cover
Contact Name
Noel Ghota Prima Bayu Surbakti
Contact Email
noelsurbakti1993@gmail.com
Phone
+6285221243925
Journal Mail Official
sttsriwijaya@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Boom Pecah, Desa Pangkalan Benteng, Kec. Talang Kelapa, Kab. Banyuasin (30761), Sumatera Selatan
Location
Kab. banyuasin,
Sumatera selatan
INDONESIA
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 2723326X     EISSN : 27228487     DOI : https://doi.org/10.46974/ms
Mitra Sriwijaya merupakan jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen yang menjadi wadah publikasi penelitian STT Sriwijaya. Adapun tema-tema yang menjadi scope jurnal ini yakni: kebangsaan, ekologi dan kontekstualisasi. Mitra Sriwijaya menerima penelitian akan tema-tema tersebut yang ditinjau dari bidang: 1. Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Sejarah Gereja 4. Pastoral 5. Pendidikan Agama Kristen 6. Etika Kristen 7. Misiologi dll. Mitra Sriwijaya terbit dua kali dalam setahun yakni pada bulan Juli dan Desember
Articles 74 Documents
Membaharui Dunia Lewat Semangat Persaudaraan Global Hendro Setiawan
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 1 No. 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.656 KB) | DOI: 10.46974/ms.v1i2.21

Abstract

The latest Pope Francis encyclical entitled "On The Fraternity and Social Friendship" (Fratelli Tutti) was signed on October 3, 2020. This encyclical emerged as the world was struggling against the Covid 19 pandemic. This encyclical is considered a universal proposal and is proposed to improve the world. Global phenomena in the form of: social injustice, environmental damage, ineffective handling of the pandemic, and various other major problems, considered by the Pope as urgent to be reflected and renewed. Through this encyclical, the pope invites all parties, all religions, even atheists, to work together in creating a better world for everyone. Since the beginning of the pandemic, Pope Francis has reflected on the pandemic as a universal call to strengthen human fraternity. Pope invites all parties during the pandemic, to think about and prepare for a better world in the context of humanity. The world after the pandemic must be a world that is more welcoming to everyone without exception. It is hoped that a world that is more humane and in solidarity will be able to overcome the problems of humanity before The pope's initial thoughts are contained in his eight letters compiled in a book entitled Life After The Pandemic. The encyclical "On The Fraternity and Social Friendship" (Fratelli Tutti), which emerged afterward, is a concrete form of the pope's thinking about what is needed to reform the world today. What is the proposal like? Is it really relevant to renew the world? How can this be realized?
Konsep Pendidikan Anak Menurut Lawrence O. Richards dan Implementasi bagi Perkembangan Iman Anak Dalam Keluarga Kristen Krisda Mahdalena Sinaga
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 1 No. 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.682 KB) | DOI: 10.46974/ms.v1i2.23

