cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Retain: Journal of Research in English Language Teaching
ISSN : 23562617     EISSN : 30322839     DOI : https://doi.org/10.26740/rt.v13i02
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 947 Documents
Analysis of HOTS-Based English Lesson Plan Made By PPG Students of Unesa
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Aktivitas berpikir dibagi dalam dua fase, yaitu berpikir tingkat rendah (LOTS) dan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Terdapat 6 tahapan dalam LOTS dan HOTS, diantaranya adalah mengingat, memahami dan menerapkan untuk LOTS dan menganalisis, mengevaluasi dan mencipta untuk HOTS. Akhir-akhir ini, pemerintah mewajibkan HOTS dimunculkan dalam pembuatan RPP. Tetapi, banyak fakta dilapangan menunjukkan bahwa guru-guru belum memahami bagaimana untuk membuat RPP yang mengandung HOTS di dalamnya. Metode yang digunakan adalah teks analisis dalam penelitian kualitatif. Ini dikarenakan tujuan penelitiannya adalah untuk mendeskripsikan konten HOTS di dalam indikator, kegiatan pembelajaran dan lembar kerja siswa dalam RPP. Terdapat 5 RPP yang dibuat oleh mahasiswa PPG UNESA sebagai objek penelitian. Untuk menjawab tiga rumusan masalah tersebut, instrument yang digunakan adalah ceklis. Dalam pengumpulan data, peneliti menemui dosen dari mata kuliah Pengembangan Materi di PPG UNESA, lalu meminta RPP mereka sebagai tugas dari dosen. Lalu dalam pengolahan data, peneliti menginteporetasikan data dengan instrumen yang telah disediakan. Hasilnya menunjukkan dari 5 RPP hanya ditemukan 1 – 3 indikator yang mengandung HOTS. Umumnya dari tahapan mencipta dan KKO yang paling sering digunakan adalah membuat dialog. Untuk kegiatan pembelajaran, terdapat 2 sampai 5 aktivitas yang mengelaborasikan HOTS. Hampir sama dengan sebelumnya, tahapan yang paling sering muncul adalah tahapan mencipta. Terakhir, untuk lembar kerja siswa ditemukan 2 sampai 4 latihan yang mengintegrasikan HOTS di dalamnya. Rata-rata HOTS yang ditemukan berasal dari kompetensi dasar 4 untuk tahapan mencipta. Kata Kunci: HOTS, RPP, indikator, kegiatan pembelajaran, lembar kerja siswa. Abstract Thinking activity is divided into two phases, namely Lower Order Thinking Skill (LOTS) and Higher Order Thinking Skill (HOTS). There are six aspects of LOTS and HOTS. They are remembering, understanding and applying for LOTS and analyzing, evaluating and also creating for HOTS. Nowadays, HOTS should appear in the content of the lesson plan. As a fact in the field, there are so many teachers who did not understand how to write a lesson plan with HOTS properly. The method of the study was text analysis in qualitative research because this study was aimed to describe the content of HOTS in the indicators, teaching scenario and also the students’ worksheet of the English lesson plan. There were 5 lesson plans that were made by the students of PPG UNESA as the object of the study. To answer those three research questions, the instrument was a checklist. In collecting the data, the researcher met the lecturer of Pengembangan Materi course in PPG; got the students’ lesson plan as the assignment from the lecturer. Then, in analyzing the data the researcher interpreted it with the provided instrument. The result showed that among 5 lesson plans had only 1 until 3 indicators that contained HOTS. Mostly, it was in creating stage and the verb that was used was making a dialog. For the teaching scenario, there were among 2 until 5 activities which elaborated HOTS in it. Almost the same, the most stage that appeared was creating stage. Finally, for the student’s worksheet, it was found 2 until 4 exercises which integrated HOTS. Mostly the HOTS that was found in the lesson plan comes from basic competence 4 in the creating stage. Keywords: HOTS, lesson plan, indicator, teaching scenario, students worksheet.
