cover
Contact Name
Ali Mustofa
Contact Email
alimustofa@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alimustofa@unesa.ac.id
Editorial Address
The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya T4 Building, 2nd floor Lidah Wetan Campus Surabaya 60213
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Litera Kultura
ISSN : -     EISSN : 23562714     DOI : -
Litera Kultura : Journal of Literary and Cultural Studies accepts articles within the scope of Literature and Cultural Studies. The journal is published three times in a year: April, August, and December.
Articles 362 Documents
The Idea of Black and White Races which Reveal Human Identity in Derek Walcott’s Pantomime NINDYA AFDRIANI DEWI SARI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3825

Abstract

Konsep hitam dan putih adalah suatu keterbalikan dimana satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Keterbalikan tersebut akan membentuk suatu keterbalikan biner dan akan memebentuk karakter baru dari seseorang. Hitam dan putih juga dapat dikategorikan sebagai identitas post-kolonialis. Identitas adalah suatu entitas yang dinamis dan melekat pada sesuat, terutama pada manusia. Dalam drama “Pantomime” karya Derek Walcott, dua tokoh utama diceritakan secara ambigu yang mempengaruhi pembaca untuk mengidentifikasi watak tokoh tokoh tersebut. Kedua tokoh tersebut membentuk identitas mereka masing masing sehingga muncul presence dan absence dari dalam masing masing tokoh, yang mana absence tertutupi oleh presence. Terlebih, segala sesuatu pasti dikendalikan oleh bahasa, sementara bahasa itu sendiri adalah suatu hal yang tidak pasti. Ketidakpastian ini akhirnya memunculkan absence dari identitas manusia dalam tokoh – tokoh pada drama “Pantomime”. Oleh karena itu, identitas seseorang selalu berubah ubah dan proses perubahan tersebut disebut difference yang berarti untuk membedakan dan menjadi pembeda. Dengan menerapkan konsep tersebut, kedua tokoh tersebut mendekonstruksi identitas baru mereka. Tidak terkecuali, ketika kedua tokoh tersebut mengalami proses perubahan, mereka juga pasti mengalami proses mimikri. Mimikri, dalam karya post-kolonial, telah menghapus dan menyesuaikan beberapa aspek tradisi asing tanpa mengabaikan tradisi local. “Pantomime” karya Derek Walcott’ sebagai drama post-kolonial, menguraikan mimikri sebagai tulisan pembalik untuk membuat situasi keterbalikan antara dua kubu: Orang Inggris, sebagai penjajah, dan orang Trinidad, sebagai terjajah. Kesimpulannya, konsep hitam dan putih, melalui peran Jackson dan Harry dalam “Pantomime” karya Derek Walcott, akan membentuk identitas baru dari seseorang. Kata Kunci: Hitam dan putih, postkolonialis, identitas manusia, difference, dekonstruksi, dan mimikri Abstract The idea of black and white is the opposition side that cannot be separated each other. That opposition side will be formed as binary opposition, and it will build a new character of human being. Black and white also could be categorized as postcolonial identity. Additionally, identity is dynamical entity and it adheres strongly to the thing, especially for human. In Derek Walcott’s Pantomime, the two male characters are told ambiguously that influence the interpreters to identify the identity of the two male characters. Both two characters have constructed their identity, until there is presence and absence inside their character, which the absence is hidden by the presence. Moreover, everything is controlled by language, while language is unstable. This instability finally presents the absences of human identity in the characters of Walcott’s Pantomime. Thus, it can be called that human identity is always changing, and the process of changing by human identity is called differance that there is differing and deffering. By applying those concepts, the two male characters deconstruct their new identity. Nevertheless, when both two male characters do the process of changing, they must do the process of mimicry too. Mimicry, in postcolonial writing, has been abrogation and appropriation some foreign cultural aspects without abandoning local cultures. Derek Walcott’s Pantomime, as a postcolonial drama, elucidates mimicry as writing back to resituate the opposition side between two parties: the English man represents to the colonizer and a Trinidadian man represents to the colonized. In conclusion, the idea of black and white, through Jackson’s and Harry’s act in Derek Walcott’s Pantomime will be constructed into new identity of human being. Keywords: black and white, post-colonialism, human identity, differance, language, deconstruction, and mimicry.
MORWENNA PHELPS’ INTROVERSION IMPACTED BY BOOKS IN JO WALTON’S AMONG OTHERS DWINZA GALIH PRAKOSO
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3836