Abstract

Perkembangan masyarakat Indonesia menuju masyarakat yang maju secara ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut perubahan-perubahan terjadi di dalam keluarga. Perubahan masyarakat mempengaruhi perubahan dan perkembagan setiap individu dalam keluarga. Orang tua sebagai pemimpin dalam keluarga lebih banyak berada di luar rumah untuk mengembangkan karir dan meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga. Wanita lebih memilih mengembangkan karir di bidang pekerjaannya daripada menjadi ibu rumah tangga. Dampaknya anak-anak kurang bahkan tidak mendapat waktu dan perhatian yang cukup dari orang tua. Artinya anak-anak kurang atau tidak mendapat pendidikan yang memadai dari orang tua. Beberapa waktu belakang ini, perubahan terjadi di masyarakat Indonesia. Indonesia mengalami pademik virus-19 yang mengubah banyak hal termasuk sistem dan tempat pekerjaan. Lembaga atau perusahaan pada umumnya mengisyaratkan agar kegiatan atau pekerjaan dilakukan di rumah. Orang tua merupakan salah satu unsur dari lembaga atau perusahaan dapat mengerjakan pekerjaan di rumah. Inilah moment yang tepat bagi orang tua untuk mendidik anak-anak secara khusus bagi perkembangan iman mereka dan sekaligus orang tua tetap dapat melakukan pekerjaan serta mengembangkan karir mereka. Dalam tulisan ini, penulis menggunakan metode deskriptif-analisis. Penulis mendeskripsikan dan menganalisis konsep pendidikan anak menurut Lawrence O. Richards berdasarkan tulisannya yang sudah diterbitkan. Selajutnya penulis akan memaparkan implementasi bagi perkembangan iman anak. Implementasinya yang diperoleh berdasarkan konsep Lawrence O. Richards tentang pendidikan anak adadah pertama, keluarga merupakan wadah komunitas iman bagi perkembangan iman anak-anak. Kedua, untuk mengembangkan iman anak-anak maka orang tua sebagai pendidik utama perlu memiliki wawasan tentang anak dari sisi Alkitab dan sisi psikologi. Ketiga, Alkitab sebagai bahan/kurikulum pengajaran perlu disampaikan atau diterjemahkan oleh orang tua secara kreatif kepada anak-anak sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Gaya Kepemimpinan Entrepreneur dalam Gereja Masa Kini Josef Christianto; Michael Dendi Tinggogoy; Sendi Gunarto; Tony Tedjo; Yelmima Kadera
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 1 (2021): Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.409 KB) | DOI: 10.46974/ms.v2i1.25

Abstract

Abstract: Church leaders are one of the main reasons that decide the church will be successful or not. Church leaders nowadays are requested to operate their leadership in such a way to answer every problems that happen on these days. One of the problems faced today is the lack of job opportunities as a result of the ongoing pandemic. The church as a social institution is asked to play an active role in helping to overcome this problem. Therefore we need a leadership style that is able to overcome these problems. In this paper, I will use a qualitative method by reviewing various literature sources to find a leadership style that fits the current context. Entrepreneur leadership style is one of many leadership styles that can be an option to solve any problems that churches are facing nowadays. Entrepreneur leadership style will create many jobs dan surely is going to solve this problems that happen during this pandemic Abstrak: Pemimpin gereja merupakan salah satu alasan utama yang menentukan berhasil atau tidaknya sebuah gereja. Pemimpin gereja masa kini diminta untuk menjalankan kepemimpinannya sedemikian rupa untuk menjawab setiap permasalahan yang ada saat ini. Salah satu permasalahan yang dihadapi saat ini adalah adalah minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan sebagai dampak dari pandemi yang sedang terjadi. Gereja sebagai salah satu lembaga sosial diminta untuk berperan aktif membantu mengatasi hal tersebut. Oleh sebab itu diperlukan sebuah gaya kepemimpinan yang mampu mengatasi permasalahan tersebut. Dalam tulisan ini penulis akan menggunakan metode kualitatif dengan mengkaji berbagai sumber literature untuk menemukan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan konteks masa kini. Gaya kepemimpinan entrepreneur adalah salah satu gaya kepemimpinan yang dapat dijadikan opsi untuk mengatasi berbagai macam permasalahan dalam gereja pada masa kini. Gaya kepemimpinan entrepreneur akan membuka lapangan pekerjaan baru dan tentu saja akan membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi di masa pandemi ini.
Miskin dan Kaya Dalam Injil Lukas dan Teologi Pembebasan Vasika Hananti; Bambang Subandrijo
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 1 (2021): Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.067 KB) | DOI: 10.46974/ms.v2i1.26

