cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
RETAIN (RESEARCH ON ENGLISH LANGUAGE TEACHING IN INDONESIA)
ISSN : 23562617     EISSN : 30322839     DOI : -
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 947 Documents
The Use of English Song as the Media to Teach Listening to Tenth Graders in SMA 1 Jombang
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam mengajar bahasa Inggris ada empat keterampilan yang harus dikuasai, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Jenis keterampilan yang harus dipelajari dimulai dari mendengarkan. Keterampilan mendengarkan perlu dikuasai agar dapat berkomunikasi. Mendengarkan terdaftar sebagai dua keterampilan yang paling dibutuhkan dalam komunikasi, bersama dengan berbicara. Di Kurikulum 2013, mendengarkan lagu adalah komponen wajib dan dinyatakan dalam kurikulum dan menjadi bahan yang harus diajarkan. Dalam hal ini, peran guru diperlukan untuk membantu siswa dalam mengajar mendengarkan. Lagu bisa dianggap sebagai media. Lagu membuat siswa dapat belajar keterampilan mendengarkan. Selain itu, para siswa lebih terbiasa dengan lagu. Dalam penelitian ini, peneliti mengamati penggunaan lagu sebagai media dalam mengajar mendengarkan siswa kelas sepuluh dengan menggunakan penelitian kualitatif. Peneliti menggunakan beberapa instrumen seperti daftar observasi, pekerjaan siswa dan kuesioner. Berdasarkan hasil, penggunaan lagu sebagai media dalam mengajar mendengarkan siswa kelas sepuluh berhasil. Dapat dilihat bahwa para siswa menikmati kegiatan mendengarkan mereka. Mereka menanggapi pelajaran dengan positif dan antusias dan terlibat dengan mudah dalam seluruh proses pembelajaran. Selain itu, penerapan penggunaan lagu sebagai media dalam mengajar menyimak dapat meningkatkan keterampilan menyimak siswa. Hampir semua siswa mengatakan bahwa mereka tertarik dan termotivasi dalam belajar mendengarkan lagu ketika melakukan tugas, daripada cara konvensional belajar mendengarkan di kelas. Selain itu, mengajar mendengarkan melalui lagu juga bermanfaat untuk kemampuan mendengarkan siswa. Ini dapat diidentifikasi dalam karya siswa. Peneliti menemukan bahwa siswa lebih mudah menemukan konten dan konteks lagu saat mendengarkan. Apalagi para siswa lebih bersemangat di kelas. Ini bisa dilihat ketika banyak siswa menjadi sangat baik hingga sangat baik untuk pekerjaan mereka. Lebih lanjut, peneliti mengamati bahwa siswa dapat mengidentifikasi dan menjelaskan informasi spesifik tentang makna dan nilai moral dari lagu tersebut, tetapi jawabannya cukup sesuai dengan trek dan melangkah lebih jauh dari makna sebenarnya dari lagu tersebut. Penafsiran siswa tentang lagu dijelaskan dengan baik dan kedalamannya bagus tetapi siswa ini tidak dapat menjelaskan lagu dengan benar. Kata kunci: Lagu Bahasa Inggris, Pembelajaran Mendengarkan Abstract In teaching English there are four skills that should be mastered, those are listening, speaking, reading and writing. The sort of skills to be learned is started from listening. Listening skill needs to be mastered in order to be able to communicate. Listening is listed as the two most required skill in communication, together with speaking. In 2013 Curriculum, listening to the song is an obligatory component and stated in curriculum and become materials that should be taught. In this case, the role of the teacher is needed to assist students in teaching listening. Songs can be regarded as the media. Song makes students able to learn a listening skill. In addition, the students are more familiar with the song. In this study, the researcher observed the use of song as the media in teaching listening to tenth graders by using qualitative research. The researcher used some instruments such as observation checklist, students’ work, and questionnaire. Based on the result, the use of song as the media in teaching listening to tenth graders was successful. It can be seen that the students enjoyed their listening activity. They responded positively and enthusiastically to the lesson and engaged easily in the whole learning process. In addition, the implementation of the use of song as the media in teaching listening could improve the students listening skills. Almost all students said that they were interested and motivated in learning to listen to the song when doing the assignment, rather than the conventional way of learning to listen in the classroom. Besides, teaching listening through songs is also beneficial for the students’ listening ability. This could be identified in the students’ works. The researcher found that the students were easier to find the content and context of the songs while listening. Moreover, students are more excited in the classroom. This could be seen when a lot of the students got excellent to very good for their works. Furthermore, the researcher observed that the students could identify and explain the specific information about the meaning and moral value from the song, but the answers were quite of the track and went further from the real meaning of the song. The student’s interpretation of the song is well explained and the depth was good but this student was not able to explain the song correctly.Keywords: English Song, Teaching Listening