Abstract

Psikologi adalah bagian dari manusia yang mendorong seseorang untuk berperilaku dan melakukan sesuatu. Namun psikologi adalah sebuah teori umum. Jurnal ini menggunakan konsep introversi yang diajukan oleh Carl Gustav Jung. Di dalam novel Among Others, karakter utama novel tersebut digambarkan sebagai seseorang yang memiliki ciri-ciri seorang introvert dengan kecenderungannya untuk asyik sendiri dengan buku-bukunya. Namun, buku-buku tersebut menjadi sebuah pengaruh yang kuat dalam perbuatan dan perilaku Morwenna. Dengan adanya introversi dan buku dalam hidup Morwenna, sebuah pertanyaan baru muncul tentang yang mana di antara keduanya yang lebih berpengaruh dalam kehidupan Morwenna. Jurnal ini mencari jawaban sekaligus mendeskripsikan introversi Morwenna Phelps yang tergambar dalam novel Among Others. Analisa tentang introversi Morwenna menggunakan konsep empat fungsi psikologi dari Carl Gustav Jung di mana fungsi-fungsi tersebut digunakan untuk mengklasifikasi apakah introversi Morwenna adalah berdasarkan fungsi pikiran, perasaan, penginderaan, atau intuisi. Hasil mengungkap bahwa fungsi pikiran dominan di dalam diri Morwenna. Namun, analisa terus berlanjut demi mewujudkan tujuan utama penelitian, yakni mencari pengaruh buku-buku terhadap introversi Morwenna. Pada akhirnya ditemukan bahwa buku sangat berpengaruh sehingga dapat mengkonsumsi introversi Morwenna dan mendorong Morwenna ke dalam pribadi yang berbeda. Dengan demikian pada akhirnya buku-buku Morwenna dianggap sebagai hal kekuatan yang lebih dominan dibandingkan introversi di dalam diri Morwenna. Kata Kunci: psikologi, personality, introversi. Abstract Psychology is a part of human which drives human behaviour and acts. It is a general theory, though. This journal uses the concept of introversion which was proposed by Carl Gustav Jung. In the novel Among Others, the main character is described to have the characteristics of an introvert with her tendency to have her own excitement with books. However, books are becoming a strong influence in Morwenna’s acts and behaviours. With the presence of introversion and books in Morwenna’s life, a new question arises about which one of them is more influential in Morwenna’s life. This journal seeks the answer as well as tries to describe Morwenna Phelps’ introversion which is depicted in the novel Among Others. The analysis of Morwenna’s introversion uses the four functions concepts from Carl Gustav Jung in which they are used to classify whether Morwenna’s introversion is based on the function of thinking, feeling, sensation, or intuition. The result reveals that thinking function is dominant in Morwenna’s self. However, the analysis keeps going in search of the main goal of the journal, to seek the influence of books on Morwenna’s introversion. As it turns out, books are quite much influential it can consume the introversion and drive Morwenna into a different self. Thus in the end books are viewed as a more dominant force in Morwenna’s self over her introversion. Keywords: psychology, personality, introversion.
Forced Marriage of South Asian Women in Jasvinder Sanghera’s Daughters of Shame NAHDIYA FARIDATUL HIDAYAH
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3839

