth. This research was conducted under the library research method. The results of this study indicate the implications for the church leaders, namely: First, Be actively involved in empowering yourself in the church. Second, understand the concept of good organizational governance. Third, is the commitment to implement the ISO 9000 series of quality management governance models, whose approach is easy and simple because it is based on the PDCA pattern, namely plan-do-check-act. AbstrakIstilah Good Corporate Governance pada penelitian ini dipinjam menjadi Good Church Governance, karena prinsip-prinsip dari GCG senada dengan prinsip yang terkandung dalam Total Quality Management berbasis standar manajemen mutu seri ISO 9000. Praktik tata kelola gereja yang baik sudah menjadi bukan hanya kewajiban tetapi keharusan bagi gereja saat ini dan masa mendatang untuk menerapkan manajemen mutu yang baik. Standar ISO disarankan untuk diterapkan sebagai model tata kelola gereja yang baik karena kriteria yang terkandung di dalamnya dapat mengantarkan gereja mencapai tata kelola gereja yang baik, sehat dan efektif dengan mematuhi aturan peraturan dan kebenaran Alkitab. Penelitian ini dilakukan dengan metode riset pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan implikasi bagi pemimpin gereja, yaitu: Pertama, Terlibat aktif memberdayakan diri dalam gereja. Kedua, Memahami konsep tata kelola organisasi yang baik. Ketiga, Komitmen menerapkan model tata kelola manajemen mutu seri ISO 9000, yang pendekatannya mudah dan sederhana karena berbasiskan pola PDCA, yaitu plan-do-check-act.
Kepemimpinan Pelayan Mengajarkan Teologi Memberi di Kalangan Pekerja Migran Indonesia di Gereja Lokal Malaysia Joni Manumpak Parulian Gultom
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 1: Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i1.189

Abstract

Indonesian migrant workers in Malaysia are the main source of the country's huge foreign exchange income. Within the church, their number alone is relatively large spread across the peninsula. The Lord's Church serves them as souls in need of strength and discipleship in the faith. Church leadership becomes important in directing the life of faith and also in the management of future lives. In addition to making them obedient people from the example of servant leaders, the church is also responsible for bringing them to love their fellow human beings with their finances in terms of giving. The question is first, what is the correct method of teaching the theology of giving to migrant workers? And what kind of servant leadership strategy do you expect? Research method with qualitative description. The purpose of the study is to describe the basis and pattern of Biblical giving and to explain appropriate servant leadership strategies for Indonesian migrant workers in Malaysia AbstrakPekerja migran Indonesia di Malaysia menjadi sumber utama pemasukan devisa negara yang sangat besar. Dalam gereja, jumlah mereka sendiri terbilang relative besar yang tersebar di semenanjung. Gereja Tuhan melayani mereka sebagai jiwa yang perlu kekuatan dan pemuridan dalam iman. Kepemimpinan gereja menjadi penting dalam mengarahkan kehidupan iman dan juga management kehidupan masa depan. Selain menjadikan mereka umat yang taat dari keteladanan pemimpin yang melayani, gereja juga bertanggung jawab untuk membawa mereka dapat mengasihi sesama manusia dengan keuangan mereka dalam hal memberi. Pertanyaan nya dalah pertama, bagaiamana metode mengajarkan teologi memberi yang benar buat para pekerja migran? Dan strategi kepemimpinan pelayan seperti apa yang di harapkan? Metode penelitian dengan dekripsi kualitatif. Tujuan penelitian untuk menggambarkan kepemimpinan di gereja sangat berpengaruh memberikan andil dalam mendorong umat untuk memberi. 
Kepemimpinan Gereja dalam Membangun Jemaat di Gereja Pentakosta Pusat Surabaya Filadelfia, Batam: Sebuah Kajian Teologis Keluaran 18:13-26 Hendra Syahputra; Robert Situmorang; David Simanjuntak; Dian Hondro; Hosea Hutagaol
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 1: Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i1.88

