cover
Contact Name
Zulkipli Lessy
Contact Email
jkiipasca@gmail.com
Phone
+6288227810471
Journal Mail Official
jkiipasca@gmail.com
Editorial Address
Published by Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta Website: http://ejournal.uin-suka.ac.id/pasca/jkii Gedung Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner
ISSN : 25794930     EISSN : 27758281     DOI : https://doi.org/10.14421/jkii.v6i2.1195
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner welcomes original research for manuscripts with various theoretical perspectives and methodological approaches. It invites researchers and scholars of all backgrounds related to Islamic studies to contribute their research covering all aspects of Islam and the Islamic world in the areas of philosophy, history, religion, political science, international relations, psychology, sociology, anthropology, economics, environmental and development issues etc. related to scientific research. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner offers an open platform for exchanging knowledge and ideas (with various perspectives) to facilitate methodological reform in Islamic studies and promote critical academic methodologies that respond to the current issues in Islam and the Islamic world.
Articles 98 Documents
New Historicism: Kajian Sejarah dalam Karya Imajinatif Ukhruj Minha Ya Mal’un Saddam Hussein Ita Rodiah
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v4i2.1102

Abstract

Penelitian ini membuktikan bahwa kajian kesusastraan dengan menggunakan new historicism mampu mengungkap pelbagai kekuatan budaya, sosial, ekonomi, dan politik yang menyetubuh dan menyelinap dalam setiap sela teks sastra yang merupakan ranah estetik (aesthetic richness). Penelitian ini mengungkapkan bahwa karya sastra tidak dapat dipisahkan dengan pelbagai konteks zaman dan praksis budaya, sosial, ekonomi, serta politik yang melingkupinya. Penelitian ini  tidak sependapat dengan konsep new criticism John Crowe Ransom (The New Criticism, 1941 dan Criticism as Pure Speculation, 1971) dan William K. Wimsatt dan Monroe Beardsley (The Intentional Fallacy, 1946 dan The verbal Icon, 1954) yang mengatakan bahwa karya sastra merupakan autotelic artefact. Sehingga menjadi tidak tepat ketika pemahaman terhadap sastra dikaitkan dengan pengarang, pembaca, maupun konteks di luar karya sastra. Penelitian ini mendukung konsep new historicism Stephen Greenblatt (Practicing New Historicism, 2000) yang menyatakan bahwa dunia imajinatif-estetis tidak pernah terlepas dari relasi kekuasaan dunia realitas yang termanifestasi dalam karya sastra sebagai apresiasi estetis individu dan praksis budaya, sosial, ekonomi, dan politik. Berdasarkan interpretasi kritis new historicism Greenblatt terhadap novel Ukhruj Minha Ya Mal’un diperoleh hasil penelitian berupa pemahaman karya imajinatif yang penuh dengan simbol yang lebih lengkap dan dalam (deeper understanding of value) dengan melibatkan konteks ekstrinsikalitas karya sastra di dalamnya dan novel Ukhruj Minha Ya Mal’un hadir sebagai tanggapan reflektif-imajinatif Saddam Hussein  sebagai pengarangnya.[This research proves that literary studies using new historicism can reveal the various cultural, social, economic, and political forces that intercourse and sneak in every literary text: aesthetic richness. This research reveals that literary works cannot be separated from the various contexts of the era and the cultural, social, economic, and political praxis that surround them. This study disagrees with the concept of new criticism John Crowe Ransom (The New Criticism, 1941 and Criticism as Pure Speculation, 1971) and William K. Wimsatt and Monroe Beardsley (The Intentional Fallacy, 1946 and The verbal Icon, 1954) literature is an autotelic artifact. So it is not appropriate when the understanding of literature is associated with authors, readers, and contexts outside of literary works. This research supports Stephen Greenblatt's new historicism concept (Practicing New Historicism, 2000), which states that the imaginative-aesthetic world is never separated from the power relations of the world of reality which are manifested in literature as an individual aesthetic appreciation and cultural, social, economic, and political praxis. Based on the critical interpretation of Greenblatt's new historicism of the Ukhruj Minha Ya Mal'un novel, the research results are in the form of a deeper understanding of imaginative works of symbols (deeper understanding of value) involving the context of the extrinsicality of literary works in it and the novel Ukhruj Minha Ya Mal. 'un appears as the reflective-imaginative response of Saddam Hussein as the author.]
Studi Islam Inklusif dan Universal: Epistemologi Scholar Sebagai Outsider Pemeluk Agama Henry Teddy
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v5i2.1141

