cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Retain: Journal of Research in English Language Teaching
ISSN : 23562617     EISSN : 30322839     DOI : https://doi.org/10.26740/rt.v13i02
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 947 Documents
Indonesian Tenth Graders’ L2 Motivational Self System: In Relation to L2 Anxiety and School Location
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Untuk mencapai tujuan sebagai pelajar, motivasi diperlukan. Namun, ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi motivasi belajar siswa, yakni yang kecemasan dan lingkungan mereka. Dengan menerapkan teori bernama L2 Motivational Self System, penelitian ini mencoba untuk meneliti hubungan antara L2 motivational self system siswa kelas X (sepuluh) terhadap kecemasan mereka dan lokasi sekolah. Penelitian ini melibatkan 134 siswa di Surabaya dan Ponorogo. Satu set kuesioner digunakan sebagai instrumen. Data dianalisis pada SPSS Statistics 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama proses pembelajaran, siswa kota (M = 4.22) cenderung merasa lebih cemas daripada siswa di daerah pedesaan (M = 4.05). Perhitungan Independent Samples T-Test menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam skor bagi siswa di daerah perkotaan (M = 4.38, SD = 0,65) dan pedesaan (M = 4,04, SD = 0,72); t (132) = 2,83, p <0,05. Dengan tingkat perbedaan yang sedang (eta squared = 0,06). Ini berarti bahwa L2 motivational self system cukup mempengaruhi pemahaman bahasa siswa kelas X di daerah perkotaan dan pedesaan. Selanjutnya, hasil perhitungan menggunakan Pearson product moment menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif tetapi lemah antara L2 motivational self system siswa kota terhadap rasa cemas (r = 0,259, n = 67, p < 0,05). Hubungan yang sama juga terjadi pada siswa di pedesaan (r = 0,213, n = 67, p > 0,05). Temuan menunjukkan bahwa, L2 motivational self system memberikan dampak yang kecil pada rasa cemas yang dirasakan oleh siswa di kota dan desa selama proses belajar. Kata Kunci: L2 Motivational Self System, Motivasi, Kecemasan, Kelas Sepuluh, Sekolah Desa, Sekolah Kota Abstract To reach the goal as a learner, motivation is needed. Yet, there are some factors that might affect students’ motivation which is anxiousness and their environment. Applying a theory named L2 Motivational Self System, this research tried to examine the correlation between students’ L2 motivational self-system toward their anxiety and school location. This research involved 134 students in Surabaya and Ponorogo. A set of questionnaire was used as the instrument. The data was analyzed on SPSS Statistics 20. The result showed that during the learning process, urban tenth graders (M = 4.22) tend to feel more anxious than tenth graders in a rural area (M = 4.05). The calculation of Independent Samples T-Test showed that there was a significant difference in scores for students in urban (M = 4.38, SD = .65) and rural area (M = 4.04, SD =.72); t (132) = 2.83, p < .05. The magnitude of the differences in the means was moderate (eta squared = .06). It means that L2 motivational self-system quite influence tenth graders’ L2 acquisition in an urban and rural area. Furthermore, the result of Pearson product-moment calculation showed that there was a positive but small relationship between urban students’ L2 motivational self-system and L2 anxiety (r = .259, n= 67, p < .05). The result was the same for rural students (r = .213, n= 67, p > .05). The findings indicate that L2 motivational self-system gives small impact on both urban and rural students’ L2 anxiety. Keywords: L2 Motivational Self System, Motivation, Anxiety, Tenth Graders, Urban School, Rural School
Promoting Learners’ Autonomy Through Presentation in Academic Speaking Class
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Otonomi siswa memiliki peran yang penting dalam pembelajaran bahasa. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mempromosikan otonomi siswa adalah dengan melakukan presentasi; baik presentasi yang dilakukan secara berkelompok maupun individu. Namun, siswa sekolah menengah mempunyai sedikit kesempatan untuk menggunakan otonomi mereka. Kebanyakan dari mereka cenderung pasif dalam proses belajar mengajar dan hanya duduk mendengarkan penjelasan guru. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memberi informasi kepada guru-guru di sekolah menengah tentang bagaimana pelaksanaan presentasi kelompok dan bagaimana presentasi tersebut dapat mempromosikan otonomi siswa. