cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Retain: Journal of Research in English Language Teaching
ISSN : 23562617     EISSN : 30322839     DOI : https://doi.org/10.26740/rt.v13i02
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 947 Documents
An Analysis of Debate Content Delivered by Speaking for Debate Students
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konten debat yang disampaikan oleh mahasiswa kelas “Speaking for Debate” dengan menggunakan analisis struktur dasar argumen (Label, Explanation, Example, and Tie-back). Dalam menyusun sebuah argumen yang baik dan menyakinkan, mahasiswa harus mampu memenuhi semua struktur dasar argumen. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis pengembangan argument mahasiswa berdasarkan peran pembicara dalam sistem “British Parliamentary Debate”. Penelitian kualitatif konten analisis digunakan untuk menjawab rumusan-rumusan masalah dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis transkrip pidato mahasiswa kelas “Speaking for Debate” menunjukkan bahwa tidak semua siswa telah memenuhi struktur dasar dalam argumen dengan baik. Mereka kurang dalam contoh dan simpulan. Beberapa masalah juga ditemukan dalam penjelasan argumen yang disampaikan oleh mahasiswa. Permasalahan tersebut ialah alasan yang tidak relevan, argumen yang menimbulkan pertanyaan, dan kurangnya contoh atau bukti-bukti yang kuat untuk mendukung argumen mereka. Hal ini berpengaruh terhadap rendahnya kualitas argumen mereka dalam berdebat. Dalam mengembangkan argumen, hampir semua mahasiswa kelas “Speaking for Debate” memulai dari menyampaikan respon “rebuttal” dan memberikan argumen tim mereka. Tidak semua mahasiswa memenuhi peran pembicara dalam tim. Mereka tidak menyampaikan pidato pembuka yang mendukung argumen tim mereka. Kata Kunci: konten debat, struktur dasar argumen, peran pembicara, British Parliamentary Debate Abstract This study aims to analyze the debate content delivered by Speaking for Debate Students by using the basic structure of argument analysis (Label, Explanation, Example, and Tie-back). In constructing a good and convincing argument, the students should fulfill all the basic structure of an argument. Besides this, the study also aims to analyze the development of argument based on the speakers’ roles in British Parliamentary Debate system. Qualitative content analysis study is used to answer the research questions. Based on the result of this study, not all the students have fulfilled the basic structure of the argument. They are missed on the example and the tie-back. Some problems also found on their explanation such as irrelevant reasons, begging the questions, and lack of evidence and detail information. Those problems lead to the low quality of debate performance. Most of the students attending in Speaking for Debate develop their argument start from giving the rebuttals then delivering the arguments. Not all students have completely fulfilled the speakers’ role. They fail to give an introduction speech which can strengthen their team’s case. Keywords: debate content, the basic structure of argument, speakers’ roles, British Parliamentary Debate
Students’ Perception on the Use of L1 in the English Language Classroom in SMA Taman Siswa Mojokerto
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bahasa Ingris merupakan bahasa internasional yang menghubungkan semua orang di dunia. Berdasarkan alasan tersebut, Indonesia menetapkan bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang wajib dipelajari. Siswa biasanya melibatkan bahasa pertama mereka, yaitu bahasa Indonesia di kelas EFL karena pebedaan level kemampuan. Namun, sebagian siswa menghindari penggunaan bahasa pertama. Dalam situasi ini, peneliti ingin mengetahui bagaimana sikap siswa terhadap penggunaan bahasa pertama dalam kelas EFL, dan untuk mengetahui apa alasan mereka untuk mendukung bahasa pertama dan apa alasan mereka menghindari bahasa pertama dalam kelas EFL. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk menjawab pertanyaan penelitian pertama dan metode kualitatif untuk menjawab pertanyaan penelitian kedua dan ketiga; dimana peneliti memperoleh data dari kuesioner dan juga interview yang diberikan kepada siswa. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1 SMA Taman Siswa Mojokerto. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa alasan siswa mendukung bahasa pertama dikarenakan untuk mengetahui arti kosa kata baru; mengerti tata bahasa; mengerti materi baru; mengerti instruksi; dan untuk merasa nyaman. Sedangkan alasan siswa menghindari penggunaan bahasa pertama dalam kelas EFL adalah; mereka harus meningkatkan kemampuan mereka dengan terus menggunakan bahasa Inggris, dan tidak ingin bergantung pada bahasa pertama. Jadi, masih terdapat beberapa siswa yang mendukung bahasa pertama dalam kelas EFL. Kata Kunci: Bahasa Pertama dalam kelas EFL, Sikap Siswa, Alasan Siswa. Abstract English language is an international language that could connect people around the world. Based on that reason, Indonesia applies English as a foreign language that must be learned. The students usually involve their L1, which is Bahasa Indonesia in the EFL classroom because of the different skill level of the students. However, the rest of the students choose to avoid the use of L1. In this situation, the researcher wants to know how does the student’s attitude toward Bahasa Indonesia in EFL classroom, and to find the students reasons; what are their reasons for supporting L1 and what are their reasons for avoiding L1 in the EFL classroom. This research used a quantitative method to answer the first research question and qualitative method to answer the second and third research question; where the researcher got the data from the questionnaire and interview given to the students. The subject of the research was the students from XI IPA 1 SMA Taman Siswa Mojokerto. The results of the research showed that the student’s reasons for supporting L1 were that they need it to get the meaning of the new vocabularies; understand grammar; understand the new materials; understand the instruction, and to feel secure. Whereas the student’s reasons for avoiding L1 was that they need to improve their skill with the maximum exposure of target language and to make themselves not depend on L1. In conclusion, there are the majority of the students who still supported L1 in the EFL classroom. Keywords: First Language in The EFL Classroom, Student’s Attitude, Student’s Reasons.
Students’ Speaking Performance Using Logical Thinking Skill in Speaking for Debate Class State University of Surabaya
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tingkat berpikir logis siswa di Kelas Debat Universitas Negeri Surabaya dan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara perbedaan tingkat kemampuan berpikir logis terhadap performansi berbicara atau tidak. Penelitian ini menggunakan kuantitatif ex-post facto sebagai metodologi penelitian dikarenakan variable bebas yang sudah terjadi sekarang dan hasilnya akan diwujudkan dalam bentuk angka. Subjek dari penelitian ini adalah 32 siswa dari Kelas Debat Universitas Negeri Surabaya yang akan dikategorikan menjadi dua grup berdasarkan tingkat berpikir logis mereka; siswa dengan tingkat berpikir logis tinggi dan rendah. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes berpikir logis dan tes berbicara. Tes berpikir logis diberikan untuk mengukur tingkat berpikir logis pada siswa dan tes berbicara diberikan untuk mengetahui hubungan antara perbedaan tingkat kemampuan berpikir logis terhadap performansi berbicara. Berdasarkan hasil data, terdapat 19 siswa yang memiliki tingkat berpikir logis tinggi atau sebesar 53% dari jumlah siswa keseluruhan. Sedangkan, terdapat 16 siswa yang memiliki tingkat berpikir logis rendah atau 47% dari jumlah siswa keseluruhan. Sementara itu, analisis menggunakan Person Koefisien Korelasi digunankan dalam menganalisis tes berbicara dan hasilnya mengindikasikan adanya hubungan antara tingkat berpikir logis dengan performansi berbicara pada siswa. Adanya hubungan ditunjukkan oleh nilai p .000 yang lebih rendah dari .05. Sementara itu, koefisien korelasinya .888 yang berarti hubungan antara tingkat berpikir logis dengan performansi berbicara pada siswa berada pada korelasi yang sangat kuat dengan arah yang positif. Kata Kunci: Debat, Berpikir Logis, dan Performansi Berbicara Abstract The aim of this study is to describe logical thinking level of the students in Speaking for Debate State University of Surabaya and to find out the relationship between different level of logical thinking skill in term of speaking performance which used a quantitative ex-post facto as the research methodology since the independent variable has happened and the result would be in the form of number. The subject of this research were 32 students of Speaking for Debate Class which were categorized into two groups based on their level of logical thinking; high and low logical thinking level. The instruments used in this research were logical thinking test and speaking test. Logical thinking test was administered to measure students’ logical thinking level and speaking test was used to find out the relationship between different levels of logical thinking skill in term of speaking performance. The result showed that there were 19 students who have high logical thinking level or as many as 53% of the total students. However, there were 16 students who have low logical thinking level or as many as 47% of the total students. Meanwhile, analysis of using Pearson Correlation Coefficient was administered on analyzing the speaking test and the result indicated there was a relationship between logical thinking level and speaking performance of the students. It was proven by the p-value .000 which is less than .05. The correlation coefficient (r) equals .888 meaning that the relationship was in very strong correlation in positive direction. Keywords: Debate, Logical Thinking, and Speaking Performance.