Abstract

AbstractThe research was conducted with the purpose to understand the impact of Church Leadership at Gereja Pentakosta Pusat Surabaya (GPPS) Filadelfia Batam to establish and grow the church from the perspective of Exodus 18:13-26, Batam. Conducting Qualitative Research thru observation, literature, and interview. Research shows Church leadership at GPPS Filadelfia Batam has been implemented as Exodus 18:13-26 and needs to improve for better Church growth. AbstrakPenelitian dilakukan untuk mengetahui dampak kepemimpinan Gereja Pentakosta Pusat Surabaya (GPPS) Filadelfia Batam dalam membangun Jemaat berdasarkan Keluaran 18:13-26. Penelitian dilakukan secara kualitatif melalui observasi, kepustakaan dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan kepemimpinan gereja GPPS Batam telah sesuai dengan Keluaran 18:13-26 namun perlu diperbaiki agar gereja GPPS Batam dapat bertumbuh dengan baik. 
Orisinalitas Pneumatologi John Calvin sebagai “Teolog Roh Kudus” Herman Herman; Ceria Ceria; Fredy Simanjuntak
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 1: Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i1.180

Abstract

John Calvin is one of the foremost theologians among reformed theologians. His works are a major contribution to the history of Protestant development even to the present day. But along the way, the development of Protestant theology has produced two views on the sustainability of the gifts of the Spirit. One of the views is to see that the gifts of the Holy Spirit no longer occur after the Biblical canonization (cessationism). This view is dominated by most Calvinist theologians and eventually creates the stigma that Calvin theology does not emphasize the Holy Spirit in its doctrines, even though in his day Calvin was given the nickname "The Theologian of the Holy Spirit”. This fact goes against the built stigma. To answer this question, the writer uses the descriptive-qualitative research method by reviewing the theology of the Holy Spirit written by Calvin in his masterpiece Institutes of The Christians, and the context at that time. In the end, this research finds that the main points of the Calvin’s Holy Spirit theology that are not indicated to the built stigma about Calvin’s Holy Spirit theology are the basis of cessationist or rationalist, but on the contrary, in accordance to the nickname given to him as the theologian of the Holy Spirit who integrated the theology of the Holy Spirit in all of his doctrines and ministries based on the Bible. AbstrakJohn Calvin merupakan salah satu teolog terkemuka dari kalangan teolog-teolog reformasi. Karya-karyanya memberikan kontribusi besar dalam sejarah perkembangan Protestan hingga saat kini. Namun dalam perjalanan perkembangan teologi Protestan telah menghasilkan dua pandangan mengenai keberlangsungan karunia-karunia Roh. Salah satunya melihat bahwa karunia-karunia Roh Kudus tidak lagi berlangsung setelah pengkanonan Alkitab (cessasionism), pandangan ini didominasi oleh sebagian besar teolog Calvinis dan akhirnya menimbulkan stigma bahwa teologi Calvin tidak menekankan Roh Kudus dalam doktrin-doktrinnya. Padahal pada zamannya Calvin diberi julukan “Teolog Roh Kudus”. Kenyataan ini menimbulkan kontradiksi dengan stigma yang terbangun. Untuk menjawab pertanyaan ini maka penulis menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan meninjau kembali teologi Roh Kudus Calvin yang tertulis dalam maha karyanya yaitu Intitutes of The Christian dan konteks pada masa itu. Pada akhirnya penelitian ini menemukan pokok-pokok teologi Roh Kudus Calvin yang tidak terindikasi kepada stigma yang terbangun mengenai teologi Roh Kudus Calvin adalah dasar cessasionist atau rasionalis tetapi justru sebaliknya seperti julukan yang diberikan kepadanya sebagai teolog Roh Kudus yang mengintegrasi teologi Roh Kudus dalam semua doktrin dan pelayanannya dengan dasar Alkitab.
Cara Pandang Kaum Pentakostal Mencermati Pelayanan Petrus Sang Tokoh Kontraversi Kosma Manurung
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 2: Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.270