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif. Sebagai subjek, peneliti memilih 22 orang mahasiswa di Universitas Negeri Surabaya yang sedang mengampu mata kuliah Academic Speaking kelas A. Selain itu, pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan kuesioner. Hasil pengamatan melalui observasi menunjukkan bahwa pelaksanaan presentasi kelompok untuk mengembangkan otonomi siswa di kelas Academic Speaking mencakup empat tahap diantaranya adalah Building the context, Modelling and deconstructing the text, Join construction, and Presentation. Selain itu, hasil kuesioner menunjukkan bahwa pelaksanaan presentasi kelompok dapat digunakan untuk mengembangkan kemandirian siswa. Berdasarkan hasil tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa penerapan presentasi grup untuk mengembangkan otonomi siswa di kelas Academic Speaking A sesuai dengan teori meskipun tidak semua kriteria dari otonomi siswa diterapkan, terlbih para siswa juga menunjukkan tanggapan yang positif terhadap kemandirian mereka melalui presentasi kelompok. Peneliti berharap para guru di sekolah menengah dapat menggunakan presentasi kelompok untuk memfasilitasi siswa untuk menerapkan otonomi mereka. Selain itu, penelitian lebih jauh tentang otonomi siswa dan presentasi individu perlu dilakukan oleh peneliti selanjutnya. Kata Kunci: Otonomi Siswa, Presentasi, Berbicara, Kelas Academic Speaking Abstract Learner autonomy has an important role in language learning. One of the ways that can be done to promote learners’ autonomy is through a presentation. Unfortunately, high school learners have limited chance to use their autonomy. They tend to be passive in the class during the teaching-learning process since they mostly only sit and hear the teacher explanation. Thus, this study was aimed to inform the high school teachers about the implementation of group presentation and how it can promote learners’ autonomy. The design of the research was qualitative research. Moreover, as the subject, the researcher chose twenty-two learners in the State University of Surabaya taking Academic Speaking Class A. The data were obtained through observation and questionnaire. The result from the observation showed the implementation of group presentation to promote learners’ autonomy in Academic Speaking Class A covered four stages, those are: Building the context, Modelling and deconstructing the text, Joint construction, and Presentation. Moreover, the questionnaire’s result indicates group presentation can be used to promote learners’ autonomy. From the result, the researcher concludes the implementation of group presentation to learners’ autonomy in Academic Speaking Class A is in line with the theory although the lecturer did not apply all of the basic principles, and the learners have a positive response to the group presentation toward their autonomy. The researcher hoped the senior high school teachers can utilize group presentation to make the learners apply their autonomy. Moreover, further research about learner autonomy is needed to be conducted. Key Terms: Learner Autonomy, Presentation, Speaking, Academic Speaking Class
The Use of Instagram Post For Assisting Tenth Graders in Writing Recount Text
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Menulis adalah salah satu dari empat keterampilan bahasa dalam belajar bahasa Inggris yang harus dikuasai oleh siswa. Namun, ada beberapa faktor yang menghambat siswa dalam menulis. Salah satu faktor tersebut adalah guru tidak mengajar menulis dengan teknik yang sesuai. Guru juga tidak memberikan materi atau media yang menarik dalam kegiatan menulis siswa. Untuk membuat siswa merasa termotivasi dan memiliki keinginan untuk belajar, guru harus mengajar dengan materi dan media yang menarik. Salah satu media yang menarik untuk mengajar menulis adalah Instagram. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Post Instragram adalah media yang cocok bagi siswa untuk mempraktikkan tulisan mereka atau tidak. Bagaimana guru mengimplementasikan media ini selama proses belajar mengajar, bagaimana hasil tulisan siswa dalam teks recount selama implementasi posting Instagram dan bagaimana respon siswa terhadap penggunaan Post Instagram untuk membantu mereka dalam menulis teks recount. Penelitian ini menggunakan metodologi deskriptif kualitatif dengan 26 peserta yang terdiri, seorang guru bahasa Inggris dan 25 siswa X PDCI MAN 1 Mojokerto. Berasal dari set pengamatan, tulisan siswa, dan wawancara, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa memiliki persepsi positif dalam menggunakan pos Instragram sebagai media untuk menulis. Para siswa mendukung penggunaan Instagram sebagai media karena mereka senang menggunakannya. Selanjutnya, hasil tulisan siswa cukup mengesankan. Kesalahan utama adalah dari fitur bahasa, kebanyakan dari mereka salah dalam penggunaan Verb 2. Kesimpulannya, Instagram dapat diimplementasikan sebagai media untuk melatih kemampuan menulis siswa karena dapat membantu mereka merasa termotivasi untuk menulis teks yang tepat. Selain itu, para siswa mendapatkan pengalaman baru dalam menggunakan media pembelajaran baru. Kata Kunci: Instagram, media , teks recount, media sosil, pengajaran menulis. Abstract Writing is one of the four language skills in learning English that has to be mastered by the students. However, there are several factors that obstruct students in writing. One of those factors is the teachers do not teach writing with the appropriate technique. Teachers also do not provide interesting material or media in students’ writing activity. To make the students feel motivate and have the desire to learn, the teacher should teach with interesting material and media. One of the interesting media to teach writing is Instagram. Thus, the purposes of this study are to find out whether Instagram Post is suitable media for the students to practice their writing or not. How the teacher implements this media during the teaching and learning process, how the students’ writing result in recount text during the implementation of an Instagram post and how the students response toward the use of Instagram Post for assisting them in writing recount text. This research used descriptive qualitative methodology with 26 participants consisting, an English teacher and 25 students of X PDCI of MAN 1 Mojokerto. Derived from sets of observation, students’ writing, and interview, the results of this research showed that the students have a positive perception in using Instagram Post as media to write. The students supported the use of Instagram as media because they enjoyed using it. Furthermore, the result of students’ writing text was quite impressive. The main mistake is from language features, most of them were wrong in the use of Verb 2. In conclusion, Instagram can be implemented as media to practice students’ writing ability because it can help them to feel motivated to write proper text. Moreover, the students get new experience in using new learning media. Keywords: Instagram, media, recount text, social media, teaching writing.
The Use of Indirect Learning Strategies for Assisting Students’ Writing Skill in Expository and Argumentative Writing Class
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sebagai salah satu mata kuliah di jurusan Bahasa Inggris UNESA, Expository and Argumentative Writing tidaklah mudah dipelajari dan dikuasai. Mahasiswa juga mengalami kesulitasn dalam menulis esai. Mereka perlu tahu jika ada berbagai strategi belajar yang dapat mereka gunakan dalam kegiatan pembelajaran menulis. Hal tersebut menarik perhatian penulis untuk mengadakan penelitian tentang strategi belajar indirect yang digunakan oleh mahasiswa dalam kelas Expository and Argumentative Writing. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis strategi belajar indirect yang digunakan mahasiswa dalam kelas Expository and Argumentative Writing B dan faktor-faktor yang berkontribusi bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan strategi berlajar tersebut. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa kelas B Expository and Argumentative Writing program studi Pendidikan Bahasa Inggris UNESA. Untuk mengumpulkan data, penulis menggunakan catatan obervasi di lapangan, kuesioner, dan wawancara. Hasil menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan strategi metakognitif, afektif, dan sosial. Faktor-faktor yang berkontribusi dalam pilihan mereka kebanyakan karena faktor topik dalam materi dan pencapaian belajar. Lebih lanjut, strategi tersebut dapat membantu dalam keterampilan menulis mereka. Namun, sangat memungkinkan bahwa peneliti selanjutnya dapat mengadakan penelitian serupa yang lebih kompleks mengenai penggunaan strategi belajar dalam menulis untuk membantu keterampilan menulis mahasiswa serta prestasi atau pencapaiannya. Kata Kunci: Strategi Belajar Indirect, Kelas Expository and Argumentative Writing, Keterampilan Menulis Abstract As one of