cover
Contact Name
Ali Mustofa
Contact Email
alimustofa@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alimustofa@unesa.ac.id
Editorial Address
The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya T4 Building, 2nd floor Lidah Wetan Campus Surabaya 60213
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Litera Kultura
ISSN : -     EISSN : 23562714     DOI : -
Litera Kultura : Journal of Literary and Cultural Studies accepts articles within the scope of Literature and Cultural Studies. The journal is published three times in a year: April, August, and December.
Articles 362 Documents
TRAGEDY IN ARTHUR MILLER’S THE CRUCIBLE AGUNG PRASETYO N
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3226

Abstract

Skripsi ini ditulis untuk mengungkap kode etik Bushido sebagaimana digambarkan pada salah satu karakter utama pada novel Taiko, Oda Nobunaga. Bushido itu sendiri adalah aturan tak tertulis bagi para samurai yang mana berfungsi sebagai kode panduan bagi setiap pejuang di negeri matahari terbit. Terdapat tujuh unsur dalam Bushido yang terdiri dari keadilan, keberanian, kejujuran, kesopanan, kemurahan hati, kehormatan, dan kesetiaan. Skripsi ini akan menjelaskan pengertian tentang setiap unsur tersebut dan menyertakan contoh kasus mengenai tiap unsur pada jaman pertengahan di Jepang. Pada rumusan masalah kedua, skripsi ini akan mendiskusikan efek unsur-unsur Bushido yang telah dilakukan Nobunaga sebagaimana semua unsur tersebut mengubah jalannya usaha penyatuan Jepang. Skripsi ini akan menggunakan referensi dari novel dan beberapa buku sumber lainnya untuk menentukan permasalahan dan mengungkap unsur-unsur Bushido. Skripsi ini juga akan menggunakan acuan bertema samurai untuk menyesuaikan penjelasan yang berkaitan dengan penerapan Bushido pada abad pertengahan. Lebih jauh lagi, skripsi ini akan mengutip beberapa kejadian dalam novel untuk menjelaskan contoh perilaku Bushido sebagaimana dilakukan oleh Nobunaga dan beberapa kejadian lainnya sebagai efek dari perilaku tersebut. Dengan demikian, skripsi ini bisa menjelaskan dan mengungkap tentang bagaimana kode etik Bushido diterapkan oleh Oda Nobunaga dan efek-efek dari tindakan tersebut dalam usaha Nobunaga dalam mempersatukan Jepang. Kata Kunci: Keadilan, Keberanian, Kejujuran, Kemurahan Hati, Kesopanan, Kehormatan, Kesetiaan. Abstract This thesis intends to reveal the Bushido ethical code as depicted in one of the main character of Taiko, Oda Nobunaga. Bushido itself, as unwritten code of samurai, is guidance code for every warriors in the Land of Rising Sun. There are seven elements in Bushido consist of Justice, Courage, Sincerity, Politeness, Benevolence, Honor, and Loyalty. The thesis will explain the definitions of every elements as well as some examples of how the code were conducted in medieval Japan. In the second problem in the thesis will discuss about the effects of these elements which were done by Nobunaga as it turn the tide of his unification campaign. The thesis will use references from novel and several source books to define the problems and reveal the elements of Bushido. The thesis also use several samurai- related references to further explain the elements of Bushido in medieval Japan to help the revelations of the problems. Further, the thesis take some events in the novel as the examples of Bushido conducted by Nobunaga and some following events as effects of his conducts. Thus, the thesis managed to reveal how Bushido depicted in Oda Nobunaga and the effects of his conducts toward the unification of Japan. Keywords: Justice, Courage, Sincerity, Benevolence, Politeness, Honor, Loyalty.
The Signs and Symbols in Christropher’s Way of Thinking in the Curious Incident of the Dog in the Night-Time FEBRIAN EKA ADITYA
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3812