Genre-Based Approach As A Method to Build Students’ Critical Thinking in Comprehending Narrative Text for Senior High School
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Membaca teks naratif memerlukan kemampuan berpikir kritis guna memahami isi teks secara mendalam. Genre Based Approach (GBA) atau pendekatan berbasis genre adalah sebuah metode dalam pengajaran bahasa yang memiliki empat tahapan, yaitu: BKOF, MOT, JCOT, dan ICOT. Dalam pengajaran membaca, penggunaan GBA akan mendorong siswa untuk memahami teks secara keseluruhan bukan kalimat per kalimat dan hal tersebut berhubungan dengan kemampuan berpikir kritis. Oleh karenanya, penelitian ini akan menunjukkan penggunaan GBA dalam pembentukan kemampuan berpikir siswa khususnya dala memahami teks naratif. Penelitian ini berupa penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi GBA sebagai metode untuk membangun kemampuan berpikir kritis siswa dalam memahami teks naratif, hasil kerja siswa penerapan GBA, dan respon siswa terhadap proses belajar mengajar yang menggunakan GBA. Subjek penelitian sejumlah 36 siswa dan seorang guru. Peneliti melakukan observasi terhadap proses belajar mengajar di kelas guna mendeskripsikan implementasi GBA dan bagaimana hal tersebut membangun kemampuan berpikir kritis siswa. Peneliti juga mengumpulkan hasil kerja siswa untuk menunjukkan sejauh mana kemampuan berpikir kritis mereka berkembang setelah penerapan GBA. Selanjutnya, peneliti melakukan wawancara untuk mendeskripsikan respon siswa tentang proses belajar mengajar menggunakan GBA. Hasil observasi menunjukkan bahwa guru telah menerapkan seluruh tahapan GBA, meskipun terdapat sedikit ketidaksesuaian dengan teori. Hasil kerja siswa menunjukkan siswa mampu menjawab soal-soal berbasis HOTS khususnya pada tahapan analisis dan evaluasi. Terakhir, hasil wawancara menujukkan siswa mampu menikmati dan merasa proses belajar mengajar menggunakan GBA sangat menarik serta lebih komprehensif. Kata kunci: pemahaman membaca, pendekatan berbasis genre, kemampuan berpikir kritis siswa, teks naratif. Abstract Reading narrative text requires critical thinking ability to comprehend the text deeply. Genre-Based Approach (GBA) is a language teaching method that consists of 4 stages: BKOF, MOT, JCOT, and ICOT. In teaching reading, GBA will encourage the students to comprehend the whole of the text rather than sentence by sentence which relates to critical thinking ability. Therefore, this research is designed as descriptive research aims to describe the implementation of GBA as a method to build students critical thinking in comprehending narrative text, the students work after they are taught by GBA, and the students responses toward teaching and learning process with GBA. The subjects are 36 students and an English teacher. The researcher observed the teaching and learning process to describe the implementation of GBA and how it built students critical thinking. Moreover, she collected the students work to investigate whether the method was successful in encouraging students’ critical thinking or not. Likewise, the researcher conducted an interview to describe the students responses to the teaching and learning process by GBA. The observation showed that the teacher implemented all stages in GBA, although there were some points which were not in line with the theory. The students works showed that the students could answer the HOTS test especially for analyzing and evaluating stage. In addition, the interview result showed that the students felt the teaching and learning process was interesting, enjoyable, and more comprehensive. Keywords: reading comprehension, genre-based approach, students critical thinking, narrative text.