Speaking Difficulties Experienced by Freshmen Students in University and Their Strategies to Overcome The Difficulties
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kemampuan berbicara adalah salah satu aspek penting dalam belajar bahasa Inggris. Berbicara adalah kegiatan umum tetapi juga merupakan kegiatan yang sangat kompleks untuk dipertimbangkan dalam mengajar EFL. Namun masih ada beberapa kesulitan yang terjadi selama pengajaran dan pembelajaran berbicara bahasa Inggris. Beberapa peneliti telah melakukan penelitian yang berhubungan dengan kesulitan berbicara siswa di berbagai tingkat pendidikan, tetapi hanya ada beberapa yang melakukan penelitian yang berhubungan dengan kesulitan berbicara siswa di tingkat perguruan tinggi, terutama untuk mahasiswa baru. Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kesulitan berbicara yang dialami oleh mahasiswa baru di universitas, kondisi ketika kesulitan terjadi dan strategi yang digunakan oleh mahasiswa baru untuk mengatasi kesulitan mereka. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan desain kualitatif sebagai desain penelitian utama dan menggunakan pendekatan Studi Interpretatif Dasar. Subjek penelitian adalah siswa di kelas Speaking for Daily Context di Jurusan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Surabaya. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Field Notes, Interview, dan Audio Recorder. Peneliti menggunakan prosedur analisis data yaitu Familiarizing dan Organizing, Coding dan Reducing, Interpreting dan Representing. Ini menunjukkan bahwa siswa, mahasiswa baru, pengalaman berbicara seperti gangguan tata bahasa, gangguan leksikal, gangguan fonologis, gugup, dan partisipasi yang rendah atau tidak merata. Selanjutnya kesulitan sering terjadi selama kegiatan presentasi dan percakapan spontan. Dengan demikian strategi yang digunakan oleh siswa untuk mengatasi kesulitan berbicara mereka adalah latihan tata bahasa, banyak mendengarkan, memahami isi, membaca keras-keras, dan kelompok yang berbahasa Inggris. Kesimpulannya ada beberapa kesulitan berbicara yang masih dialami oleh fershmen di universitas. Kata Kunci: Kesulitan Berbicara Abstract Speaking is one of the important aspects of learning English. Speaking is common activities but is also a highly complex activity to be considered in teaching EFL. However, there are still some difficulties happen during the teaching and learning English speaking. Some researcher has conducted research dealing with the students speaking difficulties in various level of education, but there are still a few who do research dealing with students speaking difficulties in college level, especially for freshmen. Thus this study aimed to find out the kind of speaking difficulties experienced by freshmen in university, the condition when the difficulties happen and the strategy used by the freshmen to overcome their speaking difficulties. In this study, the researcher uses qualitative design as the main research design and using Basic Interpretative Study approach. The subject of the study is the students of speaking for daily context class in the English Department in State Univesity of Surabaya. The instrument used in this study are field notes, interviews, and audio-recording. The researcher uses a procedure of data analysis are familiarizing and organizing, coding and reducing, interpreting and representing. It shows that the students, the freshmen, experience speaking such as grammatical interference, lexical interference, phonological interference, nervous, and low or uneven participation. Furthermore, difficulties often happen during presentation activities and spontaneous conversation. Thus the strategy used by the students in order to overcome their speaking difficulties are grammar exercising, listen a lot, contents understanding, read aloud, and English-speaking group. In conclusions, there are some speaking difficulties that still experienced by the freshmen in university. Keywords: speaking difficulties.