Abstract

Studi ini membahas refleksi dari tanda-tanda dan simbol dalam cara berpikir anak autis diwakili oleh Christopher John Francis Boone sebagai karakter utama dalam novel The Cuirous Incident of The Dog in The Night-Time oleh Mark Haddon. Untuk melakukan analisis, dua teori diterapkan; teori semiotika dan teori tanda-tanda dan simbol. Ada dua masalah akan dijawab dengan menggunakan teori-teori tersebut. Masalah pertama adalah apa tanda-tanda dan simbol-simbol yang digunakan dalam cara berpikir Christopher dalam novel. Masalah ini akan dijawab oleh teori tanda dan symbol yang telah dirumuskan oleh Ferdinand de Saussure. Masalah kedua adalah maksud tanda dan symbol dalam cara berpikir Christopher, pertanyaan ini juga dapat dianalisis dengan teori semiotika yang dirumuskan oleh Ferdinand de Saussure. Mengungkap tanda-tanda dan simbol adalah untuk memberikan refleksi bagaimana cara Christopher berpikir sebagai karakter utama dalam novel. Hasil dari diskusi ini menghasilkan arti dari tanda-tanda dan simbol-simbol yang terungkap dalam cara berpikir Christopher. Kata Kunci: Semiotika, Tanda-tanda, Simbol, Karakter Utama Abstract This study discusses in The Curious Incident of the Dog in the Night-Time written by Mark Haddon the reflections of Signs and Symbols in the way of thinking of an autistic child represented by Christopher John Francis Boone as the main character. To do the analysis, two theories are applied; they are theory of semiotics and theory of signs and symbols. There are two problems will be answered by using those theories. The first problem is what are signs and symbols used in Christopher’s way of thinking in The Curious Incident of the Dog in the Night-Time. This problem will be answered by the theory of signs and symbols that has been specialized and brought by Ferdinand de Saussure. The second problem is what the signs and symbols mean in Christopher’s way of thinking as the second questions will also be analyzed with the theory of semiotics brought by Ferdinand de Saussure. The revealing of signs and symbols is to give description of how Christopher thinks as the representative main character in the novel. The outcomes of discussion represent what the signs and symbols that revealed can be meant in Christopher’s way of thinking. Keywords: Semiotics, Signs, Symbols, Main Character
CONSUMMATE LOVE AND ITS IMPACT IN STEPHENIE MEYER’S BREAKING DAWN WENNY RACHMAWATI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3814

Abstract

Cinta adalah emosi dasar manusia, tetapi memahaminya tidak mudah. Pendekatan lebih baru untuk mendefinisikan dan memahami cinta telah dikemukakan oleh Robert J. Sternberg. Sternberg mengartikan cinta dalam tiga komponen dasar yang membentuk puncak dari sebuah segitiga: keintiman, gairah, dan keputusan / komitmen. Cinta sempurna adalah hasil dari kombinasi penuh dari semua tiga komponen tersebut. Menurut Sternberg, ini adalah jenis cinta "lengkap" yang banyak orang perjuangkan agar bisa mencapainya, terutama dalam hubungan romantis mereka. Breaking Dawn, novel karya Stephenie Meyer mengungkapkan cinta seorang gadis, Isabella Swan dan pacar vampirnya, Edward Cullen. Sejalan dengan itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan cinta sempurna Isabella Swan, untuk menggambarkan cinta sempurna Edward Cullen, dan untuk mengungkapkan dampak cinta sempurna Isabella Swan dan Edward Cullen dalam hidup mereka. Metode analisis secara tidak langsung berdasar pada teori Robert Sternberg yang menyajikan sebuah teori segitiga cinta: keintiman, gairah, dan komitmen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cinta Isabella Swan dan Edward Cullen menggabungkan tiga komponen dasar cinta tersebut. Sebagai hasilnya, cinta mereka satu jenis cinta yang disebut cinta sempurna. Selain itu, ada lima dampak dari cinta sempurna Isabella Swan dan Edward Cullen dalam hidup mereka, yaitu kebahagiaan, kepuasan hubungan, kesedihan, pengorbanan diri, dan kecemasan. Kata kunci: cinta sempurna, keintiman, gairah dan komitmen Abstract Love is a basic human emotion, but understanding it is not easy. A more recent approach to define and understand love has been proposed by Robert J. Sternberg. He conceptualized love in terms of three basic components that form the vertices of a triangle: intimacy, passion, and decision/commitment. Consummate love results from the full combination of all three components. According to Sternberg, this is the type of “complete” love that many individuals strive to attain, particularly in their romantic relationships. Breaking Dawn, a novel by Stephenie Meyer reveals the love of a human girl, Isabella Swan and her vampire boyfriend, Edward Cullen. In line with that, the purposes of this study are to depict consummate love by Isabella Swan, to depict consummate love by Edward Cullen, and to reveal the impacts of Isabella Swan and Edward Cullen’s consummate love on their life. The method of the analysis indirectly works based on Robert Sternberg’s theory which presents a triangular theory of love: intimacy, passion, and commitment. The results of this study show that Isabella Swan and Edward Cullen’s love combines three basic components of love. As the result, their love forms a kind of love called consummate love. Moreover, there are five impacts of Isabella Swan and Edward Cullen’s consummate love on their life. Those are happiness, relationship satisfaction, sadness, self sacrifice, and anxiety. Keywords: consummate love, intimacy, passion, and commitment
Racial Conflict in Chris Cleave’s Little Bee DWI SEPTIANI AMBARWATI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3816