Developing Powerpoint Slide to Teach Modal Auxillaries Verbs Should and Must on Guiding Writing Simple Sentences in English
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Menulis adalah kemampuan penting dalam bahasa inggris. Menulis terdiri dari pengetahuan, pengalaman, dan ide. Dalam kurikulum 2013, siswa di minta untuk membuat teks sebagai produk dari menulis. Siswa siswa kelas delapan mempunyai kewajiban untuk membuat kalimat sederhana menggunakan modal. Pada kenyataannya, siswa siswa tidak mengetahui bagaimana membuat sebuah kalimat yang baik menggunakan modal. Ini terjadi karena siswa kurang mengetahui grammar. Untuk menyelesikan masalah, penggunaan power point slide di butuhkan untuk membimbing siswa menulis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan power point slide untuk mengajar modal dan membimbing siswa menulis berdasarkan kesulitan siswa dalam belajar bahasa inggris. Modifikasi model penelitian dan pengembangan oleh (Dick, Carey, & O.Carey, 2015) untuk menjelaskan pengembangan dari power point slide. Berdasarkan hasil dari research, siswa merasa tertarik belajar melalui power point slide. Kata kunci: menulis, modal, R&D, and power point slide. Abstract Writing is an important skill in English. It consists of knowledge, experience, and ideas. In 2013 Curriculum, students are asked to create text as the product of writing. eight grades students have an obligation to make a simple sentence using modal auxiliaries. In fact, the students do not know how to make a good sentence using modal auxiliaries verbs. Knowing the students learning need, difficulty, and style are important to get good students’ outcome in learning. For solving the problem, the use of powerpoint slide is needed to guide the students writing. This study has a goal to develop a powerpoint slide to teach modal auxiliary and guide students writing based on the students’ difficulties in learning English. The modified research and development designs by (Dick, Carey, & O.Carey, 2015) to explain the development of a powerpoint slide. Based on this research, the students feel interested learning through powerpoint slide. Key words: writing; modal auxiliaries; R&D; and powerpoint slide.
The Implementation of Peer Assessment in Teaching Descriptive Text to Junior High School Students
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Studi ini fokus pada prespektif guru yang mengajar teks deskriptif menggunakan tahapan Peer Assessment. Ada empat tahap, yaitu kriteria guru, desain kelas dalam penilaian sejawat, manajemen guru di kelas, evaluasi guru terhadap teks yang ditulis oleh siswa. Tahapan-tahapan itu harus diikuti dengan tertib jika guru ingin memberikan hasil terbaik untuk pengajarannya. Guru melakukan penelitian ini untuk mengetahui apakah guru mengikuti langkah-langkah penilaian teman sebaya atau tidak. Peneliti merancang penelitian ini secara kualitatif karena ada pengamatan. Subjek penelitian ini adalah sekolah menengah pertama yang telah mengajar selama lebih dari lima tahun dan melibatkan siswa di kelasnya. Pengamatan akan direkam oleh video dan penulis dalam catatan observasi. Dan, akan ada tulisan siswa yang dikoreksi oleh rekannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru telah menerapkan tahapan penilaian sejawat dalam pengajarannya. Dia menggunakan lembar kerja untuk menjaga pengajaran tetap pada jalurnya. Para siswa memberikan sikap yang baik terhadap metode ini karena melibatkan mereka yang kebanyakan mengajar. Penelitian ini telah dilakukan di sekolah menengah atas baik secara lisan maupun tulisan. Namun, akan lebih tepat jika ada penelitian serupa di tingkat sekolah dasar. Kata kunci: Penilaian Sebaya, Menulis Teks Deskriptif, Mengajar Menulis. Abstract The study focus on the teacher perspective who teaches descriptive text using Peer Assessment stages. There are four stages, those are teacher’s criteria, classroom design in peer assessment, teacher’s management in the classroom, teacher’s evaluation of text written by student. Those stages must be followed orderly if the teacher want to give the best result for her teaching. The teacher conduct this research in order to find out whether the teacher follows the steps of peer assessment or she does not. The researcher designs this research qualitatively because there is an observation. The subject of this study is a junior high school who has teached for more than five years and involves the students of her class. The observation will be recorded by video and written in observation note. And, there will be a student’s writing text corrected by his peer. The result of this study showed that the teacher has implemented peer assessment stages in her teaching. She use a worksheet in order to keep the teaching on track. The students give a good attitude toward this method because it involves them mostly teaching. This research has conducted in senior high school whether in spoken or written. However, it will be appropriate if there is a similar research in elementary school level. Key words : Peer Assessment, Writing Descriptive Text, Teaching writing.