Abstract

Studi tentang Islam dengan pendekatan yang normatif menjadikan kajian tentangnya sebagai kajian yang terbatas bahkan kerap tertutup. Studi Islam yang berperspektif teologi apologeticcenderung menghasilkan pemikiran yang provokatif sehingga tertutup jalan bagi mereka yang non muslim atau outsider berproses dalam studi Islam itu sendiri. Akan tetapi ketika dibuka jalan bagi Studi Islam yang ilmiah dengan pendekatan interdisipliner, Inklusiflah kesempatan para outsider melibatkan diri dalam studi Islam. Namun pertanyaan yang belum selesai adalah apakah keInklusifan dalam Islamic Studiesdibangun dengan basis epistemologi yang kuat. Apa dasar epistemologis dari Islamic Studies sehingga keInklusifan yang dimaksud bisa membawa perubahan yang signifikan bagi masyarakat sendiri, secara khusus bagi Islam itu sendiri. KeInklusifan yang dimaksud adalah peran Studi Islam itu sendiri yang membuka kesempatan untuk para outsider untuk menghadirkan Islam sebagai wajah yang universal dan menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Lewat penelusuran pemikiran secara epistemologis maka dapatlah kita temukan bahwa Studi Islam banyak mengalami dinamika. Hal ini dikarenakan dunia Muslim sendiri yang terus menggumuli bagaimana agar ke-Islam-an dapat terus hidup sesuai dengan realitasnya. Lewat kajian ini akan diperlihatkan bagaimana perubahan gagasan dalam Studi Islam yang pada dirinya sendiri menunjukkan sifat yang Inklusif dan universal. Corak filsafat menjadi penentu dalam dinamika keInklusifan Studi Islam yang pada dasarnya selalu mau membuka diri pada konsepsi baru yang pada akhirnya Islam pun memiliki Epistemologinya sendiri.[Islamic Studies with a normative approach study it a limited field, even often closed to outsiders. Islamic studies with an apologetic theology perspective tend to produce provocative thoughts so that the road is closed for non-Muslims or outsiders in the process of Islamic studies itself. However, when the way is opened for Islamic scientific studies with an interdisciplinary approach, it opens up opportunities for outsiders to get involved in Islamic studies. However, the unfinished question is whether openness in Islamic Studies is built on a robust epistemological basis. What is the epistemological basis of Islamic Studies so that the intended openness can bring about significant changes for society itself, especially for Islam itself? The openness in question is the role of Islamic Studies itself, which opens opportunities for outsiders to present Islam as a universal face and become a blessing for the entire universe. Through an epistemological search of thought, we can find that Islamic studies experience many dynamics. This is because the Muslim world itself struggles with how Islam can continue to live following its reality. This study will show how changes in ideas in Islamic Studies show themselves an open and universal character. The philosophical method becomes a determinant in the dynamics of openness of Islamic studies, which always wants to open itself to new conceptions which in the end Islam also has its epistemology.]
Perempuan Madura Dan Pembangunan Daerah Berbasis Berkelanjutan (SDGs) Analisis SWOT Eksistensi Perempuan Madura Menuju Pembangunan Berbasis Berkelanjutan (SDGs) Abd Hannan
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v3i1.1210

Abstract

Sejak pertama kali dideklarasikan pada tahun 2015 di Rio De Janeiro, Brasil, pembangunan berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) memiliki tujuan menjawab beragam krisis kemanusiaan-lingkungan era millennium (MDGs). Salah satu pokok persoalan yang menjadi perhatiannya adalah partisipasi perempuan, khususnya dalam konteks pembangunan, baik dalam skala internasional, nasional, ataupun lokal. Studi ini secara khusus memiliki tujuan dalam hal mengkaji eksistensi perempuan Madura kaitannya dalam pembangunan berbasis SDG’s. Beberapa issu krusial yang menjadi fokus kajian ini meliputi; kajian perempuan Madura dalam perspektif gender, serta pembangunan Madura dalam perspektif SDGs. Kajian ini merupakan studi deskriptif melalui pendekatan kepustakaan. Adapun perspektif teori dalam kajian ini menggunakan perspektif Sosiologi, yang kemudian  diikuti dengan analisis model SWOT. Temuan studi ini mendeskripsikan dinamika sosial pembangunan Madura, serta tantangan dan peluang partisipasi perempuan dalam konteks pembangunan daerah berbasis SDGs.[Being declared in 2015 in Rio De Janeiro, Brazil, the development based Sustainable Development (SDGs) has purpose to answer crisis ofhumanity area in millennium era (MDGs). One of the main focus problemsis women participation, especially in development context whether international, national, or local. This study has special purpose in analyzing the existence of Madura women dealing with development based SDGs. Some crucial issues will be a focus on this study below; the analysis of Madura women in gender perspective. And development of Madura in perspective of SDGs. This study is descriptive study by library approach. The perspective of the theory in this study use sociology perspective by SWOT model analysis. The finding of this study describes social dynamic of Madura development, with the challenge and chance of women’s participation in a context of area development based SDGs].
Tema Cinta Beda Suku, Adat, Ras, Dan Agama Dalam Film Tanda Tanya (2011) Sebagai Wacana Pemersatu Bangsa Adiwena Yusuf Nugraha
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v2i2.1083