Abstract

Abstract: Harvey J. Sindima observed Liberation Theology as it flourished in Latin America, Africa, Asia, and the United States. The social situation in that society has some similarities in Luke's community. According to Philip Francis Esler's research, Luke's theology seeks to answer the social situation in Luke's community, especially regarding the relationship between the rich and the poor. This study aims to review Sindima's review of Liberation Theology based on Philip Francis Esler's thoughts on the relationship between rich and poor in Luke's Gospel. In Sindima's writings, the involvement of the rich has not been found as an effort to minimize the suffering of the poor. In this study, the author uses an analytical method. The result is that the good news for the poor in Liberation Theology is in line with the good news in Luke's Gospel. Moreover, in Luke's Gospel the liberation of the poor is not only the responsibility of the poor themselves as in the Theology of Liberation in Sindima's description, but also the responsibility of the rich as part of a sharing community.  Abstrak: Harvey J. Sindima mengamati Teologi Pembebasan yang berkembang di Amerika Latin, Afrika, Asia, dan Amerika Serikat. Situasi sosial dalam masyarakat tersebut memiliki beberapa kesamaan dalam komunitas Lukas. Menurut penelitian Philip Francis Esler, teologi Lukas berupaya menjawab situasi sosial dalam komunitas Lukas, terutama menyangkut hubungan orang kaya dan orang miskin. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau uraian Sindima tentang Teologi Pembebasan berdasarkan pemikiran Philip Francis Esler berkenaan dengan hubungan orang miskin dan kaya dalam Injil Lukas. Dalam tulisan Sindima masih belum ditemukan keterlibatan orang kaya sebagai upaya meminimalisir penderitaan orang miskin. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode analitis. Hasil tinjauan ini adalah bahwa kabar baik bagi orang miskin dalam Teologi Pembebasan sejalan dengan pemberitaan kabar baik dalam Injil Lukas. Lebih dari itu, dalam Injil Lukas pembebasan terhadap orang miskin bukan hanya menjadi tanggung jawab orang miskin itu sendiri sebagaimana dalam Teologi Pembebasan dalam uraian Sindima, tetapi juga merupakan tanggung jawab orang kaya sebagai bagian dari komunitas yang saling berbagi.
Pendampingan Pastoral Terhadap Jemaat Yang Belum Siap Menghadapi Kematian di HKBP Pasar Minggu Ruth Betty Panjaitan
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 1 (2021): Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.865 KB) | DOI: 10.46974/ms.v2i1.27

Abstract

Abstract: Death is certainty for all living things. Even though the death sentence, but humans are very afraid of death and always try to avoid death. Even if the emergency condition of the congregation is critical, it is still not ready to face death, so it only needs to be healed physically. As an addition the makes the writer interested in doing pastoral care for canggregations who are not ready to death. Pastoral care uses interviews with five family members who are in critical condition and their family. This pastoral assintance uses the functions of sustaining and reconciling. This pastoral care can help fighy the pain. Then they will be reconciled by being able to help him. They can receive treatment for physicaly healing and also spiritual healing. Pastoral care is given to sick family members, families and also the medical team. How can the family enjoy a eternal life. Abstrak: Kematian adalah kepastian bagi semua makhluk hidup. Walaupun kematian kepastian, tetapi manusia sangat takut terhadap kematian dan selalu mencoba menghindar dari kematian. Kondisi keadaan jemaat yang kritis sekali pun tetap belum siap menghadapi kematian, maka berusaha hanya untuk sembuh secara fisik. Keadaan seperti inilah yang membuat penulis tertarik untuk melakukan pendampingan pastoral kepada jemaat yang belum siap menghadapi kematian. Penelitian ini menggunakan metode wawancara kepada lima jemaat yang dalam kondisi sakit kritis dan kepada keluarganya. Pendampingan pastoral ini menggunakan fungsi Menopang (sustaining) dan mendamaikan (reconciling). Pendampingan pastoral ini menopang jemaat untuk menerima kondisi sakitnya. Maka mereka akan dapat didamaikan dan dapat memahami kehendak Tuhan dalam hidupnya. Mereka akan dapat menerima pelayanan untuk kesembuhan fisik dan juga kesembuhan rohani mereka. Pendampingan pastoral ini diberikan kepada jemaat yang sakit, keluarga dan juga tim medis.
Kriminalisasi Ulama dalam Teori Kekuasaan: Studi tentang Teori kekuasaan Michel Foucault dalam Kasus Kriminalisasi Kyai Sadrach di Era Penjajahan Belanda Gultom, Charles Marulan
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.512 KB) | DOI: 10.46974/ms.v2i2.31