The Implementation of TPACK in Teaching Writing Recount Text in a Senior High school Level
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak TPACK adalah kerangka kerja terbaru yang digunakan untuk mengintegrasikan pedagogi, konten, dan teknologi di kelas. Kerangka kerja ini mencoba mengidentifikasi sifat pengetahuan yang dibutuhkan oleh guru untuk menggunakan teknologi saat mengajar. Namun, ada beberapa penelitian yang mengungkapkan bahwa siswa belajar lebih baik dari buku daripada layar. Oleh karena itu, penelitian ini menjelaskan dan fokus pada penerapan TPACK dalam mengajar menulis Teks Recount. Kesenjangan dapat diatasi jika guru dapat mengatur teknologi dan aspek lainnya dengan baik. Peneliti melakukan penelitian ini dalam studi kualitatif dasar dan instrumennya adalah field notes, students’ task dan semi structured interview untuk menjawab pertanyaan penelitian. Penelitian ini berlangsung di Sekolah Menengah Atas yang berlokasi di kota Surabaya. Subjek penelitian adalah satu guru dan 32 siswa di satu ruang kelas dan penelitian dilakukan dalam tiga pertemuan. Pada awal dan akhir penelitian ini, peneliti mewawancarai guru tentang penerapan TPACK saat mengajar Teks Recount. Dari penelitian, menunjukkan bahwa siswa lebih memahami tentang subjek jika guru menggunakan teknologi saat mengajar. Guru yang mengajar dengan menerapkan TPACK akan membuat siswa lebih aktif dan lebih memahami tentang mata pelajaran yang akan diajarkan, apalagi guru memberikan kinerja terbaik dengan menerapkan teknologi saat mengajar. Peneliti juga menyimpulkan bahwa sebagian besar masalah yang dihadapi oleh guru adalah Technology Content Knowledge (TCK). Kata Kunci: TPACK, teknologi, menulis, teks recount. Abstract TPACK is a recent framework that is used to integrate pedagogy, content, and technology in the classroom. This framework attempts to identify the nature of knowledge required by teachers for using technology while teaching. However, there are some research revealed that students learn better from books rather than screens. Therefore, this study explained and focused on the EFL teacher’s implementation of TPACK in teaching writing Recount Text. The gaps can be overcome if the teacher organize the technology and other aspects well. The researcher conducted this study in basic qualitative study and the instrument were field notes, students’ task and semi structured interview to answer research questions. This study took place in a Senior High School which located in the capital city of Surabaya. The subjects were one teacher and 32 students in one classroom and the study conducted in three meetings. In the beginning and the end of this study the researcher interviewed the teacher about the implementation of TPACK while teaching Recount Text. From the study, it shows that the students more understand about the subject if the teacher use technology while teaching. Teacher who teaches by implementing TPACK would make the students more active and understand more about the subject to be taught, moreover the teacher gives the best performance by implementing technology while teaching. The researcher also concluded that most problem faced by the teacher was Technological Content Knowledge (TCK). Keywords: TPACK, technology, writing, recount text.
