cover
Contact Name
Ali Mustofa
Contact Email
alimustofa@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alimustofa@unesa.ac.id
Editorial Address
The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya T4 Building, 2nd floor Lidah Wetan Campus Surabaya 60213
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Litera Kultura
ISSN : -     EISSN : 23562714     DOI : -
Litera Kultura : Journal of Literary and Cultural Studies accepts articles within the scope of Literature and Cultural Studies. The journal is published three times in a year: April, August, and December.
Articles 353 Documents
WOMAN’S ROLES IN A MAN DOMINATED SOCIETY IN CHAROL SHIELD’S THE STONE DIARIES NURMA ZAZA KURIN'IN
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 2 (2013): Volume 1 edisi Yudisium Mei
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i2.2489

Abstract

Abstract Penelitian ini berkaitan dengan peran wanita dalam masyarakat yang didominasi pria dialami oleh Daisy di novel The Stone Diaries karya Carol Shields Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Menggambarkan Peran wanita di novel The Stone Diaries karya Carol Shields, (2) Mengungkap Proses konstruksi dari Peran wanita di novel The Stone Diaries karya Carol Shields. Dalam mengeksplorasi penelitian ini, beberapa konsep feminisme menjadi kunci untuk menganalisis apa yang tersembunyi di dalam cerita seperti feminisme oleh Kate Millet, karakterisasi peran perempuan oleh Mansour Fakih, konsep perbedaan dengan Michelle Barret, kelompok teori diredam oleh Cheris Kramarae dan artikel lain yang berhubungan dengan penelitian ini. Studi ini menemukan bahwa karakter Daisy menggambarkan status wanita dan posisi wanita dalam masyarakat dan keluarga. Bagaimana masyarakat mengkonstruksi peran bagi mereka, yang cenderung untuk mengalahkan mereka dan perjuangan perempuan dalam mencapai hak-hak yang sama dengan laki-laki. Masyarakat menyebutkan bahwa peran perempuan hanya terkait dengan urusan rumah tangga seperti memasak, merawat anak-anak, patuh kepada suaminya dan bergantung. Daisy terpinggirkan oleh beberapa peran dalam masyarakat yang diatur untuknya. Sikap masyarakat terhadap wanita mengarah kepada ketidakseimbangan dan ketidaksamaan hak-hak antara pria dan wanita. Sementara itu, proses konstruksi peran wanita dapat dilihat pada tingkat yang berbeda dari pria dan wanita, seperti wanita tidak memiliki hak untuk melakukan pekerjaan dan wanita tidak memiliki kesempatan untuk membangun karir. Perempuan tidak memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki hampir dalam aspek kehidupan, seperti aspek ekonomi, sosial, dan pendidikan. Kata Kunci: Feminis, Peran Wanita, Dominasi Pria Abstract This study deals with woman’s roles in a man dominated society experienced by Daisy in Carol Shield’s The Stone Diaries. The purposes of this study are: (1) Depicting the Woman’s Roles in Carol Shields’s The Stone Diaries; (2) Revealing the Construction Process of Woman’s Roles in Carol Shields’s The Stone Diaries. In exploring the study, some concepts of feminism becomes the key to analyze what are hidden in the story such as feminism by Kate Millet, the characterization of women’s role by Mansour Fakih, concept of difference by Michelle Barret, the muted theory group by Cheris Kramarae and any other article which are related with the study. The study finds out that the character of Daisy illustrates the women’s status and women’s position in society and family. How society constructs the roles for them, which tends to defeat them and the women’s struggle in reaching the equal rights as men The society construction mentions that women’s role is just related to the domestic affair such as cooking, taking care to the children, being submissive to her husband and being dependent. Daisy is marginalized by some roles in the society which are arranged for her. The society attitudes toward women lead into the imbalance and unequal rights between man and woman. Meanwhile the construction process of woman’s roles can be seen in different level of man and woman, such as woman does not have right to do man’s work and woman does not have chance to build a career. Women do not have the equal chance as men in almost aspect of life, such as economical, social, and educational aspect. Keywords: Feminism, Woman’s roles, Man domination
Tracing the Absences of Human Identity in Aravind Adiga’s The White Tiger: Silhouette of Identity RAHMAT SETIAWAN
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 2 (2013): Volume 1 edisi Yudisium Mei
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i2.2491