Abstract

Abstract: The term "Criminalization of Ulama" has recently been heard in the public sphere related to political issues. In history, this is not a new issue. Criminalization has occurred since the Dutch colonial era. Why is it called criminalization of ulama? To reveal this reality, I will show the relevance of this theory of power promoted by Michel Foucault. The purpose of this explanation is to find out the patterns of criminalization of ulama. The method used is a qualitative approach by digging into the primary source of kyai sadrach's story. The variety of data collected will be reduced according to the needs and purposes of the research with analysis from various points of view. The paper will first reveal how Sadrach experienced clerical criminalization. Furthermore, Foucault's theory of power will define how power plays a role in the case of criminalization of clerics. From both exposures, researchers saw that the criminalization of clerics has political motives, in addition to the law.  Abstrak: Istilah “Kriminalisasi Ulama” baru baru ini sering terdengar di ruang publik terkait isu politik. Di dalam sejarah, hal ini bukan isu baru. Kriminalisasi sudah terjadi semenjak era penjajahan Belanda. Mengapa disebut kriminalisasi ulama? Untuk menyingkapkan realitas ini, saya akan menunjukkan relevansi ini dari teori kekuasaan yang diusung oleh Michel Foucault. Tujuan dari penjelasan tersebut kita dapat mengetahui pola-pola kriminalisasi ulama. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan menggali sumber primer dari kisah Kyai Sadrach. Ragam data yang terkumpul akan direduksi sesuai kebutuhan dan tujuan penelitian dengan analisa dari berbagai sudut pandang. Makalah ini pertama-tama akan mengungkapkan bagaimana Sadrach mengalami kriminaliasi ulama. Selanjutnya teori kekuasaan Foucault akan mendedah bagaimana kuasa sangat berperan dalam kasus kriminalisasi ulama. Dari kedua pemaparan tersebut, peneliti melihat bahwa bahwa kriminalisasi ulama memiliki motif politis, selain hukum.
Implementasi Pendidikan Karakter Kristiani dalam Merawat Kemajemukan Rewasan, Ruben
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.619 KB) | DOI: 10.46974/ms.v2i2.32

Abstract

Abstract: The problem of pluralism in Indonesia is still a hot topic of discussion in society. Even though in formal meetings, most accept pluralism in Indonesia as a gift. However, in reality, in grassroots society, pluralism still faces serious challenges. Perhaps because of this condition, conflicts with a plurality background are still common in Indonesia. In this situation, many people say that the conflicts were triggered by various provocations of elite interests. However, the main problem of various conflicts that occur at the grassroots is because the religious character that characterizes the spirit of pluralism is not well understood. As a result, many people are easily caught up in provocations that tear tolerance. Starting from this fact, instilling a character that accepts and appreciates and implements the spirit of accepting pluralism through a religious education approach is a priority. This is because strengthening a character that is loyal to pluralism is a solid foundation to fend off all forms of provocation that divides the nation. It is also in this interest that character education that is oriented to self-integrity that lives pluralism is the main goal. In this connection, the role of Christian Religious Education is needed in its implementation.  Abstrak: Masalah kemajemukan di Indonesia masih menjadi perbincangan hangat dalam masyarakat. Walau pun dalam pertemuan-pertemuan formal sebagian besar menerima kemajemukan di Indonesia sebagai anugerah. Akan tetapi dalam kenyataannya pada masyarakat akar rumput, kemajemukan masih mendapat tantangan yang berat. Mungkin karena kondisi ini, konflik-konflik yang berlatar belakang masalah kemajemukan masih sering dijumpai di Indonesia. dalam situasi ini, banyak orang menyebutkan bahwa berbagai konflik itu dipicu oleh berbagai provokasi kepentingan para elit. Namun masalah utama dari berbagai konflik yang terjadi pada akar rumput lebih disebabkan karena karakter keagamaan yang mencirikan spirit kemajemukan tidak dihayati dengan baik. Akibatnya banyak orang dengan mudah terjebak dalam provokasi yang mengoyak toleransi. Bertolak dari kenyataan ini maka menanamkan karakter yang menerima dan menghayati serta mengimplementasikan spirit menerima kemajemukan melalui pendekatan pendidikan agama merupakan prioritasnya. Hal ini disebabkan karena dengan mengokohkan karakter yang loyal terhadap kemajemukan merupakan fondasi kokoh guna menangkis segala bentuk provokasi yang memecah-belah bangsa. Dalam kepentingan ini pula maka pendidikan karakter yang berorientasi pada integritas diri yang menghayati kemajemukan adalah tujuan utamanya. Dalam hubungan ini, peran Pendidikan Agama Kristen sangat dibutuhkan dalam implementasinya. Ini juga yang menjadi tujuan penulisan ini, yaitu sebagai sumbangan untuk menegaskan karakter kristiani yang bercirikan spirit toleran terhadap kemajemukan.  
Hospitalitas Abimelekh dan Peringatan Allah: Analisis Naratif Kejadian 20:1-18 dan Relevansinya Terhadap Peringatan yang Disertai Kekerasan Patandianan, Cindy; Rumbi, Frans Paillin; Sumiati
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.432 KB) | DOI: 10.46974/ms.v2i2.39