Abstract

Tujuan dari penulisan ini yaitu membahas novel Daughters of Shame karya Jasvinder Sanghera dengan menggunakan pendekatan feminisme melalui dua rumusan masalah. Rumusan masalah pertama dari penulisan ini akan membahas susunan kawin paksa pada wanita-wanita Asian selatan dengan menggunakan konsep kawin paksa yang disajikan oleh Noorfarah Merali. Rumusan masalah yang kedua akan mendiskusikan mengenai perjuangan wanita-wanita Asia selatan melawan kawin paksa dengan menggunakan teori radikal feminisme oleh Kate Millets. Dari analisis yang dihasilkan menunjukkan bahwa novel Jasvinder Sanghera ini menampilkan susunan kawin paksa yang menggambarkan bagaimana tradisi kawin ditampilkan termasuk dalam hal proses, persiapan dan mas kawin yang berkaitan dengan kawin paksa serta penyebab dan akibat dari kawin paksa. Izzat atau kehormatan, tradisi dan memiliki kekasih yang berbeda kasta merupakan penyebab kawin paksa yang dialami oleh wanita-wanita Asia selatan. Kekerasan secara emosional, fisik dan seksual, pemerkosaan, tindakan membahayakan diri sendiri dan pembunuhan merupakan hsil dari kawin paksa yang diemban oleh wanita-wanita Asia selatan. Penulisan ini juga menggambarkan perjuangan-perjuangan wanita Asia selatan terhadap kawin paksa yang didominasi oleh kekuasaan patriarki, terutama Jasvinder Sanghera, Shazia, Maya, Surjit, kiren dan Yasmin untuk menghapuskan penindasan terhadap wanita melalui kerja paksa dalam rumah tangga, untuk mengakhiri dominasi dan kekerasan seksual serta subordinasi perempuan dan untuk menampilkan nilai-nilai feminis melalui mothering.AbstractThe aim of this study is to discuss about Javinder Sanghera‟s Daughters of Shame novel by using feminism approach through two statements of problem. The first problem of this study will discuss about the arrangement of South Asian women‟s forced marriage by using the concept of forced marriage discussed by Noorfarah Merali. The second problem will discuss about the fight of South Asian women against forced marriage by using theory of Kate Millet‟s radical feminism. The analysis shows that this Jasvinder Sanghera‟s novel represents the arrangement of forced marriage which describes about how forced marriage tradition included the process, preparation and dowry related with forced marriage and the causes and impacts of the forced marriage. Izzat/ honor, tradition and having a different caste boyfriend are the cause of forced marriage that is experienced by the South Asian women. Emotional, physical and sexual abuse, rape, self harm and murder are the result of forced marriage that South Asian Women endure. This study also describes the fights of South Asian women toward forced marriage in the hold of patriarchy‟s domination, mainly Jasvinder Sanghera, Shazia, maya, Surjit, Kiren and Yasmin to eliminate women‟s oppression through domestic labor, to end men‟s sexuality assault and domination and women subordination and to represent women‟s feminine values through mothering.Key words: forced marriage, radical feminism, patriarchy‟s domination, abuse, honor
Dexter’s and Emma’s Defense Mechanisms which Contribute to Complicated Love Relationship in David Nicholls’ One Day ALIT MAHARDIKA
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3841

Abstract

Psikologimenjadihal yang sangatpentingketikaditerapkandalammenganalisatokohdalam novel. Hal yangpentingadalahbagaimanatokoh-tokohmenghadapi plot, dansewaktu-waktumerekaharusmenghadapisesuatu yang takdapatditerima, halinimemicumunculnyakecemasan yang berakhirpadamekanismepertahanan ego. Hal inilah yang dialami Dexter dan Emma, mekanismepertahanan ego merekamemainkanperasaanmerekadalamsebuahikatan, ikatancinta.Berdasarkanfaktatersebut, rumusanmasalah yang dapatdiambiladalah (1) bagaimanamekanismepertahanan ego terpaparkanpadadiri Dexter dan Emma dalam novel One Day karya David Nicholls? (2) bagaimanamekanismepertahanan ego tersebutmempengaruhihubunganantaradexterdan Emma dalam novel One Day karya David Nicholls? Sedangkantujuandanmanfaatpenelitiansecaraotomatisakanmenjawabmasalah-masalah yang sudahdimunculkan. Untukmenjembatanibagian yang sulitdalamanalisaini, penggunanmetodemengerucutpadainterpretasiyangmenggunakanteknikpengumpulandatadenganakibatsecarapsikologis, sedangpendekatannyamenggunakanpendekatanobjektif.Analisaakanmengacupadaduatokohutama, Dexter dan Emma, dimanamekanismepertahanan ego merekamemisahkansekaligusmenyatukancintamereka, sehinggahalinimenjadijelasbahwamekanismepertahanan ego selainmengakibatkankonflik internal, jugamempengaruhikonflikdalamhubungandengan orang lain.Keywords: Psikologi, mekanismepertahanan egokonflik, danhubungan.AbstractPsychology becomes the crucial thing when it is used to analyze characters in novel. The important thing is how the characters face the plots, and sometimes they have to face something cannot be accepted, these are sourced to them of getting anxiety that ends to defense mechanism. This is what Dexter and Emma have to face, their defense mechanisms play on their relation, especially love. Based on those facts, the problems are (1) how are defense mechanisms depicted in DexterandEmmain David Nichollis‟ One Day? (2) how do defense mechanisms affect to the relation between Dexter and Emma in David Nichollis‟ One Day?And the objectives and significances automatically follow it. To bridgethe hard part in the analysis, the used method is interpretation that uses techniqueconnecting data with the impact psychologically and the approach is objective. Based on the analysis goes further with the two characters, Dexter and Emma,they have defense mechanisms that can separate them and also unite them, thus it can be clear to get that defense mechanism besides influencing their own psychology conflict, also influences their relation to each other.Keywords: Psychology, defense mechanism, conflict, and relation.
THE AMBIVALENCE IN JHUMPA LAHIRI’S THE NAMESAKE NOVIA YUSROINI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3842

