cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2019): Agustus" : 8 Documents clear
Pedagogi, Andragogi, dan Pendidikan Agama Kristen Gaol, Nasib Tua Lumban
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 1, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.13 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v1i2.53

Abstract

Learning approach is the important part of Christian Religious Education that needs to pay attention seriously in order to achieve the aim of learning. This study is purposed to explore the concept of pedagogy and andragogy, and then analyze them with Christian religios education. Pedagogy and andragogy approach are very necessary for educator in learning process. Therefore, the future study should be conducted for supporting the betterment practice of Christian education.
Babak Akhir Penderitaan, Dosa dan Teodice dalam Epilog Kitab Ayub 42:7-17 Rumbi, Frans Paillin
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 1, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.38 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v1i2.43

Abstract

Does sin cause suffering? Why do the righteous suffer? That is the general picture of the book of Job. To answer this problem, the author wants to examine the epilogue section of the book of Job (42: 7-17). The interpretation method used in this paper is the narrative approach. In the epilogue of the book of Job, it appears that God restored Job's suffering, forgiven his mistakes and also forgave friends who had acted as if defending God. Some of the findings of this study include: (1) Suffering is not always a punishment from God. (2) God sided with and defended those who suffered. (3) Pastoral assistance becomes bland if the victims are placed on the guilty side, without trying to get them out of life's difficulties. (4) God uses those who suffer to ask forgiveness for those who feel themselves as righteous people.  Apakah dosa mengakibatkan penderitaan? Mengapa orang benar menderita? Itulah gambaran umum dari kitab Ayub. Untuk menjawab persoalan tersebut, maka penulis hendak mengkaji bagian epilog kitab Ayub (42:7-17). Adapun metode penafsiran yang digunakan adalah pendekatan naratif. Pada epilog tampak bahwa Allah memulihkan penderitaan Ayub, mengampuni kesalahannya dan juga mengampuni para sahabat yang telah bertindak seolah-oleh membela Allah. Beberapa temuan penelitian ini antara lain: (1) Tidak selamanya penderitaan merupakan hukuman dari Allah. (2) Allah berpihak dan membela orang yang menderita. (3) Pendampingan pastoral menjadi hambar kalau para korban ditempatkan pada pihak yang bersalah, tanpa usaha membawa mereka keluar dari kesulitan hidup. (4) Allah menggunakan mereka yang menderita untuk meminta pengampunan bagi orang yang merasa benar.
Syair Kristologi Tentang Ke-Allah-An Yesus Dalam Filipi 2:6-11 Rouw, Julian Frank; Sugiono, Sugiono
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 1, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.204 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v1i2.46

Abstract

The Christology poem in the language of Philippians 2: 6-11 is one of the passages. This basic truth in the poetry of Christology states that the person and work of Jesus said that He truly was God in His essence (morphe) of pre-existence. Jesus God who became incarnate as a true human is the scheme of true humans. Recognition of Jesus' divinity over the universe as the basis of faith, that is, on the basis of death and change, Jesus has elevated and held a position full of humanity, both living and the dead (Rom. 14: 9). The acknowledgment of Jesus as God, because Jesus has essentially met and God of all gods and other gods, whether real or imaginary (1 Cor. 8: 5-6). This is what is confirmed in this poem of Christology. Syair Kristologi dalam Filipi 2:6-11 adalah salah satu perikop kunci ajaran mengenai ke-Allah-an Kristus.  Kebenaran dasar dalam Syair Kristologi ini yang menyatakan pribadi dan karya Yesus bahwa Dia adalah sungguh-sungguh Allah pada hakikat-Nya (morphe) pra-eksistensi-Nya.  Yesus Allah yang berinkarnasi menjadi manusia sejati (dalam bentuk schema) adalah manusia sejati.Pengakuan ke-Tuhan-an Yesus atas semesta sebagai pokok iman, yakni bahwa melalui kematian dan kebangkitan, Yesus telah diangkat dan menempati kedudukan yang penuh kekuasaan atas seluruh umat manusia, baik yang hidup dan yang mati (Rom. 14:9).  Pengakuan Yesus sebagai Tuhan, karena Yesus pada hakikatnya telah diangkat dan adalah Tuhan atas segala tuhan dan ilah lain, baik yang nyata atau hanya khayalan (1 Kor. 8:5-6).  Inilah yang ditegaskan dalam syair Kristologi ini.
Lingkungan Proses Pembelajaran Yesus Karnawati, K; Hosana, H; Darmawan, I Putu Ayub
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 1, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.363 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v1i2.48