Abstract

Abstract: This paper aims to examine the story of Abimelech and God by using narrative interpretation as a model approach to answer the question of how is the hospitality shown by Abimelech? Does a good host deserve a warning for the fault of the guest's carelessness? Does the host need to resort to violence against a stranger who harms him? From this article, we will explore what is the background of God's stern warning to Abimelech through dreams. The approach used is the approach approach. The results of the study show that God Abimelech strictly when he was not married Sarah was already married, namely (1) the possibility of Abimelech from the danger of committing sins. (2) the punishment, preventing "all the women in Abimelech's house from becoming pregnant", lasted only so long as Abimelech was in danger of sleeping with Sarah. it was to change the situation, not for Abimelech. (3) the punishment clearly shows that Abraham was in fellowship with Almighty God. this incident probably made Abimelech respect and fear the God of Abraham. Thus, it can be said that the memory of virtue values ​​when directing a person to turn away from deviant behavior. Abstrak: Tulisan ini hendak mengkaji  kisah Abimelekh dan Tuhan dengan menggunakan tafsir naratif sebagai model pendekatan untuk menjawab pertanyaan bagaimana hospitalitas yang ditunjukkan oleh Abimelekh? Apakah seorang tuan rumah yang baik patut mendapat peringatan karena kesalahan yang ditimbulkan oleh kecorobohan sang tamu?  Apakah sang tuan rumah perlu melakukan kekerasan terhadap orang asing yang mencelakakkannya?. Dari tulisan ini akan mendalami apa yang menjadi latar belakang dari peringatan keras Allah kepada Abimelekh melalui mimpi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif.  Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Tuhan memperingatkan Abimelekh dengan keras ketika dia tidak tahu Sarah sudah menikah, yaitu (1) menjauhkan Abimelekh dari bahaya berbuat dosa. (2) hukuman, mencegah "semua wanita di rumah Abimelekh untuk hamil," hanya berlangsung selama Abimelekh dalam bahaya tidur dengan Sarah. itu dimaksudkan untuk mengubah situasi, bukan untuk menyakiti Abimelekh. (3) hukuman dengan jelas menunjukkan bahwa Abraham bersekutu dengan Tuhan Yang Mahakuasa. kejadian ini mungkin membuat Abimelekh menghormati dan takut akan Tuhan Abraham. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ingatan menampakkan  nilai kebajikan ketika ditujukan untuk mengarahkan seseorang berbalik dari perilaku menyimpang.
Yesus Sang Imanuel sebagai Pembebas: Pencarian Gagasan Pembebasan dalam Injil Matius dan Implikasinya bagi Gereja di Indonesia Surbakti, Noel
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.909 KB) | DOI: 10.46974/ms.v2i2.43