The Implementation of Lesson Study in English Language Teaching in MAN 1 Mojokerto
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Di sekolah-sekolah Indonesia, Bahasa Inggris menjadi salah satu mata pelajaran paling penting untuk diajarkan di dua tingkat kelas, khususnya di sekolah menengah atas. Sayangnya, mempelajari bahasa Inggris merupakan hal yang tidak mudah karena bahasa Inggris tidak digunakan sebagai bahasa utama dalam komunikasi siswa sehari-hari. Para siswa tentunhya memiliki kemampuan berbeda dalam menguasai bahasa. Dengan demikian, kualitas guru dalam mengajar harus dijaga dengan baik. Lesson study dikenal luas sebagai salah satu teknik terbaik dalam melanjutkan pengembangan profesionalitas guru. Lesson study menawarkan guru strategi untuk menemukan proses belajar-mengajar yang baik melalui tiga tahap yaitu tahap perencanaan, observasi, dan refleksi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan lesson study dalam pengajaran bahasa Inggris untuk siswa kelas sebelas dan apa tanggapan guru terhadap implementasinya. Subjek penelitian ini adalah semua guru Bahasa Inggris yang bergabung dalam lesson study. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif sebagai metode pengumpulan data. Sementara itu, teknik pengumpulan data adalah observasi dan wawancara. Oleh karena itu, instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah catatan lapangan dan panduan wawancara. Berdasarkan data, hasil menunjukkan bahwa guru telah menerapkan semua tahap dalam pelajaran pelajaran meskipun tidak sistematis. Selain itu, dari hasil wawancara, dapat diketahui bahwa lesson study bermanfaat bagi guru untuk membantu praktik mengajar mereka di kelas. Kata kunci: lesson study, pengembangan profesionalitas guru, proses belajar mengajar, pengajaran Bahasa Inggris Abstract In Indonesian’s schools, English becomes one of the most important subjects to be taught in two grades level, particularly in senior high school. Unfortunately, learning English is a challenge as English not primarily spoken by Indonesian’s students in their daily communication. The students might have different abilities in mastering the language. By this case, teachers’ quality in teaching must be well maintained. Lesson study is widely known as one of the best technique in continuing professional development. It offers a teacher a strategy to find a good teaching-learning process through three stages namely planning stages, do stages, and see stages. Accordingly, this study aimed to know how the implementation of lesson study in English language teaching for eleventh graders and what are the teachers’ response towards its implementation. The subjects of this study were all of the English teachers joining lesson study. This study using qualitative design as a method for collecting the data. Meanwhile, the data collection techniques were observation and interview. Therefore, the instruments used to collect the data were field notes and interview guide. Based on the data, the result showed that the teachers implemented all the stages in lesson study, even though it is not systematically. Besides, from the interview result, it showed that lesson study is helpful for the teachers to assist their teaching practices in the classroom. Keywords: lesson study, teacher professional development, teaching and learning process, English language teaching
Content Analysis of English Department Students’ Paragraph Writing
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Untuk membuat essai, mahasiswa harus menguasai cara untuk mengembangkan sebuah paragraf. Tetapi, beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan hasil bahwa tidak semua mahasiswa sadar terhadap aturan-aturan kepenulisan paragraf yang harus di ikuti. Berkaitan dengan masalah ini, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana mahasiswa membuat susunan kalimat serta melihat keterkaitan topik yang di bahas dengan cara menganalisis kalimat per kalimat melalui penyusunan topik, kalimat pendukung, dan kalimat penutup di paragraf. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan desain content analysis. Instrumen pertama yang di gunakan yaitu peneliti dimana pada penelitian kualitatif peneliti bertindak sebagai instrumen utama (Ary et al, 2010). Instrumen yang kedua yaitu menggunakan semi-structured interview untuk membuat data menjadi lebih valid. Data diperoleh dari tulisan mahasiswa di kelas paragraph writing. Penemuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih mempunyai masalah yang serius saat menulis paragraf. Mereka membuat anak kalimat yang berdiri sendiri yang sejatinya anak kalimat selalu membutuhkan induk kalimat. Beberapa masalah juga ditemukan pada ketidaksadaran mahasiswa tentang aturan-aturan dalam membuat kalimat. Ide kalimat, kalimat pendukung, dan kalimat penutup tidak saling terkait satu sama lain sehingga membuat paragraf tidak menjadi satu kesatuan yang utuh. Kata Kunci : Paragraph Writing, Sentence Structure, Unity, Content Analysis. Abstract To make a good essay writing, the students should master in developing a good paragraph. However, several studies show that many L1 students do not aware of the rules of paragraph writing. Dealing with this problem, this study aims to describe the students’ construction of the sentence structure, topic, supporting, and concluding sentence to know the unity of the paragraph writing. This study is qualitative research with content analysis design. The first research instrument is the researcher because in qualitative research, the researcher acts as the main instrument (Ary et al. 2010). The second instrument is a semi-structured interview to make valid data. The data is taken from students’ paragraph writing. The findings of the study show that the students still faced a serious problem in paragraph writing. They failed in making a dependent clause which stands on its own. Some problems are also found that the students do not aware of the rules of paragraph writing. How to make a topic sentence, supporting sentence, and concluding sentence is irrelevant one another which makes the paragraph leads not to unity. Keywords: Paragraph Writing, Sentence Structure, Unity, Content Analysis.