Mindmap as the Preparation Outline for Helping College Students in Doing Public Speaking
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dengan menguasai kemampuan berpidato, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan personal dan profesional mereka. Mindmap sebagai teknik untuk membuat kerangka berfikir dalam berpidato dipecaya mampu untuk mempermudah mahasiswa dalam berpidato. Studi kualitatif ini bertujuan untuk menginvestigasi penggunaan mindmap sebagai kerangka berpikir, kualitas berpidato mahasiswa yang dihasilkan oleh penggunaan mindmap sebagai kerangka berpikir, dan dengan cara apa mindmap sebagai kerangka berpikir membantu mahasiswa dalam berpidato. Data studi ini didapat melalui kegiatan pengamatan dan interview terhadap sembilan belas mahasiswa kelas pidato jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Adi Buana. Hasil studi ini menunjukkan bahwa penggunaan mindmap sebagai kerangka berpikir dimulai dari dosen pengampu yang menjelaskan beberapa teori dalam berpidato dan informasi detail dari mindmap sebagai kerangka berpikir. Kemudian, dilanjutkan dengan mahasiswa yang mulai membuat dan menggunakan kerangka berpikir untuk mempermudah mereka dalam berpidato. Dan yang terakhir, penampilan pidato mahasiswa akan dinilai dan diberi komentar oleh dosen pengampu. Selain itu, kualitas berpidato mahasiswa yang dihasilkan karena penggunaan mindmap sebagai kerangka berpikir adalah sangat bagus, mengingat kebanyakan mahasiswa mendapatkan tingkatan terbaik sebagai hasil asesmen mereka. Sebagai tambahan, mindmap sebagai kerangka berpikir sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk mengorganisasi pidato mereka. Kata Kunci: mindmap, kerangka berpikir, berpidato, penampilan berpidato Abstract By mastering public speaking, college students can develop their personal and professional skills. Moreover, mindmap as the technique of preparation outline creation is believed to help the students to perform public speaking easier. This qualitative study was to investigate the use of mindmap as the preparation outline, the quality of students’ speech performances resulted by it and the way it helps students in public speaking. Furthermore, the data were obtained through observation and interview toward nineteen students of Public Speaking Class of English Education Department of Adi Buana University. The results show that the implementation of mindmap as the preparation outline started by the lecturer who explained some theories of public speaking and detail information of mindmap as the preparation outline. Then, the students started to create and use the outline to perform public speaking. Finally, student’s speech performances were assessed and commented on by the lecturer. Furthermore, the quality of students’ public speaking performances is very good since most of them could get exceeds expectation grade in presenting the speeches. Additionally, the use of mindmap as the preparation outline is mostly beneficial to help students to organize the speech. Keywords: mindmap, preparation outline, public speaking, speech performance
Indonesian Senior High school Students Reading Attitude : In Relation to Comprehension and School Setting
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Salah satu faktor yang mempengaruhi pembelajaran membaca bahasa asing adalah sikap baca siswa. Sikap baca yang baik diketahui memiliki kaitan dengan pencapaian hasil belajar siswa yang tinggi. Lokasi sekolah juga merupakan salah satu faktor berbedanya sikap membaca dan kemampuan siswa dalam memahami sebuah bacaan. Penelitian ini memiliki maksud untuk mencari tahu bagaimana sikap membaca siswa SMA di dua lokasi berbeda serta hubungannya dengan pemahaman baca mereka. Populasi dan sempel penelitian ini yaitu 137 siswa dari dua lokasi berbeda,Surabaya sebagai sekolah kota dan Nganjuk sebagai sekolah desa. Instrumen penelitian ini adalah kuisioner sikap baca dan tes pemahaman baca. Berdasarkan data yang diolah menggunakan One-Way Analysis of variance pada program SPSS 25, diketahui nilai sikap baca siswa yaitu dari 50 sampai 113 dengan total rata-rata 82.43 dan standard deviasi 12.03. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa sikap baca siswa dari kedua sekolah adalah lumayan baik (M = 3.26). Sedangkan hasil perhitungan Pearson Correlation menujukkan bahwa antara sikap baca dan pemahaman baca siswa tidak terdapat hubungan yang signifikan, r(137) = .046. p > .05. Hasil serupa juga ditunjukkan pada perhitungan perbedaan sikap baca pada siswa desa dan kota menggunakan tes Mann-Whitney U. Diketahui bahwa sikap baca siswa kota (Mdn = 3.36) dan desa (Mdn = 3.24) tidak berbeda signifikan, M W-U = 2270, p = .747, r = .029. Oleh karena itu, hasil perhitungan menyimpulkan bahwa lokasi sekolah tidak selalu menentukan baik buruknya sikap atau kemapuan pemahaman baca siswa. Kata Kunci: Sikap Baca, Pemahaman Baca, Kelas Sebelas, Lokasi Sekolah, Sekolah Kota, Sekolah Desa Abstract One factor may affect second language reading is reading attitude. Positive attitudes have been found to be associated with the higher reading achievement of the students. School setting also may lead to the variation of students’ attitude and comprehension toward reading. Therefore, this study tried to investigate high school students’ reading attitude based on the school setting and its correlational with reading comprehension. This study involved 137 eleventh graders students from two different school locations. The instruments used were a reading attitude questionnaire and reading comprehension test. The data were analyzed by using SPSS 25 programs. The actual score of students’ reading attitude indicated from 50 to 113 with a total mean of 82.43 and standard deviation of 12.03. The results found that the reading attitude of eleventh graders senior high school students was fairly good (M = 3.26). While based on the result of Pearson Correlation overall students’ reading attitude and reading comprehension shows no significant relationship, r(137) = .046. p > .05. Similarly, the same result was also found when analyzing the comparison of overall attitude questionnaire score between rural and urban students using Mann-Whitney U-test. It was indicated that the reading attitude was equal for students in urban school (Mdn = 3.36) and students in urban school (Mdn = 3.24), MW-U = 2270, p = .747, r = .029. The findings indicated that school location does not always define good or bad the attitude or the comprehension achievement of the students toward reading. Key Terms: Reading Attitude, Reading Comprehension, Eleventh Graders, School Setting, Rural School, Urban School
The Implementation of Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) in Teaching Reading Comprehension to the Ninth Grade Students
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana penerapan teknik Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), kemampuan siswa, dan respon siswa terhadap pengajaran membaca pemahaman dengan menggunakan CIRC. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif untuk merancang penelitian ini. Dalam penelitian ini, peneliti mengamati aktivitas mata pelajaran. Peneliti hanya menggunakan catatan lapangan, kuesioner, dan tugas membaca siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas sembilan di SMPN 1 Jabon. Guru yang mengajar di kelas juga sebagai subjek penelitian. ini dipelajari karena dia juga bertanggung jawab untuk proses belajar mengajar menggambarkan bagaimana mengajar membaca teks menggunakan teknik Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) di kelas sembilan di sekolah menengah pertama dilaksanakan. Hasil penelitian ini akan dipresentasikan melalui hasil observasi , tugas siswa, dan respons siswa melalui angket. Guru melakukan prosedur CIRC dengan sangat baik. Berdasarkan s tugas siswa, siswa dapat menjawab semua pertanyaan dengan benar. Berdasarkan tanggapan siswa terhadap teknik CIRC, mereka merasa percaya diri dan termotivasi ketika diajarkan menggunakan CIRC. Saran bagi guru adalah guru harus menerapkan CIRC dalam mengajar pemahaman membaca sebagai teknik alternatif. Tidak hanya dalam pengajaran label teks tetapi juga dalam teks lainnya. Kata kunci : Membaca pemahaman, Cooperative integrated reading and composition (CIRC). Abstract This study was conducted to know how the implementation of Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) technique, students ability, and students responses toward teaching reading comprehension by using CIRC. This study use qualitative research to design this study. In this research, the researcher observes subjects activity. The researcher only used a field note, questionnaire, and students reading task. The subject of this study was the ninth grade students in SMPN 1 Jabon. The teacher who taught in the class was also as the subject of this studied because he was also responsible for the teaching-learning process of describing how is teaching reading text using Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) technique in the ninth grade of junior high school implemented. The result of this study will be presented through observation result, students task, and students’ responses through a questionnaire. The teacher does the procedure of CIRC very well. Based on students tasks, the students are able to answer all questions correctly. Based on the students responses toward CIRC technique, they feel confident and motivated when taught using CIRC. The suggestion for the teacher is the teacher has to implement CIRC in teaching reading comprehension as an alternative technique. Not only in teaching label text but also in other text. Keyword: reading comprehension, Cooperative integrated reading and composition (CIRC).
