cover
Contact Name
Fernando Tambunan
Contact Email
fernando.tambunan@sttbaptis-medan.ac.id
Phone
+6281361612723
Journal Mail Official
fernando.tambunan@sttbaptis-medan.ac.id
Editorial Address
Jl. Tali Air No. 7 Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan Sumatera Utara Indonesia
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Illuminate: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : 26228998     EISSN : 26217732     DOI : https://doi.org/10.54024
Core Subject : Religion, Education,
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani merupakan terbitan berkala dari hasil penelitian Teologi dan Pendidikan Agama Kristen yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan. Focus dan Scope penelitian Illuminate adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru) Teologi Sistematika Teologi Pastoral Pendidikan Kristiani Misiologi Konseling Kristen
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2018): Juni 2018" : 6 Documents clear
Memahami Identitas Diri dalam Kristus Menurut Efesus 2:1-10 Sadadohape Matondang
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.119 KB) | DOI: 10.54024/illuminate.v1i1.2

Abstract

The character has been the main thing of someone succeeds in his life actualization. One who has an excellent intelligent could gain success if only he has good character. Character disorder has attacked anybody, from children, teenager, and adult that bring out various disorder and harmful behaviors. It is caused by unknowing, denying and the missapplicationing of the self-identity. A teenager who is used to be the self-identity explorer is the susceptible group of neither disorder character nor identity. Being a Christian teenager isn’t good enough without having a clear understanding of his self-identity as a follower of Christ. Due to the understanding of that self-identity, the Christian teenager could have good character by reflecting Christ through all of his life.AbstrakKarakter menjadi titik penentu keberhasilan seseorang dalam pengaktualisasian kehidupannya. Seseorang yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi pun hanya dapat berhasil jika memiliki karakter yang berkualitas. Krisis karakter dialami oleh semua orang, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa, yang memunculkan berbagai perilaku menyimpang serta merugikan diri sendiri maupun orang lain. Salah satu penyebab terjadinya krisis karakter ini adalah karena ketidaktahuan, penyangkalan dan penyalahgunaan identitas diri. Remaja yang identik dengan pencarian jati diri adalah kelompok yang paling rentan mengalami krisis karakter yang disebabkan oleh krisis identitas diri ini. Menjadi seorang remaja Kristen tidaklah cukup tanpa sungguh-sungguh memahami identitas dirinya sebagai seorang pengikut Kristus. Sebab hanya dengan memahami identitas diri itulah, remaja Kristen akan mampu memiliki karakter yang berkualitas yakni karakter Kristus yang direfleksikan melalui seluruh kehidupannya.
Menghadirkan Shalom Berdasarkan Yeremia 29:4-7 Zinzendorf Dachi
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.392 KB) | DOI: 10.54024/illuminate.v1i1.5

Abstract

Everyone must endeavor peace (shalom). Shalom not only deals with one's relation with God, with one another, and peace with oneself but also with the whole universe on the earth. The effort to present shalom is the responsibility of every person in his neighborhood. Through qualitative descriptive research, with the analysis of the text of Jeremiah 29: 4-7 found essential points about the meaning of shalom. Qualitative research is used to explain the facts or circumstances and views about the meaning of shalom found in Jeremiah 29: 4-7, through theological analysis and literature discussion. The results of this study explain that believers must be the first to bring peace with nature that is to preserve nature and its environment because God gives the mandate of conservation to man. By planting and cultivating nature wisely, human beings are seeking real shalom.AbstrakDamai sejahtera (shalom) haruslah diusahakan oleh setiap orang. Shalom bukan saja berhubungan dengan relasi seseorang dengan Allah, dengan sesama, dan damai dengan diri sendiri, melainkan juga dengan seluruh alam semesta, yakni bumi. Usaha menghadirkan shalom, merupakan tanggung jawab setiap orang di lingkungannya. Melalui penelitian deskriptif kualitatif, dengan analisa terhadap teks Yeremia 29:4-7 ditemukan pokok-pokok penting tentang makna shalom. Penelitian kualitatif digunakan untuk menjelaskan fakta-fakta atau keadaan serta pandangan mengenai makna shalom yang ditemukan dalam Yeremia 29:4-7, melalui analisa teologis dan pembahasan literatur. Hasil kajian ini menjelaskan bahwa orang percaya haruslah menjadi yang pertama dalam upaya menghadirkan damai dengan alam yakni melestarikan alam dan lingkungannya, oleh karena mandat terhadap pelestarian itu diberikan Allah kepada manusia. Dengan menanam dan mengolah alam dengan bijak, manusia sedang mengupayakan shalom yang sesungguhnya.
Kebahagiaan Orang Percaya: Refleksi Teologis Matius 5:1-12 Baskita Ginting
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.862 KB) | DOI: 10.54024/illuminate.v1i1.3