Abstract

The learning environment has an important role in the learning process. The environment can be a medium, a place, and also a direct part of the learning process. In the context of Christian education, Jesus is the figure of the Great Teacher who is an example and inspiration in carrying out learning, so the author conducted research to understand the learning environment of Jesus. The research approach used is literature research that seeks various information related to the teaching process of Jesus. The results of the study show that Jesus did His teaching in a political environment, related to geographical location, community environment, culture, and education. In carrying out the teaching process, Jesus used various environments effectively, so that the learning environment of Jesus is an environment that allows meaningful learning to occur. Lingkungan pembelajaran memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran. Lingkungan dapat menjadi media, tempat, dan juga bagian langsung dari proses pembelajaran. Dalam konteks pendidikan Kristen, Yesus adalah sosok Guru Agung yang menjadi teladan dan inspirasi dalam melaksanakan pembelajaran, oleh sebab itu penulis melakukan penelitian untuk memahami lingkungan pembelajaran Yesus. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian studi pustaka yang mencari berbagai informasi terkait dengan pembelajaran yang Yesus jalankan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada Yesus melakukan pembelajaran di lingkungan politik, terkait dengan letak geografis, lingkungan masyarakat, kebudayaan, dan pendidikan. Dalam melaksanakan proses pembelajarannya, Yesus memanfaatkan berbagai lingkungan secara efektif, sehingga lingkungan proses pembelajaran Yesus adalah lingkungan yang memungkinkan terjadinya belajar bermakna.
Prinsip Hidup Kristen di Tengah Masyarakat yang Majemuk Diana, Ruat; Katarina, K; Tamara, Yesi; Priskila, Kiki
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 1, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.457 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v1i2.50

Abstract

This article discusses the principles of Christian life in a pluralistic society. Indonesia as a country with a pluralistic society has a diversity that can be used to build a nation. Christians in Indonesia have an important role as citizens to realize the progress of the nation. Through the literature research, the author presents the principles of Christian life in a pluralistic society by reviewing various relevant literature. From the results of the study that the authors did, the authors put forward four important principles that need to be done by Christians including 1) building harmony of life, 2) strengthening the faith in the family environment, 3) displaying love as the fruit of the Holy Spirit, 4) understanding the differences that are characteristic of a pluralistic society. Artikel ini membahas tentang prinsip hidup Kristen di tengah masyarakat majemuk. Indonesia sebagai negara dengan masyarakat majemuk memiliki keragaman yang dapat digunakan untuk membangun bangsa. Umat Kristen di Indonesia memiliki peran penting sebagai warga negara untuk mewujudkan kemajuan bangsa. Melalui penelitian pustaka, penulis mengemukakan prinsip hidup Kristen di tengah masyarakat majemuk dengan mengkaji berbagai literatur yang relevan. Dari hasil kajian yang penulis lakukan, penulis mengemukakan empat prinsip penting yang perlu dilakukan oleh orang Kristen antara lain 1) membangun kerukunan hidup, 2) melakukan penguatan iman dalam lingkungan keluarga, 3) menampilkan kasih sebagai buah Roh Kudus, 4) memahami perbedaan yang merupakan ciri dari masyarakat yang majemuk.
Peran Orang Tua Dalam Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Di Era Masa Kini Hapsarini, Deslana Roidja; Suprihati, Wahyu
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 1, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.588 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v1i2.51