Abstract

Penelitian ini mengurai keterkaitan tema Cinta Beda Suku Adat, Ras, dan Agama (SARA) (CBS) dalam film Tanda Tanya (2011) dengan penekanan pada fenomena perbedaan SARA sebagai salah satu fakta yang berpotensi melahirkan konflik horisontal. Dengan menerapkan teori hegemoni Gramsci dan Critical Discourse Analysis(CDA) van Dijk, penelitian ini mengungkap upaya negosiasi ideologi film ini pada masyarakat Indonesia melalui wacana yang diangkat melalui tema Cinta Beda SARA (CBS). Penelitian menggunakan metode diskriptif kualitatif. Hasil Analisa dari penelitian ini menemukan bahwa melalui tema CBS, film Tanda Tanya (2011) karya Hanung Bramantyo menegosiasikan ideologi humanisme kepada pemirsanya (masyarakat Indonesia). Ideologi humanisme yang diangkat dalam film  ini memantik elemen kekerabatan ideologi humanisme masyarakat Indonesia yang mampu menekan elemen kekerabatan ideologi-ideologi yang berhubungan dengan SARA, kekerabatan ideologi-ideologi yang berpotensi melahirkan konflikk horisontal dalam kondisi demografi Indonesia yang terdiri dari banyak suku, adat, ras, dan agama. Pendek kata, wacana CBS film Tanda Tanya (2011) karya Hanung Bramantyo ini memiliki potensi mempengaruhi masyarakat untuk meminimalisir konflik horisontal yang disebabkan isu SARA di kondisi demografi Indonesia. Dari sini dapat ditarik pesan bahwa film Tanda Tanya (2011) karya Hanung Bramantyo ini berpotensi menjadi salah satu wahana wacana pemersatu bangsa.[This research aims to analyze the connection between Love in Diversities of Tribe, Custom, Race, and Religion (TCRR) (LiDTCRR) Tanda Tanya film (2011) with the diversities of TCRR as Indonesia’s demography phenomenon which is potentially lead to the horizontal conflict. By conducting Gramsci’s hegemony theory in hand with Critical Discourse Analysis (CDA) van Dijk, this research reveals the ideology negotiation efforts of this film to Indonesian society through discourse that picks LiDTCRR as the main theme. This research used the descriptive qualitative method. This research shows that through the LiDTCRR theme, Tanda Tanya (2011) by Hanung Bramantyo negotiates humanism to its audience. Humanisme in this film ignites the humanism kinship element that has the capability to hold down the kinship element of the other ideologies that strongly correlated with TCRR, kinship element of ideologies that potentially leads to horizontal conflict in Indonesia. In short, the LiDTCRR theme on Tanda Tanya (2011) by Hanung Bramantyo has the capability to minimize horizontal conflict that is caused by TCRR issues. This research concludes that Tanda Tanya (2011) by Hanung Bramantyo has potential to become one of the nation’s unifying discourse stallion horses.]
Representasi Perempuan Muslim Pada Iklan Amerika: Abilitas, Egaliter, dan Resistensi Moona Maghfirah
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v5i1.1137