Abstract

Everybody is looking for and the pursuit of happiness in life. In a naked eyes and to the size of the general public, who gets happy is a man who has what it takes and fulfilled what is desirable. Seeking happiness tends to focus on wealth, position, and sex. As a result not a few people, from the intellectuals and layman trapped, in order to achieve such happiness. Such happiness is false. To explain happiness in accordance with Bible teaching, this study used descriptive qualitative method by analyzing the text of the Bible Matthew 5: 1-12. Based on the facts and results of text analysis, qualitative research is used to build conclusions about the importance of obtaining happiness in God through books explaining the key points in Matthew 5: 1-12. This study concludes that true happiness is the happiness that begins with the personal recognition of God, so willing to do what God says, despite the temporary suffering.AbstrakSemua orang mencari dan mengejar kebahagiaan dalam hidup ini.  Secara kasat mata dan menjadi ukuran masyarakat umum, yang berbahagia adalah orang yang memiliki apa yang diperlukan dan terpenuhi apa yang diinginkan. Kecendrungannya berfokus pada harta, tahta dan sex. Akibatnya tidak sedikit orang, dari golongan cendikia dan awam terjebak, demi mencapai kebahagiaan tersebut. Kebahagiaan demikian adalah semu. Untuk menjelaskan tentang kebahagiaan sesuai dengan pengajaran Alkitab, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menganalisis teks Alkitab Matius 5:1-12. Berdasarkan fakta dan hasil analisa teks, penelitian kualitatif digunakan untuk membangun kesimpulan tentang pentingnya mendapatkan kebahagiaan di dalam Tuhan melalui buku-buku yang menjelaskan pokok-pokok penting dalam Matius 5:1-12. Kajian ini menyimpulkan bahwa kebahagiaan yang sejati, adalah kebahagian yang diawali dari pengenalan akan Tuhan secara pribadi, sehingga rela melakukan apa yang Tuhan firmankan, walaupun menghadapi penderitaan sementara.
Mengatasi Degradasi Moral Melalui Pembinaan Warga Gereja Ngendam Sembiring
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.274 KB) | DOI: 10.54024/illuminate.v1i1.8

Abstract

The problem is there are church members who are less able to overcome moral degradation that occurs in the community. How do you overcome moral degradation? The method used is the descriptive qualitative method based on literature studies. There are several ways to foster church residents to be able to overcome moral degradation that occurs in the community, namely: First the key is that the pastors want revival, reform, and revitalization of his church. Second, the pastor made revival programs, reforms, and revitalization of the pastors focusing on the continuation of short, medium and long-term church fostering. Third, pastors make programs so that each congregation starts reading the Bible every day. Fourth, the pastor sends each member of the church to influence members of society who have not been saved, so that the moral degradation of society would slowly and surely be resolved.AbstrakMasalahnya adalah ada warga gereja yang kurang mampu dalam mengatasi degradasi moral yang terjadi di mayarakat. Bagaimana cara mengatasi degradasi moral tersebut? Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif berdasarkan studi litetatur. Ada beberapa cara pembinaan warga gereja untuk  mengatasi degradasi moral yang terjadi di mayarakat, yakni: Pertama kuncinya adalah para pendeta  menghendaki adanya revival, reformasi dan revitalisasi gerejanya. Kedua, pendeta membuat program-program revival, reformasi, dan revitalisasi para pendeta berfokus pada keberlangsungan pembinaan warga gereja jangka pendek, menengah, dan panjang.  Ketiga pendeta membuat program agar tiap jemaat mulai membaca Alkitab setiap hari. Keempat pendeta mengutus tiap warga gereja memengaruhi anggota masyarakat yang belum diselamatkan, sehingga degradasi moral masyarakat perlahan dan pasti teratasi.
Ευδαιμονια Kristen dan Pendidikan Teologi Menurut Mazmur 1 Kharis Samuel Sembiring
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (856.676 KB) | DOI: 10.54024/illuminate.v1i1.7