Abstract

Para orang tua harus menumbuhkan kesadaran bahwa apa yang terjadi di dalam keluarga memiliki dampak yang besar pada perkembangan kepribadian anak-anak, perkembangan iman mereka dan pada akhirnya bagi perkembangan kecerdasan spiritual anak-anak tersebut. Masyarakat perlu membantu para orang tua untuk memainkan perannya kembali sebagai pendidik bagi anak-anaknya terutama dalam hal iman Kristen agar kecerdasan spiritual anak berkembang. Gereja juga perlu memberikan pendampingan dan menyediakan komunitas serta mendorong keluarga-keluarga Kristen terutama keluarga-keluarga muda untuk berpartisipasi dalam komunitas itu agar mereka dapat membuat keputusan dalam menetapkan prioritas dalam hidupnya. Metode penulisan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan mengkombinasikan studi pustaka dan kajian pengembangan. Parents must raise awareness that what happens in the family has a big impact on the development of children's personalities, the development of their faith and ultimately the development of the children's spiritual intelligence. Communities need to help parents play their roles as educators for their children, especially in the case of Christian faith so that children's spiritual intelligence develops. The church also needs to provide assistance and provide communities and encourage Christian families, especially young families to participate in the community so that they can make decisions in setting priorities in their lives. The writing method uses a descriptive-qualitative approach by combining literature study and development studies. Keywords: The Role of Parent, Spiritual Intelligence of Children
Yoga dan Meditasi Transcendental Ditinjau Dari Teologi Kristen Setiawan, Roby; Objantoro, Enggar
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 1, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.035 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v1i2.52

Abstract

Today, the world is in Postmodernism and Globalization Era, in which they have big impact, both positively and negatively for the human civilization. Now, people can communicate each other easily and quickly, even though they are in different places.  There are many religion and beliefs in the world, that they influence each other.  One of the teaching that it is very influence for other people is about Yoga and Transcendental Meditation (TM), some Christians is influenced by it.  It is very important to criticize the teaching in the Christian theology perspectives.  Because of that, this article analyze the teaching based on Biblical Christian Theology. This article use qualitative methodology, and using the literature research.  The bible is the guidance for analyzing the teaching.  Based on the Christian theology, yoga and transcendental meditation is irrelevant with the biblical truths, because the teaching is more focus on the human effort to reach the happiness spiritually, whereas Christian theology believe that God is only source of the happiness bodily and spiritually for human being in the world. Kemajuan teknologi dan informasi pada Era Postmodernisasi dan Globalisasi berdampak sangat besar dalam peradaban dunia dewasa ini.  Banyak dampak positif dan negatif yang ditimbulkannya. Manusia dapat dengan mudah berkomunikasi dengan manusia lainnya sekalipun mereka dipisahkan oleh jarak yang jauh, sehingga manusia saling mempengaruhi dengan mudah, murah dan cepat.  Banyak agama di dunia ini, yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain.  Salah satu pengaruh ajaran yang mempengaruhi banyak orang dewasa ini, termasuk orang-orang Kristen di banyak negara - adalah yoga dan meditasi transcendental. Sebab itu, ajaran ini perlu dikritisi oleh berdasarkan iman Kristen yang Alkitabiah. Untuk membahas topik tersebut, metode yang dipakai dalam artikel ini adalah dengan menganalisis ajaran tersebut berdasarkan teologi Kristen yang didasarkan pada kebenaran Alkitab.  Berdasarkan teologi Kristen, ajaran/praktik yoga dan meditasi transcendental tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab, sebab ajaran tersebut lebih menekankan kepada usaha manusia dari dalam dirinya untuk mendapat kebahagiaan secara batiniah, tidak didasarkan iman kepada Allah sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan manusia secara lahiriah dan batiniah.
Meneropong Kompetensi Kepribadian Guru Pendidikan Agama Kristen Sebagai Model Perilaku Peserta Didik Hutapea, Rinto Hasiholan
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 1, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.438 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v1i2.44

Abstract

This paper aims to examine one of the competencies that must be prossessed by a teacher. These competencies are personality competencies. The author will review the personality competencies of a Christian Education teacher as a model of behavior emulated  by students. The discussion in this paper covers the theoretical description of teacher personality competencies and their relationship as models of student behavior. The findings and analysis of the authors state that personality competencies possessed by a Christian Education teacher can determine the model of behavior emulated by a student at school. Tulisan ini bertujuan untuk menelaah salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru. Kompetensi tersebut adalah kompetensi kepribadian. Penulis akan mengulas kompetensi kepribadian seorang guru Pendidikan Agama Kristen sebagai model perilaku yang diteladani peserta didik. Pembahasan dalam tulisan ini mencakup uraian teoritis tentang kompetensi kepribadian guru dan kaitannya sebagai model perilaku peserta didik. Hasil temuan dan analisa penulis menyatakan bahwa kompetensi kepribadian yang dimiliki orang seorang guru Pendidikan Agama Kristen dapat menentukan model perilaku yang diteladani oleh seorang peserta didik di sekolah.

Page 1 of 1 | Total Record : 8