The Implementation of Problem-based Learning in Teaching Speaking of Hortatory Exposition Text
RETAIN Vol 7 No 3 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Problem-based learning adalah metode yang berfokus pada pembelajaran kooperatif siswa dalam memecahkan masalah. Karena metode ini pertama kali digunakan dalam pengajaran sains, tahapannya berbeda dengan pengajaran bahasa karena bahasa biasanya digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dan penelitian deskriptif untuk menggambarkan implementasi dan tantangan implementasi pembelajaran berbasis masalah. Subjek Penelitian ini bertempat di SMA Negeri 1 Sidoarjo. Subjek penelitian ini adalah guru kelas XI SMA Negeri 1 Sidoarjo. Instrumen penelitian adalah lembar observasi, catatan lapangan dan wawancara. Selain itu, data disusun dan dibiasakan, dikodekan dan direduksi dan ditafsirkan serta direpresentasikan untuk mengembangkan hasilnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa langkah-langkah dalam menerapkan pembelajaran berbasis masalah dalam mengajar berbicara adalah memperkenalkan masalah dan bahasa yang dibutuhkan, mengelompokkan siswa dan menyediakan sumber daya, mengamati dan mendukung siswa, menindaklanjuti pekerjaan siswa dan menilai kemajuan kegiatan pemecahan masalah . Selanjutnya, tantangannya adalah mengadaptasi metode, menentukan masalah, kekurangan sumber daya, tidak pantas untuk diterapkan di semua tingkat pendidikan dan mengendalikan kelas. Secara keseluruhan, guru telah sepenuhnya melakukan langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah dan menemukan lima tantangan dalam mengajar berbicara. Dengan demikian, peneliti menyarankan kepada guru bahasa Inggris untuk lebih mempertimbangkan dalam langkah-langkah dalam menerapkan metode tersebut dan kepada peneliti selanjutnya untuk menyaring langkah-langkah yang sesuai dan menyelesaikan masalah. Kata kunci: Pembelajaran berbasis masalah, Berbicara, Teks Eksposisi Hortatory Abstract Problem-based learning is a method focused on the students’ cooperative learning in solving a problem. Since this method is firstly used in teaching science, the stages must be different from the teaching language since language is normally used as a tool when learning. This study uses qualitative design and descriptive research to describe the implementation and challenges of Problem-based learning implementation. The setting is in SMA Negeri 1 Sidoarjo. The subject of this study is a teacher of eleventh graders of SMA Negeri 1 Sidoarjo. The research instruments are observation sheets, field notes, and interview. Moreover, the data are organized and familiarized, coded and reduced and interpreted and represented to develop the result. The result shows that the steps in implementing Problem-based learning in teaching speaking are introducing the problem and language needed, grouping the students and providing resources, observing and supporting the students, following up the students work and assessing the progress of the problem-solving activity. Furthermore, the challenges are adapting the method, determining the problems, lack of resources, inappropriate to be implemented in all level of education and controlling the class. Overall, the teacher had completely done the steps of Problem-based learning and found five challenges in teaching speaking. Thus, the researcher suggests to the English teacher to be more considerate in the steps in implementing that method and to the further researcher to filter the suitable steps and solve the problem. Keywords: Problem-based learning, Speaking, Hortatory Exposition Text
Song as an Authentic Material to Support Students’ Critical Thinking in Senior High school