Abstract

Sejak berkembangnya fashion muslimah di dunia, ada banyak perusahaan –perusahaaan yang menayangkan perempuan Muslim berhijab pada iklan mereka, salah satu contohnya iklan pada produk Amerika. Iklan-iklan tersebut ialah Nike, American Eagle, Fenty Beauty, Covergirl,dan Gap. Fenomena ini layak untuk dikaji, karena terdapat sesuatu yang sangat bersifat kontradiktif. Amerika sangat mahsyur dengan Islamofobianya, sedangkan perempuan Muslim berhijab merupakan identitas dari agama Islam. Oleh karena itu, artikel ini hendak mengungkap makna dari model muslimah pada iklan-iklan produk Amerika tersebut. Metode yang digunakan ialah kualitatif deskriptif dan menerapkan teori semiotika Roland Barthes dan teori religifikasi komoditas. Artikel ini menemukan bahwa makna perempuan Muslim berhijab merujuk kepada fenomena kehidupan muslimah saat ini. Seperti, standar kecantikan dan gaya hidup para muslimah, kebebasan dalam berekspersi dan menampilkan kemampuan muslimah, serta diversitas representasi kecantikan pada perempuan. Terdapat tiga mitos (ideologi) yang ditemukan pada artikel ini ialah bentuk resistensi dan dekonstruksi stereotip negatif terhadap perempuan Muslim di Amerika, standar kecantikan, dan nilai-nilai egalitarianisme. Oleh karena itu, artikel ini beragumen bahwa iklan merupakan sebuah gerakan bawah tanah bagi para perempuan Muslim sebagai bentuk resistensi mereka terhadap stigama-stigma negatif yang ada di masyarakat Amerika, dengan cara mengekspresikan identitas, abilitas, dan nilai-nilai egalitarianisme.[Since muslimah fashion has risen in the world, many companies showing Muslim women who wear hijab in their advertisements, including American brands advertisements. They are Nike, American Eagle, Covergirl, Fenty Beauty, and Gap. This case is important to be discussed, because it is completely opposite. America is well-known as Islamophobia country and hijab-Muslim women as an identity of Islam religion. Therefore, the study aims to reveal the meaning of Muslimah model in these advertisements. The method used in this study is a a qualitative descriptive method and applies Roland Barthes semiotic theory and religification of commodities theory. This research found the meanings of muslimah models refer to the current phenomena of muslimah life such as the modern beauty and lifestyle of muslimah, and the freedom in showing their status and skill, and the diversity in the representation of women beauty. Three myths (ideologies) found in this research are a deconstruction of the negative stereotype of muslimah in America, beauty standard, and egalitarianism values. Therefore, this research argues that the advertisement is an underground movement of muslim women as their resistance to negative stigmas in American society by expressing their identities, ability, and egalitarianism values.] 
Pluralisme Agama Sebagai Modal Bonus Demografi Di Timur Indonesia: Studi Kegiatan Tahunan “Pertukaran Mahasiswa Lintas Agama” Sulawesi Utara Lisa Anjani Siwi
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v3i2.1205

Abstract

Penelitian ini membahas tentang pluralisme agama di timur Indonesia dengan fokus penelitian kegiatan pertukaran mahasiswa lintas agama yang dilaksanakan oleh beberapa perguruan tinggi berlatar belakang agama di Sulawesi Utara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan jenis pengumpulan data yang diambil dari tiga jenis data, yaitu: pertama, observasi; kedua, wawancara secara langsung dan ketiga dokumentasi. Karena peneliti juga adalah salah satu alumni dari kegiatan pertukaran mahasiswa lintas agama maka sebagian data diambil dari pengalaman pribadi selama mengikuti kegiatan ini. Hasilnya, penelitian ini terbagi pada beberapa poin yaitu: 1) Salah satu hal yang dapat memberikan sebuah pemahaman betapa pentingnya menghargai agama orang lain adalah dengan pendidikan multikultural pada lingkungan akademisi teolog, sehingga hal tersebut dapat dengan mudahnya tertular pada masyarakat lainnya; 2) dengan hadirnya Forum Mahasiswa Lintas Agama dan beberapa forum- forum lain yang memiliki spirit yang sama yaitu pluralisme dan toleransi, maka kegiatan pertukaran mahasiswa akhirnya menjadi sebuah gerbang kaderisasi awal bagi para mahasiswa teolog muda yang akan menjadi tokoh- tokoh agama pada agamanya masing- masing; 3) lonjakan penduduk pada bonus demografi yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2020-2030 tidak hanya mengenai keseimbangan sumber daya manusia pada sisi intelektualnya, namun pada mental dan sikap toleransi juga sangat diperlukan.[This research discusses religious pluralism in the eastern of Indonesia. As a case study, it focuses on inter-religious student exchange annual organized by some religious universities in North Sulawesi. It takes its data from observation, direct interview, and documentation. The present writer herself was pasticipant in this inter-religious student exchange program. Therefore, some data come from her personal experience during this program. The research concludes that: 1) mutual respect of diverse religionist can be gained through multicultural education among theologians which will enable them to spread among people; 2) with presence of the Inter-Religious Student Forum and some other forums with their share concern on pluralism and tolerance, the student exchange programes have became an initial platform of training for futures theologians who will lead their respective societis; and 3) to overcome overpopulation as a demographic bonus which is predicted to happen in 2020-2030, there is an urgent need not only for human resources balance at the intellectual level but also for mental capacity and tolerance.]
Perancangan Repository Sekolah di Perprpustakaan SMA Negeri 5 Magelang Suryanto Suryanto
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i2.1065