Abstract

For the Pentecostals, Peter's life was always interesting to observe. Peter, who was originally just a fisherman, usually fished, but his encounter with God turned him into a fisher of men. In addition, there were various supernatural events that Peter saw and experienced in his life. One of the interesting events to study that occurred in Peter's ministry, is presented very nicely in Acts 9:32-43 which the researcher then makes the purpose of this article by framing it from the perspective of the Pentecostals. The use of the method of description and support from literature review is expected to provide a clear, accurate, and adequate picture of the story of Peter's life and ministry, an overview of the story of Peter's ministry in the passage of Acts 9:32-34, and the perspective of the Pentecostals regarding this story. For the Pentecostals this story of Peter's enrichment provides an example in leadership and ministry, a life filled with God's supernatural powers, the importance of doing good to others, and a mandatory choice to live in a community of believers.Keywords: spiritual community; Peter's ministry; Pentecostal Theology AbstrakBagi kaum Pentakostal, kehidupan Petrus selalu menarik untuk dicermati. Petrus yang awalnya hanya seorang nelayan yang biasanya menjala ikan, namun pertemuannya dengan Tuhan merubahnya menjadi penjala manusia. Selain itu, ada berbagai peristiwa supranatural yang Petrus lihat dan alami dalam hidupnya. Salah satu peristiwa menarik untuk dikaji yang terjadi dalam pelayanan Petrus, disuguhkan dengan sangat apik dalam Kisah Para Rasul 9:32-43 yang kemudian peneliti jadikan tujuan dalam artikel ini dengan membingkainya dari cara pandang kaum Pentakostal. Penggunaan metode deskripsi dan dukungan dari kajian literatur diharapkan bisa memberikan gambaran yang jelas, cermat, dan memadai terkait selayang pandang kisah hidup dan pelayanan Petrus, gambaran kisah pelayanan Petrus dalam perikop Kisah Para Rasul 9:32-34, dan cara pandang kaum Pentakostal terkait kisah ini. Bagi kaum Pentakostal kisah pelayaan Petrus ini memberikan keteladanan dalam kepemimpinan maupun pelayanan, adanya kehidupan yang dipenuhi kuasa supranatural Allah, pentingnya berbuat baik kepada sesama, dan pilihan wajib untuk hidup dalam komunitas orang percaya.Kata kunci: komunitas rohani; pelayanan Petrus; teologi pentakostal
Implikasi Paralelisme Janus dalam Filipi 3:9 Bagi Iman Percaya Masa Kini Candra Gunawan Marisi
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 2: Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.267

Abstract

Paul is a great writer. As a Pharisee is undoubtedly his skill as an interpreter and writer with the semistic style seen in parts of his writings. The basic point for understanding the epistles, however, is that in the Jewish and Pharisee backgrounds it remained an integral part of Paul. His identity as a Jew and his concern for his nation's heritage provide one side of dialogue that continues throughout the letter, an arch that runs back and forth across patterns. Likewise, in Paul's writings in Philippians 3:9, there is a central point of Paul's belief in God's justification. This research was conducted using a qualitative method with a semantic analysis approach, namely with the literary style of Janus parallelism and the polysemy parallelism approach to texts. There is a literary style of Janus's parallelism in Paul's writing style in Philippians 3:9. Through this method of parallelism Janus can look deeper into the meaning written by Paul of "the justification of God through the Faithfulness of Christ." This verse has similarities with what Paul wrote in Romans 1:17 and Galatians 2:16 and 3:11 regarding the believer's justification first of all because of "Christ's faithfulness" until death even to death on the cross. Paul had a firm conviction that believers are justified not because of the law, but believers are justified because of Christ's faithfulness which is the righteousness that God bestows upon believers.Keywords: janus parallelism; polysemy parelelism; Paul; pistis; Philippian’s letter AbstrakPaulus merupakan seorang penulis yang handal. Sebagai seorang Farisi tidak diragukan lagi keahliannya sebagai penafsir dan penulis dengan gaya semistik yang terlihat dalam bagian-bagian tulisannya. Poin dasar untuk pemahaman tentang surat-surat itu, bagaimanapun, adalah bahwa di latar belakang Yahudi dan Farisi tetap menjadi bagian integral dari Paulus. Identitas dirinya sebagai seorang Yahudi dan kepeduliannya terhadap warisan bangsanya memberikan satu sisi dialog yang berlanjut di seluruh surat, lengkungan yang berjalan bolak-balik di seluruh pola. Demikian juga terlihat dalam tulisan Paulus di surat Filipi 3:9 terdapat pusat keyakinan Paulus terhadap pembenaran Allah. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan analisa semantik, yakni dengan gaya sastra paralelisme Janus dan pendekatan paralelisme polisemi terhadap teks. Terdapat gaya sastra paralelisme Janus pada gaya penulisan Paulus dalam teks Filipi 3:9. Melalui metode paralelisme Janus ini dapat melihat lebih dalam kepada makna yang dituliskan oleh Paulus tentang “pembenaran Allah melalui Kesetiaan Kristus.” Ayat ini memiliki kesamaan dengan apa yang Paulus tuliskan di dalam Roma 1:17 dan Galatia 2:16 dan 3:11 mengenai pembenaran orang percaya pertama-tama adalah karena “kesetiaan Kristus” sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib. Paulus memiliki keyakinan yang teguh bahwa orang percaya dibenarkan bukan karena melakukan hukum Taurat, melainkan orang percaya dibenarkan karena kesetiaan Kristus yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan kepada orang percaya.Kata kunci: paralelisme janus; parelelisme polisemi; Paulus; pistis; surat filipi
Penghakiman Yang Akan Datang: Refleksi Teologis Bagi Kehidupan Kristiani Febri Yanto Ziliwu; Ishak Kukuh Soliyanto; Kharisda Mueleni Waruwu
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 2: Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.266