Abstract

Abstrak Identitas adalah suatu entitas yang dinamis dan melekat pada sesuatu, terutama pada manusia. Dalam novel The White Tiger karya Aravind Adiga, dua tokoh utama diceritakan secara ambigu yang mempengaruhi para pembaca untuk mengidentifikasikan identitas tokoh-tokoh tersebut. Sesuatu yang dihadirkan pada akhirnya menancapkan identitas pada karakter-karakter tersebut. Akan tetapi, ada ketidakhadiran-ketidakhadiran di dalam diri tokoh-tokoh tersebut dimana pemahaman biasa tak mampu menangkapnya. Terlebih, segala sesuatu pasti dikendalikan oleh bahasa, sementara bahasa sendiri adalah sesuatu yang tidak stabil. Jadi, identitas manusia pasti tidak stabil. Ketidakstabilan ini akan memunculkan ketidakhadiran-ketidakhadiran identitas manusia. Dengan latar belakang seperti itu, maka permasalahan-permasalahan muncul seperti (1) bagaimana identitas manusia terbentuk dalam novel The White Tiger karya Aravind Adiga? Dan (2) bagaimana identitas manusia meninggalkan jejak-jejak ketidakhadiran dalam novel The White Tiger Karya Aravind Adiga? Metode yang digunakan adalah hermeneutika yang juga sekaligus sebagai teknik, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pragmatik. Hasil yang didapatkan akan menjelaskan jika identitas manusia tidak hanya terbentuk dari sisi luar manusia tetapi juga dari esensi manusia itu sendiri. Sementara manusia selalu berubah, maka identititasnya juga akan selalu berubah. Perubahan ini mengasumsikan jika identitas manusia itu tidak stabil. Ketidakstabilan ini melahirkan pluralisme di mana rasionalitas manuia terkadang tidak dapat menerimanya. Memang, hal itu dikarenakan rasionalitas manusia yang masih terpaku pada logosentrisme meskipun banyak kelemahan pada logosentrisme tersebut sebagai struktur dari segala hal, termasuk identitas. Dalam novel ini, identitas manusia mengerucut pada identitas kaum Miskin dan Kaya. Untuk mengakhirinya, bisa dikatakan jika identitas hanya dapat dilihat sebagai sebuah siluet, karena itu hanya dapat dimengerti tetapi tidak dapat ditentukan. Kata Kunci: identitas manusia, logosentrisme, bahasa, dan dekonstruksi. Abstract Identity is dynamical entity and it adheres tightly to the thing, especially human. In Aravind Adiga’s The White Tiger, the two main characters are told ambiguously that influence the interpreters to identify the identity of the two characters. Something that is presented, finally brands to the identity of the characters. However, there are absences inside the character, which common sense cannot see. Additionally, everything is controlled by language, while language is unstable. Thus, the human identity must be unstable. This instability finally presents the absences of human identity. Grounded on that presumptively facts, problems arise along with questionings, which are delivered to two main questions of (1) how is human identity shaped in Aravind Adiga’s The White Tiger? and (2) how does human identity leave behind traces of the absent identities in Aravind Adiga’s The White Tiger? The used method must not get rid of hermeneutics, the approach is classified to pragmatics where extrinsically works on deriving from deconstruction, while the technique scopes on the way of interpretations work on. Last of all, Last of all, the result describes that human identity is not constructed by only the outside of human but also the essence of human. While human is always changing, so does the identity. This changing construct the instability of human identity. The instability bears pluralism sometimes cannot be understood and accepted by human’s rationalities. However, that fact, indeed, is caused by the lack of logocentrism as the structure of everything, including in identity. In this novel, the human identity is scoped by Poor and Rich identity that will be elaborated. Lastly, human identity can be seen only as a silhouette, it can be sensed but cannot be made certain who he/she really is. Keywords: human identity, logocentrism, language, and deconstruction.
TRAGEDY IN ARTHUR MILLER’S THE CRUCIBLE DWI KURNIA WATI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 2 (2013): Volume 1 edisi Yudisium Mei
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i2.2514