Students’ Revisions Based on Teacher’s Direct Written Corrective Feedback in Their Compositions
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Untuk membuat suatu komposisi yang terorganisir dengan baik, siswa membutuhkan bimbingan maupun umpan balik dari guru mereka. Umpan balik yang diberikan oleh guru dapat berupa umpan balik tertulis secara langsung. Ketika memberikan umpan balik tersebut, guru harus memperhatikan lima elemen dasar dalam menulis yaitu konten, organisasi, tata bahasa, pemilihan kata, dan mekanik. Beberapa penelitian terdahulu telah menunjukkan bagaimana cara guru memberikan umpan balik kepada siswa. Namun, bagaimana cara siswa merevisi komposisi mereka setelah mendapatkan umpan balik dari guru belum didiskusikan dengan baik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu cara siswa merevisi komposisi mereka berdasarkan umpan balik tertulis dari guru. Penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan kualitatif. Subyek dari penelitian ini adalah tiga mahasiswa yang telah menerima umpan balik dari guru mereka dan diperintahkan untuk merevisi komposisi masing – masing. Data utama dalam penelitian ini adalah naskah komposisi siswa. Sedangkan, data pendukungnya yaitu ungkapan siswa dan guru yang didapatkan melalui wawancara semi terstruktur. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa siswa yang pintar merevisi kesalahannya dengan mempertimbangkan umpan balik dari guru, keterkaitan antar ide, dan struktur yang logis. Siswa yang cukup pintar juga merevisi kesalahannya dengan benar karena ia mengikuti apa yang ditulis oleh guru di bagian komentar. Sedangkan, siswa yang kurang pintar tidak merevisi kesalahannya dengan benar. Di beberapa kesempatan, ia justru mengabaikan umpan balik dari guru tersebut dan tetap membuat kesalahan yang sama. Kata Kunci: umpan balik tertulis secara langsung, komposisi siswa. Abstract To produce a well-organized composition, students need proper guidance and feedback from their teacher. The teacher’s feedback can be in the form of direct written corrective feedback. When giving the feedback, the teacher has to pay attention to the five writing elements which are content, organization, language use, vocabulary, and mechanic. The previous studies showed how the teacher provided direct written corrective feedback in students’ compositions. However, how the students revise their compositions after receiving the feedback are not discussed yet. Thus, this study was conducted to find out how the students revise their compositions based on the teacher’s direct written corrective feedback. This study used qualitative as the research design. The subjects of this study were three university students (good student, moderate student, and poor student) who had received the teacher’s feedback and were asked to revise their compositions afterward. The main data of this study were the students’ drafts. Meanwhile, the supporting data were the students’ and teacher’s utterances which were collected through a semi-structured interview. The results of this study showed that the good student revised her errors by considering the teacher’s feedback, the relevancy of her ideas, and the logical structure. The moderate student correctly revised her errors since she directly followed what the teacher wrote in the comment section. Meanwhile, the poor student did not revise her errors in the correct way. In some cases, she even ignored the teacher’s feedback and produced the same errors. Keywords: direct feedback, written feedback, student’s composition
The Undergraduate Students Critical Thinking in Writing Evaluative Annotated Bibliography in Extensive Reading Class
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Setiap mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk berpikir kritis. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengamati dan mengembangkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis ialah dengan menugasi mereka untuk menulis evaluative annotated bibliography. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana kemampuan berpikir kritis mahasiswa terefleksikan dalam tulisan evaluative annotated bibliography mereka, dan bagaimana kemampuan berpikir kritis digunakan dalam menulis evaluative annotated bibliography. Objek dari penelitian ini adalah 9 hasil tulisan evaluative annotated bibliography mahasiswa dan subjeknya ialah 29 mahasiswa di Kelas Extensive Reading A di UNESA. Terdapat dua instrumen utama yang digunakan peneliti untuk menjawab kedua rumusan masalah, yaitu hasil tulisan mahasiswa bersamaan dengan rubrik yang diadaptasi dari Mesa Community College bernama Summarize & Critically Analyze Paper Rubric dan kuesioner. Selebihnya, wawancara juga dilakukan oleh peneliti sebagai instrumen pelengkap yang bertujuan