the writing subjects in English Department of UNESA, Expository and Argumentative Writing materials are not easy to be learned and mastered. The students also have difficulties in writing the essay. Thus, they need to realize that there are many kinds of learning strategies that can be applied in the learning activity of writing. It takes the researcher’s attention to conduct the research about the indirect learning strategies used by the students of Expository and Argumentative Writing Class. Therefore, the aims of this research are to find out the kinds of indirect learning strategies the learners used in Expository and Argumentative Writing Class B and factors contributing the learners to apply those learning strategies. Furthermore, the subjects are the students of Expository and Argumentative Writing Class B in English Education Program of UNESA. The researcher used field-notes observation, questionnaire, and interview to collect the data. The findings showed that students use metacognitive, affective, and social strategies. The factors contributing to their choice are mostly by the topic of the material and learning goal. Additionally, those learning strategies can assist their writing skill. However, future research may need to conduct this kind of research that will be more complex about the investigation of the use of learning strategies in writing for assisting students’ writing skill and writing achievement. Keywords: Indirect Learning Strategies, Expository and Argumentative Writing Class, Writing Skill
Vocabulary Size Development of English Department Students in State University of Surabaya
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam pembelajaran dan akuisisi bahasa, kosakata berperan penting karena dapat memprediksi kompetensi bahasa dan literasi pelajar. Banyak penelitian telah dilakukan terkait ukuran kosakata dan perkembangannya pada berbagai tingkatan pelajar. Pada penelitian pengembangan ini, peneliti menggunkan pendekatan kuantitatif dalam menginterpretasikan data yang diperoleh dari mahasiswa di Universitas Negeri Surabaya. Sejumlah 242 mahasiswa yang berada di tahun pertama, kedua, ketiga, dan keempat berpartisipasi dalam penelitian cross-sectional ini. Kosakata mereka diukur menggunakan Tes Ukuran Kosakata dan penghitungan perkembangan ukuran kosakata mahasiswa dilakukan menggunakan One-Way ANOVA di IMB SPSS Statistics 23. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa tingkat pertama mengetahui lebih dari enam ribu kata ( = 6519.78), dan rata-rata ukuran kosakata bertambah 560.85 kata tiap tahunnya sehingga mahasiswa di tahun keempat mengetahui lebih dari delapan ribu kata ( = 8202.33). Hasil penelitian juga mengungkap adanya perkembangan yang signifikan pada ukuran kosakata mahasiswa dari tahun pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Semakin tinggi tingkatan mahasiswa, semakin banyak ukuran kosakata yang mereka punya. Kata Kunci: Ukuran kosakata, Perkembangan kosakata Abstract In language learning and acquisition, vocabulary plays essential role since it can predict learners’ language and literacy competence. Numerous studies had been conducted in relation to vocabulary size and its development on various level of learners. In this developmental study, researcher used quantitative approach in interpreting data elicited from undergraduate students in State University of Surabaya. A total of 242 students from the first, second, third, and fourth year participated in this cross-sectional study. Their vocabulary size was measured using Vocabulary Size Test and the computation of students’ vocabulary size development was carried out by the use of One-Way ANOVA in IMB SPSS Statistics 23. The findings showed that the freshmen knew more than six thousand words ( = 6519.78), and in average the vocabulary size increased by 560.85 words every year so that the fourth-year students knew more than eight thousand words ( = 8202.33). The result also revealed that there was significant development on undergraduates’ vocabulary size from the first, second, third, and fourth year. The higher students’ level was, the larger vocabulary size they have. Keywords: Vocabulary size, Vocabulary development
Grammatical Error Analysis of Speaking for Eight Grade Students of SMPN 1 Benjeng Gresik