Abstract

Konflik rasial mencakup perihal bagaimana grup rasial mengikutsertakan grup lain ke dalam konflik. Salah satu contoh dari konflik rasial adalah kolonisasi. Kolonisasi terjadi ketika suatu negara menganggap dirinya lebih unggul dibanding Negara lainnya. Pendapat inilah yang membuat negara yang unggul mendominasi negara bawahannya. Salah satu masalah terbesar dari hirarki sosial terjadi antara orang kulit putih dan orang kulit hitam. Novel Little Bee karya Chris Cleave merupakan salah satu karya sastra yang menggambarkan kejadian tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap konflik rasial yang terjadi pada masyarakat Jamaika dan Nigeria dilengkapi dengan implikasinya. Di dalam skripsi ini, novel Little Bee karya Chris Cleave yang diterbitkan oleh penerbit Division of Simon and Schuster digunakan sebagai sumber data utama. Di dalam menjawab rumusan-rumusan masalah yang telah dipaparkan, penggunaan teori sosiologi sastra yang terfokus pada paradigma ke satu oleh Emile Durkheim yang mencakup teori konflik dan poskolonialisme yang dilengkapi dengan konsep hegemoni dari Antonio Gramsci dan konsep hibriditas, mimikri, dan ambivalensi oleh Homi K. Bhabha akan diaplikasikan. Penggambaran konflik rasial dari masyarakat Jamaika dan Nigeria dianalisa menggunakan sosiologi sastra yang terfokus pada teori konflik, seperti gangster, konflik etnis, dan konflik rasial. Implikasi dari konflik rasial dianalisa menggunakan poskolonialisme. Jadi, skripsi ini menggambarkan rasial konflik antara Inggris, Nigeria, dan Jamaika yang berlatar tempat di Inggris, dimana Little Bee dan Yevette mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa konflik rasial di dalam novel terjadi akibat kemurnian budaya Inggris. Kemudian implikasi dari konflik rasial menunjukkan kedepresian Little Bee dan Yevette, juga percampuran budaya dan identitas dari keduanya akibat dari memepelajari kebudayan Inggris. Kata Kunci: konflik rasial, gangster, konflick etnis, Jamaika, Nigeria, teori konflik, sosiologi sastra, dan poskolonialism. Abstract Racial conflict is about how does racial group engages one another in conflict. One example of racial conflict is colonization. Colonization happens when one country regard as the superior than others. This judgment makes the superior country dominates the inferior one. One of the biggest problems of this social hierarchy is between white and black people. Chris Cleave’s Little Bee is one that represents it. This thesis is aimed to reveal racial conflict of Jamaican and Nigerian and its implication. In this thesis, Chris Cleave’s Little Bee published by a Division of Simon & Schuster, Inc. is used as the main data source. In answering the statement of the problems, theory of sociology of literature that focuses on the first paradigm by Emile Durkheim that scopes theory of conflict and post-colonialism that completed with concept of hegemony by Antonio Gramsci and Homi K. Bhabha’s hibridity, mimicry, and ambivalence are applied. The depiction of racial conflict of Jamaican and Nigeria is analyzed using sociology of literature that focuses on theory of conflict, like gangster, ethnic conflict and racial conflict. The implication of racial conflict is analyzed using post-colonialism. So, this thesis portrays racial conflict among British, Nigerian, and Jamaican in Britain, where Little Bee and Yevette get unfair treatment. The result of this study shows that racial conflict in this story is caused by the purity of British culture. Then the implication of racial conflict is shows the depression of Little Bee and Yevette, also the mixed culture and identity of them because of learning British culture. Keywords: racial conflict, gangster, ethnic conflict, Jamaica, Nigeria, theory of conflict, sociology of literature, and post-colonialism
False Generalized Conversational Implicature (GCI) of Lying in A Few Good Men Movie
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3818