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap ambivalensi yang dialami oleh keturunan imigran, Nikolai Gogol, Dia adalah tokoh utama di dalam novel Jhumpa Lahiri yang berjudul The Namesake. Lahir di Amerika dari pasangan imigran India membuat tokoh utama mengalami perbedaan dua budaya antara India dan Amerika. Mengalami perbedaan budaya secara terus menerus dan tidak stabil mengakibatkan tokoh utama mempunyai ambivalensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap penggambaran ambivalensi di dalam novel Jhumpa Lahiri, The Namesake dan mengungkap akibat-akibat dari ambivalensi. Dalam mengungkap ambivalensi, penelitian ini menggunakan postcolonial dan beberapa konsep ambivalensi, mimikri, dan hibridisasi dari Homi K Bhabha dan para ahli budaya yang lain. Hasil dari pengungkapan tentang ambivalensi beserta akibat-akibatnya, menunjukkan bahwa tokoh utama mengalami ambivalensi karena kesamaan nama, perbedaan budaya antara India dan Amerika dan juga perlakuan orang Amerika terhadapnya. Akibat dari ambivalensi, Gogol lebih suka menjadi orang Amerika dengan meniru segala gaya hidup orang Amerika, namun darah India yang dia miliki menjadikan dia masih terlihat seperti seorang India dan hal ini membuat dia mencampur dua budaya antara Amerika dan India.Kata Kunci : pasca-penjajahan, ambivalensi, mimikri, hibridisasiAbstractThis study aims to explore the ambivalent experiences of immigrant‟s generation which experienced by Nikolai Gogol as the main character in Jhumpa Lahiri‟s novel entitled The Namesake. Born in America by Indian immigrant couple make the main character confronts different culture between India and America. The continual and unstable in different culture experience leads the main caharacter having ambivalence experiences. This study purposes to explore the depiction of ambivalence in Jhumpa Lahiri‟s The Namesake and reveals the impacts of ambivalence.In exploring the problems, this study uses postcolonial and some concept of ambivalence, mimicry, and hybridity by Homi K Bhabha and other experts in cultural aspect. The results of this exploration about ambivalence and its impacts shows the main character face the ambivalence because of his namesake, clash culture between India and America also the treatment by the American in his society. The impacts of main character‟s ambivalence is Gogol prefer to be an American by his imitation to American life style but his heritage of Indian make him still an Indian and lead him to mix both of America and India cultureKeywords: Post-colonial, ambivalence, mimicry, hybridity
White Mask and Yellow Face of Olivia’s CharacterIn Amy Tan’s The Hundred Secret Senses DIANA SUSMAKER
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3843