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Error tidak dapat dipisahkan dari pelajar terutama ketika mereka berbicara. Error terjadi ketika pelajar tidak tahu aturan bahasa yang benar dan dilakukan berulang kali. Error membuat pelajar tidak bisa menghasilkan ucapan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk meminimalkan error yang dilakukan oleh pelajar dengan menganalisis jenis error tata bahasa. Desain penelitian ini adalah kualitatif yang bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisis error yang dibuat oleh siswa ketika berbicara. Data dikumpulkan dari dialog siswa yang berisi jenis error tata bahasa. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan catatan lapangan observasi dan rekaman video sebagai instrumen. Peneliti menganalisis data dengan mengidentifikasi, menggambarkan dan mengelompokkan, menjelaskan, dan mengevaluasi. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan dalam error penghilangan, siswa melakukan penghilangan kata kerja bantu, deleksikal, sufiks –s untuk orang ketiga tunggal, dan sufiks –s untuk kata benda jamak, sumber error ini adalah transfer antar bahasa. Berikutnya adalah error penambahan, siswa melakukan error dalam menambahkan progressive –ing, final ¬s untuk orang ketiga tunggal, dan suffix –er untuk kata kerja yang tidak perlu. Peneliti mengkategorikan error ini sebagai transfer intralingual. Terakhir, siswa melakukan error salah formasi dalam menggunakan kata bantu be daripada kata bantu do. peneliti mengategorikan sumber error ini sebagai transfer intralingual. Kata Kunci: kesalahan gramatika, analisa kesalahan, analisa berbicara. Abstract Errors cannot be separated from the learner especially when they are speaking. Errors occur when the learner does not know the correct rule of language and commit repeatedly. These errors make the learner could not produce good utterances. This study aimed to minimize the errors made by the learner by analyzing the types of grammatical errors. The research design of this study is qualitative which aimed to describe and analyze the errors made by students in speaking. The data were gathered from the students’ dialogues that contain types of grammatical errors. In this research, the researcher used observation field note and videotaped recording as instruments. The researcher analyzed the data by identity, describe and classify, explain, and evaluate. Based on the results of the research, it was found that in errors of omission, the students committed omission of the auxiliary, delexical verb, the suffix –s for third-person singular, and the suffix –s for a plural noun, the source of this error is interlingual transfer. Next is errors of addition, in these types of errors, the students committed errors in adding progressive –ing, finals for third-person singular, and the suffix –er in verb which unnecessary. The researcher categorized this error as an intralingual transfer. Lastly, the student committed errors of misformation in using auxiliary be instead of auxiliary do. Because of the student knew the structure but he used the wrong auxiliary, the researcher categorized the source of this error as an intralingual transfer. Keywords: grammatical error, error analysis, analysis of speaking
Teacher’s Techniques in Building Self-Confidence in Speaking Classroom
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Belajar bahasa Inggris menyebabkan beberapa masalah dan kesulitan terhadap siswa terutama dalam hal berbicara. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penampilan berbicara siswa seperti kegugupan, kecemasan dan kurangnya kepercayaan diri. Sehingga, penting bagi para guru untuk menciptakan suasana yang menyenangkan untuk memotivasi siswa untuk berbicara. Para guru memiliki tanggung jawab besar untuk memotivasi siswa dalam berbicara bahasa Inggris dengan menggunakan teknik yang menarik. Selain itu, teknik guru sangat penting bagi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan teknik mengajar yang digunakan oleh guru dalam membangun kepercayaan diri siswa dalam berbicara di ruang kelas. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah guru di Omah Mandari Course yang menerapkan teknik yang menarik dalam mengajar berbicara di ruang kelas. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar catatan penelitian, perekam audio, perekam video, dan panduan wawancara dalam rangka untuk menjawab pertanyaan penelitian. Prosedur analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah menuliskan semua data, mengatur data, pengkodean data, dan menyajikan data. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa guru menggunakan lima teknik dalam membangun kepercayaan diri siswa; pembelajaran luar ruangan, studi kontekstual, diskusi, presentasi, dan mini debat. Penggunaan dari teknik tersebut dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam berbicara bahasa Inggris. Selain itu, juga memotivasi siswa untuk belajar bahasa Inggris karena guru memberi mereka penguatan positif dan menggunakan teknik yang menarik selama proses belajar. Sebagai kesimpulan, teknik yang digunakan oleh guru Omah Inggris dapat diterapkan oleh guru bahasa Inggris untuk mengajar siswa SMP hingga SMA. Selain itu, guru perlu mengetahui karakter dan kemampuan siswa agar dapat menggunakan teknik yang tepat di dalam kelas. Ini dapat membantu siswa untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan berbicara. Kata Kunci: kemampuan berbicara, teknik guru, kepercayaan diri Abstract Learning English may create some problems and difficulties toward some students especially in speaking skill. There are several factors that influence student speaking performance such as nervousness, anxiety and lack of self-confidence. As a result, it is important for the teachers to create a fun and enjoyable atmosphere so that the students have a better motivation to speak up. The teachers have a big responsibility to motivate the students in speaking English by using interesting techniques. Furthermore, teacher’s techniques are essential for the students to accomplish the learning objectives. The aim of this study is to describe the techniques used by the teacher in building self-confidence in speaking classroom. The researcher uses descriptive qualitative research in this study. The subject of this study is a teacher in Omah Inggris Course who implement some techniques in speaking classroom. The instruments used in this study are field notes, audio recorder, video recorder, and interview guideline in order to answer the research questions. The procedure of the data analysis used by the researcher is transcribing all the data, organizing the data, coding the data, and representing the data. The result of this study shows that the teacher uses five techniques in building students’ self-confidence; outdoor learning, contextual study, discussions, presentations, and mini-debate. The used of these techniques could improve students’ self-confidence in speaking English. Besides, it also motivates the students to learn English since the teacher gives them positive reinforcement and uses interesting techniques during the learning process. In conclusion, the techniques used by Omah Inggris teacher can be applied by the English teacher to junior high to senior high students in speaking skill. In addition, the teachers need to know students’ character and ability in order to use appropriate techniques in the classroom. It can help the students to improve their self-confidence and speaking skill. Keywords: speaking skill, teacher’s techniques, self-confidence
Reinforcement in Speaking Class to Motivate Students
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Salah satu keterampilan bahasa yang diharapkan dapat dikuasai siswa adalah kemampuan berbicara. Namun, ada beberapa siswa yang mungkin gagal dalam menguasai keterampilan berbicara karena siswa kurang termotivasi. Oleh karena itu, penguatan diperlukan untuk menjadi alat yang memotivasi siswa untuk berbicara bahasa Inggris. Penelitian ini digunakan dalam bentuk penelitian kualitatif sebagai desain penelitian untuk menjawab pertanyaan penelitian. Studi ini juga termasuk studi kasus yang menggunakan wawancara, observasi dan dokumen sebagai instrumen utama. Pengamatan dirancang untuk mencari tahu bagaimana guru memperkuat siswa mereka untuk memotivasi mereka dalam kelas berbicara. Di sisi lain, wawancara dirancang untuk mengetahui persepsi siswa tentang penguatan motivasi yang diberikan oleh guru di kelas berbicara. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara semi terstruktur dan metode analisis data oleh Ary (2010) untuk menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua jenis penguatan yang diberikan oleh guru di kelas berbicara yaitu penguatan positif dan negatif. Berdasarkan hasil pengamatan, sebagian besar guru memberikan penguatan positif kepada siswa. Selanjutnya, temuan menunjukkan bahwa siswa merasa termotivasi dan dihargai di kelas berbicara ketika diberi penguatan. Oleh karena itu, berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa penguatan berperan penting terutama di kelas berbicara. Dengan memberikan penguatan kepada siswa, itu dapat membuat