Abstract

Menjadi pembohong dan melakukan kebohongan adalah pengalaman mendasar dalam kehidupan manusia. Dalam berbagai jenis komunikasi, berbohong muncul dalam hampir semua bentuk komunikasi dan lebih sering seseorang cenderung tidak berpikir atas hal tersebut. Pragmatik, dipahami sebagai studi linguistik tergantung pada konteks makna dan kaitannya dengan penegasan. Namun, merenungkan fakta bahwa berbohong adalah tindakan linguistik, orang bertanya-tanya mengapa ada begitu sedikit analisis linguistik tentang kebbohongan. Apakah kebohongan tidak dapat dideteksi bila jauh dari tujuan kognitif dan social. Selain itu, karena pragmatik terdiri dari sejumlah subdisiplin, aspek berbohong harus menunjukkan tidak hanya dalamvkaitannya dengan tindak tutur, tetapi juga untuk implikatur. Implikatur percakapan umum (GCI) tampaknya lebih kontroversial dan lebih berharga untuk tujuan filosofis, karena akan ada implikatur yang akan dilakukan oleh setiap ucapan bentuk tertentu. GCI tampaknya menjadi dasar yang cukup baik untuk mencurigai seseorang telah melakukan kesalahan dengan mengambil bagian dari makna konvensional beberapa ekspresi bentuk yang sebenarnya bukan bagian dari makna konvensional. Dari karakteristik GCI, orang dapat dengan mudah memprediksi satu berbohong melalui kemungkinan –kemungkinan implikaturnya. A Few Good Men adalah drama militer yang controversial yang melukiskan kehidupan marinir. Beberapa karakter yang diduga memberikan kesaksian palsu dan mengandung banyak kebohongan. Kebohongan mereka dapat dianalisis melalui implikatur dari masing-masing tuturan. Berdasarkan latar belakang dimana terdapat fenomena kebohongan yang dilakukan oleh berberapa karakter dalam kasus GCI, maka muncul beberapa pertanyaan (1) bagaimana implikatur palsu Prinsip-Q, Prinsip-I, dan Prinsip-M membuktikan kebohongan Kendrick, Dr Stone., dan Jessup dan bagaimana prinsip-prinsip percakapan yang terkait dengan Prinsip-Q, Prinsip-I, dan Prinsip-M dilanggar oleh Kendrick, Dr Stone, dan Jessup. Metode kualitatif deskriptif dan teori prinsip GCI Levinson diterapkan dalam penelitian ini. Dalam analisis data, dilakukan beberapa proses, yaitu: (1) mengelompokkan tuturan Prinsip-Q, Prinsip-I, dan Prinsip-M, (2) merumuskan implikatur di balik ucapan-ucapan masing-masing prinsip, dan (3) menggambarkan bagaimana maksim percakapan yang terkait dengan masing-masing prinsip dilanggar oleh Jessup, Kendrick, dan Dr Stone. Kata Kunci: implikatur salah, implikatur percakapan generalisasi, kebohongan. Abstract Being a liar and being lied to is fundamental experiences in human life. In many types of communication, lying appears in almost all forms of communication and more frequent than one is usually inclined to think. Pragmatics, understood as the linguistic study of context-dependent meaning and its relation to asserting. However, reflecting on the fact that lying is primarily a linguistic act, one wonders why there is so little linguistic analysis of lying. What a lie is cannot be detected when abstracting away from the cognitive and social goals the liar has in mind. In addition, since pragmatics consists of a number of subdisciplines, aspects of lying have to be pointed out not only in relation to speech acts, but also to implicature. Generalized Conversational Implicature (GCI) seems to be more controversial and more valuable for philosophical purposes, because there will be the implicatures that would be carried by any utterance of a certain form. GCI seem to be quite good grounds for suspecting someone has made the mistake of taking part of the conventional meaning of some form expression what was really not part of its conventional meaning. From those characteristics of GCI, people can easily predict one’s lying through its possible implicatures. A Few Good Men is a controversial military courtroom drama potraying a marines life. Some characters are suspected to give a false testimonies and contain many lies. Their lies can be analyzed through its implicatures of each utterances. Based on the core of background that bounces the phenomenon of lying conducted by the characters in case of GCI, hence it emerges some questions (1) how the false implicatures of Q-Principles, I-Principles, and M-Principles prove Kendrick, Dr. Stone, and Jessup lie and how the conversational maxims related to Q-Principles, I-Principles, and M-Principles flouted by Kendrick, Dr. Stone, and Jessup. Descriptive qualitative method and Levinson’s theory of GCI principles are applied in this study. In the data analysis, some processes done, they are: (1) classifying the utterances belong to Q-Principle, I-Principle, and M-Principle, (2) formulating the implicatures behind the utterances of each principles, and (3) describing how the conversational maxims related to each principles are flouted by Jessup, Kendrick, and Dr. Stone. Keywords: false implicature, generalized conversational implicature, lying.
The Construction of African-American Identity in Langston Hughes’ Mulatto SURYA NINGSIH
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3819