Abstract

Ketika generasi kedua dari imigran China tinggal di negara multikultural seperti Amerika, mereka harus siap untuk menerima konsekuensi menghadapi kenyataan bahwa mereka terlahir untuk memiliki dua budaya. Generasi kedua dari immigran tersebut biasanya mengalami kesulitan untuk mengetahui kebudayaan mereka sebelumnya karena mereka menganggap dirinya sebagai bagian dari negara dimana mereka dilahirkan. Pengaruh dari dua kebudayaan, antara China dan Amerika membuat generasi kedua membentuk hibriditas identitas kebudayaannya. Bagaimanapun, hibriditas selalu dihubungkan dengan kekuasaan dua budaya yang memiliki kekuatan yang sama. Kedua budaya tersebut sangat kuat dan mengambil peranan dalam pembentukan identitas kebudayaan yang ganda. Dengan latar belakang seperti itu, maka permasalahan-permasalahan muncul seperti (1) bagaimana budaya Amerika dan China membentuk karakter Olivia dalam novel The Hundred Secret Sensesr karya Amy Tan? Dan (2) bagaimana hibriditas direfleksikan pada karakter Olivia dalam novel The Hundred Secret Sensesr karya Amy Tan? Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, hibriditas sebagai teori utama, konsep budaya, identitas budaya, nilai budaya China dan Amerika dan orientalisme sebagai teori pendukung. Hasil yang didapatkan akan menjelaskan bahwa generasi kedua dari immigran China yang tinggal di Amerika mampu mengetahui budaya orang tua yang dimilikinya melalui nilai-nilai budaya dari Negara tersebut dan pengasruh orang lain yang berhubungan dengan budaya orang tuanya.Kata Kunci: identitas budaya, generasi kedua, pembentukan, kekuasaan, hibriditas.AbstractWhen second generation of Chinese immigrants live in the multicultural country like America, the have to be ready to accept the consequences to face the reality that they were born to be hybrid. Second generation of immigrant may get difficult to recognize their former culture because they supposed their self as the member of the country where they were born. The influence of the two different cultures, between China and America may trace the second generation to consolidate their hybrid cultural identity. However, hybridity is always connected with the power of two different cultures which has the same power. Both of cultures is very strong and take an action in the process of reshaping hybrid cultural identity. All those presumptively fact which are stated, arise the problem statements along with questionings, which are delivered to two main questions of (1)how does American and Chinese culture shape the cultural identity of Olivia’s character in Amy Tan’s The Hundred Secret Senses? and (2) how is Hybridity reflected in Olivia’s character caused by American and Chinese culture in Amy Tan’s The Hundred Secret Senses? This study uses descriptive qualitative method, hybridity as the main theory, the concept of culture, cultural identity, Chinese and American cultural values, and orientalism as the supporting theory. Last of all, the result describes that second generation of immigrant is able to recognize the parental culture that belong to her through the cultural values of that country and another’s influence which is relates with the parent’s culture.Keywords: cultural identity, second generation, reshaping, power, hybridity
POWER RELATION IN TAHMIMA ANAM’S THE GOOD MUSLIM WULAN FEBRIYANTI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3844

Abstract

Penelitian tentang relasi kekuasaan menarik untuk dibahas karena kekuasaan adalah bagian dari kehidupan. Umumnya,kekuasaan diartikan sebagai daya atau pengaruh yang dimiliki oleh individu atau lembaga untuk memaksakan kehendak kepada orang lain. interpretasi kekuasaan tersebut telah digunakan oleh pemerhati sejarah, politik, dan sosial. Karya sastra sebagai produk sosial masyarakat dan ekspresi sosial juga dapat mengandung kekuasaan, seperti yang terlihat dalam novel berjudul The Good Muslim. Dalam novel tersebut relasi kekuasaan digunakan sebagai strategi kekuasaan yang menyebar dalam seluruh jalinan perhubungan sosial yang bersifat positif dan produktif dan diarahkan pada tubuh individu. kekuasaan juga memiliki peran penting dalam mendominasi orang lain. Hal ini dimungkinkan orang yang kuat mendominasi orang tak berdaya. Dalam pelaksanaan kekuasaan dibutuhkan mekanisme disiplin agar individu menjadi patuh dan mudah diatur. Penelitian yang berjudul Power Relation in Tahmima Anam‘s The Good Muslim menggunakan teori kekuasaan Foucault dalam rangka untuk mengetahui bentuk relasi kekuasaan yang ada dalam novel antara karakter yang kuat dan yang tak berdaya. Tujuan dari penelitian ini juga menjelaskan resistensi tokoh Maya dan Zaid melawan dominasi kekuasaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi kekuasaan antarindividu yang terjalin dalam kehidupan keluarga, agama dan masyarakat mendorong terjadinya individu-individu yang menggunakan kekuasaan dan mengalami kekuasaan.Pelaksanaan kekuasaan atas tubuh individu dapat dilihat dari bagaimana tokoh yang berkuasa mendominasi tokoh yang tak berdaya. Dominasi terjadi karena adanya ketimpangan dan ketidakseimbangan antar tokoh. kekuasaan dihadirkan dengan aturan dan norma sosial yang bertujuan untuk membuat orang patuh dan tunduk pada aturan yang berlaku di masyarakat dan keluarga. Adanya mekanisme disipliner atas tubuh dalam keluarga dan masyarakat dihadirkan dalam bentuk agama yang berfungsi untuk mengawasi dan mengontrol perilaku individu. Hal ini memberikan dampak kekuatan yang positif dan produktif dalam rangka untuk membentuk individu yang disiplin.Kata kunci: relasi kekuasaan, mekanisme disiplin, dominasi, resistensiAbstractResearch on power relation is interesting to discuss because of power is part of life. Generally, power interprets as effort or influence which possessed by individual or an institution to impose its will to other people. That interpretation of power has been used by observer of history, politics, and social. Literary work as a social product of society and social expression can also contain power; it seen in novel entitled The Good Muslim. In the novel power relation is used as authority strategy that spread through positive and productive social connection that focuses on body of individual. Power also have important role in dominate other people. It is possible for powerful dominate the powerless people. In the implementation of power needs discipline mechanism in order individual become obedient and easy to set up. This study, entitled Power Relation in Tahmima‘s Anam The Good Muslim is using Foucault‘s concept of power in order to find out the form of power relations exist within relationship between powerful and powerless characters. The purpose of this study also describes the resistances of character Maya and Zaid against the domination of power. The result shows that the power relation between individuals based on family contact, religion, and society can possibly force us to use or being used by power. The exercise of power over the individual's body can seen from how powerful character dominate powerless character. Domination occurs because of the inequality and imbalance among characters. Power presented with the rules and social norm that aim to make people obey and comply with rules which applied in society and family. The existence of disciplinary mechanisms over the body in the family and society are presented in the form of religion which serves to oversee and control individual‘s behavior. It is give the impact of the power that is positive and productive in order to form a disciplined individual.Keywords: power relation, discipline mechanism, domination, resistance
DYSFUNCTIONAL FAMILY AND ITS IMPACTS ON VERONICA’S LIFEIN ANNE ENRIGHT’S THE GATHERING LAILI ALFI ARFIYATIN
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3845