Abstract

Abstrak The Crucible adalah drama karya Arthur Miller yang menampilkan tentang perburuan tukang sihir di Salem yang bertempat di Massachusetts sekitar 1692 dan 1693. The Crucible dilatarbelakangi oleh perlawanan kepada perburuan liar tukang sihir Salem. Kajian ini bertujuan untuk menggambarkan tragedi yang ada di drama The Crucible karya Arthur Miller.Ini juga di selesaikan untuk menganalisis bagaimana John Proctor adalah pahlawan tragis di drama ini. Kajian ini menggunakan percakapan dari drama The Crucible sebagai sumber data utama.Kemudian data itu di klasifikasikan, dianalisasikan, dan diinterpretasikan untuk menggambarkan tragedy dan bagaimana John Proctor adalah pahlawan tragis. Menggunakan teori Archetipal dari Northrop Frye untuk menjawab permasalahan-permasalahan, kajian ini akan lebih menarik untuk dianalisis lebih dalam. John Proctor sebagai tokoh utama, dia adalah seorang petani yang bijaksana yang melakukan dosa perselingkuhan. Dia mempunyai kekurangan tragis yang membuatnya jatuh. Tetapi dia salah karena perselingkuhannya dahulu membuat Abigail menuduh Elizabeth, istrinya sebagai tukang sihir. Proctor tidak ingin menceritakan ini di pengadilan, tetapi ketika dia melakukannya itu sudah terlambat. Proctor memilih kematian untuk melawan keadilan, martabat, menjaga nama baik, memegang kepercayaannya, dan menyelamatkan masyarakat. Bila sebagian orang akan memilih untuk berbohong di situasi yang sama untuk menyelamatkan diri dan keluarga. Proctor adalah pahlawan tragis di drama yang tragis sangat jelas tampak di Arthur Miller’s The Crucible. Kata Kunci: tragedi, pahlawan tragis. Abstract TheCrucible is a play written by Arthur Miller which set about Salem Witch trial set in Massachusetts during 1692 and 1693. The Crucible is set against the backdrop of the mad witch hunts of the Salem witch trials. This study aims to depict the tragedy in Arthur Miller’s The Crucible. It is also done to analyze how John Proctor is the tragic hero in the play. This study uses dialog from The Crucible play as main data source. Then those data are classified, analyzed, and interpreted to describe the tragedy and how John Proctor is the tragic hero. Using Northrop Frye’s Archetypal theory to answer the problems, this study became more interesting to analyze deeper. John Proctor as the central character, he was sensible farmer that had committed the sin of adultery. He had a tragic flaw that lead to his downfall. However he was wrong because his former love Abigail accuses his wife of witchcraft. Proctor does not want to tell the court about his affair, but when he does it is too late. He chooses death to fight for justice, dignity, keep his good name, hold on to his beliefs, and save society. If most of people were confronted in the same situation, most would choose to lie to save their life and family. Proctor is the tragic hero in a tragic plot clearly implied in Arthur Miller’s The Crucible. Keywords: tragedy, tragic hero.
CELLIE’S STRUGGLE AGAINST GENDER  INEQUALITY  IN ALICE WALKER’S THE COLOR PURPLE MELDA YANTI PANJAITAN
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 2 (2013): Volume 1 edisi Yudisium Mei
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i2.2515