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membahas permasalahan yang ada pada drama Mulatto yang ditulis oleh Langston Hughes. Drama Mulatto menyuguhkan isu tentang identitas keturunan orang Afrika-Amerika, khususnya terhadap Robert, tokoh utama dalam drama sebagai seorang keterunan Afrika Amerika yang bergumul dalam dunia orang kulit putih. Dengan mengangkat topik diatas, penelitian ini bertujuan untuk menampilkan konstruksi identitas seorang keturunan Afrika-Amerika yang terperangkap antara dua budaya, yaitu budaya orang kulit hitam dan orang kulit putih. Pemilihan istilah kata Afrika-Amerika dengan menggunakan garis sambung adalah dikarenakan konflik yang terjadi tidak hanya membahas keberadaan masyarakat kulit hitam yang tinggal di Amerika, namun lebih kepada bagaimana karakter mereka menjadikan mungkin bagi mereka untuk berperan sebagai orang Afrika maupun orang Amerika. Adanya garis sambung tersebut melambangkan identitas yang tidak terlepas dari pengaruh Afrika dan Amerika. Selanjutnya, teori-teori yang diterapkan dalam penelitian ini adalah dalam bentuk kombinasi antara teori identitas dan karakteristik-karakteristik pengalaman masyarakat keturunan Afrika-Amerika seperti konsep Racism, Double Consciousness, dan Black Vernacular. Dengan menerapkan konsep-konsep diatas kepada permasalahan utama yang muncul pada drama, ditemukan bahwa dalam proses pencarian identitasnya yang sesungguhnya, Robert mengalami kesadaran ganda sebagai hasil dari diskriminasi rasial yang dilakukan oleh orang Amerika. Dalam situasi ini, masyarakat keturunan Afrika-Amerika selalu dipandang sebagai objek yang rendah, sementara masyarakat kulit putih Amerika adalah objek yang unggul. Disamping itu, kondisi ini juga menuntun Robert pada kesadaran ganda nya dan hal ini membentuk karakternya. Identitas ganda Robert terbentuk dari setiap ketidakadilan yang dia hadapi sepanjang hidupnya, baik dari salah seorang anggota keluarganya, yaitu ayahnya yang merupakan seorang kulit putih, maupun oleh masyarakat dilingkungannya. Selain itu, identitas ganda Robert juga termasuk dalam hal tradisi untuk berbicara bahasa khas orang kulit hitam. Dengan demikian, konstruksi identitas Robert sebagai keturunan Afrika-Amerika adalah ganda. Identitas Robert selalu berproses dan bertentangan antara dua budaya yaitu budaya orang kulit hitam dan kulit putih. Kata Kunci: Keturunan Afrika-Amerika, mulatto, identitas, budaya, ras, minoritas dan penolakan peran orang tua Abstract This study attempts to discuss the issue raised in drama Mulatto written by Langston Hughes. The drama presents the issue of African-American identity particularly towards the main character, Robert, as an African-American who lives in the White world. By raising the topic above, this study aims to present the construction of an African-American identity which is being caught between two cultures: Blacks and Whites. The term African-American with ‘dash’ is preferably used in this study because the conflict not only deal with Black people who exist in America, however, it discusses how their character makes it possible for them to become both African and American. The hyphen symbolizes the identity which is not apart from the African and American influences. Furthermore, the writer applies the combination of critical theories among Identity theory and the characteristics of African-Americans cultural experiences such as the concept of Racism, Double Consciousness and Black Vernacular. By applying those concepts in relation to the main problem raised in the drama, it is found that in the process of searching his real identity in his life, Robert experiences “double” identity as the result of racial discrimination done by White Americans. In this situation, African-Americans are always seen as the inferior subject, while the White Americans are the superior. Besides, this condition also leads Robert to the stage of double consciousness and it constructs his identity. Robert’s double identity is constructed from every inequality that he faced throughout his life, both from one of the member of his family, which is his White father, and also by the surrounding society. Moreover, Robert’s double consciousness involves the practice of Black Vernacular tradition. Thus, the construction of Robert’s African-American identity is “double”. His identity is always conflicting between two cultures: Blacks and Whites, and it is always in process. Keywords: African-Americans, mulatto, identity, culture, race, minority and parental refusal
MUSLIM WOMEN'S RESISTANCE AGAINTS SECULARIST'S DOMINATION IN ORHAN PAMUK'S SNOW DIAH ISTIQOMAH
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3821