Abstract

Keluarga adalah tempat pertama dan fondasi bagi anak untuk belajar tentang kehidupan. Dalam keluarga, anak-anak menerima kebutuhan psikososial sebagai fondasi. Namun, terkadang keluarga tidak dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Anak-anak kadang-kadang membenci orang tua mereka dan sebaliknya orang tua menyalahkan anak-anak karena kenakalan mereka. Kondisi ini disebut disfungsi keluarga. Hal ini telah menjadi isu yang terjadi di seluruh dunia. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini diadakan untuk menjelajahi lebih lanjut tentang disfungsi keluarga yang direpresentasikan dalam novel Anne Enright yang berjudul The Gathering. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini terkait dengan penggambaran disfungsi keluarga dan dampaknya terhadap kehidupan anak yang diwakili oleh seorang karakter anak dalam novel, Veronica. Konsep psikologi modern yang membahas tentang bagaimana sebuah keluarga dapat menjadi disfungsi karena beberapa faktor seperti kebiasaan buruk, keluarga dan masalah-masalah sosial yang mempengaruhi dan berkontribusi terhadap perilaku agresif atau kekerasan yang digunakan untuk mengungkapkan keluarga yang disfungsional. Kemudian konsep perkembangan anak digunakan untuk mengungkapkan dampak disfungsi keluarga pada perkembangan kehidupan anak. Analisis data menunjukkan bahwa keluarga di novel Anne Enright berjudul The Gathering merupakan keluarga yang disfungsi. Hal ini terbukti ada fungsi keluarga yang tidak bekerja dengan semestinya. Selain itu, ada juga disfungsi pola asuh yang menghantarkan keluarga dalam novel The Gathering menjadi keluarga yang memiliki ciri-ciri disfungsi keluarga. Oleh karena itu, disfungsi keluarga membuat Veronica tidak dapat memaafkan ibunya. Sebagai seorang perempuan dewasa dia bingung dengan perannya sebagai seorang ibu dan tidak bisa mengurus keluarganya sendiri. Disfungsi keluarga juga membuatnya resah dan menderita terhadap kehidupannya. Selain itu, disfungsi keluarga juga mengarahkannya kepada kenakalan remaja, menjadi lost child, dan caretaker.Kata Kunci: Psikologi, psikologi modern, Keluarga, Disfungsi Keluarga, disfungsi pola asuh.AbstractFamily is the first place and foundation for children to learn about life. In the family, children receive the psychosocial needs as the foundation of the family. However, sometimes family cannot fully carry out its functions well. Children sometimes hate their parents and otherwise the parents blame their children for the delinquency. This condition called dysfunctional family. Recently, it has become issue happened around the world. Based on that issue, this journal explains about dysfunctional family as represented in Anne Enright’s The Gathering. The problems discussed in this journal are related to (1) describe dysfunctional family and (2) the impacts on child life as represented by a child characters in the novel, Veronica. The concept of modern psychology that discusses how a family can be a dysfunction due to several factors such as bad habits, family and social issues that affect and contribute to aggressive or violent behavior is used to describe the dysfunctional family. Then the concept of child development is used to reveal the impacts of dysfunction family on a child life development. The data analysis shows that family in Anne Enright’s The Gathering is indicated as dysfunctional family. The family is dysfunctional extended family. It is proven that some family functions are not working properly. In addition, there are also some dysfunctional parenting styles delivering the family in novel The Gathering become a family that has the characteristics of dysfunctional family. Therefore, the dysfunctional family makes Veronica cannot forgive her mother. In addition, as an adult daughter, she confused with her role as a mother and cannot take care of her own family. Family dysfunction also makes her being restless and suffered throughout her life. In addition, dysfunctional family also brings her to juvenile delinquency, a lost child, and caretaker.Keywords: psychology, psychology modern, family, dysfunctional family, dysfunctional parenting styles.
Creature and Color Symbolism in J. K. Rowling’s Harry Potterand the Prisoner of Azkaban LISTIYANING TIAS
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3853