Lesson Planning in Reading Comprehension: An Insight from Indonesian Context
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bahasa Inggris, yang merupakan salah satu bahasa yang paling umum digunakan di dunia, membutuhkan proses belajar dan pemahaman yang rumit dan menyeluruh agar dapat digunakan dengan benar. Membaca adalah salah satu cara dalam memperoleh aspek kognitif bahasa, yang merupakan hal mendasar dalam pengembangan perolehan bahasa itu sendiri. Agar dapat membaca dengan benar, pelajar Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing atau yang dalam istilah bahasa Inggris disebut English Foreign Language (EFL), perlu diberikan pengajaran dan bimbingan yang tepat yang meningkatkan sifat komprehensif mereka. Kurikulum 2013 diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berbicara bahasa Inggris baik secara lisan maupun tertulis. Ini tidak terlepas dari kemampuan guru untuk mengembangkan pembelajaran dari rencana pembelajaran yang telah dibuat. Lebih lanjut, dalam menyusun rencana pembelajaran, guru perlu memperhatikan taksonomi kemampuan kognitif Bloom, yang sejalan dengan bagaimana guru perlu mengajar membaca dengan benar dan juga mengikuti visi kurikulum 2013. Baik dalam mengajar membaca dan menyusun rencana pelajaran, guru perlu memperhatikan urutan-urutan berpikir dalam taksonomi Bloom, yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi, untuk memastikan bahwa pelajaran membaca berjalan dengan lancar. Guru perlu menyusun rencana pembelajaran sebelum mengajar, karena rencana pembelajaran akan memudahkan, memfasilitasi, dan meningkatkan hasil proses belajar mengajar dan juga dengan menyusun rencana pembelajaran secara profesional, sistematis, dan efisien, guru akan dapat melihat, mengamati, menganalisis, dan memprediksi program pembelajaran sebagai kerangka kerja yang logis dan terencana. Kata kunci: Kurikulum 2013, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Pengajaran Membaca, Pemahaman membaca Abstract English, one of the most commonly used languages in the world, requires a delicate and thorough process of learning and acquiring in order to be able to be used properly. Reading is one of the ways in acquiring the cognitive aspects of the language, which is fundamental in the development of the language acquirement itself. In order to be able to read properly, English as a Foreign Language (EFL) learners needs to be given proper teaching and guidance that enhances their comprehensive natures. The 2013 curriculum is expected to improve students ability to speak English both orally and in writing. This cannot be separated from the ability of teachers to develop learning from the lesson plan that has been made. Further, in constructing lesson plan, teachers need to pay attention to Bloom’s taxonomy of cognitive skills, which is in line with how teachers need to teach reading properly and also goes by K13 curriculum’s vision. Both in teaching reading and constructing lesson plans, teachers need to pay attention to sequences of thinking order, which is knowledge, comprehension, application, analysis, synthesis, and evaluation, to make sure that the reading lessons go smoothly. Teachers need to construct a lesson plan before teaching, it is because lesson plan ease, facilitate, and improve the results of the teaching and learning process and by compiling a learning plan in a professional, systematic and efficient manner, the teacher will be able to see, observe, analyze, and predict the learning program as a logical and planned framework. Keywords: 2013 curriculum, Lesson plan, Teaching reading, Reading comprehension.
PQ4R Strategy In Eleventh Grade Students’ Reading Comprehension Achievement on SMA Darul ‘Ulum 1 Jombang
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pemahaman membaca merupakan elemen penting bagi siswa dalam kemampuan berbahasa Inggris. Beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca, salah satunya adalah strategi membaca. Peneliti menggunakan preview, question, read, reflect, recite, review (PQ4R) yang membuat siswa lebih mudah untuk memahami teks eksposisi analitis. Demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kemampuan membaca kelompok siswa yang diajar menggunakan PQ4R sebagai strategi membaca berbeda secara signifikan. Penelitian ini merupakan penelitian benar-eksperimen menggunakan sampel acak. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 11 IPA SMA Darul Ulum 1 Peterongan Jombang. Pretest dan posttest digunakan untuk mengukur signifikan beda dari kelas sampel. . Setelah data dikumpulkan dan dianalisis secara statistik dengan menggunakan SPSS 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PQ4R sebagai strategi menunjukkan ada perbedaan yang signifikan dalam kemampuan membaca pemahaman siswa dalam kelas Eksperimen Nilai rata-rata XI - IPA 8 sebagai kelas eksperimen mendapat 78,64 (SD = 7.210) lebih tinggi daripada XI - IPA 6 sebagai kelas dikendalikan mendapat 73,94 (SD = 9.500). Selanjutnya, hasil nilai p dalam sampel t-test independen menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok dengan nilai sig (p value) adalah 0,027 yang lebih rendah dari 0,05. Perhitungan pada eta squared adalah 0,07 yang memiliki makna bahwa pelaksanaan strategi membaca PQ4R memberikan efek moderat untuk peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa. Kata Kunci: kemampuan memahami bacaan, strategi membaca PQ4R, teks eksposisi analitis. Abstract Reading comprehension skill is the most important English skills that students need to be mastered. However, students get difficulty in reading because of several factors. In this study researcher used preview, question, read, reflect, recite, review (PQ4R) reading strategy which makes students easier to comprehend analytical exposition text. Hence, the researcher conducts this study in order to know significant different of students’ reading scores by implementing PQ4R reading strategy. The experimental study used pretest-posttest group design which are chosen by randomized sampling is implemented to conduct the study. The subjects are students of 11th grade in Science major of SMA Darul ‘Ulum 1 Peterongan Jombang. There were pretest and posttest which aims to find out the significant difference after implementing the PQ4R Strategy as the treatment of the study to the experimental class. After the data has been gained, the researcher analyzed the data statistically using SPSS 20. The result showed experimental class has the higher mean scores 78,64 (SD = 7,210) than controlled class. XI – IPA 8 73,94 (SD = 9.500). Moreover, the result of Independent sample t-test shows that there is a significant difference between the two groups by the indication of sig value (p value) is 0.027 which is lower than 0.05. The eta squared result is 0.07 which has meaning that the implementation of the treatment gives moderate effect to the improvement of the students’ reading comprehension ability. Keywords: reading comprehension skill, PQ4R reading strategy, analitical exposition text.