Abstract

Abstract: Liberation Theology once a new hope for the Third World theology. Not only for its efforts to “liberate” Third World theology from domination of West Theology, but also for its concerns of social prolems in society. Lately, there many critics come from scholars which addressed to Liberation Theology. They declared that Liberation Theology was nurtured from wrong biblical interpretation. I see that statement not completely true. Because of that, I will observe the bible to find a liberation theme in the bible. Therefore, the purpose of this paper is to find liberation theme in the bible especially in Gospel of Matthew. For that, I will interpret several texts of Matthew which related to Jesus Emmanuel which become special characteristic in Gospel of Matthew. In my work, I will combine literer analysis with context historism of the first reader from Matthew (Matthean Community). It will find that Gospel of Matthew speak about liberation theme which presented by Jesus Emmanuel. Finally, liberation theme which Liberation Theology speak out actually have a biblical foundation. As its implication, churches in Indonesia also play a role as liberator because Jesus as head of churches is a liberator. Abstrak: Teologi Pembebasan merupakan sebuah harapan baru dalam berteologi di Dunia Ketiga. Bukan hanya karena upayanya “membebaskan diri” dari pengaruh teologi Barat, tetapi juga karena upayanya dalam memperhatikan permasalahan sosial dalam masyarakat. Tetapi belakangan ini, para ahli mengkritik Teologi Pembebasan. Beberapa ahli menyatakan bahwa Teologi Pembebasan berasal dari penafsiran Alkitab yang salah. Penulis melihat pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar. Karena itu penulis berupaya menemukan gagasan pembebasan di dalam Alkitab khususnya dalam Injil Matius. Untuk itu, penulis akan menafsirkan beberapa unit teks dalam Injil Matius yang berkaitan dengan sosok Yesus sang Imanuel yang begitu ditonjolkan dalam Injil Matius. Penafsiran tersebut memperhatikan analisis literer dan konteks historis pembaca pertama Injil Matius (komunitas Matius). Melalui kajian tersebut ditemukan bahwa Injil Matius memuat gagasan pembebasan yang diwujudkan melalui Yesus sang Imanuel. Dengan demikian gagasan pembebasan yang diusung dalam Teologi Pembebasan sesungguhnya memiliki landasan alkitabiah. Sebagai implikasinya, gereja-gereja di Indonesia juga berperan sebagai “pembebas” karena Yesus sebagai kepala gereja merupakan sosok “pembebas.”    
Pendidikan Kristen bagi Usia Lanjut di Gereja Tobing, Nancy F.L.
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.518 KB) | DOI: 10.46974/ms.v2i2.44

Abstract

Abstract: Christian education for the elderly is a teaching task that requires special attention. Because they are present among younger family members with various life problems. The church as a place for implementing Christian education requires educators who understand every struggle of the elderly and are able to contribute to the maturity of the faith of the elderly. This paper describes Christian education for the elderly in the church that can contribute to the congregation in carrying out their role in educating the elderly. The author uses a descriptive method based on the author's experiences and observations with the elderly in the Church. With this method, the writer analyzes to formulate the conception of Christian education learning for older adults. Then the author describes the strategies, principles and practices of Christian education for the elderly. Thus this paper can be useful for readers and educators to carry out the task of Christian education for the elderly in the Church. Abstrak: Pendidikan Kristen bagi lanjut usia adalah tugas pengajaran yang membutuhkan perhatian khusus. Karena mereka hadir di antara anggota keluarga yang usianya lebih muda dengan persoalan kehidupan yang beragam. Gereja sebagai wadah pelaksanaan pendidikan Kristen membutuhkan pendidik yang memahami setiap pergumulan lansia dan mampu berkontribusi untuk mendewasakan iman lansia. Makalah ini mendeskripsikan tentang  pendidikan Kristen bagi lansia di dalam gereja yang dapat berkontribusi bagi warga jemaat dalam menjalankan peran mereka untuk membelajarkan lansia. Penulis menggunakan metode deskripsi yang didasarkan pada pengalaman dan pengamatan penulis bersama para lansia di Gereja. Dengan metode ini, penulis menganalisis untuk merumuskan konsepsi pembelajaran pendidikan Kristen untuk orang dewasa yang lebih tua. Kemudian penulis memaparkan tentang strategi, prinsip dan praktik pendidikan Kristen untuk lanjut usia. Demikianlah makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan para pendidik untuk melaksanakan tugas pendidikan Kristen bagi para lanjut usia di Gereja.