Abstract

Simbol adalah obyek yang mewakili, singkatan, atau menyarankan ide, keyakinan, tindakan, atau badan material. Dalam karya J. K. Rowling, Harry Potter dan Tawanan Azkaban, ada beberapa makhluk yang termasuk makhluk udara, darat, dan air. Setiap makhluk tersebut ditangani oleh karakter protagonis dan antagonis. Meskipun jika suatu makhluk ditangani oleh karakter protagonis, tidak berarti bahwa makhluk tersebut baik. Begitu juga sebaliknya, jika suatu makhluk ditangani oleh karakter antagonis, tidak berarti bahwa makhluk tersebut juga buruk. Ini semua didasarkan pada karakteristik dari makhluk itu sendiri. Makhluk-makhluk tersebut mewakili hal-hal baik dan buruk. Tidak hanya itu, tetapi juga ada warna yang muncul dari tongkat para penyihir dan warna makhluk yang mewakili hal-hal baik dan buruk. Jadi makhluk dan warna tersebut membantu para pembaca untuk membedakan antara hal-hal yang baik dan yang buruk. Berdasarkan fakta-fakta dugaan, masalah muncul bersama dengan pertanyaan yang dikirim ke dua pertanyaan utama (1) Bagaimana simbol makhluk dan warna yang digambarkan dalam Harry Potter dan Tawanan Azkaban? dan (2) Apa signifikansi dari makhluk dan simbol warna dalam Harry Potter dan Tawanan Azkaban? Metode yang digunakan dan pendekatan diklasifikasikan ke semiotika di mana simbol dan tanda itu sedang dibicarakan. Terakhir, hasilnya menjelaskan bahwa ada makhluk udara, darat, dan air yang muncul dalam novel dapat mewakili hal yang baik dan buruk. Selain itu, ada beberapa warna yang muncul dalam novel yang juga dapat mewakili hal yang baik dan buruk. Dalam novel ini, ada begitu banyak makhluk dan warna yang muncul sebagai bagian dari simbol. Terakhir, bagian dari simbol dapat menjadi media untuk membedakan arti dari hal-hal yang baik dan buruk.Kata kunci: semiotik, simbol, simbolisme, makhluk, dan warna.AbstractA symbol is an object that represents, stands for, or suggests an idea, belief, action, or material entity. In J. K. Rowling‟s Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, there are several creatures that including air, land, and water creatures. Each of those creatures is handled by the protagonist and the antagonist character. Even though if the creature is handled by protagonist, does not mean that that creature is good. So do the opposite, if the creature is handled by antagonist characters, does not mean that that creature is also bad. It is all based on the characteristic of those creatures itself. Those creatures are representing the good and the bad things. Not only that, but also there are the color which come out from the wizard‟s wand and the color of the creature that represents the good and the bad things. So the creatures and the colors help the readers to differentiate between the good and the bad things. Based on that presumptively facts, problems arise along with questionings, which are delivered to two main questions of (1) How are symbols of creature and color depicted in Harry Potter and the Prisoner of Azkaban? and (2) What are the significances of creature and color symbol in Harry Potter and the Prisoner of Azkaban? The used method and the approach are classified to semiotics where the symbol and sign is being talked about. Last of all, the result describes that there are air, land, and water creatures that appear in the novel can represent a good and a bad thing. Beside that, there are several colors that appear in the novel that also can represent a good and a bad thing. In this novel, there are so many creatures and colors that appear as a part of symbols. Lastly, that part of symbol can be a media to differentiate the meaning of good and bad things.Keywords: semiotic, symbol, symbolism, creature, and color.
LONELINESS AND ITS IMPACTS IN HARUKI MURAKAMI’S NORWEGIAN WOOD MARIA YUSNITA
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3854