Teachers’ Perception on Authentic Assessment For Assessing Students’ Writing Task in the Rural Area
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam proses menerapkan penilaian otentik memiliki tujuan meningkatkan kualitas murid dalam keahlian yang profesional. Penilaian ini telah diterapkan sejak tahun 2013 tetapi tidak semua sekolah menerapkan ini. Umumnya proses penilaian ditangani oleh guru, jadi penelitian ini akan mendeskripsikan beberapa aspek yang berhubungan dengan persepsi guru terhadap penilaian otentik, masalah yang guru hadapi berdasarkan pengalamannya, dan solusi untuk menangani masalah tersebut. Penelitian ini termasuk pada penelitian kualitatif. Data yang dikumpulkan melalui angket dan wawancara. Penelitian ini diadakan di dua SMA di daerah desa di Tuban, Indonesia yang memiliki perbedaan akreditasi sekolah. Untuk subjeknya, penelitian ini membutuhkan seorang guru dari setiap sekolah untuk mengisi angket dan mengadakan wawancara. Data dianalisis melalui langkah- langkah: mengorganisasikan dan menyiapkan, mengkode dan mengurangi, menafsirkan dan menyajikan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa guru di daerah desa menerapkan semua tipe dari penilaian otentik. Pada hasil kedua ini menunjukkan masalah- masalah guru dalam penerapan penilaiann tersebut diantaranya adalah kesulitan murid pada kemampuan menulis, keterbatasan kesadaran siswa pada proses penilaian, keobjektifan guru dalam menilai siswa, ketidakcukupan fasilitas dalam melaksanakan penilaian otentik, kesulitan membuat RPP, dan memanajemen waktu. Terakhir untuk hasil ketiga ini menunjukkan solusi guru dalam menangani masalah. Beberapa solusinya harus menjadi bagian dalam kebijakan sekolah dan pemerintah, tetapi untuk lainnya ini dapat ditangani secara mandiri oleh guru. Kata kunci: Penilaian, penilaian otentik, dan menulis. Abstract In the process of applying authentic assessment, it has a goal to encourage students’ quality in professional skill. This assessment has been applied since 2013 but not all schools apply it. Commonly in the assessment process, it is handled by the teachers, so this study will describe several aspects related to the teachers’ perception toward authentic assessment, the problems that the teachers face based on their experience, and the solutions to handle the problems. This study belongs to qualitative research. The data were collected through questionnaires and interviews. It was conducted in two Senior High Schools of rural areas in Tuban, Indonesia that has different school’s accreditation. For the subject, this study needed a teacher from each school to fill the questionnaire and to conduct the interview. The data were analyzed through these steps; organizing and preparing, coding and reducing, interpreting and representing. The results of this study showed that teachers in the rural area had similar perceptions of the authentic assessment. The second finding showed the teachers’ problems for applying the assessment such as students’ low ability in writing, students’ limited ability of self awareness in assessment process, teachers’ objectivity to assess the students, the insufficient facility for conducting authentic assessment, the difficulties to make lesson plan, and the difficulties for conducting time management. Finally, for the last result, it showed teachers’ solutions to solve the problems. Some of the solutions must be part of school and government policies, but for the others, it can be handled by the teachers independently. Key terms: Assessment, authentic assessment, and writing.