Abstract

Aristotle’s conception of εὺδαιμονια is identical with Psalmist’s (Psalm 1) conception of happiness vizἐνέργεια. According to Aristotle, human’s εὺδαιμονια is ἐνέργεια of the rational element of a human being by its ἀρετη viz. ἀρίστην καὶ τελειοτάτην. Psalmist, on the other hand, shows that happiness is contemplating Torah every moment. In this paper, I will show that we can understand Psalmist’s conception of happiness more accurately by using Aristotelian Ethics. I will then suggest by using Aristotelian reading on Psalm I that Christian Education viz. Theology should pursue εὺδαιμονια as its end.AbstrakKonsep εὺδαιμονια Aristoteles dan kebahagiaan Pemazmur (Mazmur I) memiliki kesamaan pada definisi bahwa εὺδαιμονια dan kebahagiaan  adalah sebuah ἐνέργεια. Menurut Aristotle, εὺδαιμονια manusia adalah ἐνέργεια elemen rasional manusia bersesuaian dengan ἀρετη-nya, secara spesifik ἀρίστην καὶ τελειοτάτην. Sementara itu Pemazmur menunjukkan bahwa formulasi kebahagiaan adalah merenungkan Torah sepanjang waktu. Dalam tulisan ini, saya ingin menunjukkan bahwa dengan menggunakan kacamata Etika Aristotle kita bisa memahami konsep kebahagiaan Pemazmur secara lebih mendalam. Melalui pemahaman Mazmur I secara Aristotelian pula saya menyarankan bahwa pendidikan Kristen, secara khusus Teologi harus menjadikan εὺδαιμονια sebagai tujuan akhirnya.
Karakter Kepemimpinan Kristen Sebagai Jawaban Terhadap Krisis Kepemimpinan Masa Kini Fernando Tambunan
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.18 KB) | DOI: 10.54024/illuminate.v1i1.6

Abstract

The Church has a responsibility in creating leaders who are characterized by answering the decline in present-day leadership, degeneration occurs in every line, both in national leadership and church leadership. Leadership degeneration occurs because there is no proper leadership character. In this scientific paper, the authors use literature research methods relating to the issues written. The resulting conclusion is the nature of the leader not born but created. The answer to overcoming the decline of leadership is to produce leaders with the following characteristics: 1) Credibility, 2) Integrity, 3) Commitment, 4) Humility, 5) Competence and 6) Discipline. To produce such a figure is required a good character education and the right to create a quality leadership character.AbstrakGereja memiliki tanggungjawab dalam menciptakan pemimpin yang berkarakter untuk menjawab kemerosotan dalam kepemimpinan masa kini, kemerosotan terjadi di setiap lini, baik dalam kepemimpinan bangsa maupun kepemimpinan gereja. Kemerosotan kepemimpinan terjadi karena tidak adanya karakter kepemimpinan yang baik. Dalam karya ilmiah ini penulis menggunakan metode penelitian pustaka yang berkaitan dengan persoalan yang ditulis. Kesimpulan yang dihasilkan adalah bahwa kepemimpinan itu identik dengan karakter. Seorang Pemimpin bukan dilahirkan, tapi diciptakan.  Sehingga jawaban untuk mengatasi kemerosotan kepemimpinan adalah menghasilkan pemimpin yang memiliki karakter yaitu : 1) Kredibilitas, 2) Integritas diri, 3)Komitmen, 4) Kerendahan hati, 5) Kompetensi dan 6) Disiplin. Untuk menghasilkan sosok seperti itu diperlukan suatu pendidikan karakter yang baik dan benar agar tercipta karakter kepemimpinan yang berkualitas.

Page 1 of 1 | Total Record : 6