Abstract

Kesepian adalah pengalaman psikologis yang terjadi dalam kehidupan manusia. Kesepian tidak hanya dialami oleh orang-orang tua, tetapi juga oleh semua manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan kesepian melalui dua karakter utama Toru Watanabe dan Naoko dalam novel, mengungkapkan penyebab kesepian yang menjadi alasan mengapa kesepian terjadi dalam hidup mereka, dan mengungkapkan dampak kesepian sebagai konsekuensi dari penyebab kesepian mereka. Sumber data utama dalam tesis ini diambil dari novel berjudul Norwegian Wood yang ditulis oleh Haruki Murakami, diterbitkan oleh Vintage International Open-Market Edition pada tahun 2000. Data dalam bentuk kutipan, komentar, dan dialog dalam novel yang mewakili kesepian yang dialami oleh dua karakter utama. Istilah kesepian dilambangkan sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan yang terjadi kepada orang, pada waktu orang tersebut tidak memiliki beberapa cara penting dari hubungan sosial, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Definisi itu kesepian disampaikan oleh Daniel Perlman dan Anne Letitia Peplau. Penyebab kesepian yang disampaikan oleh Rubenstein dan Shaver dibagi menjadi lima bagian utama, seperti tidak memiliki pasangan, keterasingan, kesendirian, isolasi, dan dislokasi. Dampak kesepian disampaikan oleh Donald A. Barat, Robert Kellner, dan Maggi Moore-Barat dibagi menjadi tujuh bagian, gangguan kejiwaan misalnya, depresi, menjadi alkoholik, penyalahgunaan dan penelantaran anak, berkabung, masalah kejiwaan, dan penyakit fisik. Hasil analisis menunjukkan bahwa istilah kesepian yang dialami oleh karakter utama sebagian besar berasal dari kepribadian mereka, latar belakang keluarga, dan pengalaman yang menyakitkan. Analisis juga menunjukkan bahwa penyebab kesepian yang dialami oleh Toru Watanabe dan Naoko sebagian besar berasal dari karakteristik mereka yang menikmati kesendirian, kondisi baik latar belakang keluarga dan lingkungan, dan situasi melalui kematian kerabat dekat. Selain itu, studi ini menunjukkan kesepian yang memberikan dampak buruk pada kedua karakter yang mempangaruhi baik kondisi mental dan kondisi fisik. KATA KUNCI: kesepian, pengalaman psikologis, penyebab kesepian, dampak kesepian Abstract Loneliness is a psychological experience which occurs in human beings’ life. Loneliness is not only experienced by older people, but also by all human beings. The purposes of this study are to depict loneliness through two major characters Toru Watanabe and Naoko in the novel, reveal the causes of loneliness which are becoming the reason why loneliness happen in their life, and reveal the impacts of loneliness, as the consequences of the causes of their loneliness. The main data source in this thesis is taken from the novel entitled Norwegian Wood by Haruki Murakami, published Vintage International Open-Market Edition in 2000. Data are in the form of quotations, comments, and dialogues inside the novel which represent the loneliness experienced by two major characters. The term of loneliness is denoted as unpleasant experience occurs to the person when that person lacks some important ways of social relationship, either quantitatively or qualitatively. That definition of loneliness is proposed by Daniel Perlman and Anne Letitia Peplau. The causes of loneliness are delivered by Rubenstein and Shaver which are divided into five major parts, such as being unattached, alienation, being alone, isolation, and dislocation. The impacts of loneliness are delivered by Donald A. West, Robert Kellner, and Maggi Moore-West which are separated into seven major parts, for instance psychiatric disorder, depression, being alcoholic, child abuse and neglect, bereavement, psychiatric problem, and physical disease. The result of the analysis shows that the term of loneliness which is experienced by major characters largely derives from their personalities, family background, and painful experiences. The analysis also shows that the causes of loneliness which are experienced by Toru Watanabe and Naoko largely derive from their characteristics which enjoy solitude, conditions of both family background and neighbourhood, and situations through the death of closed relatives. In addition, this study shows that loneliness gives the bad impacts on both characters which attack both mental condition and physical condition of those characters. KEY WORDS: loneliness, psychological experience, causes of loneliness, impacts of loneliness