Abstract

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, Pasal 17 menetapkan bahwa untuk kenaikan pangkat guru harus membuat publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif. Oleh karena itu keberadaan karya ilmiah atau buku hasil karya guru akan selalu bertambah setiap tahunnya. Namun ruang perpustakaan SMA Negeri 5 Magelang yang kecil tentu tidak akan mampu menampung setiap karya tulis dalam bentuk hardcopy. Maka perlu alternatif lain yang mampu menampung semua karya tulis tersebut dengan tidak menghabiskan banyak ruang yaitu dengan membuat repository sekolah. Untuk membangun suatu Repositori Sekolah diperlukan suatu proses mulai benchmarking, menyiapkan sumberdaya, dukungan pimpinan, prosedur dan peraturan, perangkat keras dan lunak serta jaringan, dan manajemen untuk menangani informasi muatan lokal. Hasil penelitian berupa suatu model repository sekolah yang diterapkan dengan memanfaatkan infrastruktur yang telah ada di Perpustakaan SMA Negeri 5 Magelang[Stipulates that for the promotion of teachers should make scientific publications and/or innovative work. Therefore, the existence of scientific papers or books works the teacher will always be growing every year. But the library space of SMA Negeri 5 Magelang that small would not be able to accommodate any paper in hardcopy. Then need other alternatives that can accommodate all these papers with not a lot of space are to create a school repository. To build a school repository required a benchmarking process began, preparing resources, leadership support, procedures and regulations, hardware and software as well as network and information management to handle local content. The results of research in the form of a model repository schools that applied by utilizing the existing infrastructure at the Library of SMA Negeri 5 Magelang.]
Perilaku Masyarakat dan Peran Pekerja Sosial dalam Membantu Korban Terdampak Pandemi Corona Virus Diseases (COVID-19) Fadlilah Purdananto
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v6i2.1195

Abstract

Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) memiliki dampak yang signifikan ke perubahan perilaku masyarakat. Dampak tersebut memunculkan permasalahan berupa ketidakmampuan masyarakat dalam mengelola rasa curiga, takut, sikap over-protektif. Bila hal itu tidak diselesaikan dengan baik, maka dapat merusak hubungan sosial antar individu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis, dengan menggunakan teori psikodinamika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja sosial berperan dalam mengubah perilaku masyarakat, sehingga mereka mampu menyelesaikan permasalahan sosial akibat dampak pandemi Covid-19. Peranan pekerja sosial, yakni: pertama, berperan dalam meningkatkan fungsi sosial individu-individu. Hal itu dilakukan pekerja sosial dengan memberikan pertolongan agar individu mampu memahami konflik (kepanikan/keresahan) pikiran-pikiran dan perasaannya. Kedua, pendampingan sosial kepada masyarakat. Hal itu dilakukan pekerja sosial dengan mengedukasi dan membantu mensosialisasikan kegiatan yang bertujuan untuk melakukan pencegahan atau penurunan penyebaran Covid-19.[The Corona Virus Disease (Covid-19) pandemic has a significant impact on changing people's behavior. This impact raises problems in the form of the community's inability to manage suspicion, fear, over-protection. If it is not resolved properly, it can damage social relations between individuals. This research uses descriptive-analytical method, using psychodynamic theory. The results of the study show that social workers play a role in changing people's behavior, so that they are able to solve social problems due to the impact of the Covid-19 pandemic. The role of social workers, namely: first, plays a role in improving the social function of individuals. This is done by social workers by providing assistance so that individuals are able to understand the conflict (panic/anxiety) of their thoughts and feelings. Second, social assistance to the community. This is done by social workers by educating and helping to disseminate activities aimed at preventing or reducing the spread of Covid-19.]
Trafficking Woman and Child: Kajian Terhadap Hadis-Hadis Tentang Perdagangan Manusia Siti Zakiyatul Humairoh
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v4i2.1105