Abstract

Perdebatan masalah jilbab masih membayangi kehidupan Turki modern. Dalam novel Snow karya Orhan Pamuk, untuk memodernisasi Negara, para elite sekuler melaksanakan paham atau ideology sekuler dengan cara pencopotan jilbab kaum wanita. Pengimplementasian tersebut dilakukan melalui pelarangan pemakaian jilbab di tempat umum, termasuk sekolah, yang dalam pelaksanaannya mendominasi wanita Muslim. Sebaliknya, wanita muslim, yang diperankan oleh tokoh bernama Kadife, Hande, dan Teslime, melawan dominasi untuk mempertahankan hak-hak wanita atas pemakaia jilbab demi menjalankan ajaran agama mereka, yaitu Islam. Berdasarkan identifikasi fakta dalam data, skripsi ini merumuskan masalah (1) bagaimana dominasi para elite sekuler atas wanita Muslim digambarkan dalam novel Snow karya Orhan Pamuk? dan (2) bagaimana wanita Muslim menunjukkan perlawanan mereka terhadaap dominasi elite sekuler dalam novel Snow karya Orhan Pamuk? Konsep dominasi dan perlawanan berdasarkan pemikiran James C. Scott dan Daniel Miller. Konsep-konsep tersebut diaplikasikan bersama dengan konsep hegemony dari Antonio Gramsci, dan feminisme berkerudung, terutama pergerakan wanita berlambang warna putih oleh Cihan Aktas. Untuk menganalisis data, pendekatan mimesis dengan metode deskriptif analisis diaplikasikan dalam skripsi ini. Terakhir, hasil dari analisis data menunjukkan bahwa dominasi para elite sekuler terwujud dalam lima bentuk: dominasi melalui pembuatan kebijakan, ancaman, drama panggung, penghinaan, dan hegemony. Sebaliknya, perlawanan wanita Muslim terwujud melalui dua cara utama: perlawanan terbuka (public transcript) yang meliputi perlawanan melalui demonstrasi dan cemoohan, dan perlawanan tertutup (hidden transcript) yang meliputi perlawanan melalui bunuh diri dan dialog secara empat mata. Kata Kunci: Dominasi, Resistensi, Sekulerisme, Islam, Feminism Berkerudung, Perdebatan Jilbab Abstract Headscarves controversy still overshadows the life of modern Turkey. In Orhan Pamuk‟s Snow, to modernize the state, the secularist elites implement secularism by unveiling women. It is exercised through banning the headscarves wearing in public buildings, including school, that its executions dominate Muslim women. In reverse, Muslim women, who are represented by the characters named Kadife, Hande, and Teslime, resist the domination to defend their rights upon wearing the headscarves for the sake of practicing their religion, Islam. Grounded upon the findings, this study questions upon (1) how is secularist‟s domination upon Muslim women depicted in Orhan Pamuk‟s Snow? and (2) how do Muslim women show their resistance against secularist‟s domination in Orhan Pamuk‟s Snow? The concepts of domination and resistance are based on the thought of James C. Scott and Daniel Miller. Those concepts are applied together with Antonio Gramsci‟s hegemony and veiled feminism, Cihan Aktas‟ white women‟s movement. To analyze the data, mimetic approach with descriptive analysis method is applied in this study. Lastly, the result of this study shows that the secularist‟s domination manifests itself into five forms: domination through policy-making, threat, onstage play, derogation, and hegemony. Meanwhile, Muslim women‟s resistance manifests itself into two major forms: outward resistance (public transcript), which is practiced through demonstration and insult, and inward resistance (hidden transcript), which is practiced through suicide and vis-à-vis dialogue. Keywords: Domination, Resistance, Secularism, Islam, Veiled Feminism, Headscarves Controversy
ANNE’S EXTRAVERSION AND ITS MAJOR CAUSES IN LUCY MAUD MONTGOMERY’S ANNE OF GREEN GABLES NUR AFNI FINANSIA
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3822