Abstract

Talking about the upcoming judgment is a mysterious thing that is certainly questioned by everyone, causing their own fears, some are not too curious and even most don't really know what the upcoming judgment will look like. As a result, different opinions have emerged in response to this. In the Old and New Testament Bibles it is written how God gives a picture of the judgment. Thus, this article attempts to examine theologically the upcoming judgments found in the Old to New Testaments with the aim that people have a correct picture of the coming judgments. Researchers use descriptive analytical methods to explain the concept of judgment in the Old Testament, and the concept of judgment in the New Testament. In this study, it is a reflection that the judgment that occurs is inseparable from how God relates to His creation, all will experience both the living and the just dead and the person who does so is God Himself. Thus, man needs to maintain the sanctity of life, make the word the center of life, keep hope in Jesus and carry out the Great Commission until thetime of judgment comes.Keywords: bible; judgment; new testament; old testament AbstrakBerbicara mengenai penghakiman yang akan datang merupakan suatu hal yang misterius yang tentunya dipertanyakan oleh setiap orang sehingga menimbulkan ketakutan tersendiri, ada pula yang tidak terlalu ingin tahu bahkan sebagian besar tidak terlalu spesifik tahu seperti apa kelak penghakiman yang akan datang itu. Akibatnya muncul berbagai pendapat yang berbeda-beda dalam menanggapi hal demikian. Dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru telah tertulis bagaimana Allah memberikan gambaran kelak mengenai penghakiman itu. Dengan itu, artikel ini mencoba mengkaji secara teologi penghakiman yang akan datang yang terdapat dalam Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru dengan tujuan agar umat memiliki gambaran yang benar akan penghakiman yang akan datang. Peneliti menggunakan metode deskriptif analitik untuk memaparkan konsep penghakiman dalam Perjanjian Lama, dan konsep penghakiman dalam Perjanjian Baru. Dalam kajian ini mendapatkan sebuah refleksi bahwa penghakiman yang terjadi tidak terlepas dari bagaimana hubungan Allah dengan ciptaan-Nya, semua akan mengalami baik yang hidup maupun yang telah mati secara adil dan oknum yang melakukannya ialah Allah sendiri. Dengan itu, manusia perlu menjaga kekudusan hidup, menjadikan firman sebagai pusat hidup, tetap berpengharapan pada Yesus dan melaksanakan Amanat Agung hingga waktunya penghakiman itu tiba.Kata kunci: alkitab; penghakiman; perjanjian baru; perjanjian lama
Internalisasi Moderasi Beragama dalam Konteks Oikumene di Kampus STAKPN Sentani Santy Layan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 2: Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.260