untuk melengkapi data yang diperoleh dari kuesioner untuk menjawab rumusan masalah kedua. Semua data dianalisis secara kualitatif dengan menerapkan tiga langkah penelitian kualitatif; yaitu, pengenalan & pengorganisasian, pengkodean & pengurangan, dan penafsiran & penggambaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis mahasiswa telah terefleksikan dalam tulisan evaluative annotated bibliography mereka, khususnya pada bagian ringkasan dan respon kritis. Selain itu, hasil juga menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya menggunakan kemampuan berpikir kritis dalam mengembangkan evaluative annotation, namun juga dalam menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang mereka temui selama menulis evaluative annotated bibliography. Kata Kunci: berpikir kritis, evaluative annotated bibliography, kelas extensive reading Abstract As one of the most important educational goals, all students need to possess critical thinking skills. One of the ways to analyze and promote the students’ critical thinking is by assigning them to write Evaluative Annotated Bibliography. Thus, this present study is aimed at describing how the students critical thinking is reflected in their evaluative annotated bibliography and exploring how the students use critical thinking in constructing evaluative annotated bibliography. The objects of this study were 9 students evaluative annotated bibliography writing results and the subjects were the 29 students in Extensive Reading Class A in UNESA. There were two main instruments used by the researcher to answer two research questions. First, the students writing results along with the rubric namely Summarize & Critically Analyze Paper Rubric proposed by Mesa Community College, and the second is a questionnaire. Moreover, the unstructured format interview was also used as the complementary instrument to support the data obtained through the questionnaire to answer the second research question. In addition, the data were analyzed qualitatively by occupying the three stages; familiarizing & organizing, coding & reducing, and interpreting & representing. The results showed that the students critical thinking has been reflected in their evaluative annotated bibliography writing, specifically in their summary and critical response section. Moreover, it is also found that the students used critical thinking not only in developing their evaluative annotation but also in finding the appropriate solutions to overcome the problems they experienced while developing their writing. Keywords: critical thinking, evaluative annotated bibliography, Extensive Reading Class.
The EFL Learner’s Direct Strategies Used in Pronunciation Class
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Siswa yang mempelajari pelafalan akan menghadapi beberapa masalah dan kesulitan. Masalah tersebut bisa timbul akibat bahasa ibu siswa maupun komponen dalam pelafalan yang sedang mereka pelajari. Oleh sebab itu, siswa perlu menggunakan beberapa cara untuk mengatasinya. Dalam proses pembelajaran pronunciation, cara tersebut disebut sebagai strategi belajar pelafalan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang meneliti strategi belajar langung yang digunakan oleh 23 mahasiswa pendidikan Bahasa Inggris di UNESA dalam pembelajaran pelafalan. Selain itu faktor yang mempengaruhi dan cara strategi yang digunakan tersebut membantu kemampuan pelafalan siswa juga diteliti. Data yang digunakan diperoleh dari kombinasi angket terbuka dan tertutup, observasi serta interview. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa siswa menggunakan hampir seluruh strategi belajar langsung yang termasuk dalam strategi Memori, Kognitif dan Kompensasi. Terlebih lagi, mereka menggunakan strategi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor tersebut adalah tujuan pembelajaran, teknik pengajaran yang digunakan dosen, gaya belajar, jenis tugas dan topik pembelajaran. Selain itu hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa strategi yang digunakan siswa benar-benar membantu mereka di dalam proses pembelajaran. Kata Kunci: strategi belajar dalam pelafalan, strategi belajar langsung, kelas pelafalan Abstract Pronunciation learners will face several problems and difficulties. Those problems might come from learners’ mother tongue or the components in pronunciation that they learn. Thus, the learners need to apply certain ways to solve them. In pronunciation learning, this was called as pronunciation learning strategies. This study was qualitative research which investigates pronunciation learning strategies used by 23 English Education learners in English Department of State University of Surabaya. Moreover, the factors and the ways the strategies help the learner to learn pronunciation