Abstract

Abstrak The Color Purple meneliti tentang posisi, peran perempuan yang diabaikan berjuang untuk melawan ketidaksetaraan gender. Cellie sebagai karakter utama mampu mengubah statusnya dari seorang budak wanita yang dilecehkan secara seksual dan akhirnya berhasil membebaskan diri secara ekonomi dan secara fisik. Cellie melawan ketidaksetaraan gender dengan memperoleh kesadarannya yang membawanya ke kebebasan. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Menggambarkan ketidaksetaraan gender di Alice Walker, The Color Purple, (2) Mengungkap Perjuangan Celie melawan ketidaksetaraan gender di Alice Walker, The Color Purple. Dalam mengeksplorasi penelitian, menggunakan beberapa konsep feminisme menjadi kunci untuk menganalisis apa yang tersembunyi di dalam cerita seperti kekerasan, patriachy dan jender, dan hal lain yang berhubungan dengan penelitian ini. Analisis ini menemukan bahwa novel ini menunjukkan penderitaan yang dihadapi oleh cellie sebagai karakter utama yang menghadapi penderitaan dari peindasan, pria dominasi, diskriminasi, kekerasan, ketidakadilan gender. Dia diabaikan oleh laki-laki hitam, terutama Pa dan suaminya. Namun, dengan memiliki hubungan yang baik di antara perempuan yaitu Nettie, Sofia, dan Shug Avery, dia bisa mengembalikan kesadarannya yang membawanya ke dalam kebebasan. Hidup dalam masyarakat patriarkal, Celie harus bertahan penindasan dan kebodohan dari karakter laki-laki. Dia harus patuh pada Pa dan suaminya. Selain itu, ia juga didiskriminasikan oleh suaminya menjadi seorang istri. Keberhasilannya menjadi independen dipengaruhi oleh hubungan baik dirinya di antara perempuan dalam masyarakatnya (Shug). Kata kunci: feminisme, kekerasan, patriachy, dan ketidaksetaraan gender Abstract The Color Purple examines about the positions, role ignored women who struggles for independency of gender inequality. Cellie the main character is able to change her status of a sexually abused slave woman and free herself economically and physically. Cellie against gender inequality by gain her consciousness that bring her to independence. The purposes of this study are: (1) Depicting gender inequality in Alice Walker’s The Color Purple; (2) Revealing Celie’s Struggle against gender inequality in Alice Walker’s The Color Purple. In exploring the study, some concepts of feminism becomes the key to analyze what are hidden in the story such as violence, patriachy and gender, and any other article which are related with the study. The analysis finds that the novel shows miseries faced by Cellie as the main-character who face sufferings from abused, male domination, discrimination, violence, gender inequality. She is ignored by black men, especially her Pa and her husband. Yet, by having good relationship among women namely Nettie, Sofia, and Shug Avery, she could gainher consciousness that brings her into independent. Living in patriarchal society, Celie must endure oppression and ignorance from the male characters. She must be obedient to her Pa and her husband. In addition, she is also discriminated by her husband of being a wife. Her success of being independent influenced by her good relationship among women in her society (Shug). Keywords: feminism, violence, patriachy, and gender inequality
Hegemony in Kiran Desai’s The Inheritance of Loss and Doris Lessing’s The Grass is Singing SRI NURHIDAYAH
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 2 (2013): Volume 1 edisi Yudisium Mei
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i2.2516

Abstract

Abstrak The Inheritance of Loss karya Kiran Desai dan The Grass is Singing karya Doris Lessing adalah sebuah fiksi yang pada dasarnya memunculkan masalah di bawah rubrik kolonial dan poskolonial. Penaklukan negara oleh penjajahan Inggris meninggalkan jejak penjajahan yang tercermin di negara kedua novel, India dan Afrika. Inggris imperialisme terus mempertahankan kekuasaannya walaupun negara yang dijajah sudah merdeka. Hal ini menyebabkan negara yang dijajah mengikuti dan menerima secara sukarela kekuatan dominasi kelas penguasa. Oleh karena itu, Inggris Imperialisme menghegemoni kaum bawah untuk mempertahankan kekuasaan mereka yang tercermin dalam kedua novel yang akan dibahas sebagai topik utama. Tesis ini merumuskan tiga masalah, (1) bagaimana hegemoni tercermin dalam karakter Jembhai sebagai mantan terjajah dari kekaisaran Inggris di The Inheritance of Loss karya Kiran Desai, (2) bagaimana hegemoni tercermin dalam karakter Mary sebagai anggota perempuan dari Pemerintah Inggris Imperialisme di The Grass is Singing karya Doris Lessing, dan (3) bagaimana hubungan Jemubhai dan Mary dalam hegemoni. Tesis ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, intertekstualitas, dan pendekatan mimesis. Masalah-masalah ini akan dianalisa dengan menggunakan teori Hegemoni Antonio Gramsci. Sastra Perbandingan akan digunakan untuk menganalisa hasil hegemoni Jemubhai dan hegemoni Mary yang akan dibandingkan dan dikontraskan. Untuk mendukung penelitian, teori intertekstualitas akan digunakan. Perbandingan dua karya tersebut menunjukkan bahwa kedua novel dapat dihubungkan meskipun mereka berada di era, waktu, dan tempat yang berbeda. The Inheritance of Loss berlokasi di India ketika kolonisasi berakhir dan The Grass is Singing bertempat di Rhodesia Selatan (sekarang Zimbabwe) ketika terjadi kolonialisme Inggris. Kata Kunci: sastra perbandingan, hegemoni, (pos) kolonialisme, intertekstualitas, dan novel Abstract Desai’s The Inheritance of Loss and Lessing’s The Grass is Singing is essentially bring up the problems under rubric of (post) colonial fiction. British Imperial subjugation leave the trace of colonization in both novels; India and Africa. The colonization is continued to maintain the colony power. It causes the colonized follow and receive voluntarily the domination power of ruling class. Therefore, British Imperial hegemony to maintain their power that is reflected in both novels will be discussed as the main topic. This thesis formulates three problems; how hegemony reflected in Jembhai’s characters as ex-colonized of imperial British in Kiran Desai’s The Inheritance of Loss, how hegemony reflected in Mary’s characters as female member of Imperial British Government in Doris Lessing’s The Grass is Singing, and how the relation Jembhai and Mary in hegemony. This thesis uses descriptive quality, intertextuality, and mimesis method. These problems will be examined by using Antonio Gramsci’s Hegemony theory. The comparative literature will be used to examine the result of Jemubhai’s hegemony and Mary’s hegemony that will be compared and contrasted. To support the examination, Intertextuality will be used. The comparative shows both novels can be related although they are in the different era, time, and place. The Inheritance of Loss sets in India when the formal colonization ended and The Grass is Singing sets in Southern Rhodesia (now Zimbabwe) when the formal colonization happening. Keywords: comparative literature, hegemony, (post) colonialism, intertextuality, and novel
MERRY’S SEXUAL SEDUCTION IN LAURA LONDON’S THE WINDFLOWER TANGKAS PRIAMBODO
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 2 (2013): Volume 1 edisi Yudisium Mei
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i2.2560