Abstract

This paper aims to analyze the internalization of religious moderation values using the ecumenical approach at the STAKPN Sentani campus. This research uses a qualitative approach with a case study method. Researchers used an approach of in-depth interviews, observations, and documentation studies for data collection in this study. The research found that the internalization of moderation values for students in the STAKPN Sentani environment, which is different denominations and Church doctrines, was successfully carried out by campus residents, so that harmonization, togetherness, and responsibility in caring for life together remained intertwined until this moment. Several perspectives have been considered in religious moderation from an ecumenical point of view among students to ensure that no divisions among doctrines or traditions have been held. The conclusion that can be drawn is that ecumenism is the choice of path used to connect Christians in all aspects, including denominations, doctrines, and common ideals for proclaiming the gospel. Through the internalization of moderation values for students in STAKPN Sentani environments of different denominations and doctrines the Church can take care of harmonization, unity, togetherness, and shared responsibility in arranging life together according to God's will.Keywords: STAKPN Sentani students; religious moderation; Ecumene AbstrakPenulisan ini bertujuan menganalisis internalisasi nilai-nilai moderasi beragama menggunakan pendekatan oikumene di kampus STAKPN Sentani. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Peneliti menggunakan pendekatan yaitu wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi untuk pengumpulan data dalam penelitian ini. Penelitian menemukan, internalisasi nilai-nilai moderasi bagi mahasiswa di lingkungan STAKPN Sentani yang berbeda denominasi dan doktrin Gereja berhasil dilakukan oleh warga kampus, sehingga harmonisasi, kebersamaan, dan tanggung jawab dalam merawat hidup bersama tetap terjalin sampai detik ini. Beberapa perspektif telah dipertimbangkan dalam moderasi agama dari sudut pandang oikumene di kalangan mahasiswa untuk memastikan bahwa tidak ada perpecahan di antara doktrin atau aliran yang telah dipegang. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah oikumene menjadi pilihan jalan yang digunakan untuk menghubungkan umat Kristiani dalam segala aspek, termasuk denominasi, doktrin, dan cita-cita bersama untuk mewartakan injil. Melalui internalisasi nilai-nilai moderasi bagi mahasiswa di lingkungan STAKPN Sentani yang berbeda denominasi dan doktrin Gereja dapat merawat harmonisasi, persatuan, kebersamaan, dan tanggung jawab bersama dalam menata hidup bersama sesuai kehendak Tuhan.Kata kunci: mahasiswa STAKPN Sentani; moderasi beragama; oikumene
Konsekuensi Atas Pemberitaan Injil Palsu Menurut Galatia 1:8-9: Sebuah Analisis Tentang Kemarahan Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia Cange Esra Runisi Gulo
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 2: Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.255

Abstract

Consequences of false preaching of the gospel in (Galatians 1:8-9): An analysis of the apostle Paul's anger at the Galatians. The anger expressed by the apostle Paul was of great benefit especially to the Galatians who passed from Christ to living under the Law. In this study, the author used the exegesis method with a syntactic and semantic approach to text analysis by focusing on the text itself and interacting with other texts in the Bible as well as with various libraries, books, journals that discuss related topics. So, through this method, the author was able to find the meaning of the apostle Paul's anger in (Galatians 1:8-9). The results of this research can be revealed that the consequence of false preaching of the gospel is a curse that creates separation from God and becomes a person who does not love God. It can be known that when man is separated and does not live in Christ, he can do nothing and will perish. Thus, the activity of preaching the gospel should be carried out together with God the Holy Spirit who is the guide so that everyone who carries out the preaching of the gospel, the Ecclesiastes and Teachers of dogma, does not deviate from the purpose of God's mission, and faithfully embraces people to become believers and have faith in the Lord Jesus Christ.Keywords: consequences; gospel; false; aacursed; separated AbstrakKonsekuensi atas pemberitaan injil palsu dalam (Galatia 1:8-9): Sebuah analisis tentang kemarahan rasul Paulus kepada jemaat di Galatia. Kemarahan yang diungkapkan rasul Paulus ini sangat bermanfaat terutama bagi jemaat Galatia yang beralih dari Kristus kepada hidup dibawah Hukum Taurat. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode eksegesis dengan pendekatan analisis teks secara sintaksis dan semantis dengan berfokus pada teks itu sendiri dan melakukan interaksi dengan teks-teks yang lain dalam Alkitab serta dengan berbagai pustaka, buku-buku, jurnal yang membahas topik terkait. Sehingga melalui metode ini, penulis dapat menemukan makna dari kemarahan rasul Paulus dalam (Galatia 1:8-9). Hasil dari penelitian ini dapat disingkapkan bahwa konsekuensi dari pemberitaan injil palsu adalah sebuah kutukan yang menimbulkan keterpisahan dengan Allah serta menjadi pribadi yang tidak mengasihi Allah. Dapat diketahui bahwa ketika manusia terpisah dan tidak hidup dalam Kristus, ia tidak dapat berbuat apa-apa dan akan binasa. Jadi, kegiatan pemberitaan injil seharusnya dilakukan bersama dengan Allah Roh Kudus yang menjadi penuntun sehingga setiap orang yang melaksanakan pemberitaan injil, para Pengkhotbah dan Pengajar dogma, tidak menyimpang dari tujuan misi Allah, dan dengan setia merangkul orang-orang untuk menjadi percaya dan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus.Kata kunci: konsekuensi; injil; palsu; terkutuk; terpisah