Abstract

Tesis ini difokuskan pada sisi luar seorang anak seperti yang terlihat dari novel Anne of Green Gables yang ditulis oleh Lucy Maud Montgomery. Novel ini telah dipilih karena memiliki banyak faktor yang berhubungan dengan kepribadian Anne, terutama sisi luar kepribadian yang dimiliki oleh Anne. Pengembangan kepribadian adalah kualitas dan fakta dari seorang individu atau wakil dari sikap dan pemikiran oleh seorang individu. Pengembangan kepribadian adalah contoh kasus yang sangat umum, yang selalu menjadi bahasan utama dalam lingkungan kita. Dari awal sampai akhir cerita, pengembangan kepribadian cukup layak dalam novel, terutama pada sisi luar kepribadian Anne. Extraversion adalah tindakan, hal, atau kebiasaan yang berkaitan dengan dan untuk mendapatkan kepuasan dari segala yang berada di luar. Namun, Anne of Green Gables memiliki banyak faktor melalui cerita dan konflik yang muncul dalam cerita dan menarik untuk dianalisa. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran singkat tentang seorang penulis yang betrnama Lucy Maud Montgomery melalui karakter utama pada novel Anne of Green Gables. Sumber data dalam penelitian ini diambil dari novel Anne of Green Gables sebagai data utama. Ini termasuk kutipan dan pernyataan dari novel yang berkaitan dengan teori-teori pendukung. Penelitian utama menunjukkan bahwa kasus extraversion terjadi dalam cerita. Extraversion dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman sepanjang kehidupan karakter utama. Banyak penyebab yang dialami oleh tokoh utama, seperti kasih sayang dari orangtua asuh Anne, persahabatan yang membentuk persaudaraan dengan tokoh utama, yakni Anne, dan motivasi besar dari lingkungan yang membuat Anne ingin menjadi lebih baik. Selain itu, banyak efek yang dialami oleh karakter utama, seperti: karena kasih sayang dari semua orang di lingkungan Anne, ia telah menjadi, seorang anak yang pintar, bijaksana, dan seorang gadis yang selalu tenang menghadapi hidupnya di masa depan. Yang pada khirnya, dia bisa mengambil keputusan yang benar untuk tetap tinggal di Green Gables. Kata Kunci: kebajikan, sisi luar, kepribadian, tipe. Abstract This thesis is focused on extraversion as seen from the novel Lucy Maud Montgomery’s Anne of Green Gables. This novel has chosen because it has many applications that relate with Anne’s type personality, especially Anne’s extraversion. Personality development is a quality and the fact of an individual or the representative of the attitude and thinking by an individual. Personality development is commonly case that always be top discuss in our surroundings. From beginning to the ending of the story, the term personality development is quite feasible in the novel, especially in Anne’s extraversion. Extraversion is the act, state, or habit of being predominantly concerned with and obtaining gratification from what is outside the self. However, Anne of Green Gables has many extraversion applications through the story and the conflicts which appear in the story and interesting to be analyzed. The main purpose of this study is to give a brief description of Lucy Maud Montgomery’ literary in Anne of Green Gables through the main characters of the novel. Data sources in this study are taken from the novel Anne of Green Gables as the main data. It includes the quotations and the statements from the novel which are related to the supporting theories. The main study shows that the case of extraversion happens in the story. Extraversion is influenced by the environment and the experience along the main character’s life. Many causes that are experienced by the main character, such as the affection from Anne’s foster parents, friendships form Anne’s siblings, and big motivation from Anne’s surroundings that made her want to be better. Beside it, many effects that is experienced by the main character, such as: because of the affection from all people in Anne’s surroundings, she had been a calm, brilliant, and wise girl to face her life in her future. Finally, she can take the true decision of her choice to stay in Green Gables. Keywords: benefaction, extraversion, personality, type.
Women’s Life Transformation: Women’s Life Transformation in Early 20th Century Represented by Annabelle Worthington in Danielle SteelA Good Woman RENNY PUSPA SARI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3823