were also under-investigated. The data were gained through the combination of an open-ended and close-ended questionnaire, observation and interview section. The result of this study figures out that learners applied almost all of the direct strategies included in Memory, Cognitive, and Compensation strategies. Furthermore, learners applied all of these strategies because of several factors. Learning goal, lecturer’s teaching techniques, learning style, type of task, and the topic of material are the factors which influence the learners to use the strategies. In addition, based on the result, it is revealed that the strategies applied by the learners really help the learners while learning pronunciation. Keywords: pronunciation learning strategies, direct strategies, EFL learners, pronunciation class
Self-explanation Strategy: Supporting Students Critical Thinking in Reading Comprehension for Science Class in Senior High School
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Belajar melibatkan perpaduan informasi baru ke dalam pengetahuan sebelumnya. Penerapan Self-explanation dapat mempercepat proses integrasi tersebut. Dengan demikian, penelitian ini mengeksplorasi kontribusi strategi Self-explanation untuk teks sains dalam mendukung pemikiran kritis siswa dalam memahami bacaan. Peneliti mengeksplorasi proses pembelajaran dalam membaca Explanation text dengan menggunakan strategi Self-explanation dalam suatu kelas IPA. Ada enam strategi yang dalam Self-explanation: comprehension monitoring, paraphrasing, elaboration, logic or common sense, prediction and bridging inferences. Tiga puluh dua siswa diuji dengan memberikan teks sains untuk mengetahui sebagian besar strategi yang digunakan oleh siswa. Kemudian enam siswa dipilih secara acak untuk diwawancarai setelah penerapan strategi Self-explanation dalam kegiatan membaca siswa. Hasil menunjukkan bahwa penerapan Self-explanation mendorong siswa untuk berpikir lebih luas di luar text untuk mendapatkan pemahaman bacaan yang mendalam. Ada beberapa hal yang kurang rinci dalam penerapannya. Hal ini kurang sesuai jika dibandingkan dengan teori dalam penelitian sebelumnya. Namun penerapan ini mampu mendukung pemikiran kritis siswa atau disebut sebagai HOTS (High Order Thinking Skill) dalam proses pembelajaran. Selanjutnya, siswa menggunakan pengetahuan sebelumnya madukannya dengan berbagai strategi yakni elaborasi dan inferensi sedangkan sebagian besar siswa menggunakan strategi parafrase, yang masih tergolong dalam pemahaman tingkat rendah dalam memahami teks. Strategi parafrase tidak memerlukan keterampilan untuk menghasilkan inferensi dan menguraikan pengetahuan siswa sebelumnya dengan informasi baru dalam teks. Kata kunci: strategi pembelajaran, self-explanation strategy, berfikir kritis, explanation text Abstract Learning involves the integration of new information into prior knowledge. Generating explanations to oneself or so-called self-explaining accelerates that integration process. Thus, this research explores the contribution of a self-explanation strategy to science text in supporting students critical thinking in reading comprehension. The researcher explores the teaching and learning process of reading explanation text by using a self-explanation strategy in a particular science class. There are six strategies demonstrated in self-explanation: comprehension monitoring, paraphrasing, elaboration, logic or common sense, prediction and bridging inferences. Thirty-two students were examined by giving science text to know most strategies used by students. Then six students were chosen randomly to be interviewed after the implementation of self-explanation strategy in their reading activity. The findings showed that the implementation of self-explanation encouraged students to think beyond the text to get a deep reading comprehension. There were several missing details in conducting this strategy in the classroom if being compared to the theory in the previous research. However, this implementation was able to support students critical thinking or called as HOTS (High Order Thinking Skill) in the learning process. Further, students with prior knowledge were often varied in using the multiple strategies which are elaboration and inferences whereas most of the students used paraphrasing strategy, low-level comprehension, to understand the text. Paraphrasing strategy did not require a skill to generate inference and elaborate on what the students existing knowledge with new information in the text. Keywords: reading strategy, self-explanation strategy, supporting critical thinking, explanation text
Teacher’s Knowledge of Higher Order Thinking Skill in Teaching-Learning Process in Senior High School