Abstract

Abstrak Romansa cinta merupakan suatu hal yang memegang peranan penting dalam novel ini. Disini karakter memegang peranan penting untuk menentukan alur cerita. Karena ini sangat penting, maka studi ini akan mengobservasi lebih banyak lagi tentang romansa cinta yang ada di novel ini. Dalam novel karangan Laura London, The Windflower, Merry menjadi tokoh utama, yang digambarkan memiliki hubungan yang cukup rumit dengan Devon Crandall. Studi ini akan menunjukkannya. Disamping itu, studi ini juga akan menunjukkan efek yang ditimbulkan dari kisah cinta antara Merry dengan Devon. Untuk mendapatkan hasilnya, studi ini menggunakan 3 metode: yaitu data; kumpulan teori, dan prosedur analisis. Data mutlak didapatkan dari novel. Untuk penggunaan teori, tesis ini menggunakan teori tentang godaan seksual serta teori tentang gender dari Sigmund Freud dan Judith Butler. Dua teori ini mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk menunjukkan bagaimana cerita ini membentuk romansa – romansa cinta melalui sudut pandang karakter Merry. Teori tentang sex dan gender berhubungan dengan alat kelamin dan gender melalui pengalaman dari karakter utamanya, dan teori tentang godaan seksual yang dijelaskan melalui esensi romantismenya. Setelah menggunakan teori ini, hasil yang dapat diperoleh adalah proses pembentukan godaan seksual melalui karakter Merry. Melalui hasil tersebut, studi ini mampu menunjukkan efek dari godaan secara seksual yang terjadi pada Merry melalui percakapan dan narasi yang ada di dalam cerita. Kata Kunci: sex, godaan, gender. Abstract A romance in this novel is something which is so important. A character which becomes it is able to decide how the story goes. Because this is important, this study wants to observe more about the romance in the story. In Laura London The Windflower, Merry has become the main character which has complicated relationship to Devon Crandall. This study wants to show it. Besides that, this study also wants to show the effects of romance story between Merry and Devon. To obtain the results of those purposes, this study uses three methods: data, theoretical approach, and procedure of analysis. Data absolutely comes from the novel. For theoretical approach, this study uses theory of seduction and theory of sex and gender which are brought by Sigmund Freud and Judith Butler. Those two theories have the same purpose, to show how the story creates a romance stories trough Merry. Theory of sex and gender comes with terms: sexual genitalia and gender which are experienced by the main character and theory of seduction which are experienced by the romantic essence. After using those theories, the results will be the process of creating a sexual seduction trough Merry. From that result, this study is able to show the effect of seduction in Merry using conversations and narrations in the story. Keywords: sex, seduction, gender.
MINKE’S DECOLONIZATION IN PRAMOEDYA ANANTA TOER’S CHILD OF ALL NATIONS SAPRIYADI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 2 (2013): Volume 1 edisi Yudisium Mei
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i2.2561