siswa merasa termotivasi dan membuat siswa melakukan yang terbaik dalam kegiatan kelas. Kata kunci: berbicara, motivasi, penguatan Abstract One of the language skills that students are expected to master is speaking. However, there are some students that might fail in mastering speaking because the students are less motivated. Hence, reinforcement is needed to be the tool that motivates the students to speak English. This study used in the form of qualitative research as the research design in order to answer the research questions. This study also belonged to a case study which used interview, observation, and documents as the main instruments. The observation was designed to find out how the teacher reinforces their students in order to motivate them in speaking class. On the other hand, the interview was designed to find out students perceptions of motivational reinforcement given by the teacher in speaking class. In this study, the researcher used a semi-structured interview and data analysis method by Ary (2010) to analyze the data. The results of the study showed that there were two types of reinforcement given by the teacher in the speaking class namely positive and negative reinforcement. Based on the observation result, the teacher mostly gave positive reinforcement to the students. Furthermore, the findings showed that students felt motivated and appreciated in speaking class when given reinforcement. Therefore, based on the result of the study, the researcher concludes that reinforcement plays an important role, especially in speaking class. By giving reinforcement to the students it can make the students feel motivated and make students do their best in a classroom activity. Keywords: speaking, motivation, reinforcement
The Implementation of Metacognitive Strategies in Reading Narrative Text for the Tenth Graders of Senior High School
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Membaca adalah salah satu keterampilan yang penting untuk diajarkan dalam kelas bahasa asing. Membaca merupakan salah satu keterampilan bahasa yang utama untuk mendapatkan informasi apa pun. Namun, dalam praktik nyata pembelajaran bahasa, tidak semua peserta didik menyadari pentingnya membaca. Strategi metakognitif adalah salah satu strategi membaca yang efektif bagi siswa untuk menjadi pembaca yang efektif. Ada beberapa jenis strategi metakognitif yang diterapkan siswa dalam pemahaman membaca. Penelitian ini dilakukan pada sepuluh siswa berprestasi kelas X SMA. Penelitian ini menggunakan studi kasus sebagai desain penelitian untuk mendapatkan informasi secara mendalam tentang penggunaan strategi metakognitif. Wawancara, observasi melalui sesi think-aloud, dan learning log diterapkan untuk mengetahui jenis strategi metakognitif dan bagaimana mereka menggunakannya. Berdasarkan data yang didapat, siswa menerapkan enam jenis strategi metakognitif. Mereka memiliki beberapa perbedaan dan persamaan cara dalam menggunakan strategi metakognitif. Kesimpulannya, siswa menerapkan beberapa jenis strategi metakognitif. Dalam penerapannya mereka memiliki persamaan dan perbedaan cara untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang teks. Kata kunci: Membaca, Strategi Metakognitif, Jenis Strategi Metakognitif. Abstract Reading is one of the important skill to be taught in a foreign language setting. It also one of the major language skill to gain any information. However, in real practice of language learning, not all learners have been realized the importance of reading. Metacognitive strategies are one of the effective reading strategies for students to be effective readers. There are some kinds of metacognitive strategies that students applied in reading comprehension. This study was conducted to the ten high achiever students of tenth graders. A case study was the research design of this research to get the information in depth about the use of metacognitive strategies. Interview, observation through think-aloud sessions, and learning log were applied to know the kinds of metacognitive strategies and how they use it. According to the data, the students implemented six kinds of metacognitive strategies. They had some differences and similarities in ways of using metacognitive strategies. In conclusion, the students applied some kinds of metacognitive strategies that have similarities dan differences way to get a better understanding of the text. Keywords: Reading, Metacognitive Strategies, Kinds of Metacognitive Strategies.