RETAIN Vol 7 No 3 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada saat ini, berpikir kritis telah menjadi fokus terbesar karena berpikir kritis adalah kemampuan terpenting yang harus dikuasai oleh murid yang mempelajari Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Tidak mudah bagi guru untuk mendorong siswa untuk berpikir kritis. Guru harus menemukan teknik dan stumulasi yang baik untuk memancing siswa berpikir kritis. Rencana pembelajarn yang dipersiapkan dengan baik dan materi yang sesuai juga dibutuhkan untuk menunjang siswa berpikir kritis. Salah satu materi yang sesuai yang dapat digunakan untuk menunjang siswa berpikir kritis adalah lagu. Sejak menyadari bahwa lagu sangat mempengaruhi kehidupan manusia, banyak guru berusaha untuk menggunakannya sebagai media belajar. Lagu sering digunakan oleh guru Bahasa Inggris sebagai media untuk mengajar kemampuan mendengarkan di kelas. Akan tetapi, di kurikulum 2013, lagu telah menjadi salah satu KD karena ditemukan bahwa lagu memiliki banyak manfaat untuk murid yang mempelajari Bahasa Inggris. Selain itu, lagu dapat menjadi materi otentik untuk mendukung kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian ini diaplikasikan pada murid kelas sepuluh SMA dan dideskripsikan secara kualitatif. Peneliti memperoleh data dengan mengadakan observasi, memberi soal pada murid dan melakukan interview. Peneliti juga menggunakan catatan lapangan, hasil kerja siswa, dan interview sebagain instrumen. Menurut data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa kegiatan belajar mengajar berjalan dengan baik. Akan tetapi, guru tidak menggunakan strategi untuk mengadakan berpikir kritis secara lengkap sehingga murid tidak mampu untuk berpikir kritis dengan maksimal. Walaupun murid mendapat nilai minimal menurut rubrik berpikir kritis, mereka mendapat nilai yang lebih tinggi menurut rubrik kemampuan menulis. Namun, sebagian besar murid mengatakan bahwa mempelajari lagu sebagai material otentik sangat menyenangkan. Mereka juga mengatakan bahwa lagu dapat menjadi alternatif untuk membantu mereka mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris. Kata kunci: Lagu, Materi Otentik, Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Abstract Nowadays, critical thinking becomes the biggest point to focus on because it is one of the most important skills that has to be mastered by the students who learn English as a second language. It is not easy for teachers to encourage students to think critically. Teachers have to find good techniques and stimulation to stimulate students’ critical thinking. Well-prepared lesson plan and a suitable material are also needed to support their critical thinking. One of the suitable materials that can be used to support students’ critical thinking is a song. Since realizing that song really affected people’s lives, many teachers tried using it as a learning media. Song was frequently used by English teacher as a media to teach a listening skill in class. However, in curriculum 2013, the song became one of the basic competences because it was found that song has many benefits for students who learn English. Besides, song can be an authentic material to support students’ critical thinking. This study was applied to the tenth graders of Senior High School and described using qualitative design. The researcher collected the data by conducting an observation, giving the students tasks, and doing an interview. The researcher also used field notes, students’ work results, and interview as the instruments. Based on the data, it could be seen that the teaching and learning activity was running well. However, the teacher did not use the strategies to conduct critical thinking completely so that the students could not use their critical thinking maximally. Although the students got standard scores based on critical thinking rubric, they got better scores according to writing rubric. Nevertheless, most of the students said that learning song as a material was fun and enjoyable. They also said that song can be a suitable way to help them master English skills. Key terms: Song, Authentic Material, Students’ Critical Thinking
The Effect of Using Mind Mapping in Comprehending Narrative Reading Text
RETAIN Vol 7 No 3 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Mind Map dapat menjadi media yang efektif untuk mengajar Bahasa Inggris dalam membaca teks naratif. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Sidoarjo. Subjek penelitian adalah 66 siswa Teknik Audio Video kelas 10 tahun akademik 2018/2019. Metode dalam penelitian ini adalah semi - Eksperimental. Penelitian dilakukan dalam dua kelas, mereka adalah kelas kontrol dan kelas eksperimental. Data dikumpulkan melalui tes yaitu pre-test dan post-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik mind mapping efektif digunakan dalam pembelajaran membaca teks naratif. Skor yang diperoleh dari kelas eksperimen (9,55) lebih tinggi dari kelas kontrol (5,15). Dari hasil perhitungan statistik, diperoleh bahwa nilai t-observasi (to) adalah 1,852 dan derajat kebebasan (df) adalah 64. Dalam tabel signifikansi 5%, nilai derajat signifikansi adalah 1,669. Membandingkan nilai-nilai itu, hasilnya adalah 1,852> 1,669 yang berarti skor t-observasi (untuk) lebih tinggi dari skor t-tabel (tt). Dengan kata lain, Hipotesis Alternatif (Ha) diterima dan Hipotesis Null (Ho) ditolak. Oleh karena itu, mengajar pemahaman membaca teks naratif dengan menggunakan teknik pemetaan pikiran adalah efektif. Kata Kunci: Mengajar Reading, Teks Narrative, Mind Map Abstract The main objective of this study is to find out whether Mind Map can be effective as a medium for teaching English in reading narrative texts. This research was conducted at the Vocational High School of 1 Sidoarjo. The research subjects were 66 students of the 10th grade Audio Video Engineering academic year 201819. The method in this study is semi-experimental. The research was conducted in two classes, they were the control class and the experimental class. Data was collected through tests namely pre-test and post-test. The results showed that mind mapping techniques are effectively used in learning to read narrative texts. Scores obtained from the experimental class (9.55) are higher than the control class (5.15). From the results of statistical calculations, it is obtained that the value of t-observation (to) is 1.852 and the degree of freedom (df) is 64. In the 5% significance table, the value of the degree of significance is 1.669. Comparing the values, the result is 1.852> 1.669 which means the t-observation score (for) is higher than the t-table (tt) score. In other words, the Alternative Hypothesis (Ha) is accepted and the Null Hypothesis (Ho) is rejected. Therefore, teaching an understanding of narrative text reading using mind mapping techniques is effective. Key Terms: Teaching Reading, Narrative Text, Mind Map
Slips of the Ear Experienced by the English Department Students
RETAIN Vol 7 No 3 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui kesalahan dengar atau persepsi mahasiswa jurusan bahasa inggris di Surabaya. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui fenomena salah dengar atau persepsi mahasiswa terhadap monolog yang berisi narasi dari penutur asli bahasa Inggris. Dalam pelaksanaan penelitian ini diggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan 23 mahasiswa jurusan bahasa Inggris dari kelas dan tingkatan yang sama sebagai peserta penelitian dan yang telah diinstruksikan untuk menuliskan apa yang mereka dengar dari sebuah rekaman monolog. Dari penilitian yang telah dilakukan, ditemukan beberapa kesalahan dengar yang dituliskan oleh mahasiswa jurusan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Surabaya. Kesalahan dengar tersebut digolongkan dalam beberapa kategori yang berdasarkan teori dari Bond (2005). Bond mengklasifikasikan 15 kesalahan dengar yang di dikelompokkan dalam 5 tingkatan pengetahuan yang berbeda: tingkatan pengetahuan fonetik; pengetahuan fonologis; pengetahuan penetahuan leksikal; pengetahuan sintaktis; pragmatik dan semantik. Dari hasil penelitian, ditemukan berbagai kesalahan yang berada di tiga tingkatan pengetahan yaitu, pengetahuan fonetik, fonologis, dan leksikal. Dan hanya ditemukan tujuh dari 15 macam kesalahan dengar yang dikemukakan oleh Bond (2005). Kata Kunci: Salah dengar, pengetahuan fonetik, pengetahuan fonologis, pengetahuan leksikal. Abstract The aim of this study was to find out the phenomenon of slips of the ear or student misperception of a monologue narrated by a native English speaker. In conducting this research, a qualitative descriptive method was used with twenty-three students majoring in English Education State University of Surabaya from the same class and level as research participants. They were instructed to write down what they have heard from the monologue recording. After the research was completed, several slips of the ear have been found which produced and written by the participants. These data are classified into several categories based on Bond’s theory of slips of the ear (2005). He classifies fifteen errors which are grouped into five different levels of knowledge, those are phonetic knowledge; phonological knowledge; lexical knowledge; syntactic knowledge; pragmatics and semantics. The result of the study indicates that various errors were found in three different levels of knowledge: phonetic, phonological, and lexical knowledge. In addition, only seven out of the 15 kinds of error by Bond were found. Keywords: Slips of the ear, phonetic knowledge, phonological knowledge, lexical knowledge