Abstract

Abstrak Anak semua bangsa adalah salah satu novel dimana kekuatan colonial bekembang di hindi belanda. Disini penindasan belanda kepada petani gula menjadi topik utama. karakter Minke terlihat sangat vital karena Minke menjadi sosok yang menentukan alur cerita. Skripsi ini bertujuan meneliti tentang respon primbumi yang berintelektual seperti Minke untuk menghadapi kenyataan yang dibuat oleh Belanda. Di dalam novel Anak semua bangsa, Minke menjadi karakter utama yang mana mempunyai hubungan yang sangat membingungkan dengan pemerintahan Belanda. Skripsi ini ingin menunjukkan sisi lain dalam novel Anak semua bangsa yang mana membuahkan sebuah aksi dekolonialisasi. Disamping itu, skripsi ini juga ingin menunjukkan sebuah proses dimana seorang Minke mencapai sebuah aksi dekolonialisasi. Untuk memperoleh hasil dari tujuan yang diinginkan, skripsi ini mengumpulkan data utama dari novel itu sendiri dan juga dari internet. Untuk teori yang digunakan skripsi ini menggunakan teori dekolonisasi dari Frantz Fanon, Fanon menjelaskan tentang tiga fase yakni; asimilasi, penemuan jati diri, dan perjuangan, dan hasilnya memberikan hasil dimana terlahirlah jiwa kemanusiaan Minke, dan sjkripsi ini juga menunjukkan perjuangan seorang Minke yang mana tergambar dari cerita dan percakapan yang dilakukan Minke. Kata Kunci: kolonisasi, dekolonisasi, jiwa kemanusiaan, asimilasi, penemuan jati diri, perjuangan Abstract Child of All Nations is the one of novel that gives a picture how the power colonization exist in the Dutch East Indies. Dutch oppression is underlined by a look at the exploitation of East Java’s peasants by sugar plantation owners, local ruler and Dutch officials. Minke character is really important because he decides how the story goes. This study aims to observe more about the respond native intellectual such as Minke to face the reality that created by Dutch. In the Child of All Nations, Minke becomes the main character which has complicated relationship with Dutch. This study wants to show how the story of Child of All Nations creates decolonization. There are actually many factors, in which forces Minke to create decolonization. Besides that, this study also wants to show the process of Minke reached that decolonization. To obtain the results of those purposes, this study uses three methods: data, theoretical approach, and procedure of analysis. This study collects primary data from the Child of All Nations novel and the internet. For theoretical approach, this study uses theory of decolonization, in which brought by Frantz Fanon. Fanon explain decolonization in the three phases, there are; assimilation, self discovery, fighting back. After using those theories, the results will be the process of creating humanity side in the life of Minke. From that result, this study is able to show the process of becoming the real of revolutionary in Minke’s life, using conversations and narrations in the story. There will be some changes in Minke which are represented by story and his conversation as the process of becoming a revolutionary. Keywords: colonization, decolonization, humanity, assimilation, self discovery, revolutionary.
THE GOODNESS SYMBOLS OF CICERO’S POLITICAL VIEW IN ROBERT HARRIS’S CONSPIRATA LITA ROSITA K.
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 2 (2013): Volume 1 edisi Yudisium Mei
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i2.2613