The Analysis of The Authenticity of Writing Task in ‘ Buku Bahasa Inggris untuk Siswa SMA/SMK/MA Kelas 11’
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Keberadaan materi otentik di Buku siswa memberikan manfaat dan keuntungan lebih yakni menambahkan nilai keotentikan pada konten. Keotentikan dalam penelitian ini dimaknai sebagai kualitas konten buku dalam menyediakan ‘task’ bagi siswa yang menyerupai konteks yang sebenarnya dalam bahasa target, baik yang dibuat, diadopsi, atau diadaptasi. Materi otentik sangat penting bagi siswa karena terdapat aspek budaya dan latar belakang yang memberikan siswa gambaran bagaimana bahasa target digunakan dalam konteks yang sebenarnya sehingga siswa juga akan lebih termotivasi karena bahasa target yang dipelajari didalam kelas benar-benar bisa diaplikasikan di kehidupan nyata. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh deskripsi tentang (1)Keotentikan ‘writing task’ berdasarkan genre dari ‘writing task’ dan (2) Keotentikan writing task berdasarkan practice-nya di Buku Bahasa Inggris Kelas untuk siswa SMA/SMK/MA Kelas 11. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif Kualitatif. Data didapatkan melalui teknik observasi writing task dan kemudian di analisis menggunakan kategorisasi writing task menurut Raimes (1983). Hal ini dilakukan untuk menghindari keambiguan dalam menentukan apakah suatu task termasuk kedalam keterampilan menulis atau ketermapilan yang lain. Kemudian data yang sudah dikumpulkan dianalisis keotentikannya berdasarkan dua features, yakni genre dan practice. Hasil penilitian menunjukkan bahwa writing task di BI otentik karena meliputi genre yang beragam dengan tujuan dan sasaran yang spesifik. Selain itu writing task di BI juga mengandung keotentikan karena menginstruksikan siswa untuk (1)menunjukkan atau menciptakan respond (performing respond),(2)memberikan situasi yang menyerupai kehidupan nyata (providing real life), mengaplikasikan materi pokok yang sudah ditetapkan (Applying knowledge), (3) Fleksibel terhadap siswa (Students-structured), dan pembuktian langsung (Direct Evidence). Sehingga berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan writing task di BI otentik baik dari segi genre maupun practice dari writing tasks. Kata Kunci: keotentikan, analisis, writing task, genre writing task, practice writing task Abstract The existence of authentic materials in the students’ textbook make the textbook have more benefit, which is providing authenticity in this case. Authenticity is the quality of material/content of authentic materials which has been adapted or adopted in students’ textbook in designing task or text resembling real life. Authentic materials are important because they contain cultural aspects and show the learner how native speakers use the target language in every aspect of their lives. The aim of this research is to find out the authenticity of writing the task in Buku Bahasa Inggris Kelas untuk siswa SMA/SMK/MA Kelas 11 in terms of (1) the genre of the writing tasks (2) the practice of the writing task. The approach of this study is Qualitative. The data is gathered through observing and analyzing the tasks using the categorization of writing task proposed by Raimes (1983). This is done to avoid the ambiguity if a task belongs to writing skills or any other skill. Furthermore, the data gathered is found out its authenticity in terms of the genre and the practice of the writing task as the features of authenticity. The result shows that in term of the genre, the writing tasks provide variously genres with various specific purposes and speech community. In terms of the practice, the writing task providing authenticity by asking students to perform respond, providing students with a real context in L2, asking students to apply the knowledge they’ve learned, giving students flexibility in doing the task, and providing questions that are cognitively demanding to students. Therefore, the writing tasks in the textbook are authentic in terms of the practice and the genre of the writing tasks. Keywords: authenticity, analysis, writing task, the genre of writing task, the practice of writing task