The Implementation of Writing Conference in Teaching Essay Writing to the English Department Students in the University
RETAIN Vol 7 No 3 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Writing conference adalah metode dalam pengajaran menulis yang dapat membantu siswa untuk memiliki perkembangan yang lebih baik dalam menulis, sayangnya, studi tentang konferensi menulis di Indonesia sangat terbatas. Dengan demikian, dalam penelitian ini peneliti melakukan penelitian tentang pelaksanaan writing conference sebagai salah satu metode dalam pengajaran ketrampilan menulis. Selanjutnya, subject dalam penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris yang termasuk dalam kelas writing essay dan juga guru kelas. Desain penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Instrumen penelitian dari penelitian ini adalah checklist observasi, pertanyaan wawancara tidak terstruktur, catatan lapangan, dan kuesioner terbuka. Untuk mengumpulkan data, peneliti melakukan observasi di kelas, mendistribusikan kuesioner kepada siswa dan melakukan wawancara dengan guru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan pelaksanaan writing conference dalam mata kuliah menulis esai dan untuk menggambarkan bagaimana siswa menanggapi pelaksanaan Writing Conference dalam mata kuliah menulis esai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketika guru melaksanakan konferensi menulis, guru memiliki kegiatan urutan yaitu kegiatan sebelum writing conference, saat writing conference dan setelah writing conference. Beberapa elemen Writing Conference juga dibahas dalam penelitian ini. Terkait dengan tanggapan siswa, hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar siswa puas dengan pelaksanaan writing conference. Mereka merasakan manfaat writing conference, seperti, meningkatkan motivasi, keterampilan menulis, dan berpikir kritis. Meski begitu, beberapa siswa juga mengalami beberapa kesulitan selama writing conference, seperti umpan balik yang rumit dari guru, tekanan untuk memenuhi harapan guru, dan umpan balik yang kurang jelas. Kata kunci: Writing Conference, Respon Siswa, Keterampilan Menulis Abstract Writing conference is a method in teaching writing that can help the students to have better development in writing, unfortunately, study about writing conference in Indonesia is very limited. Thus, in this study, the researcher conducts research about the implementation of writing conference as one of the methods in teaching writing. Furthermore, the subjects ware English Department students of the university who belong to an essay writing class and also the teacher of the class. The design of the study was a qualitative study. The research instruments of this research are observation checklist, unstructured interview’s questions, field note, and open-ended questionnaire. To collect the data, the researcher was conducting observation in the class, distributing the questionnaire to the students and conducting an interview with the teacher. The aims of this research are to describe the implementation of a writing conference in an essay writing course and to describe how the students responses to the implementation of a writing conference in an essay writing course. The result of this study showed that when the teacher was implementing the writing conference, the teacher had a sequence activity includes pre-writing conference, while-writing conference, and post-writing conference. Some elements of the writing conference are discussed in this study. Related to the students respond, the result shows that most of the students satisfied with the implementation of the writing conference. They felt the benefit of the writing conference, such as, increasing their motivation, writing skill, and critical thinking. Even so, some students also experienced some difficulties during writing conferences, such as complicated feedback from the teacher, pressure to fulfill teacher expectation, and unclear feedback. Keywords: Writing Conference, Students’ Response, Writing Skill