Abstract

Abstrak Kajian ini adalah untuk menyingkap lambang-lambang kebaikan pada diri Cicero dalam pandangan politiknya yang di gunakan Robert Harris untuk menjelaskan arti tersembunyi di dalam novel tersebut. Lambang-lambang kebaikan tersebut muncul untuk menguatkan arti sebenarnya dengan melalui karakter dan latar tempat. Arti dari lambang-lambang kebaikan itu sendiri berhubungan dengan banyaknya persoalan dalam pandangan dunia politik dari novel tersebut. Arti dari lambang-lambang itu saling berkaitan untuk mendukung karakter Cicero sebagai contoh sifat kebaikan dilihat dari sisi politik dalam dirinya. Kebaikan tersebut muncul dari arti lambang-lambang tersebut dan membuktikan apa yang sebenarnya disebut sebagai hal baik dalam dunia politik. Hal ini saling berhubungan antara arti dari lambang-lambang tersebut dan kebaikan yang dimaksudkan sebagai eksistensi atas karakteristik pemikiran seseorang dan praktik politk sebagai pemimpin bangsa. Teori lambing-lambang dari Frye, Ilmu Bahasa, dan konsep politik membantu kajian ini dalam menganalisa dan menjelasan bagaimana lambang-lambang tersebut dapat menjadi lebih bermakna didalam pengartian itu sendiri. Ilmu bahasa mendukung analisa dari lambang-lambang tentang bagaimana sebuah bahasa dari hasil percakapan memunculkan arti yang ada dalam novel tersebut. Konsep politik menyingkap apa sebenarnya hal baik yang ada dalam praktik politik dari novel tersebut. Kajian ini menunjukkan bahwa lambang-lambang kebaikan di dalam pembahasan ini menuntun orang-orang dan para politikus besar tentang bagaimana politik itu seharusnya dijalankan. Lambang-lambang dan kebaikan (hal baik) di dalam politik kembali diulas di Roma beberapa tahun yang lalu dan bagaimana hal ini dapat mempengaruhi praktik politik yang ada dibarat. Kata Kunci: Lambang-lambang, Kebaikan, dan Konsep Politik Abstract This study is to reveal the goodness symbols of Cicero’s political view that Robert Harris used to explain the hidden meaning in his novel, Conspirata. The goodness symbols appear to emphasize the real meaning with the characters and settings. The meaning of goodness symbols itself connected with many issues in political views from the novel. The symbols meaning is closely related to support Cicero’s goodness character in political point of view. The goodness thing come from meaning of the symbols and proof what is exactly called as goodness in politics. It is correlation between meaning of symbols and goodness signify the existence of people’s mind characteristic and people’s practice in politics as a leader of nation. Theory of symbols of Frye, semiotics and concept of politics help the study to analyze and explain how the symbol can be significant in meaning. Semiotics supports the analysis of symbol in how the language from the conversation reveals the deep meaning. Concept of politics signifies what is exactly the goodness thing in political practice from the novel. The study shows that goodness symbols in the study lead people and other great politicians how the politic should be. Symbols and the goodness in politic reviewed Rome in many years ago and how it can influence many politic practices in west. Keywords: The Symbols, Goodness, and Concept of Politic
Racism toward Celie in Alice Walker the Color Walker ADE IRAWAN K
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 2 (2013): Volume 1 edisi Yudisium Mei
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i2.2641

Abstract

Skripsi ini dimaksudkan untuk mengungkap rasisme pada karakter utama yaitu Celie dari novel the Color Purple. Sikap pertahanan Celie adalah aksinya untuk bertahan hidup dengan melindungi dan mejauhi bahaya. Rasisme pada Celie yang ada pada novel adalah salah satu dari tujuan dari penelitian ini dan novel the Color Purple sebagai data utama disertai oleh data tambahan untuk menjelaskan lebih dalam teori yang diterapkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap rasisme pada tokoh utama Celie dan penerapan dinamika pertahanan rasial pada Celie. Penelitian ini menggunakan novel the Color Purple yang dikarang oleh Alice Walker yang diterbitkan pada 1982 oleh Washington Square Press, yang datanya diperoleh dalam bentuk ekspresi, perilaku, dan aksi yang menunjukkan ide dari rasisme. Penelitian ini menggunakan teori rasisme dan dinamika pertahanan rasial. Hasilnya dapat dilihat bahwa rasisme internal, yaitu antara orang kulit hitam yang mempunyai kekayaan dan status yasng terpandang, menyiksa orang kulit hitam yang miskin, khususnya yang terjadi pada Celie sebagai tokoh utama dalam novel ini. Celie disiksa secara lisan, fisik dan secara seksual oleh beberapa laki-laki. Yang kedua adalah dinamika pertahanan rasial dari Celie yang membuat dia meraih apa yang dia inginkan dihidupnya. Ada empat macam dinamika pertahanan rasial yang diterapkan oleh Celie. Kata Kunci: Rasisme, rasisme internal, dinamika pertahanan racial, dan perilaku semena-mena Abstract This skripsi intends to reveal the racism in the main character of The Color Purple, Celie. Defensive racial dynamics of Celie as the act to stay alive by protect and keep away her from danger. Racism towards Celie in the novel does is one of the aims of this study and The Color Purple novel as the main data will be accompanied by the additional data in order to elaborate deeply from the application of the theory. Purpose of this study is to reveal racism in the main character Celie and the defensive racial dynamics applied in Celie. This study using the novel of Alice Walker’s The Color Purple which published in 1982 by Washington Square Press, where the data are in the form of expressions, attitude and action showing the idea of racism. This study uses the theory of racism and defensive racial dynamics. The result can be seen that internalized racism, which is between rich black, which also known as colored, giving abuse to poor black, especially toward Celie as main character in this novel. Celie is verbally, physically, and sexually abused by several different men, leaving her with little sense of self-worth, no narrative voice, and no one to run to. For the second one the defensive racial dynamics of Celie make her achieve what she wants in her life. There are four defensive racial dynamics aspects that applied in Celie. Keywords: Racism, Internalized Racism, defensive racial dynamics, and Abusive Behaviour
HECTOR’S HEROIC GLORY AGAINST THE GREEKS IN DAVID BENIOFF’S TROY MOVIE KATYA DEWI HADIYANTI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 1 No 3 (2013): Volume 1 Nomer 3 (2013)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v1i3.3225