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam abad 21 ini, siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai konsep dalam ilmu tetapi juga kemampuan untuk berpikir dan menerapkan suatu ilmu. Yen & Halili (2015) juga berpendapat bahwa pendidkan pada abad 21 ini menekankan pada higher order thinking skill (HOTS). Namun, pencapaian soal UN berbasis HOTS masih jauh dari kata memuaskan (Retnawati, Kartowagiran, Arlinwibowo, & Sulistyaningsih, 2017). Kemudian, Wardany (2016) dan Usmaedi (2017) menyatakan bahwa HOTS jarang sekali muncul selama proses belajar mengajar. Permasalahan ini menunjukkan hilangnya pemahaman guru dalam HOTS. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari dan menjelaskan persepsi guru dalam HOTS itu sendiri. Bentuk penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Subyek penelitian ini adalah empat guru Bahasa Inggris di SM, yang mendapatkan pelatihan kurikulum 2013 dari pemerintah. Wawancara terstruktur diaplikasikan untuk pengumpulan data. Kemudian data yang diperoleh dianalisis dan dijelaskan secara spesifik berdasarkan interpretasi peneliti dalam bentuk narasi dan deskriptif. Peneliti menemukan bahwa subyek memiliki pemahaman yang cukup mengenai kemampuan menganalisis, pemahaman yang sedikit dalam kemampuan mengevaluasi dan pemahaman yang baik dalam kemapuan membuat. Kata Kunci: guru, pengetahuan, HOTS. Abstract In this 21st century skill, the students are required mastering not merely the conceptual knowledge but also the skill to think and apply the knowledge. Yen & Halili (2015) also argued that 21st-century skill education is emphasized at Higher Order Thinking Skill (HOTS). However, the achievement of the HOTS test items in the National Exam (UN) is far from satisfactory (Retnawati, Kartowagiran, Arlinwibowo, & Sulistyaningsih, 2017). Then, Wardany (2016) and Usmaedi (2017) revealed that HOTS are less appearing in the teaching and learning process. These problems have shown the lack of teacher’s knowledge in HOTS. Therefore, the purpose of this research was to seek and describe the teacher’s knowledge in higher order thinking skill. This research was designed as qualitative research. The subjects of this research were four English teachers in senior high school, who got training in curriculum 2013 from the government. The semi-structured interview was applied in order to gain the data. Then, the results were analyzed and explained in detail based on the researcher’s interpretation in the form of descriptive and narrative. The findings have shown that the subjects adequately understand in the analyzing skill, the subjects gave an incomplete idea in the evaluating skill and the subjects have a good understanding of creating a skill. Keywords: teacher, knowledge, HOTS.
Teacher’s Technique in reducing the Students’ Reluctance to Speak English in EFL Classroom
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Interaksi kelas menuntut siswa untuk berpatisipasi aktif agar interasi tersebut berjalan dengan baik. Permaslahan yang sering dihadapi oleh para guru dalam melasanakan interaksi kelas adalah siswa merasa enggan dan malu dalam menyampaian pemikiran mereka dengan menggunaan bahasa Inggris selama berinteraksi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan tenik guru dalam mengatasi dengan keengganan siswa untuk berbicara bahasa Inggris di kelas dan (2) menggambarkan peran guru dalam penerapan strategi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Peneliti menganalisis data secara kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah guru bahasa Inggris SMA Negeri 1 Mojosari dengan pengalaman mengajar lebih dari 20 tahun. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara. Selama pengamatan, peneliti menggunakan field note dan rekaman video untuk membantu dalam pengumpulan data, saat melakukan wawancara, peneliti menggunakan panduan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa guru menggunakan 3 (tiga) teni untuk mengurangi keengganan siswa untuk berbicara bahasa Inggris. Yaitu brainstorming, diskusi kelompok, dan presentasi. Tenik-tenik tersebut mampu memberi lebih banyak kesempatan bagi siswa untuk lebih banyak berbicara. Studi ini juga menemukan bahwa guru bahasa Inggris juga memainkan beberapa peran saat menerapkan strategi. Mereka adalah controller, prompter, participant. Kata Kunci: kengganan siswa, teknik guru, peran guru Abstract Classroom interaction requires students to get involved actively so that classroom interaction can go well. The problem which is often faced by the teacher in conducting classroom interaction is the students are reluctant and shy to deliver and express their idea in English during the classroom interaction. This research aimed to (1) describes the teacher’s techniques in overcoming the students’ reluctance to speak English in class and (2) describe the teachers’ roles in implementing the techniques. This study is a descriptive qualitative study. The researcher analyzed the data qualitatively. The subject of the study is the English teacher of SMA Negeri 1 Mojosari with more than 20 years of teaching experiences. The data was obtained through observation and interview. During the observation, the researcher used field note, and video recording, while conducted interview the researcher used an interview guide to help in obtaining the data. Based on the result, it can be concluded that the teacher used 3 (three) strategies in reducing the students reluctance to speak English. Those are brainstorming group discussion, and presentation. Those techniques are able to give more chance for the students to speak more. This study also reveals that the English teacher also played several roles while implementing the techniques. Those are controller, prompter, and participants. Keywords: students’ reluctance, teacher’s techniques, teacher’s roles
The Effect of Using Instagram on Eleventh Grade Students’ Speaking Skill
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sebagai kemampuan paling mendasar dalam Bahasa Inggris, berbicara mempunyai peran penting dalam proses pembelajaran bahasa. Akhir-akhir ini, guru dapat menggunakan media sosial sebagai perkembangan teknologi menjadi sebuah metode baru dalam praktik berbicara. Instagram merupakan media sosial yang tepat untuk diterapkan dalam praktik berbicara dengan tujuan memberikan stimulus kepada siswa-siswi agar mengunggah dan membagikan foto atau video menarik mengenai kegiatan pembelajaran mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak dari Instagram terhadap kemampuan berbicara siswa kelas XI. Desain penelitian ini adalah quantitatif eksperimen. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI SMAN 1 Greisk, sedangkan sampelnya adalah 38 siswa XI SIG 2 sebagai grup eksperimen, dan 37 siswa dari XI SIG 1 sebagai grup kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan adalah soal tes, dan rubrik penilaian kemampuan berbicara. Data diperoleh dari nilai pre-test dan post-test. Kemudian, data dianalisis menggunakan Mann-Whitney U Test untuk mengetahui nilai signifikannya, karena data nilai tidak berdistribusi secara normal. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan pada output dari Mann-Whitney U Test, nilai significance level adalah 0,000 yang mana kurang dari 0,05. Nilai p-value tersebut mengindikasi bahwa ada perbedaan signifikan atas nilai kedua grup tersebut. Sebagai tambahan, nilai mean rank dari post-test grup eksperimen adalah 47,92 dan grup kontrol adalah 27,81. Hal in menunjukkan bahwa grup eksperimental mempunyai nilai post-test yang lebih tinggi setelah mendapatkan treatment. Kemudian, besar dampak perbedaannya adalah 0,47 yang termasuk dalam kategori besar. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa adanya dampak dalam penggunaan Instagram pada kemampuan berbicara siswa kelas XI. Kata Kunci: Instagram, Kemampuan Berbicara Abstract Speaking skill, as one of the fundamental skills of English, has a significant role in the language learning process. On these days, teachers can utilize social media as a part of technology to be a new media of speaking practice. Instagram can be a good social media to be used in speaking practice for stimulating students to post and to share interesting photos or videos about their learning activities. Thus, this study aims to reveal the effect of Instagram on eleventh-grade students’ speaking skill. The design of this research is experimental quantitative research. The population is the eleventh-grade students’ of SMAN 1 Gresik, and the sample is 38 students of XI SIG 2 as the experimental group, and 37 students of XI SIG 1 as the control group. The research instruments are tested and speaking assessment rubric. The data are gained in the form of pre-test and post-test score. Then, the data are analyzed by using the Mann-Whitney U Test to find its significance level because the score data is not normally distributed. The result of the study shows that based on the output of the Mann-Whitney U Test, significance level (p-value) of post-test scores is .000. It is lower than .05 which means there is a significant difference between both groups after given a treatment. In addition, the experimental group has a higher mean rank score of the post-test which is 47.92 then the control group which is 27.81. In short, there is a significant difference in the use of Instagram on eleventh-grade students’ speaking skill. Then, the effect size given belongs to large effect, that is .47. Thus, it can be concluded that there is an effect of using Instagram on eleventh-grade students’ speaking skill. Keywords: Instagram, Speaking Skill