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami kehidupan tokoh utama dalam novel Danielle Steel yang berjudul A Good Woman, Annabelle Worthington dalam memeroleh kebebasan hidup. Penelitian ini juga memberikan gambaran mengenai tingkatan dan cabang cabang feminism yang berkaitan dengan karakter Annabelle. Analisis penelitian ini menggunakan beberapa teori untuk memperkuat pembahasan penelitian. Teori- teori tersebut diantaranya adalah Feminism, dekonstruksi dari oposisi biner oleh Derrida, dan teori karakterisasi yang digunakan untuk memperdalam pembahasan. Selain itu, tingkatan dan cabang-cabang feminism juga akan diaplikasikan dalam pembahasan untuk spesifikasi dari karakter Annabelle. Didalam penelitian ini, Annabelle adalah simbol wanita modern dan bercita-cita luhur diantara wanita wanita tradisional. Dominasi kaum patriarki dan budaya tradisional yang telah lama mengungkung kaum wanita pada masa tersebut menyadarkan Annabelle bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk terbebas dari hal tersebut. Penindasan hak kaum wanita oleh dominasi kaum pria juga membuat Annabelle berubah menjadi wanita mandiri. Analisis yang lebih dalam merujuk pada Perang Dunia I yang memberi banyak kesempatan pada para wanita di awal abad 20, terutama Annabelle untuk mengembangkan kemampuan dan mewujudkan impiannya. Transformasi yang terjadi pada kehidupan dan karakter Annabelle adalah bukti dari tujuan hidupnya, menjadi bebas, dan pemenang yang mampu bertahan. Kata Kunci: kebebasan, modern, bercita-cita luhur, transformasi, dominasi kaum patriarki, budaya tradisional, dan kungkungan. Abstract This study focuses on the process and requirements of the main character in Danielle Steel’s novel A Good Woman, Annabelle in gaining freedom. It also presents the reflection of the stages and branches of feminism related to Annabelle’s character. Several theories are applied to sharpen this analysis. Feminism is the main theory in the analysis; it will be combined with deconstruction of binary opposition by Derrida, and theory of characterization to explore the main character, Annabelle. Furthermore, stages and some branches of feminism by Tong related to Annabelle’s character are also applied to specify the character of Annabelle as well. In this analysis, Annabelle is a symbol of modern and well determined woman among traditional ones. Patriarchal domination and traditional culture that captivate women in that era raise her awareness to be brave in taking action for her future. Women’s oppression by men in that era develops her character to be independent woman.World War 1 gives opportunity to women in early 20th century especially Annabelle to expand her skill and actualize her dream as well. As a result transformation that happens in Annabelle’s life and character is a proof of her life goal, to be liberated as well as being survivor. Keywords:freedom, modern, well-determined, transformation, patriarchal domination, traditional culture, and oppression.
CONSUMMATE LOVE AND ITS IMPACT IN STEPHENIE MEYER’S BREAKING DAWN WENNY RACHMAWATI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3824

Abstract

Cinta adalah emosi dasar manusia, tetapi memahaminya tidak mudah. Pendekatan lebih baru untuk mendefinisikan dan memahami cinta telah dikemukakan oleh Robert J. Sternberg. Sternberg mengartikan cinta dalam tiga komponen dasar yang membentuk puncak dari sebuah segitiga: keintiman, gairah, dan keputusan / komitmen. Cinta sempurna adalah hasil dari kombinasi penuh dari semua tiga komponen tersebut. Menurut Sternberg, ini adalah jenis cinta "lengkap" yang banyak orang perjuangkan agar bisa mencapainya, terutama dalam hubungan romantis mereka. Breaking Dawn, novel karya Stephenie Meyer mengungkapkan cinta seorang gadis, Isabella Swan dan pacar vampirnya, Edward Cullen. Sejalan dengan itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan cinta sempurna Isabella Swan, untuk menggambarkan cinta sempurna Edward Cullen, dan untuk mengungkapkan dampak cinta sempurna Isabella Swan dan Edward Cullen dalam hidup mereka. Metode analisis secara tidak langsung berdasar pada teori Robert Sternberg yang menyajikan sebuah teori segitiga cinta: keintiman, gairah, dan komitmen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cinta Isabella Swan dan Edward Cullen menggabungkan tiga komponen dasar cinta tersebut. Sebagai hasilnya, cinta mereka satu jenis cinta yang disebut cinta sempurna. Selain itu, ada lima dampak dari cinta sempurna Isabella Swan dan Edward Cullen dalam hidup mereka, yaitu kebahagiaan, kepuasan hubungan, kesedihan, pengorbanan diri, dan kecemasan. Kata kunci: cinta sempurna, keintiman, gairah dan komitmen Abstract Love is a basic human emotion, but understanding it is not easy. A more recent approach to define and understand love has been proposed by Robert J. Sternberg. He conceptualized love in terms of three basic components that form the vertices of a triangle: intimacy, passion, and decision/commitment. Consummate love results from the full combination of all three components. According to Sternberg, this is the type of “complete” love that many individuals strive to attain, particularly in their romantic relationships. Breaking Dawn, a novel by Stephenie Meyer reveals the love of a human girl, Isabella Swan and her vampire boyfriend, Edward Cullen. In line with that, the purposes of this study are to depict consummate love by Isabella Swan, to depict consummate love by Edward Cullen, and to reveal the impacts of Isabella Swan and Edward Cullen’s consummate love on their life. The method of the analysis indirectly works based on Robert Sternberg’s theory which presents a triangular theory of love: intimacy, passion, and commitment. The results of this study show that Isabella Swan and Edward Cullen’s love combines three basic components of love. As the result, their love forms a kind of love called consummate love. Moreover, there are five impacts of Isabella Swan and Edward Cullen’s consummate love on their life. Those are happiness, relationship satisfaction, sadness, self sacrifice, and anxiety. Keywords: consummate love, intimacy, passion, and commitment

Page 11 of 37 | Total Record : 362