Abstract

Judul skripsi ini adalah "Heroic Glory against the Greeks in David Benioff's Troy Movie". skripsi ini tentang Mitologi Yunani, termasuk pada pahlawan dan pahlawan super terutama dalam Perang Trojan, salah satunya adalah Hector. Tesis ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana kemuliaan heroik dari Hector di film Troy oleh David Benioff. Kedua adalah menerangkan kebutuhan (needs) Hector untuk menunjukkan kemuliaan heroik melawan Yunani, penelitian ini menggunakan konsep kebutuhan hirarki oleh Abraham Maslow (kebutuhan dalam rasa aman, cinta dan kebutuhan milik, dan kebutuhan harga diri). Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan dalam karakter utama, kemuliaan heroik Hector dan kebutuhan hirarki pada Hector. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan pemahaman tentang bagaimana kemuliaan heroik dijelaskan dalam karakter utama, dan menerangkan bagaimana kebutuhan (needs) pada Hector (kebutuhan rasa aman, cinta atau kebutuhan milik, dan kebutuhan harga diri) untuk menunjukkan kemuliaan heroik dalam melawan Yunani di karakter utama. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, data tersebut dianalisis, diklasifikasikan, dan data tersebut ditafsirkan untuk menggambarkan kemuliaan dan kebutuhan dalam kepahlawanan Hector untuk menjadi pahlawan. Akibatnya, Hector adalah seorang pejuang besar dari Troy, Hector memiliki kemuliaan heroik dan kekuatan kebutuhan karena beberapa sebab, terutama dari tindakan untuk mengamankan, melindungi, melawan, dan untuk mendapatkan kemenangan. Kata Kunci: Kemuliaan Heroik, Kebutuhan Hirarki, Perang Trojan, Mitologi Yunani. Abstract The title of this thesis is “Hector’s Heroic Glory against The Greeks In David Benioff’s Troy Movie”. This is about the Greek Mythology, includes of the hero and super hero especially in the Trojan War, one of them is a Hector. This thesis purpose to describe how is Hector’s heroic glory in David Benioff’s Troy movie. Secondly is the revelated of Hector’s needs to indicate his heroic glory against the greek, this study used the concept Hierarchy of Needs by Abraham Maslow (safety needs, love and belonging needs, and self-esteem needs). This study purpose to give an explanation with the main character, Hector’s heroic glory and the revelation of Hector’s needs. It is done to get the understanding about how heroic glory described in the main character, and how the revelated of Hector’s needs (safety needs, love or belonging needs, and esteem needs) to indicate his heroic glory against the greek in the main character. The study used the qualitative descriptive method, those data are analyzed, classified, and interpreted the data to describe the heroic glory and needs in Hector to become a hero. As a result, Hector is a great warrior from Troy, Hector has heroic glory and power of needs because of the several causes, especially from the act to secure, protect, fight, and to get a victory. Keywords: Heroic Glory, Hierarchy of Needs, Trojan War, Greek Mythology.

Page 10 of 36 | Total Record : 353