Abstract

Trafficking merupakan kejahatan yang sudah terjadi sejak zaman jahiliyah. Perdagangan perempuan dan anak-anak sering kali ditemukan, karena perempuan dan anak-anak dianggap kaum yang lemah dan kerap kali terpinggirkan. Faktor kemiskinan yang menimpa perempuan-perempuan dan anak-anak yang ada di desa merupakan penyebab terbesar terjadinya perdagangan perempuan dan anak-anak, sehingga banyak oknum yang memanfaatkan keberadaan mereka. Oleh sebab itu penulis mengkaji hadis-hadis yang berhubungan dengan perdagangan manusia yaitu dengan menggunakan pendekatan historis dan bahasa. Secara eksplisit tidak ditemukan hadis-hadis yang melarang perdagangan perempuan dan anak-anak, namun penulis menganalisis hadis-hadis mengenai perbudakan dan hadis-hadis lain yang relevan yang mengarah pada pelarangan perdagangan perempuan dan anak-anak. Kajian hadis tentang trafficking woman and child kebanyakan dihubungkan dengan perbudakan, karena pada zaman jahiliyah perdagangan perempuan dan anak-anak kebanyakan adalah untuk dijadikan budak, bahkan mereka dijual untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat kotor. Hal ini juga terjadi pada zaman sekarang. Banyak perempuan dan anak-anak yang dijual untuk memenuhi nafsu laki-laki, karena itu penulis berusaha mengkaji hadis yang berhubungan dengan trafficking woman and child.[Trafficking is a crime that has occurred since the time of ignorance. Trafficking of women and children is often found, as women and children are considered weak and often marginalized. The poverty factor that affects women and children in the village is the greatest cause of trafficking of women and children, so many persons are utilizing their existence. Therefore, the authors examine traditions related to human trafficking by using historical approach and language approach. There are explicitly no traditions that prohibit trafficking of women and children, but the authors analyze the hadiths regarding slavery and other relevant traditions that lead to the banning of trafficking of women and children. The study of hadith about the trafficking of women and child is mostly associated with slavery, for in the days of ignorance the trafficking of women and children was mostly to be slaves, even they were sold to do very dirty deeds. This also happens today. Many women and children are sold to fulfill men's desires, therefore the author tries to examine the hadith related to trafficking woman and child who is often victimized.]
Niqabstyle: Media Sosial, Fashion, dan Kesalehan Sadid Halim Asnawi; Akhmad Sulaiman
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v4i1.1107

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan tentang adanya sebuah diskursus baru pada media sosial, yakni kemunculan niqabstyle. Diskursus ini mewakili sebuah tren dimana perempuan-perempuan bercadar menampilkan dirinya di media sosial dengan gaya mereka masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna-makna di balik fenomena tersebut. Pengambilan data diawali dengan pengumpulan postingan-postingan terkumpul dalam #niqabstyle. Data telah terkumpul kemudian dikategorikan berdasarkan kriteria tertentu dan dianalisis dengan Semiotika Peirce. Analisis ini memperhatikan ground, representament, dan interpretant dari objek-objek yang dikaji. Sehinga ditemukan makna-makna yang ada di balik objek tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kemunculan #niqabstyle merupakan hasil dialektika antara komitmen untuk mempertahankan kesalehan dengan keinginan untuk tampil stylish dari para perempuan bercadar. Dialektika ini mendorong mereka untuk tampil stylish dengan tetap menggunakan cadar. Penampilan mereka yang seperti ini memiliki makna bahwa mereka tetap bias tampil modish dengan tetap mempertahankan komitmen mereka untuk menjadi wanita-wanita salehah.[This paper describes a new discourse on social media, namely the emergence of the niqab style. This discourse represents a trend where veiled women present themselves on social media in their own style. This study aims to reveal the meanings behind this phenomenon. Data collection begins with the collection of posts collected in #niqabstyle. The data has been collected and then categorized based on certain criteria and analyzed by Peirce's Semiotics. This analysis pays attention to the ground, representant, and interpretant of the objects being studied. The meanings behind the object are found. This research concludes that the appearance  of #niqabstyle is the dialectical result of the commitment to maintain piety and the desire to look stylish by veiled women. This dialectic encourages them to look stylish while still wearing the veil. Their appearance like this means that they can still appear modish while maintaining their commitment to becoming pious women.]

Page 3 of 10 | Total Record : 98